Blue Moon
Sequel of The Moon
Kaisoo as main pair
GS! Rated T
.
.
.
.
Author by rerudo95
Cerita ini murni ide sendiri. Terinspirasi dari beberapa drama korea. Genderswith untuk Kyungsoo dan beberapa cast yang lain. Ada beberapa kutipan yang saya ambil dari drama korea
Jika ada kesamaan dengan cerita lain, semua hanya unsur ketidaksengajaan.
Don t like, don t read
RnR
Happy Reading
.
.
.
" Jika kita bertemu lagi, aku yang akan lebih dulu mengenalmu. Jika kita bertemu lagi. Aku yang akan lebih dulu jatuh cinta padamu. Aku akan menjadi pelindung untukmu. Selamat jalan Kyungsoo. Sampai bertemu dikehidupan selanjutnya. "
Seorang pria terbangun dengan nafas memburu. Tubuhnya berkeringat meski pendingin ruangan sudah dinyalakan. Pria itu memijat pelipisnya. Meringankan denyut menyakitkan dikepalanya. Mimpi itu datang lagi. Suaranya yang mengucapkan janji. Serta bayang-bayang samar seorang gadis.
Dalam mimpinya ia memanggil nama Kyungsoo. Siapa dia sebenarnya. Dari semua teman-temannya, kolega bisnis bahkan keluarga, ia tak pernah menemukan nama itu.
" Sial. " umpatnya ketika rasa pening itu kembali menyerang. Ia menyerah untuk berpikir. Lagipula itu hanya mimpi.
Pria itu menyibak selimut yang membungkus tubuhnya dan pergi kekamar mandi. Pria tadi memutuskan untuk lari pagi saja. Toh ia juga tak bisa tidur lagi.
...
Tepat satu jam setelahnya, sang pria, Kim Jongin, kembali keapartemennya. Sedikit terkejut saat menemukan dua orang berbeda jenis kelamin itu sudah ada dirumahnya. Byun Baekyun kekasihnya dan Park Chanyeol sahabatnya.
" Hei, aku tidak melihat mobilmu. " ucapnya sambil memberikan satu kecupan pada seorang wanita cantik dengan mata bulan sabitnya yang indah.
" Biasa. Bengkel selalu minta tambahan hari. " gerutunya. Wanita itu melanjutkan kegiatannya membuat sandwich untuk sang kekasih.
" Kalian datang bersama? "
" Oh. Nenek lampir itu merusak gendang telingaku pagi-pagi. " sahut seorang pria jangkung yang duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Jongin hanya mengangguk sambil tersenyum geli melihat Baekhyun mencibir Chanyeol tanpa suara.
Mereka memang sedikit unik. Mereka menyebut diri mereka sahabat namun tak pernah akur. Entah siapa dulu yang mulai, Chanyeol maupun Baekhyun selalu adu mulut. Jika sudah sampai melakukan kekerasan fisik, biasanya Baekhyun akan memukul Chanyeol ketika ia kalah, maka Jongin yang harus jadi penengah.
" Aku mandi dulu. Dan kalian. " tunjuk Jongin pada Chanyeol maupun Baekhyun.
" Jangan bertengkar. "
" Kapan kami bertengkar? " kilah Baekhyun. Masih fokus dengan ponselnya, Chanyeol berjalan kearah dapur. Mengambil sepotong roti tawar dan mengacak rambut Baekhyun.
" Tenang saja. Lagipula aku mau pergi. "
" Kemana? " tanya Jongin. Sedikit heran dengan senyum di wajah Chanyeol. Pria yang satu tahun lebih tua darinya itu memang sering tersenyum. Tapi tidak dengan pipi merona dan mata berbinar.
" Sampai jumpa nanti siang. " Jongin menoleh bingung kearah Baekhyun. Bisa ia lihat kilatan tidak suka dimata sipitnya. Namun wanita itu langsung memalingkan muka.
