Semalaman menangis membuat perasaanku jauh lebih baik. Sedikit banyak, air mata memang bisa menenangkan hati yang tersakiti. Sejujurnya bukan tersakiti sih, hanya saja perasaanku yang tak mau menyerah padanya. Meskipun sekarang semua itu harus masuk dalam galeri kenanganku.

Begitu terbangun di pagi hari dan mengecek handphone, ternyata Kinal mengirimiku sebuah pesan. Omong-omong, Kinal adalah salah satu sahabat baikku. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia bahkan seperti mengintaiku sepanjang hari. Ya, itu karena Ia selalu tau jika aku sedang butuh dihibur atau semacamnya seperti sekarang ini.

Aku belum bercerita sedikitpun tentang apa yang baru saja kulihat tadi malam padanya, tapi Ia mengajakku pergi bersama.

"Ve, mau ikut jalan-jalan? Aku, Melody sama Nabilah mau ke villa-nya Melody yang deket pantai itu lho. Cepet dibales ya."

Begitulah isi pesan yang kuterima. Tanpa berpikir panjang lagi aku segera menyetujui ajakan Kinal itu. Berhubung sekarang perasaanku juga sedang butuh hiburan. Seperti operator provider yang selalu siaga didekat teleponnya, Kinal dengan cepat membalas pesanku.

"Oke. Kamu siap-siap aja, nanti jam 10 kita jemput."

Mendapat jawaban positif aku segera bergerak. Sebelumnya aku melirik dahulu jam digital di handphoneku. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Masih ada cukup waktu sampai Kinal datang. Aku pun memutuskan untuk merapikan kamar yang semalam kubuat berantakan. Memang sih perbuatanku semalam agak keterlaluan sampai segala jenis barang berserakan dimana-mana. Sekarang saatnya membereskan semuanya!

Huft. 2 jam sudah aku berkutat dengan bermacam-macam barang dikamar yang seperti terkena gempa bumi. Sekarang semua telah kembali ketempatnya semula. Setelah semua selesai, giliranku untuk membersihkan diriku dan berkemas.

Waktu yang dijanjikan pun tiba. Setelah berpamitan pada orang tuaku, aku menghampiri teman-teman yang sudah menunggu didepan rumah. Selesai memasukkan barang-barang yang kubawa, perjalanan pun dimulai.

Aku tak ingat betul lokasinya dimana, tapi yang jelas aku ingat kalau tempat itu memang indah. Pasir pantai putih bersih dan masih asri memang dapat menyejukkan mata dan pikiran. Dan juga hati yang terluka tentunya.

Selama perjalanan kami saling bertukar cerita karena memang sebulan terakhir ini kami jarang bertatap muka. Tugas akhir semester memang menjadi momok menakutkan bagi setiap mahasiswa, begitu juga bagi kami. Tugas yang menggunung disertai pekan penuh ujian yang berat membuat kami mau tak mau mempersiapkan diri mati-matian. Aku bahkan tak bisa berlibur di akhir pekan karenanya. Tapi untunglah waktu yang berat itu telah berlalu. Kini saatnya bersenang-senang.

Tak lupa aku menceritakan apa yang baru saja terjadi kemarin malam pada semuanya. Reaksi dari semua pun sama, terkejut. Setidaknya mereka bisa memahami perasaanku.

"Hah?! Serius kamu Ve? Adit udah punya pacar lagi?" tanya Kinal tak percaya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Yah Ve, jangan sedih ya." Melody yang sedang menyetir pun ikut memberikan respon tanpa melepaskan pandangannya dari jalan.

"Udah Mel jangan ikut-ikutan, nyetir aja yang bener," Kinal mengomelinya.

"Jangan lebay deh Nal, please," balas Melody dengan nada meledek.

"Haha, biarin aja Mel. Biar dia seneng," aku pun ikut menimpali.

"Kok kamu gitu sih Ve? Malah belain Melo ketimbang aku," ujarnya dengan nada merajuk.

"Ciee ada yang ngambek nih haha," Nabilah juga ikut ambil bagian. Semua pun tertawa mendengar celotehan itu.

"Terus kamu gimana Ve? Udah bisa relain dia?" ujar Nabilah lagi. Kali ini aku tertunduk dalam diam.

"Nabilah!" Kinal melebarkan matanya.

"Aduh, maaf ya Ve. Aku ga bermaksud..."

