Sinar matahari yang merambat dari celah-celah jendela yang sedikit terbuka membuat sesosok wanita mungil dengan pakaian serba putih khas rumah sakit sedikit terusik. Gorden yang bergerak-gerak menjuntai dari jendela karena terbawa angin pagi menampakkan bayang-bayang diwajahnya. Sebuah bunyi alat pendeteksi jantung bergerak teratur, menandakan keberadaan sesosok manusia disana. Langit pagi dengan hiasan merah jingga yang sudah mulai memudar hampir digantikan oleh langit biru, mengantar matahari untuk terbit seperti biasanya.
Sebuah gerakan ringan dari sesosok wanita berbaju putih menghantarkannya kembali kealam sadar. Tangan-tangan lentiknya bergerak-gerak kecil diatas ranjang yang beralas sprei tanpa motif—ciri khas rumah sakit sekali— Mata wanita tersebut terbuka perlahan, mencoba untuk beradaptasi dengan cahaya-cahaya yang mulai masuk kedalam retina matanya. Pandangan yang sempat mengabur tahap demi tahap mulai berjalan sebagaimana mestinya. Nuansa putih menjadi hal yang pertama kali ia jumpai, selebihnya hanya sebuah benda-benda yang menunjukkan bahwa wanita ini barusaja terbangun di kamar sebuah rumah sakit.
Dengan kesadaran yang hampir penuh, wanita itu memutar balik memorinya. Mencari jawaban akan hal yang membuatnya bisa terbaring disini dengan sebuah pakaian rumah sakit yang melekat ditubuhnya. Apa ia barusaja mengalami suatu hal yang mengerikan?
Otaknya kembali berproses, bagaimanapun ia harus tau apa yang menyebabkannya hingga bisa terbangun disebuah penjara manusia berkedok rumah sakit. Sampai suatu serangan mendadak dikepalanya membuatnya harus berhenti untuk berfikir. Serangan itu semakin menjadi-jadi, kepalanya memberat tanpa alasan. Ingin rasanya wanita itu berteriak sekencang-kencangnya, melampiaskan betapa sakitnya sakit dikepalanya.
Hingga sebuah bunyi pintu terbuka membuatnya sedikit menoleh. Tidak ada hal yang terjadi didetik berikutnya, hanya ada sesosok pria paruh baya yang terkejut dengan apa yang ia lihat dan sesosok wanita yang menahan sakit dikepalanya.
Wanita itu meringis, "S-sakit… tolong…"
"K-kau sudah sadar?"
Tidak bisa dipungkiri, ada sebuah raut bahagia diwajah pria paruh baya tersebut.
.
.
.
.
BABY
By : Spcy61
Chast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Etc.
Genre : Romance. Drama.
Rate : M
Warning! GS for Uke! Typo's dimana-mana. Bahasa Berantakan!
Cetak Miring untuk Adegan Flasback!
.
.
.
.
.
Chapter 1
Baekhyun seperti akan menghadiri suatu persidangan saja.
Sebagaimana Tuan Byun yang bergelar sebagai saksi. Pria gila—Baekhyun memutuskan memanggilnya 'pria gila'—yang bergelar sebagai tersangka. Dirinya yang bergelar sebagai korban. Dan Keluarga Byun yang bergelar sebagai kuasa hukum. Tinggalah mereka menunggu hukuman apa yang akan dijatuhkan untuk sang tersangka.
Dan Baekhyun berharap itu adalah hukuman mati.
Dikelilingi oleh seluruh anggota Keluarga Byun yang menatapnya penuh aura gelap membuat nyali Baekhyun menciut. Baekhyun bahkan tidak berani melihat Tuan Byun yang sudah duduk tenang disalah satu sudut sofa. Ia memang terlihat tenang, tapi yakinlah satu kata kau berucap salah dan membuatnya marah, maka jangan harap kau bisa bernafas hingga besok.
Baekhyun meremas-remas tangannya yang mulai berkeringat—Baekhyun memang selalu melakukan hal itu setiap merasa gugup—Disamping kanan kirinya ada Halmoni dan Nyonya Byun yang sama-sama memasang wajah ganas, persis seperti Macan yang sedang mengincar buruannya. Dan juga Oppa dan Haraboejinya yang terus menatap sesosok pria bertubuh tinggi yang dengan kurang ajarnya balik menatap Oppa dan Haraboejinya.
Baekhyun tidak tau kesalahan apa yang ia perbuat dahulu sehingga Tuhan memberikan cobaan melalui cara yang unik seperti ini; Mendatangkan seorang pria gila didepan pintu rumahnya. Baekhyun rasanya ingin mengangkat kedua tangannya—pertanda ia menyerah— Dan pria itu sepertinya memang pria gila yang tidak punya otak. Sudah cukup ia memperkenalkan dirinya didepan Tuan Byun dengan kalimat kurang ajar miliknya. Tapi pria itu malah kembali memperkenalkan dirinya didepan keluarga Byun dengan sebuah kalimat yang jauh lebih parah dari sebelumnya.
