Latihan basket sudah selesai, Baekhyun dan Kyungsoo memaksa Luhan untuk ikut ke ruangan club basket. Dengan segala paksaan, dengan berat hati Luhan menerima ajakan kedua sahabatnya itu Luhan berjalan malas turun ke lapangan dari kursi penonton sedangkan Baekhyun dan Kyungsoo dengan Semangat '45 berlari ke arah sebuah ruangan dekat lapangan.
Duk
"Aw… sakit"tiba-tiba Luhan merasakan bola basket memukul kepalanya. Ia menggeram kesal dan menoleh mencari pelakunya.
"Aish… Kau lagi, dasar namja menyebalkan, tidak bisa tak mengusikku barang sekali saja"umpat Luhan kesal, namja yang Luhan maskud tertawa.
"Sudah kubilang kau rabun, pergilah ke dokter mata. Sudah tahu ada yang masih main basket, tapi tetap saja berjalan di tengah lapangan"sahut namja itu mengejek lalu pergi meninggalkan Luhan yang masih mengelus kepalanya yang sdeikit timbul sebuah benjolan.
"Kurang ajar"umpat Luhan kesal lalu berjalan ke ruangan club basket itu.
"Hey, lihat tumben Sehun tertawa selepas itu"ucap Kai heran, Baekhyun, Chanyeol, dan Kyungsoo mengangguk setuju.
"Sudah kubilang mereka berjodoh"celetuk Chanyeol sok tau membuat Baekhyun reflek menjitaknya.
"Diam, aku tak ingin bertengkar dengan Luhan karenamu"perintah Baekhyun tak terbantahkan.
"Kau Kai, jangan ikut-ikutan"ucap Kyungsoo memperingati. Kai dan Chanyeol langsung hormat. Benar-benar kelakuan mereka.
_Baekkie21 Present_
.
.
.
.
.
My First Love
.
.
.
.
.
Chapter 2
_Thank You_
.
Lagu milik Adam Lavine itu mengalun indah tepat saat matahari mulai bergerak naik menggantikan bulan yang cahayanya mulai memudar. Dengan berat hati Luhan bangun dari mimpi indahnya, tangannya bergerak meraba-raba sebuah meja rias di sebelah ranjang queen sizenya.
"Lu, matikan alarm mu"ucap seseorang yang tidur di sebelah Luhan, matanya masih terpejam erat. Luhan mendengus mendengarnya.
"Eung, aku sedang mencari ponselku" Setelah mematikan alarmnya, Luhan duduk di pinggir ranjangnya sambil melirik dua orang yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Salah satunya adalah orang yang tadi mengeluh masalah alarm Luhan.
Dan kedua orang itu adalah Baekhyun dan Kyungsoo.
"Hey, bangun!"ucap Luhan sedikit meninggikan nadanya sambil menggulung rambutnya ke atas. Luhan berdecak, kedua sahabatnya itu masih belum bergerak dari tempatnya. Salahkan Baekhyun yang semalam memaksa untuk nonton film berjudul 'Pure Love' dan berakhir mereka bertiga baru tertidur pukul 1 dini hari.
"Bangunnn ini sudah jam setengah tujuh! Ayolahhh" Luhan terus memukul kedua sahabatnya itu dengan guling. Luhan menggeram melihat kedua sahabatnya masih tak memberikan reaksi. Manik matanya memincing ke arah jam dinding.
Ini sudah pukul setengah tujuh, ia harus segera membangunkan kedua orang menyebalkan yang sedang tidur di ranjangnya itu.
"Yak! Kalian ini ingin mati huh! Cepat bangun!" Luhan mengeluarkan jurus andalannya, ia menendang-nendang bokong kedua sahabatnya, Kyungsoo yang lebih dulu membuka matanya. Ia mengelus bokongnya yang telah menjadi sasaran empuk Luhan.
Kyungsoo melirik ke arah jam dinding, ini sudah siang. Manik matanya berganti melirik Luhan yang masih menendang bokong Baekhyun dengan brutal. Namanya juga Byun Baekhyun, kalau ia sudah mengantuk, tak ada yang bias membangunkannya. Kecuali ibunya dan Chanyeol tentunya.
"Aish, jika ia tahu ia susah dibangunkan, seharusnya ia tak mengajak kita nonton hingga pagi hanya karena ada actor idolanya, si Dyo itu" Luhan mengomel seperti seorang ibu yang tengah membangunkan anaknya. Kyungsoo terkekeh.
"Lu, kau mandi saja dulu, biar aku yang membangunkan Baekhyun"ucap Kyungsoo setelah menggulung rambutnya ke atas seperti Luhan. Luhan mengangguk senang. Selain Chanyeol dan nyonya Byun, Kyungsoo bias membangunkan Baekhyun dengan cepat.
"Kau jangan mandi lama-lama, aku dan Baekhyun juga perlu mandi!"ucap Kyungsoo sedikit menyindir dengan kekehan kecilnya dibalas delikan tajam Luhan. Siapa yang tak tau, Luhan akan menghabiskan waktu setengah jam paling cepat untuk mandi.
"Kau ini, aku tak mandi terlalu lama kok. Eum, ya"balas Luhan dengan handuk yang ia baru saja ambil dari lemari besarnya. Kyungsoo mendelik.
