BLOODY DAYS
Characters by Masashi Kishimoto
Story by Tamacchi
Rated M
Dengan posisi terbaring sambil menyamping, Naruto mencoba membuka matanya. Ia harus mencoba beberapa kali sebelum akhirnya berhasil membuka mata dengan sempurna. Dengan tubuh yang sakit karena terkena hempasan ledakan, Naruto mencoba duduk dan memperhatikan keadaan.
Hancur berantakan. Itulah kata-kata yang pertama terlintas di kepalanya. Banyak potongan-potongan tubuh yang berserakan, kebanyakan potongan-potongan tubuh dari Eater yang terkena dampak langsung dari ledakan. Potongan tangan yang berserakan di lantai, potongan kaki yang sebagian menempel di perabotan, kepala yang bertebaran, isi perut yang berhamburan, semua bercampur menjadi satu dan menimbulkan pemandangan yang mengerikan.
Naruto hampir muntah setelah menyaksikan pemandangan mengerikan itu untuk beberapa saat.
Dengan tenaga seadanya dan sesekali menutup mulutnya menggunakan tangan untuk menahan muntah, ia lalu berdiri dan mendekati para survivor yang tak jauh dari tempatnya. Ia periksa mereka satu persatu dengan seksama. Untunglah tak ada yang mati. Mereka semua hanya pingsan karena dampak ledakan yang keras.
Pengecualian untuk pria paruh baya yang tadi hampir menjadi Eater, ia rupanya tergeletak dibawah sebuah lemari dengan setengah badan yang terhimpit dan kepala yang tertancap di kaki meja. Memang, saat Naruto melempar tabung gas, si pria itu berlari ke pinggiran barikade. Ia seperti berharap bahwa ledakan akan bisa mencapainya dan membunuhnya, tapi ternyata, kematian memang datang. Namun dengan cara lain.
Sambil terduduk menyender ke dinding di pojok ruangan, Naruto kemudian menyalakan rokok Karlboro kesukaannya. Sebuah rokok khas Amerika dengan bungkus berwarna merah dan putih. Rokok yang identik dengan koboi dan maskulinitas, atau kiranya, hanya pencitraan yang dilakukan oleh bagian marketing untuk membuat kesan seperti itu.
Dan rupanya, taktik itu cukup berhasil lalu membuat banyak orang untuk membeli produknya. Tapi, hal itu sedikit berbeda dengan Naruto. Ia mengenal rokok itu bukan karena terpesona karena koboinya yang begitu gagah –yang akhirnya mati karena kanker paru-paru, ataupun karena slogan-slogannya yang memprovokasi. Bukan. Ia mengenal rokok itu setelah sebelumnya benar-benar merasakan kekecewaan.
Lewat asap rokok yang menghembus pelan, ia susuri lagi masa lalunya.
Menurutnya, itu adalah hari sabtu paling kelabu yang pernah ia rasa. Kehidupan kelas dua smp-nya pun baru berjalan beberapa bulan saja. Di ambang pintu dapur, ia mencuri-curi pandang ke arah pintu depan rumahnya. Disana berdiri dua orang yang sedang berbincang dengan cukup intens, namun dengan volume yang rendah. Mereka berdua adalah kedua orang tuanya.
Ia melihat ibunya membawa koper besar dan berbicara dengan lirih pada ayahnya. Ayahnya hanya memasang wajah datar dan menanggapi seperlunya. Ayahnya terkesan enggan untuk bercakap-cakap. Sinar redup terlihat di mata ibunya yang berkaca-kaca. Ia tahu, bahwa ibunya takkan ada untuk dirinya seperti sedia kala. Ibu dan ayahnya menyetujui satu hal. Sebuah perceraian.
Naruto bingung harus bersikap seperti apa. Di satu sisi, ia tidak ingin ibunya pergi. Tapi ia merasa, saat ibunya ada pun, ia merasa tak memilikinya. Segala rutinitas sebagai seorang wanita karir menenggelamkan sosok ibunya kedalam dimensi yang begitu jauh berbeda dengannya. Benar-benar workaholic.
