Terima kasih pada para reviewer, gak nyangka ada yang suka juga meski ceritanya alay begini, ehehe…

Warning: AU, OOC, miss typo

Disclaimer: Kamen Rider itu punya Toei ya…


Tak ada yang lebih menyenangkan dari pada menghajar para yankee di pagi hari bagi Kisaragi Gentaro. Hari masih pagi, udara masih sejuk dan segar. Semua yankee yang ia temui pasti lari tunggang langgang bila mengenalinya sebagai salah satu yankee terkuat di kotanya. Sudah banyak yankee yang ia tumbangkan, sudah banyak orang yang ingin menjadi pengikutnya namun ia tolak.

Menjadi Kamen Rider Fourze pun masih tak bisa mengubah tabiat buruknya.

Bukan berarti Gentaro senang menyiksa orang, pada akhirnya ia selalu melepas mangsanya, tak pernah ia hajar sampai tidak sadarkan diri. Gentaro hanya senang bertarung, namun pertarungan yang dibatasi oleh peraturan seperti dalam dunia olahraga hanya membuatnya malas.

Ia lebih senang mengamuk, menghajar orang sampai puas.

Tentu saja yang ia hadapi juga harus orang yang menantang, ia tidak melayani pecundang-pecundang yang tidak memiliki nyali untuk menghadapinya.

Hanya sedikit orang yang berani menghadapinya, Kisaragi Gentaro, yankee yang kuat dan kasar.

Dan ia tidak habis pikir, kenapa pemuda di hadapannya ini berani menghadapinya, padahal ia yakin hanya dengan satu pukulan ia mampu mengirim orang tersebut ke alam baka.

Ya, orang tersebut adalah Utahoshi Kengo.

Pemuda sekarat, yang selalu berjalan sempoyongan dan tasnya penuh dengan obat-obatan.

Masih pagi dan ia sudah berani melabraknya. Gentaro jadi ingin tertawa.

"Cepat kembalikan Fourze Driver sekarang juga, Kisaragi!" bentaknya dengan wajah marah.

Gentaro hanya mendengus dan menggaruk belakang kepalanya.

Masih pagi, baru sampai di gerbang sekolah, tiba-tiba Kengo muncul dan menyeretnya ke belakang sekolah.

"Kan aku sudah bilang, aku pinjam," jawab Gentaro singkat, jelas menolak mengembalikan barang berharga milik Kengo itu.

Kengo memandangnya dengan geram, namun Gentaro malah ingin tertawa melihatnya.

Tentu saja, pemuda sekarat itu tak akan mampu membuatnya yang pucat, kantung mata yang hitam dan cekung serta tubuh yang kurus itu tak akan mampu melawannya.

Namun, Gentaro cukup salut karena Kengo tak takut padanya.

Yah, mungkin bagi Kengo, Gentaro tak ada apa-apanya dibanding monster yang dihadapi mereka kemarin.

"Itu terlalu berbahaya untukmu, kau tidak mengerti bagaimana cara menggunakan suit Fouze juga siapa musuh yang kita hadapi sebenarnya," jelas Kengo.

Gentaro mendengus lagi. "Kalau begitu tinggal kau jelaskan padaku kan?" katanya.

Ia melihat Kengo menjadi semakin marah, bila mungkin.

"Aku belum setuju kau menjadi Kamen Rider Fourze," tambah Kengo. Gentaro hanya tertawa kecil mendengarnya.

"Kenapa? Kau cemburu karena aku bisa bertarung lebih baik darimu, heh, orang sekarat?" ejek Gentaro, mulai tersulut amarahnya.

Kengo terkejut mendengarnya dan segera menarik baju depan Gentaro, ia terlihat begitu tersinggung.

"Jaga ucapanmu, Kisaragi. Meski aku sekarat, setidaknya aku bukan yankee brengsek sepertimu," balasnya.

Gentaro tersentak dan menepis tangan Kengo. "Kau akan menyesal telah membuatku marah," kata Gentaro, mengepalkan tangannya.

"Aku tidak takut apapun Kisaragi, coba saja," tantang Kengo, memberikan seringai ejekan.

Gentaro siap melayangkan kepalannya pada Kengo, sebelum teriakan aneh mengganggu mereka.

"Hayabusa, Hayabusa-kun! Hayabusa-kun!"

