A VOICE TO YOU
Chapter 2 : Why?
Balasan Review
Kamu : makasih atas pujiannya, kalau masalah karakter Lisanna dan Sting ya . . . begitulah. Tapi disini karakter utamanya tetep Natsu dan Lucy. jadi untuk kamu yang Nalu shipper bersabarlah
Ndul-chan Namikaze : iya, okey. Tapi . . . Ndul-chan, aku kan dari awal sudah bilang kalau akan di update tiap minggunya dengan catatan kalau aku gak ada acara. Tapi tenang, aku akan berusaha!
Naomi Koala : hai Naomi-san, kembaran Nao, hehehe #Lupakan. Makasih ya, emang kok aku juga berasa begitu. Hiks, itu aja udah aku edit berkali-kali. Iya, aku juga pengen cepet-cepet begitu, tapi nggak jamin bakal cepet atau nggak, tergantung ide yang melintas.
Miyu Mayada : sabar Miyu-san. Ne?
Hrsstja : iya sabar ya, minggu ini pasti aku update kok
Fic of Delusion : makasih atas sarannya, Nao sangat terbantu. Akan aku usahakan untuk lebih memperhatikannya lagi. Tapi jujur, sebenarnya aku males buat Revisi. hiks, gimana nih? Penyakit itu selalu menyerangku.
.
.
.
Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei
.
.
.
Sting mendengus dan berlalu begitu saja. Sementara Natsu, ia tetap berdiri ditempatnya, tanpa Sting sadari, Natsu menggenggam tangannya. Natsu merasakan perasaan aneh di dirinya. Ia merasa tidak suka ketika Sting mendekati Lucy, mengkhawatirkan Lucy bahkan ketika Sting menyentuh pundak Lucy. tapi bukan perasaan yang bisa Author sebut sebagai cinta loh ya
"kono yaro, Lucy. kau benar-benar sudah mengusik ketentramanku. Bahkan sekarang dia sudah mulai mengusik Sting. Betapa bodohnya si Spike pirang itu mau dekat-dekat dengan parasit sepertinya. Tak akan kubiarkan" kata Natsu dalam hati
...
Kelas 1-5. Jam Pelajaran Fisika oleh Bob-sensei. Suasana kelas hening. Hanya terdengar suara kapur yang tegah bergesekan dengan papan berwarna hitam yang membentang di depan kelas. Lucy menggoyangkan pensilnya di atas buku sambil sesekali menghela nafas. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh pada dirinya. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis gadis bersurai blonde tersebut. Lucy berusaha memfokuskan matanya, tapi terasa sangat sulit. Ia menghela nafas. Gerak-gerik aneh Lucy dirasakan oleh sahabat barunya, Levy. Levy menaikkan satu alisnya. Pasalnya temannya itu sudah kesekian kali menghela nafas, Levy merasa ada yang tak beres dengan Lucy
"kau baik-baik saja, Lucy?" tanya Levy sembari menolehkan kepalanya
Lucy hanya mengangguk. Levy kembali menghadap ke depan. Tak hanya Levy, rupanya Natsu juga tak luput untuk tidak memperhatikan gadis yang sangat dibencinya itu. Bukannya bersimpati, Natsu malas berdecak. Ditatapnya punggung Lucy dengan tatapan tajam dari mata Onyxnya. Bob-sensei menulis beberapa soal untuk dikerjakan. Tiba-tiba ia memanggil nama Lucy untuk mengerjakan soal pertama.
Lucy berdiri. Kepalanya terasa berat dan pusing. Pandangannya tidak fokus. Ia berusaha fokus dan berjalan ke depan, tapi baru beberapa langkah saja, tiba-tiba
BUK
Lucy pingsan. Seketika kelas Panik tak terkecuali Sting, ia membulatkan matanya dengan sempurna. Sedangkan Loki, ia ternganga dan nyawanya seakan keluar dari tubuhnya melihat sang pujaan hati tergeletak tak berdaya.
...
Lucy terbaring lemah di UKS. Levy dan sang ketua kelas, Sting Eucliffe menemani di sampingnya. Tentu setelah mereka berdua mengusir paksa Loki yang bersikeras ingin menemani Lucy.
"bagaimana ini? Apa karena hantaman bola tadi?" tanya Levy khawatir
"tenanglah Levy. Aries-sensei kan bilang, dia hanya terlalu lelah dan banyak fikiran saja" kata Sting berusaha menenangkan Levy
"tapi Lucy tidak akan begini kalau bola Natsu tidak mengenainya" kata Levy
"Natsu tidak sengaja" jawab Sting
"memang, tapi setidaknya ia meminta maaf, kan?" tanya Levy lagi, ia mulai naik darah
"Maafkan saja dia. Daripada ia meminta maaf tapi tidak tulus" jawab Sting
Levy hanya mendengus kesal. Apa yang dikatakan Sting memang ada benarnya. Bisa saja Levy memaksa Natsu untuk meminta maaf pada Lucy. tapi bagaimana kalau permintaan maaf Natsu malah melukai Lucy. karena Levy tahu kalau Natsu tidak menyukai temannya itu.
"Levy, apa tidak sebaiknya kau kembali ke kelas?" tanya Sting
"kenapa? Jangan bilang kau ingin mencari kesempatan diatas kesempitan?" tanya Levy dengan tatapan curiga
"ehh? Apa wajahku terlihat seperti itu?" tanya Sting gelagapan
"hoh? Apa aku benar?" tanya Levy balik
"aku kan bukan Loki hingga harus dicuragi seperti itu" gerutu Sting
"heh? Apa kau ingin menjadi sepertinya?" goda Levy
"NANI? Jangan bercanda! Kecil!" kata Sting dan ia tak sadar kalau nada suaranya meninggi
Sting mendekap mulutnya dan mengerutuki dirinya sendiri. Sekarang wajah tampanya mengeluarkan semburat tipis di kedua belah pipi. Lucy tak bereaksi, yang artinya ia tidak terusik dengan suara keras Sting barusan. Levy dan Sting menghela nafas bersamaan. Tapi setelah itu, Sting menatap tajam teman sekelasnya yang tergolong anak pintar dengan tatapan membunuh
"Levy McGarden" panggil Sting dengan menekankan setiap katanya
Levy diam menelan ludah. Ia segera berdiri dan angkat kaki dari UKS
"hahaha, kurasa aku belum selesai mencatat, aku kembali ke kelas dulu. Ja nee, Sting. Tolong jaga Lucy" kata Levy dan segera pergi
Sting menghela nafas. Sepeninggalan Levy, mata Sting berubah. Kini tatapannya sayu menatap gadis blonde yang tengah terbaring lemas.
