Thanks banget yang udah Review ...
Sorry juga buat prolog kmaren yang banyak salah...
Mohon maklum sajalah...
Casanova and Baby Sister
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : OOC, Miss-Typo, Lebay-ness, Don't Like? Don't Read!
Chapther 1
Hinata Hyuga memandangi stokingnya yang sobek dan berusaha menarik ujung roknya untuk menutupinya. Hari ini juga rambutnya yang diikat terlihat berantakan, tetapi dengan rambut indigo yang memang sulit diatur, ia tak ingat lagi kapan rambutnya pernah rapi. penampilan sempurna memang bukan persyaratan untuk pekerjaan mengasuh bayi berusia satu tahun, tetapi berpenampilan acak-acakan pada saat wawancara pertama sama sekali juga tidak bisa membantunya mendapat pekerjaan ini. Lagi pula, jika Hinata merasa tidak nyaman diruang tamu resmi yang anggun di rumah mewah Uchiha Sasuke ini, bagaimana perasaan bayi perempuan mungil itu nanti?
Asisten Uchiha Sasuke, Karin, yang menjelaskan bahwa ia datang dari kantor untuk membantu bosnya dalam wawancara ini, memandang Hinata dari atas kacamatanya yang diturunkan.
"di resume anda tertulis anda menyandang gelar sarjana ilmu komputer. Tetapi mengapa anda ingin menjadi pengasuh bayi?"
Pertanyaan itu bisa diterjemahkan sebagi berikut: apa kau cukup gila untuk meninggalkan posisi sebagi ahli komputer yang bergengsi untuk mengganti popok bayi? Hinata sudah terbiasa mendengar pertanyaan itu dan sudah menyiapkan jawabannya.
"saya merasa bekerja dengan anak-anak jauh lebih memuaskan. Anak-anak bisa tersenyum, memeluk, dan tertawa. Sedangkan komputer tidak." Jawab Hinata.
"kalau begitu, mengapa anda tidak mengambil bidang pendidikan anak usia dini atau semacam itu?" tanya karin.
"karena pengaruh Kakak saya." Hinta mengakui.
Kakaknya, Hyuga Neji, telah mempengaruhinya dalam banyak hal, dan karena orang tuanya sudah meninggal, Hinata tumbuh dibawah pengawasan Kakaknya hingga saat ini.
"Kakak saya mendorong saya untuk mengambil ilmu komputer karena bidang itu lebih menjual, dan saya memang cukup terampil menggunakan komputer. Tetapi selama musim panas saat kuliah, saya bekerja sebagai pengasuh bayi dan sangat menikmatinya. Setelah lulus, saya bekerja di Menatee Computer Services. Perusahaan itu baru-baru ini mengurangi karyawannya, dan saya langsung melihat itu sebagai peluang untuk melakukan sesuatu yang sudah lama ingin saya lakuakan ― bekerja dengan anak-anak."
"referensi anda memang mengagumkan,"ujar karin sambil merenung.
"apakah anda menyadari posisi ini, menuntut anda untuk tinggal disini?" tanyanya.
"itu tidak masalah bagi saya."sahut Hinata.
"teman serumah saya baru saja menikah."jelas Hinata. Karin mengangguk sambil berpikir.
"saya rasa tuan Uchiha harus bertemu dengan anda. Tunggu sebentar, akan saya panggilkan dia."ucap Karin seraya meninggalkan Hinata. Hinata sangat gugup hingga perutnya merasa mulas.
"saya akan menunggu di sini." Katanya sambil tersenyum.
Begitu ditinggal sendirian, Hinata berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangan cantik itu. pada usianya sekarang, dua puluh empat tahun, ia heran dirinya merasa gugup. Meskipun menginginkan pergantian karier, ia tidak pernah menyadari dirinya begitu menginginkan pekerjaan ini. Ia ingin merasakan kedekatan hubungan antar sesama manusia. Ia berhenti mondar-mandir dan memandangi foto-foto keluarga Uchiha yang terpajang di Uchiha. Hinata sudah mendengar banyak tentang mereka. Nama dan wajah mereka sering muncul di halaman bisnis atau kolom nama dan peristiwa dikoran Boston Globe. Hinata bertanya-tanya bagaimana rasanya memiliki banyak saudara perempuan dan laki-laki, dan merasakan setitik kerinduan di hatinya. Setelah kedua orang tuanya meninggal, yang tersisa hanya hainata dan Kakaknya. Meskipun Neji sangat murah hati dalam membari nasehat, dia juga sibuk dengan kariernya sendiri. Hinata punya banyak teman, tetapi sejak kuliah ia tak lagi merasa benar-benar diterima.
