Previous Chap :
Cincin yang awalnya ia kira akan berakhir di jari manis Sakura...
"Hah... ahaha..." Meski tatapannya terasa kosong, Naruto tertawa pelan. "Seharusnya aku datang lebih cepat..."
Di tempatnya berdiri Naruto mencoba untuk membuang nafas. Dia pandangi lagi sebuah kotak kecil di tangannya. Ia buka, lalu mengeluarkan dua cincin itu dari sana. Untuk cincin pertama—yang memiliki ukiran 'Naruto'. Ia memasukkan benda itu ke kelingking kirinya. Sedangkan, untuk cincin kedua—yang memiliki ukiran 'Sakura'—ia genggam erat-erat.
Tak lama berselang, ia jatuhkan platinum indah itu ke aspal, dan melewatinya begitu saja. Naruto kembali menaiki mobil pribadinya.
.
.
Beberapa minggu setelahnya, suasana hati Naruto Uzumaki selalu terasa diliputi oleh awan hitam. Di wajah pria itu—yang dulunya sangat terkenal ceria dan humoris—tak ada lagi senyuman, tawa ataupun gurauan. Kini hanya tersisa satu; sudut bibirnya yang membentuk garis datar, serta tatapan kosong.
Dan dari semua orang yang mengenalnya, tidak ada satu pun orang yang dapat mengetahui akar perubahan Naruto. Tak terkecuali Sakura Haruno—berbeda, Sakura malah tidak menyadari apa-apa mengenai pria pirang itu. Teman-teman yang semula setia di sampingnya jadi memisahkan diri. Bahkan ada yang sampai kesal karena diabaikan terus oleh Naruto.
Barangkali Naruto telah menutup rapat-rapat semua rasa sakitnya di dalam hati. Ia biarkan semua itu terpendam olehnya seorang. Dibandingkan harus diumbar-umbar dan menjadi aib tersendiri baginya, kan?
"Apa kau mendengar gosip yang beredar, Matsuri?"
"Tentang apa?"
"Itu... gosip seputar Sasuke-senpai."
Seketika, pena belajar yang saat ini digenggam oleh Naruto berhenti bergerak. Naruto mendengar juniornya mengobrol. Dari volume suara yang terdengar, dapat diperkirakan bahwa kedua orang itu berada di salah bangku deretan belakang kelas mata kuliahnya.
"Ah, gosip Sasuke-senpai yang menghamili Sakura, ya?"
"Sstt... pelan-pelan bicaranya." Meski dia yang menenangkan, bisikannya tetap terdengar sampai depan. "Menurutmu itu salah siapa? Sasuke-senpai, atau Sakura?"
"Sepertinya Sakura deh. Sakura kan sudah dari lama tergila-gila ke Sasuke-senpai..."
"Ah, iya, ya. Dan juga kalau tidak salah, bulan lalu aku sempat dengar desas-desus Sasuke-senpai selingkuh dengan Hinata Hyuuga."
"Wah, aku tidak tau apa-apa soal itu. Tapi bisa saja benar. Dan karena takut Sasuke-senpai meninggalkannya, Sakura sengaja 'memancing' Senpai agar dia hamil, jadi Sakura bisa cepat-cepat menuntut pernikahan."
Pria berambut pirang di ujung sana menahan nafas. Karbondioksida penuh, ia hembuskan pelan-pelan.
"Sakura licik, ya. Kayak yang di drama-drama..."
Srek.
Naruto berdiri dari tempatnya terduduk. Ia mengambil catatan dan kemudian keluar dari ruangan. Pikiran Naruto dipenuhi oleh kalimat-kalimat tadi. Kalimat yang menyalahkan Sakura. Naruto memegang dadanya sendiri. Ada sebuah perasaan sakit. Sakit karena telah membuat orang yang dicintainya dibicarakan secara negatif oleh warga universitas.
Naruto menghela nafasnya panjang-panjang, lalu menutup mata.
Karena ini memang kesalahannya; bukan salah Sakura, Sasuke, ataupun orang lain.
.
.
.
SERPIHAN MERAH MUDA
"Serpihan Merah Muda" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Naruto Uzumaki x Sakura Haruno]
Romance, Hurt/Comfort, Drama
AU, OOC, Typos, Threeshot, etc.
.
.
An exchange fict with Amertafuu
SECOND. Penyesalan Terakhir
.
.
