Married ?
.
.
.
Chapter 2
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated: T, Indonesian,
Genre: Romance, Drama, Married-life, Sacrifical & Friendship.
.
Semua karakter yang ada di sini milik MK.
Saya cuma minjem bentar.
.
WARNING : OOC, AU, GENRE TIDAK SESUAI, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).
.
.
.
Ketemu lagi sama author yang satu ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada readers yang sudah membaca dan mereview fic gaje ini. Untuk oma-oma, opa-opa, ibu-ibu, bapak-bapak, tante-tante, om-om, mbak-mbak, kakak-kakak, bahkan adek-adek makasih ya (ngak kebanyakan tuh thor) . Saya benar-benar ingin mengucapkan terima kasih dan juga saya minta maaf jika ada sebuah kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja (Lebaran masih lama thor, kok udah minta maaf sekarang #plaaak).
Dan sekarang waktunya menjawab review.
zielavienaz96 : Aku mau ino jadi peran utama sih.. Please.. Sayang banget sama kamu thor~
Jawab : Maaf ya gak bisa, gomen :( #bungkukbungkuk# makasih udah mau sayang sama author 3 #plakkkkk.
Kiroy123 : gomenn. eh penasaran nih thor, si Saku married sama siapaa ? :v
Jawab : Masih ada yang penasaran juga, author sungguh terharu*nangis bombay#Plaaakkk. Mungkin di chapter ini bisa sedikit mendapatkan pencerahan Sakura sama siapa.
bandung girl : kyaaaa who is he? sasuke-sama kan? i hope he is sasuke-sama :)))) next yaaa aku tunggu chap berikutnya :* /muah peluk cium dr bandung\ btw, yg bener sarung tangan bukan sapu tangan :" huehe
Jawab : Makasih ^^. /muah peluk cium dr madura\ #plaaakkk. Iya, gomen_gomen maksud author itu lol.
Ageta : Suami Saku itu... Shikamaru kan? Soalnya kan Saku nikah sama pacarnya Ino, berarti Shikamaru dong :D Kalo Sasu kek nya ga mungkin, soalnya kalo itu si Sasu ga mungkin kan Saku ga kenal .-. Biarpun Saku udah nikah tapi aku tetep ngarep kalo pairnya SasuSaku dan ShikaIno :3 Oke, next chap ditunggu :*
Jawab : Wow, kesimpulan yang sangat menabjubkan. Saluuuut (y) . Iya makasih ^^.
Biiancast Rodith : Halooo salam kenal. :) aku suka genre-nya. Apa lagi perjodohan adalah tema favorite-ku. Sejauh ini aku suka sama alur cerita. Ada sih beberapa yang perlu di koreksi. "sapu tangan" kayaknya lebih cocok sarung tangan deh. Btw, yg nikah sama Sakura itu Sasuke kan? Kalau misalnya iyah, masa sakura gak kenal seperti apa wajah saingannya sejak dulu. Dan lagi, dia uda melihat dan tahu seperti apa wajah suaminya, masa baru sadar kalau dia Sasuke. Aku harap, chapter selanjutnya dapat membuatku bungkam. Dan semangat terus ya... Buat diriku yang cerewet ini, diam seribu bahasa. Hihiii... Dan kuharap, ripiu dariku bukan sebuah flame ya. Jujur saja, aku suka sama fict kamu. Yang berawal dari benci jadi cinta. Hihiii..
Akhir kata, semangat and keep writing~
Jawab : Haloo salam kenal juga. :) Makasih, kok kita sama ya. mungkin kita cocok #plaakkk. Ia maksud saya itu. Kita liat aja nanti. Sepertinya malah saya yang bungkam #plaaak. Makasih. hahaha gak papa saya juga rada cerewet sih. Ngak kok, makasih lagi. Akhir kata dariku semangat and keep reading~
Hahahaha, udah kelar author menanggapi review *Huft* capek juga (kamu sendiri yang salah, jawab review kok kayak jawab soal segala).
Akhir kata Makasih sudah menyempatkan membaca.
HAPPY READING ^_^ .
.
.
.
.
.
.
"Namanya ..."
Aku terus memperhatikan oba-san. Ups, salah. Maksudku kaasan baruku...
"Adalah ..."
... sampai.
"Sakura."seseorang memanggil namaku, membuatku langsung menoleh ke arahnya. Siapa yang memanggilku?
"Aaaa..., ada apa kaasan?"ternyata beliau adalah kaasanku sendiri. Orang yang sedari tadi menatap tajam ke arahku selama di gereja.
