Disclaimer : Naruto does not belong to me.

Warning : Mature content, AU, OOC.


It's Fadeless

Grey Chapter : Her Right Mistake


Sebuah region di Jepang, tiga tahun yang lalu.

Tegang.

Ya. Suasana di ruangan itu amatlah menegangkan. Bahkan lebih menegangkan daripada melihat orang yang akan melakukan bungee jumping dari atas jembatan Royal George setinggi 321 meter tanpa pengaman alias bunuh diri. Ini tidak berlebihan, sangat wajar untuk mendeskripsikan keadaan di ruang tamu keluarga Uchiha saat ini. Jelas, ini Uchiha. Demi Dewa paling berkuasa seantero Jepang, bahkan ketegangan soal bungee jumping tadi–atau apalah itu–tidak sebanding, jika kau melihat seluruh anggota Uchiha berkumpul dalam satu ruangan dengan raut wajah mereka yang membunuh. Demi Dewa, sekali lagi, ini tidak berlebihan. Tidak berlebihan jika kalian tahu bagaimana kejamnya orang-orang ini dengan segala kekuasaannya, dengan limpahan hartanya, dan bahkan dengan wibawa serta karismanya.

"Fugaku Uchiha. Sekali lagi aku minta kau untuk menandatangani surat ini!"

Seorang wanita cantik berambut biru kelam terlihat tegas berbicara–khas Uchiha–kepada seorang pria dewasa bernama Fugaku Uchiha yang namanya ia lontarkan tadi sambil melempar sebuah dokumen dengan frustasi. Berbagai emosi dapat dirasakan dari cara wanita itu berbicara dan menggerakkan tubuhnya kacau. Marah, malu, sedih, kecewa, bahkan rasa tidak peduli berkumpul menjadi setetes air mata karena lidahnya terlalu kelu untuk dapat berbicara lagi. Uchiha yang lain? Tak ada satu pun dari tampang-tampang datar itu yang berusaha untuk menenangkan wanita ini.

"Tandatangani itu sekarang atau aku akan membunuhmu," ancam wanita itu lagi. Mikoto Uchiha. Ya, Mikoto Uchiha; wanita yang tadi mengancam suaminya dengan tatapan matanya yang tajam. Ah, tepatnya mengancam ia yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.

Namun kembali lagi, wanita itu juga adalah seorang Uchiha. Ia tidak akan membiarkan tangisnya pecah berkelanjutan. Tidak di hadapan pria itu, tidak di hadapan anak-anaknya karena dengan segera, raut wajah yang biasanya lembut itu kini mulai kembali dingin sedingin es.

"Aku akan tandatangani." Suara bariton khas pria dewasa kini bergema di ruang keluarga yang luas itu. Ia segera mengambil dokumen yang berserakan di lantai dan menandatangani tiga lembar kertas yang membutuhkan legalisasi atas nama dirinya. Fugaku Uchiha.

"Terima kasih dan selamat tinggal," ujar wanita itu tegas sambil mengambil map dari tangan seseorang yang sebentar lagi akan sah menjadi mantan suaminya setelah ia membiarkan kantor perceraian mengurusi dokumen tadi.

"Itachi Uchiha dan Sasuke Uchiha. Aku akan tetap…"

Tidak. Untuk hal yang satu ini, Mikoto Uchiha tidak sanggup mempertahankan ke-Uchiha-annya lebih lama lagi. Tidak lagi. Ia akan meruntuhkannya kali ini.

"…ibu sangat mencintai kalian."

Dan air mata yang tidak dapat dibendungnya lagi pun jatuh, ikut mengiringi kepergian sang nyonya dari kediaman Uchiha yang megah itu.


Beberapa menit berlalu sejak kejadian tadi, tidak ada satu pun dari orang-orang yang tersisa di ruangan itu mencoba untuk bergerak dan bersuara hingga…

"Hinata Hyuuga." Bariton itu pun kembali menguar di udara, mengalun tegas dari mulut sang pemimpin Uchiha. Demi apa pun yang ada di dunia, auranya nampak membunuh. "Hal yang paling disesali Hiashi Hyuuga adalah mempunyai anak perempuan brengsek sepertimu. Ia akan menyadari itu segera."

Dan di atas semua ancaman serta satu kata 'brengsek' yang dilontarkan Fugaku Uchiha, gadis bermata bulan itu bersumpah bahwa dirinya akan hancur segera setelah kejadian ini karena tatapan dari si bungsu Uchiha yang sulit untuk diartikan.

Tatapan itu.

Benar, tatapan kelam itu.

.

.

It's Fadeless

.

.

PLAK!

"H-hentikan, Ayah! Aku… Aku ha-hanya menyatakan k-kebenaran!" Gadis itu terisak sambil melindungi pipinya yang terasa perih dengan kedua telapak tangannya.

"Jangan pernah lagi menyebutku ayah." Seorang pria berusia di penghujung 50 tahunan itu berbicara kepada gadis yang tengah tersungkur di hadapannya kini. Pria berbadan tegap itu lantas mengambil langkah lambatnya untuk mengitari si gadis sambil menerawang. "Kau sebut apa pekerjaanmu itu? Pemeriksa fakta," katanya meremehkan. "Anak bodoh, dungu, dan sok pahlawan sepertimu tak pantas menjadi bagian dari Hyuuga."