"Gapapa kok Bil. Tenang aja," aku memotong ucapan Nabilah. "Dan kamu Nal, jangan berlebihan gitu dong," aku juga menasehati Kinal.

"Iya Ve, maaf," Kinal tertunduk.

"Udah ah, mau liburan bukannya seneng, malah gini." Melody akhirnya angkat bicara. Membuat kami lama kami berhenti di sebuah rest area dalam jalan bebas hambatan. Sedikit melepas lelah karena perjalanan masih panjang. Meregangkan badan dan membeli beberapa minuman penyegar adalah hal-hal yang biasa kami lakukan. Melody meminta aku untuk menggantikannya menyetir selama sisa perjalanan. Aku pun menyanggupinya.

Kinal dan Nabilah yang sudah mengantuk duduk dibelakang. Setelah mengisi bahan bakar, kami melanjutkan perjalanan. Tak lama setelah melanjutkan perjalanan, Kinal dan Nabilah terlelap di kursi belakang. Meninggalkan aku dan Melody yang masih dan harus terjaga. Mencegah kantuk datang, kami pun mengobrol.

"Jadi Adit sudah punya seseorang yang lain?" Melody membuka pembicaraan.

"Yah, begitulah Mel. Dunia tak seindah yang kukira," ujarku.

"Setidaknya kau masih bisa menemuinya kan?" Perkataan Melody mulai terasa aneh ditelingaku.

"Ya, bisa sih, tapi kenapa harus? Dia sudah bersama seseorang yang lain. Tak mungkin aku mengusik hidupnya lagi."

"Setidaknya kau masih bisa mendengar suaranya walaupun itu hanya membuat hatimu sakit. Tidak seperti aku." Suara Melody mulai terdengar lirih.

"Kamu kenapa sih Mel? Memangnya ada apa dengan hubunganmu dan Larry?" tanyaku penasaran. Ohya, Larry adalah pacar Melody. Mereka sudah berpacaran sejak kami berseragam putih abu-abu. Sekarang kami menginjak semester empat dibangku perkuliahan.

"Dia... Dia pergi meninggalkanku Ve." Ucapannya terdengar sedih. Aku bahkan bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca dari ekor mataku.

"Apa?! Jadi kalian putus?" ujarku terkejut.

"Bukan itu, ia bahkan tak melakukannya," balas Melody.

"Lalu apa yang terjadi Mel? Tell me." Rasa penasaran merasuki seluruh tubuhku.

"Larry telah... Meninggalkan dunia ini Ve. Pergi menghadap Sang Pencipta."

Ini bahkan lebih mengejutkan dari ku perkirakan. Untung saja aku dapat menahan diri untuk tidak menginjak pedal rem sekuat tenaga. Sambil menurunkan laru kendaraan, perlahan aku mengarahkan mobil ke bahu jalan.

Air mata telah jatuh dan membasahi pipinya. Aku tak dapat berbuat banyak. Bahkan aku tak tahu harus mengatakan apa padanya. Kami terdiam sejenak, membiarkan waktu melakukan tugasnya. Setelah menyeka air matanya yang jatuh, Melody kembali bersuara.

"Sudahlah Ve, itu sudah berlalu. Biarkan dia tenang di alam sana," ujarnya.

"Aku mengerti Mel. Tapi, maukah kau bercerita padaku saat sampai nanti?" pintaku halus.

"Baiklah Ve. Lagipula aku memang butuh teman untuk berbagi," jawabnya dengan suara terisak.

"Anytime Mel."

Aku pun menginjak pedal gas dan beranjak pergi dari bahu jalan.

Beberapa jam berlalu setelahnya. Selama itu pula Melody terlihat terjatuh dalam kenangannya. Lama kelamaan ia pun tertidur karenanya. Tinggal lah aku sendiri, menyusuri jalanan berlumpur. Sebelum tertidur Melody mengatakan kalau aku hanya perlu mengikuti jalan saja. Tapi kami terhenti di sebuah persimpangan.

Aku coba membangunkan Melody, Kinal dan Nabilah, tapi tak satu pun dari mereka yang membuka mata. Saat sedang kebingungan, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobil disebelahku. Hampir saja aku meloncat dari kursi karena terkejut. Tapi aku bisa menahan diri untuk tidak melakukannya.

