Aku dan Kakak

.

.

.

Sehun Advine. Kris Advine

.

.

"Aku tidak pernah bermaksud merepotkan Kris. Aku juga ingin dia bahagia tanpa memikirkanku. Tapi keadaanku sekarang membuat Kris harus selalu fokus padaku. Kris, aku benci diriku sendiri."

.

.

Brothership. Sehun Point Of View.

.

.

Semuanya seolah menjadi hal baru bagiku. Hanya bertemu dengan Kris di pagi hari sebelum sarapan dalam kurun waktu dua puluh empat jam juga termasuk di dalamnya selain melewati hari tanpa hal yang berarti, sekolah sudah memulai liburan musim dingin jika kalian lupa.

Sudah pukul sepuluh pagi dan aku masih betah duduk di depan meja belajar. Niatku untuk mengejar jalur beasiswa ketika memulai sekolah. Setidaknya itu bisa meringankan beban Kris. otakku tidak bisa dikategorikan dalam golongan 'rendah', tapi tidak juga bisa menyamai Kris.

Kris bahkan bisa menyelesaikan rubrik segi enam dalam kurang dari satu menit, bisa menghafal perkalian satu sampai sepuluh di umur 4 tahun. Dan Kris selalu mendapat peringkat satu sepanjang pendidikannya.

Kris memang orang yang begitu aku kagumi, dia pekerja keras dan tidak egois. Kris bukan tipe pemaksa tapi bisa jadi sangat keras kepala sewaktu-waktu, seperti saat kemarin aku memaksa untuk ikut mencari pekerjaan paruh waktu, Kris dengan keras mengatakan tidak. Padahal aku bisa saja bekerja dan tidak bermalas-malasan seperti ini. Aku sudah bisa dibilang dewasa, tapi Kris selalu menganggapku adik kecilnya yang harus dijaga.

Liburan musim dingin telah berjalan satu minggu, dan di satu minggu itu aku sudah berjalan-jalan ke manapun untuk menghilangkan bosan. Baik di tempat kerja Kris, taman st. Peterbil ataupun kampus Kris.

Miss Oh adalah pendengar dan penasehat yang baik, beliau dengan sabar mendengarkan ceritaku dan memberi pembenaran dan nasehat. Miss Oh juga menceritakan beberapa cerita tentang Kris. dan sebagian cerita itu membahas tentang Kris yang selalu menceritakan aku pada Miss Oh, dan itu membuatku malu.

"Kris mengatakan kalau kau adalah satu-satunya yang dia punya, dan dia berusaha untuk mempertahankanmu disisinya. Aku juga tidak menyalahkan keputusannya untuk tidak mengizinkanmu mengambil kerja paruh waktu. Karena jika kau mendengar alasannya, mungkin kau tidak akan menyesal. Jujur, kakakmu begitu tulus. Andai aku memiliki kakak seperti Kris."

Aku memaksa Miss Oh untuk mengatakan apa yang di katakan Kris meski sebenarnya itu rahasia. Namun, keteguhanku menggoyahkan Miss Oh. Dan kata selanjutnya yang mengalir dari ceritanya memang benar-benar membuatku tidak menyesal, Kris memang orang baik.

"Dia bilang, 'Aku hanya ingin membuat adikku bahagia dan tidak terbebani apa-apa. Melanjutkan hidupnya tanpa memikirkan keuangan kami. Dengan begitu, dia tidak akan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya seperti ayah.'"

Kris...

.

.

Aku sering berpikir kalau Kris lahir karena kesalahan. Maksudku Tuhan mungkin saja keliru menempatkan Kris di kehidupan ini.

Dia tidak pantas untuk jadi bagian keluargaku yang hancur.

Kris akan tampak sangat indah jika lahir di keluarga berada.

Dengan begitu aku tidak akan merepotkannya.

Oh mungkin, jika dia lahir kaya mungkin merepotkannya juga tak begitu masalah.

Itu juga kalau dia mengenalku.

.

.

Aku mulai jarang bertemu dengan Kris. bahkan ini lebih parah daripada jadwal gila-gilaan Kris saat masih kuliah. Setidaknya dulu aku masih bisa bertemu Kris saat makan malam. Tapi semenjak Kris memutuskan untuk bekerja, aku hanya bisa memandang sosoknya satu kali sebelum sarapan.

