Disclaimer : Naruto tetap milik Masashi Kishimoto dan fiksi ini cuma buat kesenangan belaka.

xxxxxx

Seminggu pertama pasca insiden Pembantaian Klan Uchiha terasa seperti neraka.

Aku sempat berpikir apakah aku harus menyiapkan diri untuk mampir ke psikiater sebelum kemudian bertanya-tanya apakah di Konoha terdapat jasa pengobatan mental.

Sedetik kemudian aku teringat bagaimana gilanya para pemeran utama antagonis di series Naruto. Detik itu juga aku sadar bahwa di sini tidak ada jasa pengobatan sakit mental. Satu-satunya klan yang diberi tanggung jawab untuk mengatasi trauma para ninja adalah klan Yamanaka.

Yamanaka memakai teknik yang mampu membaca kondisi kejiwaan pasiennya dan melihat semua memori si pasien.

Aku memutuskan untuk menyisihkan opsi itu setelah mengingat bagaimana teknik Yamanaka bekerja.

Terima kasih. Aku sudah gila. Aku sungguh tidak perlu orang lain melihat rincian ingatanku yang juga berisi memori tentang kehidupan Felonya Dwianata selain ingatan milik Akira Uchiha.

Memori sialan itu mulai mempengaruhi cara berpikirku. Akira yang penuh perhitungan, cerdas, sopan, penurut, dan embel-emel Uchiha lain itu seakan telah tenggelam. Kini, pemikiran seorang Uchiha Akira menjadi serampangan, sarkastis, dan cenderung apatis.

Apatis dan pesimis, dibuktikan dengan bisikan mengesalkan di belakang kepalaku yang terus menerus menyarankanku untuk mati saja.

Mati saja. Siapa tahu nanti aku bisa kembali ke dunia nyata.

Kau kira duniamu sekarang ini bukan dunia nyata?!

Kau baru saja ditinggal oleh keluarga besarmu! Ayah, Ibu, dan kakak lelakimu meninggal di tangan anak sulung Fugaku!

Suara batin memang sangat menjengkelkan. Aku menggerutu dan memilih untuk tidak berpikir macam-macam. Pikiranku yang sudah melayang ke sana kemari kini kembali terfokus pada upacara kremasi masal di lapangan terbuka Perumahan Uchiha.

Suasana di sini sangatlah suram meskipun cahaya rembulan bersinar terang. Beberapa buah obor menerangi sudut-sudut lapangan. Tiga orang pendeta Shinto memimpin upacara. Aku melihat Sarutobi Hiruzen berdiri di antara para tetua Konoha dan juga para kepala Klan ternama. Mataku menangkap sosok familiar seperti Nara Shikaku, Yamanaka Inoichi, Akimichi Choza, Hyƫga Hiashi, Inuzuka Tsume, dan seorang yang sepertinya merupakan kepala klan Aburame. Mereka semua berdiri bersisian, menundukan kepala dan secara gamblang menunjukan rasa duka cita yang mendalam.

Pendeta Shinto menggumamkan doa entah apa dan memberi berkat-berkat khas upacara pemakaman sebelum memerintahkan para ninja yang berjaga untuk menyalakan obor untuk setiap mayat.

Aku merasakan Hana dan Isao yang meremas lenganku pelan. Ingatanku melayang pada sosok wanita berambut hitam panjang yang selalu dikepang dan dua sosok pria yang berwajah identik meski berbeda generasi. Aku melihat senyum hangat wanita dengan kepangan rambut hitam yang selalu mengetuk pintu kamarku pelan dan memberitahu bahwa makan malam sudah siap. Aku mendengar tawa renyah seorang lelaki umur dua puluhan dan merasakan tangannya yang mengelus kepalaku. Aku mendengar nasihat seorang pria paruh baya dengan bekas luka di dahi, menceramahiku mengenai betapa pentingnya menjaga perilaku di depan orang lain.

Aku teringat senyuman bangganya. Aku teringat suasana hangat ketika makan malam bersama.

Mengerjap, aku merasakan cairan hangat membasahi pipiku.

Kemudian kilasan mengenai sosok pria berbaju batik dan wanita berjilbab pastel melintas di kepalaku.

Batinku mengerang.

Rasanya ingin tenggelam lagi di malam wisuda itu.

Aku ingin mati saja.