Namun, ketika ia melihat ibunya di ambang pintu. Hati kecilnya pun berteriak. Menolak dengan begitu keras kepergian sosok ibu itu dari hidupnya. Meskipun sosok ibunya hanya ada sampai ia berusia lima tahun, dan selanjutnya ia tinggal bersama neneknya. Namun tetap saja, kenangan masa kecil itu takkan bisa hilang dari memorinya.
Hangatnya dekap ibu. Lagu pengantar tidur yang selalu terdengar. Tawa manisnya saat Naruto melakukan kekonyolan. Semua itu terekam jelas di benaknya. Dan kini, ibunya akan pergi. Sudah tentu hidupnya takkan sama lagi.
Dan juga, satu hal yang ibunya tak pernah tahu. Yaitu alasan sebenarnya mengapa perceraian itu bisa terjadi. Yang ibunya tahu selama ini adalah, bahwa ia dan ayahnya bercerai karena kurangnya waktu untuk keluarga karena terlalu sibuk bekerja.
Tapi, alasan sebenarnya, adalah karena ayahnya yang mempunyai perempuan lain selain ibunya. Awalnya ia tak tahu jika wanita itu adalah kekasih ayahnya, ia menganggap bahwa wanita itu adalah sekretaris ayahnya. Karena setahunya, ayahnya adalah orang yang cukup penting di perusahaan, sehingga wajarlah jika mempunyai sekretaris.
Tapi rupanya ia salah, kebenaran itu terungkap lewat hal yang tak terduga. Ia secara tak sengaja mendengar pembicaraan ayahnya dan wanita itu yang begitu mesra. Tapi ia terlambat, tak mungkin ia berbicara ketika keputusan penting itu telah dibuat.
Di malam kepergian ibunya. Naruto pergi ke sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya. Di dekatilah ayunan di taman itu dan didudukinya. Dengan sebuah bir kaleng dan rokok milik ayahnya yang sebelumnya ia ambil, ia lalu meyalakan rokok itu sambil sesekali meminum bir yang ia pegang di tangan kanannya.
Ia berpikir jika minum bir dan merokok bisa melupakan sejenak hal yang ingin dilupakannya. Itu memang benar, namun, satu hal yang pasti, itu hanya sementara. Semua hal yang ingin dilupakan pasti akan kembali jika kita belum benar-benar menerimanya.
Jika kita benar-benar ingin melupakan, kita harus menerima. Setelah kita menerima hal yang ingin kita lupakan, kita pasti bisa melupakan. Atau justru melihatnya dengan sebuah perspektif baru yang sebelumnya tidak pernah terpikir.
Dengan mata sendu dan hisapan rokok yang mulai intens, Naruto menikmati malam yang mulai meninggi.
Kau peluk aku dengan hangat. Malaikat tanpa sayap yang kupanggil Mama. Genggaman tanganmu begitu erat. Begitu nyaman dan juga hangat.
Dan kini, setiap mataku terpejam. Akan ada wajahmu dan semua lullaby masa silam.
XX
Sambil menutup matanya, Naruto merasakan sensasi keras yang ditimbulkan tar menelusup ke dalam rongga paru-parunya. Meredakan sedikit rasa sakit akibat ledakan yang terasa di sekujur tubuhnya, atau itulah yang ia pikirkan.
Tak pernah sedikitpun terbersit dalam pikirannya untuk menjalani kehidupan nomaden seperti ini. Serta bahaya kematian yang mengincar nyawanya setiap saat. Ia selalu berpikir untuk mejalani kehidupan normal seperti kebanyakan orang. Mengalami masa sekolah yang menyenangkan, masa kuliah yang menantang, masa kerja yang menguras tenaga dan... menikah.
Ya, menikah. Hal yang... hampir saja terlaksana.
Ia lalu merasakan kehangatan merasuki dadanya. Kehangatan yang terasa, setiap kali melihat gambaran wanita berambut pirang pucat yang berkelebatan di otaknya. Dan tanpa sadar, ia bergumam dalam hati. Aku rindu padamu.
"Sial!" teriak Shikamaru.
Teriakan itu membuat Naruto segera menoleh. Ia lihat Shikamaru berusaha bangkit dari posisinya yang terbaring namun tak berhasil, ia kembali terbaring.
Ia kesal dengan kondisi badannya yang benar-benar lemas. Bahkan untuk duduk sekalipun ia tak mampu. Ia lalu menengok ke kiri dan kanan.
