Chapter 02

My Lovely Idol

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Love Live by ?

Rated : T

Genre : Romance, Drama

"Aku punya koin, jika ku tos sebanyak tiga kali…" Seorang dengan rambut perak sedang mencoba untuk menjelaskan kepada para mahasiswa yang berada di depannya dengan semangat. Kebanyakan dari mereka memang memperhatikan dosen berambut perak itu, tapi pandangan mereka kosong, tampak tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh dosen muda itu.

Bahkan sekelompok mahasiswa yang sedang duduk di belakang tampak mengerjakan aktivitas yang lainnya.

"Sudah paham kan? Materi hari ini cukup sampai disini. Jika ada yang ditanyakan, bisa langsung bertanya pada temannya" Kata dosen tersebut sambil berjalan dengan santai mengambil map yang berada di atas meja dosen dan mulai memanggil satu-satu mahasiswanya.

"Shimura Sai"

"Yap…!"

"Uchiha Sasuke"

"Ada, pak"

"U…"

Krieettt…!

"Iya mas, masuk aja" Kata Dosen tersebut ketika melihat seseorang dengan cengiran innocent di bibirnya. Pemuda berambut jabrik itu pun dengan langkah mantap langsung berjalan melewati dosen itu dan menuju ke barisan belakang.

"Uzumaki Naruto"

"Ya…! Pak" Kata anak jabrik tersebut sambil duduk di sebelah seorang pemuda berambut raven sambil mengacungkan tangannya. Dosen berambut perak itu tampak memicingkan matanya melihat ke arah pemuda itu.

"Kau kan yang barusan datang ya?" Naruto hanya cengengesan ketika sang dosen berkata seperti itu. Tapi, dosen yang satu ini tampaknya tidak terlalu peduli dengan tingkah mahasiswanya. Setelah mengabsen semuanya, dengan wajah tidak peduli dia langsung keluar dari kelas.

"Kemana aja lu? Udah mau selesai baru dateng lagi" Ledek seseorang dengan rambut eboni. Seringaian mengejek tampak di wajah pucatnya ketika dia sedang memasukkan semua bukunya ke dalam tas selempang kecilnya.

"Baru bangun tidur kali" Jawab Naruto sambil mengusap rambut kuningnya yang masih basah.

"Eh…! Bukannya Metode Numerik nanti ada tugas ya?" Tanya cowok berambut eboni tersebut pada cowok berambut raven yang masih menatap laptopnya.

"Udah, udah gue kirim tadi" Sahut cowok berambut raven itu.

"Wooo…! Teme, dewa" Kata Naruto sambil menepuk pundak cowok raven tadi.

Mereka bertiga adalah mahasiswa dari Konohagakure University. Tiga orang ini selalu bersama semenjak semester satu. Si pemilik rambut raven dengan model emo yang sekarang sedang menghadap laptop ini adalah Sasuke, Uchiha Sasuke, orang paling serius di antara tiga orang ini.

Sementara yang berambut eboni sebahu adalah Sai, Shimura Sai, orang paling suka bikin ribut sama omongan dan ledekannya. Sedangkan yang rambut kuning tadi adalah Naruto, Uzumaki Naruto, orang yang paling malas dan paling sok bijak di dalam kelompok tersebut, meskipun dia termasuk pendiem juga sih.

"Oi…! Naruto, bukannya kemaren lu sudah gue suruh untuk buat pembahasan laporan algoritma?" Tanya Sasuke yang hanya dijawab dengan cengiran innocent oleh Naruto.

"Aduh…! Sorry banget nih, Teme. Kemaren gue tiba-tiba aja ada sesuatu yang tidak kuduga, jadi…" Naruto menggantung kata-katanya yang hanya dibalas dengan helaan nafas pelan oleh Sasuke. Pemuda berambut raven itu pun menutup laptopnya dan mulai mengemasi barangnya.

"Alah…! Alibi banget sih lu" Ledek Sai sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan di depan Naruto.

"Eh…! Beneran, kalo kali ini gue beneran ada hal yang gak gue sangka-sangka. Sumpah deh" Kata Naruto sambil mengejar Sai sementara Sasuke mengekor di belakangnya dengan wajah serius.

"Ke perpus aja dulu, tugasnya di kumpulin sebelum kuliah selanjutnya kan?" Kata Sasuke memberi saran.

"Ya elah. Ke kantin aja kali, lebih enak ngerjain disana" Celetuk Sai ketika dia mendengar sesuatu dari Naruto.