"Selamat siang, Saya Park Chanyeol, Saya sudah menghamili Baekhyun, kami bahkan sering bercinta setiap saat."
Baekhyun bahkan masih dapat mengingat dengan baik kalimat yang pria gila itu lontarkan didepan seluruh anggota Keluarga Byun lima menit lalu. Jika boleh jujur, Baekhyun sudah bersiap menendang mulut pria tersebut setelah mengucapkan kalimat itu. Ia merasa benar-benar muak dengan permainan yang pria gila itu mainkan. Jika pria gila itu ingin bermain-main, Keluarga Byun bukan tempatnya. Pria gila itu salah memilih tempat.
"Kau berbicara apa tadi, Nak?" Nyonya Byun angkat bicara. Memecah keheningan yang sempat terjadi diruang tengah bernuansa putih itu. Ia dapat mendengar dengan jelas Pria bernama Park Chanyeol tersebut mengatakan sesuatu yang membuatnya shock. Tapi Nyonya Byun hanya ingin memastikan saja bahwa ia tidak salah dengar. Faktor umur terkadang membuat kinerja pendengarannya sedikit berkurang.
"Saya—"
"Bisa kau pergi sekarang!" Baekhyun berdiri dari duduknya. Persetan dengan sopan santun yang melarangnya untuk tidak boleh memotong pembicaraan seseorang. Pria gila itu juga sempat memotong pembicaraannya. Yang ada di otaknya sekarang adalah mengusir pria gila itu sesegera mungkin dari rumahnya. Bukankah sudah Baekhyun bilang, ia benar-benar sudah muak dengan permainan pria gila itu.
Chanyeol hanya memandang Baekhyun sejenak. Tidak berniat sedikitpun untuk bergerak dari posisi duduknya sekarang. Chanyeol lebih terkesan mengacuhkan perkataaan wanita berbadan mungil itu untuknya. Boro-boro angkat kaki dari rumah keluarga Byun, mengangkat bokongnya dari sofa saja ia tidak berminat sama sekali. Baekhyun geram melihatnya.
"Tolong hentikan main-mainnya. Jika kau ingin bermain-main tolong jangan dikeluargaku!" Baekhyun tersulut emosi.
"Aku tidak bermain-main. Aku hanya ingin bertanggung jawab dan merawat anak kita bersama-sama, Apa itu salah?"
"Kau salah! Karena aku tidak sedang hamil apalagi sampai mengandung anakmu! Aku bahkan tidak mengenalmu!"
"Apa tujuanmu datang kesini?" suara beribawa milik Tuan Byun lagi-lagi menginterupsi perdebatan kedua insan berbeda jenis kelamin tersebut. Dimana sang wanita yang sudah kepalang emosi, berbeda terbalik dengan sang pria yang masih duduk tenang disofa ruang tamu milik keluarga Byun. Tuan Byun melirik anak bungsunya. Seperti ada perintah yang tak kasat mata Baekhyun kembali duduk. Walau kemarahannya belum reda sepenuhnya setidaknya ada sang Appa yang akan membelanya dan mengusir pria gila itu pikirnya.
"Seperti yang saya bilang, saya ingin bertanggung jawab." Chanyeol berkata dengan tenang. Tidak ada rasa takut dan ragu sedikitpun didalam dirinya. Bagi Chanyeol menyelesaikan ini dengan segera adalah yang terpenting baginya.
"Pria brengsek! Kau bertanggung jawab setelah sudah menghamili anakku!" Tuan Byun mengencangkan rahangnya. Tidak dipungkiri Tuan Byun terlihat marah sekarang, matanya mendelik tajam menatap pria asing yang baru saja berbicara padanya.
Baekhyun tersenyum sinis. Ia yakin pria gila itu sedang menahan ketakutannya sekarang, dan sedikit lagi pria itu pasti akan segera mengakui bahwa ia berbohong saat mengatakan telah menghamili Baekhyun. Lihat saja.
"Yang saya tau tidak akan ada pria brengsek yang mau bertanggung jawab setelah menghamili seseorang." Chanyeol menyeringai. Seperti ada kepuasan tersendiri bagi dirinya setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Tuan Byun berdecih,
Baekhyun mendelik,
"Kau benar," Tuan Byun menghela nafasnya. "Lalu kapan kau akan menikahi putriku?"