" Dia mau menjemput seseorang. " jawab Baekhyun pada pertanyaannya. Entah mengapa suara Baekhyun terdengar ketus. Jongin tak bisa melihat ekspresi wajahnya karena kini Baekhyun berdiri membelakanginya. Berkutat dengan kompor untuk menggoreng telur mata sapi.
" Siapa? "
" Aku tidak tahu. Kau tidak mandi? Lihat ini hampir jam delapan. " Jongin mengangguk cepat. Hari ini adalah hari senin. Ia tidak boleh terlambat meski ia seorang bos. Sekali lagi ia melirik Baekhyun. Melihat bagaimana wanita itu melamun. Jongin bertanya dalam hati. Apa yang salah dengan wanitanya?
...
" Takdir adalah sesuatu yang mempertemukan kita. Karena kita tidak akan percaya pada fakta bahwa semua terjadi secara kebetulan. " - Sleepless in Settle
Jongin menutup dokumen terakhir yang harus ia tanda tangani. Ia meregangkan ototnya yang kaku karena terlalu lama menunduk. Hari sudah cukup siang. Setidaknya ia tak melewatkan makan siangnya lagi.
Ia menatap ponselnya yang berkedip. Mengerutkan keningnya karena tak sadar jika banyak pesan dan telepon masuk. Senyum mengembang di bibirnya saat melihat pesan-pesan yang dikirimkan Baekhyun padanya. Geli karena rengekan Baekhyun yang merasa ia abaikan.
Ia hendak menelpon wanita itu namun Baekhyun sudah lebih dulu muncul di kantornya dengan bibir yang mengerucut lucu.
" Kenapa tidak balas pesanku? Bahkan dibaca saja tidak. " gerutunya. Menghempaskan diri diatas sofa kantor. Jongin beranjak dari kursinya dan duduk disamping Baekhyun. Wanita itu langsung melingkarkan tangannya pada lengannya dan bersandar dibahunya.
" Sudah makan? " tanyanya. Merapikan surai coklat Baekhyun yang menutupi wajah ayunya.
" Belum. Chanyeol mengajak kita makan siang bersama. "
" Tumben. "
" Katanya dia ingin mengenalkan seseorang pada kita. " Jongin kembali mendengar nada ketus Baekhyun. Dua kali hari ini dan dengan alasan yang sama. Seseorang yang coba Chanyeol masukkan dalam lingkaran kisah mereka bertiga.
" Kalau begitu ayo. Dimana? "
" Di kafe biasa. Kau mau datang? "
" Tentu saja. Kenapa? Kau tidak mau? "
" Bukan begitu. "
" Kenapa? "
" Bagaimana jika setelah mengenalnya kalian jadi melupakan ku? "
" Hei kau cemburu rupanya. " meskipun ia tak yakin pada siapakah Baekhyun merasa cemburu. Baekhyun mencebikkan bibirnya saat mendengar suara tawa Jongin. Pria itu merendahkan tubuhnya. Memberi kecupan pada hidung bangir Baekhyun. Padahal sesungguhnya ia ingin mengecup bibir cherry itu.
" Tidak perlu kuatir. Tak akan ada yang mengabaikanmu. "
" Janji? "
" Eoh. Janji. "
...
Rupanya Jongin dan Baekhyun datang lebih dulu. Dengan jalan menghentak dan bibir yang terus mengeluarkan seribu kata penuh kekesalan, Baekhyun mencari tempat yang nyaman. Meja nomor 8 menjadi pilihan. Letaknya yang sedikit terpisah dari meja lain memberi ruang privasi bagi mereka.
Baekhyun masih saja mengomel sehingga Jongin harus mengeluarkan jurus andalannya. Memesan strawberry cake untuk wanitanya yang marah. Ia tak berani menyela. Karena jika ia melakukanya, Baekhyun akan mendiamkannya selama seminggu penuh.