"Ayo waktunya berfoto."kata kaasan terus tersenyum, berbeda sekali dengan yang tadi. Membuatku hanya bisa menghena nafas panjang.
"Baiklah."kataku pelan sembari tersenyum kaku.
Aku langsung saja pergi, mengekor di belakang kaasan. Tapi sepertinya ada sesuatu yang aku lupakan. Apa ya? Ah, sudahlah. Lebih baik aku bergegas untuk berfoto.
Aku mulai mengedarkan pandangan pada sekelilingku. Ternyata tempat ini sudah sepi akan penduduk, hanya ada kerabat kaasan dan tousan juga oba-san dan oji-san yang masih ada. Langsung saja mereka bergantian meminta foto. Hah, sangat melelahkan, bisa-bisa bibirku kaku karena terus memaksakan tersenyum.
Aku melirik ke arah suamiku, ah mungkin lebih baik aku panggil dia saja. Agak janggal bila memanggilnya suami. Dia berada tepat di sebelahku, tetap berdiri tegap dengan senyuman yang terus terpatri. Apa jangan-jangan dia tak lelah ya? Sudahlah, aku tak boleh terus meliriknya. Bagaimana jika aku ketauan meliriknya diam-diam? Malu sungguh malu diriku.
"Kalian yang mesra dong, lebih berdekatan."kata kaasan sembari mendekatkanku dengan dia sedangkan semua orang yang ada di sini mulai tertawa. Kaasan memang selalu tahu bagaimana cara membuatku malu.
"Hahaha, yang mesra. Kalau perlu rangkul saja."tambah tousan, membuatku semakin malu.
"Ah, iya kau benar sekali Kizashi."ucap oji-san.
Hah, mereka benar-benar membuatku malu. Dan apa? Rangkul? Yang benar saja? Tapi aku hanya bisa pasrah, nanti mereka berfikiran macam-macam lagi. Andai semua orang tahu bahwa pernikahan ini tak diinginkan alias perjodohan.
Untungnya acara foto-foto ini yang berlangsung kira-kira 1 jam sudah dihentikan. Sungguh senang rasanya dan sekarang waktunya pulang.
Tapi, tunggu. Mana kaasan dan tousan? Ojisan dan obasan juga tak ada. Lebih baik sekarang aku telpon kaasan, tapi handphoneku. Hah, sial. Tadikan kaasan langsung menyeretku pergi, mana sempat aku memikirkannya.
"Sakura no baka."rutukku pada diriku sendiri. "Bagaimana sekarang, apa yang harus aku lakukan. Apalagi sudah larut malam. Apa mereka sengaja meninggalkanku berdua saja dengan dia. Hah, melelahkan. Ogah aku berlama-lama dengan dia."lanjutku terus menggerutu tak jelas.
Lalu ada sebuah tangan yang menyentuh bahuku dari belakang. Reflek, aku memelintir tangannya, gini-gini aku jago kalau soal bela diri.
"..."
"Kamu."teriakku terkejut setelah melihat wajahnya. "Hahahaha, maaf-maaf."kataku menyesal sembari melepas tangannya dan tersenyum kikuk. Sebenernya sih ogah, cuma tatapannya itu loh gak kuat. SEREM.
Apa jangan-jangan dia psikopat?
Aku mulai mundur beberapa langkah memberi jarak di antara kami.
Tapi dia kembali mendekat.
Akupun mundur lagi.
Dia mulai mendekat.
"Setop, jangan dekat-dekat."kataku sambil merentangkan tangan, mencegahnya untuk mendekat lagi ke arahku.
"Tadi kau membicarakanku. Coba ulangi."
"Hahahaha, tidak. Kau salah dengar. Iya salah dengar."kataku mengelak.
"Ck, dasar menyebalkan. Sekarang, kau ikut denganku."
"Apa? Ikut denganmu. Ogah."kataku sembari memalingkan wajah dan melipat kedua tangan di depan dada. Namun setelah mengatakannya aku malah merutuki diriku sendiri. Terlalu takut dengan ekspresi yang wajahnya timbulkan. Aku kan tak ingin mati muda, masih banyak hal yang belum kulakukan.
"Iya sudah."responnya sembari beranjak pergi.
Tunggu. Dia bilang apa? IYA SUDAH. IYA SUDAH. Aku tak salah dengarkan. Ck, seharusnya dia merayuku untuk ikut bersamanya bukannya hanya mengatakan IYA SUDAH.