"APPA!" Baekhyun melotot. Terkejut dengan reaksi sang Appa yang diluar dari ekspetasinya. Ada sedikit rasa kecewa karena Appanya yang langsung menanyakan tanggal pernikahan, tanpa tau terlebih dahulu apa benar putri satu-satunya ini tengah mengandung. "Appa aku bersumpah aku tidak hamil! Mengapa kalian semua tidak mempercayaiku?" Baekhyun menatap Tuan Byun penuh emosi.
Tuan Byun memijat pelipisnya, pusing dengan semua hal yang menimpa keluarganya ini. "Baiklah, tidak ada cara lain untuk membuktikan Baekhyun hamil atau tidak, kita akan mengeceknya." Tandas Tuan Byun.
Baekhyun tersenyum sinis, "Aku setuju."
Lalu dengan mata bulan sabit miliknya Baekhyun menatap Chanyeol tajam. Lihat saja, seberapa bisa kau mempertahankan wajah datar dan sikap tenangmu, Park Chanyeol.
Seperti tau apa yang Baekhyun sampaikan lewat matanya, Chanyeol menyeringai. "Tentu. Saya setuju."
.
.
.
Sebuah mobil Lamborghini Venano mahal buatan Italia memasuki sebuah mansion bertingkat mewah. Seorang pria turun dari mobil tersebut setelah selesai memarkirkan mobilnya berjejer dengan koleksi mobil mewah lainnya. Pria itu berjalan santai memasuki mansion mewah miliknya. Dilihat dari seluruh koleksi mobilnya dan juga mansion miliknya tentu pria itu bukan orang sembarangan. Mansion bergaya eropa itu cukup membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum. Mansion itu bahkan sangat luas, kira-kira bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan hektar. Dan juga terdapat sebuah taman yang menghiasi halaman Mansion itu. Dengan Mansion yang sangat mewah jelas fasilitas yang terdapat didalamnya juga akan luar biasa mewah.
Akan ada banyak kamar dirumah besar itu jika kalian memasukinya lebih dalam. Bahkan jika kalian ingin repot-repot menjelajahi isi Mansion itu, mungkin kalian akan bertemu beribu-ribu fasilitas yang tersedia didalamnya. Seperti kolam berenang yang super besar, tempat gym pribadi, hingga tempat bermain golf dengan lapangan hijau yang sangat luas tersedia disana. Tetapi seberapa mewah rumah tersebut, jika terlihat tidak berpenghuni tetap saja akan terasa kurang. Untuk apa sebuah Mansion mewah jika hanya ada beberapa pelayan rumah yang menghuninya. Sedangkan sang pemilik aslinya sedang berada diluar.
Wanita yang sudah berusia setengah abad berjalan tergopoh-gopoh menghampiri seorang Pria yang baru saja memasuki Mansion dengan wajah lelahnya. Dengan telaten wanita berseragam pelayan tersebut membawakan tas yang berisikan tumpukan pekerjaan sang majikan. Tidak lupa memberitahukan sebuah pesan yang seseorang sampaikan kepadanya.
"Maaf Tuan, Nyonya Yoora telah menunggu diruang kerja anda sejak dua jam lalu."
"Baiklah, terimakasih informasinya Bibi Jung."
"Sama-sama, saya permisi dulu Tuan Chanyeol."
Dengan langkah pasti Chanyeol menaiki undakan tangga yang akan menghantarkannya keruang kerja miliknya. Ruang kerjanya memang berada dilantai atas, tepat berada di samping kamarnya. Ruang kerja yang berukuran tiga kali empat meter tersebut memang tersambung dengan kamar pribadinya. Chanyeol membuatnya agar ia tidak harus repot-repot jika nanti ia harus mondar-mandir karena suatu hal. Jadi tidak heran jika Chanyeol sedikit tidak suka dengan sikap lancang Noonanya yang memasuki ruang kerja miliknya semaunya. Bukan tidak mungkin ia akan memasuki kamar pribadinya jika dilihat dari sifat Semaunya sang Noona. Demi Tuhan Chanyeol tidak suka jika sesuatu hal yang menyangkut privasinya terusik.
Entah bagaimana bisa sang Noona memasuki ruang kerjanya yang terkunci. Dari dulu seharusnya Chanyeol tau tentang Noonanya yang licik mengenai 'kunci-mengunci'. Dan terbukti sekarang, ruang kerja miliknya berhasil Noonanya masuki.
Chanyeol menghentikan langkahnya saat dirasa ia sudah sampai didepan pintu ruang kerjanya. Chanyeol mendorong pintu tersebut dengan cepat. Sebuah pintu minimalis dengan warna coklat muda terbuka akibat sebuah dorongan. Membuat adanya sedikit celah untuk siapa saja agar bisa masuk kesana. Tanpa menunggu lama, Chanyeol masih dengan seragam lengkap kerjanya memasuki ruangan tersebut.