"Tak lama apanya, cih"Kyungsoo mendecih, Luhan hanya mengeluarkan V sign nya lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Hey bangun"ucap Kyungsoo malas sambil menepuk-nepuk bokong Baekhyun. Baekhyun langsung membuka matanya lalu mengelus-elus bokongnya.
"Ish, kau ini membuat bokongku makin sakit saja"gerutu Baekhyun, Kyungsoo terkekeh. Ia berdiri lalu mengambil sebuah handuk di lemari Luhan.
"Siapa suruh susah sekali dibangunkan, kau tahu betapa brutalnya Luhan menendangmu tadi"kekeh Kyungsoo. Baekhyun menggembungkan pipinya.
"Aku tahu itu, aku berniat mengerjainya tapi tak menyangkan jika Luhan sampai menendang bokongku. Kau juga menepuk bokongku"sungut Baekhyun kesal masih mengelus bokongnya.
"Sudahlah ini sudah siang, aku akan mandi di kamar mandi sebelah, kau mau menunggu atau mandi bersama ku?"Tanya Kyungsoo dengan nada menggoda di akhir kalimatnya. Baekhyun menggeleng cepat.
"Aku lebih baik menunggumu saja, aku masih waras ya"balas Baekhyun, Kyungsoo mengangguk lalu berjalan ke luar kamar Luhan dengan seragam lengkap di tangannya.
"Jangan mandi terlalu lama seperti Luhan, aku mempercayaimu Kyungsoo"ucap Baekhyun dengan nada tinggi lalu beranjak mengecek ponselnya.
"Yak! Aku mendengarmu nona Byun"pekik Luhan dari dalam kamar mandi, Baekhyun hanya terkekeh.
"Pagi juga, yeol. Tumben menghubungiku sepagi ini, ada apa?" Rupanya panggilan dari Chanyeol yang membuat ponsel Baekhyun bergetar.
"Kau sudah mandi heum? Ini sudah siang"
"Belum, aku masih menunggu Luhan dan Kyungsoo selesai dan aku berani bertaruh jika Kyungsoo lebih dulu selesai"kekeh Baekhyun, terdengar di seberang sana Chanyeol ikut terkekeh.
"Nona Byun!"pekik Luhan lagi membuat pasanagan BaekYeol itu makin terbahak.
"Nanti aku jemput ya, tapi tidak pakai mobil, aku pakai motor nanti"
"Eum, memangnya ada apa dengan mobilmu?"
"Biasa, servis bulanan"
"Oh baiklah, ya sudah aku tutup ya"
"Eh sebentar, Kai tadi titip pesan, tolong katakan ke Kyungsoo jika Kai akan menjemputnya"
"Baiklah, jadi Luhan akan ikut bersama Kai?"
"Eih jangan, Kai butuh waktu untuk mendekatkan diri dengan Kyungsoo"
"Lalu bagaimana dengan Luhan?"
"Kalau kau sedang di kamar Luhan, coba kau keluar sebentar, cari tempat yang Luhan tak bisa dengar percakapan kita" Baekhyun menuruti instruksi sang kekasih, ia beranjak lalu berjalan ke arah dapur.
"Eung, aku sudah di dapur, memangnya ada apa?"
"Bagaimana jika aku suruh Sehun yang menjemput Luhan?"
"Eih, apa kau gila? Lagipula pasti Luhan menolak"
"Percaya apa kataku, Luhan dan Sehun itu berjodoh dan lagi dengan jam mepet seperti itu, apa Luhan mau menolak tawaran Sehun dan memilih untuk menunggu bus" Baekhyun mendesah pasrah mendengarnya.
"Baiklah, aku mandi dulu" Kyungsoo keluar dari kamar mandi persis setelah Chanyeol menjelaskan rencananya. Baekhyun mengakhiri sambungan teleponnya.
"Kyung, nanti Kai datang menjemputmu, lebih baik sekarang kau segera bersiap lalu tunggu Kai di lobby"jelas Baekhyun sambil mengambil seragamnya dari dala tas.
"Hah? Jangan bercanda"balas Kyungsoo sambil memberikan handuk yang tadi ia pakai.
"Ini serius, tadi Chanyeol memberitahuku" Bola mata Kyungsoo membola sedangkan Baekhyun terkekeh melihat reaksi sahabatnya itu.
"Jangan sia-siakan dia"bisik Baekhyun lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Kyungsoo memegang kedua pipinya yang memanas. Lamunan singkatnya buyar karena deringan ponselnya.
From : Jongin.
"Aku ada di lobby dan kurasa Baekhyun sudah memberitahumu jika aku akan datang menjemputmu"
Pesan singkat dari Kai membuat Kyungsoo dengan gerakan seribu segera membereskan barang-barangnya.
"Kau kenapa Kyung?"Tanya Luhan heran saat keluar dari kamar mandi melihat Kyungsoo buru-buru menata rambutnya.
"Kai datang menjemputku"balas Kyungsoo singkat lalu berlari keluar mengambil sepatunya.
"Aigo, lalu bagaimana denganku?" Luhan mengeringkan rambutnya. Kyungsoo menghendikan bahunya.
"Mungkin kau berangkat dengan Baekhyun, aku pergi"pamit Kyungsoo lalu keluar dari unit Luhan dengan terburu-buru. Luhan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Kyungsoo.
Manik mata Luhan menoleh ke arah jam dinding. Setengah jam lagi ia sudah harus sampai di sekolah dan tepat saat itu BAekhyun datang dengan keadaan eragam telah melekat rapi pada tubuhnya.