"Lucy, apa kau merasa tersiksa? Apa sikap Natsu menyakitimu? Seharusnya kau membalasnya. Kalau kau tidak terima katakan saja, tidak. maksudku kau bisa menulisnya dan memberitahu Natsu untuk tidak memperlakukanmu seperti itu. Kau tidak melakukan hal yang salah, jadi menurutku Natsu tak pantas bersikap seperti itu padamu" kata Sting dalam hati
"Lucy" panggil Sting pelan
Bel berbunyi menandakan kelas telah berakhir. Lucy mulai membuka matanya, walau terasa berat, tapi sudah tidak seburuk tadi. Ia menatap langit-langit yang berwarna putih. Diedarkan pandangannya ke samping dan didapati seorang siswa bersurai blonde sepertinya tengah duduk dengan raut muka yang khawatir
"kau sudah bangun? Kau baik-baik saja? apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Sting bertubi-tubi
Lucy mengernyitkan dahinya. Otaknya memproses untuk beberapa detik, akhirnya ia ingat kalau siswa disampingnya adalah Sting, teman sekelasnya. Lucy mencari note miliknya untuk menjawab Sting, tapi ia tak menemukannya. Ya, karena Lucy tadi pingsan dan tidak mungkin membawa note-nya. Sting mengeluarkan benda dari sakunya. Benda yang tak asing begi Lucy. itu adalah note milik Lucy beserta penanya. Lucy menulis sesuatu
"tenanglah, aku baik-baik saja. hanya merasa sedikit pusing saja" tulis Lucy
"syukurlah. Oh ya, ini obatmu. Minumlah, ini air untukmu" kata Sting menyodorkan obat pemberian Aries-sensei beserta segelas air
Lucy menerimanya dan meminum obatnya
"apa kau bisa pulang sendiri?" tanya Sting
"tentu saja" tulis Lucy
"benarkah? Aku tak yakin" kata Sting mengerutkan dahinya sembari memandang Lucy
Lucy menutupi wajahnya dengan note. Ia malu ditatap Sting, ini pertama kalinya ada laki-laki yang menatapnya seperti itu. semburat tipis mulai muncul di pipi Lucy. namun Lucy segera sadar dan menulis kembali di note
"ini kan tubuhku. Aku yang tahu aku bagaimana dan seperti apa" tulis Lucy
Sting tersedak. Ia mulai batuk-batuk karena membaca note Lucy. ia tak habis pikir kalau Lucy akan menjawabnya demikian. Karena tak ada yang akan menolak seorang Sting Eucliffe. Melihat Sting, Lucy jadi khawatir. Di sentuhnya bahu pemuda itu dengan tangan lembutnya. Sting tersentak, batuknya tiba-tiba menghilang dan digantikan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Jantungnya mulai berdegup kencang, badannya mulai memanas dan tentu wajahnya memunculkan rona merah yang sangat menawan. Lucy mengulurkan catatannya
"kau baik-baik saja?" tulis Lucy
"aku baik-baik saja, Lucy" jawab Sting salah tingkah
Lucy menarik tangannya dan Sting mulai bisa bernafas lega. Lucy menuliskan sesuatu lagi dan kembali menyodorkannya pada Sting
"apa mau kuantar pulang?" tulis Lucy
Sting lagi-lagi batuk. Kini batuknya mulai menjadi-jadi. Tentu bukan karena sakit, melainkan ia diserang oleh Virus yang disebut Pesona dari seorang Lucy Heartfilia yang berhasil menyerangnya dengan dua kali serangan.
Sementara Natsu, ia berjalan pulang bersama Lisanna. Kali ini ia memilih untuk tidak dijemput Capricorn. Kalau tidak, Capricorn akan tahu kalau Lucy pingsan, dan Natsu pasti kena marah terlebih kalau tahu Natsu-lah penyebabnya. Sepanjang Perjalanan, Lisanna bercerita dengan gembira apa saja yang dialaminya disekolah hari ini, tapi Natsu hanya menanggapinya dengan senyuman. Natsu memikirkan Lucy. bukan memikirkan dalam arti karena efek falling in love tapi dalam arti lain
"gadis itu, merepotkan sekali. Berlagak keren, sok tegar, tapi dia sangat lemah. Apa dia fikir semua orang akan mengasihaninya? Bersimpati padanya? Dan akan menanyakan 'apa kau baik-baik saja?' kau kira aku tidak tahu, taktikmu itu? dasar PARASIT" batin Natsu
"Ne, Natsu. Kudengar kau tadi tidak sengaja melempar bola pada anak baru, hmm . . . maksudku Lucy" kata Lisanna
"hn? Itu tidak sengaja" jawab Natsu innocent
"kau sudah meminta maaf padanya?" tanya Lisanna dengan wajah khawatir
"apa? Tentu saja, . . ." Natsu menghentikan perkatannya
"tentu saja?" tanya Lisanna menaikkan satu alisnya
"Tentu saja tidak. dan tidak akan pernah" jawab Natsu pasti
"NATSU!" pekik Lisanna keras dan menghentikan langkahnya
Natsu yang semula berjalan, ikut menghentikan langkahnya dikarenakan suara sang kekasih. Panggilan dengan suara keras, sebelumnya belum pernah ia dengar dari Lisanna. Natsu menoleh, Lisanna menatapnya tajam.
"Natsu, aku tak suka dengan sikapmu. Bisakah kau sedikit lebih lembut padanya?" tanya Lisanna dengan nada tajam
"aku sudah mengatakan padamu sebelumnya kan. Kalau aku tidak menyukainya" jawab Natsu datar
"dan aku juga sudah mengatakan padamu untuk tidak membencinya kan?" tanya Lisanna balik dengan nada yang meninggi, matanya mulai berkaca-kaca
Natsu terdiam
"Natsu, kau tahu? Kalau kau seperti ini terus aku jadi khawatir" kata Lisanna
"sudah kubilang, itu tidak akan terjadi. Aku hanya mencintaimu Lis" kata Natsu serius dengan suara Baritonenya
Lisanna menundukkan kepalanya. Badannya mulai bergetar, cairan bening mengalir dari matanya. Natsu tentu tahu kalau kekasihnya ini tengah menangis. Dengan perhatian, didekatinya Lisanna dan didekapnya gadis bersurai Perak itu. Lisanna terisak di dekapan Natsu.
"jangan khawatir, apa yang kau khawatirkan tak akan terjadi. Aku tak akan meninggalkanmu" kata Natsu
"Hiks, Natsu. Aku tahu, tapi aku tak bisa berhenti untuk khawatir. Maafkan aku, maafkan aku" kata Lisanna disela-sela tangisannya
Natsu hanya mengelus rambut kekasihnya dan mempererat pelukannya hingga sang kekasih tenang. Ia melepaskan pelukannya
"tenanglah. Lagipula akhir bulan ini kita akan bertunangan kan" kata Natsu seraya tersenyum dan mengusap air mata diujung mata Lisanna
"hmm" Lisanna mengangguk
"aku menerima kabar kalau ayah akan segera pulang untuk menyiapkan acara pertunangan putranya yang tampan" kata Natsu
Lisanna tertawa mendengar Natsu menyebut dirinya sendiri tampan
"kurasa lebih tampan ayahku daripada kau, Natsu" kata Lisanna
"NANI? Tampan darimananya? Jelas-jelas aku ini lebih tampan, dilihat dari jauh dan dekatpun tetap tampan. Walau aku tak mencuci mukapun tetap tampan. Pokoknya aku lebih-lebih tampan. Kau mengerti?" kata Natsu menyombongkan dirinya
Lisanna hanya mengangguk seraya tersenyum
"tapi . . ." kata Lisanna
"hn?" Natsu memiringkan kepalanya
"tapi aku ingin kau berjanji padaku. Kalau kau akan memperbaiki sikapmu" kata Lisanna
Natsu mendengus. Akhirnya ia mengangguk daripada melihat Lisanna menangis karena khawatir
"janji?" tanya Lisanna lagi, ia mengangkat kelingkingnya
Dengan enggan Natsu mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Lisanna
Di tempat lain, Sting cemberut. Karena, Lucy berjalan disampingnya. Bukan berarti ia tak suka, melainkan ia malu karena dirinya yang notabane seorang laki-laki diantar perempuan yang tengah sakit untuk pulang. Harusnya ia yang mengantar Lucy. Lucy menyadari sikap Sting dan menulis note
"kau baik-baik saja?" tulis Lucy
"aku baik-baik saja, Lucy. kau tak usah mengantarku" kata Sting datar
"kau yakin? Batukmu tadi sangat parah" tulis lucy lagi, ia khawatir
"aku baik-baik saja Lucy, hiks" Sting mulai menangis, sudah kesekian kali Lucy bertanya apa dia baik-baik saja
"apa kau membalasku karena tidak mengantarmu ke UKS tadi saat jam istirahat?" tanya Sting
Lucy menggeleng
"lalu?" Sting menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke Lucy, Lucy spontan menjauhkan wajahnya dari Sting, semburat merah kembali menghiasi pipi Lucy. dengan segera Lucy menulis sesuatu dan ditunjukkannya pada Sting
"kurasa arah rumah kita searah" tulis Lucy mengalihkan perhatian
"darimana kau tahu rumahku?" tanya Sting tanpa menjauhkan wajahnya
"hanya menebak" tulis Lucy
Tiba-tiba Sting tertawa terbahak-bahak. Lucy mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang ditertawakan Sting
"kau lucu, Lucy. hahaha" tawa Sting
Lucy memerah. Ia mulai sadar apa yang ditertawakan Sting. Ia menutupi wajahnya dengan note. Lucy kesal dengan Sting
"Mou, bisakah kau berhenti tertawa?" pinta Lucy dalam hati
Mereka kembali berjalan dan Sting menghentikan langkahnya
"berhenti" kata Sting
"rumahku ke arah sana. Kurasa kita sebaiknya berpisah disini" kata Sting
"aku akan mengantarmu pulang" tulis Lucy
Sting mengambil ponsel disakunya dan berbicara pada seseorang. Tak lama kemudian, sebuah Taxi datang
"nah, Lucy. masuklah, terimakasih sudah mengantarku" kata Sting dan membukakan pintu taxi
Lucy hanya diam. Sting menarik Lucy dan mendudukkan gadis itu. dilemparkannya sebuah senyuman pada Lucy dan ia menutup pintu.