Dan kau harus kembali merasakan bagaimana sakitnya sekarat. Bagaimana kulitmu seperti sedang dikelupas dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bagaimana rasa panas yang membara merayapi tubuhmu dan kemudian tubuhmu menjadi sangat dingin bagaikan es--

Oh. Batin sialan. Aku sepertinya harus menemukan jutsu baru untuk menutup mulut batinku sendiri.

Di samping kanan dan kiriku, Hana dan Isao memberiku ucapan-ucapan menenangkan. Saat itulah aku sadar bahwa tubuhku gemetaran.

Mental anak tiga belas tahun ini sangat mengganggu.

Aku mengambil napas dalam, menolehkan kepala pada kedua temanku dan mengangguk. Cairan hangat di pipiku mengering dengan sendirinya di akhir upacara kremasi. Para orang dewasa menepuk bahuku pelan dan memberiku ucapan-ucapan belasungkawa ketika mereka beranjak pergi.

Hana dan Isao menatapku ragu ketika mereka hendak pergi bersama orangtua mereka. Aku menganggukan kepala serta menyisipkan senyum untuk memberitahu bahwa aku akan baik-baik saja. Mereka masih kelihatan ragu, tapi pada akhirnya beranjak pergi.

Lapangan yang sepi menjadi semakin sepi dan lengang. Tidak ada aura kehidupan di sana. Batinku mengejek mengenai arwah-arwah yang kini tengah berdiri di atas abu bekas kremasi mayat mereka. Ia menakut-nakutiku tentang kedua orangtua Uchihaku yang akan mendatangiku di setiap malam jumat.

Seolah-olah hal itu membuatku takut saja.

Aku mendengus, melangkahkan kaki menjauhi lapangan ketika sebuah tangan menepuk bahuku.

Tubuhku hampir tersandung ke depan.

Batinku tertawa terbahak-bahak di belakang sana.

"Oh, maaf telah mengejutkanmu, Akira-chan. Aku tidak bermaksud demikian."

Suara berat dan serak khas orang tua itu membuatku menolehkan kepala. Aku melihat sosok yang tengah tersenyum hangat padaku. Wajahnya sudah dipenuhi beberapa kerutan di bawah matanya. Kimono hitam yang ia pakai hampir membuatnya tidak dapat kukenali.

Well, jangan salahkan aku. Aku sangat jarang melihatnya dalam pakaian informal, meskipun tadi aku sempat memperhatikannya.

"Bukan masalah, Sandaime-sama. Saya saja yang tidak memperhatikan keadaan sekitar," balasku sopan.

Senyum hangat itu masih terpasang di sana. Namun, aku juga mampu melihat ekspresi bersalahnya. Entah apa yang ia sesali. Mungkin karena fakta bahwa ia gagal menghindari pembantaian besar-besaran ini?

"Aku akan lebih heran jika kau masih bisa bersikap tenang atas semua insiden yang... ah, tidak menguntungkan ini."

Aku mengangguk pelan.

"Apakah kau berkenan untuk mampir ke kantorku sebentar? Ada beberapa hal yang perlu kubicarakan mengenai peninggalan klan Uchiha," ungkapnya. Ia menoleh ke samping bawah. "Kau juga tidak masalah 'kan, Sasuke-kun?"

Aku hampir saja tersedak ketika mendengarnya. Mengerjap, aku mengikuti arah pandangan Hiruzen. Mataku menemukan sosok laki-laki berambut raven yang tidak rata yang kini tengah mengunci pandangannya ke tanah. Kantung matanya bengkak. Wajahnya teramat pucat dan aku bisa melihat ia sedikit gemetaran.

Selain penampilan menyedihkan itu, anak lelaki di depanku ini benar-benar mirip seperti anak lelaki yang muncul di layar laptop tiap kali aku menonton animasi favoritku.

Uchiha Sasuke. Ia kelihatan pusat pasi, seolah daya kehidupan sudah terhisap keluar dari tubuhnya.

Selama tiga belas tahun hidup sebagai Uchiha Akira, aku belum pernah berinteraksi langsung dengan para karakter utama. Hidupku sendiri jauh dari masalah--selain masalah biasa yang dihadapi seorang ninja. Aku hidup dengan cukup tentram. Tapi, mulai sekarang sepertinya tidak akan sama lagi.