"Lu, aku pergi dulu" Luhan mengernyit bingung.
"Kau mau kemana?" Baekhyun mendongak setelah usai mengikat tali sepatunya.
"Aku di jemput Chanyeol, sudahlah 15 menit lagi gerbang sekolah di tutup" Luhan menahan tangan BAekhyun yang hendak keluar dari kamarnnya.
"Aku ikut denganmu" Luhan segera memakai sepatunya. Baekhyun menggeleng.
"Chanyeol memakai motor hari ini, mobilnya sedang di servis, aku pergi" Baekhyun sudah berlari keluar sebelum Luhan sempat protes. Sekarang Luhan hanya bisa segera pergi dan berharap ia tak perlu menunggu bus.
...
_Thank You_
...
Luhan terus saja melirik jam tangannya, sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan di tutup. Ia tak bisa melakukan apapun selain menunggu bus di depan halte dekat apartemennya. Jangan tanya berapa banyak umpatan yang sudah Luhan keluarkan untuk kedua temannya itu. Jika tahu Baekhyun akan di jemput dengan Chanyeol mnggunakan motor, Luhan akan memohon untuk ikut dengan Kai walupun berakhir dengan menjadi pengganggu pasangan KaiSoo itu.
Beberapa kali ada taksi yang lewat di depan Luhan dan Luhan sudah berusaha memberhentikan salah satu taksi itu. Tapi entah apa memang hari ini Luhan sedang sial, semua taksi itu sudah ada penumpangnya. Sekarang Luhan hanya bisa duduk diam dengan kepala yang ia tundukan, berharap ada pangeran penyelamat datang untuknya.
"Hey, mau ikut denganku?"tawar seseorang dengan suara beratnya, Luhan mendongak ia berharap itu adalah pangeran yang dikirkam tuhan untuknya.
Luhan terdiam melihat lelaki di hadapannya. Menurutnya, laki-laki di hadapannya jauh dari kata pangeran.
1 detik
2 detik
3 detik
Itu Oh Sehun. Lelaki albino itu duduk di atas motor ninja hitamnya sambil menunggu jawaban Luhan.
"Ah kau tak mau ya, aku hanya ingin mengingatkan jika pintu gerbang akan di tutup kurang dari 10 menit" Belum sempat Sehun melajukan motornya, Luhan menahan lengan Sehun. Dengan terpaksa Luhan menerima ajakan Sehun. Luhan naik ke atas motor ninja Sehun pelan, takut merobek roknya. Sehun terkekeh dalam diam.
"Pegangan"ucap Sehun datar, tapi Luhan tetap diam tak menuruti perintah Sehun. Sehun menyeringai licik.
"Kyaa! Pelan-pelan"pekik Luhan langsung memeluk Sehun erat ketika Sehun tanpa aba-aba langsung saja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sehun terkekeh meremehkan.
"Lagi pula sudah ku katakan untuk pegangan"balas Sehun masih terkekeh. Luhan memberengut kesal.
"Bilang saja jika kau cari kesempatan"ketus Luhan, Sehun menggeleng cepat.
"Untuk apa aku cari kesempatan ke perempuan sepertimu, aku seperti ini karena sebentar lagi gerbang sekolah di tutup"balas Sehun datar. Luhan mendengus.
"Lalu untuk apa kau tiba-tiba datang ke apartemenku" Ucapan Luhan yang satu ini sempat membuat Sehun terdiam sejenak.
"Chanyeol yang memintaku untuk menjemputmu"balas Sehun datar dan singkat.
"Lalu kenapa kau menerima permintaannya kalau kau bisa menolak?"tanya Luhan lagi, Sehun menggeram pelan. Hal lain yang baru ia tau tentang Luhan, Luhan sangat cerewet.
"Karena jalan apartemenku ke sekolah melewati apartemenmu dan lagi kau tadi terlihat seperti anak tk yang ketakutan karena kehilangan ibunya"jelas Sehun masih datar namun dapat di dengar kekehan di akhir kalimatnya. Luhan reflek memukul punggung Sehun dan itu membuat Sehun sempat kehilangan keseimbangannya.
"Yak! Kau tak liat aku sedang mengemudi, kau mau jatuh, huh!"geram Sehun kesal, Luhan hanya bisa diam tak berkutik. Bisa dibilang ia lumayan takut saat ini.
"L-lagi p-pula, kau yang memulai dengan penjelasan memalukanmu"sungut Luhan pelan. Sehun tersenyum tipis tanpa Luhan sadari.
"Itu keyataan, pegangan yang erat aku akan menambah kecepatan" Mengingat dari kejadian sebelumnya, Luhan saat ini memilih untuk menuruti permintaan Sehun. Tangan mungil Luhan melingkar erat di perut ber-abs sempurna Sehun.
Tak lama, bisa di lihat Sehun makin cepat melajukan motornya sambil terus menyalip di antara banyak kendaraan. Luhan hanya bisa memeluk Sehun erat sambil bersandar di punggung tegap Sehun. Ia takut jatuh. Sangat takut.
.
.
.
"Apakah punggungku senyaman itu, eum?"ucap Sehun pelan, Luhan terlonjak. Ia meruntuki kebodohannya yang bisa tertidur di punggung Sehun. Kalau boleh jujur, punggung Sehun memang sangat nyaman.