Itu pun jika Kris tidak berangkat lebih pagi dan meninggalkan dua lembar roti panggang juga telur dadar di atas meja. Dan itu artinya aku tidak akan melihat Kris seharian. Menunggunya pulang-pun sepertinya juga percuma.

Kris seolah dikejar sesuatu tak kasat mata yang akan menghancurkannya saat Kris berhenti sejenak. Dia pergi pagi sebelum aku bangun dan pulang larut setelah aku tertidur di sofa karena menunggunya.

Aku selalu berpikir, apa Kris tidak lelah? Jika organ Kris bisa berbicara, mungkin mereka telah menjerit karena di paksa kerja rodi. Aku mengerti tentang keinginan Kris untuk hidup lebih baik. Tapi setidaknya, Kris mungkin tidak perlu menghancurkan tubuhnya sendiri.

Dan ini adalah hari yang sangat berharga. Kris mengambil libur setelah dipaksa oleh bos-nya. Jika Kris tidak dipaksa bos-nya, mungkin orang itu telah kembali menyiksa organ-organnya. Pasti.

Aku sudah memaksa Kris untuk tidur saja seharian ini, tapi sifat Kris yang keras kepala sedang mengambil bagian. Kris bahkan telah berpakaian dengan benar pada pukul sembilan. Apa Kris tidak mengenal kata lelah di hidupnya? Dia terlihat bersemangat dengan tubuh yang pucat seperti zombie ini.

"Ayo, advine. Kita akan tertinggal bus jika kau berjalan seperti keong pohon."

Kris jika sudah bersemangat seperti ini memang akan menjadi lebih aneh. Mungkin tidak sepenuhnya karena semangat, mungkin juga karena kelelahan, ya itu mungkin saja. Lagipula tidak ada keong yang menempel dan hidup di pohon di Inggris, apalagi ini musim dingin. Aku sedikit khawatir, mungkin dia harus menelan beberapa butir obat.

"Ini baru jam sembilan, Kris. Bus akan datang jam sepuluh tepat." Ucapku dengan nada malas. Aku sedang mengenakan sepatu sambil duduk dan Kris berdiri berkacak pinggang didepanku.

"Tidak ada kata kata 'baru', dik. Kita harus bergegas." Desaknya lagi.

Aku mendesah pelan dan mengangguk. Melihat Kris seperti ini memang sesuatu yang langka sekarang. Yang sering ku lihat adalah wajah kusutnya, tapi Kris memang tetap Kris Advine yang baik hati. Dia akan tetap tersenyum padaku meski mungkin saja tulangnya tengah remuk di dalam sana.

Aku berdiri dan mengambil mantel cokelat di gantungan pintu, mengenakannya kemudian keluar menyusul Kris yang telah membentangkan tangan lebar seperti orang gila yang baru bebas dari penjara.

Kris menoleh masih dengan membentangkan tangan dan menunjuk pintu dengan alisnya. Aku mengangguk dan bergumam pelan, "Sudah ku kunci."

Kami berjalan ke arah halte bus tak jauh dari rumah. Angin musim dingin yang penuh salju memang sangat dingin. Aku yakin telah memakai kaos kaki rangkap dan tetap kedinginan. Ku sarankan jangan nekat dengan tidak mengenakan kaos kaki jika kau tidak ingin kakimu di amputasi karena mati rasa.

Kris menarikku ke bus yang berhenti disana dan duduk di bagian belakang ke-dua. Kris duduk di samping jendela dan mulai menyamankan posisi. Kris akan tidur?

"Perjalanan akan berlangsung lama, tidurlah dulu." Ucapnya sebelum terlelap. Aku membalasnya dengan gumaman dan mengikutinya menuju alam mimpi. Mataku memberat karena kantuk dan menggelap karena kehilangan kesadaran.

.

.

"Siapa orang yang kau benci?"

Itu Kris. Dia dengan keadaan setengah sadar karena baru terbangun bertanya tidak penting.

Aku mengalihkan pandanganku ke titik titik salju di kaca bus.

"Kau."

Kris tertawa.

Ya, aku membencinya. Dia terlalu menyayangiku.

.

.

Ku kira libur kali ini akan berarti kami akan datang ke taman bermain yang baru buka di sudut kota, atau kami akan datang ke arena luncur ski atau sejenisnya. Tapi nyatanya tidak. Dan tempat ini adalah tempat yang sama sekali tidak aku bayangkan untuk dikunjungi saat libur. Ah, mungkin bukan hanya saat libur.