Walau menunduk, mata sayu si gadis membulat lebar, mendengar kalimat menyakitkan itu keluar dari mulut sang ayah.

Dan jujur, sepanjang hidupnya, Hinata Hyuuga tidak pernah mendengar ayahnya berbicara sekasar itu.

Benar, tidak pernah. Jadi... Ia tidak salah dengar, kan?

"Menjadi mata-mata pribadi Mikoto dengan mengungkap perselingkuhan Fugaku dengan wanita lain…"

Dan emosi seorang Hiashi Hyuuga sudah berada di ambang batasnya. Ia lalu berhenti tepat di belakang tubuh anaknya dan dengan segera menarik kasar helaian indigo panjang itu hingga sang empunya meringis kesakitan sambil mendongakkan wajahnya yang kini sudah basah karena air mata. Namun nampaknya Hiashi Hyuuga tidak peduli dengan pandangan memilukan yang terpatri dari raut wajah putrinya itu. Ia sudah terlanjur hanyut dalam emosinya, menulikan telinganya seakan tak mendengar rintihan darah dagingnya sendiri.

"Apa kau pantas membangga-banggakan pekerjaanmu dan semua hal mengenai kebenaran yang kau sering bicarakan itu, hah?!" tanya Hiashi retorik. Tentu saja ia tidak membutuhkan jawaban karena setelahnya ia semakin menarik rambut anaknya dengan kuat dan menghempaskannya ke lantai hingga Hinata, nama anaknya itu, darah dagingnya sendiri, tersungkur di atas marmer yang keras dan dingin.

"A-akh!" Hinata semakin merintih.

Hiashi menghembuskan napas panjang sebelum kembali berujar, "Fugaku Uchiha dapat melakukan segalanya, Hinata." Pria itu lalu membalikkan badan guna membelakangi anaknya yang masih tak bergerak dari posisinya itu. "Termasuk menghancurkan Hyuuga," katanya lagi. Kini intonasinya berbicara sedikit merendah.

"…" Tak ada jawaban dari putri sulung Hyuuga itu. Ia masih sangat takut untuk berbicara dan lebih baik membiarkan ayahnya melanjutkan pembicaraannya.

"Dengan segala yang ia miliki, Uchiha itu bisa memutus hubungan kerja dengan Hyuuga Corp. dan memblokade semua hubungan antara perusahaanku dengan perusahaan yang lain. Ia telah mengeluarkan banyak uang untuk membayar semua perusahaan yang bekerja sama dengan Hyuuga dan memutus kontrak denganku…" Ia tersenyum getir.

"Uchiha dapat melakukannya. Dan sekarang, Hyuuga Corp. hanya tinggal nama." Hiashi mengakhiri pembicaraan panjangnya sambil berjalan ke arah Hinata.

"Dan semua ini terjadi gara-gara kau," ujarnya dingin.

"A.. Ayah.."

"Jangan pernah lagi memanggilku ayah!" bentaknya sedetik kemudian. Hinata menunduk lagi, ketakutan. "Apa kau tidak berpikir bahwa segala yang telah kau perbuat adalah kesalahan besar? Bahkan Mikoto pun tidak mengucapkan terima kasih setelah kau sudah dengan lancangnya mengungkap skandal perselingkuhan Uchiha… Pakai otakmu, Hinata!"

"Maaf.. M-maafkan aku…" Hinata menangis. Sambil terus meremas ujung rok kerjanya, ia terus menggumamkan permintaan maaf pada ayahnya.

"Sudahlah. Sebaiknya kau pergi."

Pergi? Hinata mengangkat kepalanya.

"Pergilah dari rumah ini."

Kali ini, ia memberanikan diri untuk melihat ke dalam bola mata ayahnya, berusaha mencari celah ketidakseriusan dari kalimat yang ayahnya katakan barusan. Tapi nihil. Ayahnya selalu serius dengan perkataannya, lagipula.

Dan Hinata tahu benar akan hal itu.

"Dan aku tak sudi kau memakai nama Hyuuga."


Kejadian hari ini membuat Hinata rasanya ingin mati saja. Dimulai saat ia menyerahkan bukti kepada Mikoto bahwa Fukagu memiliki wanita simpanan lain dan bahkan sudah membelikan wanita itu rumah mewah, ia sudah mempunyai firasat bahwa semuanya akan berakhir dengan sangat buruk. Lalu ia dipaksa untuk ikut ke kediaman Uchiha dan menyaksikan Fugaku menandatangani surat gugatan cerai yang sudah sejak jauh hari disiapkan oleh Mikoto, mendapat predikat 'brengsek' dari pria Fugaku yang angkuh itu, dan terakhir, ketika matanya bersibobrok dengan onyx si bungsu Uchiha yang amat kelam itu…

Ya Dewa, sungguh! Hinata merasa hidupnya sudah hancur. Ditambah lagi ketika sorenya ia sampai di rumah dan mendapati ayahnya yang amat sangat sangat sangat murka. Tidak! Bahkan Hinata tidak ingin mengingat kejadian itu. Yang pada akhirnya, ia harus merelakan dirinya melepas nama Hyuuga dan Demi Langit, Hinata! Sudah cukup ia memikirkannya. Sudah cukup ia menderita karena kebenaran. Sudah cukup hari ini. Cukup.