Dengan beberapa map di pegangannya, seorang Naruto Uzumaki berjalan di koridor gedung Tokyo Daigaku—univesitasnya. Wajah pria itu datar. Hanya ada tatapan mata yang memandang lurus ke depan, serta kedua belah bibir yang terkatup rapat.
Ketika pria berambut jabrik itu melewati banyak orang di sekitar, tidak jarang ada yang menyempatkan diri untuk meliriknya. Hanya sekedar melihat keadaan Naruto yang akhir-akhir menjadi pendiam. Namun ada juga yang terlihat sudah menganggap hal itu normal. Karena telah genap 3 bulan sejak pertama kalinya pria itu berubah sifat.
Pernah sesekali; dua sampai tiga orang menyapanya, tapi tak ada satu pun yang mendapati tanggapan dari Naruto. Seolah tuli, kalau dipanggil Naruto memilih untuk mengabaikannya dan kemudian pergi begitu saja.
"Naruto!"
Ada suara panggilan dari seorang gadis. Ia hafal di luar kepala siapa pemilik suara itu.
Naruto langsung menghentikan kedua kakinya. Pria itu sedikit mengadah, mengangkat wajah yang sebelumnya menunduk. Lalu ia pandangi sesosok gadis berambut merah muda yang sedang terengah di belakangnya.
Terkejut, Naruto membelalakkan mata.
Ia adalah Sakura. Tak salah lagi.
"Dari tadi aku mengejar dan memanggil namamu... tapi kau malah terus berjalan..." Susah payah ia berkata.
Naruto mendengus geli. Ia berikan sebuah cengiran lebar—senyuman yang terkesan sedih—sampai kedua matanya terpejam.
"Ada apa, Sakura?"
Sebuah respons yang berbeda. Naruto menanggapinya; ia tidak langsung pergi seperti biasanya.
"Aku mau bicara..." Sambil menormalkan nafas, Sakura mendekat. Gadis cantik itu sempat menghapus keringat yang menghiasi dahinya terlebih dulu, lalu ia pun berjalan ke hadapan Naruto.
"Tentang apa?"
Sakura menatap iris biru langit Naruto.
"Sasuke."
Naruto mengangguk lemah. Ia tau ke mana arah pembicaraan ini akan mengalir.
"Sasuke kenapa?"
Untuk tetap menghargai Sakura yang berbicara dengannya, Naruto berpura-pura tidak tau. Ia pandangi kedua manik giok Sakura yang begitu cantik di matanya, dan kemudian memandangnya dengan tatapan tak sabar.
Benar-benar bagaikan orang bodoh yang meminta hatinya untuk disakiti.
"Sasuke... mau bertanggung jawab. Dia mau bertanggung jawab atas bayi ini..."
Sesak.
Sesuatu yang menyesakkan memasuki hatinya.
"Dan setelah berminggu-minggu ia pikirkan, kami setuju akan secepatnya menikah. Agar sewaktu lahir nanti, anak ini bisa memiliki nama ayah di akte kelahirannya."
Naruto berusaha sekuat tenaga untuk menjaga ekspresinya agar tak berubah. Memasang sebuah kepura-puraan yang nyata. Walau tak bisa dipungkiri lagi, matanya perih. Ia ingin mengeluarkan air mata.
Apa kau tidak tau, Sakura?
Bahwa ayah kandung dari anak itu... bisa lebih menyayangi bayimu?
Naruto menggigit lidahnya sendiri. Dengan berat ia menarik nafas.
Tidak boleh. Setidaknya jangan menangis di depan Sakura.
"Karena itu... aku meminta maaf. Karena beberapa bulan yang lalu, kau sempat mengatakan—"
Puk.
Ucapan maaf yang akan Sakura katakan terhenti oleh telapak tangan Naruto. Pria itu menepuk puncak kepalanya. Menekannya dengan lembut, dan mengelus helaian merah mudanya secara perlahan. Bersama sebuah ekspresi ceria yang menyertai raut wajahnya, pria itu tertawa pelan.
Itu adalah tawa pertamanya di bulan ini. Tawa yang ia persembahkan hanya untuk Sakura Haruno seorang.
"Kalau begitu, baguslah. Aku turut senang..." Ia lepaskan tangannya, dan kemudian sedikit memundurkan langkah. "Semoga kau bahagia bersamanya."
Naruto tersenyum, yang asal Sakura tau, sebuah senyuman pahit.
