Another Key
Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Genre : Friendshiep & Humor
Namikaze Naruto dan Uchiha Sasuke
Hari pertama sekolah berjalan cukup lancar. Setidaknya itu yang dirasakan oleh anggota basket kelas 2 Seirin. Acara perekrutan anggota baru tidak bisa dibilang memuaskan tapi sudah cukup memenuhi harapan. Mereka tidak bisa berharap banyak mengingat klub basket mereka tidaklah begitu popular.
Riko melihat semua biodata. Setelah mendapat lamaran mantan siswa Teikou mereka hanya mendapat dua tambahan.
Esok harinya, dua belas siswa calon anggota basket berkumpul di gym milik Seirin.
Tidak terkecuali dua sahabat yang berada di barisan belakang. Pemilik surai hitam tidak ada ide kenapa calon manajer juga diminta berbaris.
"Hei, manajer itu manis juga?" Keduanya bisa mendengar bisikan itu.
"Dia kelas dua juga? Kalau saja dia sedikit lebih seksi."
Dasar Aho!
Pikiran dari dua sahabat kompak mengatakan demikian.
Benar saja, Hyuga Junpei kakak kelas mereka langsung memberi pukulan gratis. Si pirang tertawa kecil sementara pemuda berambut gelap tidak terpengaruh. Pemuda beriris onix hanya menatap sekilas kakak kelasnya.
Hampir semua siswa baru terkejut ketika Aida Riko mengenalkan diri sebagai pelatih.
Perkenalan hanya permulaan dari segalanya, karena seluruh anggota baru selanjutnya diminta berbaris sesuai urutan lalu diminta membuka baju oleh pelatih. Keluhan serempak terdengar diseluruh penjuru ruangan. Sayangnya mereka tidak bisa menolak, itu perintah pertama dari arsitek tim Seirin.
Si pirang menggigit bibirnya panik dan hal itu dilihat oleh Sahabatnya. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Tetaplah bersikap normal."
Berbalas anggukan singkat, dengan enggan si pirang melepas kaos putih lengan panjang miliknya dan berbaris di samping pria berambut merah gelap. Sang sahabat memutuskan berbaris di paling ujung supaya dia bisa meluruskan kesalah pahaman di akhir pemeriksaan.
Riko kemudian memandang penuh perhatian pada setiap pemain. Sambil membaca daftar nama, dia memberi beberapa masukkan berguna untuk meningkatkan kekuatan tubuh.
"Kamu sepertinya sulit bergerak cepat. Kamu hanya bisa melompat ke samping sebanyak lima puluh kali dalam dua puluh detik. Kalau kamu ingin bermain basket, kamu harus bisa lebih baik lagi."
"Baik." Pemuda paling ujung hanya bisa menjawab singkat.
Riko melanjutkan pengamatannya. "Tubuhmu terlalu kaku. Lakukan peregangan sehabis mandi."
Menakjubkan. Hanya itu yang bisa digambarkan oleh setiap siswa baru tidak terkecuali dari dua sahabat. Mereka tidak menyangka pelatih wanita akan tahu sedetail itu. Riko tidak memberi komentar banyak anak-anak lain.
Sang kakak kelas lebih lama melihat pada Kagami Taiga. Sekali lihat saja orang awam juga sudah tahu pemuda tegap itu punya potensi lebih.
Riko melanjutkan pemeriksaan. "Namikaze Naruto."
Pemilik nama mengangkat tangan. "Hai! Itu aku."
Sang pelatih mengusap dagunya ketika mengamati."Kau punya statistik cukup bagus, mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan untukmu."
"Kuharap begitu, semoga aku cukup berguna." Entah apa maksudnya Namikaze menjawab demikian, tapi tampak jelas dia sedang tertawa canggung.
Riko segera beralih dan si pirang langsung menghela napas lega.
"Kenapa kau tidak membuka bajumu?" Tanya Riko galak begitu melihat keadaan sosok disamping satu-satunya pirang. Pemuda bersurai hitam itu bahkan masih lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Kenapa aku harus?"
"Karena aku perlu tahu statistik tubuhmu."