"Arghh!"

Dengan mata tertutup, ia menggeram frustasi sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sudah menjadi mayat hidup jika ia sedang berada di kuburan sekarang. Namun ia belum mati. Ia masih meringkuk di sebuah sofa dalam sebuah apartemen kecil hasil jerih payahnya menjadi seorang fact checker selama ini.

Fact checker; pemeriksa fakta. Ah, itu pekerjaannya.

Ya, ia bekerja sebagai seorang fact checker dan ia lupa memberitahu bosnya perihal kealpaannya siang tadi di kantor karena harus mengikuti Mikoto ke kediamannya. Astaga, di saat seperti ini gadis malang itu masih memikirkan pekerjaannya. Benar sekali, pekerjaannya. Hanya pekerjaan dan kantorlah yang pasti akan selalu memiliki pemikiran yang sama dengannya. Menjunjung tinggi kebenaran dengan mengumpulkan bukti dan mengungkap fakta. Itu sajalah yang masih dapat Hinata syukuri.

Diambilnyalah sebuah ponsel dari dalam tas yang tersimpan di atas meja tak jauh dari tempatnya duduk sekarang. Ia harus mengirim pesan permintaan maaf kepada atasannya. Namun hari ini…

Namun hari ini…

Namun hari ini…

Dan lagi-lagi, namun hari ini… Hari ini bukanlah hari keberuntungan Hinata. Malah boleh dikatakan, harusnya Hinata dibiarkan mati saja hari ini.

Sebuah e-mail singkat berisi pemecatan sepihak dari tempatnya bekerja menjadi alasan penguat mengapa Hinata harus mati hari ini. Hahaha.

You got a Jackpot, Hinata Hyuuga!

Ohh.

Namun sekali lagi, tidak.

Tidak, tidak. Hinata terlalu berharga jika harus mati hari ini. Setidaknya sebelum ia dapat mempertahankan apa yang seharusnya benar. Iya, kan?

Tersenyum getir, ia lalu berjalan menuju balkon apartemennya. Tubuhnya terlihat bergetar karena beban di pundaknya sudah sangat berat untuk dapat membuatnya jatuh.

Tapi tidak sekarang. Ia berusaha untuk tidak jatuh sekarang.

Ia menatap pemandangan kota yang sempat diberi nama 'Konoha' pada zaman dulu itu, masih dari balkon apartemennya. Lama ia terdiam di sana, ia menyadari bahwa Mikoto benar-benar lupa untuk mengucapkan dua kata 'terima kasih' kepadanya dan menyadari bahwa Fugakulah yang 'brengsek' karena telah berselingkuh di belakang nyonya Uchiha yang sempurna itu. Dan jangan lupa tatapan itu. Tatapan Sasuke Uchiha. Ia tak akan pernah lupa karena sekarang Hinatalah yang sedang memasang tatapan yang tak dapat diartikan itu dan melemparnya pada kota penuh luka yang ada di hadapannya.

Tatapan kebencian.

"…benci. Aku benci mereka. Mereka y-yang mewarisi darah Uchiha. Mereka s-semua," bisiknya pelan pada dirinya sendiri. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk pergi ke Tokyo, meninggalkan kota menyakitkan ini. Bagaimana pun menjijikkannya Tokyo dengan kehidupan bebasnya, kota ini beribu kali lipat lebih menjijikkan baginya. Bagi Hinata.

"Hi-na-ta Hyuu…" ujar si gadis itu lagi dengan pelan, nampak seperti orang mengeja. "Takashima. Hinata Takashima." Ia lalu tersenyum sambil mengingat nama keluarga mendiang ibunya sebelum beliau menikah dengan Hiashi Hyuuga. Hinata lalu menghirup dalam-dalam udara malam itu dengan ringan, merasakan angin dingin menusuk kulit yang meniup helaian indigonya nakal. Masih dengan senyum getir yang tersungging di wajahnya, ia menutup mata. Merasakan malam memeluk tubuhnya.

"Ibu... Aku ingin suatu saat nanti, Uchiha itu akan menyesal." Lalu tetesan kristal bening mulai berkumpul kembali di pelupuk matanya dan jatuh dengan bebas.

.

.

It's Fadeless

.

.

Kembali ke hari ini.

"Shit!" umpat seorang pemuda berambut merah saat melihat seseorang yang ia kenal tengah meringkuk di depan mobil polisi.

Pemuda yang memiliki sebuah tattoo di dahinya ini memutuskan untuk menyusuri jalan di pinggiran Tokyo itu setelah pergi dari fuzoku tempat ia menemani client-nya tadi. Namun kegiatan berjalan-jalannya harus diinterupsi ketika ia melihat Hidan–seorang yakuza yang merupakan rekan sekelompoknya–tengah ditangkap oleh seorang polisi wanita di depan mobil patrolinya. Tangannya yang terbogol tak menjadi alasan bagi pria bersurai keperakkan itu untuk memberi perlawanan.

