CHAP 2

"Yifan, apa kau masih ikut turnamen antar sekolah bulan depan?" tanya Yixing padaku
saat istirahat. Aku meneguk minuman yang aku bawa dan mengangguk. "Wah... padahal
kau kan sudah senior. Kenapa masih boleh ikut?" tanya Yixing yang kutebak dengan
wajah super polosnya. "Aku kapten. Dan posisiku belum ada yang bisa menggantikan."
jawabku tanpa memandang kearahnya. Aku merasakan Yixing mengangguk-angguk paham.
"Yifan." panggilnya. Aku menoleh ke arahnya. "Apa?" tanyaku.

"Kau lihat Luhan?" tanyanya serius tapi terdengar bodoh. Dentuman keras menghampiri
pikiranku. Kenapa ia bertanya dimana Luhan dengan nada seperti itu. "Kau pikir
aku Tuhan yang tahu dimana Luhan sekarang?" jawabku sambil berbalik bertanya
pada Yixing. Yixing menatap mataku lekat-lekat. Oke. Ada apa dengannya. "Kau tahu
kenapa aku menatapmu seperti ini?" tanyanya serius masih dengan tatapan yang aneh.
"Karena... ada sesuatu di matamu..." jawabnya sendiri. Sesuatu? Aku mencoba
memegang daerah sekitar mataku. Tapi tidak kutemukan apa-apa. "Apa sih Xing?" tanya
ku resah. Yixing mendekatkan wajahnya ke arahku.
Tadinya kami duduk agak jauh, sekarang posisi kami hanya berjarak beberapa senti
saja. Aku menelan air liurku. Takut Yixing akan berbuat sesuatu yang aneh-aneh.
Meskipun sekarang kami berada di tempat sepi di taman belakang sekolah, tapi
aku merasa tidak nyaman saja...
Yixing mendekatkan mulutnya pada mataku dan meniupnya. Sontak aku langsung
memejamkan mataku. "Hei apa-apaan kau?" tanyaku resah. Yixing tidak menjawab
pertanyaanku dan malah tertawa kecil. "Ada sedikit debu di matamu. Kau tidak merasa
gatal?" tanyanya. Aku menggelengkan kepala. "Dasar tidak peka!" ejeknya padaku.

Entah keberapa kalinya ia mengataiku tidak peka. Dan setelah itu dia pasti menyubit
gemas pipiku. Seperti saat ini. Dan aku pasti hanya bisa diam melihatnya memainkan
pipiku yang bahkan tidak se chubby Luhan.

"Ayo masuk kelas!" ajaknya setelah selesai menyubit pipiku. "Baiklah." ujarku sambil
berdiri. Saat bersamaan, Yixing juga ikut berdiri. Dan dia... menggandeng tanganku
lagi dan memasukkan ke sakunya. "Dingiin~" ujarnya pura-pura. Aku hanya bisa
memandang Yixing dan mengikutinya berjalan. Dasar Yixing...

.

.

.

.

Latihan basket dimulai lagi setelah pulang sekolah. Setelah turnamen antar sekolah
bulan depan itu, aku harus berhenti menjadi kapten dan keluar dr tim basket. Tidak
hanya aku, tapi seluruh tim yang sudah kelas 3. Sebagai kapten lama, tentu aku
harus mencari penggantiku.
Turnamen bulan depan tentu saja aku dan timku harus berhadapan dengan Wei Fuo
Senior Highschool yang terkenal dengan tim basketnya. Tahun lalu kami gagal
mengalahkan mereka. Wei Fuo adalah juara bertahan selama 5 tahun berturut-turut.
Tapi tenang saja, tahun ini rekor ini akan kami patahkan!

"Yixing kenapa kau mengikutiku saat latihan hah?" tanyaku pada Yixing yang sekarang
benar-benar menempel di sebelahku. "Aku kan ingin melihatmu bermain." jawabnya
polos. "Tapi kan bisa saat lomba. Kenapa sekarang?" tanyaku sebal. "Aku tidak mau
pulang sendirian, Fan. Aku akan menunggumu sampai selesai latihan. Bersama Luhaan!"
jawabnya mulai riang. "Pergilah ke Luhan kalau begitu!" ujarku sebal lagi.