"Baca baik-baik catatanmu senpai, aku bahkan seharusnya tidak perlu berdiri disini."
Riko terkesiap lalu membaca lagi catatannya baik-baik. Hanya satu nama yang melamar sebagai manajer. Serius tadinya Riko berpikir Uchiha Sasuke adalah seorang wanita yang kebetulan memiliki nama mirip laki-laki.
Riko berkedip. Sepertinya ada kesalah pahaman disini. "Kau tidak sedang bercanda dengan kami Uchiha-kun?"
Pemuda yang bernama Uchiha Sasuke menatap dingin. "Apa aku terlihat bercanda?"
Tidak hanya Riko seluruh orang disana ikut terkejut. Padahal, dari sekilas pandang dia tampak punya potensi menjanjikan. Pemuda itu memiliki tinggi sekitar 180 cm, tubuhnya proporsional dan cukup berisi.
Serius dia ingin menyia-nyiakan potensi yang dimiliki? "Ta-tapi kau-."
"Basket bukan bidangku dan aku lebih yakin kemampuanku lebih berguna bila menjadi manajer tim ini," ucapnya tenang, penuh keyakinan dan tegas. Jawaban itu terdengar sangat otoriter.
Riko mengusap dagu, dari cara bicaranya yang tegas Riko tahu akan sulit mengubah pendirian sang pemuda. Mata hitam sang adik kelas terasa tajam dan menusuk, dua matanya memberikan pandangan tidak nyaman. Untuk menghadapi orang seperti ini, Riko perlu membuat rencana dulu.
Untuk saat ini dia akan mengalah, Riko lalu mendekat pada sang adik kelas.
"Baiklah aku tidak bisa memaksa, tapi aku masih tetap ingin memeriksa tubuhmu Uchiha-kun. Ini perintah pertama sebelum kau resmi jadi manajer kami."
Pelatih Seirin menyunggingkan senyum kemenangan sebelum mundur satu langkah. Awalnya ada tatapan tidak terima namun sang Uchiha tidak punya pilihan.
Dengan enggan pria raven itu menarik resleting gakuran hitam milik Seirin. Dia lalu melepas kemeja putih yang melekat sempurna di tubuhnya. Sesuai prediksi Riko pemuda ini memang punya tubuh yang bagus dan bahkan lebih baik dari beberapa pemula.
Iris coklat sang gadis menyipit. Bukan karena takjub namun hanya sedikit heran dengan statistik tubuh yang dia lihat. Otot lengannya tampak lebih kuat dibanding bagian tubuh yang lain.
"Olahraga apa yang kau mainkan Uchiha-kun?" Mata Riko tidak bisa dibohongi, pemuda di depannya adalah seorang atlet.
"Kendo," jawabnya singkat.
"Teme tidak bisa main basket Pelatih! Dia dan basket seperti musuh!" Dari sisi lain ada jawaban tambahan dari pemuda pirang yang diketahui bernama Namikaze Naruto. Karena sang sahabat irit bicara pemuda ini memutuskan memberi jawaban tambahan.
Riko berpaling. "Teme?" Lalu melihat ke arah Uchiha.
"Ya, maksudku Uchiha Sasuke. Dia sangat payah dalam bermain basket, " jawab satu-satunya blondie penuh semangat.
Semua mata di gym melebar karena terkejut. Sasuke memberi tatapan tajam seolah mengatakan, apa itu masalah untukmu?
"Itu terdengar kasar Namikaze-kun. Seharusnya Uchiha-kun tetap mencoba."
Ada keheningan mendadak ketika tiba-tiba ada suara tanpa wujud disekitar mereka. Saling mencari tapi semua mata tidak menemukan apapun.
"Aku disini." Tepat setelahnya semua orang baru sadar dengan kehadiran seorang pemuda bersurai biru langit disamping Uchiha Sasuke.
"Gyahhhhhhhh!" Hampir seluruh orang dalam gym menjerit.
"HANTUUUUU!" Suara paling cempreng berasal dari si pirang.
Mata Sasuke berkedip beberapa kali, wajahnya masih dingin walau ada sirat terkejut di dalamnya. "Siapa kamu?"