"Dan terima kasih juga, karena kau nyatanya masih sudi berbicara denganku." Naruto terkekeh pelan. "Kukira ini mimpi. Dari beberapa menit yang lalu, aku sampai mencubit tanganku berkali-kali."
Sakura terdiam. Dirinya terus memandangi Naruto yang entah kenapa—baru ia sadari—bersikap ganjil. Setelahnya Naruto langsung berbalik. "Ah, tapi aku tidak bisa lama-lama. Aku masih ada tugas di perpustakaan. Jaa ne."
Tanpa memperdulikan Sakura lagi, Naruto memajukan langkah untuk menaiki sebuah tangga, meninggalkan Sakura sendirian di lantai bawah. Dan ketika ia baru saja menginjakkan kakinya ke anak tangga teratas, pria yang saat ini memakai kemeja itu menunduk, lalu memejamkan matanya yang terasa perih. Perih oleh air mata.
Dan tak butuh waktu lama, setetes air mata menjatuhi ubin di sebelah sepatunya berpijak.
Tapi Naruto berusaha menepis perasaannya sendiri. Ia usahakan dirinya tertawa—lagi.
"Ahaha, sial. Mataku berair..."
.
.
~zo : serpihan merah muda~
.
.
Saat Naruto telah tidak ada di depannya, Sakura terdiam. Dengan pandangan yang sedikit menerawang, wanita yang masih satu fakultas dengan Naruto pun berjalan ke arah taman universitas, yang kebetulan tak begitu jauh dari tempatnya sekarang berdiri. Dan kemudian ia duduki salah satu bangku kayu yang tersedia di sana.
Merasakan adanya angin yang berhembus, Sakura menyandarkan punggung, memejamkan mata. Ia rilekskan tubuhnya sesaat. Siapa tau segala beban yang terasa lelah di pundaknya ikut terangkat.
Lima menit terlewat, Sakura membuka kelopak matanya. Ia pandangi langit yang terlihat bagai campuran warna merah, jingga dan ungu—karena ini sudah termasuk sore menjelang malam. Perlahan ia menghela nafas. Pikirannya kembali melayang ke Naruto Uzumaki.
Sambil menghembuskan nafas panjang, Sakura menyentuhkan telapak tangan ke permukaan perutnya yang sedikit membesar.
Di dalam rahimnya ada calon bayi dari Naruto.
Terus terang saja, sebenarnya Sakura masih membenci Naruto yang sudah menyebabkan permasalahan ini. Namun ia juga merasa tidak tega, karena dirinya malah meminta pertanggungjawaban Sasuke—yang adalah pacarnya—dengan cara memfitnahnya.
Tapi... ia juga bingung. Tak mengerti lagi harus berbuat apa.
Di satu sisi, ia merasa dirinya sebagai korban. Tapi di sisi lain ia juga merasa jahat.
Dan juga, ia takut apabila mengatakan hal sejujurnya ke Sasuke, pria yang sangat dia cintai itu akan marah. Mengatakan kalau dirinya selingkuh, lalu menghempaskannya begitu saja. Sakura tidak sanggup. Dan pastinya akan semakin banyak caci-maki buruk yang akan terus dilontarkan kepadanya mengenai peristiwa ini.
"Ahh... lama-lama aku bisa gila..." Sakura mengerang pelan. Kali ini ia menunduk, lalu menutupi permukaan wajahnya dengan kedua tangan.
Padahal baru saja tadi ia mendapatkan izin dari Naruto—mengenai hal pertanggungjawabannya yang sudah diambil oleh Sasuke. Lalu... kenapa ia masih cemas?
Segeralah Sakura mengadahkan wajah, lalu memejamkan mata. Dari hidungnya, ia hirup semua oksigen yang dapat mengembangkan paru-parunya yang terasa pengap.
Dan ketika gadis bersurai pendek itu membuka kedua kelopak matanya, ia mendapati sosok kekasihnya, Sasuke Uchiha, yang sedang berjalan di koridor gedung, atau lebih tepatnya di daerah jejeran khusus ruangan klub yang sepi. Pria itu—yang tampaknya tidak menyadari kehadirannya—terlebih dulu memandang singkat ke sekeliling, kemudian ia masuki ruangan seni, tempat di mana anak-anak klub paduan suara melakukan kegiatannya.
Sakura mengerjap pelan.
Untuk apa dia ke sana? Bukannya Sasuke tidak mengikuti satu pun klub di universitasnya?
