Devangel

.

.

Dhienhie Fujoyerelf

.

.

Genre: TeenRomance, Drama, Littlehurt

.

.

Rate: T

.

Lenght: Chaptered

.

.

Disclaimer: KyuMin milik Tuhan. Kyuhyun milik Sungmin dan Sungmin milik Kyuhyun, mereka saling memilki dan Sungjin murni milik saya *ditabokJongjin* Tapi yang pasti FF abal ini milik saya seutuhnya. :D

.

.

Warning: YAOI, Typo(s), DON'T LIKE DON'T READ! NO BASH! NO PLAGIAT!

.

.

.

enJOY~

CHAPTER 2

.

~(*o*)~

.

This fict is dedicated..

To the world biggest shipper..

The JOYers..

.

FLASHBACK

Sungmin terlihat benar-benar berantakan. Dua matanya membengkak, hidungnya memerah, pipinya terlihat putih bergaris akibat dilewati air mata yang kini mengering. Begitu suram dan tampak semakin suram dengan rambutnya tampak benar-benar berantakan. Dua tangannya terlipat di depan dada sambil memeluk erat sebuah pigura yang menampakkan potret sosok namja yang begitu dicintainya.

"Kyunnie."

Nama itu terus terdengar si sela-sela isak tangisnya. Air matanya bercucuran, jatuh tepat mengenai potret wajah sang kekasih. Isakan demi isakan terus terdengar, tangan Sungmin bergerak pelan, mengusap air matanya yang di kaca pigura. Jarinya terlihat menari-nari di sana, menelusuri garis wajah namja tercintanya.

Mata obsidiannya, hidung mancungnya, garis rahangnya, rambut brunettenya, semua yang tergambar dalam potret sang kekasih adalah hal yang membuat Sungmin terlalu mencintai kekasihnya. Kekasihnya sangat tampan, terlalu tampan hingga Sungmin tak pernah bisa mengalihkan perhatiannya saat matanya bertemu pandang dengan sang kekasih.

Mereka bahagia. Saling menyukai, saling berbagi rasa, berbagi suka dan duka. Sangat bahagia. Terlalu bahagia hingga Sungmin merasa hidupnya sudah berakhir setelah sang kekasih pergi dari hidupnya.

"Kyuhyun-ah, kenapa kau pergi tanpa membawaku? Kau sendiri yang mengatakan jika kita akan bersama hingga akhir. Tapi ini bukan akhir, aku masih di sini," monolog Sungmin sambil menatap pilu pada potret kekasihnya.

"Aku tidak suka ini, seharusnya kau tidak membuat lelucon semacam ini. Ulang tahunku sudah berlalu Kyu, jangan membuat kejutan yang tidak lucu sama sekali!" pekik Sungmin ditengah usaha menguatkan dirinya. Sungmin terdiam, matanya yang tak henti mengucurkan air mata kini tertuju penuh pada potret sang kekasih.

"Seharusnya kau pergi sejak awal, Kyu. Seharusnya kau tidak pernah muncul dalam hidupku. Seharusnya aku tidak mengenalmu. Seharusnya aku tidak mencintaimu. Seharusnya, hiks~ seharusnya kau biarkan aku mati."

Isakan yang semula terdengar pelan, perlahan berubah menjadi isakan kuat diiringi raungan kesakitan. Bukan tubuhnya yang terluka hingga Sungmin harus menangis bagai dunianya telah berakhir, ini tentang hatinya. Hatinya terlalu sakit, perasaannya seolah dimainkan.

"Tuhan tak pernah adil padaku. Kenapa hanya appa, eomma, dan kau? Seharusnya aku juga. Seharusnya, aku juga pergi~ kenapa? Kenapa bukan aku? Kenapa Kyu? Kenapa!"

PRANG!

Dua namja yang semula hanya berdiam diri di balik pintu kini bergerak memasuki ruangan setelah mendengar bunyi tak beres dari dalam kamar Sungmin.

"Minnie-ya!" seru Siwon saat melihat Sungmin tengah menarik menarik kuat rambutnya sambil membenturkan kepalanya berkali-kali ke ujung meja. Namja tinggi itu segera bergerak menghentikan Sungmin. Dua lengan besarnya langsung melingkup erat di tubuh Sugmin mengunci gerakannya.

"Lepas! Biarkan aku mati!" berontak Sungmin.

"Sungmin-ah, sudah. Jangan bersikap sepert ini, nak," bujuk Siwon sambil memeluk kuat tubuh Sungmin.

"Lepaskan aku!"

"Minnie-ya, ini appa. Jangan seperti ini," pinta Siwon.

Sungmin terus berteriak menolak semua ucapan yang Siwon lontarkan untuk menenangkannya.

