Tsunade tidak tahu harus berbuat apa, chakra miliknya tinggal sedikit untuk digunakan. Tubuh awet mudanya telah dipenuhi luka-luka berat.

Dia sempat berharap ada bantuan ninja dari desa tetangga, tetapi keinginan mustahil itu tidak mungkin terlaksana.

Tidak aneh, mengingat mereka memutus aliansi dengan Konoha.

Alasan mereka memutus aliansi adalah karena kabar menghilangnya ninja favorit mereka; Naruto Uzumaki.

Tsunade memandang nanar mayat-mayat warga sipil, shinobi, kunoichi lalu ROOT, yang bergelimpangan di tanah.

Pandangannya mengedar ke bangunan-bangunan dan patung wajah Hokage, yang telah hancur berkeping-keping. Menyisakan lahan kosong tanpa tanda-tanda di huni.

"Kenapa... Kenapa kau menghancurkan desa konoha." Pelaku yang merupakan akar dari penyebab masalah memandang datar ke Hokage kelima.

"Apa yang aku lakukan bukan 'menghancurkan' melainkan 'menghakimkan'. Karena bangsa haus kekuatan seperti kalian tidaklah layak untuk hidup lama."

Dengan gerakan blur dia berada di depan Tsunade.

"Aku mungkin sudah menanyakan hal ini kepadamu tadi." ia menambahkan. "Tapi akan aku tanyakan sekali lagi, sebelum kau mati di tanganku."

Tsunade melihat mata manusia di depannya menyala merah gelap.

"Apa kau tahu dimana Prince of Universe berada?"

Chapter 2

DemiGod of Chaos

Summary: Setelah pertarungan melawan Pain. Naruto bertemu dengan seseorang yang membawanya pergi ke dunia asing. Sesampainya dia di dunia tersebut, kekuatan, penampilan, dan ingatannya, telah diganti dengan yang baru. Membuatnya menjadi berkepribadian yang sedikit berbeda dengan yang dulu.

Disclaimer: Naruto dan Percy Jackson and the Olympians dimiliki oleh pemiliknya masing-masing (Masashi Kishimoto-sensei dengan Riordan). Saya hanya meminjam karakter dan ceritanya saja.

Warning: Halfcold!Naruto

Keep Calm and Enjoy Reading!

.

.

.


Chapter 2: Meet Lazy Dude and Warrior Girl


Perkemahan Blasteran ternyata memiliki arti lebih dari sekedar Kemah, karena fakta yang Naruto lihat adalah tempat ini terdapat di pantai utara Long Island. Lembahnya membentang hingga ke air, yang tampak berkilauan dan indah bagi siapapun yang melihatnya sendiri. Di tempat ini juga terdapat gedung-gedung yang mirip dengan arsitektur Yunani kuno-paviliun terbuka, amfiteater, arena bundar-bertebaran di tanah, semuanya tampak bagus dan tidak terlihat jelek ataupun kusam, tiang-tiang putih marmer berkilauan di terpa sinar matahari. Di lapangan pasir didekat lokasi mereka, tampak selusin satir dan anak SMA yang sedang bermain voli. Kano meluncur diatas sebuah danau kecil. Anak-anak berkaus jingga cerah sedang berkejaran di sekitar sekumpulan pondok yang tersembunyi di hutan. Beberapa anak menembak target di arena panah. Ada juga beberapa anak menunggang kuda menuruni jalan berhutan, dan para kuda itu memiliki sayap.

"Pegasus." Gumam Naruto.

Dia melihat di ujung beranda, terdapat satu orang lelaki dan satu orang gadis blonde, yang sedang bersandar pada langkan beranda di sebelahnya. Lelaki itu memiliki tubuh kecil tetapi gempal. Hidungnya merah, matanya besar dan berair. Dia memiliki rambut ikal berwarna hitam yang hampir terlihat berwarna ungu, dengan mengenakan kemeja Hawaii bercorak harimau.