"Temari, dia bagian dri kelompokku."

Polisi muda itu segera mengalihkan perhatiannya setelah mendengar bariton yang sangat ia kenal yang ditujukan pada dirinya. Bariton Gaara Sabaku. Adik laki-lakinya.

"Keh."

Tak lama setelahnya, ia melepaskan borgol tahanannya dan segera mendorong pemuda itu pada Gaara secara kasar. "Jaga rekanmu itu, Gaara. Aku tak akan segan-segan menangkapnya jika ia kembali berani melakukan hal di luar batas," ancam wanita berambut pirang itu pada adiknya. Gaara mendengus.

"Sorry, I was careless," bisik laki-laki bernama Hidan itu pada Gaara. Namun bukannya menjawab permintaan maaf rekannya itu, Gaara malah menghadiahkan sebuah tinju keras tepat di pipi kiri Hidan dan membuatnya meringis seketika. "Itu dariku," ucap Gaara dingin. "Jangan melakukan hal bodoh lagi."

"Kkh, aku mengerti," jawabnya sambil menyeka darah yang sedikit keluar dari sudut bibirnya.

"Gaara, kuperingatkan kau untuk menjaga anggota kelompokmu," Temari–nama wanita itu–bersuara kembali.

"Hn."

"Aku serius, Sabaku. Banyak dari anggotamu yang sudah berursan dengan kami. Jika hal itu terus berlanjut, aku tak bisa menjamin eksistensi kelompokmu itu," jelas polisi tadi dengan nada bicara yang serius.

"Aku mengerti, Nee-san."

"Sekarang, cepat pergi dari sini dan tutupi semua kejadian ini dengan baik."

"Aku akan menutupinya dengan sempurna. Thanks," kata Gaara sambil berlalu diikuti dengan Hidan di belakangnya. Temari lalu memutar kedua bola matanya malas menyaksikan adiknya yang langsung pergi begitu saja sambil bergumam dengan sebal, "You are welcome, Otouto."


"Berterima kasihlah pada Gaara karena jika bukan kakaknya yang menangkapmu, sudah habislah kau." Suara dingin seorang pria berkulit pucat terdengar di ruangan kecil sebuah bangunan khas Jepang.

"Maafkan aku, Orochimaru-sama," sesal laki-laki yang kini tengah berlutut di hadapan tuannya.

"Kalau begitu… Sebutkan peraturan tertulis di kelompokku ini, Hidan-san," perintah pria bernama Orochimaru itu. Ya, Orochimaru. Seorang oyabun salah satu kelompok mafia paling ditakuti di Jepang.

"Menjaga selalu keharmonisan antaranggota, i-itu yang pertama," jawab Hidan.

"Hm, lalu?"

"Membantu anggota lain dalam kelompoknya."

"Ya, dan itu yang dilakukan Gaara-san," ucapnya sambil melihat ke arah laki-laki bersurai merah yang kini tengah berdiri di ambang pintu sambil melipat tangannya di depan dada. "Selanjutnya?"

"Tidak melakukan kekerasan terhadap keluarga para anggota."

"Ya, terutama kepada orang yang kita cintai," kata Orochimaru itu menambahkan. 'Silly,' batin Gaara meremehkan. Ia lalu segera pergi meninggalkan percakapan antara oyabun-kobun di ruangan itu untuk menghirup udara malam yang dingin menusuk. Melihat Gaara yang pergi dari ruangan itu, Orochimaru langsung memicingkan matanya lalu tersenum seperti ular. "Baiklah, jangan diteruskan dulu. Kau boleh pergi sekarang, Hidan-san. Namun jika kau melakukan kesalahan lagi…" Orochimaru menggantungkan kalimatnya seraya berjalan ke arah pintu untuk meyusul Gaara.

"…yubitsume," sambungnya sambil berlalu mengikuti jejak si pemuda berambut merah.


"Ada yang bisa kubantu, Orochimaru-sama?" tanya Gaara yang sedang duduk di teras rumah kuno itu tanpa membalikkan badan.

"Ya. Beritahu aku apakah kau masih memikirkan gadis masa kecilmu itu, Gaara-san?" tanya oyabun berkulit pucat itu sambil terkekeh ringan.

"Apa kau sudah selesai dengan Hidan?"

"Mengapa kau tak menjawab pertanyaanku, Gaara-san?"

"Heck. Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan sampai kau menyusulku ke sini?"

Orochimaru terkekeh. Anaknya yang satu ini memang tak dapat menjaga ucapannya pada orang yang kuasanya jauh lebih tinggi dibanding dengannya. Tapi tak apa, toh Gaara memang 'anak kesayangannya'. "Tidak, tidak, Gaara-san. Aku ke sini untuk meminta bantuanmu."

"Hn."

"Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada Temari-san karena tidak memperpanjang kasus Hidan-san."

"Akan kusampaikan," jawab Gaara sekenanya.

"Terima kasih, Gaara-san."

"Hn. Apa hanya itu?"

"Ya," kata Orochimaru singkat, mengakhiri percakapan malam itu.