Meredakan keterkejutan, aku melihat Sasuke mengangguk. Tangannya tampak kecil di telapak tangan Sandaime.

Sarutobi Hiruzen mengangguk pelan. Ia meletakan sebelah tangannya di pundakku. Seperkian detik kemudian, kami bershinshuin langsung ke kantor hokage.

Cahaya lampu sedikit menyilaukan dibandingkan dengan kegelapan di lapangan sana. Sandaime berjalan menuju meja kantornya. Aku sedikit mengikuti, lalu berdiri di depannya. Sasuke berada di sampingku. Ia kelihatan sangat rapuh. Seakan-akan hembusan angin akan langsung melenyapkan sosoknya saat ini.

Aku mengerjap.

Siapa yang menyangka anak kecil ini akan menjadi sangat berbahaya?

Pandanganku kembali pada Sandaime. Ia memberiku dan Sasuke masing-masing sebuah gulungan.

"Kami sudah menyimpan semua barang milik kalian di gulungan itu. Hanya barang milik kalian, bukan milik keluarga kalian," jelas Sandaime. Ia menatapku dan Sasuke. "Perumahan Uchiha akan diisolasi untuk sementara waktu. Kalian tidak dibolehkan tinggal di sana."

"Sampai kapan?" tanya Sasuke cepat. Suaranya terdengar serak, seperti habis menangis.

Sandaime mengulum senyum.

"Belum dapat dipastikan. Mungkin, sekitar satu bulan? Dua bulan? Entahlah," balasnya tenang. Ia melihat Sasuke dengan seksama. "Apakah kau keberatan kalau aku melarangmu untuk tinggal di sana meskipun tempat itu sudah tidak diisolasi?"

Ekspresi wajah murungnya sudah cukup memberi jawaban untuk Hokage Ketiga. Aku hampir mendengus ketika teringat betapa besar rasa bangga seorang Uchiha. Maksudku, yang benar saja. Anak ini dengan suka rela ingin kembali tinggal di tempat di mana kedua orangtuanya dibunuh? Dia serius?

Berbeda denganku, Hokage Ketiga hanya mengangguk menanggapi bahasa tubuh Sasuke.

"Kalau begitu, aku tidak melarangmu. Tapi, aku akan membolehkanmu dengan sebuah syarat." Sasuke mendongak. Raut wajahnya masih menunjukan ketidaksenangan, tapi ia mendengarkan. "Kau tidak boleh tinggal sendirian."

Sasuke masih mencoba mencerna informasi yang ada. Sedangkan aku, well, aku baru saja mendapatkan berita buruk.

Tiga detik berlalu. Anak berambut hitam itu menolehkan kepalanya padaku, lalu pada lelaki tua yang ada di depan kami. Ekspresinya muram. Ia kemudian menggeleng.

"Aku tidak mau tinggal dengan perempuan ini."

Aku mengerjap, kemudian menghembuskan napas pelan guna menahan rasa kesal yang entah kenapa merayapi diriku.

Ingin rasanya mengatakan, siapa juga yang mau tinggal denganmu, Bocah?!

Tapi, tidak. Aku tidak mengatakannya. Uchiha Akira takkan berbicara sembarangan tanpa berpikir konsekuensinya. Akira selalu tenang. Tiga belas tahun hidup dengan gaya hidup seorang Uchiha Akira membuatku mampu mengontrol perilakuku sendiri.

"Saya akan tinggal di salah satu penginapan, Sandaime-sama, jika Anda tidak keberatan," ungkapku pendek.

Hokage Ketiga menggeleng.

"Aku sudah menyiapkan rumah baru untuk kalian. Penginapan bersifat sementara. Keuanganmu juga akan terkuras jika digunakan untuk membayar penginapan tiap malamnya, Akira-chan." Ia menoleh pada Sasuke. "Selain itu, Sasuke-kun belum lulus dari Akademi. Dia masih belum bisa hidup seorang diri. Aku akan mempercayakannya padamu."

"Aku bisa mengurus diri sendiri."

Dalam hati, aku berhitung angka satu sampai sepuluh guna meredam emosi.

Baik, Felo, kau adalah Uchiha Akira. Uchiha Akira tidak membentak orang lain hanya karena emosi belaka.

Hokage Ketiga tersenyum.

"Kenapa kau begitu keberatan, Sasuke-kun?"

Si anak berambut raven merengut. "Aku tidak mengenalnya."

