Prologue.


.

.

.

.

.

.

...

Jo Liyeol's present

©2016

.

.

WCT Our Hostel

i can't take it no more

.

.

.

Casts: BTS and SEVENTEEN member.

Pairing:

VKook, MinYoon/YoonMin, Meanie, SoonHoon, VerKwan.

NamJin and JeongCheol.

Other:Lonely Jung Hoseok.

Rate: T+

Warning!: BL, Typo, OCC, AU.

.

.


Disclaimer : Tokoh milik Tuhan, orang tua dan Agensi mereka. Tapi cerita, pairing, Taehyung dan Soonyoung real milik Liyeol! =3=

PROHIBITED COPAS, DON'T BE PLAGIAT, DON'T BE SILENT!

BTS - SEVENTEEN FF! DLDR! RnR!


...

Kamis pagi.

Hal yang paling dibenci seorang Kim Taehyung.

Kenapa?

"Pakai dasimu yang benar!"

Kerena ia dangan kelima sahabatnya—serta ratusan siswa bermasalah lain, harus berdiri di tengah lapangan. Menjadi pusat perhatian hampir seluruh penghuni YaGook yang lolos seleksi depan gerbang sebelumnya.

Bukan menjadi pusat perhatiannya yang dibenci Taehyung.

Tapi

"Kalian lagi, kalian lagi. Tidak bosan berdiri di sini setiap minggu?" perkataan tegas yang Yoongi keluarkan bercampur jengah luar biasa, langkahnya terhenti saat tidak sengaja melewati barisan Taehyung dan grombolannya.

Ketua OSIS itu mendelik dari ujung mata, mendecih kilat sambil menyentak almamater hitam-hijaunya.

karena harus berhadapan langsung; dengan sekumpulan laknat yang menempati baris terakhir daftar yang ingin Taehyung lihat di dunia.

Ya, benar—anggota kesiswaan YaGook.

Lebih dari dua puluh personel mereka dikerahkan pagi ini untuk menanggulangi ratusan siswa bermasalah tidak lulus seleksi. Namun dari seluruh anggota yang bertugas, tetap saja guidance- guidance terbaik di antara mereka lebih mencolok di mata Taehyung dan kawan-kawannya.

"Jeon Jungkook gila, Choi Hansol tolol, Lee Jihoon sinting, Jeon Wonwoo sialan. Min Yoongi brengsek tingkat dewa," gumam Jimin menunjuk satu persatu petuah yang di tatapnya, mata sipitnya memicing tajam kala Yoongi telah berjalan cukup jauh dari mereka. Si Park berdiri di sebelah kanan Taehyung.

"Kombinasi yang sempurna," tanggap Hoseok di belakangnya setuju.

"Hei, hei! Kurang ajar! Tolong diralat, Choi Hansol tampan—begitu lebih enak didengar," tanggap Seungkwan bersungut-sungut, dia berdiri di sebelah kiri Taehyung.

"Bangsat," sahut Soonyoung asal, "Silitmu tuh tampan. Kambing bule itu juga kepala batu, Boo," kemudian ia mendecak malas, masih berdiri di belakang Taehyung ketika mengacuhkan cibiran sebal Seungkwan.

"Please ... jangan bawa-bawa area bawah, sobat. Aku trauma dengan mulut sialan orang ini," Jimin menyahut, menatap getir kearah Soonyoung sambil menunjuk Hoseok di belakangnya pakai ibu jari.

Si Kwon menoleh, lantas menautkan jemari di depan dada, "Pardon, Man. Aku lupa ada dia di belakangmu," balasnya setengah kasihan.

Hening untuk beberapa sekon. Sebelum Seungkwan buka suara, "Gyu, tumben sekali kau diam saja?" ia menyerongkan tubuh untuk menatap Mingyu di belakangnya.

"Diam, Boo. Aku sedang turn on," balas Mingyu pelan, vokalnya menyeret rendah dan tajam.

Lantas mengalihkan perhatian Seungkwan juga Soonyoung yang mendengarnya, mereka menoleh juga berbalik sedikit—untuk menatap Mingyu sama-sama. Pandangan keduanya mengarah pada bagian paling selatan sang pengucap. Tidak heran lagi kala mendapati si Kim gelisah di tempat sambil menutupi area ziper celana sekolahnya.

"Sial! Wonwoo sunbae semakin hot saja. Bokongnya itu, astaga ...," gumamnya pada angin.

—yang dalam sekejap membuat Seungkwan dan Soonyoung kembali menghadap depan sambil memutar bola mata.