Ok, ralat, bukan teriakan, tapi nyanyian.

Kengo dan Gentaro segera menoleh ke sumber suara, mereka melihat Yuki sedang memakai boneka berbentuk persegi empat di tangannya. Ia sempat panik melihat bagaimana posisi Gentaro yang ingin menghajar Kengo sehingga ia lari ke arah mereka.

"Jangan! Gentaro-kun! Kengo-kun! Lihat-lihat, Hayabusa-kun lucu kan? Aku membuatnya sendiri lho," sahut Yuki yang panik melerai mereka sambil memainkan boneka Hayabusa di tangannya.

Gentaro mengernyit, Kengo hanya menahan tawa.

"Kau tahu, Hayabusa itu hebat lho, aku susah payah membuat boneka ini semalaman!" tambah Yuki yang omongannya semakin ngawur dan tak tentu arah saking paniknya.

Kengo paham, maksud Yuki adalah mengalihkan perhatian mereka agar berhenti bertengkar, meski caranya itu… terlalu aneh untuk dipahami.

Gentaro hanya mendengus kesal dan berbalik pergi, tidak mengerti apa maksud Yuki juga kehilangan selera untuk menghajar Kengo.

Yuki dan Kengo hanya diam memandang Gentaro yang pergi berlalu.

IoI

Gentaro mengunyah roti yang ada di mulutnya dengan kesal, matanya tertuju pada belt besar yang ada di pangkuannya.

Apa sih spesialnya belt ini?

Memang sih, belt ini memberikan kekuatan luar biasa. Tapi, ini cuma alat bertarung. Gentaro tidak habis pikir mengapa Kengo begitu memusingkan soal belt ini.

Mosnter-monster itu, kekuatan aneh dari switch yang ada di belt…

Hah… permainan yang aneh…

"Kisaragi… Gentaro.."

Deg!

Gentaro terkejut mendengar suara berdengung dan aneh yang memanggilnya, ia menoleh dan menemukan sosok monster yang seperti ia temui kemarin hanya saja berbeda bentuk dan juga memakai jubah. Bentuk kepalanya… seperti kalajengking?

Gentaro segera memasang posisi siaga, tangannya memegang belt dengan erat.

Monster yang ada di hadapannya ini sangat berbeda dengan yang kemarin. Levelnya… kekuatannya…

"Aku tidak datang kemari untuk bertarung..," katanya. Namun, Gentaro tetap memasang posisi siaga.

Monster itu mengulurkan tangannya pada Gentaro, membuat yankee itu kebingungan.

"Bergabunglah dengan kami…"

Mata Gentaro membelalak. Ia? Bergabung dengan para monster itu? Apa maksudnya?

"Bila kau bergabung dengan kami… kau akan mendapatkan kekuatan yang menakjubkan… lalu, seluruh keinginanmu bisa terwujud…"

Gentaro memandang monster itu dalam diam, terpaku. Ia tidak mengerti, juga merasa kalut. Bergabung dengan monster? Mendapat kekuatan? Keinginan terwujud?

"Akan kutunggu jawabannya… sore ini…," kata monster itu sebelum akhirnya berjalan mundur kemudian menghilang, meninggalkan Gentaro dalam kebingungan.

Apa-apaan sekolah ini?

Baru dua hari ia masuk, di hari pertama ia sudah bertarung dengan monster dan di hari kedua, ia diajak bergabung dengan monster?

Gentaro mengacak-acak kepalanya, melupakan roti makan siangnya yang terlupan di tanah.

"Brak!" Ia terkejut mendengar pintu atap sekolah mendadak dibuka, munculah Kengo dengan Yuki yang tampak begitu terburu-buru. Kengo segera menoleh ke segala arah sambil menarik napas berat.

"Kisaragi, zodiartnya…," Kengo berhenti bicara dan menarik napas lagi, tampaknya ia kehabisan napas.

"Monsternya, Gentaro-kun," jelas Yuki. Gentaro hanya mendengus.

"Kalian terlambat, monsternya sudah keburu pergi," jelas Gentaro. Kengo dan Yuki tampak lega namun juga kecewa.

"Kau mengalahkannya?" tanya Yuki. Gentaro segera menggeleng.

