Chapter 2
Harry Potter merasa tahun kelimanya di Hogwarts akan menjadi tahun yang sama sekali tidak membahagiakan.
Ayolah, dia bahkan bisa 'membaca pertandanya'. Sebulan sebelum tahun ajaran baru dimulai, tak ada angin tak ada hujan, ia dan Dudley diserang dua dementor. Kejadian itu berbuntut dengan terancamnya ia akan dikeluarkan dari Hogwarts karena ia melepaskan Mantra Patronus untuk pertahanan diri. Dan ia harus menghadiri sidang tak menyenangkan hanya karena ia menggunakan tongkat sihirnya demi keselamatannya dan sepupunya – meski ia tahu Dudley tak akan seberterima kasih itu padanya. Ia masih menghitung dirinya beruntung bebas dari vonis. Meskipun demikian, firasatnya tentang tahun yang sama sekali tidak membahagiakan masih menggantung di pikirannya.
Belum lagi tatapan tak ramah dari setengah lebih siswa yang terarah padanya. Sepertinya label 'pembohong, gila, tukang cari perhatian' yang disebarkan dalam artikel di Daily Prophet telah berpindah di atas kepalanya. Ya, pasti begitu. Makanya ia bisa mendengar bisik-bisik bagai dengung lebah marah tertuju padanya ketika ia lewat.
Menggelengkan kepalanya setengah jengkel, ia menyapu pandang ke arah meja guru dari tempatnya duduk di meja Gryffindor, di antara Ron dan Hermione. Didapatinya keganjilan di sana. Sosok raksasa Hagrid absen di sana.
"Dia tidak di sini," ujarnya pelan.
"Huh? Siapa?" Ron ikut menatap meja guru. Tampaknya ia juga menyadari ketidakhadiran Hagrid. "Dia tidak mungkin berhenti, kan?"
"Tentu saja tidak," sahut Harry cepat.
"Kau tidak berpikir dia... terluka... atau sesuatu, kan?" tanya Hermione cemas.
"Tidak," jawab Harry tegas.
"Lalu di mana dia?"
"Mungkin," Harry merendahkan suaranya, sehingga Neville, Parvati, dan Lavender yang berada di dekat mereka tak bisa mendengarnya, "dia masih dalam misi yang diberikan Dumbledore bulan Juni lalu..."
"Yeah... Pasti begitu." Ron tampaknya menerima penjelasan itu, meski Hermione masih tampak tak yakin. Ia menggigit bibir bawahnya dan menatap meja guru lagi, mengernyit.
"Siapa itu?" tanyanya, mengedik pada sosok baru yang sedang berbicara dengan Kepala Sekolah.
Harry dan Ron mengikuti arah pandangan Hermione. Seorang penyihir wanita dengan dandanan ter... eh, terunik, yang pernah Harry lihat duduk di antara para guru. Wajahnya yang seperti kodok dengan mata berkantung itu sama sekali tidak asing. Rambutnya yang keriting sewarna bulu tikus dengan bando pink yang senada dengan kardigan bulu berwarna merah jambu cerah itu sangat dikenalnya.
"Itu si Umbridge!" seru Harry pelan, sementara pintu Aula Depan terbuka ketika Profesor McGonagall membawa masuk anak-anak kelas satu bertampang pucat ketakutan untuk diseleksi.
"Siapa?" tanya Ron.
"Dia ada di sidangku dan dia bekerja untuk Fudge!"
"Kardigannya bagus," seringai Ron. Sama sekali di luar topik.
"Dia bekerja untuk Fudge? Lalu kenapa dia ada di sini?" tanya Hermione heran. "Apa dia jadi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang baru?"
"Mana kutahu..."
"Tapi kursi untuk itu kosong, tuh," ujar Ron, menunjuk kursi tak berpenghuni tepat di antara Dumbledore dan Umbridge.
Hermione sekarang tampak curiga. Jelas ia sedang berpikir serius, sampai mengabaikan seleksi yang dibuka dengan nyanyian si Topi.
Seleksi berlangsung lambat, paling tidak bagi Harry. Meskipun demikian, ia ikut bertepuk tangan bersama yang lainnya jika ada penghuni baru yang bergabung dengan asrama mereka. Dan akhirnya, setelah nama terakhir 'Zeller, Rose' dipanggil dan diputuskan masuk Hufflepuff, seleksi berakhir. Profesor McGonagall membawa keluar si Topi Seleksi dan kursi berkaki-tiganya sebelum duduk di kursinya, dan Profesor Dumbledore berdiri.
Sebelum ia sempat berkata-kata, pintu Aula Depan menjeblak terbuka, membuat semua mata teralih dari Kepala Sekolah. Sesosok jangkung dengan mantel perjalanan hitam bertudung memasuki Aula, langsung menuju meja guru melewati ruang antara meja Gryffindor dan Ravenclaw. Langkah si sosok asing tegap dan ringan. Meskipun demikian suara sepatu combat boot-nya yang berkilat menghantam lantai pualam seakan membius. Hanya Albus Dumbledore yang tampak tenang. Ia berdiri dan menyambut si sosok asing dengan wajah riang. Harry melihat Dumbledore menjabat tangan si sosok asing dan mempersilakannya duduk di kursi kosong di sebelahnya. Sosok itu masih belum menurunkan tudung yang menyembunyikan wajahnya.