"Yeobo," panggil Kibum. Siwon menolehkan kepalanya kemudian mengangguk setuju saat Kibum menunjukkan sebuah suntikan di tangannya. Dengan hati-hati Kibum menyuntikkan obat penenang di lengan Sungmin, menunggu beberapa saat hingga tubuh yang semula memberontak kuat itu perlahan melemah sebelum benar-benar terkulai dalam rengkuhan Siwon.

"Dia harus berbaring yeobo. Aku akan mengambil kotak obat," ucap Kibum sambil menatap sendu pada Sungmin yang setengah tak sadar. Tatapan sendunya semakin mengental saat matanya menangkap aliran darah dari kening Sungmin.

Siwon mengangguk paham kemudian mengangkat Sungmin sebelum membaringkan tubuh itu di atas kasur. Namja berparas rupawan itu langsung bergerak menyeka air mata yang membasahi pipi Sungmin. Matanya mendadak memanas, mengabur dengan air mata saat melihat kondisi rapuh putranya. Kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan tetesan air matanya dengan mencium pelipis putranya.

"Ini appa, Min~" bisiknya.

"A-appa," lirih Sungmin sambil membenamkan wajahnya di bahu Siwon berusaha mencari kehangatan seorang ayah di sana.

"Iya chagi, ini appa," sahut Siwon lagi. Namja Choi itu bergerak merengkuh tubuh Sungmin, membenamkan kepala Sungmin di dadanya, mengabaikan jika darah yang mengalir di kening Sungmin akan mengotori bajunya.

"Appa," lirih Sungmin lagi sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya.

Ya, Sungmin hidup sebatang kara setelah Lee Kangin dan Lee Jungsoo –orang tua Sungmin meninggal akibat kecelakaan pesawat yang juga merenggut nyawa kekasihnya –Cho Kyuhyun. Hari itu mereka berniat menghabiskan liburan ke Paris, Sungmin yang memang manja itu merengek pada Kyuhyun dan Kangin agar mereka menghabiskan liburan kenaikan kelas Sungmin dengan menikmati indahnya menara romantis salah satu negara yang ada di benua Eropa tersebut.

Mereka memang pergi, Kyuhyun setuju begitu pula dengan kedua orang tua Sungmin. Mereka pergi menggunakan jet pribadi milik keluarga Kyuhyun. Sungmin tersenyum sepanjang jalan, terus berceloteh akan perasaan bahagia dengan liburan kenaikan kelasnya kali ini. Begitu berterimakasih pada Kyuhyun yang rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menuruti sifat kekanakan Sungmin. Mereka terlihat sangat bahagia namun sang pengatur takdir berkata lain. Jet yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan parah, terpaksa mendarat hingga menabrak sebuah tebing. Hanya Sungmin yang selamat dari kecelakaan maut tersebut.

Saat ia sadar dari komanya yang Sungmin ingat pertama kali adalah kedua orang tuanya dan Kyuhyun. Selebihnya Sungmin tampak tak ingin peduli walaupun matanya melihat dengan jelas banyak wartawan mengintip di pintu ruang rawatnya, sudah jelas tujuan mereka. Mencari informasi atau kesaksian langsung dari putra Lee Kangin –salah satu pengusaha tersohor di Seoul, tapi Sungmin tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah kedua orang tua dan kekasihnya

Ia sendiri, tidak mengenal siapapun termasuk dua orang yang berada di sampingnya saat pemuda manis itu membuka mata. Walaupun dua sosok itu mengaku berteman baik dengan orang tuanya, Sungmin tak mengenal mereka sedikitpun. Choi Siwon dan 'istri'nya –Choi Kibum, mereka mengenalkan diri seperti itu. Meskipun begitu Sungmin tak bisa membantah sedikitpun saat Siwon memboyongnya untuk tinggal di kediaman Choi, bahkan marganya berubah menjadi Choi setelah Siwon mengangkat Sungmin menjadi putranya.

Keluarganya kembali utuh, ditambah kehadiran dua adiknya. Sungmin tahu jika itu adalah satu hal yang sangat membahagiakan. Namun, sikap Kibum dan Ryeowook yang berbeda di belakang Siwon membuat pemuda manis itu semakin tertekan dengan kondisinya saat itu.

.

One Week Later

Sungmin akhirnya turun untuk makan bersama Siwon dan Kibum setelah Siwon berhasil membujuknya sementara dua adiknya –Eunhyuk dan Ryeowook belum kembali dari sekolah.

Sungmin tak menyentuh makanannya sedikitpun. Ia hanya duduk tenang di mejanya.