"tolong antar dia ya pak" kata Sting
"kau yakin sudah baik-baik saja?" tanya Lucy di note yang kembali ia acungkan
"hmm . . . tentu. Terimakasih. Sampai bertemu besok" kata Sting
Taxi berlalu. Meninggalkan Sting yang tak henti-hentinya tersenyum seraya melambaikan tangan pada Lucy
Pukul 6.00 PM di kediaman Dragneel. Rumah agak sepi, Nyonya Grandine dan Wendy pergi keluar untuk Shopping diantar oleh Capricorn. Sedangkan Virgo tengah sibuk memasak di dapur untuk makan malam, karena Nyonya Grandine mengatakan akan pulang sebelum makan malam. Lucy turun dari kamarnya, dicarinya sang pelayan yang sangat setia padanya. Lucy mengedarkan pandangannya. Diciumnya aroma yang menggiurkan dari dapur.
"tidak salah lagi, pasti Virgo" kata Lucy dalam hati
Lucy melangkahkan kakinya menuju dapur. Ya, Virgo tengah memasak sendirian. Didekatinya Virgo
"oh, Hime. apa anda perlu sesuatu? Akan saya ambilkan" tanya Virgo
Lucy menggeleng, matanya beralih ke sayuran yang tengah dipotong oleh Virgo
"ah, anda lapar? Tapi mohon tunggu, makan malam belum siap" kata Virgo lagi
"perlu bantuan?" tanya Lucy di notenya
"hn? Tidak hime. Dapur adalah salah satu tempat berbahaya. Jadi kumohon untuk tidak dekat-dekat dan menunggu" jawab Virgo melarang keras
Lucy mengernyitkan dahinya
"Hime, maaf. Tapi selama ini anda tidak pernah ke dapur kan? Saya hanya khawatir saja" lanjut Virgo
"aku hanya akan membantu" tulis Lucy
"Hime" kata Virgo
"aku juga menumpang di rumah ini, jadi biarkan aku melakukan sesuatu untuk berterimakasih" tulis Lucy lagi
Virgo terdiam. Kata-kata hime-nya itu seakan membungkam mulutnya. Ia sadar kalau Lucy mungkin merasa terbebani karena bagaimanapun mereka tinggal secara gratis. Akhirnya Virgo mengizinkan Lucy untuk membantunya. Ia mengajarkan Lucy memotong sayuran. Lucy menganggukkan kepalanya tanda ia paham. Virgo meninggalkannya dan menyiapkan bumbu. Tapi, ia kehabisan kecap. Virgo menghela nafas
"Hime, aku akan keluar sebentar. tidak lama. Tolong potong sayuran-sayuran ini dan kalau airnya mendidih masukkan sayurannya. Dan ingat! hati-hati! Panas!" kata Virgo berpesan
Lucy hanya mengangguk. Sepeninggalan Virgo, Lucy mulai memotong sayuran seperti yang diajarkan Virgo. Namun, tiba-tiba ia teringat saat dimana mamanya memasak.
Flashback
Mama Lucy, Layla Heartfilia tengah memasak didapur. Lucy kecil yang baru bangun tidur mencari mamanya. Ia berdiri mematung saat melihat mamanya dengan cekatan memotong sayuran dan memasukkan sayuran ke dalam panci. Dan yang membuatnya kagum adalah bau masakannya, harum dan mampu mengocok perut tak terkecuali perut Lucy kecil. Mamanya mendengar dan menoleh. Lucy sadar dan tersipu malu.
"ara, kau sudah bangun, sayang. Duduklah, sebentar lagi makanan siap" kata Layla seraya tersenyum manis pada putrinya
Flashback End
Tak terasa, Lucy meneteskan air mata mengingat memori itu. dadanya mulai sesak. Tangannya yang masih memotong sayuran, tak sengaja mengiris jari telunjuk tangan kirinya. Lucy sadar, ia merasakan perih di jari dan memegang jarinya. Ia tak bergeming, hanya menatap jari telunjuknya yang mengeluarkan darah kental dan tak berusaha untuk menghentikan pendarahannya
"kalau tak becus memasak, jangan memasak. Apa kau mau membuat seisi rumah merasakan makanan yang bercampur darah?" celetuk seseorang dengan suara Baritone yang sangat dikenal Lucy
Lucy menoleh. Didapatinya Natsu tengah berdiri di depan Freezer dengan segelas air di tangannya. Melihat wajah Natsu, Lucy kembali mengingat kejadian siang tadi. Saat dimana bola Natsu menghantam kepalanya. Dan bukannya meminta maaf, Natsu malah mencacinya dengan kata-kata pedasnya. Lucy diam saja dan kembali melanjutkan aktivitas memotongnya.
"hei, apa kau tak dengar? Apa kau tak punya telinga? aku kan mengatakan kalau kami tak mau merasakan masakan yang bercampur darah. Kenapa kau melanjutkannya? Huh?" tanya Natsu dengan tajam
Lucy tak mengindahkan perkataan Natsu. Natsu yang merasa diacuhkanpun naik darah. Didekatinya gadis blonde tersebut.
"berhenti. Jangan potong sayurannya!" kata Natsu datar tapi menusuk
Lucy tetap tak bergeming, hingga Natsu emosi dan menarik tangan kanan Lucy yang memegang pisau. Lucy menoleh. Mereka bertatapan untk beberapa saat. Natsu mendengus, ia menarik Pisau di tangan Lucy dengan kasar, yang membuat telapak tangan gadis itu tersayat pisau. Lucy meringis kesakitan. Darah segarpun keluar. Lucy memegangi tangan kanannya, matanya mulai berkaca-kaca merasakan perih yang menyerang. Natsu diam, melihat Lucy yang kesakitan, entah kenapa bibirnya menyunggingkan senyuman penuh arti.
"sudah kubilang kan? Itu akibatnya kalau kau bersi keras" kata Natsu dan pergi meninggalkan dapur dengan membanting pisau yang berada ditangannya
Lucy tersentak. Kali ini, cairan bening yang ditahannya mengalir keluar. Rasanya sangat sakit dan perih, bukan hanya di tangannya melainkan hatinya. Setiap perkataan Natsu selalu melukainya. Lucy tenduduk lemas.
"kenapa? Dimanapun aku berada, aku selalu dibenci. Dulu apa yang aku katakan itu salah. Sekarang, apa yang aku lakukan juga salah. Apa hidupku ini juga adalah suatu kesalahan? Mama, kenapa kau meninggalkanku seperti ini? Harusnya waktu itu aku segera menyusulmu daripada harus menghadapi semua ini. Mama, sayatan di tanganku ini tak ada apa-apanya dibanding dengan sakit dihatiku ini. Mama, tidak bisakah kau menjemputku sekarang juga?" tanya Lucy dalam hati
Virgo kembali. Dilihatnya Natsu yang keluar dari dapur. Perasaanya tidak enak, ia segera berlari kedapur dan mendapati Lucy yang terduduk lemas sambil memegangi tangannya yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah. Virgo panik.
"Hime, Kenapa tangan anda? Sudah saya bilang kan untuk hati-hati? Lihatlah, oh hime. Tunggu sebentar, akan saya ambilkan obat" kata Virgo
Virgo mematikan kompor dan mengambil kotak obat. Ia mengusap telapak tangan Lucy dan memberinya obat merah kemudian memperbannya. Virgo memandang tangan himenya itu, sepertinya ada yang tidak beres.
"Hime. Luka ini bukan karena memotong sayuran. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Virgo serius
Lucy menggelengkan kepalanya
"tidak, aku hanya tidak berhati-hati" jawab Lucy dalam hati
"Hime. Kau tahu? Kau tidak pernah bisa membohongiku" kata Virgo lagi, matanya menatap dalam mata karamel Lucy, mencari kebohongan disana dan ya, Lucy memang berbohong.