.

.

It's Fadeless

.

.

Hinata kini mengingat siapa dia. Sekelebat memori mengenai kejadia tiga tahun lalu sempat melintasi kepalanya. Ya, Hinata sekarang menyadari siapa dia sebenarnya.

Di Tokyo, dengan orang-orang Tokyo, dan dengan suasana Tokyo, nyaris tak akan ada yang mengetahui identitas sebenarnya dari seorang Takashima Hinata.

Tak ada.

Kecuali…

"Ada yang bias kubantu, Uchiha-san?"

Nah, itu dia. Uchiha.

"Tak usah seformal itu, Hyuuga," katanya sambil menyeringai.

Bukankah atmosfer yang dirasa di kamar itu lebih mencekam sekarang? Karena selama hampir tujuh menit, tidak ada satu pun dari mereka yang angkat bicara selain dari tatapan mata.

"Apa maumu, Tuan?" tanya Hinata lembut pada akhirnya. Lembut yang dibuat-buat.

"Tak kusangka Hyuuga seperti dirimu bisa menjadi wanita malam juga," ujar Sasuke sambil tertawa meremehkan.

"Sudahlah. Tak perlu basa-basi, Tuan Uchiha yang terhormat." Hinata menanggapi laki-laki di hadapannya dengan santai sambil memeluk kedua lengannya. "Untuk apa kau datang kemari?"

"Wah… Wah..." Sasuke terkekeh pelan. "Seingatku, gaya bicara seorang Hinata Hyuuga tidak seperti ini saat ia menghancurkan keluargaku dulu." Hinata terkesiap, menelan ludahnya mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Sasuke. "Mana Hinata Hyuuga yang penakut itu?"

'Kuatkan dirimu, Hinata. Kuatkan dirmu!' batin gadis itu mengambil alih kendali. "Uhm… Penakut, ya?" ucap gadis itu tanpa ragu sambil memberikan senyumannya yang lebih lebar. "Sayang sekali, Tuan. Nampaknya Anda salah orang."

Sasuke menaikkan alisnya, ini akan menjadi makin menarik. "Benarkah?"

"I guess so…"

"Jadi… Siapakah wanita yang sedang berhadapan denganku sekarang?" tanya pemuda raven itu sambil mendekatkan tubuhnya pada Hinata hingga langkah wanita itu terhenti karena kaki panjangnya yang menyentuh ujung tempat tidur.

"Uh.." Hinata mengernyitkan alisnya. "Kau.. Sekarang kau sedang berhadapan denga–" ujar Hinata tak bisa meneruskan kalimatnya karena Sasuke yang secara tiba-tiba mendorong tubuh Hinata hingga telentang di atas tempat tidur dengan Sasuke di atasnya.

"Pelacur, hm?" Lagi, pemuda itu menyeringai.

"A-apa.."

"Aku sedang berhadapan dengan seorang pelacur, bukan? Hyuuga Hinata?"

"Kau.." Hinata menggeram kesal dan berusaha memberontak, tidak terima atas apa yang Sasuke katakan padanya barusan. Ingin sekali ia meninju wajah memuakkan Uchiha itu sesegera mungkin namun apa daya, pergelangan tangannya telah terkunci kuat oleh laki-laki itu dan tenaganya tak sebanding dengan Sasuke yang berada tepat di atas tubuhnya. "Brengsek kau, Uchiha."

"Heh. Kenapa, Hyuuga? Apa kau senang bekerja sebagai pelacur?" tanya Sasuke sarkastik sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.

"Jaga ucapanmu, Uchiha," balas Hinata sambil menatap Sasuke penuh kebencian.

"Oh. Apakah ada dari ucapanku yang salah?"

"…" Hinata tak bergeming. Wajahnya sudah memerah; bukan karena malu, namun karena ia telah memendam amarah yang mungkin telah sampai pada batasnya.

"Jadi begitu cara kau memandangi pria yang akan bercinta denganmu, huh?"

"Argh!" Hinata kembali memberontak. "Sekali lagi, jaga ucapanmu itu!"

"Ssh… Tenang, Hyuuga." Sasuke makin mengencangkan cengkramannya pada pergelangan Hinata dan semakin merapatkan tubuhnya pada wanita itu. "Keep calm…"

"Menjijikkan," desis Hinata sambil memalingkan wajahnya ke arah samping. "Aku membencimu, Uchiha."

Sasuke tertawa ringan. "Aku lebih membencimu, Hyuuga."

"Oh ya?" Hinata kini kembali menatap Sasuke tak suka. "Atas dasar apa kau membenciku? Aku ingin mendengar alasanmu, Tuan."

"Banyak. Banyak alasan, Hyuuga."

"Benarkah?"

"Perlukah kujawab?"

"Lucu. Lucu sekali, Tuan Uchiha. Kau tahu, seharusnya yang berhak membenci itu ak–"

"Diamlah, Hyuuga. Aku punya rencana untuk menghancurkanmu lebih dalam." Seringai Sasuke kembali nampak. "Kau bisa membayar semua kesalahanmu perlahan…" Sasuke mendekatkan indra penciumannya tepat di leher Hinata dan menyesap aroma lavender lembut di sana. "…dengan tubuhmu."