"Apa ada yang masih hidup?" tanya Shikamaru.
Tak ada jawaban. Namun tak lama, sebatang rokok melayang ke arahnya dan berhenti tepat di sampingnya. Ia menggerakan lehernya dan mencoba melihat ke arah datangnya lemparan itu. Dengan pandangan yang samar-samar ia melihat sosok di pojok ruangan.
"Siapa itu?!" tanya Shikamaru setengah berteriak.
Ia tak boleh mengendorkan sedikit pun kewaspadaannya. Di saat seperti ini, sekali kau lengah, maka kau akan berakhir. Tentu, ia tak ingin berakhir menjadi hidangan penutup dan membuatnya tidak bisa mencapai tujuannya.
Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, ia lalu menggerakkan tangannya dan menjadikannya tumpuan untuk bangkit. Meskipun sedikit bergetar, tangannya akhirnya bisa menumpu ke lantai dan membuat tubuhnya bisa duduk.
"Uzumaki-san, kau kah itu?!" tanya Shikamaru. Ia lalu mengerjap-ngerjapkan matanya yang melihat dengan kurang jelas sambil menggeleng ke kiri dan kanan. Ia sesekali memicingkan mata ke sosok yang tadi melempar itu.
"Ya, ini aku," jawab Naruto serak.
Shikamaru mulai bangkit dan berjalan dengan ringkih ke arah Naruto. Ia pandangi dari kejauhan penampilan Naruto yang kusut dan acak-acakan. Matanya yang terpejam. Hisapan rokoknya yang dalam. Wajah yang begitu tenang –atau mungkin pasrah.
Setelah beberapa langkah, ia kini ada di sebelah Naruto. Dengan sedikit menjatuhkan tubuhnya, ia lalu duduk di samping Naruto.
"Kukira, rokokmu habis?"
Tanpa membuka mata, Naruto menjawab, "Aku menemukannya."
"Beruntung sekali kau bisa menemukan rokok di saat seperti ini. Memangnya, dimana kau menemukannya?" tanya Shikamaru.
"Kantong baju seseorang," singkat Naruto.
Shikamaru terkekeh pelan. Air mata sedikit keluar dari sudut matanya. "Sepertinya, kata 'menemukan' sudah bergeser makna."
"Tak peduli, aku bukan ahli bahasa," singkat Naruto.
Satu per satu survivor yang pingsan mulai terbangun ketika Naruto dan Shikamaru sedang berbincang. Melihat itu, mereka berdua lalu bergegas untuk membantu para survivor -meskipun kondisi mereka berdua juga terlihat harus dibantu.
Diantara para survivor itu, ada yang langsung muntah ketika melihat keadaan yang tidak seharusnya dilihat.
"Jangan lihat sekeliling, fokus saja pada orang-orang yang sedang berkumpul," perintah Shikamaru.
Survivor perempuan itu pun menurut dan tidak melihat ke sekelilingnya. Namun ia tersandung sesuatu dan terjatuh dengan cukup keras. Setelah ia lihat apa yang membuatnya tersandung, ia langsung berteriak sekuat tenaga. "Ahh...!"
Rupanya, benda yang membuat survivor perempuan itu tersandung adalah sebuah kepala Eater. Shikamaru yang melihat itu langsung bergegas memapahnya dan bergerak dengan cepat ke arah kerumunan. Wajah perempuan itu benar-benar pucat dan tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Rasa keterkejutan yang luar biasa, benar-benar telah membungkamnya.
Kini, para survivor mulai berkumpul dan membuat lingkaran. Mereka mulai membicarakan langkah yang akan diambil selanjutnya. Naruto dan Shikamaru menyempil diantara kerumunan itu dan khidmat mendengarkan.
Seorang pria dengan kumis tebal membuka suara, "Aku mendengar desas-desus tentang sebuah tempat penampungan yang aman di kota sebelah."
Pria itu kemudian membetulkan letak ikat pinggangnya yang kurang pas, lalu sedikit membungkuk dan membersihkan celana jeans hitamnya yang sedikit kotor terkena debu. Setelah selesai, ia lalu kembali ke posisinya semula dan memandang ke arah orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Apa anda yakin?" tanya seorang pria berjas dengan ragu. Ia mengerutkan alisnya sambil menopang dagu. Dari pakaiannya, ia terlihat seperti seorang salary-man dengan umur yang ada di kisaran tiga puluh akhir.