"Mr.D, maaf menunggu lama, ayo kita lanjutkan permainan kita." Kata Chiron, sebagai yang dipanggil merenggut dan berkata dengan nada malas. "Yah, yah, cepat bawa bokongmu yang bau itu kesini dan langsung bermain kartu denganku." Mata merahnya menyadari kehadiran Naruto.

"Itu Mr.D," Bisik Samuel di telinga Naruto. "Dia direktur perkemahan disini. Kau harus menjaga sikap jika berada di dekat dia. Dan gadis itu bernama Annabeth Chase. Dia adalah pekemah yang sudah lama tinggal disini."

Masih memandang Naruto, Mr.D berucap dengan nada yang sama. "Oh, aku harus menyambut, yah? Selamat datang di Perkemahan Blasteran. Nah, sudah kukatakan. Jangan harap aku senang berkenalan denganmu." Naruto hanya memandang datar kearahnya.

"Sama." Katanya dingin.

Merasa atmosfer disekitar mereka sedikit naik, Chiron memutuskan untuk menjauhkan Naruto dari si direktur untuk sementara waktu. "Annabeth." Dia memanggil si gadis pirang.

Dia maju dan Chiron memperkenalkannya kepada Naruto. "Annabeth manis, bisa kau antarkan Naruto ke pondok sebelas sekarang, tolong?"

"Baiklah, Chiron." Kata Annabeth.

Dia terlihat berumur 12 tahun, dengan kulit terbakar, dan rambut pirang yang diikal. Dia memiliki tubuh yang tampak atletis. Matanya berwarna abu-abu. Dia mengenakan kaos perkemahan dengan rok biru sampai lutut, ditambah sepasang sepatu kets berwarna biru.

Annabeth melirik dari bawah sampai keatas, berusaha mengobservasi lelaki yang dua tahun lebih tua darinya itu.

Sedetik kemudian dia tersenyum. "Ikuti aku."


-Time Skip-


Sebelum menuju pondok sebelas, Annabeth memberikan tour terlebih dahulu pada Naruto.

Dia membawa Naruto ke tempat-tempat seperti; Bengkel logam (tempat untuk para demigod menempa senjata sendiri-sendiri) ruangan seni dan kerajinan (tempat para satir melakukan semburan pada pasir berbentuk manusia kambing) dan tembok panjat dinding, yang sebenarnya terdiri atas dua tembok berhadapan yang berguncang keras, menjatuhkan bebatuan besar, menyemprotkan lava, dan bertabrakan jika pekemah tidak cukup cepat mencapai puncak.

"Itu aula makan." Annabeth menunjuk sebuah paviliun di udara terbuka, yang dibingkai tiang-tiang putih bergaya Yunani. Paviliun itu terletak di atas bukit yang menghadap ke laut. Ada selusin meja piknik dari batu disitu.

Naruto memberikan tatapan kepada Annabeth, membuat si gadis blonde itu mengerang pertanda dia mengerti.

"Tidak ada atap, yah, dan jangan tanya bagaimana kita makan ketika tiba-tiba terjadi hujan."

Akhirnya, Annabeth mengajak Naruto untuk melihat semua pondok.