"Tidak, ia cuma mengajakku bicara," jawab Gentaro. Kengo tersentak mendengarnya dan segera menghampiri Gentaro yang masih duduk di lantai.

"Bicara?" tanya Kengo.

"Ia mengajakku untuk bergabung," kata Gentaro, menatap langit dengan pandangan bingung.

"Be-Bergabung?" tanya Yuki ketakutan. Wajah Kengo segera memucat, seperti akan muntah darah lagi.

"Ia menunggu jawaban dariku, sore ini," tambah Gentaro lagi. Ia sama sekali tidak mengerti, mengapa ia diajak bergabung oleh monster itu? Apa yang sebenarnya ia inginkan dari dirinya?

Kengo menatap Gentaro dengan cemas, meski ia tidak mau mengakuinya tapi orang di hadapannya ini tak bisa dibiarkan bergabung dengan kelompok monster itu. Dengan akselerasi tinggi yang dimilikinya, entah akan jadi monster macam apa Gentaro nanti.

"Tampaknya aku tak punya pilihan lain, ikut aku," kata Kengo. Gentaro memandangnya dengan bingung, tak suka dengan cara Kengo yang seperti memerintahnya begitu namun ia tidak ada niat untuk mengajak orang sekarat itu bertengkar. Ia berjalan mengikuti Kengo lalu diikuti Yuki.

Gentaro sedikit merasa kebingungan saat Kengo membawa Gentaro ke salah satu gedung tidak terpakai disekolah lalu masuk ke dalam suatu gudang.

"Kau tidak boleh memberitahu tempat ini kepada siapapun," kata Kengo, memperingatkan yankee di depannya. Gentaro hanya mendengus, memangnya mau diberi tahu pada siapa?

Kengo membuka sebuah loker usang, namun Gentaro terkejut saat isi loker itu bersinar dan Kengo masuk ke dalamnya.

Ok, ia mulai tidak bisa mengikuti permainan aneh ini? Kenapa sih sekolah ini tidak bisa normal-normal saja?

Gentaro ikut masuk ke dalam loker dengan ragu dan takjub saat menemukan dirinya dikelilingi cahaya. Ia didorong oleh Yuki untuk tetap maju sampai akhirnya mereka mencapai sebuah pintu besi.

Apa lagi ini?

Pintu besi pun dibuka, Gentaro terbelalak mendapat ruangan besar berbentuk bulat yang ada di depannya. Semuanya dibuat dari besi, seakan berada di kapal selam yang besar. Di tengah ruangan ada meja, di sudut-sudut ruangan terdapat banyak hal yang tidak Gentaro mengerti. Lalu, matanya makin melebar saat melihat jendela yang mengarah ke luar ruangan.

Itu bumi?

"Kita berada di bulan, tepatnya Rabbit Hutch, pintu loker tadi dihubungkan dengan cosmic power ke base di bulan ini," jelas Kengo menjawab kebingungan Gentaro.

Gentaro masih kurang paham namun… uh, anggap saja pintu loker itu pintu kemana saja milik salah satu tokoh kartun itu. Ya, begitu lebih mudah dipahami.

"Dan gravitasi di sini lebih kecil daripada di bumi, jadi hati-hati yang Gentaro-kun," kata Yuki. Gentaro hanya mengangguk, masih sedikit shock. Benar juga, saat ia melangkah ia seperti melayang. Ia melirik ke Kengo yang sedang duduk di depan meja di tengah ruangan. Karena gravitasi kecil, tampaknya orang sekarat itu sedikit membaik, mungkin karena ia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga selama berada di sini.

"Baiklah, darimana sebaiknya kita mulai?" kata Kengo. Gentaro segera duduk di depannya, begitu pula Yuki yang duduk tak jauh dari Kengo.

"Sebenarnya apa itu cosmic power?" tanya Gentaro.

"Cosmic power adalah kekuatan yang berasal dari luar angkasa. Bisa dibilang ada dua jenis cosmic power, yang digunakan oleh kita adalah cosmic power yang bersih dan positive sedangkan yang digunakan oleh para monster itu adalah cosmic power yang lebih gelap dan negative," jelas Kengo secara singkat. Gentaro berusaha mencerna semuanya.

"Jadi para monster itu menggunakan kekuatan yang sama dengan kita?" tanya Gentaro. Kengo mengangguk.

