ONE PERSON ONE BLOOD
NEW PRINCE OF TENNIS. FFN CODE. 04

Chara x OC-

PART TWO – EVIL WHISPER.

"Aku tak mengerti kenapa begitu banyak orang yang sangat menyukai kebencian."
—Yukimura Seiichi—

.

.

.


YUKIMURA SEIICHI


Aku terlahir dengan bakat yang luar biasa.

Namaku Yukimura Seiichi, seorang anak SMP yang berposisi sebagai kapten klub Tennis Rikkai. SMP-ku terbilang kelas elit soal olahraga tersebut karena kami selalu menyabet juara tingkat nasional. Namun semua berubah ketika SEIGAKU datang dan mendobrak tahta yang tak pernah berubah itu. Ya, mereka mengalahkan kami, aku kalah oleh seorang bocah SMP kelas 1 bernama Echizen Ryouma.

Aku selalu mengakui kekalahanku, maaf saja aku bukan orang yang munafik jadi tentu saja aku mungkin kalah soal tekad. Tekadku untuk menang tampaknya tidak sebanding dengan anak itu. Bukan, aku salah. Yang membuatku kalah adalah tentang perasaan, perasaanku tentang olahraga Tenis dan bagaimana aku selalu menghadapi olahraga andalanku selama ini. Secara pribadi aku tidak membencinya, namun bukan berarti aku bahagia. Akibat penyakitku yang merepotkan ini aku divonis tak akan bisa bermain tenis lagi. Tentu saja dalam batin aku menolak, aku benci dengan diriku yang terlahir dengan bakat namun membawa sebuah penyakit yang malah membuat bakatku hancur.

"Aku benci, kenapa aku seperti ini?"
"Sudahlah Yukimura, kau tak akan bisa merubah apapun kalau kau terus mengumpat dirimu sendiri." Sahabat baikku, Sanada dengan tatapan datar menyahut pelan.
"Kau memang tahu apa?! Aku sudah berjuang seperti ini dan sekarang aku..., sudah cukup. Apapun yang terjadi Rikkai tidak boleh kalah. Aku tidak boleh kalah. Tidak boleh."

"Yukimura..."

Benar.

Sejak saat itu aku selalu memfotsir diri ini untuk terus menang, aku akan kembali ke lapangan tanpa ada kekurangan apapun. Kujalani rehab yang merepotkan, aku makan teratur, lalu istirahat, kemudian dokter memberiku izin untuk bermain tenis. Orang tuaku sempat menolak tapi aku janji pada mereka akan menjaga diri. Untunglah mereka tidak terlalu banyak komplen dan akhirnya melepaskanku. Aku berterima kasih atas perhatian mereka, tapi sekarang aku ingin memuaskan diriku dulu untuk menyabet kembali piala nasional musim ini.

"Yukimura, kau seharusnya tahu, kau bukan bermain tenis demi membalas kebencianmu pada dirimu sendiri karena kelemahan tubuhmu. Harusnya kau menikmati tennis." Aku seperti ditampar oleh puluhan tangan ketika sahabat baikku sendiri mengatakan hal itu sebelum kami pergi ke U-17. Berkat dukungan rekan satu tim aku mulai berubah, aku ingin lebih menikmati tenis, setidaknya aku bermain tenis karena aku menyukainya bukan ajang untuk membalas dendam dan sebagainya.

Ngomong-ngomong aku ingin sedikit membagi cerita ketika aku pertama kali bertemu dengan seorang gadis unik di rumah sakit, tampaknya dia cukup bersahabat dan hangat. Dia selalu bertemu denganku di atas atap, di tempat duduk panjang dekat jaring pembatas, dia duduk membelakangiku bersama rambut ungu gelap dan sepasang manik berwarna deepgold yang selalu terlihat bahagia.

"Namaku Hisame." Katanya.
"Ah, aku Yukimura Seiichi, aku sepertinya sering sekali melihatmu di sini. Kau sakit?"
"Ya. Penyakit yang cukup merepotkan, untunglah sekolah sedang libur setidaknya aku bisa sedikit berbohong pada teman-temanku." Aku tercekat sebentar.
"Kau dari mana? Maksudku sekolahmu..."
"SEISHUN GAKUEN."