"Natsu-sama yang melakukannya?" selidik Virgo
Lucy terdiam, ia tertunduk dan menggeleng lemah. Virgo merasa darahnya naik ke ubun-ubun. Ia ingin meledak saat itu juga. Tapi Lucy mencengkeram tangannya.
"sudahlah, Virgo. Ia tidak sengaja" kata Lucy dalam hati
Virgo menghela nafas. Ia heran kenapa Natsu tidak menyukai Lucy. padahal Lucy tidak pernah mengganggunya. Virgo menatap Lucy sayu, ia prihatin dengan Himenya. Lucy sudah mendapatkan perlakuan tidak baik bahkan oleh ayahnya. Tapi ketika nyonya Grandine menawarkan tempat tinggal pada mereka, Virgo berfikir Lucy akan aman. Tapi kenyatannya lepas dari mulut harimau masuk ke lubang buaya. Virgo hanya bisa mendekap tangan Lucy yang kini sudah terperban.
Makan malam. Ketegangan mengalir di meja makan keluarga Dragneel. Nyonya Grandine heran. Tak ada yang bicara bahkan Virgo sekalipun.
"ehem? Apa ada sesuatu?" tanya Nyonya Grandine
Natsu memakan makannannya dengan tidak nafsu. Ia melirik Lucy dengan tajam seolah mengatakan mati kau kalau mengatakannya.
"tidak ada Nyonya, mungkin hanya perasaan anda saja" kata Virgo menutupi
"ne, Lucy-san. Makanannya enak? Apa kau mau tambah?" tanya Wendy
Lucy hanya mengangguk. Tapi ia tak mengambil makanan lebih.
"Natsu, apa kau sakit? Tidak biasanya kau makan sedikit" tanya Nyonya Grandine pada Putranya
"tidak, aku baik-baik saja. hanya sedang tidak nafsu saja" jawab Natsu dengan menatap tajam Lucy
Wendy yang menyadari arah tatapan kakaknya itu, mengerutkan alisnya
"tak mungkin kan?" tanya Wendy dalam hati
"ne, Virgo-san. Apa Lucy-san yang memasak masakan ini?" celetuk Wendy
"iya, Wendy-sama. Hime membantu saya membuatnya" jawab Virgo
Wendy seperti mendapat klik diotaknya. Ia mengerti kenapa suasana menjadi tegang dan kakaknya yang tidak nafsu makan. Wendy juga sadar ada yang berbeda dengan tangan kanan Lucy.
"Lucy-san. Ada apa dengan tanganmu? Apa kau terluka saat memasak?" tanya Wendy khawatir dan ingin tahu
Lucy hanya mengangguk
"Lucy, jangan memaksakan dirimu. Bibi tidak menuntutmu melakukan pekerjaan rumah kan, jadi jangan melakukan sesuatu yang membebani atau melukaimu" kata Nyonya Grandine perhatian
Natsu yang mendengarnya mendengus. Ia tak habis pikir dengan ibu dan adiknya yang sangat baik pada gadis yang menurutnya PARASIT.
"oh ya, Natsu. Setelah ini, ibu ingin bicara padamu. Ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan. Ini mengenai pertunanaganmu" kata sang ibu
Lucy menghentikan acara makannya. Ia terpaku untuk sejenak mendengar karta pertunangan. Dan entah kenapa perasaannya tidak enak.
...
Sementara di tempat lain. Sting tengah mengobrak-abrik buku yang ada diruang kerja ayahnya. Disana, banyak buku kedokteran dari berbagai penerbit dan penulis. Ayah Sting, Weisslogia Eucliffe adalah seorang kepala rumah sakit Weisslogia Hospital.
"Sebenarnya, penyiksaan seperti apa yang Lucy dapat hingga ia tak bicara? kenapa? Dan apa mungkin Lucy mengalami Depresi? Aku sungguh tidak mengerti" kata Sting dalam hati
Sting terus mencari hingga ia menemukan sebuah buku yang berjudul 'Apa itu Depresi?'
Sting membaca buku tersebut
"Depresi adalah kondisi serius dalam dunia medis yang mempengaruhi pikiran, mood, perasaan, kebiasaan dan kesehatan fisik. Jenis depresi yang paling umum adalah gangguan depresi mayor (GDM) atau Major Depressive Disorder yang merupakan gangguan depresi berat" kata Sting membaca buku yang diambilnya
Tangan Sting seketika lemas. Dan buku yang semula ditangannya terjatuh dilantai begitu saja
...
Nyonya Grandine tengah bicara dengan Natsu di ruang kerja suaminya, Igneel Dragneel.
"Natsu, sebelumnya ibu bilang kalau akhir bulan ini setelah kepulangan ayahmu acara pertunanganmu dengan Lisanna akan dilaksanakan. Tapi ternyata orang tua Lisanna tidak setuju" kata Nyonya Grandine
"apa? Yang benar saja" protes Natsu
"ya, karena keluarga Strauss mendadak ada perjalanan bisnis ke Singapore selama 1 bulan. Jadi mereka meminta untuk kembali ke rencana awal" jelas Nyonya Grandine
"hoh, baiklah. Mau bagaimana lagi" keluh Natsu
"Natsu, ibu ingin tanya. Kau jawab jujur ya?" tanya sang ibu
"apa bu?" tanya Natsu
"kau tidak menyakiti Lucy kan? Disekolah atau saat ibu dan Wendy tidak ada?" tanya Nyonya Grandine dengan menatap tajam putranya
"apa ibu pikir aku sekejam itu hingga menyakiti seorang perempuan?" tanya Nastu balik
"tapi perkataan dan sikapmu padanya terlalu kasar" kata Nyonya Grandine mengkoreksi
"dia saja yang terlalu sensitif" kata Natsu membela diri
Nyonya Grandine menghela nafas panjang.
"Natsu. Lucy, dia sudah sangat terluka, jadi kau jangan memperbesar lukanya atau dia akan . . ." kata Nyonya Grandine
"mati?"lanjut Natsu dengan santai
"NATSU!" pekik Nyonya Grandine, ia tak habis pikir perkataan sekejam itu yang keluar dari mulut putra tercintanya
"mana mungkin ibu, aku hanya bercanda. Memangnya dia akan apa?" tanya Natsu dengan tampang innocent
"Lucy, dia mengalami Major Depressive Disorder. Kau tahu? Depresi akut yang membuatnya berhenti bicara" jelas Nyonya Grandine dengan suara serak
Badan Natsu bergetar. Ia menggenggam erat tangannya untuk menenangkan dirinya karena mendengar fakta yang mengejutkan.
"itukah alasannya?" tanya Natsu dalam hati
"jadi, aku hanya perlu sedikit mendorongnya kemudian menendangnya dari rumah ini" kata Natsu lagi di dalam hati
Malam semakin larut. Sang angin berhembus menerpa pepohonan untuk mengajaknya berdendang ditengah malam yang mencekam. Tak terdengar suara manusia atau bising kendaraan yang biasanya menghiasi jalan di kompleks perumahan Dragon Slayer. Tak puas hanya mengajak pepohonan, angin-pun berhembus semakin kencang membuat jendela seorang gadis blonde seperti diketuk. Seakan ingin mengatakan keluarlah dan temani kami
Lucy tak menyahut ajakan tersebut, karena ia sedang berada di dunia mimpi yang tengah membuainya. Lucy bermimpi, ketika dirinya berusia 7 tahun. Mama dan papanya mengajaknya pergi tamasya ke gunung pada liburan musim panas. Lucy kecil sangat gembira. Sepanjang perjalanan, mereka berdendang menikmati suasana dan moment kebersamaan mereka. Tapi tiba-tiba, mimpi itu hancur bagaikan kaca yang dihantam sebuah palu besar. Kini, Lucy tengah bermimpi saat dirinya terisak-isak di makam sang mama yang sudah tertidur untuk selamanya. Mimpi tersebut membuat Lucy yang tengah tertidur menitikkan air mata.