Suara wanita yang sopan dan jeritan keras bayi mengejutkan Hinata dari lamunannya. Hinata mengintip ke arah pintu dan melihat seorang wanita cantik separoh baya dan berambut hitam muncul dalam balutan setelan mewah karya perancang kondang. Rambutnya ditata sedemikian rupa sehingga tidak berantakan sedikitpun, Hinata memaperhatikan wanita itu dengan kagum sembari, tanpa disadarinya, merapikan rambut ikalnya.
Wanita itu menggendong bayi munyil berambut hitam. Dia menengadah dengan ekspresi lelah, dan menatap wajah Hinata.
"Setsuna masih menyesuaikan diri di sini."ujar wanita itu.
Penasaran, hinta menjulurkan lehernya untuk melihat lebih jelas calon asuhannya.
"sebagian orang sedikit uring-uringan ketika baru saja bangun tidur. Biasanya ganti popok, minum jus atau makan kue bisa menghentikan itu."kata Hinata.
Wanita itu tersenyum dan berjalan menghampiri. "ganti popok untuk orang dewasa juga?"
"well, harus anda akui bahwa beberapa orang dewasa memang bertingkah seolah celana dalam mereka terlalu ketat, dan tak bisa melontarkan alasan kalu popok mereka basah."jelas Hinata dan Wanita itu terkikik.
"benar sekali. Namaku Mikoto Uchiha dan ini Setsuna. Maaf aku tidak bisa bersalaman."
"saya Hinata Hyuga. Senang sekali berkenalan dengan anda dan Setsuna." Hinata terkesiap memandang kecantikan bayi yang sedang menjerit itu.
"ya tuhan, dia cantik sekali. Meskipun dengan wajah semerah tomat." Puji Hinata. Mikoto terkikik lagi, lalu menggeleng. "kurasa itu karena dia terlalu banyak bergerak."
Hinata meniup wajah bayi itu. sejurus Setsuna berhenti menjerit dan membuka matanya, bulu matanya hitam dan letik basah karena air mata. Dia menatap tajam ke arah Hinata, dan bibir bawahnya dicibirkan seolah bersiap untuk menangis lagi.
"cilukba," kata Hinata, lalu menghilang dari pandangan Setsuna.
Hening sejenak, lalu diikuti dengan suara cegukan.
Hinata lalu muncul lagi dihadapan anak itu. "cilukba," katanya sembari tersenyum, kemudian menghilang dari pandangan sekali lagi.
Hening lagi. Setsuna menoleh , mencarinya.
Hinata muncul lagi dihadapan Setsuna. "cilukba,"
Seulas senyum perlahan-lahan muncul di bibir Setsuna.
Mikoto menggeleng-geleng kagum. "aku punya tiga anak yang sudah dewasa, tapi benar-benar sudah lupa permainan cilukba."
"itu karena terlalu banyak menghadiri pertemuan ibu-ibu bersama tokoh masyarakat." Sahut seorang pria yang sedang memasuki ruangan bersama karin, yang berjalan disampingnya.
Hinata memandang pria itu dan ternganga. Dengan tinggi lebih dari 190 sentimeter, rambut hitam mengilap, wajah memesona, dan tubuh atletis, pria itu tanpa dirahgukan lagi pasti menarik perhatian banyak wanita. Pria itu mungkin terpaksa mengusir wanita-wanita itu di sepanjang jalan yang dilaluinya. Sorot matanya yang tajam langsung membuat perut Hinata bergolak. Wanita lain mungkin berusaha menaklukkan pria ini, tatapi Hinata, ia tidak mamiliki penampilan, daya tarik seksual, atau atribut lain yang diperlukan untuk merayu pria seperti Uchiha Sasuke. Di samping itu, ia menyadari pria ini sama sekali takkan memandang sebelah mata kepada gadis sepertinya. Sungguh memalukan, tetapi memang seperti itulah kenyataannya. Oh well, Hinata berpikir mungkin ia bisa mengagumi Sasuke dari jarak jauh.
dengan spontan Hinata menoleh kearah Mikoto. Sosok wanita yang lebih tua itu terkesan lebih aman. "kehebatan permainan cilukba memang sering diremehkan, tetapi saya yakin anda pasti bisa mengingatnya kembali." ujar pemilik rambut indigo itu.