"E-eh, m-maaf"ucap Luhan kikuk lalu turun perlahan dari motor ninja Sehun. Sehun terkekeh pelan.
"Tak ada yang ingin kau ucapkan?"pertanyaan Sehun membuat langkah Luhan terhenti, Luhan menoleh ke arah Sehun perlahan. Di sana, Sehun masih duduk di motornya sambil menatap Luhan dengan sebelah alis terangkat.
"T-terima kasih"ucap Luhan pelan, Sehun mengernyit. Sehun dengar tapi ia ingin mengerjai Luhan.
"Apa? Aku tak dengar"keluh Sehun pura-pura dan sayangnya Luhan percaya itu. Dengan gugup Luhan mendongak, mengumpulkan keberaniannya. Manik mata keduanya bertemu.
"Terima kasih Oh Sehun"ucap Luhan lebih jelas, Sehun tak menggubris, manic matanya belum berhenti menatap manik mata Luhan. Daripada merona di depan Sehun, Luhan memilih untuk segera pergi. Kontak mata keduanya terputus, Sehun menggeleng pelan.
"Apa yang aku pikirkan?"monolog Sehun pelan lalu melajukan motornya mencari tempat kosong untuk meletakan ninja kesayangannya itu.
Tak jauh beda dengan Sehun, Luhan sedang mati-matian meruntuki kebodohannya tadi yang tertidur di punggung Sehun lalu bertingkah aneh di depan Sehun di tambah dengan kontak mata dengan Sehun yang membuatnya berdebar. Luhan menepuk pipinya keras. Tidak boleh dan takkan pernah terjadi.
"Apa yang sudah ku lakukan"runtuk Luhan sambil memukul-mukul kepalanya pelan.
"Bagaimana bisa aku tertidur di saat seperti itu dan dengan orang itu, huh"kesal Luhan, nada bicaranya memelan agar tak ada yang dengar.
"Kenapa juga aku bertingkah seperti itu di depannya, memalukan sekali"gerutu Luhan tanpa henti.
"Ini juga, kenapa mata ini terus melihat mata albino gila itu" Luhan memukul pelan kdua manic matanya hingga langkahnya terhenti di sebuah loker dengan tulisan "Luhan 07". Luhan mengambil kunci lokernya dari dalam saku lalu membuka loker berwarna abu-abu itu.
Seperti biasa ada sebuah note dan setangkai mawar. Luhan meletakan tasnya lalu meraih sebuah note berwarna merah muda itu.
"I want to see your bright smile, please smile for me"
-your secret adminer.
Luhan terkekeh kecil memabacanya lalu meletakkan kembali sticky notes itu. Kalau dilihat-lihat sudah banyak bunga mawar yang layu di dalam lokernya, Luhan memutuskan untuk membuangnya sebelum bel masuk bordering.
"Lu, kau akan membuang semua itu?" Tiba-tiba Baekhyun dan Kyungsoo datang menghampiri Luhan. Luhan mengangguk.
"Kalau kupikir-pikir jika bunga mawar ini terus berada di sini yang ada nanti lokerku menjadi kotor dan penuh"balas Luhan lalu membuang bunga-bunga itu ke sebuah tempat sampah di dekatnya. Luhan menyisakan satu tangkai bunga mawar yang masih segar.
"Iya juga, lama-lama juga akan mengeluarkan bau busuk"tambah Kyungsoo menyetujui.
"Oh ya, tadi kalian kenapa meninggalkanku begitu saja?"kesal Luhan, Kyungsoo dan Baekhyun terdiam. Kyungsoo tak tahu apa-apa sedangkan Baekhyun sudah memprediksi Luhan akan bertanya seperti ini.
"Aku tak tahu, setelah aku mandi, Baekhyun bilang Kai akan menjemputku lalu tak lama Kai datang jadi kupikir kau akan berangkat bersama Baekhyun dan Chanyeol"jelas Kyungsoo apa adanya, tatapan kesal Luhan berpindah ke Baekhyun. Terpaksa Baekhyun harus berbohong kali ini daripada ia harus terkena amukan Luhan. Ini masih terlalu pagi untuk itu.
"Chanyeol mengabari masalah mobilnya yang di servis baru tadi pagi, jadi aku tak bisa mengajakmu berangkat bersama"jelas Baekhyun se-meyakinkan mungkin.
"Kalian tahu, aku berakhir berangkat dengan si albino itu dan semua ini karena kekasih tiangmu, Baekhyun"gerutu Luhan, Kyungsoo dan Baekhyun menahan gelak tawanya.
"Sudahlah Lu, yang penting kau sampai sini bukan"bals Baekhyun berusaha tenang, Baekhyun benar-benar ingin terbahak tapi ini bukan waktu yang tepat. Kalian tahu bukan bagaimana jika Luhan mengamuk, membangunkan Baekhyun dan Kyungsoo saja sudah seperti itu.
"Ah, kalian menyebalkan sekali"gerutu Luhan kesal lalu menutup lokernya sedikit keras, terkesan membanting.
"Guru mu sudah masuk" Luhan terlonjak mendengar sebuah bisikan. Ia menoleh dan mendapati Chanyeol, Kai, Sehun ada di belakangnya. Terlihat Chanyeol dan Kai terbahak, Chanyeol bahkan menepuk-nepuk bahu Sehun.