"Chagi, makan ne?" bujuk Siwon yang tak mendapat respon apapun dari Sungmin dan hal inilah yang membuat Ryeowook membenci Sungmin. Appa kandungnya –Choi Siwon sangat mengistimewakan kakak angkatnya itu bahkan predikatnya sebagai si bungsu yang harusnya mendapat perhatian paling banyak tergeser sejak kehadiran Sungmin di rumahnya.

"Eomma! Kami pulang!" suara Eunhyuk menyambar keras pendengaran Siwon. Niatnya untuk membujuk Sungmin makan terhenti sejenak saat mendengar nada semangat dari putranya.

"Eomma, dimana?" kali ini Ryeowook yang berteriak.

Kibum sengaja tak menyahut, membiarkan putranya menemukan keberadaanya. Ia bukan tipe orang yang suka berbicara dengan cara seperti itu, berteriak balas berteriak.

"Ah! Eomma di sini! Appa sudah pulang, eoh?"

Siwon dan Kibum hanya bisa tersenyum kecil melihat kedatangan putranya. Jarang-jarang Siwon pulang untuk menghabiskan waktu makan siang bersama, namja itu terlalu sibuk dengan pekerjaanya.

"Ah, kalian membawa teman baru?" tanya Kibum saat melihat kehadiran satu namja lain, biasanya Eunhyuk dan Ryeowook hanya datang bersama Donghae, tapi kini ada satu namja lain yang berdiri di samping Ryeowook. Siwon juga terlihat mengerutkan keningnya saat tak mengenali namja itu.

"Ah, ne eomma. Kenalkan, ini namjachinguku. Namanya Kyuhyun," ucap Ryeowook yang langsung memancing rekasi Sungmin.

"Annyeong haseyo, Kim Kyuhyun imnida."

Sungmin membulatkan matanya, bibirnya terbuka menghembuskan napas tak percaya saat matanya menangkap sesosok namja dengan tubuh, wajah, suara, bahkan nama yang sama dengan kekasihnya yang sudah meninggal.

"Kyu-kyunnie!" pekik Sungmin langsung berdiri dari posisinya.

"Minnie-ya, ada apa?" tanya Siwon saat melihat Sungmin berdiri dengan wajah pias, air mata tampak membayangi bola matanya.

Mengabaikan pertanyaan Siwon, Sungmin bergerak menghampiri sosok yang berdiri di sebelah Ryeowook, menatap tak percaya pada sosok bernama Kyuhyun itu. Perlahan tangannya terulur menyentuh wajah Kyuhyun. Air matanya menetes, benarkah ini Kyuhyunnya?

"Kyunnie, kau kembali?" lirih Sungmin kemudian memeluk erat tubuh Kyuhyun.

Melihat itu, emosi Ryeowook yang tertahan sejak tadi langsung meledak.

"Ya! Lepaskan namjachinguku!" seru Ryeowook berusaha melepaskan pelukan Sungmin dari tubuh kekasihnya. Sedangkan Kyuhyun terdiam membeku, shock dengan tindakan Sungmin.

"Lepaskan Kyuhyun, Lee Sungmin!" teriak Ryewook kencang.

"Kyuhyun-ah, dorong dia!" teriak Ryeowook lagi.

Kyuhyun yang tersadar langsung mendorong kasar tubuh Sungmin hingga pemuda manis itu membentur kursi sebelum tersungkur di lantai.

"Hei! Apa yang kau lakukan!" teriak Siwon marah. Namja Choi itu setengah berlari menghampiri Sungmin, matanya menatap berang pada Kyuhyun dan Ryeowook.

"Dia yang memulai appa, untuk apa memeluk namjachingku seperti itu?" protes Ryeowook tak terima.

"Choi Ryeowook! Bisakah kau tidak belebihan? Jangan lagi pernah bersikap seperti itu pada hyungmu!" bentak Siwon membuat Ryeowook menunduk takut seketika.

Eunhyuk yang semula hanya terdiam di posisinya, kini beranjak menghampiri Siwon. Membantu sang ayah untuk menenangkan Sungmin sambil membisikkan sesuatu. Siwon langsung membeku, menatap tak percaya pada Eunhyuk namun Eunhyuk meyakinkan dengan anggukan kepala.

Tatapannya kini beralih pada Sungmin, namja berlesung pipi itu langsung mengangkat tubuh Sungmin, membawa pemuda manis itu menuju kamarnya.

"Dia bukan Kyunnie-mu, Minnie-ya," bisik Siwon membuat Sungmin mengangguk-angguk takut kemudian membenamkan wajahnya.

'Ya, dia bukan Kyunnie-ku.'