"Ya, kita harus benar-benar yakin. Jika tidak, kejadian seperti sekarang, bisa saja terjadi lagi," kata seorang wanita menimpali. Wajahnya menyiratkan ketakutan yang amat sangat. Mungkin ia tak pernah berpikir akan melewati kejadian seperti ini. Kejadian yang sebelumnya hanya bisa dibayangkannya, kini tersaji langsung dihadapannya. Benar-benar sebuah kondisi yang membuat nalarnya jungkir balik.
Si pria dengan kumis tebal menghela nafas panjang. "Seperti yang kukatakan sebelumnya. Itu hanya desas-desus, tak ada jaminan," ia lalu mendekap dirinya sendiri, "lagipula, disini kita sudah tak bisa bertahan. Para Eater sudah mengetahui lokasi ini."
Cahaya mata pria berkumis tebal itu terlihat redup. Ia seperti telah kehilangan hal yang penting dari dirinya –keinginan bertahan hidup.
Perbincangan demi perbincangan untuk menentukan rencana selanjutnya terus bergulir. Kini, para survivor sepakat untuk pergi ke kota sebelah dan berharap disana memang benar-benar ada tempat yang aman.
Rombongan itu berjumlah kurang-lebih lima belas orang. Setelah bersiap-siap, mereka lalu bergegas pergi dari gedung itu dan mencari rute yang paling aman. Seperti yang kita tahu, Eater bukanlah mahluk nokturnal. Ia sama seperti manusia, ia bisa bergerak bebas di siang maupun malam hari tanpa terkena dampak apapun. Ia tak akan terbakar, jika terkena sinar matahari ataupun juga takut oleh bawang putih. Ia bukan vampire –yang sampai sekarang masih diragukan keberadaannya.
Untuk mencegah serangan, rombongan itu lalu mempersenjatai diri mereka dengan barang seadanya yang bisa mereka temukan. Ada yang membawa besi bekas; tabung pemadam kebakaran; serta banyak alat lain yang tersebar di dekat mereka.
Setelah dirasa siap, mereka lalu bergegas meninggalkan ruangan mengerikan itu. Meninggalkan kenangan-kenangan yang akan mereka ingat sampai tua nanti –jika mereka cukup beruntung untuk selamat.
Sebuah lorong yang cukup gelap dan panjang, terhampar di hadapan mereka. Ruangan-ruangan gelap, berada di samping kiri dan kanan lorong itu.
Naruto dan Shikamaru berjalan di barisan depan bersama beberapa orang. Mereka lirik arah kiri dan kanan dengan intens. Sambil sesekali membuka pintu ruangan dan mengeceknya, mereka berjalan dengan ritme yang cukup cepat.
"Kurasa para Eater itu sudah ketakutan terlebih dahulu, " seru seseorang dari arah belakang kemudian diikuti suara tawanya.
"Jangan bicara sembarangan!"tegur orang di sampingnya. "kau bisa membuat kita ketahuan."
"Maaf, aku hanya mencoba membuat diriku berani."
Perbincangan kedua orang itu cukup keras hingga bisa terdengar sampai di hanya bisa memperhatikan kedua orang itu tanpa bisa berkata-kata. Perkataan orang kedua itu ada benarnya. Jika kita terlalu gaduh, bukan tidak mungkin kita akan kembali diincar oleh Eater-Eater itu.
Keheningan kembali melingkupi rombongan itu. Hanya ada helaan nafas dan langkah kaki yang terdengar. Debar jantung setiap orang terasa dua kali lebih cepat setiap kali melewati sebuah ruangan.
Si pria berkumis tebal yang berjalan di depan memberi aba-aba untuk berhenti. Tak jauh di depan mereka, tepat di sebelah kiri, terdengar sedikit suara yang mencurigakan.
Anggota rombongan saling pandang satu sama lain. Dalam pandangan itu penuh keraguan dan ketakutan.
Naruto menggenggam pemukulnya dengan erat. Ia tak tahu kapan mahluk menjijikan itu akan keluar. Kadar kewaspadaannya meningkat, matanya berpindah dari sudut ke sudut.