Pemuda bersurai biru muda membungkuk sopan. "Perkenalkan aku Kuroko Tetsuya. Aku sudah dari tadi menunggu disini tapi sepertinya pelatih lupa kepadaku."
"Kuroko Tetsuya dari SMP Teiko?" Aida Riko mengecek lagi list di tangannya sambil melihat pemuda di depannya.
Kuroko mengangguk singkat. Setelah itu kegemparan terjadi di gym milik Seirin.
Dari semua siswa baru Kagami, Uchiha dan Namikaze yang paling bingung. Mereka terabaikan dari percakapan untuk sementara waktu.
Kagami tidak tahu banyak tentang bola basket jepang karena dia pindahan dari Amerika. Pirang kelas satu juga bingung, dia hampir seumur hidup home shooling dan lebih banyak mengikuti NBA jadi tidak tahu apa-apa tentang anggota tim basket sekolah di Jepang. Uchiha lebih parah lagi, dia hanya tahu detail tim Seirin yang baru saja dipelajari semalam.
Melanjutkan pemeriksaan yang tertunda akhirnya Kuroko Tetsuya diminta untuk melepas baju. Riko tidak berkata banyak saat melihat statistik milik Kuroko dan tidak lama kemudian pertemuan pertama segera diakhiri.
Pelatih wanita Seirin tampak menghela nafas panjang setelah hampir semua siswa kelas satu pulang. Jujur saja, pikiran Riko masih tersita dengan statistik mantan siswa Teiko. Apa yang dilihatnya sangat diluar ekspektasi.
Riko lalu membuka handphonenya untuk melihat waktu. Sudah hampir pukul lima dan ini waktunya pulang. Tanpa instruksi lanjut, siswa kelas 2 segera bergegas untuk keluar dari gym.
Tidak disangka, di depan pintu gym mereka telah ditunggu dua siswa baru. "Bisakah kami minta waktu untuk bicara sebentar, senpai?"
Uchiha Sasuke bertanya sopan. Disampingya ada Namikaze Naruto yang anehnya berdiri dan menampilkan wajah gelisah.
Riko dan siswa kelas 2 mengangguk singkat tanpa menolak. Mereka yakin ada sesuatu yang hal penting yang ingin dibicarakan.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" Hyuga bertanya.
"Ini terkait kondisiku senpai," ucap Naruto langsung menjawab. Safirenya meredup sedih.
Seketika satu ruangan hening. Wajah sedih si pirang membuat mereka terhenyak. Jelas itu bukan pertanda baik.
Riko langsung tanggap. "Jika kau tidak nyaman bicara di depan umum, kita bisa bicara lebih pribadi di tempat lain."
"Tidak! Tidak! Lebih banyak orang lebih baik. Tolong dengarkan dan percaya padaku," pinta si pirang penuh harap. Entah apa yang membuat si pirang tampak frustasi tiba-tiba.
"Kau bisa ceritakan apapun, kami adalah senpai-mu," tutur sang kapten serius.
xxx
"Klub bola basket SMP Teikou dalam tim basket yang sangat kuat dengan anggota lebih dari seratus. Tim ini menjadi juara turnamen nasional tiga tahun berturut-turut. Dalam catatan cemerlang tersebut diketahui terdapat lima orang pemain berbakat yang konon kehebatannya hanya bisa ditemukan sepuluh tahun sekali. Karena bakatnya mereka dijuluki Kiseki no Sedai. Namun ada isu lain mengenai mereka, tentang anggota bayangan ke enam. Selama tiga tahun berturut mereka menjadi juara nasional dan kini mereka masuk SMA yang berbeda-beda di Jepang. Sementara hanya data itu yang aku dapat."
Begitu selesai membaca, Sasuke menutup buku catatannya. Alisnya langsung berkedut kesal mendapati Naruto justru berbaring damai dengan mata tertutup dan kepala berbantalan handuk mandi di tempat tidur.
Sialan!
Buku ditangan langsung dilempar dengan manis oleh Sasuke. Harapannya buku itu akan langsung menghantam wajah pria berkulit tan sahabatnya, namun harapannya meleset. Buku itu berhasil ditangkap saat iris safire itu terbuka di waktu yang tepat.