"Gyu, kau menyukainya?" suara Hoseok kini yang terdengar.

Mingyu mendelik, menatap abang satu tingkatnya sedikit menoleh, "Kau berharap aku menjawabnya, Hyung?"

Meski bingung, Hoseok mengangguk.

"Tidak dengan mulut sialmu itu," tanggap Mingyu terlampau enteng, lalu melanjuti kalem, "Aku masih sayang popularitasku," kemudian kembali menghadap depan membiarkan Hoseok menganga di tempat.

"Bocah bangsat!" cibirnya kemudian.

"Sejak kapan kau menyukainya?" suara Soonyoung yang kini terdengar.

Membuat keempat sisanya seketika menajamkan indra pendengaran.

Mingyu diam, tidak terlalu lama hingga ia menjawab, "Sejak dia menyiramku dengan air suci."

Maka hening yang nyambut.

Nyaris tiga menit kemudian, kelimanya tergelak heboh. Namun yang ditertawakan tetap pada eksperesi tegang.

Sontak hal itu memancing perhatian seluruh petugas kesiswaan dan siswa yang ikut berdiri di lapangan—tidak dengan yang di atas sana, karena mereka telah memasuki kelas masing-masing. Bel berbunyi beberapa menit lalu.

Yoongi, selaku ketua OSIS mengambil keputusan buat melangkah ke sana.

Lantas berhenti di hadapan Jimin.

"Apa yang lucu?" pertanyaan tajam itu ia tujukan pada keenam siswa ini.

Mereka diam.

Tak ada tanggapan hingga beberapa menit berselang.

Bukannya takut (tidak ada orang takut yang malah menatap balik dengan sengit) hanya saja terlalu malas buat meladeni Yoongi. Orang termenyabalkan di sekolah ini bagi mereka.

Min Yoongi adalah musuh di atas musuh pada puncak menara musuh di kerajaan besar musuh dalam kastil musuh Kim Taehyung dan kawan-kawan.

Dan bagi mereka berenam: 'Tidak ada musuh yang saling bicara.' —begitu kata Jimin saat ia berkeliling demi gerakan HAM-Cnya di sekolah tapi dihentikan secara anarkis oleh Yoongi.

"Kalian tau aku tidak suka mengulang pertanyaan 'kan?" nada rendah itu Yoongi sampaikan semakin tajam, "Jadi kutanya, apa yang lucu?"

Hening kembali melanda.

Tapi kali ini Jimin berkata bersuara usai beberapa detik: "Kau seperti member panti jompo dengan rambut abu-abu putih itu."

Lima lainnya mendelik.

Tidak nyambung memang, tapi biarkan, toh ini juga fakta yang bisa ditertawai.

"Kambing bule itu semakin kelihatan bodoh tiap harinya," timpal Hoseok menunjuk Hansol.

"Dan Soonyoung bilang Jihoon semakin manis hari ini—bahkan imut sekali katanya," akhirnya Taehyung buka suara.

Seketika si Kwon menoleh tak percaya, menyalak ke Taehyung sebelum tatapannya bersinggungan dengan si Lee. Maka ia panik dan menanggapi, "Demi Tuhan! Aku tidak berkata seperti itu, Ji! Kau boleh menggembiri barang Mingyu kalau tak percaya!"

Mingyu menoleh, ekspresi tegangnya tiba-tiba hilang entah ke mana, "Apa-apaan, Hyung? Mau kukebiri barangmu duluan, hah?!"

"Berkorbanlah sedikit demi Hyungmu, sobat!" sahut Soonyoung kesal.

Tidak terima, Mingyu membalas, "Ini bukan masalah berkorban! Tapi masalah masa depan!"

"Wah! Si brengsek, kau tidak ing—!" teriakan Soonyoung teredam kala vokal yang lebih tinggi menyela.

"Diam atau barang kalian akan kukebiri bersamaan! Bocah tengik! Sialan!" itu suara Yoongi.

Seketika kembali hening.

Namun Jimin kembali menjadi si pemecah keheningan, "Heh, bantet! Siapa kau berani mengatai sahabatku seperti itu, hah?! Jangan mentang-mentang kau ketua OSIS! Lebih baik sana kau berkeliling sekolah ikut aku konvoi HAM-C!" pekikannya berhasil membuat hampir seluruh siswa di lapangan membelalak tak percaya.

Mereka kenal Jimin adalah si pencetus HAM-C di sekolah, merekapun kenal Jimin termasuk dalam gerombolan paling bermasalah di sekolah. Tapi—mereka tidak kenal Jimin yang bisa dengan lantang berteriak keras pada makhluk paling berbahaya di sekolah.