Baekhyun sudah menghabiskan satu porsi cake nya dan Jongin dengan segelas kopinya. Chanyeol datang bersama seorang gadis mungil digandengannya. Jongin terpaku pada senyum gadis itu. Matanya yang membulat ketika terkejut seketika menyipit lucu saat tertawa. Jantung Jongin berdetak lebih cepat tanpa bisa ia cegah. Tubuhnya seolah mati saat gadis itu berdiri didepannya dan tersenyum padanya.
" Maaf, tadi kami pergi ke klinik sebentar. "
" Kau sembelit? " suara Baekhyun memutuskan tali pandang antara Jongin dan gadis itu. Dengan canggung ia menatap Baekhyun yang terlihat sangat kesal pada Chanyeol. Pria jangkung itu memilih mengabaikannya. Ia lebih memilih memanggil pelayan dan memesan.
" Maaf. Aku yang tadi meminta Chanyeol oppa berhenti di klinik. "
" Eoh. Tidak masalah. " jawab Baekhyun sungkan. " Memang kau sakit apa? "
" Bukan aku. Aku membeli obat untuk kucing ku. "
" Kau masih menyebutnya kucing? Seharusnya kau menyebutnya macan. " Chanyeol menyahut. Sementara Jongin hanya memperhatikan. Jantungnya menggila setiap suara gadis itu terdengar. Ia tak bisa menemukan lidahnya sendiri untuk sekedar bertanya siapa namanya.
" Ah maaf. Perkenalkan namaku Do Kyungsoo. " ia menjabat tangan Baekhyun. Beralih mengulurkan tangannya kearah Jongin. Namun Jongin sama sekali tak bisa bergerak. Kyungsoo ragu-ragu menarik tangannya kembali.
" Maaf aku harus kembali ke kantor. " pamit Jongin. Baekhyun berlari mengikuti Jongin. Menyisakan Chanyeol dan Kyungsoo yang kebingungan.
Dan begitulah awal pertemuan mereka.
...
" Mereka tidak pernah tahu. Hanya kita bisa merasakan dunia yang berbeda dengan sempurna. Mereka tidak pernah tahu. Bagaimana kita menjadi begitu dekat. " exo - they never know
Menjadi sebuah kejutan bertemu dengan Kyungsoo dua hari setelahnya. Gadis cantik itu bekerja sebagai staff yang berada langsung dibawah naungannya. Jongin bertanya takdir macam apakah yang coba mempermainkan mereka.
Setiap mimpi yang terus menghantuinya setiap malam. Merangkai kejadian menjadi sebuah drama bersambung. Dimana dirinya dengan pakaian yang ia ketahui sebagai pakaian pangeran lewat drama-drama picisan yang di tayangkan di televisi. Menjadi pemeran utama dalam kisah mimpinya sendiri.
Ia melihat Baekhyun dan Chanyeol. Dalam versi kerajaan pula. Hingga satu mimpi membawa dirinya pada rasa pahit yang mendarah daging. Ia melihat penghianatan pada mata Chanyeol dan Baekhyun. Tubuh lemah tak berdaya Kyungsoo berbaring lemah dalam pelukannya. Menhabiskan setiap hela nafas terakhirnya dengan ketulusan kasih sayang untuknya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Jongin kembali menangis. Seperti seorang bayi yang baru lahir. Ia merasa kosong dan tak tahu apa yang harus ia lakukan.
...
" Mereka tidak pernah tahu. Mereka belum pernah melihat sisi biru yang lain dari bulan. Mereka tidak pernah tahu. Alasan aku terus mendekat denganmu. " exo - they never know
Jongin pantas disebut sebagai kura-kura dan pengecut. Berjalan sangat lambat, sembunyi dalam cangkang karena ketakuatan yang ia buat sendiri. Sudah satu minggu ia membangun dinding tebal menjauh dari kehidupan normalnya.
Bahkan Baekhyun. Ia menjauh dari wanita itu. Mengatakan jika ia sibuk karena proyek baru, tidak sepenuhnya bohong. Terlebih, ia tak bisa melihat Baekhyun sama seperti dulu. Mungkin ia bodoh karena terlalu percaya pada mimpi. Namun keraguannya diperkuat saat Baekhyun mengigaukan nama Chanyeol dalam tidurnya.