Setelah itu aku banyak mendengar cerita Hisame, bagaimana kehidupannya belakangan ini, masa lalunya yang bisa kukatakan cukup suram, dia tinggal bersama ayah dan adik laki-lakinya. Hisame sebenarnya punya 2 adik, sayangnya adiknya yang satu lagi—adik perempuannya yang paling kecil hilang, dia mengatakan adiknya kabur karena ayah mereka tidak menyukainya lantas di suatu hari di musim hujan, badai datang lalu adiknya menghilang.

"Aku ingin mencarinya, tapi tentu saja itu akan sangat sulit. Mengingat kondisi badanku begini."
"Kau suka main tenis?" tanyaku padanya.
"Ya, sangat suka."
"Jangan pernah berhenti main tenis, karena tenis menghubungkan siapapun di dunia ini meski terpisah ribuan kilometer..aku yakin..kau pasti bisa bertemu dengan adikmu..." Hisame-san tersenyum padaku dan dengan gerakan tangannya yang tak kumengerti dia menyahut , "Itu namanya bahasa isyarat. Aku selalu berkomunikasi seperti itu dengan adikku ketika sembunyi-sembunyi di kamar. itu artinya terima kasih."

Jujur semenjak bertemu Hisame-san aku jadi lebih percaya diri, maksudku, aku lebih serius menjalani rehab, mulai membangun lagi stamina yang sempat hilang, bahkan aku nggak keberatan kalaupun Sanada dan yang lainnya tak bisa menjenguk. Mereka memang sedikit heran dengan perubahan sikapku yang awalnya sangat terobsesi akan sembuh, namun aku belajar dari Hisame-san, bahwa tidak perlu terburu-buru untuk menggapai apa yang ingin kau gapai, proses adalah hal yang harus kau hargai sebelum memetik hasilnya.

Semenjak keluar dari rumah sakit aku jarang sekali bertemu Hisame-san. Mungkin dia sudah kembali ke SEIGAKU. Tapi...
"Hisame meninggal. dia... leukemia."

"Eh..."
"Lusa kita harus datang ke pemakaman, jangan lupa." Aku tahu.. aku tahu kalau Niou pernah bercerita tentang kedekatannya dengan Hisame, Niou sangat menyayangi Hisame dan diam-diam dialah yang selalu datang menjenguk Hisame—dia selalu mencuri-curi kesempatan ketika jam besukku dia juga membesuk Hisame—aku merasa...,
"Niou! Maaf..." aku melihat surai perak itu menatapku maklum, aku tidak bisa menerima tatapan itu.
"Untuk apa minta maaf kapten?" tanyanya.
"Aku..."

"Aku nggak membencimu, waktu tidak bisa diputar balik. Daripada kapten meminta maaf padaku lebih baik kapten berdoa untuk anak itu." Niou melepaskan lengannya perlahan. Kesiur daun diterpa angin menghiasi sore yang nyaris jatuh ke malam, membuatnya semakin suram. Sanada menepuk bahuku, di sana ada Yanagi menunggu lalu memberi kode agar segera kembali ke rumah.

"Fukubuchouu...! Lihat-lihat, aku dapat buku bagus, woahh tentang kutukan. Aku nggak tahu ini hoax atau bukan tapi coba baca deh, di kelasku sedang ramai dibicarakan, ah, aduh aku harus janjian dengan Jackal-senpai dan Marui-senpai. Bawa saja kalau mau dibaca ya Fukubuchou, buchou, Yanagi-senpai aku duluan." Akaya yang tadi tiba-tiba menghambur ke arah Sanada langsung berlalu begitu cepat, huh, dia selalu begitu.

"Apa itu?" tanya Yanagi.
"Kutukan untuk orang yang kau benci." Jawab Sanada.