Karena mereka kenal—dari pada Taehyung, Jimin lebih sayang nyawa.

Yoongi menoleh, menatap langsung si Park. Detik selanjutnya ia memposisikan tubuh menghadap siswa itu, "Kau sebut aku apa?" nada rendah itu lagi. Nyaris Jimin buka suara, namun Yoongi lebih dulu melanjutkan kaliamatnya, "Bangsat! Kau tidak pernah ikut pemeriksaan UKS tiap bulan, Park Jimin?! Aku bahkan lebih tinggi satu senti darimu!"

"Wah, ketua gila ini ...," Jimin mencebik pongah, "Satu senti itu tidak ada artinya, brengsek!" nyalaknya kemudian sembari menunjuk-nunjuk wajah Yoongi.

"Keparat! Jelas ada! Selama itu denganmu, satu—bahkan setengah sentipun berharga, Cebol!" tidak terima, si Min juga mengangkat telunjuknya ke muka Jimin.

"Kepalamu tuh cebol, dasar bantet!"

.

Adu cela antara Yoongi-Jimin yang terus berlangsung membuat Hansol mendekati mereka, pelan-pelan ia memegang bahu Yoongi, "Sunbaenim, sudah," bisiknya hati-hati, namun tidak digubris sama sekali.

Tapi entah kenapa, Hansol sendiri tak mengerti saat tiba-tiba Seungkwan keluar barisan dan perlahan merapat padanya.

"Hansoool ...," panggil siswa Boo itu setengah mendesah sembari memilin-milin dasinya yang sengaja tidak disimpul, tanpa ragu memeluk manja lengan kanan Hansol, "Dasiku tidak rapih, tapi aku tidak bisa menyimpulnya. Bagaimana ini? Pasangkan untukku ya?"

Ingin rasanya siswa bule itu melarikan diri, terbirit sekencang-kencangnya. Namun angan tetaplah angan yang mesti dipertimbangkan, sebab ia menyadari pelukan Seungkwan semakin mengerat di lengan kanannya.

.

Disisi lain, melihat adik kelasnya tersiksa lahir batin Jihoon mengambil langkah lebar- mendekati Seungkwan dan Hansol.

Pada sisi lainnya pula, Soonyoung yang melihat pergerakan tegas Jihoon ikut angkat kaki dari tempatnya menonton Jimin-Yoongi. Menghentikan langkah anggota kesiswaan itu sebelum berhasil mendekati Seungkwan. Karena Soonyoung tau: Perang dunia ketiga bakal terjadi jika membiarkan biji setan itu mendekati kawannya.

"Minggir!" gumam Jihoon tajam.

"Kau mau ke mana?" tanya Soonyoung berusaha tenang.

Malas meladeni Soonyoung, Jihoon kembali bergumam tajam, "Minggir atau aku benar-benar akan membuatmu kasim kali ini."

Jujur, dalam hati kecil Soonyoung sebenarnya ngeri dengan sosok mungil di hadapannya ini. Semua siswa tau seberapa ganas Lee Jihoon, namun mau dilihat dari posisi manapun, tidak ada alasan pasti bagi si Kwon untuk merasakan ketakutan itu. Karena besar tubuhnya jauh lebih bagus dari Jihoon, lebih-lebih dia berandalan sekolah—yah ... tapikan tetap saja, biar kecil Jihoon itu mengerikan.

Nah. Karena itu ...

Sekarang tinggalkan saja Soonyoung yang sibuk berdebat dengan dirinya sendiri, apakah ia mesti takut atau tidak pada sosok mungil yang manis (dari luar) seorang Lee Jihoon.

Malihat pergerakan Jihoon yang terhalang oleh Soonyoung, kini siswa Jeon Wonwoo beraksi. Ia melangkah ke depan barisan Taehyung dan grombolannya.

Bukan, ia tidak punya niat sama sekali untuk menolong Hansol dari dekapan Seungkwan, bukan pula untuk menolong Jihoon buat lepas dari kecambuk batin Soonyoung, apa lagi membantu Yoongi lepas dari praharanya bersama Jimin.

Ia melangkah, berjalan mendekati barisan itu untuk terhenti di hadapan adik kelas yang lebih tinggi darinya.

"Kenapa? Ada yang salah dengan kebanggaanmu dibawah sana?" tanyanya datar ke Mingyu yang menunduk menahan ereksi tubuhnya sendiri.

Mendengar suara datar itu, seketika tegang yang dirasakannya semakin menjadi-jadi, membuatnya tersiksa dengan celana sekolahnya sendiri. Demi Tuhan, kini ia merutuki keputusan untuk mengecilkan celana sekolahnya bulan lalu.