"mungkin kewajiban membuatku sering lupa." Kata Mikoto, memandangi cucunya. "atau keputusasaan."
"tapi apa yang diketahui seorang ahli komputer tentang permainan cilukba?" tanya pria itu dengan tatapan sinis.
Hinata tercenung sebentar. Ia curiga pasti ada alasan tertentu yang membuat pria itu bersikap sinis, meskipun jelas-jelas tidak menyukai sikap itu. firasatnya mengatakan pria ini bukan tipe orang yang berusaha keras agar disukai orang. Hinata menatap mata Sasuke dengan sorot menantang, yakin akan kemampuannya menjaga putri pria itu, seperti juga yakin akan kurangnya daya tarik femininnya.
"saya bahkan mampu menulis disertasi tentang permainan cilukba. Keunggulan permainan cilukba adalah karena tidak memerlukan peralatan khusus, bisa dimainkan kapan saja, dan nyaris dimana saja. Meskipun ada beberapa hal yang diperlukan untuk melakukan permainan ini."
Sasuke mengangkat alis hitamnya. "hal apa saja?"
"selera humor dan kesediaan untuk―" Hinata terdiam, merasakan perutnya bergolak karena ketajaman tatapan mata Sasuke. Ia merasakan darah di nadinya mengalir deras.
"kesediaan untuk apa?" tanya Sasuke.
Hinata berdehem, sekaligus berharap pipinya tidak merona dan memanas karena malu.
"kesediaan bagi orang dewasa yang terlibat untuk benar-benar melupakan gengsinya." jawab Hinata, yakin bahwa ia baru saja melakukan kesalahan.
Sasuke tersenyum tipis. "benarkah?" ia lalu membaca sekilas resum Hinata.
"mengapa kau tidak mencantumkan sebagai 'ahli permainan cilukba' di sini?"
Hinata tertawa, lega sekaligus geli. "saya tahu saya memang melupakan sesuatu."
"perasaanmu memang tepat. Dan kau sudah berkenalan dengan Setsuna." Kata Sasuke seraya menatap putrinya. "bellisima.
"katanya pada Setsuna, lalu mengecup dahi anak mengawasi Sasuke dan bibir bawahnya mencebik, seolah siap menherit.
Hinata tak bisa menyalahkan anak itu. baginaya saja sosok Sasuke tampak besar sekali, apalagi bagi bayi itu.
"tolong ikut aku ke ruang tamu." Kata Sasuke kepada Hinata. "aku masih punya beberapa pertanyaan."
"baiklah."ujar Hinata. "senang berkenalan dengan kalian semua, nyonya Uchiha, nyonya Karin, dan Setsuna." Kata Hinata ketika bayi mungil itu mulai merengek lagi. Hinata mengikuti Sasuke ke ruang tamu.
.
.
.
"dia belum pernah sekalipun tersenyum padaku,"gumam Sasuke, sambil memberi isyarat agar Hinata duduk disofa diseberangnya. Sasuke duduk disebuah kursi berlengan tinggi.
"dia masih bingung."jelas Hinata.
Sasuke manatap Hinata tidak percaya. "bingung?"
"well, ya. Menurut ukuran orang normal, tubuh anda termasuk tinggi besar, tetapi baginya, anda itu raksasa."
"orang normal," ulang Sasuke, sambil mengusap-usap dagunya.
"orang kebanyakan," Hinata mengoreksi, seraya merenung bahwa Sasuke termasuk tipe pria yang bercukur setiap hari.
"firasat saya mengatakananda tidak terbiasa menjadi orang kebanyakan." kata Hinata, lalu menggigit bibirnya. "maaf itu terlalu pribadi untuk diungkapkan dalam wawancara."
Sasuke mengangguk. "ya, memang, tetapi kau benar. Keluarga Uchiha tidak diizinkan menjadi orang kebanyakan."