"Kurang lebih demikian, tapi karena berbeda jenis kita tak bisa menggunakan kekuatan mereka maupun sebaliknya," tambah Kengo. Gentaro mengangguk.

"Cosmic power membutuhkan akselerasi dengan tubuh manusia. Saat digunakan, cosmic power akan menggunakan energi tubuh. Namun, tak semua orang bisa menggunakan kekuatan ini," kata Kengo lagi, ia membuka tasnya yang merupakan laptop.

"Kenapa begitu?" tanya Gentaro.

Kengo memutar tasnya, menunjukkan gambar manusia yang dialiri kekuatan dengan kekuatan cosmic power. "Begini, pada dasarnya tubuh memiliki penolakan pada benda asing. Cosmic power ini dapat memancing reaksi penolakan dari tubuh bagi orang yang memiliki akselerasi rendah. Untuk orang awam, mereka bisa terluka parah atau koma hanya dengan menekan tombol switch saja," kata Kengo.

Gentaro mengernyitkan dahinya, separah itu kah?

"Cosmic power yang kita gunakan memerlukan akselerasi yang cukup tinggi, kalau tidak, bisa membahayakan tubuh. Cosmic power bisa merusak tubuh dari dalam bila akselerasi terlalu rendah," kata Kengo lagi.

Gentaro hanya diam, mencoba mencerna semuanya.

"Kau memiliki akselerasi paling tinggi yang pernah kutemukan, yaitu sebesar 87%," kata Kengo. Yuki mengangguk.

"Kengo-kun saja hanya mencapai 43%," tambah Yuki.

Gentaro mendengarnya hanya bingung.

"Kenapa bisa begitu?" tanyanya. Kengo menggeleng.

"Aku sendiri tak begitu mengerti apa yang menyebabkan akselerasi menjadi rendah atau tinggi. Semuanya berbeda pada setiap orang, tapi yang kutahu untuk berubah menjadi monster itu, Zodiart, juga membutuhkan akselerasi tinggi," kata Kengo.

Gentaro menaikkan satu alisnya. "Karena akselerasiku tinggi, maka mereka mengincarku?" tanyanya.

Kengo mengangguk. "Memang sulit dipahami, tapi, akselerasimu sangat tinggi Kisaragi. Selama ini, hanya akulah yang memiliki akselrasi paling tinggi di sekolah ini, selain aku semua siswa hanya memiliki akselerasi sekitar 20 sampai 30%," jelas Kengo.

"Hanya saja, berbeda dengan Fourze, untuk menjadi monster tidak dibutuhkan akselerasi setinggi itu," tambah Yuki.

Kengo mengangguk. "Benar, namun, untuk menjadi Zodiart yang lebih superior tetap dibutuhkan akselerasi yang tinggi."

Gentarou mengacak-acak rambutnya, kebiasaan yang ia lakukan bila ia merasa pusing. Semuanya terlalu tiba-tiba, terlalu aneh, rasanya baru kemarin ia menikmati dunia damai tanpa monster kini ia sudah terjun seakan menjadi pahlawan yang bertugas membasmi para monster-monster itu.

"Bagaimana? Ada yang kau ingin tanyakan lagi?" tanya Kengo, menatap Gentarou dengan tatapan serius.

Gentarou hanya mendengus, Kengo pun mendesah, Yuki hanya kebingungan menatap keduanya.

"Ada satu lagi yang perlu kukatakan padamu. Jangan berlebihan dalam menggunakan cosmic power, bisa berakibat buruk untuk tubuh, sebesar apapun tingkat akselerasimu, bila digunakan berlebihan cosmic power dapat menggerogoti tubuh," tambah Kengo. Gentarou hanya mengangguk malas.

"Sebenarnya kau mendapatkan kekuatan ini darimana?" tanya Gentarou, melirik-lirik daerah sekitarnya yang masih sangat asing untuknya. Rasanya sulit untuk bisa terbiasa.

Kengo terdiam, mukanya sedikit memucat. Raut wajah Yuki berubah menjadi sedih. Gentarou segera menanggapinya sebagai tanda bahwa pemuda sekarat itu belum mau berbagi sejauh itu dengannya.

"Jadi… Bagaimana Gentarou-kun? Kau tidak akan bergabung dengan para Horoscope itu kan?" tanya Yuki dengan cemas namun mencoba untuk tersenyum.