Si pria berkumis tebal mengajak dua orang untuk menemaninya memeriksa ruangan itu. Mereka berjalan dengan hati-hati dan penuh perhatian. Masing-masing dari mereka memegang senjata untuk melindungi diri.
Setelah beberapa langkah, mereka akhirnya sampai di depan ruangan yang mencurigakan itu. Bukan hanya tiga orang itu yang berdebar-debar, namun, semua anggota rombongan merasakan hal yang sama.
Si pria berkumis tebal memegang gagang pintu dengan tangan kiri dan membukanya dengan hati-hati. Dengan posisi badan menyamping sambil bersender ke pintu, ia kemudian masuk dengan perlahan. Dengan kode matanya, ia memberitahu kedua rekannya untuk mengikuti.
Anggota rombongan yang lain melihat dengan jantung berdebar. Seorang ibu yang berada di tengah rombongan, mendekap putrinya dengan erat. Bayang-bayang mengerikan sebelumnya, berkelebatan dalam pikirannya. Ketakutan-ketakutan akan eater yang mungkin muncul dari balik ruangan itu dan memangsa mereka.
Setelah beberapa lama, tiga orang itu lalu muncul dan memberi isyarat untuk maju. Rombongan itu lalu bergerak kembali.
"Apa yang ada di dalam?" tanya Shikamaru.
"Tak ada yang aneh," jawabnya. Ia lalu keluar dan mendekati Shikamaru yang berdiri di luar ruangan. Dua orang rekannya masih terdiam di muka pintu.
"Oh... begitu, baguslah," singkat Shikamaru.
"Ahh...!" teriakan terdengar keras. Teriakan itu rupanya berasal dari rekan si kumis tebal yang berdiri paling belakang. Ia diseret dan dibawa ke atas langit-langit.
Rekan si kumis tebal yang lain terdiam untuk sejenak. Ia terkejut, ketika melihat temannya tiba-tiba diseret dan dibawa ke atas langit. Ketika memperhatikan langit-langit, keringat dingin seketika mengucur dari pelipisnya, matanya membulat dengan penuh.
Si kumis tebal yang berdiri tak jauh darinya langsung datang menghampiri, ia tak kalah terkejut. Di atas terdapat gerombolan eater yang banyak. Mereka menempel di dinding layaknya laba-laba. Mereka berjalan dengan kedua kaki dan tangannya. Matanya lebih merah dari yang selama ini mereka lihat.
Tubuh kedua orang itu bergetar tak mampu bergerak. Mereka seolah melihat kematian melambai mesra pada mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Shikamaru yang berdiri di sebelah mereka. Ia melihat kedua orang itu hanya terdiam. Tapi, saat ia melihat arah pandangan mereka, akhirnya ia mengerti apa yang membuat mereka berdua terdiam.
"Lari...!" teriak Shikamaru. Membuat kedua orang itu sadar dan mengikutinya. Anggota rombongan yang lain pun ikut lari mengikuti ketiga orang itu. Tak berapa lama, eater-eater yang seperti laba-laba itu keluar dari ruangan dan menampakan dirinya. Mereka bergerak dengan cara menempel di dinding, persis seperti laba-laba. Yang membedakannya hanyalah mereka tak memiliki kaki atau tangah sebanyak laba-laba.
Anggota rombongan berlarian dengan panik. Lebar lorong yang tak begitu besar membuat ruang gerak mereka menjadi terbatas.
"Cepat! Cepat!" teriak seseorang dari arah belakang. Ia mendorong-dorong orang yang ada di depannya dengan kasar. Ia tak mau jika menjadi santapan dari eater-eater itu. Masih banyak tujuan yang harus dicapainya untuk saat ini.
Seorang wanita terjatuh karena dorongan di belakangnya. Ia lalu terinjak-injak dan membuatnya tak bisa bergerak. Matanya berkaca-kaca ketika melihat gerombolan eater yang menempel di dinding dan bergerak ke arahnya dengan cepat.
"Tolong, tolong aku," pintanya lirih. Tapi orang-orang terlalu sibuk dengan keselamatannya sendiri. Untuk sejenak, pandangannya bertemu dengan pria yang tadi mendorong dari belakang. Wanita tersebut menatap dalam. Tolong aku.