"Semuanya memiliki jumlah sebanyak dua belas, dan tiap-tiap pondok memiliki nomor yang mewakili nama para Olympian." Dia menunjuk pondok paling besar dan memiliki pintu perunggu. "Pondok Zeus: nomor satu." Lalu dia menunjuk pondok yang dihiasi dengan buah delima, dan dinding yang diukir dengan ukiran gambar merak. "Pondok Hera: nomor dua." Kemudian dia menunjuk pondok yang tembok luarnya terbuat dari batu kelabu. "Pondok Poseidon: nomor tiga." Lalu dia menunjuk pondok yang ditumbuhi sulur tomat. "Pondok Demeter: nomor empat." Kemudian dia menunjuk pondok dengan atap yang dilapisi kawat berduri. "Pondok Ares: nomor lima." Lalu dia menunjuk pondok dengan lambang burung hantu di ambang pintu. "Pondok Athena: nomor enam." Kemudian dia menunjuk pondok berwarna emas. "Pondok Apollo: nomor tujuh." Lalu dia menunjuk pondok yang terlihat biasa. "Pondok Artemis: nomor delapan. Akan berubah warna menjadi perak di malam hari." Kemudian dia menunjuk pondok yang berbentuk pabrik mungil. "Pondok Hephaestus: nomor sembilan." Lalu dia menunjuk pondok yang dicat pink. "Pondok Aphrodite: nomor sepuluh." Kemudian dia menunjuk pondok tua, dengan cat cokelat yang terkelupas. "Pondok Hermes: nomor sebelas." Kemudian dia menunjuk pondok yang dilapisi tanaman merambat anggur. "Pondok Dionysus: nomor dua belas."

"Semua itu adalah pondok yang ada di—."

"Tunggu sebentar, kenapa Hades dan Hestia tidak memiliki pondok sendiri?" Naruto membuka mulut untuk pertama kalinya, tidak mempedulikan tatapan tajam dari Annabeth karena telah memotong perkataannya.

"Yah, kalau tidak salah... " Si konselor enam memegang dagunya. "Hades tidak benar-benar diterima di Olympus, sehingga mereka tidak membuatkan pondok miliknya di sini. Hestia bersumpah untuk tetap perawan seperti dewi Artemis dan dewi Athena. Dia tidak mempunyai pondok karena dia tidak punya anak satupun. Meski aku heran mengapa kau bertanya hal itu, padahal banyak orang yang melupakan eksistensi dua dewa tertua dari Yunani tersebut."

Naruto terdiam. Pikirannya kalut mendengar fakta yang mengejutkan otaknya tersebut.


Annabeth dan Naruto mendekati pintu pondok sebelas, dimana diatasnya terdapat lambang tongkat yang dililit dua ekor ular.

Bagian dalamnya terdapat banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan. Kantung tidur banyak tersebar diseluruh lantai, dan para pekemah disitu memandang Naruto dengan ekspresi yang berbeda-beda.

"Siapa namamu?" Bisik Annabeth.

"Naruto Hikaryuu."

Annabeth meluruskan wajahnya kedepan. "Naruto Hikaryuu, kuperkenalkan pondok sebelas." Dia mengumumkan, sebagai seseorang bertanya.

"Biasa atau belum ditentukan?"

"Belum ditentukan."

Semua orang mengerang.

Seorang anak laki-laki yang lebih tua dari yang lain maju kedepan. "Nah, nah, pekemah. Itulah tujuan kita berada disini. Selamat datang di pondok sebelas, Naruto. Kau boleh menempati lantai kosong di sana itu."

Lelaki itu berumur sembilan belas tahun, tinggi dan berotot. Memiliki rambut pasir yang dipotong pendek dan senyum ramah. Dia mengenakan tank-top jingga, celana kebesaran, sandal, dan kulit kering berhias lima manik warna-warni dari tanah liat di lehernya.

Hal yang mencolok dari penampilannya adalah bekas luka tebal, dan putih yang terentang dari atas mata kiri hingga ke rahang.

"Ini Luke," Kata Annabeth, nadanya terdengar berbeda ketika bibirnya menyebut nama itu. "Dia pembinamu sementara ini."

Tanpa dikomando, Naruto tiba-tiba memutar balikkan badannya, lalu berjalan ke luar pintu.

"Tunggu, Naruto. Kau mau ke mana?"

"Bukan urusanmu Chase."

"Hey."

Setelah Naruto menghilang dari pandangan, Annabeth menghentak-hentakkan kakinya ke bawah dengan penuh kekesalan.

"Dia itu kenapa, sih? Aku bicara baik-baik dengannya, responnya malah seperti itu."

Rona merah muncul di kedua pipinya, ketika tangan kekar milik Luke menepuk-nepuk pundaknya.