FLASHBACK END

Sejak saat itu Siwon menyekolahkan Sungmin agar pemuda manis itu tak semakin tertekan dengan kesendiriannya. Namun, tetap saja, tak ada perubahan signifikan yang Sungmin tunjukkan, tapi Siwon cukup berbahagia karena Sungmin selalu menunjukkan reaksi khusus saat ia memulai interaksi dengan putranya itu. Sikap diam Sungmin tak menjadi alasan untuk Siwon berhenti akan putra sulungnya, banyak orang meragukan kesembuhan Sungmin namun Siwon selalu percaya jika Sungmin akan kembali, sosok periang dan manja pemuda manis itu akan kembali jika Siwon mau bersabar sebentar, walaupun itu sebentar yang sangat lama.

.

~(*o*)~

.

Sungmin kembali menghela napas, mengisi udara di dadanya yang terasa berdenyut sesak. Perlahan tangannya terulur ke bawah bantal, menarik sebuah pigura kesayangannya yang menampakkan potret wajah sang kekasih. Sejenak Sungmin bergerak melirik pigura lain yang berada di atas nakas. Potret dirinya bersama kedua orang tuanya.

Sungmin membuka mulutnya, sedikit berdehem untuk menetralkan suaranya yang terdengar aneh karena ia jarang mengeluarkan suaranya. Waktunya hanya ia habiskan untuk berdiam diri atau menangis tanpa suara.

"Appa, eomma~" lirih Sungmin. Hanya sekadar ingin memanggil kedua orang tuanya yang tak pernah membalas panggilannya. Setetes air mata meluncur dari sudut mata cantiknya, tidak ada isakan, tidak ada raut sedih, kebiasaan Sungmin yang lain adalah menangis tanpa ekspresi.

Tubuhnya berbaring menyamping, matanya tertuju menatap potret kedua orang tuanya sementara lengannya terlipat nyaman, merengkuh pigura yang membingkai potret Kyunnienya.

Bunyi kunci diputar diikuti suara pintu yang terbuka samar-samar menghampiri pendengaran Sungin. Namun, namja manis itu enggan bergerak sedikitpun, dia sudah tahu siapa yang akan muncul dari balik pintu karena hanya-

"Minnie-ya, appa sudah pulang."

-Siwon lah yang memegang kunci duplikat kamarnya. Sungmin memang selalu mengunci pintu kamarnya, membuang kunci pintu ke sembarang arah berharap ia akan mati dan tak ada satu orangpun yang menemukannya. Namun, itu hanya keinginan konyolnya karena Siwon telah membuat puluhan bahkan ratusan kunci duplikat kamar yang Sungmin huni saat ini.

Siwon menghampiri dan berjongkok di depan Sungmin. Bibirnya mengulum senyum manis yang membuat lesung pipinya terlihat, menambah intensitas ketampanan seorang Choi Siwon.

"Menangis lagi hm?" tanya Siwon sambil mengulurkan lengannya untuk menghapus air mata Sungmin. Matanya bergerak mengamati wajah manis putranya yang tentu saja tak menatapnya sama sekali.

Perlahan tangannya bergerak menghela tubuh Sungmin untuk duduk dan Sungmin terlihat pasrah saja dengan perintah halus Siwon. Namja Choi itu menangkup wajah Sungmin kemudian membawa wajah itu ke dadanya untuk satu pelukan hangat. Sungmin refleks membenamkan kepalanya mencari kenyamanan seperti yang Kangin berikan untuknya dulu. Siwon tersenyum senang dengan hal itu, salah satu reaksi khusus yang Sungmi tunjukkan setiap Siwon memeluknya.

"Kau harus tahu Minnie, appa sangat menyayangimu," bisik Siwon sambil menempatkan satu ciuman hangat di kepala putranya.

'Aku juga menyayangimu appa,' batin Sungmin. Siwon adalah ayah yang baik, tulus dan hangat seperti ayahnya, serta begitu perhatian seperti eommanya. Dalam suasana hening itu Siwon bisa merasakan jika kemejanya perlahan basah dengan air mata Sungmin.

"Uljima chagi," ucap Siwon sambil mengusap pelan punggung Sungmin.

Bunyi ketukan pintu membuat Siwon menolehkan kepalanya.

"Ne Hyuk?" tanyanya.

"Donghae ingin berpamitan untuk pulang appa," jawab Eunhyuk.

"Oh, ne. Hati-hati di jalan, Donghae-ya," pesan Siwon sambil tersenyum pada kekasih putranya.

"Emm, apakah boleh berpamitan pada Sungmin hyung, ajushi?" tanya Donghae dengan hati-hati walau sebenarnya ini sudah menjadi rutinitasnya saat mengunjungi mansion Choi.