Mimpi Lucy berlanjut. Mimpi yang sama dengan mimpi sebelumnya. Mimpi yang bagaikan sihir, selalu menghantuinya dan teringat terus dikepalanya. Mimpi dimana sang ayah melarangnya untuk menjadi model. Mimpi dimana ayahnya melarangnya pergi ke sekolah
Lucy's Dream
"Lucy! berhenti menangis! Apa kau pikir dengan menangis ayah akan mengizinkanmu pergi ke sekolah?" hardik ayah Lucy, Jude Heartfilia
"sudah ayah katakan berhenti menangis! Sekarang diam dan masuk ke kamarmu!" kata sang ayah dengan suara yang menggelegar
Dengan lemas Lucy masuk ke kamarnya.
"Lucy! kenapa kau melindunginya? Gara-gara dia kau bisa kabur dari rumah! Dia, adalah pelayan yang tidak tahu diuntung! Jadi, menyingkir atau kau akan menyesalinya" perintah Jude dengan nada tinggi
Lucy melindungi Virgo yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya. Ayahnya mengayunkan cambuk. Dan,
PLAKK
Jude mencambuk punggung Lucy. Virgo menangis, meminta Hime-nya untuk menghentikan tindakannya tersebut. Tapi Lucy kekeh tidak mau menyingkir walau ayahnya sudah meneriakinya untuk menyingkir. Dan, betapa kejamnya Jude, ia tidak segan-segan atau bergetar hanya karena Lucy yang menangis. Ia tetap mencambuk hingga baju Lucy sobek-sobek
End of Lucy's Dream
Lucy seketika terbangun. Ia melihat sekeliling dengan ketakutan. Didengarnya jendela yang diketuk oleh angin malam. Ia menggigil, mengingat rasa cambukan dimimpinya. Cambukan yang seakan-akan nyata. Ia mendekap tubuh mungilnya dan terisak.
"mama. Aku takut. Aku takut. Setiap kali aku memejamkan mataku, aku selalu mengingatnya. Rasa sakit itu, kembali menyayatku. Aku, aku sangat takut, mama" kata Lucy dalam hati
Sementara di sebelah, Natsu belum memejamkan matanya. Seberapa keras ia berusaha untuk tidur, namun matanya tak mau diajak kompromi dan selalu menentangnya. Natsu hanya menatap langit-langit kamarnya. Fikirannya kosong. Tapi kemudian, samar-samar ia mendengar isakan tangis. Natsu langsung bangun dan mendudukkan dirinya. Ia menoleh ke tembok yang membatasi kamarnya dengan kamar Lucy. Natsu berdiri dan mendekati tembok tersebut.
"dia menangis?" tanya Natsu penasaran
Suara isakan semakin menjadi-jadi. Natsu mulai mengernyitkan satu alisnya, ia merasa terganggu.
"ada apa dengannya? Apa dia gila menangis malam-malam seperti ini? Apa dia ingin menakutiku?" tanya Natsu dengan kesal
Sudah sekitar 1 jam Lucy menangis. Dan Natsu juga tak kunjung tidur. Natsu sudah tak bisa menahan amarahnya. Ia keluar dari kamar dan diketuknya kamar Lucy dengan keras.
"hoi! Kau belum tidur? Kalau belum jangan menangis seperti hantu di tengah malam seperti ini!" kata Natsu
Lucy hanya menangis tak mengindahkan perkataan Natsu. Natsu geram dan membuka pintu kamar Lucy yang tidak terkunci. Dihidupkannya lampu di kamar tersebut. Ia mendapati Lucy yang terisak sembari mendekap dirinya di sudut tempat tidur. Natsu mendekatinya.
"hoi! Sadarlah! Kau mengganggu tidurku!" kata Natsu ketus
Lucy yang menyadari seseorang berada didekatnya, menjauhkan diri dan tambah menyudutkan dirinya. Ia mulai membenamkan wajah di lengan. Melihat respon Lucy, Natsu tersinggung. Ditariknya lengan kiri Lucy. tapi Lucy menepisnya. Natsu habis kesabaran, ditariknya Lucy dengan kasar.
"sudah kubilang sadarlah! PARASIT!" hardik Natsu
Lucy terbelalak. Ia mulai menatap nanar Natsu, Natsu terhenyak untuk beberapa saat. Ia berdecak.
"sadarlah atau aku yang menyadarkanmu!" ancam Natsu
Lucy kembali menepis tangan Natsu. Namun Natsu benar-benar serius dengan ucapannya barusan. Ia menarik paksa Lucy dan mengajaknya ke kamar mandi. Ia mendorong Lucy atau lebih tepatnya menghempaskan tubuh Lucy ke lantai. Lucy terjatuh, kakinya bergetar, Natsu tak bersimpati sedikitpun dan menghidupkan shower. Tubuh Lucy mulai basah akibat shower yang mengguyur dirinya. Lucy sesenggukkan.
"kau pikir dengan menangis menyelesaikan segalanya? Sadarlah! Walaupun semua orang bahkan dunia bersimpati padamu, tapi aku. Natsu Dragneel tidak akan melakukannya. Karena tidak semua orang berfikir kalau kau ini pantas dikasihani. Jadi, sadarkan dirimu dan dinginkan kepalamu itu, dasar PARASIT!" kata Natsu dengan dingin dan meninggalkan Lucy yang tak bergeming dari tempatnya
Sementara Perban yang menutup luka di tangan kanan Lucy, mulai memunculkan rona merah. Warna yang semakin nyata dan nyata. Ya, darah Lucy menyeruak keluar dari perban dan mengalir diikuti aliran air yang tengah mengguyur tubuhnya.
"mama, apa aku juga salah karena menangis? Aku sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi air mataku selalu keluar begitu saja. mama, kufikir aku bisa lepas dari penderitaan setelah keluar dari rumah. Tapi, nyatanya aku selalu seperti ini. Bahkan aku dianggap sebagai parasit. Dunia ini sungguh tidak adil!" kata Lucy dalam hati
Esoknya. Nyonya Grandine menerima telfon dari suaminya
Nyonya Grandine : ya, sayang. Dia baik-baik saja disini
Tuan Igneel : kau yakin? Kurasa Natsu tidak menyukainya. Mengingat ia menentang Lucy untuk tinggal bersama kita
Nyonya Grandine : Natsu pasti akan menerimanya perlahan, janga khawatir
Tuan Igneel : bagaimana tidak khawatir! Aku bahkan tidak tahu apa yang mungkin Natsu lakukan padanya
Nyonya Grandine : Natsu tidak seburuk itu, sayang
Tuan Igneel : kau tidak tahu, Grandine. Aku ayahnya, aku tahu seperti apa dia, jika ia tidak menyukai sesuatu, maka ia akan berusaha menyingkirkannya entah bagaimanapun caranya
Nyonya Grandine : aku juga ibunya. Walaupun Natsu memang demikian, tapi tidak mungkin ia melakukannya pada seorang perempuan
Tuan Igneel : awasi saja dia. Tiap hari perasaanku selalu tidak enak, jika Natsu melakukan hal yang membahayakannya, aku tidak akan segan-segan walaupun dia putraku
Nyonya Grandine : ya, bagiku Lucy lebih diprioritaskan sekarang, mengingat kondisinya yang terbilang membahayakan
Tuan Igneel : tolong sayang, jaga dia. Bagaimanapun Lucy adalah putri Layla dan Jude
Nyonya Grandine menyudahi telfonnya. Ia menghela nafas panjang. Berusaha menguatkan hatinya untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi jika apa yang dikhawatirkan ia dan suaminya benar terjadi (Author : itu memang sudah terjadi). Terlebih setiap perkataan yang terlontar dari bibir Natsu adalah kata-kata yang menyayat bagi Lucy.
Fairy Academy. Lucy melangkahkan kakinya melalui gerbang sekolah yang menjulang tinggi. Lagi-lagi banyak siswa yang mencibirnya, ia hanya menundukkan kepala. Tiba-tiba Loki menghadangnya.
"pagi Lucy" sapa Loki
Lucy mengangkat kepalanya, ia hendak menulis sesuatu menjawab sapaan dari Loki. Ada yang aneh dengan Lucy. telapak tangan kananya di perban. Seketika Loki langsung meraih tangan Lucy.