Dan bagaimana sekarang? Aku tak punya uang untuk ongkos pulang dan tak ada handphone untuk menghubungi siapa saja yang bisa menjemputku ke sini. Jalan terakhir, hanya bersamanya. Sekarang aku harus menurunkan egoku dan menjatuhkan harkat dan martabatku, hanya untuk bisa pulang.
"Woooy, tunggu."teriakku sambil mengejarnya. Untungnya dia berhenti membuatku seketika ikut berhenti berlari. Aku mulai berusaha menelan ludah sekuat tenaga. Ku lihat dia menolehkan kepalanya.
"Bagaimana? Kau ikut denganku."katanya sembari menunjukkan seringaian lebar.
Hanya mengucapkan kata itu, aku langsung sadar, auranya yang semula seram berubah menjadi sangat sangat seram. Dengan matanya yang tajam dia menatapku dan ekspresinya yang kelewat dingin. Tidaaak, aku harus tinggal bersama orang seperti dia.
"Kenapa diam, mau kutinggal."katanya lagi lalu berjalan meninggalkanku.
1 detik
2 detik
3 detik
"Eh, tunggu."teriakku setelah tersadar sembari mengejarnya untuk menyejajarkan langkah kami, akukan tak ingin ditinggal.
Tapi tak semudah yang kupikirkan. Dasar gaun menyebalkan, aku jadi tak bisa berlari kencang dibuatnya. Aku bersumpah tak akan memakai gaun ini lagi. Camkan itu.
.
.
.
Sekarang kami telah berada di mobilnya.
"Kenapa kau duduk di situ?"ucapnya tajam sambil melihat pantulan wajahku dari kaca.
"Memangnya tak boleh?"bukannya menjawab aku malah balik bertanya dengan nada agak cuek. Sebenarnya sih rada takut setelah mengatakannya. Jangan-jangan dia malah menendangku keluar mobilnya. Tapi, masa bodoh. Lagi pula aku tak setuju dengan pernikahan ini. Cerai sekarangpun aku mau.
"Terserah."setelah mengatakannya dia mulai menyalakan mesin mobilnya lalu melaju pergi.
Kenapa aku memilih duduk di belakang. Mungkin untuk menjaga jarak dengannya. Berada di sebelahnya hanya akan membuatku bergidik ngeri.
...
Selama perjalanan aku terus saja melihat ke luar jendela. Tiba-tiba terdengar suara telpon. Pastinya itu berasal dari handphonenya.
"Ah, kau. Ada apa?"ucapnya setelah beberapa detik. Mungkin menunggu orang di seberang berkata terlebih dahulu.
Tunggu. Apa itu pacarnya? Kalau benar masak di depan isteri yang baru beberapa jam dinikahinya dia sudah selingkuh. Biarkan saja, memangnya apa urusanku. Toh, itu hidup-hidupnya.
Dia melirikku sekilas, aku pura-pura tak melihat dan mengubah atensiku kembali menatap keluar jendela.
"Acaranya sudah selesai Ino."
Tunggu, dia bilang siapa ''INO''. Bukan Ino sahabatkukan? Bukan Ino Yamanaka kan? Ah, mungkin aku terlalu lelah dan salah dengar atau mungkin dia Ino yang lain. Nama Ino kan banyak bukan hanya Ino-pig, mungkin hanya kebetulan saja.
"Iya, besok aku akan menemuimu, sekarang aku sangat lelah. Aku masih ada di perjalanan."
Bahkan dengan pacar sendiri dia seperti itu. Bagaimana jika denganku? Lebih parah pastinya. Apalagi keadaan di sini terlalu kaku, dan aku tak suka hal ini.
.
.
.
Tak butuh waktu lama, hanya 15 menit saja kami sudah sampai di apartemennya. Menaiki lift, yang hanya kami berdua, sungguh membuatku tak nyaman. Aku hanya terus memperhatikan pergerakannya. Sekarang aku tahu dia tinggal di lantai 15. Setelah itu, kami keluar dari lift dan melangkah menuju pintu apartemennya. Dia mulai menekan angka demi angka password apartemennya.
Rapi. Itu kesan pertama ketika aku melihat apartemennya. Apartemennya sangat rapi, padahal dia seorang lelaki. Aku saja yang perempuan, kamarku tak serapi ini. Ingat, aku tak memujinya. Aku hanya mengatakan apa adanya. Ingat. TAK MEMUJI.
"Kau tidur di sana dan aku di situ."tunjuknya pada pintu kamar dan responku hanya mengangguk mengiyakan.