"Kenapa kita pergi ke tempat ini?" tanyaku pelan.

Kris menarik lenganku untuk lebih mendekat ke dua gundukan dengan nisan terukir nama ayah dan ibu. Ya, kami sekarang berada di makam. Kris berjongkok di samping pusara ibu dan mengusapnya.

"Halo, ibu. Aku datang mengunjungimu, aku bersama dengan Sehun sekarang." Ucap Kris. "Bagaimana kabar kalian disana? Aku merindukan kalian berdua, padahal kemarin aku baru kemari."

Kris gila? Pantas saja Kris pulang lebih malam dari saat aku tahu tentang pekerjaannya. Ternyata Kris datang ke tempat ini daripada mengistirahatkan tubuh di rumah.

"Kau kesini setiap hari?"

Kris mengangkat kepalanya dan memandangku dengan senyum kemudian mengangguk. Aku menelan ludah dan berujar.

"Berhenti melakukannya, itu tidak berguna."

Kris sepertinya kaget mendengar ucapanku, terbukti dari senyumnya yang tiba-tiba pudar dan kernyitan di dahinya. Aku melanjutkan ucapanku.

"Mereka tidak akan peduli. Ini tidak masuk akal."

Kris bangkit dan memasukkan tangannya ke dalam saku mantel, tatapannya mengarah pada dua pusara itu.

"Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan lewat akal. Seperti cinta dan rindu. Hal-hal itu kadang tidak perlu di pertanyakan artinya. Hanya perlu mengerti dan semua akan baik-baik saja."

"Aku mencintai mereka berdua tapi semua tetap tidak baik-baik saja. Mereka meninggalkanku." Potongku cepat. Senyum Kris bangkit lagi.

"Karena kau tidak mengerti alasan mereka meninggalkanmu, Sehun." Aku memang tidak mengerti, itu hal sulit.

"Kau harus memaafkan ayah dan ibu." Ujar Kris.

"Aku sudah memaafkan mereka!" sentakku.

Kris masih tersenyum, tangannya menepuk kepalaku pelan beberapa kali. "Kau belum memaafkan mereka."

Aku terdiam. Tidak mencoba mengelak karena yang dikatakan Kris adalah kebenaran. Aku belum benar-benar memaafkan mereka meski bibirku mengatakan sudah.

"Walaupun aneh, tapi yakinlah mereka mendengarmu." Ucap Kris, dia melangkah pergi dan berkata, "Berbagilah bersama mereka. Aku akan menunggumu di gerbang depan, kita butuh kopi."

Dan aku tetap tak mengatakan apapun meskipun bayangan Kris telah menghilang di tikungan gerbang. Aku terlalu malu untuk mengatakan apapun, tapi saran Kris tidak terlalu buruk juga.

"Ayah, ibu." Sudah lama aku tidak mengatakan kata itu selain di pikiranku, dan itu membuat dadaku bergetar.

"Apa, kalian mendengarku?"

Tidak ada sahutan. Dan aku adalah anak bodoh yang bertanya pada sesuatu yang tidak nyata.

"Kalian tahu bagaimana kehidupanku bersama Kris setelah kepergian kalian? Kami mengalami masa-masa sulit, bahkan lebih buruk daripada saat kalian masih disini." Aku menghela nafas, mencoba menahan air mata yang tak sekalipun ku biarkan mengalir.

"Bisakah aku berharap pada Tuhan untuk menghadirkan kalian kembali? Bolehkah aku mengharapkan hal itu padahal aku tahu jika Tuhan tidak menyayangiku? Aku memang belum bisa memaafkan kalian, dan itu akan menjadi tidak mungkin jika aku terus mengingat tentang kematian kalian. Jadi, bisakah aku tidak mengunjungi kalian hingga aku bisa melupakan hal buruk di antara kita. Aku akan kembali dengan bangga pada kalian. Aku akan berusaha."

Bernafas terasa sangat sulit sekarang, sesak di dada karena menahan tangis membuat hal itu menjadi tersendat. Apalagi dengan nyeri di dadaku yang memancing batuk.

"Ayah, ibu. Aku... menyayangi kalian."

.

.

Aku selalu di bully di sekolah.

Bob -seorang lelaki berambut kuning cepak dengan mata kelabu menyebalkan- selalu mencari masalah denganku.