"Satu orang satu darah. Kau pernah mendengarnya? Ritual untuk mengutuk orang yang dibenci hingga mati. Kau hanya perlu membawa 5 botol berisi darah yang berbeda dan melumurinya di boneka jerami, kau tinggal memaku boneka yang kau bawa dilokasi manapun di batang pohon. Jangan lupakan menulis namanya di boneka itu dengan darahmu. Katanya kalau kau membawa 10 botol darah kau bisa memanggil orang yang sudah mati. Tapi jangan pernah sekalipun kau melanggar satu syarat ini ; kau tidak boleh sampai ketahuan siapapun. kalau ketahuan maka kau akan mati dipaku.

Terdengar mengerikan..., setidaknya aku berharap tidak ada yang akan melakukan hal konyol seperti itu.

"Biasanya ini hanya lelucon yang dikirim oleh anak-anak SMP di chatting gelap." Ujar Yanagi.
"..." Aku terdiam. Tiba-tiba di kepalaku terbisik sesuatu ; "Bagaimana kalau ternyata Niou membenciku, dia pasti tahu soal ini, apa dia bakal mengutukku? Kalau benar begitu aku harus mengutuknya duluan. Hisame-san meninggal bukan karena aku..! bukan karena aku! Bukan salahku...!"

"Yukimura!"

Aku tersentak, Sanada dan Yanagi menatapku ngeri ketika aku mengikuti arah pandang mereka, sebuah cutter tengah tergenggam di dalam tanganku yang kuselipkan di tas sekolah. Kami terdiam. Astaga aku baru saja ingin melakukan hal gila!

"Lebih baik kau istirahat, aku antar kau sampai rumah." Sanada membimbingku lalu meninggalkan sekolah yang sudah lengang. Sementara di rumah aku masih merutuki lantai yang dingin, ibuku sudah memanggil untuk makan malam tapi rasanya begitu berat pergi. Kenapa aku bisa berpikir sebegitu picik soal Niou? Kalaupun mau aku bisa melakukan ritual yang dikatakan oleh buku aneh itu. Tidak, tidak. Dia rekanmu, bagaimana mungkin aku bisa berpikir untuk membunuh anggota tim ku sendiri. Ada yang aneh.

Setelah kejadian itu aku mulai melupakan tentang semuanya, bagaimana perasaan ini mengalir begitu cepat bahkan aku masih sempat memberikan karangan bunga pada Hisame. Setelah pertandingan nasional.

Lalu...,

"U-17. Aku sekamar dengan Shiraishi dan Yukimura nih. Sepertinya menyenangkan."
"Ah benar sekali, apalagi Yukimura-kun senang dengan tanaman juga."
"Ahhh... begitulah.." aku nyaris berteriak histeris, aku tidak menyangka akan sekamar dengan Fuji-kun. Fuji-kun adalah teman masa kecil Hisame-san, dan perasaan akan rasa bersalah akibat meninggalnya Hisame-san masih melekat di lubuk hatiku, aku tak ingin dia mengendusnya secara Fuji-kun orang yang sangat peka. Ternyata dugaanku sedikit melenceng, Fuji-kun tidak pernah menyinggung soal Hisame. Bahkan aku ikut kaget waktu mendengar cerita Shiraishi-kun dan Fuji-kun.

"Akane-chan adik Hisame. Irie-senpai mengatakannya padaku. Dia bercerita panjang lebar setelah aku latihan di court."
"Akane? Gadis kecil yang selalu bersama Irie-senpai?" tanyaku meyakinkan.

"Ya. Tapi aku sampai sekarang belum bisa bicara pada Akane-chan. Dia terlalu takut berinteraksi dengan orang lain."

Setelah itu aku sering memerhatikan gadis mungil berambut bob panjang tersebut, dia memang licin sekali. Aku tak bisa mengajaknya bicara karena Akane sendiri tak mau bertegur sapa dengan kami.
Aku nyaris menyerah hingga terjadi keributan besar di suatu malam.

"NATSUME, KURAHASI NATSUME."

Deg. Deg. Deg...!

Adik Hisame. Adik kedua Hisame ada di sini? Dan Akane terlihat habis dipukul karena pipinya memerah. Natsume. Dia...
"...Fuji..-kun?"