"Boong lu pasti" Kata Sai dengan nada tak percaya.

"Eh…! Iya, beneran" Kata Naruto tak mau kalah. Sasuke memang dari aslinya pendiam, jadi dia hanya ngekor di belakang mereka dengan wajah seriusnya, sementara dua orang di depannya nampak sedang berdebat dengan serunya.

"Cih…! " Sasuke berdecih pelan. Meskipun mulutnya diam, tetapi telinganya masih terbuka sehingga dia mendengar semua ocehan dua orang di depannya.

"Apaan sih" Kata Sasuke dengan nada sedikit kesal pada dua orang teman di depannya itu.

"Eh…! Lu tau muse gak?" Sai menjawab ucapan Sasuke dengan pertanyaan tentang muse. Mata onyx tajam milik pemuda itu tampak heran dengan pertanyaan Sai.

"Muse? Nama dewa?" Tanya Sasuke.

"Bukan. Itu loh, idol yang sedang naik daun" Kata Sai dengan nada kesal. Bagaimana bisa seorang Sasuke yang menjadi mahasiswa IPK sempurna ini tidak tahu trend zaman sekarang?

"Enggak" Jawab Sasuke singkat dan… masa bodoh.

"Dia nih, dia ngaku ketemu sama salah satu personilnya, lagi sendirian lagi. Menurut lu gimana?" Kata Sai sambil menunjuk-nunjuk batang hidung Naruto. Pemuda berambut kuning itu pun menepis tangan Sai dari depan wajahnya.

"Bener kok, gue kemaren bertemu dengannya di mall waktu lagi nontonin videonya" Kata Naruto tetap gak mau kalah.

"Terus dia keluar dari layar monitor lu ya?" Tanya Sai tetep dengan nada meledek.

"Ya enggak lah, bego" Timpal Naruto kesal dengan perumpamaan yang di sebutkan oleh Sai tadi.

"Yah…! Yah…! Terus, kalo dia memang bertemu dengan mu… muse itu kenapa memangnya?" Tanya Sasuke pada Sai.

"Tau juga nih, ngapain sih gini aja di bahas" Celetuk Naruto membenarkan ucapan Sasuke.

"Eh…! Lu yang bahas itu duluan ya" Kata Sai sewot dengan celetukan Naruto.

"Oh…! Jadi ceritanya lu kemaren ga ngerjain laporan itu gara-gara ketemu tuh idol ya?" Tanya Sasuke mengalihkan perdebatan. Naruto hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.

"Soalnya kemaren waktu gue mau pulang kayaknya dia tersesat gitu loh, makanya gue anterin. Dia mau ke kuil yang terkenal waktu natal itu loh" Jelas Naruto sambil duduk di bangku kantin. Sasuke pun duduk di depannya dan Sai duduk di samping Naruto.

"Ngapain dia emang? Eh…! Tunggu dulu, yang sendirian yang mana sih?" Tanya Sai yang akhirnya penasaran juga dengan cerita Naruto.

"Gue juga ga tau, dia ga mau ngaku tuh. Maki-chan, lu tau kan?" Tanya Naruto yang hanya dijawab dengan gelengan pelan oleh Sai. Naruto pun membuka hapenya dan memperlihatkan wallpaper hapenya.

Disitu tampak seorang gadis manis berambut merah sedang memakai kimono merah bermotif bunga sakura. Wajahnya tampak kesal dengan pipi menggembung kemerahan. Tangannya yang putih mulus tampak keluar dari lengan baju yang terlihat kebesaran tersebut, mencoba untuk meraih kamera yang memfotonya.

"Fotonya gini banget. Lu dapet darimana?" Tanya Sasuke ketika melihat foto tersebut.

"Bonus yang gue dapet dari beli CD albumnya. Bukan cover album tapi, mungkin temen-temennya iseng masukin fotonya kali" Kata Naruto sambil sedikit terkikik geli sementara Sasuke tampak bersiap di depan laptopnya yang sudah menyala.

"Oh, yang ini toh. Masih muda kan?" Tanya Sai.

"Yang ini masih tahun pertama sekolah, tapi main pianonya jago banget. Suaranya juga lembut-lembut gimana gitu" Kata Naruto yang nampaknya kumat ngidolnya.

"Emangnya lu nge-fans ama yang itu juga?" Tanya Sasuke.