Hinata menatap mata onyx Sasuke yang menyiratkan bahwa pria itu sangat berpengalaman dan selalu memaksakan dirinya sendiri, bahwa banyak tuntutan dalam hidupnya, dan dia telah melakukan apa pun yang diperlukan.
Sasuke sekali lagi membaca sekilas surat lamaran Hinata. "aku masih tidak mengerti mengapa kau mau memilih menjadi pengasuh bayi, padahal kau bisa bekerja di perusahaan besar."
Hinata menahan diri agar tidak mengerang. "saya bermain cilukba,"jawabnya. "dengan komputer tidak bisa."
Sasuke tetap membisu, seolah sedang menunggu penjelasan yang sesungguhnya.
"ketika bekerja dengan komputer, saya tidak merasa telah memberikan kontribusi yang bermanfaat. Tetapi ketika menjaga seorang anak kecil, saya merasa seolah saya turut bertanggung jawab membentuk masa depan. Saya senang memiliki perasaan ikut terlibat setiap kali mengasuh anak kecil."
"karin memberitahuku kalau kedua orang tuamu sudah meninggal," kata Sasuke
"ya"
"aku turut prihatin." Kata Sasuke, mengejutkan Hinata dengan kelembutan di dalam suaranya. "kau punya kakak?" tanya Sasuke.
"yang selalu berusaha mengatur hampir seluruh hidup saya." tutur Hinata.
Sasuke memandang Hinata dengan penasaran. Membuat Hinata kagum pada kemampuan Sasuke memancing informasi hanya dengan ekspresi wajah.
"setelah saya diterima kuliah di perguruan tinggi lokal di Iowa, dia membujuk saya menyelesaikan pendidikan di sini di boston." Jelas Hinata.
"bagaiman pendapatnya kau melamar di posisi ini?" tanya Sasuke penasaran.
"bagaimana pendapatnya tentang hal itu tidak penting. Bagaiman pendapat anda, Setsuna, dan saya itulah yang penting." aku Hinata.
Sasuke mengangguk. "apa kau saat ini bertunangan atau sedang menjalani hubungan serius?"
Hinata terdiam sejenak. "itu pertanyaan yang terlalu pribadi bukan?"
"ya, tapi penting. Aku baru saja mendapatkan seorang putri yang bahkan belum aku ketahui eksistensinya hingga beberapa minggu yang lalu. Aku tidak ingin mempekerjakan seseorang yang tidak bisa membuat komitmen jangka panjang." Papar Sasuke.
"seberapa panjang?"
"tujuh belas tahun." Jawab Sasuke dengan ekspresi bercanda, lalu menyeringai. "hanya bercanda. Setelah tiga puluh hari masa percobaan aku akan memintamu menandatangani kontrak satu tahun."
"satu tahun tidak masalah."sahut Hinata, lalu perasaan aneh melanda dirinya. Karin telah menceritakan padanya secara singkat mengenai bagaiman Sasuke mengetahui keberadaan Setsuna, tetapi kisah itu masih membingungkannya. "anda pasti sangat terkejut mendengar berita itu."
"aku harus mengevaluasi gaya hidupku." Kata Sasuke,
sinar dimatanya memancarkan sesuatu yang berbeda dengan nada bicaranya yang netral.
"memberikan lingkungan yang stabil kepada Setsuna adalah perioritas utamaku sekang. Itu sebabnya aku melontarkan pertanyaan bersifat pribadi itu. apa kau sedang menjalin hubungan serius sehingga ketidakhadiranmu dalam jangka waktu lama dapat ditolerir?"
Hinata membayangkan sederet teman prianya dan menahan diri untuk tidak terkikik. Hubungan serius? Bagi teman-teman prianya, Hinata hanyalah salah satu dari mereka.
"saat ini saya sedang tidak menjalin hubungan serius dengan siapapun. Saya memang punya beberpa teman pria, karena sering bermain voly dan menjadi salah satu anggota tim yang menjuarai pertandingan antar gelanggang olahraga di boston. Saya juga kadang-kadang bermain basket."
"voly." Ulang Sasuke, seolah mencoba menggabungkan informasi itu dengan sosok Hinata sebagi pengasuh bayi.