"Hei!" Wonwoo menegur saat tak kunjung mendapati tanggapan dari sang adik kelas.

Mingyu mendongak lemas, "Y-ya, Sunbae?"

"Barangmu kepanasan karena aku siram air suci minggu kemarin?"

"Bangsat!" cibir Mingyu kala ereksi itu membuncah parah—sumpah, suara datar Wonwoo berpotensi besar membuatnya ejakulasi di tempat.

Merasa ia yang dicela, Wonwoo merengut kesal, "Apa katamu?" tanyanya dingin.

"Sunbae, kumohon ... diam saja," Mingyu mendesis, jeda sebentar sebelum ia membentak tanpa sengaja, "Bisa?!"

Tak terima, Wonwoo menggeplak keras puncak kelapa Mingyu, "Hoobae kurang ajar! Aku sudah menyirammu dengan air suci tapi tidak tobat juga? Setan dalam tubuhmu sudah kelewat banyak, hah?!"

Tidak mau ambil pusing, Mingyu hanya diam di tempat mendengar ocehan Wonwoo—pula sederet ceramah ta'limnya.

Sedangkan pada sisi lain.

"Wah, wah, wah! Moment berharga seperti ini harus diabadikan, sayang kalau diangurkan begitu saja. 'kan siapa tau bisa jadi informasai besar," Hoseok bermonolog ria sambil memvideokan para sahabat dan bangsatnya yang beradu sengit pakai kamera ponsel.

.

Di hebohnya suasana lapangan; karena anggota kesiswaan lain tidak dapat berbuat apa-apa sedangkan siswa tidak lulus seleksi lainnya malah besorak bahkan ada yang bertaruh untuk pertengkatan Yoongi-Jimin, Taehyung keluar barisan.

Berjalan mendekat Jungkook yang juga terdiam di barisan OSIS.

"Kook."

Yang disapa mendongak; mendapati Taehyung kini berdiri di hadapannya, "Hai, Hyung."

"Sudah sarapan?"

"Belum."

"Ayo ke kantin," ucap Taehyung, kemudian menarik lengan si Jeon begitu saja.

"Tapi aku harus jaga, Hyung," tanggap siswa itu namun tetap mengikuti langkah Taehyung membawanya menuju kantin, tanpa niat secuilpun menghentikan.

Taehyung menanggapi tidak menghentikan langkah: "Persetan deh."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

YaGook High School.

.

Siapa yang tidak mengenal sekolah bersistem asrama yang elit itu?

Sebuah sekolah dengan gedung megah berasitektur kelas tinggi ukiran motif zaman romawi.

Agaknya bangunan bersejarah, sekolah ini selalu melahirkan anak didik berkelas dari keluaraga terpandang. Tak ayal ada siswanya bernotabene tidak kaya. Namun hal itu bukan penghalang bagi penghuni sekolah untuk saling mengejar prestasi.

.

Namun bukan seluruh penghuninya memiliki rata-rata otak cerdas juga.

Tidak percaya?

Mari ikut aku untuk berkenalan dengan beberapanya dari ratusan di sini ...

.

.

"Welcome To Our Hostel. YaGook High School adalah sekolah menengah atas (megah nan elit) bersistem asrama yang memelihara enam anak pembuat masalah."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

COMING SOON


...

Bhaks! Lama banget ya? Siapa yang masih sudi nunggu? =w= Maaf kalo ga sesuai ekspetasi.

Sebenernya (Jujur) dedek ga mau lanjutin ini ff, dan mau ngapus teaser kemaren.

Tapi liat komentar readers, ga jadi deh =v= Ples, ff ini dilanjut juga buat emakku tercinta YM424 yang tanpa disangka dan diduga ternyata masuk readers ini ff =w= Mak lafyu. Semangat buat 20 programnya (atau apalah itu gua lupa)

Oh iya, btw dedek penganut Jimin-seme (banyak banget yang nanya)

.

PS(1): Semua typo yang ada adalah kekhilafan.

PS(2): Kucinta kaliaaaan~ ft. titik dua bintang. (tebar sempak dan kecup basah) =3= mumumu ...

.

See you again in chapter 1! Bye-bye~ =3=9

.

Special thanks for: Follows, Favorite, and Reviews in Teaser.


Post or Delete?


Review Juseyooo!

.

.

Kunjungi personal blog Liyeol juga yaa ... ketik aja; joliyeol27 (wp .com)

Ppyong! Saranghae Bbuing! ^^v