Dia menghina Kris. Mengatakan kalau Kris seorang gigolo karena bekerja sebagai bartender di klub malam.

Aku memukulnya hingga rahangnya patah. Aku bangga pada diriku sendiri, tapi Kris tidak.

Pihak sekolah memanggil Kris dan mengadukan perbuatanku padanya.

Tentu saja Kris marah besar padaku. Namun aku tidak pernah mengatakan penyebab aku memukul Bob.

Aku tidak ingin menyakiti hatinya.

.

Liburan musim dingin telah usai. Kini saatnya aku memulai tahun ajaran baru dengan target baru, yaitu mendapat beasiswa untuk kedepannya. Aku telah berusaha keras saat liburan, dan aku yakin akan mendapatkannya. Kris tidak tahu jika aku akan mencoba mengambil jalur mahasiswa. Jika dia tahu, dia tidak akan membiarkannya.

Di sekolah ku, siswa penerima beasiswa akan menjadi bahan bully-an. Kris tahu itu. Tapi tidak ada bedanya dengan keadaanku sekarang, tanpa menjadi penerima beasiswa saja aku mendapatkan pem-bully-an. Kurasa tidak akan masalah dengan beasiswa kedepannya.

Kris masih menjalani pekerjaan paruh waktunya. Saat kutanya apa Kris tidak ingin mencari pekerjaan full, daripada harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dia hanya tertawa dan mengatakan kalau Kris bekerja seperti itu, dia akan mati bosan.

Namun beberapa waktu ini aku melihat Kris selalu berwajah kusut dan tertekan. Kantung mata terlihat dengan pipi yang menirus. Kris terlihat kacau dan semakin pendiam. Dia tak lagi menemaniku sarapan ataupun makan malam, Kris terlihat menyedihkan.

Aku tak pernah mencoba untuk bertanya, Kris tidak pernah menjawab apa yang ku tanyakan kecuali dengan senyum. Kris seperti mengalami masalah berat dan aku tidak tahu. Seharian aku mencoba mengingat apa yang menjadi pemicu itu, tapi tak juga ku temukan apa penyebabnya.

Aku pun mencoba diam dan tidak membahas apapun yang sekiranya membuat Kris marah meskipun itu jarang terjadi. Aku tetap tidak akan menyinggung apa yang mengganggu Kris. mungkin akan lebih baik jika aku tidak tahu. Kris pasti akan mengatakannya suatu saat.

Di hari itu, aku pulang lebih larut. Resiko dari siswa penerima beasiswa, aku harus mengikuti les tambahan untuk mempertahankan nilai. Mau tak mau aku mengikuti les yang di adakan setiap rabu hingga jum'at.

Sekarang jum'at, hari yang ku tunggu-tunggu karena Kris pulang cepat pada hari jum'at. Kami akan menghabiskan sisa sore dengan memasak popcorn dan menonton film yang di pinjam Kris dari teman kerjanya. Aku menyukai hari jum'at sejak saat itu.

Tapi semua khayalanku tentang aku dan Kris di hari jum'at sore terasa hampa saat aku menemukan sepasang sepatu wanita di rak sepatu kami. Berjejeran dengan sepatu kets Kris, tempat biasanya aku menaruh sepatu. Dan tempatku diisi oleh sepatu hak tinggi itu.

Aku masih berpikiran positive, tidak ingin membayangkan jika Kris membawa wanita ke rumah dan melakukan 'this and that' di kamarnya. Itu adalah kemungkinan terburuk yang ku pikirkan, karena aku paling benci 'intimate like that' diluar status pernikahan. Dan Kris juga sepihak denganku, jangan sampai Kris melanggar pendiriannya sendiri.

Saat aku membuka sepatu dan menaruhnya di rak bagian bawah, aku mendengar suara Kris yang menyambutku dengan suara ringan. Aku menegakkan tubuh dan menatap Kris dengan seorang wanita di depan pintu dapur. Tangan wanita itu bertaut di lengan Kris. aku memandang mereka diam, tak ingin mengatakan apa-apa.

Kris menyuruhku untuk duduk di sofa ruang tamu tak jauh dari tempatku berdiri, aku mengikuti perintahnya dan mencoba memposisikan diri dengan nyaman. Kris dan wanita itu duduk di depanku dengan rapat. Siapa dia?

"Bagaimana sekolahmu, Sehun?"