"ohh, Lucy, apa yang terjadi? Kau terluka? Apa sudah diobati dengan benar? Pasti sakit ya? Apa mau aku menyembuhkannya dengan cinta?" tanya Loki
Lucy hanya memandang Loki datar. Ia menarik tangannya dan meninggalkan Loki begitu saja. sementara Loki, ia shock karena rayuannya tidak mempan. Lucy terus berjalan sepanjang koridor, ia menghela nafas tak habis pikir dengan sikap Loki.
Kelass 1-5. Rogue tengah berbicara dengan sepupunya, Sting. Namun yang diajak bicara, fikirannya tak ada ditempat. Sting tengah terbuai dengan moment bersama Lucy kemarin. Rogue yang menyadari Sting tak menanggapi perkataannya, mengayunkan tangannya di depan wajah sang empunya nama. Namun Sting tak bereaksi.
"ehem, Sting, ini masih pagi. Kau tidak berfikir yang aneh-aneh kan?" tanya Rogue
Mendengar kata aneh-aneh Sting-pun sadar. Ia mengelak
"apa? Tidak! Apa yang kau bicarakan! Aku ini bukan Loki!" kata Sting
"eh? Dari tadi kau bahkan tak mendengarku. Apa kau baik-baik saja?" tanya Rogue menyentuh dahi Sting, otomatis Sting menepisnya
"aku baik-baik saja, dan aku ini masih sangat normal untuk menerima perlakuanmu itu, Rogue" kata Sting
Rogue berdecak. Sting memang seperti itu, ia tidak suka diperlakukan manis. Karena ia merasa terganggu, tapi tentu ia tidak menunjukkan sifatnya yang satu ini pada semua orang. Hanya keluarganya dan Rogue yang tahu. Tapi tidak menutup kemungkinan Sting mau menerima perlakuan manis, seperti menerima perlakuan Lucy padanya.
Lucy masuk kelas. Ketika ia membuka pintu, ia menoleh ke sosok yang berada di dekat pintu. Sosok seorang siswa yang memiliki warna rambut yang senada dengannya. Siapa lagi kalau bukan Sting Eucliffe. Mereka berdua terdiam untuk sejenak, hingga suara Rogue memecah keheningan.
"pagi, Lucy" sapa Rogue
"Pagi, etto . . . siapa ya?" sapa Lucy di notenya
"aku? Rogue. Rogue Cheney. Sepupu Sting" jawab Rogue sembari menepuk pelan punggung Sting
"kau tidak harus mengatakan hal yang tidak perlu. Lucy tidak ingin tahu kau itu siapaku" kata Sting menanggapi
"apa? Kejamnya Sting. Lucy, lihatlah! Sting melukai perasaanku" kata Rogue mengadu pada Lucy seolah ia adalah anak kecil
"kau bukan anak kecil kan?" tulis Lucy
"NANI? Kau membelanya?" protes Rogue
Sting terkekeh. Ia benar-benar tak paham dengan sikap gadis dihadapannya. Semua orang beranggapan kalau Lucy itu pendiam. Ya, karena ia tak bicara. tapi menurutnya, walaupun ia sendiri baru mengenal Lucy beberapa hari, ia merasa Lucy adalah pribadi yang unik dan menarik. Sangat menarik hingga membuat seorang Sting Eucliffe berdebar. Sting mengacungkan dua jempol pada Lucy. Lucy menutupi wajahnya dengan note, entah kenapa setiap melihat senyuman Sting, ia merasa ada yang berbeda. Sting melihat perban yang melilit telapak tangan Lucy. diraihnya tangan Lucy.
"kenapa?" tanya Sting tajam
"eeh?" Rogue heran
Lucy menggeleng. Yang artinya ia baik-baik saja.
"siapa yang melakukannya?" tanya Sting lagi
Lucy menarik tangannya dan menulis jawaban
"aku sendiri. Aku tidak sengaja melukai diriku, tidak apa-apa" jawab Lucy
Sting tentu tidak percaya begitu saja. Baginya, walaupun Lucy mengidap Major Depressive Disorder, Lucy tak mungkin melakukannya kalau tidak ada yang menekannya. Walaupun ada kemungkinan Lucy melakukannya dengan sengaja.
"aku tanya, siapa?" tanya Sting tajam
Tiba-tiba Natsu masuk kelas. Ia berhenti ketika kakinya mendapati Lucy berada di depannya. Sting tengah menatap tajam Lucy, tentu bukan tatapan kebencian seperti Natsu. Tapi tatapan menyelidik. Lucy hanya diam, ia tak menulis apapun untuk menjawab Sting. Sting melihat Natsu yang berdiri di belakang Lucy dan menatapnya. Sting mengernyitkan dahinya.
"tidak mungkin kan?" tanya Sting dalam hati
"kenapa kau menatapku seperti itu? Ketua?" tanya Natsu
"aku? Tidak. maafkan aku" jawab Sting berusaha menjernihkan pikirannya
Natsu berlalu, ia sedikit melirik ke belakang. Melihat Lucy yang masih tak menjawab apa yang ditanyakan oleh sang Ketua kelas berparas tampan tersebut. Natsu berdecak, tak habis pikir dengan Sting yang sudah masuk kedalam jaring parasit Lucy Heartfilia. Sementara Sting, melihat Lucy yang tak bereaksi, ia jadi tidak enak hati.
"oh, Lucy. maafkan aku. Sepertinya aku terlalu khawatir" kata Sting mengalihkan perhatian
"kau membalasku karena kemarin?" tulis Lucy kembali
Rogue terperangah. Matanya membulat.
"apa? Kemarin?" tanya Rogue berusaha mencerna apa yang Lucy tulis
"hei, Sting? Apa yang kau lakukan kemarin dengan Lucy?" pekik Rogue dengan suara keras, membuat para siswa yang baru datang menoleh seketika melihat sang Ketua kelas yang wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.
"jangan bicara yang tidak-tidak! ROGUE" bentak Sting
Lucy sedikit menarik bibirnya. Sting melihatnya, ia tertegun.
"Lucy, tersenyum? Dia bisa tersenyum?" tanya Sting dalam hati
Lucy berlalu begitu saja. meninggalkan Rogue yang masih heboh sendiri. Sedangkan Sting? Ia yang kembali diserang oleh Virus pesona Lucy Heartfilia. Hanya terdiam, tak mengindahkan Rogue yang terus menerus memberondonginya dengan banyak pertanyaan.
Jam pelajaran Mirajane-sensei. Sang guru bersurai perak dengan poni yang dikucir keatas. Paras cantiknya mampu membuat banyak pria rela bersujud padanya hanya demi kencan sehari. Mirajane-sensei juga ramah dan baik hati, ia juga pandai memasak. Tak heran ia adalah guru memasak.
Kini, Mirajane-sensei mengajar di kelas 1-5. Diakhir kelasnya, ia meminta para siswa untuk menyiapkan bahan untuk membuat cookies. Ia akan mengajak mereka untuk praktek di kelas berikutnya.
"jadi, Mina. Aku akan membagi kelompok. Satu kelompok 2 orang" kata Mirajane-sensei
Mirajane-sensei mulai menulis nama masing-masing kelompok di papan diantara mereka adalah Levy dan Gray. Sting dan Rogue, Loki dan Aquarius, Natsu dan Lucy.
"nah, untuk cookies apa yang ingin kalian buat, silahkan diskusikan dengan kelompok masing-masing. Minggu depan kalian harus siap praktek. Mengerti? Ada yang kurang paham?" tanya Mirajane-sensei dengan senyum malaikatnya
Natsu mengangkat tangannya.
"Sensei, aku tak paham. Kenapa aku harus satu kelompok dengannya?" tanya Natsu sembari melirik tajam punggung Lucy
"eh? Kau sedang protes denganku, Natsu?" tanya Mirajane-sensei dengan aura hitam yang menyeruak keluar dari tubuhnya. Kini, sosok sang malaikat berubah menjadi Satan Soul yang siap menerkam mangsanya
Natsu menelan ludah. Kalau sudah seperti ini, Natsu tidak punya cara lain selain membunuh ketakutannya demi menghadapi sang guru.
"bukankah kelompok tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya komunikasi? Bagaimana aku bisa berkomunikasi dengannya? Dia bahkan tidak bicara" kata Natsu ketus
Mirajane-sensei sadar. Ia kembali ke sosok malaikatnya.