Dan… Hening.

Tak mendengar balasan dari Hinata, Sasuke kembali mengangkat wajahnya guna menatap wanita itu. "Keh. Bagaimana?"

"Hmmp.. Hahaha."

Pemuda itu kini menaikkan sebelah alisnya mendengar tawa renyah Hinata yang keluar secara tiba-tiba.

"Hahahahaha!" Wanita itu tertawa dan tidak bisa berhenti. Sasuke lalu melepaskan cengkramannya pada lengan Hinata dan membiarkan wanita itu terbebas dari kungkungannya.

"Kenapa, Hyuuga?" tanya Sasuke kembali dingin. Jelas, ia tidak suka dengan sikap Hyuuga yang satu itu.

"Tuan Uchiha yang terhormat, kuberitahu kau dua hal jika kau berniat untuk menghancurkanku."

"…"

"Pertama, kabar buruknya. Kau hanya bisa bermimpi," ujarnya seraya bangkit dari atas tempat tidur. Kali ini, Uchiha muda itu tak menghalanginya.

Sasuke mendengus.

"Dan yang kedua, kabar baiknya…" Hinata lalu mulai beranjak meninggalkan Sasuke.

"…mimpi itu gratis, Uchiha-san," lanjut Hinata sambil membuka pintu lalu keluar dari kamar itu.

"..."

Dan Sasuke bersumpah, ia melihat air mata mengalir dari mata Hinata Hyuuga ketika wanita itu keluar tadi dan saat itu pula dadanya terasa sesak.

"Damn," umpat Sasuke sambil merasakan jantungnya berdegup kencang.


Sambil menyeka air matanya yang terus keluar, Hinata berlari keluar dari klub itu secepat yang ia bisa, menyusuri jalan raya yang sudah mulai lengang. Ternyata, berhadapan langsung dengan seorang Uchiha sangat–bahkan sangat sangat–menyakitkan. Menyakitkan, karena Uchiha itu berhasil meruntuhkan segala pertahanan yang susah payah Hinata bangun selama tiga tahun terakhir.

Berhadapan langsung dengan Uchiha rasanya jauh di luar ekspetasi Hinata selama ini. Padahal, wanita beriris bulan itu sudah menyiapkan mentalnya jika suatu hari nanti ia bertemu dengan seorang Uchiha. Segala dendam, amarah, dan rencana untuk menghancurkan keluarga arogan itu ternyata dapat runtuh dengan mudahnya hanya karena ia merasa lemah. Bahkan dengan topeng dingin dan sikap tak peduli Hinata tadi, toh ia menangis juga pada akhirnya.

"Aku.. Aku m-memang le-lemah. Aku lem–"

CKIIIT!

"Fuck!" Terdengar umpatan penuh kekesalan dari seorang wanita yang langsung keluar dari mobilnya setelah dengan tiba-tiba ia mengerem mendadak karena seorang gadis yang tiba-tiba ada di lajur jalannya. "Kau ingin bunuh diri?!"

Hinata terlalu terkejut untuk menyadari apa yang sedang terjadi sekarang. Yang ia tahu, ia hanya sedang berlari menyusuri jalan sambil menangis dan mengatakan bahwa dirinya lemah. Dan kini, sebuah mobil polisi mendadak berhenti tepat beberapa sentimeter di depannya.

"Nona!" bentak wanita tadi.

"A.. Ah.." Hinata lalu mengangkat wajahnya yang kini telah basah oleh air mata (namun ia dengan segera menghapusnya), lengkap dengan ekspresi terkejut dan bingung, serta ketakutan dan bodoh dalam waktu yang bersamaan. "A-aku... Aku minta m-maaf!" ujar Hinata ketakutan dan dengan segera ia membungkukkan tubuhnya di hadapan wanita tadi. "Aku sangat minta maaf!"

"E-eh? Eh! Hyuuga?!"

Mendengar namanya dipanggil, ia kembali menegakkan tubuhnya, masih dengan menampakkan ekspresi yang sama; kebingungan dan ketakutan.

"Mimpi apa aku semalam… Kau Hinata! Astaga!" Wanita tadi kini dengan cepat memeluk tubuh Hinata dengan sangat erat seakan mereka adalah ibu dan anak yang sudah terpisah puluhan tahun. "Ini aku! Temari!" katanya dengan nada bicara yang bahagia.

"T-Temari?" tanya Hinata tanpa membalas pelukan wanita asing itu.

"Hahhh.." Wanita yang bernama Temari itu kini melepaskan pelukannya, walau merasa tidak rela. "Ternyata kau lupa. Hahaha… Tega sekali."

"Ta-tapi.. Ah, m-maaf. Tapi a-aku benar-benar lu-lupa," aku Hinata.

"Ya, ya, wajar. Hehehe." Wanita berkuncir empat itu kini tersenyum lembut pada Hinata. "Masuk ke mobilku dulu. Tidak enak bicara di tengah jalan begini."

"M-mobil?"