Dan ya, Luhan sadar jika yang membisikannya itu adalah Sehun. Luhan berbalik memunggungi Sehun. Baekhyun dan Kyungsoo terkekh.
"Yak!"bentak Luhan lalu melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju kelas. Baekhyun dan Kyungsoo hanya berani mengekori Luhan dari belakang.
.
.
.
"Kau kenapa senyum-senyum sendiri, Hun?" Sehun menengok setelah merasa ada yang menepuknya.
"Tidak, biasa saja"balas Sehun kembali datar. Chanyeol mendecih.
"Hey, rupanya kau mengelak. Ngomong-ngomong bagaimana rasanya mengantar Luhan tadi, huh?" Pertanyaan Chanyeol ini membuat Sehun terdiam sejenak, Sehun mengingat-ngingat kejadian tadi pagi.
"Kau tahu, selain menyebalkan dia juga cerewet" dan menggemaskan. Sehun melanjutkan akhir kalimatnya di dalam hati. Ia tak mau di tertawakan dengan kedua sahabatnya itu.
"Kau yakin hanya itu?"selidik Chanyeol dan dibalas dengan hendikan bahu Sehun. Kai dan Chanyeol mencibir melihat Sehun langsung mengenkana headsetnya.
"Perhatian!" Semua murid kelas XI B menoleh ke sumber suara. Dia adalah si ketua kelas, Kim Junmyeon.
"Hari ini Lee Sosaengnim ijin tak datang hari ini, tak ada tugas tapi ku harap tak ada yang bolos"jelas Junmyeon lalu kembali ke tempat duduknya. Murid-murid sekolah Sehun tak liar, mereka akan duduk berkumpul bersama dan berbicara tak terlalu keras. Ada juga yang akan berburu idolanya, Sehun, Kai, Chanyeol termasuk sebagai promadona sekolah.
"Kai, ini untukmu" Seorang gadis berkacamata mendekati Kai. Ia pasti penggemar Kai. Kai tersenyum kecil lalu menggeleng.
"Jika aku menerimanya, caon kekasihku akan berfikir jika aku lelaki buruk"tolak Kai halus, gadis itu terlihat murung, Kai menyenggol Sehun berharap Sehun yang akan menerimanya.
"Kai, Sehun sedang masa pendekatan, jangan rusak itu"celetuk Chanyeol, Sehun mendelik sedangkan Kai hanya terkekeh. Gadis tadi memilih pergi dari sana, menahan tangis di pelupuk mata. Sepertinya itu adalah adik kelas.
"Ayo keluar, aku ingin menemui Baekhyun"ajak Chanyeol, Kai dengan senang hati akan menerimanya karena pasti Kyungsoo ada di sana. Sedangkan Sehun, ia hanya mengikuti kedua sahabatnya malas.
Baekhyun, Kyungsoo, dan Luhan terlihat sedang berbincang di depan loker mereka. Chanyeol tersenyum menyeringai licik lalu menyenggol bahu Sehun.
"Aku memiliki sebuah tantangan, jika kau bisa melakukannya, aku akan membayar uang servis motor kesayanganmu selama sebulan"tantang Chanyeol, Sehun melepas headsetnya. Sehun terlihat tertarik dengan tawaran Chanyeol.
"Kau hanya perlu mebisikan sesuatu yang bisa membuat Luhan merona, hanya itu" Sehun sempat melotot mendengarnya, tapi kalau ia piker-pikir ini akan menjadi hal yang menyenangkan.
"Baiklah, kalian lihat"ucap Sehun percaya diri. Sehun melangkahkan kakinya ke arah Luhan. Ia sempat melirik ke arah kelas Luhan. Rupanya Kim Sosaengnim sudah masuk ke dalam kelasnya.
Sehun mulai menundukan kepalanya. "Gurumu sudah masuk" bisik Sehun pelan lalu ia kembali ke tempat Chanyeol dan Kai menunggunya.
"Sepertinya dia berhasil"tebak Kai, Chanyeol masih asik mengamati perubahan tingkah Luhan.
"Bagaimana?"Tanya Sehun percaya diri. Chanyeol mencibir.
"Dia tidak merona, kau gagal"kekeh Chanyeol sambil menepuk-nepuk pundak Sehun. Sehun hanya tersenyum tipis, ia anak orang berada jadi ia menyanggupi tantangan Chanyeol hanya karena incarannya Luhan.
Mungkin Sehun tertarik dengan Luhan. Mungkin.
"Luhan salah tingkah, lihat-lihat" Sehun dan Chanyeol menoleh lagi ke arah Luhan yang sedang menghentak-hentakan kakinya kesal. Chanyeol dan Kai terbahak sedangkan Sehun memilih menahan tawanya. Ia masih gengsi bukan.
"Yak!" Chanyeol, Kai, dan Sehun terperanjat mendegar bentakan Luhan. Sehun tersenyum tipis melihatnya.
Sehun mungkin kan tertarik dengan Luhan. Perjalanan mereka masih panjang bukan, mereka bisa saja menjadi dekat. Tidak ada yang tak mungkin.
…
_Thank You_
…
Kyungsoo, Luhan, Baekhyun sedang merapikan bukunya, bersiap-siap untuk kembali ke apartemen Luhan. Iya, Baekhyun dan Kyungsoo akan tinggal di apartemen Luhan sampai beberapa hari ke depan.