Terdapat berbagai macam buku dengan rak-rak berwarna silver yang berjejer rapi dibelakang sebuah meja kerja. Sofa-sofa berwarna putih diletakkan sedemikian rupa disetiap sisi-sisi ruang kerjanya. Jendela disamping ruang kerjanya menampilkan sebuah lapangan hijau miliknya. Posisi meja kerja yang menghadap pintu membuat Chanyeol dapat melihat seorang wanita berambut coklat sebahu sedang membaca sebuah buku di kursi duduk di meja kerjanya.
"Sejak kapan seorang Park Yoora menjadi sangat begitu lancang? Tuan Park bahkan tidak mengajarkanmu untuk memasuki ruang kerja milik orang lain dengan semaunya." Chanyeol menghampiri wanita bermarga yang sama dengannya itu dengan sedikit angkuh. Wanita bernama Yoora itu sedikit terkejut, terlihat sekali ia tidak mengetahui Chanyeol telah pulang. Tetapi selanjutnya wajah terkejutnya terganti dengan senyum manis.
"Uhh, kau sudah pulang?" Yoora menaruh buku yang baru saja dibacanya keatas meja. Ia mendorong sedikit kursi yang didudukinya kebelakang, membuatnya bisa dengan mudah bangun dari duduknya. Dengan langkah pelan Yoora menghampiri Chanyeol yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk tadi. Tubuh sempurnanya bersender dibagian depan meja kerja Chanyeol. Tangannya sudah ia dekap dibawah dada. Pose yang tidak kalah angkuhnya dengan lawan bicaranya itu.
"Ada urusan apa kau datang kesini?" Sahut Chanyeol langsung.
"Hei, sejak kapan adikku menjadi sangat tidak sopan? Aku ini 3 tahun lebih tua darimu. Panggil aku Noona!" Titah Yoora. Wajah angkuh—yang dibuat-buat—miliknya persis seperti ratu jahat yang sedang menyuruh-nyuruh pengawalnya, atau kalau tidak menurut pengawal itu akan berubah menjadi seekor katak. Perumpamaan yang bagus.
Chanyeol memutar bola matanya, "Ada urusan apa Noona datang kesini?"
"Hanya ingin memastikan saja mengenai tadi siang. Apa berjalan lancar?" Tanya Yoora sedikit menaik-naikan alisnya. Tingkah Noonanya ini benar-benar.
"Cukup lancar, walau sedikit ada kendala. Seperti yang Noona prediksikan dia meminta sebuah bukti."
Raut wajah Chanyeol berubah serius, matanya menerawang kedepan. Ada sesuatu hal yang tengah Chanyeol pikirkan. Sesuatu hal yang menggangu pikirannya akhir-akhir ini. Chanyeol memijat pelipisnya, sangat pusing dengan masalah yang menimpanya.
"Itu prediksi yang mudah ditebak. Semua wanita akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi itu." Yoora menyahut. Membuat Chanyeol tersadar akan sang Noona disampingnya.
"Uhh yeah, kau benar." Ucap Chanyeol lesu.
"Jadi kapan kalian akan mengeceknya?"
"Besok sore sepertinya."
"Kuharap hal seperti ini dapat segera berakhir, mungkin ini sebuah hukum karma untukmu Chanyeol," Yoora terkekeh akan perkataannya, membuat Chanyeol mendelik kesal. Tetapi senyuman menggoda yang terpasang diwajah sang Noona membuat Chanyeol sedikit curiga.
"Oh ya, sebuah boneka Rilakkuma sepertinya sangat cocok untuk sebuah hiasan kamar. Aku benar kan?"
Dan benar saja, terkadang umur seseorang tidak menjamin seberapa jahilnya dia.
"Yach, Noona! Jangan pernah sekali lagi memasuki kamarku!"
.
.
.
Butuh sebuah perjuangan besar untuk seorang Byun Baekhyun agar bisa mengikuti kegiatan kuliahnya hari ini. Berbekal wajah 'kasihan' miliknya dan juga mata puppynya yang berkaca-kaca meminta permohonan, akhirnya Baekhyun mendapatkan izin untuk pergi kuliah. Tentu dengan wejangan-wejangan dari Halmoninya agar ia tidak makan disembarang tempat, dan juga tidak lupa mengingatkannya untuk tidak banyak beraktivitas agar tidak mudah lelah. Baekhyun bahkan masih mengingat kata-kata Halmoninya saat ia akan berangkat untuk pergi kuliah.
"Jaga baik-baik kandunganmu Baekhyun! Jangan melakukan hal-hal aneh yang dapat membahayakan kandunganmu!"
Dan Baekhyun akan mengingatkan,
"Halmoni aku tidak hamil!"