Aku diam dan tidak berniat menjawab. Kris bukan orang yang suka berbasa-basi, namun kegugupan Kris sepertinya membuat dia melupakan hal itu. Kris berdehem sebentar dan kembali berujar,

"Kurasa kita tidak perlu berbasa-basi."

Nah, kau lupa? Padahal dia sendiri yang memulainya. Aku mencoba tetap duduk dan tidak melompat dari sofa begitu ucapan Kris selanjutnya terdengar oleh indera pendengarku.

"Dia kekasihku."

"Kekasih?" tanyaku sekali lagi. Berusaha memastikan apa yang Kris ucapkan tadi benar atau hanya ilusi karena jumat yang seharusnya menjadi 'brother time' gagal.

"Dia Mayumi Akira, rekan kerjaku juga. Orang yang sering ku pinjami CD film."

Aku tak lagi menatap Kris, aku menatap orang yang disebut sebagai kekasihnya.

"Hai, aku Mayumi, kau Sehun kan? Kris sering bercerita tentang Sehun." Ucapnya sembari mengulurkan tangan padaku.

Aku tak berniat untuk menyambut tangan itu, apa lagi menjawab ucapannya. Aku hanya belum siap untuk hari ini. Ketika Kris memperkenalkan seseorang sebagai kekasihnya lalu mereka akan menikah dan meninggalkanku sendirian dalam kemiskinan.

Dilihat dari penampilannya –juga dari koleksi CD film yang sering di pinjam Kris- dia bukan dari kalangan kami. Aku hanya takut dia tidak baik untuk Kris. bisa saja dia berpura-pura baik padaku di depan Kris, padahal aslinya dia sama saja seperti orang-orang berdompet tebal layaknya orang di sekolahku.

Aku hanya mengangguk dan beranjak berdiri tanpa berucap satu patah kata pun sampai Kris bertanya,

"Akan kemana?"

Aku menoleh sekilas, dan seseorang bernama Mayumi itu menatap kosong sofa yang tadi ku duduki dengan tangan yang masih menggantung. Tapi aku mencoba tidak peduli.

"Kamar, aku memiliki banyak tugas dan waktu yang begitu singkat hanya untuk berbasa-basi tidak penting." Ucapku tidak peduli. Melangkah meninggalkan dua orang itu tanpa menoleh lagi ke belakang.

.

.

Aku selalu berpikir kalau Kris adalah sosok yang baik dan sempurna,

Kris, menurutmu apa aku adik yang baik dan membuatmu bahagia?

Apa kau pernah memikirkan betapa baiknya aku seperti aku memikirkanmu?

.

.

Ini hari minggu. Seharusnya akan menjadi waktu yang baik untuk memperbaiki hubunganku dengan Kris. selepas pertemuan sebulan lalu, Kris kembali menjadi Kris yang berwajah lelah dan tertekan. Yang tidak mengajakku bicara meski hanya dengan senyum. Dan itu membuatku merasa bersalah juga.

Aku bangun agak siang dan turun untuk membasuh muka. Setelah keluar dari kamar mandi di bawah tangga, aku melihat seorang wanita yang meletakkan beberapa piring di atas meja, lengkap dengan lauk pauk yang menggugah selera. Dia menoleh padaku dengan senyum.

"Duduklah, aku membuat sarapan untuk Sehun." Ucapnya dengan ceria.

Aku hanya menurut karena sejujurnya cacing-cacing dalam perutku telah berdemo meminta jatah pagi ini. Dan aku tidak ingin cacing-cacing gila itu memakan habis organ dalamku. Itu terlalu menjijikkan.

Apa wanita ini sudah melupakan kejadian sebulan lalu? Apa dia tidak sakit hati?

Aku duduk dalam diam, dia tersenyum padaku dan menyendokkan nasi ke piring dengan lauknya juga. Aku tidak pernah diperlakukan seperti ini semenjak ibu pergi. Hal se-simple ini menyentuh batinku. Aku hanya merasa, dengan celemek biru muda milik ibu, dengan senyum itu dan dengan perlakuannya, aku menemukan sosok ibu dalam diri orang ini. Tapi aku tidak boleh menilainya baik secepat itu.

Dia juga duduk di hadapanku, menangkupkan kedua tangannya dan bergumam sesuatu dalam bahasa-entahlah aku tidak tahu, mungkin bahasa jepang.