"Hng, sekarang aku pulang dengan siapa?"Tanya Luhan, belum sempat Kyungsoo dan Baekhyun menjawab. Kai dan Chanyeol sudah berdiri di depan kelas XI A dengan Sehun di belakangnya.
"Baekhyun! / Kyungsoo!"panggil Kai dan Chanyeol, yang dipanggil menoleh. Terlihat kedua lelaki tampan itu melambai ke arah pujaan hatinya. Baekhyun tersenyum, Kyungsoo merona. Luhan mendecih melihatnya. Jadi ini akan berakhir dengan ia pulang sendiri naik bus. Salahkan mengapa mobilnya belum selesai di servis.
"Luhan, Baekhyun, aku duluan ya, tak enak jika Kai menunggu terlalu lama"pamit Kyungsoo lalu pergi menyusul Kai yang sudah terlebih dulu pergi mengambil mobilnya di basement. Kyungsoo terlalu cepat keluar kelas, Luhan belum sempat mengutarakan niatnya untuk ikut pulang bersamanya.
"Luhan, jangan berfikir untuk ikut Kyungsoo, dia masih dalam masa pendekatan dengan Kai"ucap BAekhyun mengingatkan, bukannya mengangguk, Luhan malah mencibir.
"Lalu, aku akan pulang bersama siapa? Menunggu bus sendirian?"ketus Luhan.
"Mau bagaimana, Chanyeol tak bawa mobil. Oh ya, kan ada Sehun, ikut saja dengannya, kalian searah" Sayangnya usul yang di berikan Baekhyun tak membuat Luhan tersenyum, malah makin mengerucutkan bibirnya.
"Baekhyunnnahhh!" Baekhyun menoleh ke sumber suara, dia Chanyeol. Chanyeol terlihat menggurutu di sana membuat Baekhyun terkekeh.
"Sudahlah, Chanyeol sudah menungguku"pamit Baekhyun meninggalkan Luhan sendirian. Luhan menengok ke arah pintu, Sehun juga sudah pergi. Tak ada pilihan lain untuk Luhan selain menunggu bus di halte yang berjarak 500 meter dari sekolahnya.
Tunggu, Luhan baru saja mengharapkan Sehun masih menunggunya dan menawarkan tumpangan.
Luhan terus menggerutu sepanjang perjalan menuju halte hingga saat ini ia sedang duduk di halte menunggu ada bus datang.
"Kenapa juga mobilku harus ada kerusakan mesin"gerutu Luhan sambil menghentak-hentakan kakinya. Ada beberapa orang yang sedang menunggu bus di sebelahnya, beberapa pelajar dan seorang wanita usia lanjut.
Luhan melirik arlojinya, sudah tiga puluh menit ia menunggu bus namun tak kunjung datang. Bahkan, beberapa pelajar tadi sudah beranjak dan memilih untuk pulang dengan berjalan kaki saja, menyisakan dirinya dan seorang wanita usia lanjut. Jika jarak apartemennya tak jauh, mungkin dari tadi Luhan sudah memilih untuk jalan kaki saja.
"Perhatian, karena terjadi kecelakaan di depan Seoul Ulimate High School, kemungkinan besar bus yang seharusnya datang sepuluh menit yang lalu baru bisa beroperasi lagi sekitar setengah jam ke depan. Maaf atas ketidak nyamanannya"
Pengumuman seorang lelaki paruh baya dari sebuah speaker mini di ujung tiang halte membuat Luhan mengacak rambutnya frustasi. Tiga puluh menit lagi bukan waktu yang sebentar. Ponselnya juga sudah low battery. Luhan terus menyumpa serapahi kejadian yang menimpanya saat ini hingga sebuah taksi berhenti di depan halte sedang menurunkan seseorang. Dengan sigap Luhan menahan taksi itu agar tak pergi. Belum sempat ia masuk ke dalam taksi, seseorang menepuk pundaknya.
"Bolehkan saya yang menaiki taksi ini, anakku sedang sakit keras menungguku di rumah"Tanya seorang wanita lanut usia yang tadi masih setia menunggu bus datang di sebelah Luhan. Luhan ingin meolak, tapi ketika melihat ekspresi wanita itu dan bagaimana penjelasan wanita itu, Luhan dengan berat hati mempersilahkan wanita it masuk.
"Terima kasih banyak, nak"ucap wanita itu tulus, Luhan tersenyum lalu taksi itu melaju meninggalkan Luhan. Oke sepertinya Luhan harus menunggu hinga tiga puluh ke depan. Luhan embali duduk di kursinya. Ia memejamkan matanya sebentar hingga ia benar-benar tertidur, Luhan benar-benar kelelahan.
.
.
.
"Hey, bangun" Luhan mengerjapkan matanya ketika merasa seseorang menepuk-nepuk pundaknya.
"Kau ini, susah sekali di bangunkan. Lagipula mengapa tertidur di tempat umum seperti ini"omelnya, Luhan mendecih sambil mengucek-icek matanya.
"Kau tahu aku sangat lelah dan harus menunggu satu jam lebih untuk satu bus menyebalkan itu, eunh Oh Sehun?" Luhan mengerjapkan matanya lucu meyakinkan siapa pemuda yang tadi membangunkan sekaligus mengomelinya.
Itu Oh Sehun.
Benar-benar Oh Sehun.