Ia jadi bertanya-tanya apa yang tidak ia ketahui tentang dua orang itu.
Untuk saat ini ia tak bisa mencari tahu. Ia terlalu sibuk mengurus proyek barunya. Kepalanya semakin berdenyut sakit saat ia tahu hanya Kyungsoo yang kompeten menangani masalah ini.
Ia harus meruntuhkan egonya. Seraya mencari tahu mengapa ia begitu lemah terhadap Kyungsoo. Lima menit lagi ia akan melihat mata bulat itu. Dan sesungguhnya ia tak yakin mampu berada bersama dengan Kyungsoo diruangan yang tertutup.
Ketukan pelan dipintu mengacaukan siasat menghadapi Kyungsoo diotak Jongin. Ia semakin merasa bersalah saat melihat Kyungsoo yang tak berani menatapnya. Ia tahu Kyungsoo mengira jika ia tidak menyukainya. Dan itu omong kosong besar. Sesungguhnya, Kyungsoo memiliki efek tersendiri untuknya yang masih belum bisa ia jelaskan.
" Ada apa sajangnim memanggil saya? " suara halusnya menggema dikepala Jongin. Membuatnya bertanya bagaimana suara Kyungsoo yang sedang tertawa.
" Duduklah. "
Jongin mengepalkan tangannya dalam saku. Menjaga wibawanya sebagain seorang atasan.
" Untuk yang terakhir kali. Aku secara pribadi minta maaf. " Jongin menggeram didalam kepalanya. Ia suka bagaimana cara Kyungsoo membulatkan matanya. Ia berdehem dan tersenyum kecil. Merasa canggung dengan respon Kyungsoo yang malah justru terlihat imut.
" Aku tidak tahu mengapa aku jadi brengsek hari itu. " ia mengangkat bahu. Meminta maaf untuk pilihan kata yang buruk. Gadis itu berkedip. Mengusap tangannya ke setelan yang dipakainya.
" Tidak apa. Saya mengerti jika Anda sibuk. "
" Aku senang kau mengerti. " ia meminta maaf sekali lagi dalam hatinya karena menjadi pengecut. Ia tidak sibuk saat itu. Ia hanya takut. Ia takut bertemu Kyungsoo disaat dirinya belum siap.
" Jadi bisakah kau menghilangkan kecanggunganmu padaku. Karena aku membutuhkan banyak bantuanmu untuk proyek kali ini. " Jongin lega melihat Kyungsoo tersenyum. Ia mengulurkan tangannya.
" Saya bisa diandalkan, sajangnim. "
Ketika dua tangan itu bersentuhan. Jongin tahu, ia telah mengambil kembali benang merah yang terputus diantara mereka. Benang merah yang mereka sebut takdir.
...
Kyungsoo adalah orang yang menyenangkan. Ia cerdas dan humoris. Dalam waktu yang singkat mereka menjadi akrab. Jongin merasa nyaman menghabiskan banyak waktu bersama Kyungsoo dimanapun.
Ia merasa bersalah karena sedikit melupakan Baekhyun saat ia bersama dengan Kyungsoo. Jadi malam ini setelah ia menyelesaikan bahan presentasinya. Ia berkunjung ke apartemen Baekhyun. Sebuket bunga mawar di tangannya sebagai sogokan jika Baekhyun marah.
Ia tak memencet bel karena ia punya kuncinya. Apartemen Baekhyun sunyi namun lampu menyala terang. Ia mengerutkan kening. Menelusuri sepanjang lorong dan menemukan pintu kamar Baekhyun terbuka sedikit.
Langkah kakinya pelan mendekat. Matanya terbelalak. Tak bisa mencegah rasa kagetnya melihat Baekhyun dan Chanyeol. Bercumbu di ranjang wanita itu. Genggaman tangannya mengerat. Dengan seringai mengerikan Jongin berbalik pergi.