"benar. Tapi kau bisa belajar berkomunikasi dengannya kan sampai pertemuan selanjutnya? Tidakkah ini hanya alasan pribadimu saja?" tanya Mirajane-sensei
"kalau aku jawab iya, memang kenapa? Yang jelas aku tidak mau satu kelompok denganya" protes Natsu lagi
"jadi kau ingin tukar anggota?" tanya Mirajane-sensei
"siapapun asal jangan dia!" kata Natsu ketus
Lucy yang mendengar acara protes Natsu, kembali tertunduk. Ia teringat kejadian semalam, saat Natsu menyayat telapak tangannya, saat Natsu mendorongnya di kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air di tengah malam. Lucy mulai gemetar. Ia mulai ketakutan. Perasaan bersalah mulai menghantuinya.
"aku yang salah. Aku yang salah, harusnya aku tidak disini. Kalau aku tidak disini, kejadian semalam tidak akan tejadi. Dan saat ini, Natsu tidak akan protes dan bicara seperti itu pada Mirajane-sensei" kata Lucy dalam hati dengan menyalahkan dirinya
Levy menoleh. Ia melihat Lucy yang bergetar.
"kau baik-baik saja? Lucy?" tanya Levy
Lucy tak berusaha menulis sesuatu. Levy semakin khawatir. Ia mengulurkan tangannya dan mendekap tangan Lucy.
"jangan disini, Lucy" kata Levy menyadari sesuatu
"sensei, Lucy ingin pergi ke toilet" kata Levy
Levy berbisik pada Lucy. meminta sang empunya nama untuk mengikuti kebohongannya. Lucy menuruti kebohongan tersebut, ia berdiri.
"ini belum selesai, Lucy" kata Natsu
"jangan pergi sebelum sensei memutuskan kau satu kelompok dengan siapa" lanjut Natsu
Mirajane-sensei menghela nafas
"baiklah, Sting. Kau satu kelompok dengan Lucy. Rogue dengan Natsu" kata Mirajane-sensei memberi keputusan
"TIDAK! aku yang satu kelompok dengan Lucy!" kata Loki seraya berdiri kemudian menunjuk Sting
"ketua, aku tidak akan membiarkanmu dekat-dekat dengan Lucy" lanjut Loki
Sting menaikkan satu alisnya, kesal bercampur marah. Ia menggenggam tangannya dan berdiri.
"jaga sikapmu, Loki!" kata Sting
"ketua, sebenarnya aku tidak bermaksud. Tapi, sebagai seorang laki-laki, aku tidak akan membiarkan Lucy berdekat-dekatan dengan laki-laki lain" jawab Loki
Loki menatap tajam Sting, sedangkan Sting termakan amarah san menatap Loki dengan tajam pula. Petir seakan menyambar dari kedua siswa Fairy Academy tersebut. Hingga seuara seseorang menginterupsi keduanya.
"kalian berdua" kata Natsu mendekankan setiap katanya
Sting dan Loki-pun menatap Natsu. Mereka mengernyitkan dahinya. Antara kesal karena perdebatan mereka disela dan marah karena sudah menyakiti Lucy dengan penolakannya.
"hentikan!" kata Natsu kemudian
"Lucy akan satu kelompok denganku" kata Natsu datar dengan suara baritonenya
"eh?" Sting dan Loki loading
"satu" kata Loki
"kelompok?" lanjut Sting
"HEHHHH?" Serempak seisi kelas terbelalak, tak terkecuali Lucy yang masih berdiri
Yang membuat Lucy heran adalah, Natsu menyebut namanya. Sebelumnya Natsu hanya akan meneriakkan kau! Kau!. Ini pertama kalinya Natsu menyebut namanya.
"anou, Natsu" panggil Mirajane-sensei
"bukankah tadi kau menolaknya?" tanya Mirajane-sensei bingung
"aku? Aku berubah pikiran" jawab Natsu singkat
"Natsu! Tidak bisa begitu!" protes Loki menuding-nuding temannya
Natsu menatap Loki dengan tatapan tajamnya. Mata Onyx-nya menyipit, menandakan kalau ia serius.
"Urusai!" kata Natsu
Loki bungkam. Kalau Natsu seperti itu, ia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Inilah pesona seorang Natsu Dragneel. Ia mampu membungkam seseorang hanya dengan tatapannya. Tak heran, banyak siswi perempuan yang tergila-gila padanya. Dan Sting? Ia menghela nafas.
"harusnya kau lebih bijak lagi, Natsu. Kita bukanlah siswa SMP yang dengan egoisnya tidak mau satu kelompok dengan seseorang yang kurang kita senangi" kata Sting seraya duduk kembali
"cih! Kau juga berisik, ketua!" jawab Natsu
Jam pelajaran terakhirpun berbunyi. Mirajane-sensei menepuk kedua tangannya.
"ara ara, sudah selesai. Mina, jangan lupa ya, kuharap kalian bisa bekerjasama dengan baik nantinya. Sampai berjumpa di pertemuan berikutnya" kata Mirajane-sensei mengakhiri kelasnya
Lucy merapikan buku-bukunya. Entah kenapa wajah Lucy memerah. Disekanya keringat yang muncul di dahi putihnya. Natsu berlalu begitu saja diikuti Loki. Sedangkan Gray, ia mendekati Lucy. mengajak teman blondenya untuk pergi ke ruang Klub.
Lucy, Levy dan Gray berjalan di koridor. Tanpa mereka sadari, seorang siswa perempuan berambut gelombang dan bersurai biru mengikuti mereka. Lebih tepatnya men-Stalker mereka. Ia menatap penuh kebencian pada Lucy. digigitnya ujung kemejanya. Gray merasakan hawa dingin dari belakang, ia menoleh. Tak ada siapapun. Siswa Stalker tersebut adalah Juvia, fans berat Gray. Mereka kembali berjalan, hingga tiba-tiba seorang siswa berambut hitam panjang dengan wajah bertindik menghadang mereka.
"Levy McGarden" panggil siswa bertindik
"Gajeel?" kata Levy
Gajeel mendekati mereka. Ia mengernyitkan dahinya
"Levy, sudah kubilang kan untuk membujuknya masuk Klub-ku. Tapi kenapa dia masuk ke Klub Taekwondo?" tanya Gajeel
"eh? Itu, Lucy yang membuat keputusan kan?" jawab Levy berkeringat dingin
"kenapa Lucy harus masuk Klub-mu?" tanya Gray
"aku yang harusnya tanya padamu, kenapa Lucy harus masuk Klub-mu?" tanya Gajeel balik, ia memicingkan matanya
Gray tak mau kalah. Ia ikut memicingkan matanya. Alhasil kedua siswa ini beradu dahi. Mereka menatap tajam satu sama lain
"Lucy lebih cocok masuk Klub Taekwondo, dasar maniac besi!" kata sekaligus ledek Gray
"apa katamu? Ice Freak?" sahut Gajeel
"kau mengajak berkelahi? Huh? Dasar tukang besi" tantang Gray
"siapa takut! Tukang es!" jawab Gajeel
Mereka membuka jas sekolah mereka dan mulai menaikkan lengan mereka. Gajeel tak getar menghadapi salah satu atlet Taekwondo. Mereka sudah memasang kuda-kuda, tiba-tiba
"HENTIKAN!" teriak seseorang dengan suara khasnya membuat Gray dan Gajeel seketika menoleh. Erza sudah berdiri dengan aura membunuhnya. Keringat dingin keluar dari dahi kedua siswa tersebut
"Gajeel? Kalau mau protes, jangan pada Gray. Keputusan ada ditangan Lucy. kau tidak berhak ikut campur! Dan kalau kau memaksa Lucy, aku tak akan segan-segan menghadapimu diatas matras!" kata Erza dengan suara wibawanya yang penuh ancaman
Gajeel mati kutu. Gray tersenyum puas. Tapi sungguh sialnya Gray, telinganya ditarik oleh Erza. Ia meringis kesakitan.
"Dan kau juga, Gray. Kau belajar Taekwondo bukan untuk berkelahi" kata Erza
"oi, Erza. Tapi kau juga biasanya menghajar orang kan?" protes Gray dengan polosnya
Seketika . . .
BUK
Gray tepar. Erza sudah menghajarnya. Gajeel yang tak mau jadi sasaran berikutnya, memilih pergi secara diam-diam. Levy meneriakinya. Dalam hitungn detik, Gajeel sudah tidak terlihat, ia bagai tertelan bumi. Menghilang dengan sekejap.