"Ah geureomieyo," jawab Siwon sambil mengisyaratkan agar Donghae dan Eunhyuk mendekat.

"Minnie-ya, Donghae ingin berpamitan padamu, tidak ingin menyuruhnya hati-hati di jalan?" tanya Siwon lebih tepatnya menyuruh secara halus.

Sungmin terdiam, tampak sibuk dengan pemikirannya. Donghae dan Eunhyuk termasuk orang yang sangat baik terhadapnya, dalam diamnya kadang Sungmin merasa iba saat Donghae terus mengajaknya bicara walaupun Sungmin tak pernah meresponnya.

"Sungmin hyung, aku pulang dulu ne? Aku akan hati-hati di jalan," ucap Donghae sambil tersenyum kaku.

Sungmin tersadar kemudian menatap Donghae, kepalanya refleks mengangguk saat melihat bagaimana Donghae yang selalu antusias menunggu responnya.

"Aigo!" pekik Donghae tertahan.

Siwon dan Eunhyuk langsung berpandangan tak percaya.

"Omo! Omo! Hyung kau mengangguk padaku? Meresponku?" seru Donghae excited. Namja penyuka ikan nemo itu nyaris melakukan selebrasi seandainya tidak ada Siwon di hadapannya.

"Ahahaha, aku mimpi apa semalam? Ahahaha, terimakasih hyung!" ucap Donghae sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali.

Siwon tertawa bahagia sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya membawa tubuh Sungmin yang berada dalam pelukannya untuk ikut bergerak pelan.

"Teruslah begini chagi, appa menyayangimu. Kau juga menyayangi appa kan?" tanya Siwon berharap Sungmin juga menunjukkan reaksi terhadapnya.

"Ne."

Eunhyuk yang melihat itu hanya bisa menutup mulutnya menahan isakan. Momen ini terlalu membahagiakan hingga ia tak tahu harus berkata apa.

"Ah chagi, lihat adikmu. Dia itu cengeng sekali tapi dia sangat menyayangimu. Apa kau juga menyayangi Hyukkie?" tanya Siwon semakin bersemangat mengajak Sungmin bicara.

"Ne. Aku juga."

"Hyuung!" seketika Eunhyuk menghambur memeluk Sungmin yang berada dalam rengkuhan appanya. Tangisnya langsung meledak saat dua lengannya berhasil memeluk leher Sungmin. Siwon mengulurkan lengannya untuk mengusap punggung Eunhyuk sebelum membawa tubuh dua putranya ke dalam satu pelukan hangat.

"Ya~ anak appa mana boleh cengeng seperti ini," ejek Siwon sambil membenturkan keningnya dengan kening Eunhyuk. Donghae yang memang cengeng ikut menitikkan air matanya menyaksikan momen bahagia di depannya. Tangannya terulur, merogoh ponsel di saku celananya. Senyumnya tampannya terukir lebar saat ia berhasil mengabadikan momen itu lewat kamera ponselnya.

Sementara itu, di balik dinding kamar Sungmin tampak seorang namja tengah tersenyum miris di sela tangis tertahannya.

"Teruslah begitu chagiya," ucap namja itu kemudian berlalu dari posisinya.

Di dalam kamar Sungmin, Eunhyuk masih terus terisak-isak hingga Donghae terpaksa mengurungkan niatnya untuk pulang. Waktunya beberapa menit ke depan akan ia habiskan untuk membujuk kekasihnya yang sangat cengeng itu.

.

~(*o*)~

.

Makan malam keluarga Choi kali ini terasa lebih berkesan –bagi Siwon dan Eunhyuk- mengingat kemajuan yang Sungmin tunjukkan tadi.

"Hyung, eomma membuatkan sup labu untukmu, apa hyung senang?" tanya Eunhyuk sembari mengambilkan makanan untuk Sungmin. Anggukan singkat Sungmin tunjukkan sebagai reaksi, tak sebagus tadi namun bagaimanapun bentuknya, artinya Sungmin merespon.

Kibum tersenyum ke arah Sungmin tapi Sungmin yang selalu sibuk dengan dunianya pasti tak menyadari hal itu.

Ryeowook melihat jelas senyum yang Kibum sunggingkan untuk Sungmin, namja manis itu langsung melirik sinis Sungmin kemudian menatap wajah eommanya.

'Pasti karena ada appa!' batin Ryeowook kesal.

"Minnie, bagaimana sekolahmu?" tanya Kibum berusaha menunjukkan perhatiannya. Sungmin hanya melirik Kibum sekilas.

"Ah, eomma tahu tidak? Di sekolah banyak sekali yang menyukai Sungmin hyung," ujar Eunhyuk semangat.