Selalu saja seperti itu tidak akan ada yang percaya dengan perkataannya. Semenjak pria gila itu datang kerumah dan mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti sebuah lonceng kematian untuknya, keluarganya seperti baru saja tersihir sebuah mantra layaknya yang terdapat di film-film bergenre fantasy. Keluarga Baekhyun tentu tidak berubah menjadi seekor binatang yang terkena mantra perubah wujud, melainkah sikap keluarganya yang kini terlihat seperti sengaja mengacuhkan perkataannya. Sudah Baekhyun katakan berkali-kali untuk tidak mempercayai ucapan pria gila itu dan mengatakan bahwa ia tidak sedang hamil. Tetapi keluarganya tetap membicarakan kondisi Baekhyun yang seperti sedang berbadan dua saja. Itu membuat Baekhyun kesal.
Bagaimana bisa sesosok malaikat kecil tengah bersemayam dirahimnya. Sedangkan berhubungan badan layaknya sepasang suami-istri saja belum pernah ia lakukan. Sangat tidak mungkin terjadi jika tiba-tiba ada sesuatu yang bernyawa sedang menghuni rahimnya.
Sebuah Universitas bergengsi di Seoul menjadi pemandangan yang terlihat sepanjang mata memandang. Bangunan megah dengan desain arsitik rancangan salah satu arsitek terkenal dunia itu berdiri kokoh dengan tanaman-tanaman hijau yang mengelilinginya. Universitas ini dikelilingi oleh pepohonan yang merupakan tempat terindah jika kalian ingin mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Didalamnya pun tidak kalah menarik. Terdapat sekitar tujuh perpustakaan dengan ribuan buku yang berjejer rapi, sebuah ruang penelitian, ruang kebugaran dan sebuah aula besar, membuat universitas ini terlihat seperti istana impian. Orang-orang yang bersekolah didalamnya 'pun adalah orang-orang yang terpilih. Mereka harus memiliki otak yang cemerlang untuk bisa masuk kesana. Tak jarang semua lulusan Universitas itu akan menjadi orang-orang yang berpengaruh di Seoul. Bukan suatu hal yang mustahil jika para murid lulusan SMA akan memilih Universitas ini sebagai tempat untuk jenjang menuntut Ilmu selanjutnya.
"Baekhyun!"
Langkahnya yang tengah menyusuri kolidor jurusannya terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya. Baekhyun membalikan badannya, mata sipitnya langsung melihat sahabat sejak SMAnya sedang berlari-lari dengan tangan melambai kearahnya. Kemeja Denim dengan celana panjang berbahan kulit terpasang dengan sempurna ditubuh sahabatnya. Sepatu sneakers miliknya beradu dengan kerasnya lantai koridor. Sahabatnya ini memang tidak pernah berubah. Selalu saja terlihat seperti seorang wanita berjiwa pria. Baekhyun rasanya ingin tertawa keras saat sahabatnya itu menabrak salah satu mahasiswa yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Sahabatnya itu lebih terlihat seperti orang mabuk yang sedang berlari jika Baekhyun boleh jujur. Baekhyun akan mengingatkan sahabatnya nanti bahwa ia adalah pelari yang amat sangat buruk.
Sampai seseorang dengan tubuh sama pendeknya memeluk—lebih tepatnya menubruk—tubuhnya dengan kuat. Baekhyun bahkan harus menetralkan degup jantungnya karena terlalu terkejut. "Baekhyun, aku sangat-sangat merindukanmu~"
Baekhyun tersenyum disela-sela keterkejutannya, "Aku juga sangat merindukanmu, Kyungsoo." Kedua manusia berjenis kelamin sama itu semakin memeluk erat. Terlihat seperti Lala dan Poh yang sedang berpelukan ditengah-tengah bukit. Sesekali mereka mengoyangkan pelukan mereka kekanan dan kekiri. Tenang, kalian tidak sedang melihat anak sekolah dasar yang sedang berpelukan kok.
"Uhh, rasanya seperti aku akan mati jika tidak ada kau." Kyungsoo berceloteh.
"Kau berlebihan." Baekhyun mengeratkan pelukannya.
"Aku serius Baek, tidak ada lagi seseorang yang membantuku untuk menjahili Jongin." Baekhyun mendengus, sahabatnya ini selalu saja bersikap layaknya anak-anak. Kyungsoo merengangkan pelukannya, menatap wajah seseorang yang sedang dipeluknya. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik, kau tidak bisa melihat aku yang bertambah manis ini, huh." Baekhyun yang pertama kali melepaskan pelukan mereka. Lalu dengan centilnya Baekhyun mengedipkan salah satu matanya nakal. Jelas Kyungsoo yang melihatnya langsung terserang alergi mendadak.
"Simpan saja segala kenarsisanmu Byun. Yang kulihat kau tambah semakin… berisi. Pertama kalinya aku melihat seseorang yang baru saja sembuh dari sakit segembul dirimu." Kyungsoo tertawa renyah.