"Bersabarlah, Annabeth. Mungkin dia punya masalah berkomunikasi dengan orang lain." Hiburnya.

"Terima kasih." Kata Annabeth. Dia kemudian mengingat sesuatu. "Maaf Luke, tapi aku harus segera pergi ke Rumah Besar. Anak yang belum bangun-bangun itu belum ku berikan nectar dan ambrosia."

"Pergilah."

Selagi mereka berbicara satu sama lain, dari kejauhan, Naruto memandang ke arah putri Athena dengan putra Hermes.

Bukan. Lebih tepatnya pada putra Hermes seorang.

'Lidah perak, huh?.'


Naruto menghabiskan beberapa jam berikutnya untuk melihat sekeliling perkemahan, memastikan untuk mengingat semua tempat.

"Hei anak baru." Naruto menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh, dan melihat seorang gadis berusia sama dengannya.

Gadis itu memiliki rambut coklat panjang nan tipis, dengan warna mata sama dengan warna rambutnya. Dia mengenakan jaket loreng dan daleman kaos jingga perkemahan, lalu celana panjang ala biker.

"Kau terlihat cukup tangguh untuk seorang anak baru. Yah, meskipun penampilanmu seperti seorang lonely." Ujarnya-setengah menghina-. Berharap anak baru di depannya terpancing, emosinya.

Naruto sama sekali tidak tersinggung dengan hinaan tersebut, lalu berkata. "Sebelum kita berbicara lebih lanjut, alangkah baiknya kita memberitahu nama satu sama lain terlebih dahulu." Dia mengangkat sebelah alisnya, ketika gadis di depannya menyeringai jahat.

"Baik anak baru, kau mendapatkan ku." dia menjulurkan tangannya kepada Naruto. "Namaku Clarisse La Rue, putri dan konselor kabin Ares; Dewa perang Olympus."

Banyak orang di sekitar mereka meringis dan melihat Naruto dengan pandangan simpati.

"Clarisse akan menghancurkan anak baru lagi."

"Apa dia harus melakukan ini setiap ada blasteran baru."

"Dia hot."

Naruto menjulurkan tangannya juga dan menerima uluran tangan Clarisse. "Naruto Hikaryuu."

"Kemudian ini salam tidak resmi untuk menyambutmu."

Dengan gerakan cepat Clarisse meraih kerah jaket Naruto, dan berusaha mencengkram lehernya.

Sebelum tujuannya terlaksana, Naruto sudah memegang lengannya dan berkata. "Kalau kau ingin menyambutku, kau harus lebih cepat dari ku." dia memutar lengan Clarisse, mendorong, lalu menguncinya di tanah.

Semua pekemah menganga melihat Clarisse dikalahkan dengan mudah oleh anak baru.

Naruto melepas kunciannya dan menawarkan sebuah lengan untuk Clarisse. "Kau kuat, tapi kecepatanmu tidak mengimbanginya. Berlatihlah lagi putri dewa perang, kau punya potensi." Setelah membantunya berdiri, Naruto pergi dari sana.

Clarisse terdiam, raut wajahnya dilanda shock dan penasaran.

Dia mengingat apa yang Naruto katakan padanya.

"Kau punya potensi."

Sedikit rona pink muncul di kedua pipinya.

Clarisse menggelengkan kepalanya, berusaha menghapus perkataan Naruto dari pikirannya.

Dia menyadari semua pekemah memandanginya, ia lalu melotot seram pada mereka.

"Jika ada di antara kalian yang pernah menyebutkan kejadian ini, aku akan memotong alat kelamin kalian, dan ku gantung di Rumah Besar sebagai pajangan tahunan." Banyak yang berkelamin lelaki pucat dan menutup bagian terpenting untuk masa depan mereka.

Clarisse membuat arah jalannya ke pondok lima; Entah kenapa detak jantungnya tetap berdetak kencang dan itu membuatnya gundah.


Naruto sedang berada di bawah pohon besar di atas bukit, duduk dan melihat matahari mulai terbenam di langit-langit.