Gentarou hanya diam mendapat pertanyaan begitu. Ia melirik ke jendela, menatap bumi yang ada di luar sana.

"Entah ya," jawab Gentarou, segera bangkit dari tempat duduknya. Yuki terkejut, begitu pula Kengo.

"Terima kasih untuk penjelasannya," kata Gentarou lagi dengan sedikit sinis, ia pun segera beranjak pergi, meninggalkan Kengo dan Yuki yang cemas.

Begitu sosok Gentarou hilang dari Rabbit Hutch, Kengo segera menidurkan kepalanya di atas meja. Ia merasa pusing, pusing karena sakit juga pusing karena terlalu banyak berpikir. Ia tidak mengerti kenapa dari semua orang, Gentarou lah yang memiliki akselerasi paling tinggi. Kenapa harus yankee yang tahunya hanya bertarung itu? Kenapa bukan dirinya?

"Kengo-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Yuki khawatir. Kengo membuka matanya, menatap Yuki dan hanya menyugingkan senyum tipis.

"Aku hanya khawatir dengan Kisaragi, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila ia bergabung dengan musuh kita," kata Kengo, segera bangkit dan berjalan menuju ruang kontrol. Yuki mengikutinya, melangkahkan kakinya perlahan.

Kengo menatap banyak switch yang masih kosong dan belum disempurnakan. Satu-satunya harapan untuk melawan monster-monster itu.

"Tenang saja."

Kengo berbalik, menatap Yuki yang tersenyum cerah padanya.

"Gentarou-kun tidak akan bergabung dengan mereka, aku yakin," kata Yuki. Kengo hanya menatapnya dengan bingung.

"Atas dasar apa kau berpikir begitu?" tanya Kengo. Yuki berpikir sebentar, menampakkan tampang polosnya.

"Soalnya ia tidak pernah menyakitimu maupun aku kan? Ia juga tidak menggunakan suit Fourze untuk membuat keonaran, aku pikir ia tidak sejahat yang kita kira," jawab Yuki. Kengo sedikit terkesima mendengar jawaban Yuki, namun ia masih ragu.

Benarkah itu?

IoI

Gentarou menatap langit yang berubah warna dari biru menjadi oranye. Matanya hanya menerawang jauh, sementara ia membiarkan badannya rileks, berbaring di lantai di atap sekolah. Tempat yang sepi dan tenang, tempat yang ia sukai.

Ia mengambil satu switch dari kantongnya, yang berasal dari belt.

Kekuatan aneh, monster, luar angkasa…

Apakah ada hal yang lebih aneh dari ini?

Jika ia bisa memilih, menjadi Fourze atau monster-monster itu, apa yang akan ia pilih?

Menjadi Fourze tidak buruk, kekuatannya meningkat, bisa menghadapi lawan yang berbeda dengan biasanya. Sedangkan menjadi monster…

"Kau bisa mendapatkan kekuatan tak terbatas."

Gentarou terkejut dan segera bangkit, ia berbalik untuk melihat sosok monster yang telah menghampirinya tadi siang.

"Kekuatan tak terbatas?" tanya Gentarou.

"Ya, melebihi kekuatan cosmic power yang kau miliki sekarang. Dengan kekuatan ini, kau bisa mendapatkan semua yang kau mau," tambah monster itu.

Gentarou menutup matanya, mencoba untuk membandingkan pilihan yang ditawarkan padanya.

"Hanya dengan menekan switch ini, mimpimu akan menjadi kenyataan," kata monster itu lagi, menyodorkan sebuah switch berwarna hitam dengan tombol berwarna merah.

Gentarou menerima switch yang disodorkan padanya, menatapnya dalam-dalam.

Mimpinya?

Monster itu tersenyum saat tangan Gentarou mulai menggenggam switch itu namun ia terkejut saat switch itu justru hancur karena genggaman yang kuat.

"Kau…"

"Brak!" pintu atap terbuka dengan keras, Kengo dan Yuki segera keluar, menemukan pemandangan mengejutkan.

Gentarou yang memegang switch hitam hancur di tangannya dan Horoscope yang tampak geram padanya.

"Kisaragi…," gumam Kengo, terpana melihat Gentarou yang menolak menjadi Zodiart.