"Lucy, kau tak apa? Gajeel tidak melukaimu kan?" tanya Erza khawatir
Lucy menggeleng. Wajahnya masih merah, keringat kembali menghiasi dahinya.
"apa kau sakit?" tanya Erza
Lucy menyeka keringatnya dengan tangan kanan, membuat Erza melihat perban yang melilit ditangan temannya itu.
"Lucy, kenapa dengan tanganmu?" tanya Erza
Lucy mengambil note dan mengacungkan jawaban yang digunakannya untuk menjawab Sting dengan pertanyaan yang sama. Erza menaikkan satu alisnya, ia tak yakin. Lucy tak tahu harus bagaimana lagi, Erza lebih peka daripada Sting. Tidak, lebih tepatnya lebih sulit membohongi Erza daripada Sting. Raut wajah Erza serius. Levy menyadari ketegangan yang mengalir, berusaha memecahkan suasana.
"ne, Erza, apa kau akan ke ruang klub?" tanya Levy
Erza sadar
"oh ya, aku lupa. Aku harus membeli air minum untuk semua. Lucy, apa kau mau membantuku? Maksudku menemaniku? Tenang saja, aku yang akan bawa semua minumannya" pinta Erza dan melupakan kejadian baru saja
Lucy menghela nafas, ia mengagguk meng-iyaka permintaan Erza. Ditinggalkannya Levy. Levy hanya melontar senyuman dan melambai. Sepeninggalan mereka, wajah Levy berubah.
"Lucy, kenapa kau tak mau jujur? Apa kau tidak menganggapku sebagai teman?" tanya Levy dengan sedih
Sementara di Lapangan indoor. Natsu tengah latihan dengan mendribble bola. Sting duduk di kursi dengan tatapan menerawang. Ia memikirkan luka di tangan Lucy. ia khawatir.
"Sting, apa kau ada acara nanti? Bagaimana kalau nanti malam main billyard dirumahmu" ajak Rogue
Sting tak merespon. Rogue menoleh. Seharian ini sikap Sting benar-benar aneh, ia yang biasanya peka jadi tak peka atau malah acuk tak acuh? Belum sempat Rogue melanjutkan ajakannya, Sting tiba-tiba berdiri.
"kurasa aku ada urusan. Aku pulang duluan ya" kata Sting meninggalkan Rogue beserta anggotanya yang terbengong-bengong dengan sikap sang Ketua klub mereka
Natsu tak menghiraukannya. Ia kesal dengan Sting karena dengan bodohnya sudah mau terpedaya oleh Lucy.
"dia bahkan tak pernah benar-benar menghiraukan seseorang. Tapi kenapa dengan Lucy berbeda? Apa mungkin? Hoh! Tidak mungkin. Sting tak sebodoh itu" kata Natsu dalam hati
Sting berjalan cepat menuju ruang klub Taekwondo. Ia sudah berada di depan ruang klub dan memgulurkan tangannya, hendak membuka pintu. Tapi seseorang lebih dahulu membukanya. Lucy berada di hadapan Sting. Sting terpaku untuk beberapa saat.
"ada perlu apa? Sting?" tanya Erza yang muncul dari belakang Lucy
"eh? Ya?" Sting loading
"apa yang membawamu kesini?" tanya Erza lagi
"itu, aku, aku hanya. Tadi Lucy memintaku untuk mengantarnya untuk mengobati luka ditangannya" jawab Sting berbohong, diliriknya Lucy. matanya mengisyaratkan permohonan agar Lucy menutupi kebohongannya
"benarkah begitu? Lucy?" selidik Erza
Lucy mengangguk. Tanpa pikir panjang, digenggamnya lengan Sting dengan tangan kirinya dan Lucy permisi pergi. Sting tentu terbelalak. Getaran-getaran aneh mulai ia rasakan di dada. Darah yang seakan mendidih dan wajah yang mengeluarkan rona merah.
Anggota Klub taekowndo? Mereka shock! Tak terkecuali Hibiki Latis. Sang ketua Lucy's Fanclub sudah pingsan. Loki datang dan mengipasinya. Darimana Loki datang?
"hoi! Loki! Sejak kapan kau ada disini?" tanya Gray
"aku tak ingat kalau kau anggota kami" lanjut Lyon
"aku baru masuk. Erza menerimaku" jawab Loki
"bohong" kata Gray dan Loki bersamaan
Erza hanya mengepalkan tangannya
"kalau saja Loki tak mengetahui rahasiaku, maka aku tak akan pernah menerimanya!" kata Erza dalam hati
Gray dan Lyon merasakan hawa dingin keluar dari tubuh sang ketua. Seketika mereka pura-pur tidak tahu. Sedangkan Gray, ia tak mau tepar dua kali dalam sehari karena pukulan Erza.
"jadi itulah kenapa kau tadi pergi duluan?" selidik Gray
Loki hanya tertawa. Yang artinya iya.
"bukankah kau ikut Klub Sastra? Apa Levy tidak marah?" tanya Lyon lagi
"tentu tidak. siapa yang akan marah pada pria tampan sepertiku" kata Loki dan membuat huruf V di dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya
"tentu saja ada" jawab suara seseorang yang tak lain adalah Erza. Kali ini ia sudah tidak bisa menahan untuk menghajar Loki
Suara Loki melengking seantero sekolah. Bahkan Natsu yang berada diruang olahraga samar-samar bisa mendengarnya. Loki tepar akibat pukulan maut Erza. Erza menggibas-gibaskan tanannya, tanda ia puas sudah mengeluarkan unek-uneknya pada Loki.
Lucy tetap menggandeng lengan Sting hingga keluar dari gerbang sekolah. ia berhenti dan melepaskan genggamannya. Lucy menulis sesuatu
"kau berbohong?" tanya Lucy
Sting membaca jawaban Lucy dan mulai salah tingkah. Ya, ia memang bodoh dan tak berfikir panjang tentang bagaimana mengajak Lucy ke rumah sakit untuk mengobati lukanya.
"maafkan aku" kata Sting
"tapi Lucy" lanjut Sting dengan segera
"bagaimana kalau kau mengibati tanganmu?" tanya Sting
"bagaimana kalau itu infeksi?" tanya Sting lagi
Lucy mengernyitkan dahinya. Memang lukanya sudah diobati dengan seadanya. Itu sudah lebih cukup. Tiba-tiba Sting . . .
TAP
Meraih tangan Lucy dan menggenggamnya
"eh?" tanya Lucy dalam hati
"kau tidak boleh protes. Anggap saja ini sebagai rasa terimakasihku karena sudah mengantarku pulang kemarin" kata Sting dan menarik gadis itu untuk mengikutinya
Tanpa mereka ketahui, Natsu menyaksikan semuanya. Natsu berdiri tak jauh dari mereka. Dan menggenggam tangannya
"kenapa? Kenapa setelah aku memperlakukannya seperti itu dia malah semakin mendapat simpati? Kenapa? Bukankah harusnya ia dibiarkan? Terutama Sting. Apa yang ada difikirannya? Dia penerus Weisslogia Hospital. Harusnya ia tak ambil resiko dengan mendekati putri terbuang sepertinya. Apa dia sudah ikut tak waras?" tanya Natsu dalam hati
To Be Continue
Akhirnya chapter 2 selesai. Terimakasih sudah membacanya. Bagaimana pendapat kalian readers? Kutunggu reviewnya. Dan kuharap kalian menulisnya. Coz itu akan mempengaruhiku dalam menulis cerita dan mengembangkan ide cerita. Walupun hanya sepatah dua patah kata, aku akan meghargainya. Dan aku akan tahu kalau karyaku dibaca.
Sebelumnya maaf jika ada salah penulisan atau kesalahan-kesalahan lain. Dan harap maklumi kalau mungkin alur atau ceritanya berantakan atau tak sesuai yang kalian harapkan. Saya juga sedang tahap belajar.
Untuk Nalu shipper, maaf ya. Disini Natsu kubuat kejam bahkan mungkin ada yang berpendapat sangat kejam. Tapi tenang saja, nantinya Natsu akan jatuh cinta kok, yah . . . tunggu saja