Mata safir indah yang selalu terlihat tenang dan tertutup di balik kelopak matanya kini terbuka, sepasang mata yang... bisa kubilang jahat. Jahat sekali. Aku tahu ini akan terjadi tapi.. ini salah! Benar sekali, malam itu aku sengaja tidak memejamkan mata, aku mendengar derap langkah Fuji-kun dan segera mengikutinya. Meski suhu di luar sangat ekstrim, aku tidak memerdulikannya, aku hanya ingin temanku yang berharga berakhir menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
"Hentikan." Detik itu juga, di bawah pohon yang gelap dan mencekam, aku menemukan Fuji-kun tengah menatapku sinis, mata yang lembut itu tidak lagi terpancar.

"Aku hanya ingin meyakini kalau kau tidak perlu berakhir menjadi seorang pembunuh."
"Benarkah? Maaf saja, aku ingin membunuhnya perlahan."
"FUJI-KUN. Hentikan. Hisame tidak akan senang dengan semua ini!" Fuji-kun membeku, "Hisame-san... entah apa yang terjadi padanya... semua ini, tidak seharusnya kau melakukan hal seperti ini! Sekalipun kau hendak membunuh Natsume-kun, itu tidak akan mengubah apapun! Akane-chan juga. Hisame tidak akan kembali."
"Lalu... apa yang harus kulakukan? Membawa kebencian ini sampai ke liang kuburku?"

"Selesaikanlah dengan Tenis. Kau selalu begitu,kan?" aku menepuk kedua bahunya, aku tak ingin mengubah temanku ataupun aku menjadi seorang monster untuk membunuh. "Yukimura... Arigatou..."

"FUJI-KUN! YUKIMURA-KUN! Natsume, Natsume kritis! Dia dibawa ke rumah sakit, tubuhnya terluka! Dia seperti habis dibakar oleh sesuatu...!" Shiraishi menghampiri kami yang sudah berada di luar pepohonan. Kami terlonjak, kaget, sekaligus tidak percaya. Bagaimana mungkin? Siapa yang melakukannya?

"Bukan! Aku tidak melakukannya!"sergah Fuji-kun.

"Kenapa wajah kalian begitu? Lagian dia hanya keluarga cabang, dia pantas dihukum seperti itu." Sosok berambut panjang yang diikat ala Chonmage(samurai- rambut yang diikat sebagian) menghampiri kami dari semak-semak. Maniknya mengingatkanku akan seseorang.

"Apa maksudnya keluarga cabang?" tanyaku.

"Dia keluarga KURAHASI, salah satu keluarga cabang DAIRENJI. Dia hanya sepupu dari anak kecil yang mengikuti Kanata Irie. Oh, ya perkenalkan namaku SATOSHI DAIRENJI, Keluarga utama. Apa kau mengenal anak di foto ini?"

Dia memerlihatkan anak berambut ungu yang memegang buku, foto yang terkesan diambil secara diam-diam. Anak itu...

"Akane?"

"Ahhh..ya, Akane. Dia penerus keluarga, sayang dia malah kabur. DAIRENJI AKANE. Kau tahu dimana?" menurut firasatku, dia bukanlah orang baik. Kami bertiga terdiam sementara suara sirene dan kegaduhan mulai muncul dari camp. Satu hal yang pasti, kami harus melindungi Akane. Dan mengungkap siapa orang-orang ini dan apa yang sebenarnya terjadi.

...

...

AKANE-CHAN.. SEBENARNYA SIAPA KAMU? DAN HISAME... JUGA NATSUME?

...

TO BE CONTINUED

.

N.O.T.E :

Weei napa jadi begini ceritanya?

maklum, Yuzu ingin masukin bumbu-bumbu

sihir seperti onmyouji, Kalian pasti bingung.

kasih spoiler dulu lah...

intinya Keluarga Kurahasi itu adalah percabangan dari keluarga Dairenji

itu pure OC. Apa hubungannya dengan kutukan? tentu saja hanya Akane yang tahu. Apa itu

Onmyouji? kalau kalian kepo sangat silakan search di mbah gugel.

lanjutannya?

nantikan fict berikutnya.

Masih newbie di fandom orang,

Mind to R^R?