Tapi pria itu tak menggubris dan terus saja berlari menyelamatkan dirinya.
Karakter seseorang bisa terlihat ketika dihadapkan pada dua kondisi. Yaitu ketika ia dihadapkan pada situasi yang menekan seperti sekarang. Atau saat berada di alam bebas. Opsi pertama mungkin akan jarang kita temui, namun opsi kedua, sepertinya sering kita alami.
Di alam bebas, kau akan menemukan karakter seseorang itu seperti apa. Apakah itu pengecut, tukang mengeluh, gampang menyerah ataupun pemberani dan berjiwa pemimpin. Dan saat kau bisa melihat seseorang dengan utuh, maka kau akan bisa memutuskan jenis pertemanan apa yang akan kau miliki.
Wanita itu menutup mata lalu tersenyum.
Naruto dan Shikamaru yang berada di barisan depan menoleh ke arah belakang. Mereka heran eater-eater itu berhenti untuk sejenak. Merek bergerombol di lantai dan seperti memperebutkan sesuatu.
Mata Naruto membulat. Giginya bergemeletuk. Ia lihat potongan-potongan tubuh berceceran saling diperebutkan. Ia terdiam dan hendak mendatangai eater itu.
"Jangan," bisik Shikamaru.
Tiba-tiba gerombolan eater lainnya mulai mengejar kembali. Naruto dan Shikamaru terpaksa bergerak kembali. Sebagian anggota gerombolan yang lainnya sudah ada di depan. Ia, Shikamaru dan beberapa orang lainnya sedikit tertinggal di bagian belakang.
Sesekali Naruto menoleh ke arah korban tadi. Ia tersentak kaget ketika melihat korban tadi sudah tidak ada dan hanya menyisakan eater-eater yang hendak bergerak lagi. Ia tak kalah kaget ketika melihat ada dua eater di samping kiri dan kanan langit-langit.
Mata merahnya membuat Naruto bergidik ngeri. Taring-taring tajam terlihat diantara mulutnya yang terkatup.
Bulir-bulir keringat mulai terjun bebas di pelipisnya. Ia mulai berpikir bahwa lorong ini benar-benar panjang dan seperti tanpa akhir. Ia lirik ke arah Shikamaru yang berlari di sebelahnya. Kondisinya tak jauh berbeda. Ia lirik dua orang yang ada di belakangnya. Sama. Bahkan mereka jauh lebih kepayahan dibanding dirinya.
Ia lirik lagi eater di belakangnya. Hilang?
Ia heran. Kemana eater-eater itu pergi.
"Merunduk Naruto!" teriak Shikamaru. Badannya terhempas jatuh bersama Shikamaru. Kedua eater yang tadi ada di belakang, rupanya telah berada tepat di samping Naruto.
Mereka tersungkur dan menabrak dinding.
Dua eater itu memecah empat orang disana menjadi dua sisi. Yang pertama sisi Naruto dan Shikamaru, yang kedua adalah sisi dua orang lainnya yang terletak di belakang.
Kedua eater itu langsung memecah menjadi dua sisi dan mengincar mangsanya masing-masing.
Shikamaru yang melihat itu pun bergegas untuk bergerak kembali. Ia tarik Naruto yang masih setengah sadar karena terbentur.
"Ayo, cepat, ini bukan saatnya tidur!"
Meski masih setengah sadar, tapi Naruto mengikuti instingnya dan berlari bersama Shikamaru.
Eater itu menempel lagi di dinding dan mengikuti mereka berdua dengan cukup cepat. Tak butuh waktu lama untuk eater itu agar bisa berada di samping mangsanya.
Eater itu menggeram dengan keras sebelum akhirnya melompat ke arah Naruto dan Shikamaru.
Shikamaru langsung menyabetkan kapak yang dipegangnya sekuat tenaga ke arah kepala eater itu. Tapi sungguh tak diduga, eater itu seperti bisa memprediksi arah serangan Shikamaru. Ia akhirnya bisa lolos tanpa terluka sedikit pun dan beralih ke dinding sebelah kiri.
Ia kembali menggeram dan mencoba mengincar Naruto.
Naruto yang melihat ini, memegang pemukulnya sekuat tenaga. Ia tak boleh melakukan kesalahan yang sama seperti Shikamaru.