Baekhyun mendelik kesal. Matanya segera melihat kebawah, memandang perutnya yang baru saja mendapatkan penghinaan secara tidak langsung. Apa Baekhyun sebesar itu?
"Terus saja kau meledekku."
Kyungsoo nyengir. Baekhyun akan terlihat lucu sekali jika sedang marah. "Oke-oke maafkan aku. Aku juga minta maaf karena kemarin aku tidak sempat mengantarkanmu pulang dari rumah sakit."
"Tidak apa-apa." Baekhyun tersenyum sekilas lalu menundukan kepalanya. Reaksinya itu tentu membuat Kyungsoo heran. Apa ia mengatakan sesuatu yang salah? Apa perkataannya tadi terlalu kasar?
"Kau kenapa?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya. Wajahnya mulai mendongak memperlihatkan senyumnya yang kian lebar. Kyungsoo mendapat firasat yang buruk akan senyum itu. "Aku tidak percaya, aku baru saja memaafkan seorang sahabat yang mengatai sahabatnya sendiri gembul. Lihatlah betapa mulianya hatiku."
Dan benar saja, Kyungsoo segera membuat posture seakan-akan ia ingin muntah. "Bertingkahlah sesukamu, Baek."
.
.
.
Jika dipikir-pikir Baekhyun baru sadar bahwa ia sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri seseorang yang tengah hamil. Yang Baekhyun tau seorang wanita akan mengalami mual, muntah, atau kepala yang sering pusing jika ia sedang hamil. Tapi lihatlah, Baekhyun bahkan sedang memakan Bibimbap miliknya dengan lahap. Tanpa rasa mual, rasa ingin muntah, atau gejala kehamilan lainnya. Baekhyun bukannya berharap ia benar-benar hamil. Ia hanya heran mengapa keluarganya tidak menyadari hal itu. Baekhyun akan tertawa paling keras nanti saat Dokter memberitahukan bahwa ia tidak sedang hamil. Semoga saja keluarganya dapat segera sadar bahwa mereka telah dibohongi oleh pria gila tidak berotak itu.
"Sekarang aku tau penyebab mengapa kau terlihat gembul."
Baekhyun tersadar atas pemikirannya. Matanya segera melirik sinis wanita bermata bulat yang sedang duduk didepannya. Wanita itu terlihat acuh dan lebih memilih menyeruput minuman berperisa miliknya dengan tenang. Setengah jam lalu kelasnya untuk hari ini telah berakhir. Baekhyun cukup kerepotan tentang materi ajarnya yang tertinggal, tetapi bersyukurlah kepada Tuhan yang telah memberikannya otak yang cerdas, sehingga ia tidak perlu repot-repot untuk meminta tambahan kelas kepada dosen pengajar. Jadi disinilah mereka—Baekhyun dan Kyungsso—duduk didepan kedai dengan berlatarkan pinggiran jalan kota Seoul. Ini semua saran Baekhyun yang meminta Kyungsoo untuk mampir terlebih dahulu di kedai bibi Gong sebelum pulang. Kyungsoo hanya meng'iyakannya, karena bagaimanapun mereka sudah lama sekali tidak pergi kesana. Tanpa tau kelicikan seorang Byun Baekhyun yang menggunakan alasan 'ingin kekedai bibi Gong' agar ia tidak cepat-cepat pulang.
"Kau seorang calon Dokter, seharusnya kau tau bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk dalam hal makan-memakan." Kyungsoo menyeletuk—lagi.
"Apa maksudmu?" Baekhyun mengernyit. Telur yang baru saja akan masuk kemulutnya ia taruh kembali. Mulutnya yang sudah siap menyantap makanannya kembali ia tutup.
"Kau tidak bisa melihat," Kyungsoo memandang meja didepannya. Terdapat banyak Dolsot (Mangkuk batu) berjejer dengan beberapa gelas yang sebelumnya berisi penuh jus stroberi. Kyungsoo baru tau nafsu makan sahabatnya bisa sebesar ini. "Kau telah memesan Bibimbap sebanyak tiga porsi, aku jadi semakin yakin didalam perut buncitmu itu terdapat banyak sekali ruang penyimpanan makanan." Celoteh Kyungsoo dengan tangannya yang sudah menunjuk-nunjuk perut rata Baekhyun yang sedikit membuncit. Membuat sang pemilik perut sedikit risih. Pasalnya semua pelanggan dikedai bibi Gong kini tengah melihati perutnya. Dengan sigap Baekhyun menutupi perutnya dengan kedua tangan mungilnya. Membuat pelanggan yang tengah melihati perutnya segera mengalihkan tatapannya.