"Untuk para pendatang baru, selamat datang!" sapa Dumbledore ramah, matanya berkilau dan tangannya terentang seakan merangkul mereka semua, "dan untuk murid lama, selamat datang kembali. Ada waktu untuk pidato, tapi itu untuk nanti. Sekarang, ayo mulai pestanya!"
Piring-piring emas di keempat meja dan juga di meja guru terisi secara ajaib dengan berbagai macam sajian. Anak-anak langsung dengan gembira mulai memenuhi piring makan mereka. Tapi Harry mendapati Hermione mengambil ayam panggang sambil menatap meja guru. Tak salah lagi pada si pendatang baru yang sedang berbicara dengan Kepala Sekolah.
"Siapa ya, dia?" tanya Hermione penasaran.
"Kiva an tafu afa dafuna," jawab Ron dengan mulut penuh.
Ini sukses membuat Hermione melempar pandangan jijik namun cukup anggun ketika bertanya, "Maaf?"
Harry menyeringai melihat awal kuliah kilat soal etika makan dan minum Hermione dan mulai mengisi piringnya dengan iga bakar.
Yah, nanti juga Kepala Sekolah akan memperkenalkan guru baru itu pada mereka
Beberapa minggu sebelumnya.
Yuu Kanda sedang berada dalam kondisi emosional sangat tidak baik. Memang, hampir setiap waktu mood-nya buruk, tapi kali ini lebih parah dari biasanya. Sebabnya adalah misi baru yang diberikan Komui Lee padanya. Ya. Misi menjadi guru untuk kenalannya di sebuah sekolah sihir.
Guru? Dia?
"Jangan bercanda, Komui," katanya dengan nada dingin mengancam, mendapat kepuasan samar melihat Komui berjengit ngeri.
"Aku tidak bercanda, serius!" ujar Komui buru-buru. Ya ampun, apa dia harus melakukan ini? Memilih Kanda untuk misi yang satu ini, yang ia tahu betul akan ditolaknya mentah-mentah?!
"Tidak mau."
Tuh, kan!
Tapi sebagai Supervisor, demi harga diri – ia menelan ludah ketika dilihatnya mata lawan bicaranya itu menyipit berbahaya - dia harus melakukan ini!
"Ayolah, Kanda," bujuk Komui.
Ya, tugas menjadi guru sekaligus penjaga di Sekolah Sihir Hogwarts, diminta langsung oleh sang Kepala Sekolah, Albus Dumbledore. Beliau telah menjelaskan sebelumnya pada Komui tentang krisis yang akan datang di Dunia Sihir, tentang kebangkitan Sihir Hitam yang diabaikan oleh birokrasi di Kementerian Sihir Inggris. Melihat masalah itu, Komui bisa mengerti kenapa Albus Dumbledore datang ke Black Order dan meminta bantuannya untuk menempatkan salah satu exorcist di sekolah itu. Jika Kementerian Sihir menolak menerima ancaman dan tidak yakin bisa melindungi Hogwarts sendirian, pilihan apa yang dimiliki Dumbledore selain meminta bantuan pihak ketiga?
Lagipula, Komui juga bisa melihat ancaman yang akan dibawa oleh krisis penyihir. Perang yang lain, tragedi yang lain, dan tentu saja, terciptanya banyak akuma yang akan menjadi pekerjaan tambahan untuk para exorcist. Black Order sudah merasakan dampak perang penyihir beberapa dekade lalu, membuat mereka bergerak dalam bayangan untuk memunahkan para akuma. Jika ia bisa menempatkan salah satu exorcist di titik penting di Dunia Sihir, ia bisa membaca alur konflik dan bekerja lebih cepat untuk mencegah ledakan jumlah akuma.
Rencana brilian, bukan?
Sayang, ia tak punya banyak pilihan untuk menempatkan exorcist Black Order di sana.
"Suruh yang lain," kata Kanda setengah menggeram.
Komui menghela napas, "Sungguh, Kanda, kalau aku punya pilihan aku tidak akan menunjukmu untuk tugas ini."
Kanda mengangkat sebelah alis.
"Aku kenal betul watakmu. Menjadikanmu guru?" Komui menggeleng ngeri; sungguh, ia tak mau membayangkan pemuda didepannya mengurusi anak-anak dan mengajari mereka menjadi Kanda-Kanda yang lain. Atau yang lebih parah, menempatkan anak-anak itu dalam trauma. Aw, mengerikan. Ia menelan ludah lagi. "Tapi saat ini hanya kau exorcist yang bisa melakukan tugas ini. Aku tak bisa mengirim salah satu dari para Jenderal, mereka diperlukan penuh di sini. Dan kau bukan Jenderal, yah, belum. Jadi..."
"Kirim si Vampir atau Lena."