"Ya iyalh. Beruntung banget kan gue bisa ketemu dia kemaren, sendirian lagi" Kata Naruto dengan semangat. Sasuke tak merespon ucapan Naruto dan terus menatap laptopnya, membaca tulisan warna warni yang menghiasi layar laptopnya.

"Dasar, ngidol" Ledek Sai pada Naruto.

"Daripada lu jomblo" Kata Naruto bales meledek Sai.

"Eh…! Mendingan jomblo ya, daripada cinta yang benaran tak terbales dari ngidol" Ledekan Sai seperti one hit pada Naruto. Bocah berambut kuning jabrik itu tampak terdiam dengan ucapan Sai.

"Biarin aja lagi. Kita kan juga ga tau jodoh kita siapa kan? Hidup itu semuanya serba kebetulan, siapa tau kebetulan yang kemaren itu pertanda baik" Celetuk Sasuke sambil tetap terpaku pada laptopnya.

"Nah…! Tuh Sai" Kata Naruto dengan girang. Sasuke memang pendiem, tapi sekalinya dia bicara, isinya quotes semua.

"Iya, iya, Sasuke. Lu yang ga kena ledekan kita semua" Kata Sai sambil sedikit cemberut. Naruto pun tertawa melihat Sai takluk di hadapan Sasuke. Memang, dari tiga sekawan itu, Sasuke doang yang sudah punya pacar, meskipun LDR.

Sai juga sebenernya punya pacar, tetapi liburan semester genap dia putusin gara-gara terlalu lebay. Sedangkan Naruto, sejak SMK dia cuma bisa ngidol.

"Eh…! Minggu tenang sebelum UAS ini lu mau pulang?" Tanya Sasuke mengalihkan topic pembicaraan.

"Seminggu doang, rugi banget gue beli tiket pesawat" Keluh Sai.

"Gue pengen ngerayain natal di rumah sih, tapi… males mau pulang. Nanggung banget dah, mendingan pulang abis UAS. Sebulan penuh" Kata Naruto dengan nada malas sambil memainkan hapenya dengan kepalanya yang terbaring lemah diatas meja.

"Iya, iya, lu mau pulang kan, Sasuke? Lu udah kangen sama dia kan?" Ledek Sai.

"Enggak juga, rencananya dia yang mau kesini" Jawab Sasuke tenang.

"Widiiihhh….! Enak banget lu yang di samperin" Kata Sai. Sasuke hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi tidak tahu.

"Kayaknya sih dia ada event di Konoha"

-0-

"Hufthhh….! Latihan seperti ini ternyata capek juga ya" Keluh seorang gadis berambut coklat setelah selesai meneguk air dari botol minumannya. Sedangkan gadis manis nan imut berambut coklat muda di sebelahnya hanya tersenyum kecil melihat kelakuan gadis tersebut.

"Seminggu lagi kita akan mengadakan live concert lagi, jadi tidak ada waktu untuk istirahat. Ini porsi latihan untuk minggu ini" Kata seorang berambut biru panjang yang sekarang sedang berdiri sambil menyerahkan selembar kertas kepada gadis berambut coklat tadi. Mata coklatnya tampak serius menatap tajam ke arah dua gadis yang sedang istirahat tersebut.

"Hoaahh…! Umi-chan, apa kau serius tentang ini?" Tanya gadis berambut coklat tadi ketika melihat tulisan dalam selembar kertas dengan mata birunya. Gadis berambut biru yang dipanggilnya Umi tadi hanya mengangguk pelan.

"Arghghh….! Ini terlalu berat, aku tidak kuat lagi" Kata Honoka, nama gadis berambut coklat itu, sambil merengek-rengek seperti anak kecil.

"Yah…! Apa boleh buat, ini kan permintaan dari Maki-chan yang meminta untuk mengadakan live di Konoha" Celetuk seseorang berambut pirang kucir kuda yang baru saja datang bersama dengan gadis berambut ungu yang tampak sedang tersenyum geli.

"Si… siapa yang minta. Aku kan cuma menyarankan saja, la… lagipula bila kalian semua tidak mau juga tidak apa-apa kok" Kata Maki sambil memalingkan wajahnya.

"Sebenarnya aku juga ingin mengusulkan live di malam natal, tapi ternyata keduluan Maki-chan" Sahut gadis berambut coklat muda, Kotori, yang duduk bersama dengan Honoka.

"Aku juga ingin kita konser di malam natal" Kata seseorang berambut coklat pendek yang sudah lama terdiam di sana.