"saya selalu punya prestasi lebih baik di bidang olahraga dibanding di bidang seni, meskipun saya juga jago mendongeng 'eensy-weensy spider'"jelas Hinata, lalu menyeringai.
"saya yakin anda belum pernah menanyakan kehebatan saya mendongeng 'eensy-weensy spider' dalam wawancara."
Sudut-sudut bibir Sasuke terangkat. "memang belum pernah." Ia lau mengawasi Hinata sambil membisu agk lama, sehingga Hinata harus menahan keinginan untuk bergerak. "kalau kau menjadi pengasuh Setsuna, aku menginginkan kejujuran yang menyeluruh,"
Hinata menyadari penggunaan perkataan bernada keras yang mungkin sering dugunakan Sasuke di kantornya. Sasuke adalah tipe pria penuntut dan selalu memperoleh apa pun yang diinginkannya. "saya berusaha bersikap jujur sepanjang waktu."
Sasuke mengangguk. "bagus. Posisi ini menuntut agar kau dan aku berkomunikasi secara rutin. Menurutku sebaiknya kita membuang segala formalitas. Kau bisa memanggilku Sasuke."
Hinata sangat menginginkan pekerjaan ini, tatapi hati kecilnya memperingatkannya tentang Sasuke Uchiha. Ia merasa pria ini punya kemampuan membujuk keluar seekor beruang keluar dari gua persembunyiannya, sekaligus menuntut karyawannya mematuhi perintahnya tanpa banyak bertanya. Saat mendengar Setsuna mengis lagi di ruangan yang lain, Hinata mulai berfikir pekerjaan ini sepertinya lebih menantang daripada perkiraannya semula. Meskipun bersedia menghormati keinginan Sasuke, ia perlu tahu bahwa setidaknya Sasuke juga mendengarkan gagasannya.
"anda memberi kesan sebagai seseorang yang selalu mendapatkan apa pun yang anda inginkan. Seandainnya saya punya gagasan menurut saya sangat baik, saya harap anda akan mempertimbangkan hal itu meskipun anda tidak menyukainya."
Sasuke memandang Hinata agak lama dengan tatapan menyelidik.
"aku orang yang bertanggung jawab dan tidak suka melalaikan tanggung jawabku. Meskipun sudah menjadi cita-citaku, aku masih belum mahir mengurus putriku. Aku yakin mampu mencapinya segera, tetapi sebelum itu terjadi aku akan menghargai masukanmu."
Pada saat itu juga rasa hormat Hinata terhadap Sasuke tumbuh semakin besar. Komitmen pria itu terhadap putrinya membuat hatinya tersentuh.
"apa ada saran lainnya?" tanya Sasuke.
Hanya kenyataan bahwa Sasuke kelihatan sangat mempesona sehingga Hinata berharap ia tidak tepergok sedang meneteskan air liur setiap kali Sasuke muncul. Hinata menggeleng.
"bagus. Kami sudah mempelajari referensimu. Kapan kau bisa mulai?"
"kapan anda membutuhkan saya?" balas Hinata dengan perasaan senag sekaligus cemas.
Suara tangisan Setsuna memenuhi udara. Tanpa berkedip Sasuke menjawab, "kemarin."
.
.
.
.
.
.
Dua malam sesudahnya, Sasuke tidur di salah satu kamas tidur tamu. Kamar tidur utama sedang dicat, sehingga untuk sementara ia menempati kamar tidur tamu. Ia tak pernah tidur lelap sejak membawa Setsuna pulang. Tetapi ketika melihat putrinya tertidur lelap malam ini, Sasuke yakin akhirnya ia bisa bersantai. Sebagian lagi juga di sebabkan munculnya perasaan bahwa Setsuna merasa aman dan nyaman di bawah asuhan Hinata.
Dari bilik dinding kamar tidurnya, Sasuke bisa mendengar bunyi air mengalir dan suara wanita bernyanyi. Suara itu menarik perhatian Sasuke. Sebagai bujangan sejati dan jarang memiliki kekasih yang bermalam dirumahnya, Sasuke tak ingat kapan terakhir kali mendengar suara wanita menyanyi dirumahnya.