"Ya.. Ayo," ajaknya sambil membukakan pintu untuk kursi penumpang. Hinata hanya mengangguk pelan dan masuk ke dalam mobil polisi itu. Temari lalu masuk ke kursi pengemudi setelahnya serta langsung menepikan mobilnya itu.

.

.

It's Fadeless

.

.

Gaara memijit pelipisnya pelan. Akhir-akhir ini masalah memang banyak terjadi di dalam kelompoknya. Entah itu ribut dengan kelompok lain, berurusan dengan polisi, bahkan masalah internal antaranggota kelompoknya.

Setelah berbicara dengan Orochimaru tadi, Gaara memutuskan untuk mengistirahatkan diri di ruangannya yang disediakan di rumah khas Jepang itu untuk setiap anggota kelompok yakuza milik Orochimaru. Ia memang berbaring di atas futon-nya, namun matanya tidak bisa diajak kompromi untuk terpejam. Pikirannya masih menerawang akan kejadian buruk yang mungkin akan terjadi esok hari.

Pemuda berambut merah itu lalu bangkit dan berjalan menuju meja yang terletak tak jauh dari futon tempat ia berbaring tadi. Ia lalu menuangkan vodka ke dalam gelas yang memang sudah ada di atas meja itu lalu segera menghabiskannya dalam sekali teguk. Dan itu terus ia ulangi sampai gelas ketiga habis. Mungkin ini bisa sedikit meringankan beban pikirannya.

"What the hell is wrong with me?" ujar pemuda itu setengah berbisik pada dirinya sendiri.

Ia nampak mengerutkan dahinya dalam, berusaha meredam segala pikiran yang tengah berkecamuk di dalam kepalanya. Ia lalu kembali meneguk gelas keempat vodka tadi untuk malam ini. Gelas terakhir sebelum ia memutuskan untuk tidur karena ia yakin besok akan menjadi hari yang panjang.

Ketika ia hendak menaruh gelas yang ia pegang, Gaara melihat sekilas bingkai foto sederhana yang terpajang di atas mejanya. Ia tersenyum tipis. Tipis sekali. Setelahnya, ia kembali beranjak untuk membaringkan diri di atas futon-nya, ditemani dengan bayangan dirinya, kedua kakaknya, dan seorang gadis kecil bermata bulan yang tergambar di bingkai foto tadi.

Ya, ia benar-benar akan tidur sekarang.

"Gadis itu… Mustahil."

.

.

It's Fadeless

.

.

Polisi wanita itu menghembuskan napas berat melalui mulutnya. "Jadi, kau benar-benar lupa, ya?"

"Uhm.. M-maaf."

"Padahal, Hinata, kau memanggilku 'nee-chan' saat kau kecil," ujar wanita itu sambil tertawa.

"B-benarkah?" tanya gadis bernama Hinata itu sambil menatap wanita yang ada di sebelahnya.

"Tentu saja! Hahaha… Dan anak itu… Ah, pasti kau juga sudah lupa dengan Gaara."

"Gaara?"

Polisi berambut pirang itu mengangguk. "Ya. Dulu kalian saling bertengkar juga bermain bersama. Kau tahu itu, Hinata?" ujarnya sambil mengenang masa lalu.

"Aku… Aku benar-benar lupa," ucap Hinata merasa bersalah.

"Kubilang wajar. Kejadian itu sudah hampir um... 18 tahun yang lalu." Temari–nama polisi itu–tersenyum pada Hinata sambil mengusap lengan wanita berambut panjang itu lembut.

"K-kalau bo-boleh tahu… Temari-san itu s-siapa?" tanya Hinata sedikit ragu.

"Hahaha! Kau tanya aku ini siapa? Hmm.. Aku kakakmu," jawab Temari mantap.

"Apa?" Hinata nampak begitu terkejut. Ia lalu menatap Temari dengan pandangan penuh tanda tanya besar.

"Kau sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri, Hinata." Temari kembali tersenyum.

Bagi Hinata, kejadian ini sungguh mengejutkan sekaligus membingungkan. Ia lalu berusaha membuktikan bahwa ia tidak sedang bermimpi dan… "Ah!" rintih Hinata pelan setelah ia mencubit pipinya sendiri dengan keras. Benar, kan? Ini bukan mimpi. Kami-sama… Apa lagi kali ini?

"–nata? Hinata?"

Samar-samar, Hinata mendengar ada suara seorang wanita yang memanggil namanya. Wanita bernama Temari itu sedikit mengguncangkan bahu Hinata sambil berusaha menyadarkan Hinata dari lamunannya.

"Temari-san, m-maaf."

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Hinata menunduk. "Banyak," bisiknya lemah, namun masih dapat terdengar dengan jelas.

"Baiklah, sebaiknya aku antarkan kau ke rumah," tawar Temari ramah. Hinata mengangguk pelan. Sepertinya tidak ada hal yang lebih baik selain pulang.

"Apartemenku lima blok dari sini, Temari-san," kata Hinata sopan.

"Apartemen?" tanya Temari yang mulai melajukan mobil patrolinya. "Kau tinggal sendirian, Hinata?"

"Un.." jawab Hinata sambil menganggukan kepalanya.

"Haah.. Sebenarnya ada banyaaaaak sekali hal yang ingin kutanyakan padamu. Tapi sepertinya kau sangat lelah."