Ia tahu mimpinya bukan sekedar bunga tidur. Itu peringatan. Peringatan yang sangat keras.
...
Hari ini mereka akan pergi ke Jeju. Jongin dan Kyungsoo. Sesungguhnya bukan waktu yang tepat dirinya pergi. Ia masih teringat kejadian semalam dan tentunya ia merasa marah. Ia benci dibohongi.
Kyungsoo menepuk pelan lengannya saat ia kembali melamun.
" Pesawatnya akan lepas landas. Kenakan sabuk pengamannya. " Jongin melirik kearah pramugari yang menatapnya aneh. Jongin segera memakai sabuk pengamannya. Lebih baik tidak ia lepas lagi karena perjalanan ini hanya sebentar.
" Biarkan seperti ini untuk sesaat. " ucap Jongin. Merasakan tubuh Kyungsoo menengang didalam genggaman tangannya. Aroma Kyungsoo menenangkannya. Meredakan emosi yang meledak-ledak dalam dirinya.
" Aku membutuhkan ini. " bisiknya. Menenggelamkan diri pada aroma Kyungsoo yang pekat. Tubuh gadis itu kembali rileks. Mengusap punggung tangan Jongin dengan ibu jarinya. Diam-diam Jongin tersenyum. Jantungnya berdetak cepat namun nyaman. Ia tak menyesal membawa Kyungsoo pergi bersamanya.
Kyungsoo seperti magnet yang terus menariknya mendekat. Ia tidak berdaya.
...
Ini adalah hari ketiga mereka berada di Jeju. Masih ada satu malam sebelum mereka kembali ke Seoul besok. Jongin sudah mengantongi satu investor ternama untuk kelangsungan perusahannya. Jadi setidaknya ia sudah menyingkirkan satu masalah didalam kepalanya. Selalu berputar antara perusahaan, Baekhyun dan Kyungsoo.
Ia telah merenung. Tak seharusnya ia marah dan merasa dihianati. Menyadari jika ia telah melakukan hal yang sama. Ia menghianati Baekhyun meski dengan cara yang sedikit berbeda.
Kyungsoo. Gadis itu selalu membuatnya melupakan segalanya. Ia cantik dan memikat. Kecerdasannya membuat Jongin tenggelam dalam kekaguman yang mendalam. Satu lagi yang begitu kentara menjelaskan jika ia berhianat.
Ia tak bisa pergi menjauh dari Kyungsoo. Tak bisa melewatkan sentuhan meski hanya sebatas genggaman tangan. Posisi Baekhyun bergeser. Bahkan sejak pertama kali ia bertemu dengan Kyungsoo.
Matanya menyipit menatap bayangan familiar di kejauhan. Bermain dengan ombak pasang dan pasir. Jongin mengerutkan kening. Menyambar jaketnya dan berlari ke arah Kyungsoo. Ia cemas karena air pasang bukanlah hal yang aman.
" Apa yang sedang kau lakukan? " suaranya terdengar cukup lantang. Kyungsoo menoleh dan tersenyum lembut.
" Menikmati pantai. Hari ini hari terakhir kita disini. Dan seingatku kita tak pernah menikmati pantai. " ujarnya. Jongin terhanyut pada senyum Kyungsoo lagi. Bahkan bulan yang menyinari mereka tak sanggup mengalihakan Jongin pada pesona Kyungsoo.
" Pasang tak aman untuk keselamatanmu. " ia menarik Kyungsoo menjauh dari tepi pantai.
" Aku bisa berenang. " kekehnya penuh jenaka. Jongin mengerutkan kening tidak suka dengan gagasan Kyungsoo. Gadis itu mengerutkan bibir. Melangkah mundur beberapa langkah menjauhi ombak.