Aku berusaha agar ekspresi wajahku tetap datar. Kestabilan mentalitasku sedang sedikit terguncang. Aku sama sekali tidak membutuhkan masalah tambahan berupa kesabaran lain untuk menghadapi seorang anak mengesalkan.

Ngomong-ngomong, Uchiha Sasuke tidak pernah menjadi karakter favoritku. Tidak pernah. Tidak akan pernah.

Aku tidak tahu sifat aslinya ataupun sudut pandangnya. Aku masih belum bisa menoleransi semua perilaku Sasuke di alur cerita Naruto.

Dia itu... hm, apa yah.

Menyebalkan?

Bodoh?

Bebal?

Ah, entahlah. Yang jelas aku tidak menyukainya. Dia selalu membuatku geram dan berteriak 'What the hell' tiap kali memutuskan suatu keputusan di alur cerita itu.

"Oh, aku lupa belum mengenalkanmu padanya," ungkap Hiruzen ringan. Ia melayangkan tangannya ke udara guna memperkenalkanku. "Kenalkan, dia adalah Uchiha Akira, anggota klan Uchiha yang selamat dari insiden kemarin malam. Misi yang diembannya beberapa hari lalu membuat dia jauh dari desa. Akira-chan sangat beruntung."

Beruntung. Kata tersebut benar-benar tepat untuk mendeskripsikan kondisiku. Aku memang sangat beruntung. Beruntung karena keluargaku di sini telah meninggal dan aku diberkahi ingatan tentang kehidupan pertamaku sebelum bereinkarnasi.

Bersyukurlah, Bodoh.

Sasuke menolehkan kepala padaku. Kedua mata hitamnya melebar.

"Kau Uchiha?" tanyanya dengan nada tinggi, seakan tidak percaya.

Aku menahan diri untuk mengatakan kalimat sinis.

"Yeah," ujarku pendek.

Mata hitam itu menatapku lama, membuatku tidak nyaman. Sasuke memang salah satu karakter yang selalu membuatku kesal sejak awal episode Naruto Shippuden. Tapi, aku tidak bisa menghilangkan fakta bahwa mata onyx itu memperlihatkan luka yang dalam. Aku melihat pupilnya yang memerah akibat tangis. Aku melihat sorot kehilangan dan putus asa.

Tatapan matanya membuat dadaku sesak.

Aku mengalihkan pandanganku.

Sedetik kemudian, anak lelaki itu bergumam mengenai ia yang percaya bahwa aku seorang Uchiha. Entah apa yang membuatnya menyimpulkan demikian. Mungkin ia memperhatikan warna rambut dan mataku yang sama sepertinya.

Genetika Uchiha mampu dikenali dengan mudah.

"Nah, kau masih keberatan, Sasuke-kun?"

Sasuke menggeleng. Ia bergumam, "Dia Uchiha."

Aku menahan diri untuk tidak memutar bola mata.

Oke, sepertinya bulananku akan segera datang. Aku tidak seharusnya sesinis ini padanya. Bagaimana pun juga dia juga baru saja kehilangan keluarganya dan sialnya, kakak lelakinya sendiri yang membunuh mereka. Kelakukan mengesalkannya mungkin harus kumaklumi.

Hokage Ketiga mengangguk. "Kalau begitu, aku akan mengantarkan kalian berdua ke rumah yang sudah kusediakan. Kalian bisa mengambil peninggalan keluarga kalian setelah Perumahan Uchiha tidak lagi diisolasi."

Sasuke dan aku mengangguk.

"Keuangan bulanan Sasuke-kun akan diatur oleh desa sedangkan Akira-chan, kupikir kau sudah bisa mengaturnya sendiri?" Aku mengangguk. "Nah, aku juga akan memberikan sebagian uang bulanan Sasuke-kun kepadamu untuk keperluan sehari-hari. Kau bersedia membantunya, bukan?"

Aku menggigit lidahku sesaat sebelum menjawab.

"Tentu saja, Hokage-sama."

Sarutobi Hiruzen tersenyum. Ia kemudian meletakan kedua tangannya masing-masing di pundakku dan Sasuke. Tidak sampai lima detik hingga kami tiba di depan rumah yang dimaksud olehnya. Sebuah apartemen sederhana yang lebih dari layak untuk ditinggali. Menyerahkan kunci apartemen padaku, Hokage Ketiga menganggukan kepalnya untuk terakhir kali padaku sebelum bershinshuin dari sini.