Aku mulai melangkah memasuki kamar yang tadi dia tunjuk. Merebahkan tubuhku perlahan. Tapi sebelum tidur aku masih harus menghapus semua make up ini dan melepas gaun laknat ini juga. Tapi tunggu, akukan belum mengemasi barang-barangku. Jadi, tak ada baju dan aku harus tidur dengan gaun ini, ini sungguh merepotkan. Lebih baik aku pinjam baju tidurnya saja. Ide yang sangat bagus.
Aku mulai melangkah mendekati kamarnya. Tepat di depan pintu kamarnya aku mulai menghela nafas menyiapkan mental untuk segala sesuatu yang akan terjadi padaku. Perlahan mengetok pintu.
Tok...tok...tok...
"Ada apa?"tanyanya yang sudah berada di pintu kamarnya yang terbuka sedikit.
"Aku tak punya baju ganti, pinjami aku atau aku pulang saja mengambilnya."jawabku sambil tersenyum.
"Pinjam saja punyaku, besok baru aku antar kau pulang"
"Oh iya, dan make up-ku?"
"Kau beli saja bahan yang diperlukan untuk menghapus make up-mu, di sekitar sini ada supermarket. Mungkin masih buka."
"Tapi, aku tak punya uang."kataku sedikit tersenyum kaku.
Dia langsung menutup pintu kamarnya. Hah, gagal. Apa dia tak kasihan denganku. Masa tidur dengan semua ini. Dasar pelit, cuma meminjam saja tak boleh. Besok aku pasti gantilah, jangan khawatir. Tapi bagaimana sekarang, bisa-bisa saat bangun besok wajahku sudah bentol-bentol semua. Akhirnya kuputuskan kembali ke kamar dan merebahkan tubuhku.
Tak berapa lama. Ada suara ketokan pintu.
Tok...tok...
Siapa sih yang menggangguku, padahal aku sudah mulai terlelap. Ku lihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 12 malam. Mau tak mau aku melangkah untuk membuka pintu. Saat aku telah membuka pintu, tapi tak ada seseorang pun di sana. Hanya ada sebuah baju tidur dan barang-barang yang ku perlukan untuk menghapus make up ku. Siapa yang menaruhnya ya? Pasti dia. Besok aku akan mengucapkan terima kasih. Ingat, hanya mengucapkan terima kasih. Tak lebih.
Aku menutup pintu kamarku dengan senyum yang telah mengembang di bibirku dan mulai berganti baju. Bukan karena aku suka dengannya, tapi karena besok aku tak perlu melihat wajahku penuh bentol-bentol. Ah, senangnya. Walaupun baju tidurnya kebesaran di badanku, tapi ini cukup nyaman untuk tidur. Sekarang aku mulai menghapus make up ku perlahan dan setelah itu aku membaringkan tubuhku di kasur.
"Hah, semuanya sudah berakhir. Aku sangat lelah sekarang. Tak ku sangka dia cukup baik, tapi tetap saja aku harus waspada. Bagaimana jika dia melakukan ini agar aku luluh setelah itu dia menjadikanku budak. Jangan sampai-jangan sampai. Dan juga siapa sih namanya dan apa hubungannya dia dengan orang bernama ''INO''. Aku harus cari tahu besok. Sekarang aku harus tidur. Oyasumi."kataku sambil perlahan memejamkan mata.
Mungkin kehidupanku akan berubah mulai sekarang. Yang semula tenang, dengan adanya dia mungkin kehidupanku akan jadi kacau. Semoga saja tak ada kejutan demi kejutan lagi yang akan menghampiriku.
Semoga.
Dan akhirnya aku benar-benar tertidur.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Author : Hahahaha, gimana? Masih penasaran siapa suami Sakura? Tetep penasaran ya, walau ceritanya gaje, typo(s), OCC, pake dipaksain lagi.
All : Krik...krik...krik...
Author : Uwaaaa. Kok gak ada yang penasaran lagi?
Ino : Gak, autornya ingkar janji. Katanya aku mau dijadiin peran utama. MANA? Aku aja cuma nyantumin nama di chapter ini.
Author : Maaf Ino-chan, tapi nanti kalau ino-chan jadi peran utama author di shannarooo lagi sama Saku-chan.
Ino : Itu sih derita author.
Author : Ya udah kapan-kapan ya Ino-chan jadi peran utamanya*Shannarooo*benerkan di shannaro lagi. Nasib-nasib. Tapi jangan lupa REVIEW. Di tunggu. Jangan sampai anda menjadi pembaca gelap. Jadi jangan lupa hidupin lampu kalau baca biar gak gelap #Plaaakkkk .
.
.
.
.
^.^
.
.
.
.