"Jeongmalyo?" tanya Kibum sambil menunjukkan ekspresi antusias mendengar cerita Eunhyuk.

"Tentu saja. Setahuku mereka melakukan itu diam-diam."

"Memang apa yang mereka harapkan dengan menyukai diam-diam?" sindir Ryeowook tak suka namun bibirnya mengulum senyum tipis yang terlihat sangat manis.

Eunhyuk nyaris berdecak, adiknya yang dulu sangat manis entah kenapa berubah menjadi sangat menyebalkan setelah Sungmin hadir di rumah mereka. Seharusnya dia senang kan? Mempunyai satu hyung lagi itu artinya akan semakin banyak yang menyayangi maknae manja sepertinya.

"Sungmin hyung itu sangat manis, wajar kan jika mereka menyukai Sungmin hyung. Karena Sungmin hyung jarang berinteraksi dengan orang lain, jadi mereka tidak jujur dan menyukai diam-diam," jelas Eunhyuk sengaja membanggakan Sungmin pada Ryeowook dan eommanya.

"Appa pasti setuju denganku."

Siwon tersenyum lebar kemudian mengulurkan lengannya untuk mengusap kepala Sungmin.

"Ne, anak appa yang satu ini memang sangat manis."

Ryeowook langsung memasang ekspresi kesal, kakinya menghentak gusar sambil menatap marah pada Sungmin. Menyadari reaksi putra bungsunya, Kibum langsung memelototkan matanya seolah mengatakan 'Appamu sedang di rumah. Jadi, jangan merusak suasana'. Ryeowook yang mengerti langsung menghentikan aksinya, namja manis itu segera menunduk sambil kembali makan, sesekali matanya mengintip kesal pada Sungmin dan namja manis itu menyadarinya.

"Mau kemana Min?" tanya Siwon saat melihat Sungmin berdiri dari posisinya.

Sungmin tak menjawab apapun, ia hanya menatap Siwon sejenak kemudian berlalu ke kamarnya. Tak ada yang bisa Siwon lakukan selain menghela napas melihat sikap putranya.

"Ayo makan," ajaknya pada Kibum dan dua anaknya yang lain. Mereka pun kembali makan dengan tenang, tanpa obrolan, nyaris tanpa suara sedikitpun hingga akhirnya Siwon memilih untuk meletakkan peralatan makannya.

"Yeobo, aku harus menyusul Minnie, kalian lanjutkan saja," ujar Siwon tak bisa menutupi keresahannya.

"Ne, bujuk dia untuk makan jika bisa. Dia tidak menyentuh makanannya sama sekali."

Siwon menganggukkan kepalanya, mengulum senyum kemudian mencium kening 'istri'nya sebelum berlalu untuk menyusul Sungmin.

"Aish! Menyebalkan!" geram Ryeowook sambil melempar kesal sumpitnya.

"Choi Ryeowook, sudah eomma peringatkan jaga sikapmu jika appamu berada di rumah! Kau ini!" omel Kibum.

Eunhyuk menyumpal mulutnya dengan nasi kemudian tersenyum mengejek pada Ryeowook. Saat sang adik menatapnya, Eunhyuk menyempatkan diri untuk memeletkan lidah.

"Eomma!" adu Ryeowook.

"Hyukkie, makan dengan benar."

Eunhyuk hanya mengulas senyum kemudian mengangguk patuh pada eommanya, biarpun begitu namja penyuka dance itu masih sempat-sempatnya mengejek Ryeowook.

.

.

.

"Sudah ingin tidur?" tanya Siwon langsung memasuki kamar Sungmin yang kebetulan tidak terkunci.

Sudah paham tidak akan ada tanggapan, Siwon langsung menghampiri Sungmin yang tengah berbaring sambil memejamkan matanya. Tangannya tampak memeluk erat potret kedua orang tuanya. Dia tahu jika Sungmin belum sepenuhnya tidur, bahkan ia sadar jika namja manis itu tengah berpura-pura tidur. Kepala Keluarga Choi itu hanya mengukir senyum tipis, menarik selimut untuk Sungmin lalu mencium kening putranya.

"Selamat tidur, Minnie-ya. Appa menyayangimu," bisik Siwon kemudian berlalu keluar ruangan.

Sungmin mendengar itu, ia menunggu. Menunggu bunyi pintu tertutup kemudian membuka matanya, memutar tubuhnya untuk menatap daun pintu dengan tatapan sulit diartikan lalu menghela napas pelan.

"Aku juga menyangimu, appa," ucap Sungmin kemudian kembali berbaring, berniat benar-benar tidur namun sesuatu yang muncul secara mengejutkan membuat pemuda manis itu berteriak keras.