"Hentikan itu, sini aku antar pulang"Sehun mengambil alih tas Luhan lalu naik ke atas motornya. Luhan membelalakan matanya melihat apa yang Sehun lakukan. Seingatnya, kemarin ia masih berengkar seperti tom and jerry dengan Sehun.
"Hey, ayo"panggil Sehun sekali lagi, Luhan beranjak dari tempat duduknya lalu naik ke ata motor ninja Sehun.
"Pegangan, mau seperti tadi pagi lagi, huh" Luhan mendengus lalu memeluk ralat berpegangan pada pinggang Sehun. Ada rasa yang aneh ketika Luhan melingkarkan tangganya di pinggang Sehun, baik Luhan ataupun Sehun. Tqpi keduanya berusaha mengabaikan rasa itu.
Sehun segera melajukan motornya menuju apartemen milik Luhan.
"Mengapa kau tak naik taksi saja atau menghubungi seseorang?"Tanya Sehun dan seketika lamunan Luhan buyar ketika mendengarnya.
"Eh, tadi ada taksi tapi juga ada seorang wanita lanjut usia memohon agar ia bisa menaiki taksi itu jadi ya sudahlah, dan masalah menghubungi orang lain, ponselku low battery"jelas Luhan menjawab pertanyaan Sehun. Sehun mengangguk paham.
"Kau sendiri, kenapa bisa menemuiku di halte?"Tanya Luhan, Sehun terdiam hampr saja Sehun menghentikan motornya mendadak. Iya juga, Chanyeol dan Kai tak menyuruhnya untuk menjmput Luhan, mengapa tadi ia mengendarai motornya kembali ke sekolah.
"Sehun"panggil Luhan pelan, Sehun tersadar dari lamunan singkatnya.
"Eh, tadi aku pulang telat karena ada sesuatu yang harus ku urus dan ketika aku pulang, aku menemukanmu tertidur di halte"jelas Sehun yang jelas-jelas bohong. Luhan mengangguk dan itu membuat Sehun dapat bernafas lega karena Luhan tak bertanya lebih jauh lagi.
Setelah pertanyaan terkahir Luhan tadi, mereka kembali di selimuti dengan keheningan. Tk ada yang membuka suara lagi.
…
_Thank You_
…
Sehun memberhentikan motornya di depan lift basement. Luhan mengambil aih tasnya setelah turun dari motor ninja milik Sehun.
"Terima kasih untuk ini" Kali ini Luhan berani mengatakannya sambil menatap manic mata Sehun, tak seperti tadi pagi. Sehun mengangguk lalu melajukan motornya.
Belum ada semenit Sehun pergi bahkan Luhan belum sempat memencet tombol lift, terdengar bunyi motor jatuh sontak Luhan menoleh ke belakang.
"Sehun!"pekik Luhan panic menghampiri Sehun, terlihat kaki kanan Sehun tertimpa motor ninja miliknya, kalian tau bukan sebesar apa motor ninja itu.
Luhan berusaha menyingkirkan motor besar itu dengan Sehun yang juga berusaha mendorongnya sambil meringis kesakitan. Putus asa karena tak bisa memindahkannya, Luhan berlari bagaikan angin mencari security apartemen.
"Tolong teman saya pak"pinta Luhan cepat, kedua security itu dengan sekuat tenaga menggeser motor Sehun.
"Bisakah salah satu dari kalian memarkirkan motor itu dan satu lagi membantu saya naik ke unit saya?"Tanya Luhan pelan, kedua security itu tersenyum lalu menuruti permintaan Luhan. Itu memang perkerjaan seorang security bukan.
"Akh…"ringis Sehun membuat Luhan makin panic.
"Sabarlah sebentar, setelah ini aku akan memanggilkan dokter untukmu"tutur Luhan lembut, Sehun melirik ke arah Luhan. Keringat mengucur deras di pelipis Luhan, mungkin karena tadi ia berusaha menarik motor Sehun. Setelah lift terbuka, Luhan dan security itu dengan perlahan membopong Luhan ke unitnya. Nomor 2012.
"Terima kasih banyak"ucap Luhan sambil terus membungkuk setelah security itu membantunya membaringkan Sehun di ranjangnya. Ia sempat heran karena tak ada Kyungso dan Baekhyun. Luhan berlari mengecharge ponselnya lalu menghubungi dokter keluarganya yag ada di Korea dengan ponsel Sehun. Beruntung Luhan memiliki catatan kecil yang berisi nomor telepon penting.
"Akh… ishh"desis Sehun memgangi kaki kanannya. Luhan segera berlari menghampiri Sehun sambil menunggu dokter mengangkat teleponnya.
"Sakit sekali ya? Tahan sebentar, aku sedang menghubungi dokter"cemas Luhan, Sehun tersenyum kecil samar-samar.
"Zhoumiya, lama sekali kau mengangkatnya" Kesal Luhan, yang di seberang sana hanya menanggapi dengan kekehan.
"Ini penting, cepat ke rumahku, temanku terjatuh dari motor tadi"
"Santai sedikit Luhan, baiklah aku akan ke sana, sekitar tiga puluh menit lagi" Luhan membelalakan matanya mendengar akhir kalimat Zhoumi, dokter pribadi keluarganya.
"Yak! Bagaimana jika kakinya ada retak atau luka dalam?! Kutunggu dalam waktu limas menit" Luhan langsung menutup sambungan teleponnya. Sehun maupun Zhoumi terlonjak kaget dengan bentakan Luhan tadi. Jika Zhoumi kaget lalu terheran-heran dengan sikap Luhan, di sini Sehun tersenyum setelah itu. Luhan perduli dengan Sehun bukan.