" Apa jarak ini aman? "
" Ya. "
" Mau menikmati bulan bersamaku? "
Mereka tak perlu bicara untuk menjadi akrab. Tak ada yang bisa mencegah Jongin untuk duduk dibelakang gadis itu dan memeluknya. Ia senang Kyungsoo tak menolak. Justru bersandar lebih padanya. Jongin menanamkan ciuman pada rambut Kyungsoo. Menyukai bagaimana aromanya memikat jantungnya untuk berdetak lebih cepat.
Ia berhianat lagi. Tapi tak ada niatan untuk berhenti.
" Apa yang kau pikirkan? " bisik Kyungsoo. Mengusap lengan Jongin yang melingkari perut ratanya.
" Kau. "
" Kita berdosa. Kita akan dihukum. "
" Kita akan melewatinya bersama. "
" Tapi kau mencintai Baekhyun eonni. "
" Dan kau milik Chanyeol. "
Jongin mengerutkan kening. Kyungsoo mendengus dan tertawa keras.
" Apa yang lucu? "
" Aku bukan milik Chanyeol oppa. Dia kakakku. " Jongin memandang Kyungsoo dari samping. Memastikan jika gadis itu tidak berbohong. Sorot mata Kyungsoo jujur. Tak menyembunyikan apapun termasuk perasaan terdalamnya untuk Jongin.
" Dia kakakku. Meski bukan saudara kandung. Aku punya darah tuan Park dalam tubuhku. " Jongin memeluk semakin erat. Menyadari kesedihan pada mata Kyungsoo yang jernih. Dadanya bergemuruh mengetahui satu fakta ini.
" Well. Jadi masalahnya tidak akan serumit kelihatannya lagi. "
" Apa maksudmu? " Kyungsoo sedikit menjauh dari Jongin. Memutar tubuhnya sehingga ia bisa menatap wajah Jongin.
" Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Baekhyun. "
" Tapi... tidak bisa begitu. "
" Kyungsoo. Aku tahu apa yang aku lakukan. "
Jongin menyentuh pipi Kyungsoo dengan tangannya. Mengelus lembut memberikan ketenangan.
" Jangan biarkan pikiranmu menguasaimu. Tanyakan pada hatimu apa yang kau inginkan. " Kyungsoo terdiam untuk waktu yang lama. Dan Jongin adalah orang penyabar. Ia tetap menunggu Kyungsoo. Menatap dalam mata bulat Kyungsoo yang cantik.
" Aku ingin kau. "
" Maka itu sudah cukup. "
Jongin menraup bibir Kyungsoo yang beku karena dingin malam. Menyesapnya lembut dan penuh kasih. Sentuhan lembut, nyaris tak terasa, dari bibir Kyungsoo membuatnya gila. Ia menekan tengkuk Kyungsoo. Semakin memperdalam ciuman mereka. Perlahan, dengan sangat hati-hati Jongin membaringkan Kyungsoo dipasir putih. Menciumnya dengan lebih rakus.
Dibawah bulan biru. Jongin telah mengikat takdirnya. Menjadi milik satu-satunya.
...
Jongin menggenggam tangan Kyungsoo yang berkeringat. Ia tahu wanitanya gugup. Mereka akan bertemu dengan Baekhyun dan Chanyeol. Menyelesaikan apa yang seharusnya mereka selesaikan.
Chanyeol memandang tajam padanya saat ia datang ke meja yang mereka pesan. Untunglah ia telah memesan ruangan yang tertutup. Baekhyun sama sekali tak mau mengangkat kepalanya. Karena ia tahu ini juga salahnya. Jongin sudah berbicara lebih dulu pada Baekhyun malam sebelumnya.
" Jadi apa maksud dari semua ini? " geram Chanyeol. Ia mengitimidasi Kyungsoo dengan tatapannya dan secara otomatis Jongin bergerak bagai benteng pelindung.
" Menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. "
" Apa yang perlu diselesaikan? "
" Apa Baekhyun tak memberi tahumu? " Chanyeol menoleh kearah Baekhyun yang tetap menunduk. Jelas ia tak tahu tentang apapun.