Dengan penasaran, ia mendekati diding itu. lagu anak-anak, pikirnya, ketika pendengarannya menangkap sebagian liriknya. "little teapot...steamed up ... tip me over, pour―"
Nyanyian itu mendadak berhenti, dan Sasuke mendengar suara dentuman keras diikuti pekik tertahan. Sembari meringis, Sasuke mendengar erangan lirih, lalu hening.
Sasuke mengerutkan dahi, bertanya-tanya apakah Hinata terluka. Ia menempelkan telinganya pada dinding. Tetap saja tidak ada suara. Ia mengusap batang hidungnya. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana jika gadis itu tergeletak pingsan dilantai dan mendapat gegar otak ringan?
Sambil menyumpah pelan, Sasuke berjalan dari kamarnya ke pintu kamar tidur Hinata dan mngetuk pelan, berniat tidak membangunkan molly. "Hinata," panggilnya. "Hinata, apa kau baik-baik saja?"
Tidak ada suara. Sasuke memutar knop pintu dan beranjak masuk, mencari-cari sesosok tubuh di lantai. Ia berjalan terus menuju kamar mandi mewah dan melihat Hinata Hyuga dengan tubuh terbungkus selembar handuk sedang mengusap-usap dagunya. "aduh, aduh ...," bisiknya kesakitan.
Sasuke pasti pria tidak normal jika tidak memperhatikan kaki Hinata yang panjang dan langsing, serta kenyataan bahwa handuk itu nyaris memamerkan salah satu buah dadanya. Jika situasinya berbeda, ia pasti menarik lepas handuk itu dalam hitungan detik, tetapi sekarang ia perlu memastikan bahwa Hinata tak terluka. "kau baik-baik saja?"
Hinata menatap tajam Sasuke dan mulutnya terbuka lebar, menyiratkan rasa takut bercampur terkejut. Dai menunduk memandang tubuhnya dan dengan buru-buru memperbaiki letak handuknya. "Tuan Uchiha."
"panggil aku Sasuke," kata Sasuke.
Hinata menggenggam handuknya erat-erat. "aku baik-baik saja. Aku hanya terpeleset ketika keluar kamar mandi."
"sepertinya itu sakit sekali dan cukup berbahaya." Kata Sasuke.
Hinata bergidik. "aku memang terjatuh dengan keras. Itu salah satu kelemahanku. Terlalu percaya diri. Aku terlalu mempercayai keseimbangan tubuhku."
"mungkin kau terlalu asyik menyayikan lagu Little teapot."
Wajah Hinata memerah dan ia pun duduk. "sejujurnya." Katanya tenang. "aku memang bukan Marry Poppins, jadi aku tadi sedang berlatih lagu-lagu anak-anak yang kuketahui."
Sasuke mengangkat bahu. "menurutku lagunya indah sampai kau..."
"terpeleset." Sambung Hinata dengan wajah muram.
"kau yakin tak terluka?"
"sangat yakin kau baik sekali datang melihatku, tetapi sebenarnya tidak perlu. Aku hanya lecet sedikit saja."
"kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Sasuke, sesuatu diwajah Hinata membuatnya ragu.
"sangat yakin. Kau boleh pergi."
"biar kubantu kau berdiri dulu," kata Sasuke, sambil menghampiri Hinata.
"oh, tidak usah," bantah Hinata, matanya melebar sambil menggeleng.
Sasuke menumpangkan tanganya di lengan Hinata dan memandang dengan geli ketika pipi Hinata merona lagi. Hinata terlihat sangat cantik ketika pipinya merona sperti itu. sebenarnya Hinata mengingatkan Sasuke pada setangkai lavender yang sedang merekah. Sasuke penasaran apakah seluruh tubuh Hinata juga memerah, dan ia bisa melihat bahu dan dada Hinata berwarna merah jambu. Ia menunduk lagi dan memperhatikan kaki dan ujung-ujung jari kaki Hinata yang juga berwarna merah jambu.
"tuan Uchiha―" kata Hinata.
"Sasuke." Koreksi Sasuke.
"Sasuke, aku tidak akan mati karena terjatuh tadi, tetapi aku bisa mati karena malu kalau kau tak segera pargi." Ujar Hinata.
Sasuke menarik tangannya kembali, sengan dengan pengakuan Hinata yang jujur. "menurutku aku belum pernah bertemu seorang yang sekujur tubuhnya bisa merona merah."