Aku lalu membuka kaca setelah menimang-nimang terlebih dahulu. Dari beberapa serial detektif yang sering ku tonton, saat seperti ini adalah saat yang paling rawan terjadi pembunuhan. Kurang bagus apalagi? Kami semua wanita dan terlebih lagi hanya aku yang terjaga. Seseorang bisa saja membunuh kami dan membuang mayat kami entah dimana, lalu mengambil semua yang kami miliki. Ya, SEMUA.

Oke, itu tadi imajinasiku yang belebihan. Dari wajahnya, sepertinya dia pria baik-baik. Maka ku putuskan untuk menanyai jalan padanya karena hari mulai beranjak sore.

"Maaf, mau tanya. Jalan menuju villa di dekat sini kemana ya?" tanyaku ragu.

"Villa? Villa milik siapa ya? Soalnya banyak villa disekitar sini, mba," jawabnya.

"Aduh, itu..."

"Huaaa..." Melody tiba-tiba saja bersuara. Hal itu membuatku dan pria disebelahku menoleh bersamaan.

"Melody?" pria itu sontak saja berbicara.

"Kau kenal dengannya?" tanyaku penasaran.

"Ya. Kami teman semasa kecil. Jadi kau ingin pergi ke villa milik keluarganya?" dia bertanya balik padaku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. "Mba, belok kiri saja, villanya ada diujung jalan ini," ujarnya.

"Oh gitu ya. Makasih ya..." ucapku menggantung.

"Irfan. Panggil saja Irfan."

"Ohya, makasih Irfan," lanjutku.

Kami lalu berpisah dipersimpangan jalan itu. Dan setelah beberapa menit, akhirnya kami sampai juga di villa milik Melody.

"Mel, ayo bangun," seruku membangunkannya. Tapi tak ada respon yang ku terima. "Melody, ayo bangun." aku pun terus berusaha membangunkannya. Percobaan pertama dan kedua gagal, begitu juga yang ketiga dan empat. Tapi pada percobaan kelima matanya terbuka juga.

"Kita udah sampe nih?" tanyanya begitu selesai mengucek matanya.

"Iya Mel," jawabku singkat.

Sesaat setelahnya Kinal dan Nabilah yang terlelap sedaritadi ikut terbangun. Kami lalu menurun kan barang bawaan masing-masing dan melangkah masuk ke dalam villa. Melody memang berasal dari golongan keluarga yang sangat berkecukupan. Aku pun tak heran jika villa keluarganya besar seperti ini.

"Ohiya Ve, bagaimana kau bisa membuka pagar depan? Seingatku pagar itu di gembok," tanya Melody.

"Di gembok? Saat aku sampai pagarnya sudah terbuka kok," balasku.

"Hmm.. Terbuka ya, itu berarti..." Seketika perhatian kami teralihkan begitu mendengar suara pintu terbuka. Kami semua terhenyap. Bukan karena suara pintunya tapi karena Melody sang pemilik villa bahkan belom mengeluarkan kunci villa ini. Ditambah ucapan Melody yang menggantung membuat jantungku berdegup kencang. Lalu sesosok lelaki paruh baya muncul dihadapan kami. Aku, Kinal dan Nabilah hampir terloncat karenanya tapi tidak dengan Melody. Sikapnya begitu santai seperti sudah biasa dengan keadaan ini.

"Pak Sapto, pasti mama kan yang menyuruh untuk merapikan tempat ini sebelum saya datang?" Melody langsung bertanya pada lelaki itu.

"Ya, begitulah Non. Kan Non Melody tau sendiri kebiasaan ibu Non seperti apa," jawabnya singkat.

"Ohya, ini Pak Sapto, warga disekitar sini," Melody lalu mengenalkan kami pada lelaki itu. Namun, respon kami sama-sama saling mengangguk.

Kami pun masuk ke dalam rumah. Melody masuk lebih dulu sambil menanyakan beberapa hal pada pak Sapto dan kami mengikuti dibelakangnya. Aku, Kinal dan Nabilah melangkah lebih dulu ke kamar utama di lantai 2, sementara Melody mengintrogasi pak Sapto, kurasa.

Aku tak ingat betul kapan terakhir kemari, tapi yang kuingat adalah kami datang ke sini bersama pasangan masing-masing kala itu. Ya, aku dengan Adit, Melody dengan Larry, Nabilah dengan Glen, lalu yang terakhir Kinal dengan Andre. Kami berdelapan menghabiskan waktu disini, ditempat ini. Memori itu meloncat keluar begitu saja saat kami sampai di kamarnya Melody. Ahh, masa yang menyenangkan. Tapi hal itu hanya tinggal kenangan, bagiku dan juga Melody. Hmm, aku penasaran dengan Nabilah dan Kinal. Hubungan mereka bagaimana ya?