Mayumi menceritakan tentang makanan yang dia buat, dan aku sedikit banyak mengetahui tentang masakan jepang dari ceritanya. Oh, jadi ini yang namanya masakan jepang? Beberapa anak di sekolah sering menceritakannya. Aku hanya mendengar beberapa saja, karena selepas itu aku akan beranjak menjauh. Karena aku sadar, aku tidak akan pernah membeli makanan jepang di Inggris-harga makanan jepang di restoran Inggris hampir sama dengan gaji Kris di toko milik paman Melo.

Selepas kami menyelesaikan makanan, kami tidak juga beranjak. Dia hanya menumpuk beberapa wadah kotor dan menyingkirkannya dari hadapan kami. Agar tercipta satu space kosong yang menghubungkan area mejanya dengan milikku.

"Sehun, aku ingin minta maaf." Itu ucapan pertamanya setelah beberapa menit terisi oleh keheningan.

"Aku mengerti jika Sehun mungkin tidak bisa menerima semua ini. Sehun juga mungkin berpikiran jika aku akan merebut Kris. Tapi aku hanya ingin mengucapkan jika aku tidak berniat berbuat jahat pada kalian."

Aku hanya diam, mendengarkan kata demi kata yang dia ucapkan.

"Kris adalah pemuda yang baik, aku tidak akan merusak Kris ataupun membuat Kris jauh dari Sehun karena kalian adalah kakak adik. Aku hanya seseorang yang mencintai Kris."

Ucapan Mayumi yang khas membuatku berpikir juga, bagaimana perasaan Kris?

"Kris sangat menyayangi Sehun, jadi Sehun tidak perlu takut."

Tentu saja, jika Kris tidak menyayangiku, Kris tidak akan keluar dari perkuliahan dan akan meninggalkanku dengan wanita-wanita kaya di luar sana. Kemudian ucapan Mayumi selanjutnya membuatku terpaku.

"Kami sudah tidak memiliki hubungan lagi, Kris memutuskannya setelah malam itu. Sekarang Sehun tidak perlu merasa terganggu lagi dengan kehadiranku. Hari ini, aku ingin berterima kasih karena Sehun telah menunjukkan kalau aku memang tidak pantas atau setidaknya baik untuk mendampingi Kris. Aku tidak apa-apa, terima kasih Sehun. Sampai jumpa lagi."

.

.

Aku ingin Kris bahagia. Hal sialan yang selalu kupikirkan setiap waktu.

Tapi aku sendiri yang membuatnya tidak bahagia.

.

.

Aku terbangun dari tidurku di tengah malam. Tak biasanya aku terbangun dengan kering di tenggorokan, padahal sebelum tidur aku telah meminum segelas air putih. Sambil mengucek mata, aku menuruni tangga menuju dapur ketika aku melihat Kris duduk di depan perapian. Sepertinya Kris melamun. Terbukti dari tak ada reflek saat aku duduk di sampingnya sambil meletakkan segelas teh yang ku buat sebentar tadi.

Aku memandang Kris dari samping. Wajah Kris benar-benar terlihat tirus, itu bukan sesuatu yang bagus karena Kris terlihat seperti orang tak terurus. Mungkin Kris memang terlihat baik saat berangkat bekerja. Hell ya! Kris akan di pecat jika dia berpenampilan seperti saat di rumah, dengan padangan kosong dan nafas yang terdengar berat.

"Kris." Aku memanggilnya namun tidak ada jawaban. Baru setelah ku sentuh pundaknya, Kris terkaget dan menoleh ke arahku.

"Kenapa kau disini?" tanyaku.

Kris tersenyum sejenak, "Tidak ada, hanya terbangun di tengah malam."

Kris berbohong. Bertahun-tahun bersamanya dan Kris tetap nekat berbohong padaku? Biar ku beri tahu, Kris tidak pernah terbangun di tengah malam sekalipun dia sedang mengalami masalah. Jika aku menemukan Kris di tengah malam seperti ini, itu berarti Kris tidak tidur sejak tadi. Bukan karena mendadak bangun dan sebagainya.

Hening menyelimuti kami, Kris kembali ke kegiatan sebelumnya. Melamun.

"Kris," aku memanggilnya sekali lagi, tenggorokanku serasa kering saat akan mengucapkan kelanjutannya. "Bagaimana dengan Mayumi?"