"Kau pikir apa perutku, sebuah lemari es! Berhenti mengatakan bahwa perutku ini buncit, Kyungsoo! Kau tidak tau sih betapa tersiksanya aku di rumah sakit, terkepung dengan makanan-makanan rumah sakit yang benar-benar tidak memiliki rasa sama sekali!" Sungut Baekhyun, tangannya masih erat memegangi perutnya.
Kyungsoo melirik Baekhyun jengah, "Yeah, yeah Byun Baekhyun si hiperbolis."
"Terserah kau."
.
.
.
Chanyeol nampak serius dengan komputer didepannya. Chanyeol yang menjabat sebagai pemimpin perusahaan itu masih fokus dengan layar komputer tanpa bisa diganggu. Setelan jas berwarna solid navy dengan tatanan rambut hitamnya yang dinaikan keatas membuatnya terlihat—lebih—tampan. Jam tangan rolex yang melingkari pergelangan tangannya juga kian menambah kesan mewah didirinya. Pemimpin salah satu perusahaan terbesar dikorea ini memang selalu menjadi pusat perhatian. Selain wajahnya yang tampan, pesonanya benar-benar tak dapat ditolak. Wajar jika banyak sekali wanita-wanita diluaran sana menginginkannya.
Tok…
Tok…
Tok…
"Masuk!" Ucapnya tanpa mengalihkan fokus dilayar komputernya.
Pintu terbuka dan seorang wanita dengan setelan kemejanya yang modis masuk dengan mendekap pekerjaannya. Itu sekertarisnya yang beberapa menit lalu ia suruh menghadap kepadanya. Wanita yang menjabat sebagai sekertarisnya itu berdiri didepan Chanyeol, membungkuk hormat dan menyerahkan suatu berkas pekerjaan. "Ini laporan yang anda minta sajangnim. Semua berkas yang anda minta sudah saya kumpulkan disini."
"Kemarikan padaku, Yoona-ssi."
Wanita bernama Yoona itu menyerahkan berkas yang berisi laporan pekerjaan kepada sang atasan. Chanyeol menerimanya. Dengan wajah bak atasan kejam Chanyeol memeriksa berkas-berkas laporan itu dengan teliti. Sedangkan sang bawahan mencoba berdoa agar tidak ada kesalahan fatal yang terjadi mengenai laporannya.
Sampai sebuah senyuman timbul diwajah Chanyeol, "Kau bekerja dengan baik Yoona-ssi, aku bangga padamu."
Wanita berstatus sekretarisnya itu bernafas lega, setidaknya tidak ada pekerjaan ulang yang akan membuatnya lembur nanti malam. "Terimakasih, sajangnim. Saya permisi."
Yoona kembali membungkuk hormat dan membalikan badannya untuk segera keluar dari ruang kerja atasannya. Tangannya hampir memegang kenop pintu saat suara berat atasannya kembali menggema diruangan yang sangat besar itu.
"Yoona-ssi..." suara berat itu terdengar.
"Ada apa sajangnim?"
Yoona kembali menatap sang atasan. Atasannya itu kini sedang memijat-mijat pelipisnya, rambutnya yang sudah tersisir rapi terlihat sedikit berantakan. Membuat pikiran sekertarisnya itu berkelana entah kemana?
'Apa ada yang salah dengan laporannya?'
"Bi-bisakah… kau membelikanku Jjamppong." Cicit Chanyeol.
Demi tuhan Chanyeol malu sekarang! Berbicara dengan nada seperti itu didepan sekertarisnya. Entah apa yang akan Noonanya katakan jika melihat adik satu-satunya berbicara seperti itu didepan sekertarisnya sendiri. Dimana sisi angkuhmu Park Chanyeol.
"Huh. Apa?" Yoona menatap atasannya bingung. Ia benar-benar tidak mendengar apa yang atasannya ucapkan omong-omong. Yoona semakin bertambah bingung saat atasannya kini malah mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Dengan rambut yang sudah tidak beraturan Chanyeol menatap sekertarisnya. Chanyeol merutuki mulutnya yang tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
'Kau hanya meminta tolong Park! turunkan sedikit gengsimu!' batin Chanyeol berteriak.
Chanyeol menghela nafasnya, "Jjamppong. Bisa kau membelikanku Jjamppong?"
"Jjamppong? Bukankah itu masakan pedas? Setahuku sajangnim tidak menyukai masakan pedas." Sekertarisnya itu mengernyit bingung akan selera atasannya yang berubah. Setahunya atasannya itu benar-benar tidak menyukai pedas.
"Entahlah, tiba-tiba aku menginginkannya. Bisa kau membelikannya, Yoona-ssi?"
"Tentu sajangnim, saya akan membelikannya, saya permisi."
Yoona lagi-lagi kembali membungkuk hormat, matanya menatap sekilas atasannya itu lalu tersenyum simpul.