"Ne, Teme melempar-lempar buku itu bukan kebiasaan yang baik tahu!" Jawabnya malas. Dengan enggan dia lalu berdiri dari tempat tidur lalu mengambil kursi lain di sudut kamarnya untuk duduk di dekat Sasuke.
Sasuke memberi pandangan menuntut. "Kau tidak mendengarkanku, Dobe."
"Aku mendengar semuanya dan aku tidak peduli."
"Begitukah? Tapi, sepertinya lapangan basket tidak akan semembosankan yang kukira. Para prodigy selalu jadi bumbu menarik dalam sebuah kompetisi. Aku suka itu."
Naruto mengulum senyum kecil. Jadi yang terbaik memang ada dalam darah Uchiha tapi sayang kali ini bukan wilayah dominasinya. "Aku terkesan, lebih lagi kata-kata itu datang dari orang yang tidak bisa bermain basket."
Sasuke cemberut. "Kau benar-benar tahu cara menghancurkan suasana hati, Dobe!"
"Ya ya ya, mari kita tinggalkan topik itu. Ada masalah yang harus aku urus besok." Si pirang berubah ke mode seriuas.
"Apa?" Tanya Sasuke penasaran, seingatnya semua telah berjalan sesuai rencana.
Sang sahabat meringis pahit. "Aku kehabisan sarung tangan dan cairan pembersih."
Dahi Sasuke mengernyit lebih dalam.
Terkutuklah pengidap Germaphobia satu ini!
Uchiha bungsu tidak habis pikir bagaimana mungkin sahabatnya yang super hiperaktive dan ceroboh minta ampun bisa mengidap germaphobia sejak kecil.
Semua karakternya sangat bertolak belakang dengan apa yang dia idap. Sasuke merasa kasihan karena dibalik keriangan Naruto dia mempunyai keterbatasan dibanding orang normal. Ini seperti kutukan untuk sahabatnya. Dia tidak memiliki kebebasan seperti orang lain.
"Ne, Teme ayo temani aku membelinya!" Ajak Naruto sambil menarik-narik lengan baju Sasuke seperti anak kecil.
Ini dia satu lagi masalahnya. Pengidap Germaphobia biasanya tidak bisa sembarangan disentuh orang lain. Untuk kasus Naruto, si pirang memiliki empat orang yang bisa ditoleransi tubuhnya yaitu ayah dan ibunya sendiri, Iruka guru home schooling-nya sejak kecil dan Sasuke.
Gyah!
Sasuke benci dengan hal ini.
Gara-gara hal ini muncul rumor bejat diantara teman-teman lainnya. Demi apapun dia juga tidak tahu kenapa tubuh Naruto begitu tolerir. Dengannya, dia bisa saling menonjok dan memukul sesuka hati tanpa gangguan. Sungguh berbanding terbalik bila Naruto disentuh orang lain, si blonde akan langsung pingsan.
"Lepaskan, beli saja sendiri. Aku juga mau pulang!" Siapapun yang kenal Naruto tahu betapa merepotkannya ketika dia belanja.
"Temani aku Teme!"
"Tidak!"
"Teme sialan!"
Sasuke tidak mengindahkan teriakan Naruto untuk melangkah pergi dari kamar. Hari ini sudah cukup melelahkan baginya dan sudah cukup pula hari ini berurusan dengan segala sesuatu berbau benda orange.
Sasuke bukan Naruto yang tergila-gila pada basket tapi dia cukup menikmatinya bila hanya menonton. Pemuda raven itu belum bisa membayangkan terlalu jauh bagaimana mereka dalam tim.
Masih terlalu dini.
.
Hai..hai jumpa lagi. Sekedar pemberitahuan, fanfic ini terinspirasi dari anime Keppeki Danshi! Aoyama-kun. Itu anime sangat menghibur. Bisa coba ditonton kalau belum tahu, silahkan coba tonton.
Terimakasih sudah membaca dan memberikan review. Saya sejujurnya sangat berterimakasih atas apreasiasinya, walau hanya meninggalkan kata 'next, lanjut dll tapi akan lebih baik bila memberi saran yang bermanfaat.
Terimakasih