"Benar sekali, nyaaa. Kapan-kapan kita main duet yuk, Maki-chan" Sekarang giliran gadis berambut jingga pendek yang tiba-tiba memeluk Maki.

"Lepaskan, Rin" Kata Maki sambil mendorong gadis yang dipanggilnya Rin tersebut untuk segera lepas dari pelukannya.

"Yah…! Sebenarnya aku juga tidak keberatan sih" Sahut seseorang dengan rambut hitam yang dikucir twintail sambil sedikit mengibaskan rambutnya. Semua mata kini tertuju pada Honoka, yang tadinya bilang tidak setuju.

"Aku, bukannya tidak setuju sih. Tapi, bukankah kita perlu istirahat?" Kata Honoka mencoba untuk membela diri. Umi langsung berkacak pinggang di depan Honoka yang tampak seperti kucing ketakutan.

"Tidak ada waktu lagi. Semuanya sudah siap tau. Kau pikir berapa lama aku memikirkan lirik yang tepat untuk malam natal itu, atau music buatan Maki yang sudah siap untuk di mainkan" Kata Umi dengan suara yang agak keras sehingga membuat Honoka semakin meringkuk ketakutan.

"Sudah, sudah, Umi-chan" Kata Kotori menenangkan sahabat masa kecilnya itu. Gadis berambut pirang yang baru saja datang tadi tampak mengelus-elus dagunya.

"Mungkin benar uga kata Honoka, kita butuh istirahat" Sahut Eri, gadis pirang tadi. Semua mata langsung menatap ke arah sang ketua OSIS tersebut. Tak terkecuali Honoka yang menatapnya dengan tatapan berbinar-binar, bagai melihat seorang malaikat di depannya.

"Tapi, Eri-chan…."

"Mungkin Erichi benar, kita beri istirahat sehari besok aja dari latihan. Kami juga mau lihat-lihat kampus" Gadis berambut ungu panjang di sebelah Eri, Nozomi, pun buka suara setelah sekian lama terdiam. Senyuman khas darinya yang tampak geli sambil sekali-sekali curi pandang kepada Maki yang tengah berdiri sambil melipat tangannya.

"Ap… apa lihat-lihat?" Kata Maki ketika mata ametisnya bertabrakan dengan mata hijau milik Nozomi. Secara reflex Maki menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya, untuk melindunginya dari perbuatan yang biasanya di lakukan oleh gadis kuil di depannya ini.

Nozomi pun mengeluarkan tangan yang sejak tadi di sembunyikan di belakang punggungnya. Lengan bajunya tampak sedikit tersingkap, menampakkan pergelangan tangannya yang dihiasi oleh arloji berwarna hitam yang kontras dengan kulit cerahnya. Jari-jarinya yang lentik menampakkan sebuah kartu bergambar.

Seorang pria sedang duduk di atas singgasananya. Wajahnya tampak berwibawa dengan mengenakan jubbah merah dan beberapa warna putih sebagai hiasannya. Dandanannya tampak seperti seorang paus dengan mahkota berwarna kuning yang menghiasi kepalanya. Sementara tangan kirinya mengangkat sebuah tongkat kekuasaan berwarna emas, tangan kanannya tampak teracung seperti sedang memberikan petuah pada dua orang yang sedang duduk di depannya.

"Apa maksudmu?" Tanya Maki sambil menatap Nozomi dengan tatapan heran. Nozomi hanya tersenyum kecil. Wajahnya yang polos tampak manis ketika dia berusaha menyembunyikan senyumannya dengan kartu tersebut.

"Hierophants, pendeta dari yunani kuno. Kau tau artinya?" Kata Nozomi. Semua mata langsung tertuju ke arah Nozomi, sang peramal kartu tarot, ketika dia sudah mengeluarkan kartunya.

"Komitmen"

TBC

Sebenernya saya gak niat buat mengakhiri mereka berdua sih…, tapi kok jadi gini ceritanya? Oke, oke, ini masih sesuai alur yang saya rencanakan, tapi ketika saya lihat kok bahasanya berantakan banget ya T_T.

Nah…! Dengan ini sudah lengkap dua chapter semua fic yang author publish sejak kemaren XD. Author pengen istirahat bentar deh. Capek juga ternyata, ngetik fic ditengah berondongan peluru tugas yang di luncurkan oleh dosen.

Jika ada saran atau kritik, kirim aja ke kotak review.

Thanks for Read

Don't Forget to Review