" Hubungan kami berakhir. " bisik Baekhyun lirih. Tangan Chanyeol mengepal hendak meninju wajah Jongin. Kyungsoo lebih dulu berdiri dihadapannya sehingga ia yang terkena tinjuan Chanyeol. Semua memandang tak percaya pada apa yang Kyungsoo lakukan. Jongin bergegas merengkuh Kyungsoo yang meringis kesakitan. Wajahnya langsung membiru dan sudut bibirnya robek.
Jongin melayangkan tatapan penuh amarahnya pada Chanyeol yang diam bergeming ditempat. Matanya memandang kosong Kyungsoo yang mencoba berdiri. Juga merasa tak percaya dengan apa yang dilakukannya.
" Bisakah ini diselesaikan baik-baik? Kalian menakutiku. " teriak Baekhyun. Wanita itu menarik Chanyeol kembali duduk di sampingnya. Sedangkan Jongin membantu Kyungsoo berdiri.
Suasana benar-benar menjadi dingin. Ego tingga dua lelaki yang ada disana memperparah keadaan. Sambil meringis sakit, Kyungsoo mencoba mengambil langkah.
" Ada banyak hal yang perlu diselesaikan. Kenapa kalian hanya diam? "
" Kalau begitu aku yang akan memulai. " sahut Baekhyun. Wanita itu menatap Jongin penuh penyesalan.
" Maaf Jongin karena selama ini aku hanya menggunakanmu sebagai umpan. " Baekhyun melirik sekilas kearah Chanyeol yang masih bertahan pada egonya. Wanita itu mendesis kesal dan melanjutkan ucapannya.
" Aku mencintai pria bodoh ini, mengira dia akan sadar dengan perasaannya. Tapi sampai sekarang dia tetap bodoh. Malam itu, apa yang kau lihat minggu lalu, aku melakukannya dengan keadaan sadar. Dia pun begitu. Aku minta maaf. " sesal Baekhyun. Sama sekali tak berani menatap Jongin. Ia beralih pada Kyungsoo dan meringis. Seolah ia merasakan sakit yang sama akibat pukulan Chanyeol tadi.
" Aku tidak marah Baek. Sesungguhnya aku juga bisa dibilang menghianatimu. Aku jatuh cinta pada Kyungsoo. Apa sekarang kita impas? " Baekhyun tersenyum. Keduanya tidak menyimpan dendam meski dibilang mereka saling menyakiti. Karena selama mereka bersama mereka memang saling menyayangi, layaknya saudara laki-laki dan saudara perempuan.
" Sekarang masalahnya tinggal dia. " Jongin menunjuk Chanyeol tanpa sopan santun. Pria itu mengendurkan otot punggungnya dan bersandar pada kursi.
" Aku tidak bodoh Baek. Aku tahu perasaanku sendiri. " Chanyeol menghembuskan nafas panjang. Tangannya meraih tangan Baekhyun yang mengepal dibawah meja.
" Aku sadar aku mencintaimu sejak lama. Mungkin sejak kita berada di bangku sekolah. Tapi aku sadar siapa dirimu dan siapa diriku. Jadi aku tak berani mendekat. " Chanyeol tersenyum pedih sedangkan Baekhyun mencoba menahan tangis. Jongin dan Kyungsoo hanya menonton. Sama sekali tak mau ikut campur. Biarkan dua orang dewasa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Itu yang Jongin katakan sebelum mereka masuk kedalam sini.
" Mengapa kau merasa begitu? " tanya Baekhyun.
" Aku hanya seorang musisi biasa Baek. Sedangkan kau putri pemilik Byun Corp. Jongin lebih cocok untukmu. " kini Baekhyun sama sekali tak bisa menahan air matanya. Ia mencintai pria sederhana ini setengah mati. Ia akan lakukan apapun agar bisa bersama dengan Chanyeol. Termasuk melepaskan nama Byun dari namanya.
Seolah mengerti apa yang Baekhyun pikirkan Chanyeol menggeleng tegas.