Siwon yang baru beberapa langkah keluar meninggalkan kamar Sungmin langsung kembali memasuki kamar putranya dengan wajah khawatir.

"Sungmin-ah, kenapa?" tanya Siwon sambil menghampiri Sungmin yang terlihat melompat jauh dari posisinya.

"Siwonnie ada apa?" tanya Kibum yang muncul bersama Eunhyuk dan Ryeowook.

"Molla," jawab Siwon masih berusaha mendekat ke arah Sungmin yang tampak ketakutan atau mungkin terlalu terkejut hingga wajahnya pucat pasi.

"Chagi, ini appa. Tenanglah~" ucap Siwon berusaha mendekati Sungmin.

Mata Sungmin bergerak-gerak gelisah menatap Siwon dan sesuatu yang mengejutkannya bergantian.

'Kemana makhluk itu?' batin Sungmin masih menatap takut ke arah sesuatu yang membuatnya berteriak tadi.

"Apa terjadi sesuatu? Apa yang membuatmu ketakutan?" tanya Siwon sambil menatap jeli setiap sudut kamar Sungmin, hal itu mau tak mau menular pada Kibum, Eunhyuk, dan Ryeowook, mereka ikut menatap setiap sudut kamar Sungmin berusaha mencari sesuatu yang mencurigakan.

"Minnie," panggil Siwon saat Sungmin tak menunjukkan reaksi apapun. Namja manis itu masih terlihat melebarkan matanya sambil menatap fokus ke satu arah.

"Yeobo sebaiknya kau temani Minnie tidur," ucap Kibum sambil mengawasi apa yang tengah Sungmin perhatikan.

"Oh ya ampun, bahkan dia bukan anak kecil yang harus ditemani setelah mengalami mimpi buruk," gumam Ryeowook tak suka.

"Eomma benar, aku setuju."

Sungmin tersadar kemudian menatap Kibum dan Siwon bergantian.

"Appa temani ne?" tanya Siwon yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Sungmin.

"Tapi-" Sungmin semakin kuat menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia menolak keras usulan kedua orang tuanya.

"Geurae, appa tidak akan menemanimu asal kau berjanji akan baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu kau harus berlari keluar atau berteriak memanggil appa, eomma, atau Hyukkie, atau Wookkie, atau siapapun."

Sungmin tak menjawab apapun, namja manis itu buru-buru kembali ke atas kasurnya, menarik selimut, berbaring dengan tenang sambil kembali memejamkan matanya. Empat namja yang masih berada di dalam ruangan itu hanya bisa saling memandang, Ryeowook menjadi orang pertama yang berlalu meninggalkan ruangan.

"Jalja chagi. Mimpi indah," ucap Kibum kemudian menghela Siwon untuk meninggalkan kamar Sungmin sambil mengisyaratkan Eunhyuk untuk ikut keluar.

"Hyung selamat tidur ya," ucap Eunhyuk sebelum menutup pintu kamar Sungmin.

Bermenit-menit waktu yang ada Sungmin habiskan dengan sekadar memejamkan, pikirannya berkelana tak tentu arah berusaha mencari jawaban tentang apa yang terjadi beberapa saat lalu. Jantungnya masih berdegup dengan cepat menandakan keterkejutan masih melingkupi perasaan pemuda manis tersebut.

Sedikit tolol namun Sungmin melakukan itu, menghitung tiap detik yang ia lewatkan untuk mendapatkan tidurnya. Hati dan pikirannya berusaha mengabaikan apa yang membuatnya begitu tersiksa dengan detik waktu saat ini.

'Mungkin aku berhalusinasi,' batin Sungmin saat pikirannya kembali berlabuh pada kejadian beberapa saat yang lalu. Namja manis itu perlahan membuka matanya, melongokkan kepala untuk menengok ke sebelah ranjangnya.

"Astaga!" pekik Sungmin nyaris menjerit. Pemuda manis itu segera menyumpal mulutnya sendiri, mengambil posisi untuk menjauh ketika makhluk mengerikan itu kembali muncul. Deru napas Sungmin semakin terasa berat.

Makhluk berbulu abu-abu dengan taring mengerikan itu tengah menatap tajam ke arahnya. Matanya yang berwarna merah darah membuat makhluk di depannya itu tampak benar-benar mengerikan. Dan sialnya makhluk itu benar-benar tak berniat mengalihkan perhatiannya dari wajah Sungmin.

'Makhluk apa ini? Apa dia ingin membunuhku?' batin Sungmin ketakutan. Berhadapan dengan makhluk buas seperti itu tentu lebih mengerikan dibanding hantu sekalipun. Namun, sebuah pemikiran aneh perlahan menghinggapi kepala Sungmin.