Kris terlihat tersentak ketika aku bertanya hal itu, dia terdiam cukup lama sebelum menjawab dengan suara terdengar serak seperti menahan sesuatu.

"Dia baik."

Kris pasti mengerti maksud pertanyaanku, tapi dia menghindari menjawabnya dan mengatakan pilihan opsional lainnya. Tentang keadaannya, bukan menjawab tentang hubungan mereka. Padahal yang ku maksudkan adalah hal kedua.

"Maksudku, hubungan kalian." Perjelasku sekali lagi.

Jeda sejenak.

"Kami sudah berakhir." Ucap Kris dengan senyum. Meskipun Kris tersenyum, suara dan matanya mengatakan kalau Kris begitu terluka.

Kini giliran aku yang bingung akan mengatakan apa. Secara teknis memang aku yang membuat mereka berpisah. Aku pun telah mendengar kabar itu dari Mayumi, tapi tetap saja, mendengar hal itu dari Kris membuatku mau tak mau merasa sesak.

"Apa kau menyukainya?"

Pertanyaan itu dengan mudah keluar, itu refleks, sungguh. Seperti refleks saat namamu di sebut dan kau akan menoleh. Semudah itu.

"Tentu," Kris berhenti menatapku dan memandang ke atas, seolah menerawang hal masa lampau.

"Sehun bisakah aku mengatakan sesuatu?"

Aku mengangguk, Kris mengambil segelas teh yang ku buat tadi dan menyeruputnya pelan hingga tersisa setengah kemudian meletakkan ke tempat semula. Aku terus memperhatikan Kris sampai dia mengeratkan selimut yang melingkar di bahunya.

"Mayumi gadis yang baik, dia adalah manager sekaligus pemilik kedai di tempatku bekerja. Dia ramah-kebanyakan orang asia memang seperti itu, Oh Umma misalnya-..."

"...-Mayumi juga berasal dari kalangan berada. Ku pikir, hubungan kami bisa mengeluarkan kita dari lingkaran kemiskinan ini. Tapi mungkin kami melangkah terlalu cepat. Aku tidak mau jika keinginanku ini memberatkanmu, Sehun. Apalagi jika kau tidak menyukai Mayumi seperti aku menyukainya. Tidak apa-apa, tapi ku kira dengan statusnya kita bisa mengangkat kasta kita. Terdengar seperti aku memanfaatkannya, bisa dibilang begitu. Tapi aku memang menyukainya layaknya seorang pria pada wanita."

Kris berhenti disana. Kris memang begitu, jika dia berkata akan bercerita, Kris tidak akan bertanya atau meminta persetujuan, Kris hanya akan bercerita. Tidak lebih. Dan itu malah menggangguku sekarang.

"Mungkin kita bisa menjadi lebih baik dengan kehadiran Mayumi. Tapi jika kau tidak menyukainya tidak masalah. Aku bisa berhenti mencintainya, tidak akan terlalu sulit bukan?"

Lalu Kris tertawa, lebih terdengar pedih sebenarnya. Apa aku harus egois? Kris tidak pernah egois selama ini, apa kini waktunya Kris untuk egois? Aku tidak tahu kenapa kau melakukannya, tapi-...

"Aku akan mencoba menerimanya, tapi aku tidak berjanji."

Kris menatapku seketika.

.

.

Setiap ayah dan ibu berdebat, kami tidak pernah ambil pusing

Kami malah asyik menonton siaran tv dengan latar belakang suara omelan mereka.

Karena ketika aku dan Kris menoleh kebelakang setelah beberapa menit, mereka berdua sudah berpelukan seolah mereka kembar identik yang tak mampu saling menyakiti.

Kini hal seperti itu tidak mungkin terjadi.

Baik tentang ayah dan ibu, atau tentang Kris dan aku yang menonton siaran TV bersama tanpa beban.

Tidak mungkin.

.

.

Semuanya memang berjalan sedikit lebih baik. Kris terlihat kembali bersemangat, tidak ada lagi kantung mata atau wajah kusut yang tirus. Oke, Kris memang tirus. Tapi tidak lagi seperti tempo lalu. Semua benar-benar berbeda. Dan itu karena seorang gadis bernama Mayumi.

Setelah mengatakan hal itu tiga hari yang lalu, esoknya Kris langsung membawa Mayumi ke rumah kami dengan modus mendekatkan diri denganku. Mayumi pun tampak senang dan bersemangat hingga aku jadi pusing menanggapi ucapannya yang aneh.