Hembusan angin sore menerpa rambut hingga tubuhnya, memberikan sensasi dingin yang menenangkan dan juga menakjubkan.

"Disitu kau rupanya."

Naruto menoleh dan Chiron terlihat di pandangannya. "Aku mencarimu kemana-mana, kupikir kau lari dari perkemahan."

"Apa kau punya urusan denganku, Chiron?"

"Sebentar lagi makan malam akan tiba; semua orang akan menuju paviliun makan. Disitu Mr.D akan memperkenalkan dirimu pada orang-orang." Kata Chiron. Pandangan jail muncul di matanya. "Dan satu hal lagi. Insiden yang menyangkut kau dengan Clarisse telah menjadi topik di bibir para(perempuan) pekemahan. Aku tidak tahu apa harus bangga atau kasihan padamu karena telah mencuri hati putri Ares."

"...Kau kesini ingin memberitahuku mengenai makan malam, atau menjadi biro jodoh dalam kehidupan pribadiku?" Kata Naruto dengan nada getir.

Si veteran centaurus tertawa terbahak-bahak. "Maaf. Menjadi abadi terkadang membutuhkan hobi baru untuk mengusir kebosanan setiap saat."

Suara terompet terdengar dari kejauhan.

"Apa itu?"

"Itu adalah bunyi pertanda makan malam."

"Begitu."

Naruto kemudian melangkah menuruni bukit, mengikuti Chiron yang berderap mendahuluinya.


T-B-C


A/N: HOREEE! Banyak yang suka fic ini ternyata, terima kasih untuk dukungannya guys.

Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada para reader sekalian *bungkuk-bungkuk badan* karena tidak menepati jadwal update yang saya tentukan. Dunia nyata ternyata lebih ganas dari yang saya pikirkan.

Saatnya membalas review:

KidsNo TERROR13: Oke :D

DekhaPutri: di intro sudah dijawab tentang keadaan dunia ninja.

nanokagawa: Dengan senang hati :D

Asd: Ole :D

zero: Gak bersebrangan kok. Untuk tambahan Percy akan menganggap Naruto sebagai kakak figure(Meskipun awalnya Percy tidak menyukai sifat Naruto).

Yamamiru Taiki: Tema fic sudah menjawabnya bukan?

Fahzi Luchifer: Naruto sudah tidak memiliki chakra.

PhinnocchiO: Untuk kekuatan Naruto akan saya beritahu di intro chapter depan. Dan soal api biru, itu tidak ada sangkut pautnya dengan chakra.

Ishida: Iya dia akan overpowered.

Nero: bukan, bukan cicit Hades :D. Naruto tetap seorang demigod kok.

Vermouth: Liker Tsundere detected :D

Rose: Kita lihat hasil akhir polling.

Laxy: Pasti :D

Aang: Setuju.

Ero: Sudah di perkenalkan di atas. Maaf jika marganya sedikit aneh.

Milicas993: Maaf jika membuat anda bingung, itu sebenarnya nama pedang milik Naruto.

Lisa: Tentu :D

Guest: Kita lihat hasil akhir polling.

Jingyoxy: Dengan senang hati :D

mrheza26: Kita lihat hasil akhir polling.

Baik, kita lihat jumlah polling di chapter ini:

Clarisse LaRue: 8

Silena Beauregard: 4

Thalia Grace: 2

Bianca Di Angelo: 1

Reyna Ramirez-Arelanno: 1 (Dimasukkan, kaget karena saya melupakan gadis roman dengan sifat paling dewasa ini.) Special credit untuk Rose-san :D

Wow, putri Ares yang terkenal tempramen berada di posisi atas :D. Bravo!

Karena Clarisse punya vote terbanyak, saya memutuskan untuk menjadikannya sebagai pairing tetap dan selamanya untuk Naruto.

(Nickname pairing) Naruto x Clarisse: Bloodlust Maelstrom.

See ya Next Chap!