Aku tidak mengulur waktu untuk membuka pintu. Tubuhku sangat lelah setelah melakukan perjalanan dengan kecepatan penuh selama dua jam. Pengkremasan yang dilakukan tepat setelah kejadian itu memaksaku untuk langsung pulang ke Konoha. Tim Genma pun terpaksa menggagalkan rencana untuk menginap.

Apartemen ini hanya terdiri atas satu lantai. Aku langsung mengetahui letak kamar mandi, dapur, ruang tamu, ruang tengah, dan dua buah kamar hanya dengan sekali pantauan menggunakan Sharingan. Kututup kedua mataku guna menonaktifkan dojutsu tersebut.

Sasuke sudah berlari menuju kamar pilihannya. Ia mengabaikanku dan aku bersyukur karenanya.

Memasuki kamarku sendiri, aku menyalakan lampu. Di sana terdapat sebuah tempat tidur yang cukup lebar, sebuah lemari, sebuah kursi, dan nakas. Tempat tidur itu berada di sebelah jendela, membuatku mampu melihat ke luar jika duduk di tempat tidur.

Ruangan ini lebih dari cukup. Aku menghembuskan napas pelan. Berlutut, aku membuka gulungan yang diberikan Sandaime. Kugigit ibu jariku sebelum menekankannya pada gulungan yang kini terbuka cukup lebar di lantai. Berbagai barang pribadiku muncul dari sana.

Selama sisa malam itu aku menata barang-barangku sebelum bergegas mandi. Ketika melewati kamar Sasuke, aku melihatnya sudah tertidur pulas. Tapi, ketika aku selesai mandi dan kembali ke kamar, aku aku melihatnya bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidurnya. Tak lama kemudian, ia berteriak memanggil kedua orangtuanya dan kakak lelakinya. Aku mengerjap, sadar bahwa mimpi buruk takkan bisa dihindari.

Kakiku terasa kaku untuk bergerak ke kamarku sendiri. Kemudian, aku mendengarnya menangis di sela tidurnya, sebelum kembali berteriak.

Genggaman tanganku mengencang pada lengan yukata yang kupakai. Aku hendak mengabaikannya dan kembali ke kamar hanya untuk mendengar teriakan memilukan itu, memanggil-manggil nama Itachi.

"Nii-san!"

Secara reflek, kakiku berjalan memasuki kamar Sasuke. Aku melihat wajahnya yang sudah dipenuhi peluh, dahinya mengerut dalam, ia tampak sangat menderita.

Tidak ingin membangunkannya, tanganku terulur ke titik chakra yang berada di sekitar lehernya. Aku mengetukan jariku beberapa kali di sana. Detik selanjutnya, Sasuke merileks. Kerutan di dahinya hilang, napasnya terdengar teratur.

Aku keluar dari kamarnya dan menutup pintunya dari luar.

Setidaknya, jatuh pingsan akan lebih baik dibandingkan terperangkap dalam mimpi buruk 'kan?

Oh, sepertinya besok aku juga harus memberitahunya untuk menutup pintu kamar sebelum tidur. Sungguh, aku sama sekali tidak tahu bahwa Sasuke versi anak-anak masih sangat ceroboh dan melupakan hal-hal sepele semacam ini.

Di cerita aslinya, bagaimana bisa ia mampu bertahan hidup sendirian sebelum menjadi Genin?

xxxxx

Esok harinya, aku terbangun sebelum matahari mulai muncul dari ufuk timur. Tidurku tidaklah nyenyak. Aku memimpikan hal aneh di mana kehidupan awalku tercampur dengan kehidupanku di sini. Di sana, aku melihat Uchiha Mao dan Uchiha Kiyoshi--ibu dan ayah Akira--mendatangi acara wisuda dan memberiku selamat. Mereka berpakaian sangat mencolok dibandingkan para tamu undangan lain di acara wisuda. Selain itu, aku juga melihat ayah dan ibu Felonya yang mendatangi upacara kelulusanku di Akademi. Mereka tersenyum hangat, senyum yang sama seperti yang pereka tunjukan di acara wisudaku.

Dua hal tadi masih termasuk sekelumit dari mimpi aneh tadi malam. Aku melihat cukup banyak campuran mimpi lain yang sukses membuat kepalaku pusing bukan main.