"Bisa mewujudkan mimpiku? Huh, jangan bercanda, kau pikir aku selemah itu untuk bergantung pada switch konyol ini?" tanya Gentarou kemudian tertawa kecil, membuat sang Horoscope geram melihatnya.

"Lagipula bayangkan saja, bila aku menjadi temanmu, yang jadi lawanku siapa? Cuma cowok sekarat dan cewek cengeng macam mereka, membosankan sekali," tanya Gentarou lagi.

"Kau akan menyesal," kata Horoscope itu dengan nada mengancam. Gentarou dengan santai mengambil tasnya dan mengeluarkan belt.

"Coba saja kalau bisa," kata Gentarou. Ia memasang belt itu di tangannya dan segera menekan semua switch serta tuasnya.

"Henshin," teriaknya dan sosoknya pun segera diselimuti oleh suit berwarna putih.

"Dasar kurang ajar," geram Horoscope itu, segera menerjang Gentarou. Gentarou mengelak dengan cepat, telat sedikit ia pasti sudah kena hantam oleh monster itu.

Kengo dan Yuki memandang pertarungan di depan mereka dengan cemas, bila dikatakan, Gentarou dan Horoscope itu seimbang. Berbeda dengan pertarungan kemarin, kali ini Gentarou lebih serius, gerakannya lebih lincah dan bertenaga.

Kengo segera membuka tasnya untuk menganalisa pertarungan. Yuki pun segera mengeluarkan robot kecilnya untuk membantu Kengo.

Wajah Kengo memucat saat Gentarou menekan salah satu switch. Switch itu…

"Kisaragi, jangan!"

Namun terlambat, sebuah kotak biru segera muncul di kaki Gentarou, kemudian meluncurkan beberapa misil yang berhamburan ke segala arah. Gentarou hanya terpana melihatnya, melihat Horoscope yang panik dan Kengo kalang kabut memarahinya namun tak terdengar dengan jelas.

"Yuki!" Kengo memekik, segera melempar dirinya memeluk Yuki saat salah satu misil mendarat tepat di depan mereka.

"Kyaaa!" Yuki berteriak ketakutan saat ia bisa merasakan ledakan menghempaskan tubuhnya bersama dengan Kengo.

Salah satu misil pun mengenai Horoscope yang segera terpental terkena ledakan dari misil tersebut.

Sementara sisa misil lainnya, hanya berhamburan ke segala arah dan meledakkan bangunan sekolah.

"Wah…," gumam Gentarou takjub, tidak menyangka akan menghasilkan kerusakan sebesar ini.

"Yuki, kau tidak apa-apa?" tanya Kengo, segera bangkit dari lantai untuk melihat Yuki yang ia peluk untuk melindunginya dari ledakan tadi.

Yuki membuka matanya dan menatap Kengo, gadis itu gemetaran namun akhirnya ia menemukan kekuatan untuk mengangguk pada temannya itu. Kengo menarik napas lega namun kemudian mengerang sedikit.

"Ukh…," rintihnya, Yuki segera bangkit dan melihat bahwa jas belakang Kengo sedikit hangus, tampaknya disebabkan karena ledakan tadi.

"Kengo-kun!" pekik Yuki khawatir.

"Aku tidak apa-apa, hanya luka bakar kecil, cepat ambilkan tasku," kata Kengo sambil menahan sakit. Yuki mengangguk. Ia segera berlari, mengambil tas yang sempat terpental jauh dari mereka.

Sementara sang Horoscope sudah kembali bangkit dan menerjang kembali Gentarou. Namun, tampaknya misil tadi cukup memberikan efek. Gerakan monster itu jadi agak lambat, memberikan keuntungan untuk Gentarou untuk melancarkan serangan bertubi-tubi ke tubuh monster itu.

Monster itu segera mundur, mengambil jarak aman sambil mencoba menarik napas.

"Kengo-kun, ini tasmu," kata Yuki. Kengo segera mengambil obat penghilang rasa sakit yang ia miliki dan meminumnya cepat-cepat, ia kemudian kembali menganalisa pertarungan, meski punggungnya masih terasa panas.

Gentarou segera menekan switch lain dan kaget melihat kakinya menjadi bor, menarik…

"Kisaragi, lakukan limit break!" seru Kengo.