'Jika aku mati, aku akan bertemu appa, eomma, dan Kyunnie,' batin Sungmin tak bisa menutupi rona bahagia di wajahnya meskipun namja manis itu tak mengulas senyum sedikitpun. Sedikit gila memang, tidak ada manusia sehat akal yang berpikir mati adalah sesuatu yang paling menyenangkan di dunia ini.

'Terimakasih Tuhan,' batin Sungmin masih bertahan dengan kegilaannya.

Tiba-tiba tatapan tajam makhluk bermata semerah darah itu berubah sendu. Sungmin yang melihat itu memilih untuk semakin beringsut mundur. Akalnya memang selalu menuntun Sungmin untuk menyudahi hidupnya namun hati kecilnya selalu meneriakkan bahaya untuk segala jenis kegilaan yang Sungmin lakukan.

"Aku tidak akan membunuhmu, Min-ah. Kkokkjongma."

Sungmin mendelik hebat, matanya bergerak waspada mengamati setiap sudut kamarnya berusaha mencari si pemilik suara. Suara yang sangat bahkan terlalu di kenalnya.

"Aku yang berbicara Sungmin-ah."

Sungmin menajamkan pendengarannya, suara itu jelas-jelas berasal dari hadapannya. Ingin sekali menyangkal namun mata Sungmin justru terpaku pada makhluk yang masih bertahan menatapnya.

"Iya aku, aku yang sedang bicara padamu."

Tak lagi bisa menutupi keterkejutannya, Sungmin langsung melompat dari kasurnya.

"Kyunnie!"

TBC

Ulalalala~

Hai, hai, hai.. Saya bawa chapter 2 :D
Kemarin banyak yang bingung ya? Sama, saya juga bingung kok jalan ceritanya gini ya #plak Hohohoho. Masak hurt sih? Masak angst? Masak aku sama Sungjin lagi persiapan buat punya baby satu lusin #plakplakplak Segala jenis kebingungan ada obat alternatifnya #duagh kkk, segala jenis kebingungan akan di jelaskan seiring berjalannya chapter #bahasanya -_-

Yang nunggu KyuMin momen? Yups! Saya tahu semua penikmat FF pasti menunggu untuk itu. Tapi momen KyuMin akan indah pada waktunya :D Ditunggu saja :D

Oke-oke. Suka deh kalo chingudeul nebak-nebak. Nanti yang betul dapat hadiah dipeluk erat sama eyang Youngmin #digaplok.

Emmm, soal cast yang terlalu banyak, nanti ada guna(?)nya loh #bletak :D
Okelah, cuap-cuap buat chapter ini sampai disini dulu..
Saya mau nonton video ChoKyu sama MingLee lagi tebar moment di airport.

Ah iya, makasih buat yang sudah review Kisah Kasih Kyuhyun ya :D Soal bahasa yang gak biasa, ya saya sudah katakan itu terinspirasi dari bahsa gahoel orang-orang di FB saya ditambah liat gaya songong Kyu pas ngerap di SMTown Week. Saya juga sudah bilang kalo suka kasih feedback, kalo gak artinya gak usah kan. Gak ada maksud apa-apa kok. Serius! (-_-)v Itu bukan gaya saya? Ah iya, bisa dibilang begitu, jujur saya geli sama orang yang pake bahasa 'gua-lo'. Soalnya kan di kampung aku gak biasa bahasa begitu, maklum anak kampung. Apalagi sebagian dari mereka yang ngomong gua-lo di FL saya tuh ngomongnya kasar banget sampe kadang saya istighfar dalem hati. Hahahaha. Jadi, saya bayangin Kyuhyun yang tengil semacam itu #LOL

Niatnya kemarin gak mau bikin apa-apa untuk ultah Sungmin, eh malah itu yang melintas, kebayang sampe ketawa-ketawa. Ya udah dibikin aja :D Saya ngerti kok konsekuensi nulis gaya bahasa begituan di FF, makanya saya berterimakasih sekali karena masih ada yang review FF sarap macam Kyuhyun itu. Ihihihi. Okelah, sekali lagi makasih ya.

Makasih buat yang sudah review di FF ini ya :D
Saya tahu ini pendek seperti saya #plak Tapi dinikmati saja. Soal yang tanya update-an berapa hari atau apa, ditunggu aja. Saya gak ada jadwal-jadwalan buat update. Ada waktu ya update gak ada ya ditunggu aja. Menghindari konfroversi. Tsaaaaahhh! Efek songongKyu! :D
Chapter ini review lagi ne? Makasih, makasih, makasih.

Gak bosan saya bilang Mian for typos! :D

Oke, NEXT!

RCL please~

Gomawo udah baca \(*o*)/