Merenggangkan badan sekilas, aku menghembuskan napas pelan. Ada cukup banyak hal yang berputar-putar di kepalaku. Misalnya, aku masih belum memutuskan apa yang harus kulakukan di dunia ini setelah mendapatkan ingatan mengenai kehidupan awalku.

Ingatan ini membuatku mengetahui kejadian-kejadian penting yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Ingatan ini memberiku pengetahuan tentang masa depan di sini. Meskipun aku tidak terlalu yakin apakah alur dunia ini akan sama seperti alur cerita yang ditulis oleh--ehm--Paman Masashi Kishimoto.

Yang jelas, Pembantaian Klan Uchiha yang telah terjadi membuatku berpikir kalau alurnya sama. Sebuah pertanda buruk, tentunya. Konflik di cerita itu bukan main-main. Ketika menonton saja aku ikut geram, bagaimana kalau aku ikut merasakannya?

Kualihkan pikiranku dari asumsi itu. Kepalaku masih pusing akibat mimpi aneh, memikirkan kenyataan yang kuhadapi sekarang ini hanya akan membuat kepalaku meledak.

Oke, mungkin kepala meledak terdengar cukup berlebihan. Tapi, masa bodoh. Aku bukan orang yang pandai mendeskripsikan sesuatu.

Sebelum beranjak untuk membersihkan diri, aku memutuskan untuk memikirkan rencana panjang kehidupan nanti saja. Kututup otakku dari segala pemikiran liar mengenai berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang. Aku memfokuskan diri untuk melakukan apa yang perlu kulakukan sekarang. Mandi,menyiapkan makanan, dan keluar untuk membeli makanan ketika mengetahui bahwa aku tidak mempunyai bahan masakan apa pun untuk dimasak.

Pagi-pagi seperti ini belum banyak rumah makan yang buka. Aku akhirnya membeli Teriyaki di sebuah warung makan tradisional yang buka sepanjang hari. Ketika kembali ke apartemen, aku melihat Sasuke yang baru saja keluar dari kamar tidurnya. Ia kelihatan sudah bersih meskipun kantung matanya tampak hitam.

Iris onyx itu langsung tertuju padaku begitu aku melangkahkan kaki ke mendekatinya. Ia menatapku penuh perhitungan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabaikanku.

Aku tidak suka diabaikan.

Tapi, dia adalah The Great Uchiha Sasuke.Aku tidak mengharapkan reaksi lebih darinya.

"Kau mau kemana?" tanyaku ketika dia berjalan melaluiku dan hendak menuju pintu.

"Bukan urusanmu," jawabnya.

Aku mengerjap.

Oke, Akira, tenang.

"Sebaiknya kau sarapan dulu," ujarku sambil menyusulnya ke pintu. Aku menatapnya lurus-lurus, mengabaikan tatapan dinginnya yang secara gamblang menentang perkataan. "Atau kau akan jatuh sakit. Tidakkah kau ingin menjadi kuat? Orang yang sakit cenderung lemah. "

Mata hitamnya masih tampak menentangku. Ketika aku mengatakan bahwa ia menatapku dingin, maka tatapan itu benar-benar dingin. Aku kini mengerti bagaimana buruknya mendapatkan tatapan mematikan seorang Uchiha Sasuke.

Hanya saja, sekarang tatapan itu berasal dari anak tujuh tahun yang bahkan belum lulus Akademi Ninja. Sasuke belum cukup menyeramkan. Belum, dengan kemampuan bertarungnya yang masih nol. Aku masih mengunggulinya dalam hal bela diri.

Kenyataan itu membuatku tidak takut padanya.

Setidaknya dia belum mengeluarkan niat niat membunuh.

Well, masih belum.

"Baiklah kalau kau ingin jatuh sakit dan menjadi orang lemah. Semuanya adalah pilihanmu," ujarku sambil beranjak dari depan pintu.

Sasuke masih menatapku, tapi kini dia bersungut kesal sebelum kemudian kembali ke dalam apartemen. Sudut bibirku tertarik ke atas, aku menyusulnya yang ke ruang tengah. Kuletakkan bungkus teriyaki di atas meja makan dan bergegas ke dapur untuk mengambil peralatan makan serta minuman. Ketika kembali, aku melihat Sasuke yang tengah duduk dengan tangan terlipat di meja dan kaki yang menggantung dari kursi. Melihatnya seperti ini mau tidak mau membuatku ingin tersenyum.