Bunyi suara pintu tertutup membuat Chanyeol kembali fokus dengan Komputer didepannya. Sebuah janji membuatnya harus cepat-cepat menyelesaikan tugas kantornya sebelum langit mulai menggelap. Ruang kerja yang terbilang sangat besar itu tampak sunyi. Hanya terdengar bunyi suara jari-jari tangan yang sedang asik menari-nari diatas keyboard. Sampai sebuah gejolak diperutnya membuat tangan yang sedang asik mengetik refleks membekap mulut. Sebuah dorongan dimulutnya membuatnya mual, tiba-tiba rasa pusing mendera kepalanya.
"Hoeekk…"
Dengan sisa-sisa tenaganya Chanyeol berlari kearah kamar mandi. Menghampiri sebuah wastafel dan memuntahkan semua isi perutnya disana. Tetapi hanya ada sebuah cairan putih yang keluar, sedangkan rasa mual masih terus mendominasi. Tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan kuat, mencoba membuat rasa mual itu hilang. Tetapi tetap saja rasa mualnya yang begitu besar membuatnya harus memuntahkan kembali semua isi perutnya.
"Hoeekk… Hoeekk…"
Chanyeol mengerang. Sejak beberapa hari ini Chanyeol selalu muntah-muntah dipagi hari, lalu disore hari. Wajahnya 'pun kerap terlihat pucat dan pusing yang datang secara mendadak. Chanyeol tidak tau apa yang sedang terjadi padanya. Ia selalu berfikir mungkin itu efek dari pola makannya yang tidak teratur akhir-akhir ini. Karena bagaimanapun belakangan ini Chanyeol lebih sering memakan masakan pedas, yang jika dipikir-pikir akan terasa sangat aneh karena masakan pedas adalah makanan yang tidak disukainya.
Seorang pria albino dengan setelan jas rapi memasuki ruangan kerja milik Chanyeol. Pria itu mengeryit bingung, ia tidak menemukan keberadaan sahabatnya di kursi kebesarannya. Padahal pria itu sudah memikirkan segala macam umpatan yang Chanyeol berikan padanya karena dengan beraninya telah memasuki ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun setelahnya ia mendengar suara kucuran air dari wastafel dan suara muntahan seseorang. Dengan perlahan pria itu mendekati kamar mandi yang menjadi tempat suara itu berasal. Pria itu melebarkan matanya saat telinganya mendegar bunyi suatu beban berat yang jatuh. Dengan panik ia berlari mendekati kamar mandi, tangan kokohnya segera memegangi handle pintu kamar mandi lalu mendorongnya kuat.
Pria itu semakin melebarkan matanya,
"Astaga Park!"
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
A/N :
Maaf banget kalo Chap ini ngebosenin dan tidak sesuai harapan kalian u,u aku udah coba sebaik mungkin buat bikin chap ini biar nggak ngebosenin, namun apalah daya, otakku cuma bisa sampe segini /pundungdipojokan/
Aku juga terharu sama respon kalian di kotak review, nggak nyangka aja fanfic abalku ini ada yang baca hehe. Pokoknya makasih banyak yang udah review, follow, atau mungkin fav fanfic aku :} aku cinta kaliaaaaaan~ /bikinlovesign/
Btw aku 00Line, masih dibawah umur nihh:v jadi kalian bebas mau panggil aku apa. Panggil aku lala, kaka, teteh, mpok, ncing sebebas kalian lah :D manggil aku istrinya bang cahyo juga nggak apaapa:v
Daaaaaan~ ada yang udah bisa nebak belum kenapa si ceye ngaku-ngaku ngehamilin Baek? :D kkk~
.
.
Thank's For Review :
cheeref | dhantieee | | fairylatte | Baeks06 | Moku-Chan | Skymoebius | ruixi1 | Chanbaekhunlove | Kim Youngzie | krystaesl | dimpleryeong | beng beng max | phantom.d'esprit | bbkhyn | followbaek | shinlophloph | ARox25 | Bbeemymy | IYou | nam mingyu | KKKimsu614 | Light-B | pcyms7 | LeeEunin | Real ParkHana | Mara997 | ChanHunBaek | | Rmsfxxo | Octa | Guest | chefty | Boku wa Hime | LynaByun | leeminoznurhayati | youngie | fwxing | exindira | rly | CapCipCup KembangMekar | byunpark | MiOS | tarry24792 | Ihfaherdiati395 | cb614 | Elysian Noceur | chan banana | sunshine | .39 | xiuxiumin | meaniemingyuwonwoo17 | chenbanana | CBees | oohme614 | TKsit | | chanbaek16 | Sellin | pinkpurple94 | yehethun | BabyByunie | Byun Yuki | BaekkiPark |
Kecup satusatu :*
Berminat buat Review? *kedipkedipcantik*
#ChanBaekIsReal
Spcy61