"Ada yang memanggilku?" tanya Luhan tiba-tiba. Ajaibnya, Luhan sudah berada di
samping kiriku. Alhasil Luhan dan Yixing mengapitku. "Luhan!" seru Yixing senang.
"Xing, kau bisa bosan melihat Yifan bermain basket! Bagaimana kalau kau ikut aku
dulu? Nanti kita kembali lagi ke sekolah!" ajak Luhan pada Yixing. Aku memutar bola
mataku. Dua orang gila ini. "Baiklah aku setuju!" ujar Yixing. "Baiklah! Ayo!"
ajak Luhan.
"Eum Yifan, aku akan kembali! Tenang saja bye~!" ujar Yixing padaku. Tapi aku tak
menghiraukannya. "Oh ya!" serunya. Sengatan kecil tiba-tiba merangsang di pipiku.
Yixing mencium pipiku? Oh dasar gila. Ia langsung berlari kencang meninggalkanku
yang kebingungan. Aku melihatnya dari kejauhan. Ia sedang tertawa-tawa bersama
Luhan. Baiklah Xing. Ini yang kedua kalinya... Yang pertama saat aku dan dia
bersama-sama membersihkan sekolah dari banjir. Itu sekitar 2 tahun yang lalu.
Dasar gila...

.

.

.

.

Latihan telah selesai. Hari beranjak gelap. Aku sudah menunjuk salah seorang junior
bernama Lee Fang untuk menggantikanku sebagai kapten untuk selanjutnya. Kini aku
mencari Yixing. Sialan. Dia bilang akan kembali. Tapi dimana dia?

Aku melihat bayangan hitam di dekat pohon. Oh tunggu itu bukan bayangan. Itu orang
dengan jaket/coat hitam. Aku mendekatinya. Kemudian aku mendapati ia sedang
berbalik badan menyembunyikan wajahnya. Woho.. tunggu aku tahu dia siapa.
"Huang Zi Tao." panggilku dengan senyum 'smirk'. Ia membeku seketika. Tak lama
kemudian, ia membalikan badannya menghadapku.
"Aku ketahuan." ujarnya sambil tertawa kecil. "Apa yang kau lakukan? Mengintip
latihan sekolahku?" tanyaku. Ia tertawa lagi. "Kau yang mengawasiku saat ditaman
kan?" tanyaku lagi. Ia masih diam sambil tersenyum. "Lain kali jika ingin
menguntitku, gunakan coat dari merk yang aku tak tahu jenisnya. Ini coat dari
Ralph-Laurent keluaran terbaru bukan?" tanyaku lagi.
"Kau tahu fashion juga. Benar ini dari Ralph-Laurent. Dan tak kusangka kau juga
tahu soal yang di taman." jawabnya sambil menunjukan senyum smirknya.
"Apa yang kau inginkan? Kemenangan? Haha. Tahun ini turnamen itu bukan milik
Wei Fuo Senior High School. Tapi milik Shengzuan Senior High School!" ujarku
padanya. Sekedar info, Shengzuan Senior High School adalah nama sekolahku.

"Tak akan pernah. Bagaimana jika kita bertaruh. Kalau sekolahmu menang, maka
aku akan pindah ke sekolahmu. Tapi jika sekolahku yang menang, kau harus pindah
ke sekolahku. Kau setuju?" oh anak kecil ini mengajak taruhan.
"Aku setuju." ujarku yakin. Kemudian aku dan dia berjabat tangan. "Baiklah kapten,
kau boleh pulang." ujarnya padaku. Zi Tao membukkukan badannya. Ia lalu pergi
meninggalkanku.

Baiklah. Sekarang dimana Yixing?

"Xing, kau bilang kau ingin pulang bersamaku. Sekarang aku pulang sendiri dan kau
sudah rapi lalu sambil tersenyum mengunjungi rumahku? Apa maumu?" tanyaku pada
Yixing marah. Bagaimana tidak. Aku ditinggal dan aku harus pulang sendiri. Memang
tidak apa aku pulang sendiri. Tapi Yixing mengingkari janjinya. "Maafkan aku..."
jawabnya sambil menunduk. "Aku kan sudah bilang kau pulang saja. Kenapa kau malah
berjanji menungguku?" tanyaku masih marah. Yixing menunduk terlalu dalam. Aku
mendiamkannya sejenak. Lalu terdengar isak tangisan. Ya ampun ada apa ini!

"Xing?" tanyaku khawatir. Tentu aku tak mau membuat Yixing menangis karena aku
marahi seperti ini. Dia sudah 17 tahun!
"Maafkan aku Yifan... Aku bermain ke hotel tempat Sehun menginap bersama Luhan.
Kami bermain disana dan aku lupa kembali ke sekolah... " ujarnya menyesal.
Aku menghela nafas dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal ini. Bagaimana seorang
laki-laki yang sering rangking 1-5 di sekolah mendadak berkata seperti ini
dihadapanku?