Uchiha Sasuke versi anak-anak sangatlah menggemaskan. Kini aku mengerti mengapa Itachi sangat menyayangi adiknya.

Menuangkan makanan ke atas piring, aku pun duduk di depannya dan mulai makan tanpa banyak bicara. Tak ada yang ingin kubicarakan sekarang. Aku tidak ingin mengungkit kesedihannya karena aku sendiri masih belum terlalu pulih dari semua kejadian 24 jam lalu. Acara sarapan kami diliputi keheningan. Beberapa menit kemudian, kami selesai dan aku pun mulai menumpuk bekas peralatan makan serta sampah bungkus teriyaki ketika suara khas anak-anak itu terdengar.

Sasuke bukanlah tipe orang yang suka membuka pembicaraan. Pertanyaannya cukup membuatku menaikan sebelah alis.

"Apakah kau seorang kunoichi?"

Untuk menanggapi pertanyaan ini, Felonya akan mengerutkan kedua alisnya dan berujar 'menurutmu?'

Tapi, Akira tidak seperti itu. Uchiha Akira hanya akan mengangguk dan melanjutkan apa yang tengah ia kerjakan tanpa membuang tenaga untuk bersuara.

Reaksiku saat ini adalah versi Akira.

"Kau tidak kelihatan cakap."

Aku mengerjap.

Oh, masa bodoh dengan versi Akira.

"Setidaknya aku sudah lulus Akademi dan sudah menjadi ninja secara resmi." Kedua sudut bibirku terangkat menjadi senyuman.

Senyum yang tampaknya tidak menyenangkan, sebab Sasuke malah merengut alih-alih balas tersenyum.

Aku mengingatkan diriku sendiri. Pertama, Uchiha Sasuke jarang tersenyum. Kedua, Sasuke adalah anak yang cukup tajam. Dia mampu menangkap nada sarkastisku dan reaksinya kelihatan normal.

Normal bagi orang yang mendapatkan sarkasme.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan selagi melihat reaksi Sasuke. Hingga kemudian mata onyx itu menatapku lama. Iris hitamnya seolah mencoba mencari-cari sesuatu di iris hitam miliku. Entah apa yang tengah dipikirkannya, tapi beberapa saat kemudian ia mengalihkan pandangan dan segera turun dari kursi. Aku sedikit bertanya-tanya akan kelakukannya sambil melihatnya yang menghilang ke dalam kamar.

Menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda, aku segera ke dapur dan mencuci peralatan makan yang baru saja kami gunakan. Sasuke baru saja keluar dari kamarnya dengan sebuah tas selempang ketika aku kembali dari dapur. Sebelah alisku terangat begitu melihatnya.

"Tidakkah kau ingin libur dulu?"

Menatapku sekilas, Sasuke mengabaikan pertanyaanku dan bergegas keluar apartemen. Ia tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan apa pun dan langsung berlari keluar tanpa menutup pintu.

Aku menghembuskan napas pelan. Perilakunya cukup membuat kepalaku kembali berdenyut ngilu. Aku masih belum terbiasa dengan sikap tak acuhnya meskipun aku tahu kalau dia masih sangat berduka. Tapi, astaga, Uchiha Sasuke sangatlah menyebalkan. Dia adalah tipe orang yang akan kuhindari agar aku tidak terlibat banyak masalah. Meskipun begitu, sepertinya kini aku tak punya pilihan selain berusaha menoleransi semua kebiasaan murungnya.

Kuserat kakiku ke dalam kamar. Aku memasang peralatan ninjaku dan berusaha untuk mengalihkan pikiranku dari Sasuke. Batinku terus menerus menyuarakan bahwa Sasuke masih anak-anak dan dia sedang berduka, sudah sewajarnya dia seperti itu. Aku menutup suara lain di kepalaku yang menentang pernyataan si batin. Ia berkata bahwa Sasuke takkan berubah dan hanya akan semakin parah seiring waktu berjalan.

Oh, menutup kepalaku dari Sasuke kelihatannya cukup sulit.