"Krory sedang dalam misi-panjang ke Rusia dan aku tidak akan kirim Lenalee ke tempat hormon remaja sama sekali tak bisa dipercaya. Aku juga tidak bisa kirim Allen. Dia terlalu muda. Marie? Orang tua para murid akan menanyakan kredibilitasnya karena kekurangannya itu."
Kanda menahan diri untuk tidak menarik Mugen. "Baka Usagi?"
Komui menggelengkan kepalanya, "Masih perlu tiga minggu agar retak kakinya sembuh dan Kepala Perawat tak mengizinkannya keluar misi sama sekali. Meskipunn dia bisa mengingat banyak hal dengan fotografik memorinya, itu tidak akan cukup."
Si keparat yang beruntung. Kanda mendengus, menyarankan satu nama lagi dengan setengah hati, "Lotto?"
Komui menahan diri untuk tidak tertawa, "Kau serius menyarankan Miranda?"
Kanda menggeratakkan giginya. Benar juga. Perempuan itu akan pingsan saking gugupnya begitu menghadapi murid-murid.
"Pokoknya aku tidak mau."
"Er... kau mungkin mau memberikan jawaban lain?"
"Fu*king, no."
Keringat dingin mulai membanjiri belakang punggung Komui. Dalam hati ia menangisi takdir mengerikannya untuk menghadapi mata Kanda yang sudah mencapai level kegarangan tinggi. Menguatkan mental dan batin, ia bicara lagi, kali ini dengan segenap kewibawaan yang bisa dikumpulkannya.
"Aku saat ini hanya punya kau untuk misi ini, Kanda –"
"Kalau begitu kau saja yang pergi," potong Kanda jengkel.
"Aku punya pekerjaan di sini." Kanda mendengus. "Y-yah, Central tidak akan senang kalau aku meninggalkan kastil ini, kau tahu itu!" Komui berdeham. "Yang jelas, aku serius mengatakan hanya kau yang bisa pergi. Jangan sarankan para Finder," ujar Komui segera, melihat Kanda mau memprotes lagi. "Hanya mereka yang bisa sihir yang bisa masuk Hogwarts."
"Sihir itu omong kosong," gerutunya. "Memangnya aku bisa sihir?"
"Tapi kau punya Innocence. Secara teknis, Innocence memiliki frekuensi energi yang mirip dengan sihir, tapi lebih murni. Para exorcist menggunakan energi spiritual ini dengan cara yang berbeda. Kau tahu, energi ini membuat kalian bergerak lebih gesit, kekuatan lebih baik, dan segala macam. Karena energi itu sudah memilih bentuk pelepasannya, kalian tidak akan menggunakan tongkat sihir. Kau akan masuk ke sekolah sihir ini sebagai penyihir-tanpa-tongkat. Kau tidak perlu menunjukkan bagaimana kau melakukan 'sihir'. Tinggal katakan saja kalau 'sihirmu' hanya bisa digunakan untuk pertempuran. Aku juga sudah menyiapkan kamuflase untuk itu. Selain Kepala Sekolah dan beberapa staf yang bergabung dengan gerakan anti-Sihir Hitam, tidak ada yang tahu tentang Black Order, soalnya."
Komui menyodorkan setumpuk berkas ke arahnya dengan takut-takut. Kanda mengernyit menatap berkas yang teronggok di atas meja sang Supervisor yang berantakan itu.
"Ini hal-hal yang akan kau perlukan untuk berada di Hogwarts sebagai guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Aku juga sudah menyusun rencana pembelajaran untukmu, sesuai dengan silabus Hogwarts, karena aku tahu kau bakal kesulitan untuk membuatnya. Kau hanya tinggal mempelajarinya dan melakukannya sesuai dengan yang sudah disusun."
Geez. Komui bahkan sudah menyiapkan segalanya. Sepertinya ia tidak punya celah untuk menolak.
"Baik. Akan kulakukan."
Wajah Komui langsung terangkat padanya dengan ekspresi seakan bebas dari perangkap api. Ia setengah menyesal melihat senyum menggelikan si Supervisor berikut mata berkilauan bak anak kecil yang mendapat hadiah Natal.
Pemandangan yang luar biasa menjijikkan.
"Tapi," tambahnya dengan ancaman yang kentara, ditambah ia mendekatkan wajahnya yang di-setting dalam 'mode iblis' ke Komui yang mencicit, "jika sampai ada yang tidak beres, aku akan menggantungmu terbalik di menara kastil ini selama sembilan puluh jam. Mengerti?"
Komui mengangguk segera.
"Bagus."
Mengambil berkas yang telah disiapkan untuknya dan keluar dari kantor Supervisor. Ia masih merasakan kepuasan liar melihat Komui Lee berubah pucat kehijauan sampai nyaris terjungkal dari kursinya.
Berjalan kembali ke kamarnya, Kanda mengernyit tak suka pada tumpukan berkas di tangan kanannya.
Betapa ia ingin menebas semuanya dengan Mugen di tangan kirinya.
Setelahnya, dimulailah hari-hari persiapan yang menjengkelkan.