Wanita bersurai indigo itu tersenyum menanggapi pernyataan Temari. Hari ini memang sangat melelahkan baik bagi fisik maupun mentalnya. Untung saja temari sedikit banyak dapat mengerti situasi yang mungkin sedang terjadi. Hinata bingung lelah, dan mungkin… Mengantuk.

"Sudah sampai, Hinata. Yang ini, kan?"

"Ah, i-iya," kata Hinata sambil melihat ke luar jendela mobil dan menemukan halaman gedung apartemen tempat ia tinggal. "Terima kasih banyak, Temari-san. Terima kasih."

"Tak perlu, Hinata," canda Temari. "Ah, berikan aku alamat e-mail-mu. Itu akan mempermudahku untuk menghubungimu."

Hinata tersenyum. "Baiklah, Temari-san."

Setelah mereka saling bertukar e-mail, waktunya bagi mereka untuk berpisah. Namun sebelum Hinata beranjak lebih jauh, ia mendengar Temari memanggilnya dari dalam mobil. "Kau harus tahu… Aku sangat senang dapat bertemu lagi denganmu, Hinata," ujarnya senang.

Hinata terpaku sejenak. Ia lalu tersenyum tulus sambil melihat mobil polisi yang baru saja melaju itu. "Terima kasih, Temari-san."

.

.

It's Fadeless

.

.

Pagi itu, yang bahkan jarum jam pun belum menunjukkan angka enam, seorang pemuda bersurai merah dibangunkan oleh setumpuk e-mail yang masuk melalui ponselnya. Ketika ia melihat isi pesannya, itu dikirimkan dengan format yang sama, isi yang sama, dan oleh orang yang sama.

From : Temari

Subject : Kejutan!

Message : Tebak, siapa yang aku temui malam tadi! Kau pasti akan sangat terkejut, Otouto!

Sayangnya, Gaara terlalu malas untuk menanggapi kakaknya itu. Bahkan hanya untuk membalas satu pesan pun.

To be Continued

.

.

AN

Yubitsume : hukuman bagi anggota yakuza yang melanggar aturan, yaitu salah satu ruas jarinya harus dipotong

Oyabun/Kobun : ketua/anak buah kelompok yakuza

Minna-san! Terima kasih. :'D Sungguh, aku gak nyangka kalau It's Fadeless bakalan dapet respon yang…. Ah, bahkan aku gak tau harus ngedeskripsiinnya gimana. Pokoknya aku seneng banget. AKU CINTA KALIAN SEMUA. Aku beneran minta maaf karena update yang kelewat lama. Aku ngerasa uneasy pas ngelihat kotak review yang sangat menyenangkan, sedangkan aku belum bisa update cepet seperti permintaan kalian. Aku minta maaf. TwT

Terima kasih untuk :

Uchiha Hien, Hel Hazelnut, Yurikocchi, Luluk Minam Cullen, , bbyjellow, anitaindah777, Hilda9Achillius9Fitra, Syuchi Hyu, Enrique (sudah terjawab kenapa sasuke ketus, hehe), Mine (terima kasih ya!), Ayzhar (iya, dehiru semacam itu, hehehe), sh always (terima kasih ), Hana ID (hehe, makasih yaaa), uchiha hinata (yup saling kenal, hoho), Rechi (thank you!), amochan (whuehehe), Bilqis Saffiree (aku juga ngerasa Hinata too cool, haha), Putri tanpa nama (kamu bikin aku meleleh baca review darimu aaaaa), avrillita97, Hinataholic (terima kasih, hehe), Guest (hehe, thanksss), Naomi JA (arigatooo aaa), hakuna (terima kasih, hehe.. sasuhina jadi slight kok XD), SSasuke 23, Rhe Muliya Young, Guest (terima kasih, guest hehe), Guest (gak rapi banget kok hehe), Akane-Rihime, GHL (saya juga XD), Cahya LavenderUchiha ELFishy, Jasmine DaisynoYuki, Mell Hinaga Kuran, natasia sato, Guest (thanks! Hehe), NindaK98 (makasih Ninda XD), keiKo-buu89, GobletDraconis, Minji-blackjack, dan semua silent readers. Yang login dibalas lewat PM, hehe.

Juga untuk AnakayamLiana, 94, NJ21, Renvel Takokak, Uzumaki Shizuka, Vampire Uchiha, Yamashita Miko, chiee69, hepiwulandari22, jennie kim, pipit nadi, reintsunny, uchiha hana hime, Fitria Toushiro, dan Shiro no Tsubasa.

Terima kasih banyak untuk kalian yang udah review, follow, dan favorite It's Fadeless ya. :'D Tanpa pembaca, fic ini gak akan ada artinya.

Oh ya. Spoiler untuk ch depan… Sedikit banyak akan diungkap masa lalu Gaara dan Hinata. Lalu, Hinata akan melakukan sesuatu sesuai profesinya, entah sama Sasuke atau Gaara, hwuehe. *digantung*

Dan inilah chapter 2, semoga tidak mengecewakan. Read n Review onegaishimasu. :')

Regards,

aurecchi