Mayumi telah pulang beberapa menit yang lalu, dia berkata jika kedai miliknya sedang ramai, dan itu berarti Kris juga akan sibuk. Dia segera pergi setelah menutup telepon dan berpamitan denganku. Tak lupa sepiring besar onigiri yang tersaji di atas meja-dia baru saja selesai memasak saat menerima telepon.

Aku belum memutuskan apa aku menerima Mayumi atau belum. Aku masih belum yakin dengan semua ini. Aku tidak ingin memberi Mayumi harapan, jadi aku bersikap dingin padanya. Mayumi juga seolah tidak terlalu ambil pusing akan hal ini.

Setelah Mayumi menghilang dari balik pintu, ku habiskan waktu untuk melamunkan banyak hal. Dan satu diantaranya adalah Kris.

Mungkin Kris sudah merasa lelah untuk memperjuangkan keuangan kami. Tersirat dari kata-katanya saat itu 'Mayumi juga berasal dari kalangan berada. Ku pikir, hubungan kami bisa mengeluarkan kita dari lingkaran kemiskinan ini, dik.' Aku masih mengingatnya, dan benar-benar jelas jika Kris memang lelah.

Menghidupi kami selama tiga tahun benar-benar hal yang luar biasa bagi Kris. apalagi dengan tanggungan sekolahku yang mahal. Aku memang telah mendapat beasiswa, tapi itu hanya untuk biaya persemester. Tidak dengan hal-hal lainnya. Kris telah berjuang dengan keras.

Kini saatnya dia beristirahat dan tidak memaksakan apapun lagi. Tidak lagi merasa terbebani dan merasa semua masalah bertumpu di pundaknya. Dia harus merasa bebas setelahnya. Dan aku yang harus merelakan.

Aku tak seharusnya menuntut Kris lebih dari ini. Sudah cukup.

Aku tidak ingat apa yang sebelumnya terjadi, namun setelah memikirkan Kris aku merasa sesak di paru dan jatuh tak sadarkan diri.

Tbc.

Ini pertama kali saya bikin ff dengan satu Point Of View. Rada kagok juga sebenernya, jadi maafkan kalau ada yang kurang berkenan

Chapter saya buat pendek karena chapter depan sudah bakal tamat. Huhuhu akhirnya KrisHun nggak bakal jadi korban maso saya lagi, selamat selamat #apaansih

Ini memang buat peran cewenya saya buat OC, disini saya mau fokus ke hubungan brothershipnya KrisHun, jadi memang dibuat OC biar lebih enak gitu (gimana ya ngomongnya, ya gitu deh pokoknya.) lagian bagian romancenya Cuma sedikit kok.

Oh ya, ini ff sebenernya udah aku buat sejak jaman dulu(?) kalo mau aku buat author povnya berarti saya harus merombak lagi, bukannya saya keberatan, tp ini RL saya lagi padeettt bgt. (Meskipun gitu udah aku ubah dari versi dulunya yg mungkin cuma cukup dibuat dua chap)

Mungkin bakal saya buat ff lain dg genre sama dan cast sama pakai author pov buat menebusnya, huhu~ karena demi apa akhir akhir ini saya lagi ngebet bin kangen ama broshipnya KrisHun, sekalinya nemu ff KrisHun broship (mohon maaf banget) bahasanya masih pake Nae Neo Eoh Chagiya Kajimaa~ chakkamman-jangkkaman (gimana sih tulisannya) yg bikin saya pusing.

KALO ADA YG TAU FF KRISHUN YG MANTEP KASIH TAU GW DOONG~

Dan buat penggunaan 'dik' sepertinya emang selera saya saja yang aneh XD

'dik' nya nggak aku ilangin krna berarti hrus ngedit yg chap 1, sebagai gantinya disini aku kurangin porsinya aja hohoho.

Oh juga maaf banget yang berharap dua org ini bakal happy ending #nangisbombay, sudah saya cantumkan di genre kalau ini ff akan berakhir angst, maafkan saya. Bagi yg keburu bisa ngerasain gimana di posisinya sehun, mohon bersabar INI UJIAN.

Thanks for review^^ yang udah nyempetin ngefav-ngefollow dan ngereview buat ngasih cuap cuap tentng pendapat kalian trhdp ff ini, kalian kece dahh!

Mind to review again?

Thx

.

.