Bibir Hinata menegang membentuk satu garis tipis. "seorang gantleman tidak akan menyebutkan fakta itu didepanku."
Sasuke terkekeh, sambil berpikir ia tidak seharusnya sangat menikmati pembicaraan ini. "saat ini aku memang bukan gentleman seratus persen."
.
.
.
.
Hinata berhasil melalui malam itu, maskipun mersa jijik setiap kali mengingat Sasuke Uchiha mendengarnya bernyaniyi di kamar mandi, marasa wajib membantunya berdiri dari lantai, dan nyaris melihatnya telanjang. Tetapi molly dengan segera membuyarkan lamunannya.
"apa yang dia lakukan dengan rambutmu?" tanya Sasuke, alis matanya berkerut.
"menurutku ini ada hubungannya dengan rasa aman," jelas Hinata waspada. "beberpa anak menggunakan selimut. Molly menggunakan rambutku."
Sasuke mandekat. "sepertinya dia akan menjambak lepas rambutmu." Ujar Sasuke, seraya mengulurkan tangan untuk merenggangkan genggaman molly.
Sejenak tergoda wangi aftershave Sasuke. Hinata menatap lekuk bibir sensual pria itu. Hinata penasaran seperti apa rasanya dicium Sasuke. Rasa hangat mengalir deras dalam dirinya. Hati kecilnya mengatakan Sasuke adalah pecinta yang hebat.
Hinata meringis dan menggeleng. "biarkan saja dia bermain-main dengan rambutku. Aku juga tidak terlalu suka denga rambutku." Kata Hinata sambil terkikik. "dia boleh memanfaatkannya."
Sasuke menarik kembli tangannya sambil mengerutkan dahi. "sepertinya dia selalu menangis setiap kali aku mendekat."
Hinata menggigit bibirnya. Sasuke benar. "mungkin kebetulan kau muncul pada jam-jam dia harus mengais."
"setiap pagi dan malam?" tanya Sasuke pesimis.
"dia mungkin perlu waktu berduaan saja denganmu. Mungkin kau bisa membacakan cerita kepadanya setiap malam."
Seandainya Hinata tidak tahu sebenarnya, ia mungkin mengira telah melihat ekspresi ketakutan di mata Sasuke. Itu tidak mungkin, pikir pula, molly itu putri Sasuke.
"mungkin", sahut Sasuke mempertimbangkan, tambah ekspresi "mungkin harus menghadiri acara amal malam ini. giliranku menjadi wakil resmi keluarga Uchiha."
Masih menjerit, molly mengengam erat rambut Hinata.
"tidak apa-apa,"bujuk Hinata
"kau akan baik-baik saja." Hinata memndang lagi kearah Sasuke.
"apa kau keberatan menjadi wakil resmi keluarga Uchiha?" tanya Hinata.
"tergantung acara dan teman wanitanya?". Hinata menganguk,
"ah" kata Hinata, saat merasakan binar penuh janji sensual di mata Sasuke. Hinata penasaran seperti apa wanita yang di ajak Sasuke malam ini!
"kau pasti kesulitan memilih 'hidangan hari ini'. seingatku, aku belum pernah bertemu dengan wanita yang tidak menyukai es krim, jadi kau ibarat hidangan penutup dengan paduan rasa yang sempurna", kata Hinata.
"dan perpaduan itu adalah kekayan dan...".Hinata mengeleng
"sebenarnya aku tidak berpikir kekayan. aku sedang membayangkan es krim dengan topping pilihan, sesuatu yang panas", Ralat Hinata.
"saus coklat panas". Ungkap Hinata.
Ketika Sasuke memandangnya cukup lama,
Hinata tersipu"bagaimana kalau kita lupakan saja perkatanku itu?",
"melupakan kalau kau baru saja mengibaratkanku seperti es krim dengan saus coklat panas?"tanya Sasuke.
"eh, yeah" ujar Hinata penuh harap.
Sasuke mengeleng sambil terkekeh, "tidak, aku yakin akan mengingatnya untuk waktu yang lama?" ujar Sasuke sembari tersenyum jail. Hinata serasa di telan bumi setela Sasuke mengatakan itu.