Aku mengikat kuda rambut hitamku yang sudah menyentuh bahu. Tak lupa, aku juga memasang hitai-ate Konoha di dahiku selagi berjalan keluar apartmen. Hari ini aku punya janji dengan Tim Genma untuk berkumpul di Hokage Tower. Kami belum sempat melaporkan misi kemarin malam setelah tiba di sini. Selain itu, aku juga berniat meminta misi lain--yang masih berada di dalam desa--guna mengalihkan pikiran.

Pertanyaan mengenai apakah aku harus ikut campur di dunia ini atau tidak tiba-tiba saja kembali. Kutahan diriku untuk memikirkannya lebih jauh.

Jalani saja dulu, tegasku.

Ikut campur berarti mengubah suatu hasil. Hasil yang diubah belum tentu baik. Padahal aku ingat betul bahwa ending cerita Naruto masih terdengar bagus. Setidaknya, para karakter utama mendapatkan kebagahiaan. Aku tidak ingin merusak alur yang sudah seharusnya terjadi. Aku tidak ingin keputusanku beresiko buruk pada banyak orang. Aku tidak ingin keputusanku membuat lebih banyak musibah dan kematian alih-alih meminimalisirnya.

Tapi, kehadiranmu sendiri sudah mengubah segalanya.

Kau tahu, Akira? Sasuke tidak lagi sendirian. Ia bisa tertolong. Kewarasannya bisa tertolong.

Pengalaman adalah hal yang membuat seseorang menjadi orang itu. Kesengsaraan Sasuke membuatnya menjadi seorang Sasuke yang bersahabat Naruto dan berkeluarga dengan Sakura.

Keikutcampuran takkan membuatnya lebih baik.

Bagaimana dengan Itachi? Kau mau membiarkannya mati menyedihkan?

Tidakkah kau ingin menyelamatkannya?

Kakiku mendarat di lantai Hokage Tower. Aku memejamkan mata sekilas dan membukanya. Kulihat bayanganku dari pantulan kaca. Mata hitamku kini berubah menjadi merah dengan tiga tomoe di sekelilingnya.

Gadis tiga belas tahun di kaca itu tampak ringkih. Kantung matanya agak hitam dan dia tak kelihatan lebih baik dari Uchiha Sasuke.

Gadis tiga belas tahun di kaca itu kelihatan lemah. Perkataan Sasuke ada benarnya. Gadis tiga belas tahun itu ragu pada dirinya sendiri. Ia dilanda ketakutan, ketakutan untuk gagal, ketakutan untuk membuat segalanya lebih buruk.

Aliran chakra dua orang yang familiar membuatku menoleh. Di ambang pintu, aku melihat Hana dan Isao yang berjalan ke arahku dengan senyuman di wajah mereka. Keduanya tampak berusaha membuatku ikut ceria.

Ceria di sela kebimbanganku sendiri.

Oh, lihat siapa yang mulai tertular sindrom murung versi Uchiha Sasuke.

Aku melambaikan tangan pada mereka. Kedua sudut bibirku kupaksakan untuk tersenyum. Ketika keduanya sudah berada tepat di depanku, kami pun berjalan beriringan menuju kantor Hokage. Sepanjang koridor, Hana berceloteh mengenai kelakukan adiknya--Kiba--yang semakin mengesalkan seiring dengan pertumbuhannya. Ia juga memprotes Akamaru yang menganggu anjing-anjingnya. Suaranya berhasil menglihkanku dari segala macam pikiran yang membuat otakku panas.

Ketika itu, aku memutuskan satu hal. Aku akan menjalani semua ini dulu sambil melihat keadaan selanjutnya. Aku akan berusaha menikmati kehidupanku yang sekarang selagi memikirkan apa yang harus kulakukan ke depannya.

Lagi pula, Sasuke masih berumur tujuh tahun. Konflik-konflik merepotkan mulai berdatangan ketika ia berusia sekitar tiga belas--enam tahun lagi. Artinya, aku masih punya cukup banyak waktu 'kan? ]

OoOoO

a/n

- aminsetya1 : makasih banyak reviewnya! itu akira teriak-teriak karena dia histeris setelah ingatannya di kehidupan yang dulu balik lagi. akira ngerasa gila gitu(?) ah gitulah intinya xD makasih udah sempetin review dan baca ya:)

-oh ya, aku masih newbie di sini dan belum tahu banyak tentang club dsbnya. mohon bantuannya untuk para kakak semua:)