"Kamar ini... Tak berubah ya," celetuk Nabilah begitu menginjakkan kakinya didalam kamar.

"Iya Nab, sama seperti dulu," Kinal menambahkan.

"Tapi tak semuanya sama bagiku, karena kini hanya tinggal aku sendiri tanpanya," aku bersuara tanpa sadar. Semuanya terdiam dan menunduk mendengar ucapanku. Melody yang ternyata sudah berdiri dibelakangku pun menunjukkan reaksi yang sama.

"A-aku akan mengambil minum dulu," ucap Melody memecah keheningan.

"Aku ikut Mel," sambar Nabilah. Lalu mereka kembali ke lantai 1.

"A-aku akan membereskan barang-barang dulu," ujar Kinal ragu. Tapi aku tak mengindahkannya.

"Aku... Akan ke teras atas deh," ujarku yang kebingungan.

Angin sepoi-sepoi bertiup melewatiku. Sejuknya alam dapat menenangkan pikiranku sejenak. Aku merasa tak enak atas apa yang baru saja terjadi. Jujur, aku tak enak hati pada Melody. Tapi aku juga heran dengan sikap Nabilah dan Kinal. Tidak biasanya mereka seperti itu. Ah, aku tak ambil pusing dengan mereka. Aku hanya ingin mendinginkan kepala, juga melupakan kesedihan akibat luka lama yang terbuka kembali.

Mentari perlahan mulai terbenam, menyisakan langit berwarna orange yang amat indah. Pemandangan ini sedikit banyak dapat mengiburku. Kicauan burung pun menambah keindahan alam ini. Rasanya sungguh menenangkan. Apakah aku bisa menjadi seperti langit senja itu? Walau hanya sebentar tapi semua orang yang melihat menjadi senang. Walau hanya sebentar tapi aku ingin membahagiakan semua, membahagiakan para sahabatku. Bisakah aku?

"Ve, apa aku mengganggu?" seseorang memanggilku. Ternyata itu Melody.

"Ah, kamu Mel. Engga kok, sini sini," ajakku padanya.

"Memandangi langit lagi, Ve?" ucapnya sambil berjalan mendekat.

"Begitulah. Kau tahu kan kalau ini, ya bisa dibilang hobi ku haha," candaku.

"Tapi jika sudah waktunya keindahan itu akan hilang, digantikan langit malam yang suram," suaranya merendah, membuatku terdiam.

"Keindahan yang sekejap itu hanya akan menyisakan luka yang menyesakkan," lanjutnya.

"Tapi Mel, setidaknya kau masih punya kenangan dengannya kan?" sanggahku yang mulai mengerti arah percakapan ini.

"Kenangan ya? Hal itu hanya membuatku sedih Ve." Air mata mengalir melewati pipinya. "Segala kenangan bersamanya, semua barang yang ia berikan, semua itu hanya menguras air mataku tiap kali aku mengingat hari-hari bersamanya!" tangisan pun pecah. Melody terduduk. Tenggelam dalam tangis. Aku ikut duduk disebelahnya, mencoba meredakan kesedihan yang melanda dirinya.

"Dia satu-satunya orang yang memberiku perhatian. Memberi satu-satunya yang tak ku dapatkan dari orang tuaku. Dia, dia yang selalu berada disana saat aku membutuhkannya. Tapi kini aku tak bisa lagi melihat wajahnya. Tak bisa lagi mendengar suaranya," ceritanya sambil terisak. Aku mengerti betul apa yang ia katakan. Dan aku mengerti bagaimana keadaannya.

Orang tua Melody memang seorang pengusaha, mereka selalu bekerja dari pagi hingga malam. Tak jarang di hari libur pun mereka pergi dengan alasan urusan bisnis. Pada awalnya Melody tak mengapa dengan hal itu, namun saat beranjak remaja, ia baru merasa kehilangan akan kasih sayang. Akulah yang mengulurkan tangan untuknya. Akulah yang dahulu membantunya berdiri kembali, memberi kehangatan yang tak ia dapatkan. Tapi itu semua belumlah cukup. Perhatian yang aku dan teman-temanku berikan tidak sebanding dengan yang ia butuhkan. Sampai akhirnya Melody bertemu dengannya. Ya, si murid pindahan Larry.

-To be continue