.
.
.
"Bagaimana?"Tanya Luhan penasaran setelah Zhoumi memperban lutut Sehun.
"Terjadi sedikit keretakan tapi aku sudah memberinya obat penghilang rasa sakit, mungkin lusa ia harus di bawa ke rumah sakit"jelas Zhoumi.
"Lalu bagaimana caranya aku pulang jika kakiku seperti ini?"Tanya Sehun bingung sambil menatap kaki kanannya prihatin. Mengapa ia menjadi begitu ceroboh tadi.
"Aku bisa mengantarmu pulang dengan mobilku, ah ya, mobilku baru datang besok" Luhan menepuk dahinya sedangkan Sehun mendengus mendengarnya.
"Hubungi lah keluarga atau anak buahmu" Sehun menggeleng.
"Keluargaku pindah ke Jepang tiga tahun lalu, aku sendirian di Korea"balas Sehun, Luhan terdiam.
"Chanyeol dan Kai?"Tanya Luhan lagi.
"Mereka kan menginap di rumah bibi Baekhyun dan tak pulang hari ini, mereka akan langsung ke sekolah besok, kau tak tahu?" Luhan menggeleng mendengar penjelasan Sehun lalu segra mengambil ponselnya. Yang benar saja, ada 20 missed call dari Kyungsoo dan Baekhyun. Dan beberapa pesan.
"Lu, malam ini aku, Kai, Kyungsoo, dan Chanyeol akan menginap di rumah bibiku, sejujurnya aku sudah menghubungimu tapi kau tak bisa di hubungi. Seharusnya ada Sehun juga, tapi sepertinya ia memilih untuk mencarimu"
Luhan terlonjak, Sehun mencarinya? Jadi itu alasan Sehun bisa mengantarnya pulang hari ini.
"Bagaimana, Lu?" kali ini Zhoumi yang bertanya. Luhan menoleh.
"Tak ada yang bisa kita lakukan, jika Sehun tinggal sendiri di apartemennya, siapa yang akan merawatnya"jelas Luhan pasrah, Sehun melongo, Luhan bahkan berfikiran lebih jauh dari pada dirinya sendiri.
"Kalau begitu, Sehun menginap di sini saja dulu, kasihan kakinya tak boleh di gerakan dulu sampai besok, besok akan ku antarkan tongkat untuk membantunya jalan"usul Zhoumi, Sehun dan Luhan melotot ke arah dokter muda itu bersamaan. Zhoumi mengernyit.
"Memangnya kenapa? Tak ada cara lain bukan"tambah Zhoumi, Luhan dan Sehun menghela nafas pasrah.
"Aku ada urusan, aku duluan ya, jangan lupa untuk mengoleskan salep yang sudah kuberikan tadi ke kaki Sehun"pamit Zhoumi lalu menghilang dari pengheliatan Sehun dan Luhan. Sehun menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf merepotkanmu, aku bisa urus sendiri di apartemenku kok"
"Kamu ini, bagaimana bisa dengan kondisimu seperti itu"omel Luhan.
"Aishh, kau tidur di situ saja, aku akan tidur di sofa bed ruang tamu"jelas Luhan namun lengannya ditahan oleh Sehun sebelum ia pergi.
"Kau di sini saja, di sini ada sofa bed juga bukan. Aku tak akan macam-macam"usul Sehun, Luhan mengernyit bingung.
"Aku tak mau merepotkanmu lebih banyak lagi"tambah Sehun, Luhan tersenyum mendengarnya.
"Lihat nanti saja, aku akan buat makan sore ini"pamit Luhan beranjak dari ranjangnya. Luhan menghentikan langkahnya di depan pintu.
"By the way, terima kasih sudah mau mencariku"ucap Luhan tanpa menatap Sehun lalu melangkahkan kakinya ke dapur.
Sehun tersentak mendengarnya, jadi Luhan sudah tau soal itu. Ia menutup wajahnya yang merona. Ini mungkin pertama kalinya Sehun merona. Sehun menggeleng.
"Aku tak menyukainya, ya aku tak menyukainya"batin Sehun terus menerus lalu membaringkan dirinya di ranjang hello kitty Luhan.
Tak hanya menyebalkan dan cerewet. Luhan juga berhati mulia dan memiliki selera ya… kekanak-kanakan.
Mungkin itulah pendapat Sehun tentang Luhan saat ini.
.
.
.
_My First Love_
.
.
.
_Thank You_
.
.
.
"Thank you for trying to found me"
"Thank you for care to me"
.
.
tbc.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya updatenya lama banget. Chapter ini udah aku usahain untuk lebih panjang dari sebelumnya. Terima kasih buat readers yang sudah mau kasih review dan menunggu update-an fanfiction ini. Insyallah, mulai sekarang aku bakal nerapin system 3 hari/4 hari akan jadi satu chapter. Untuk yang fanfiction "Last Chance", berhubung aku pindah laptop dan chapter terakhirnya ga sengaja kehapus, jadi aku bakal ngebut untuk ngelanjutin.
Review, follow, dan favourite dari kalian adalah penyemangat aku untuk segera update dan lebih semangat untuk memikirkan ide-ide yang lebih baik dari sebelumnya.
Terima Kasih.