Eater itu melompat dengan kecepatan tinggi. Jauh lebih cepat daripada saat ia mengincar Shikamaru.
Naruto dan Shikamaru yang melihat ini benar-benar terkejut. Naruto tak sempat untuk mengayunkan pemukulnya, begitu pula Shikamaru. Mereka akhirnya langsung menjatuhkan diri ke depan dan membuat eater itu meleset.
Suara berisik terdengar dari belakang. Kedua mata Naruto membulat dengan sempurna ketika melihat gerombolan eater yang menempel di dinding dan menuju ke arahnya. Dengan terseok-seok, Naruto dan Shikamaru berusaha bangkit dan lari kembali. Eater yang tadi mengincar mereka, kini bergerak kembali.
Suara keras terdengar di ujung lorong. Suara itu terdengar seperti deru mobil.
Naruto dan Shikamaru mencuri-curi pandang ke arah suara itu berasal sambil tetap memperhatikan eater yang sedang bergerak ke arah mereka.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya yakin.
Itu adalah sebuah mobil bak terbuka dengan beberapa orang yang ada di atasnya. Mereka melambai-lambaikan tangan ke arah Naruto dan Shikamaru.
Mereka berdua seperti memiliki energi lagi untuk berlari lebih cepat. Keduanya bertatapan, lalu tersenyum.
"Ahh...!" teriak Shikamaru. Ia lalu terjatuh. Naruto tersentak kaget.
Eater yang tadi mengejar kini berhasil menarik Shikamaru. Naruto tak tinggal diam. Ia lalu memukul kepala eater itu dengan sekuat tenaga. Eater itu terjengkang ke arah belakang.
Naruto tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia tarik Shikamaru dan berusaha berlari kembali.
Eater yang terjengkang itu bangkit lagi dan berusaha mengejar. Tapi ia tak sendirian. Beberapa eater laba-laba lainnya ikut pula mengejar.
Jantung Naruto dan Shikamaru bekerja begitu keras.
Ujung lorong itu mulai terlihat. Disana adalah sebuah ruangan yang cukup besar dengan pintu yang di ujungnya terdapat mobil bak terbuka tersebut.
Dua eater kini ada di kiri dan kanan Naruto dan Shikamaru. Mereka menggeram keras. Naruto dan Shikamaru yang melihat ini sudah tahu. Jika menggeram, berarti akan menyerang.
Naruto dan Shikamaru menggenggam senjata masing-masing dengan keras. Kali ini tak ada kata gagal. Eater itu melompat secara bersamaan.
"Sekarang!" teriak mereka berdua.
Naruto langsung memukul kepala eater yang mengincarnya dengan keras. Membuat eater itu terbanting ke dinding. Sebuah pukulan home run yang sempurna.
Shikamaru pun tak kalah cepat dengan Naruto. Ia sabet kepala eater yang menngincarnya dan membuat kepala eater itu menganga dengan sempurna. Eater itu tersungkur dengan kepala yang berlumuran darah.
Belum habis mereka menghela nafas, eater-eater lainnya datang dan mencoba memangsa mereka. Naruto dan Shikamaru kembali bergerak dengan rasa lelah yang begitu terasa.
Suara keras terdengar dan membuat salah satu eater terjengkang ke belakang.
Setelah diperhatikan dengan seksama. Di atas mobil yang mereka tuju, rupanya ada seorang pria berambut perak yang menggunakan sniper dan merobohkan eater-eater yang mengejarnya.
"Cepat! Cepat!" teriak suara beberapa orang dari atas mobil.
Setelah berlari beberapa lama, mereka akhirnya bisa sampai di atas mobil itu. Mereka panjat mobil itu kemudian terlentang dengan nafas tinggal satu-satu.
"Tolong kami!" teriak Shikamaru.
TBC
A/N: Maafin, ratingnya dinaikin jadi M, soalnya banyak adegan potong-potongan terus bunuh-bunuhan sadis. Terus adegan lainnya yang kayaknya gak pantas buat semua umur.
Gimana chapter dua ini, ada yang kurang? jelek? saran? review atau PM aja ya...
See you next chapter :D (semoga sekarang agak cepetan, hehe).