Gentarou pun menekan tuas dan melancarkan tendangan jarak dekat pada monster itu, namun monster itu tiba-tiba berkelit dan menghilang dengan cepat, seperti fatamorgana yang lenyap.

"Apa…?" Gentarou terkejut. Kengo dan Yuki pun hanya terdiam di tempat.

"Kabur ya…," gumam Kengo, melihat sinyal dari monster itu sudah lenyap di monitor tasnya.

Gentarou mendengus kesal, ia segera mengundo perubahannya. Tangannya mengepal kuat, kesal karena tidak bisa menghabisi monster itu.

"Hah…," Kengo mendengus, meluruskan kakinya yang terasa kaku, tubuhnya terasa sakit sekali sekarang, ketika ketegangannya sudah menghilang.

"Kengo-kun…," gumam Yuki khawatir. Kengo berusaha memberikan senyum datar kepadanya, namun pemuda itu segera kehilangan kesadaran dan limbung ke bahu Yuki.

"Kengo-kun? Kengo-kun!" Yuki panik melihat Kengo pingsan. Ia mengguncang-guncang tubuh temannya itu, Kengo tampak kesakitan, keringat dingin mengalir dari dahinya.

Yuki tersentak saat Gentarou berjalan melewatinya, seakan ia tidak melihat apa-apa. Raut muka pemuda itu tampak kesal, hanya fokus menatap ke depan.

"Gentarou-kun!"

Gentarou berbalik, melihat Yuki yang mau menangis dan Kengo yang pingsan di pelukannya.

Dasar… sudah kedua orang itu membosankan, ternyata juga merepotkan.

IoI

"Maaf ya, Gentarou-kun," gumam Yuki pelan, berusaha menyamakan langkahnya dengan Gentarou yang jauh lebih tinggi darinya.

Gentarou hanya mendesah, bertanya-tanya kenapa ia harus menggendong pemuda sekarat menyebalkan ini di punggungnya.

Tapi, ia tidak bisa tidak menyadari bahwa tubuh Kengo ringan sekali, jauh lebih ringan dari orang-orang seusianya. Sejak tadi juga, ia bisa mendengar orang yang digendongnya ini merintih pelan kesakitan.

"Kenapa ia tidak tinggal di rumah sakit saja sih?" tanya Gentarou, bertanya-tanya apakah Kengo ini sebenarnya mayat hidup atau manusia.

Raut wajah Yuki berubah menjadi sedih. Ia menenteng tasnya, tas Kengo dan tas Gentarou.

"Karena… Kengo benci rumah sakit…," kata Yuki, menatap ke bawah, terbayang di benaknya sosok Kengo yang selalu saja lemas dan sakit, tak pernah melihatnya sehat bugar seperti orang-orang pada umumnya.

"Keadaan tubuhnya sangat buruk, bila ia ke rumah sakit, ia harus terus berbaring di tempat tidur tanpa bisa melakukan apa-apa," kata Yuki lagi, terasa pahit.

Gentarou hanyad diam, memandang ke depan, tak memandang Yuki yang tampaknya akan menangis.

"Katanya, ia tidak bisa tinggal diam di rumah sakit, ia harus berjuang melawan monster-monster itu," kata Yuki lagi, menatap langit, berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh.

"Dasar orang bodoh," gumam Gentarou pelan. Yuki terdiam mendengarnya, ia sendiri sebenarnya masih ragu apakah Gentarou bisa menggantikan Kengo menjadi Fourze, atau tidak?

Ia melihat Gentarou yang memasang wajah bosan dengan Kengo yang ia gendong di belakangnya.

"Tapi, sekarang kan sudah ada Gentarou-kun, jadi tidak apa-apa," kata Yuki lagi, sambil tersenyum cerah, sedikit mengagetkan Gentarou.

Gentarou mendengus dan tertawa pelan. "Dasar cewek bodoh," gumamnya dan senyum Yuki makin melebar mendengarnya.

Mungkin jalan untuk menjadi Kamen Rider yang baik masih panjang untuk Gentarou, tapi… Yuki yakin bila yankee di sampingnya ini pasti bisa, dengan bantuannya dan Kengo, mereka pasti bisa mengalahkan semua monster-monster itu.

Tbc


Perkembangan yang aneh ya?

Silahkan review bila berkenan.