" Jangan lakukan apa yang sedang kau pikirkan sekarang. Aku mendapat kontrak dengan salah satu agensi besar. Mereka menyukai laguku dan berniat membelinya. Sampai saat itu terjadi. Sampai aku layak mendampingimu, maukah kau menunggu? " Baekhyun mengangguk. Memeluk Chanyeol dan menangis di bahunya.
Jongin dan Kyungsoo tersenyum lega. Akhirnya masalah ini selesai.
...
Kyungsoo pikir masalah telah selesai. Namun sampai didalam mobil Jongin masih terlihat tegang. Pria itu bersikap dingin padanya dan tak mau memandangnya. Ia berpikir keras kesalahan apa yang sudah ia perbuat.
" Aku marah padamu. " geram Jongin ketika mereka telah berada didalam mobil. Kyungsoo memiringkan tubuhnya kearah Jongin. Menatapa pria itu dengan kerutan dalam.
" Apa kau akan terus mengumpankan dirimu sendiri dan menerima pukulan dari siapapun yang mencoba menyerangku? " Jongin menatap Kyungsoo marah. Tak ada alasan baginya untuk melunak pada sifat Kyungsoo yang keras kepala.
" Tidak bisakah kau hanya mengucapkan terimakasih? " kerutan Kyungsoo semakin dalam melihat Jongin tertawa sinis.
" Omong kosong. " wajah frustasi Jongin membuat Kyungsoo tersenyum. Tanpa sengaja membuat luka di sudut bibirnya kembali terbuka. Jongin mencondongkan tubuhnya melihat luka Kyungsoo.
" Lihatlah apa yang kau perbuat. "
" Aku selalu melindungi apa yang aku cintai Jongin. Termasuk melemparkan diriku dalam bahaya. "
" Jangan lakukan itu lagi. Aku yang seharusnya melindungimu. "
" Kita lihat saja nanti. " Jongin tersenyum lembut. Wanitanya yang keras kepala, cerdas dan cantik. Ia tak bisa menghentikan dirinya untuk jatuh cinta lagi pada Kyungsoo.
Perlahan jarak mereka semakin menipis. Mempertemukan kedua belah bibir dalam ciuman yang manis. Menyesapnya dengan hati-hati. Takut melukai Kyungsoo.
" Apa aku menyakitimu? " Kyungsoo menggeleng. Memiringkan kepalanya. Menyesap bibir Jongin kuat. Mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Dengan senyum dibibir masing-masing keduanya memadu kasih. Mengatakan seribu kata cinta lewat sentuhan bibir mereka.
" Aku mencintaimu. "
" Aku lebih mencintaimu. "
.
.
.
.
.
Dalam kegelapan malam seorang pria duduk di kursi kebesarannya. Menatap lembar-lembar foto yang tersebar acak di atas meja. Tangannya yang pucat memegang sebuah foto. Foto seorang wanita dengan mata bulat yang teduh seperti bulan dan senyum berbentuk hati yang sehangat mentari pagi.
Senyum mengerikan terukir dibibir tipisnya. Memandang penuh dendam pada orang lain yang juga berada dalam foto yang sama. Seorang pria berkulit tan yang tersenyum bahagia.
" Apa yang akan anda lakukan tuan? " tanya seseorang dalam kegelapan. Tenang tanpa rasa takut.
" Ia harus merasakannya. Ketika semua yang ia miliki di renggut satu per satu. " bisiknya dingin. Membuat siapapun yang mendengarnya memilih berlari menjauh.
" Kita mulai dari dia. Harta miliknya yang paling berharga. "
.
.
.
.
TBC
Haloha...
Sorry for late post...
Well, setelah dipertimbangkan akhirnya aku buat twoshoot.
Ga tau deh ini cerita apaa... TT
but hope you like it...
Cus review guys... thanks... see you next chap...
Thanks to :
Kaisoomin, unniechan1, dodyoleu, dinadokyungsoo1, kim YeHyun, , kadi couple, boonie18, kim gongju, kim leera, anaknya chansoo.