"Xing, sudahlah. Apa tujuanmu kemari?" tanyaku padanya. Ia masih menunduk. Ya aku
baru ingat bahwa Yixing tidak suka dikasari. Ia masih diam dan menunduk.
Jujur saja. Aku bertemu dengannya di depan rumahku. Tubuhku benar-benar masih
lengket dan bau. Aku sudah kelelahan.
Tanpa pikir panjang, aku menariknya masuk ke dalam rumahku. "Fan..." ujarnya pelan
saat kami sampai di kamarku. "Diam disini aku ingin mandi!" sentakku. Aku
mendorongnya untuk duduk di kasurku. Aku melihat tas di punggungnya. Ya mungkin ia
ingin belajar bersama.

.

.

.

.

Aku menarik kursi dari meja belajarku. Kemudian, aku duduk tepat di depan Yixing
yang masih duduk diam di tepi kasurku. "Baiklah Zhang Yi Xing. Apa yang membawamu
kemari?" tanyaku sambil mengambil posisi.
"Maafkan aku dulu." jawabnya pelan sambil masih menunduk. Aku menghela nafas dan
memejamkan mataku sebentar. "Baiklah lupakan soal itu. Sekarang kenapa kau kesini?"
tanyaku lagi. Ia mengangkat wajahnya menghadap ke arahku. "Benarkah?" tanyanya
mulai tersenyum. "Ya ya ya..." jawabku datar.
Yixing langsung memelukku erat. "Xie xie Yifan! Aku tahu kau memang yang paling
baik." ujarnya. Aku benar-benar kesusahan dalam bernafas. "Xing... a-a-aku.."
ujarku sambil mencoba bernafas normal. Yixing melepaskan pelukannya. Ia tersenyum
lebar. "Jadi, apa yang membawamu kemari?" tanyaku untuk kesekian kalinya.
Yixing membalikkan badannya dan mencari sesuatu di tas punggungnya. "Lihat ini!"
serunya.

Ia mengeluarkan sebuah buku bertuliskan 'My Dream' Apa itu novel? "Itu novel?"
tanyaku. "Memang seperti novel. Tapi ini bukan novel. Sehun memberikanku dari
Korea!" jawabnya sambil tersenyum lebar. "Lalu itu apa?" tanyaku lagi. "Kau baca
sendiri." jawabnya sambil menyerahkan buku itu padaku.

Aku membaca buku itu. Di beberapa lembar awalnya terdapat beberapa kisah. Aku
tidak banyak tahu soal bahasa korea. Tapi sepertinya itu kisah orang-orang sukses
dengan mimpinya. Kemudian ada sebuah lembar bertuliskan
'Buku mimpi milik Zhang Yi Xing dan Wu Yi Fan' aku membalik lembar selanjutnya dan
ternyata kosong.
"Xing?" tanyaku padanya saat selesai membaca buku itu. "Yap, kita harus mengisi
buku itu dengan mimpi-mimpi kita! Lalu kalau ada yang tercapai kita harus
mencentangnya di kolom ini." jawab Yixing sambil menunjukkan kolom checklist.

"Kenapa milik kita berdua?" tanyaku. Yixing terdiam sejenak. "Hmm... kau tidak mau?"
tanyanya dengan nada menyesal. "Bukan begitu... Tapi ya sudah tak apa." jawabku.
Tak kusangka jawabanku cukup membuat Yixing kembali senang. "Nah, sekarang
tuliskan mimpi-mimpimu disini!" perintah Yixing yang menyuruhku menulis di
sebuah kolom.

Aku mengambil ballpoint dan menulis beberapa mimpiku. Kemudian aku menyerahkannya
pada Yixing. Yixing membacanya dengan seksama. "Fan, kenapa kau ingin menang
taruhan dengan sekolah Wei Fuo?" tanya Yixing. Kemudian aku menceritakan kejadian
soal taruhan itu. Yixing benar-benar terkejut.
"Kau harusnya tidak menerimanya! Sekolah kita kan tidak akan menang melawan
Wei Fuo!" ujar Yixing khawatir. "Itu akan membuatku semangat untuk mengalahkan
mereka!" seruku bersemangat. "Aku takut Fan... aku tidak mau pisah sekolah
denganmu..." ujar Yixing khawatir. "Tenanglah, kau tak perlu khawatir. Yang penting
kau harus berdo'a agar aku yang menang. Kau setuju?" tanyaku. Yixing mengangguk.

"Ini janji, kau harus menang." ujarnya padaku. "Jangan khawatir." ujarku
menenangkannya.

Mimpi Wu Yi Fan : Aku tidak boleh kalah dari Zi Tao dari Wei Fuo. Aku akan
memenangkannya dan mengalahkan track record mereka. Zi Tao, selamat datang di
Shengzuan Senior High School.

######end of Chapter 2#######