Tapi Sakura tidak terlalu memikirkannya. Ia berdiri dan kemudian berjalan menuju ruangan tersebut. Ia malah memikirkan sebuah hal yang harus secepatnya ia bicarakan dengan Sasuke. Tentu mengenai pernikahannya yang akan digelar sebulan lagi.
Puluhan langkah terlewat, Sakura sudah berdiri depan pintu. Ia berniat menarik pintu yang belum sepenuhnya tertutup itu, namun gerakannya mendadak tertahan, membiarkan sela yang semula kecil berubah menjad sedikit besar.
Sewaktu Sakura meluruskan pandangan, ada sebuah pemandangan di dalam ruangan sen yang membuat kedua matanya terbelalak lebar. Tanpa mengedip, dia perhatikan sebuah ruangan kedap suara yang diisi oleh puluhan peralatan musik klasik. Mengelilingi sebuah grand piano hitam yang terletak di tengahnya.
Bukan—Sakura bukannya terkejut oleh suasana khas di ruangan seni musik itu. Melainkan, karena ia melihat seorang gadis bersurai indigo yang tengah duduk di atas piano, bersama seorang pria raven yang berdiri di depannya.
Itu Sasuke Uchiha, kekasihnya, dan Hinata Hyuuga...
Sakura membelalakkan mata. Ia ingin berteriak, tapi tak sanggup. Semakin diamati olehnya Sasuke yang sedang memeluk Hinata. Erat, dan terlihat sedikit memaksa. Sang gadis pun menunduk. Tak butuh waktu lama, Sasuke terus memperhatikan wajah ayunya, sampai ia pertemukan permukaan bibir mereka berdua.
"He-Hentikan... ini—mmh..."
Jika dilihat dari gerak-gerik mereka—Sasuke yang memegangi tangan Hinata; dan Hinata yang mendorong tubuh Sasuke—dapat dipastikan kalau pria Uchiha itulah yang menyerangnya.
Tanpa menyadari seorang Sakura Haruno yang berdiri di tempat yang sama, Sasuke menarik kepala Hinata. Mereka berciuman. Decapan demi decapan terdengar, mewarnai ruangan seni yang hanya dihuni oleh mereka berdua.
"Aku hanya mencintaimu..." Pria itu berbisik, lirih namun tegas. "Kau harus tau itu..."
Dan tentu sangat menyakitkan untuk Sakura.
"Ja-Jangan bodoh, Sasuke-kun..." Hinata menunduk, melepaskan ciuman Sasuke. Statusmu yang sekarang kan... kekasih Sakura-san... ja-jadi, lepaskan aku..."
Gadis itu ingin turun dari piano, namun dicegah oleh Sasuke.
"Sudah berkali-kali kukatakan padamu, aku tidak pernah menyentuhnya. Bahkan tak pernah sekalipun aku mencium bibirnya."
"Ta-Tapi... Sakura-san... hamil."
"Aku juga tidak tau kenapa bisa seperti itu!" Nada bicara Sasuke mengeras. Ia terlihat kesal dengan Hinata yang selalu mencari alasan tentang dirinya. "Aku tak pernah berhubungan secara fisik dengannya!"
Bentakan Sasuke membuat Hinata memalingkan wajah, sedangkan Sakura yang masih berdiri di posisi awalnya... mulai bergetar.
"Dan kau harus ingat, Hinata..." Sasuke mencoba menenangkan diri, meski gaya bicaranya masih terasa menahan emosi. "Alasan aku menjadikan Sakura pacar adalah; karena Naruto yang memohon kepada diriku—untuk membuat Sakura bahagia. Bukan karena aku mencintainya. Jelas kau sudah tau itu dari awal, kan?"
Tertohok.
Tetes demi tetes air mata terjatuh. Sakura terisak. Dengan gigi yang sudah menggigit kencang permukaan bibir bawahnya, ia menyentak pintu ruang, sehingga papan kayu itu terbuka lebar-lebar.
Blam!
Ia biarkan ujung kenop pintu membentur dinding di sebelahnya, menciptakan suara keras yang mampu membuat kedua insan berambut senada itu menjadi tersentak. Manik mata berwarna kontras itu menoleh ke arah kanan secara bersamaan, menatapi Sakura yang sudah menyandarkan bahunya di bingkai pintu depan pintu ruang seni.
Wajahnya memerah menahan tangis. Dirinya lemas.
"Jadi... seperti itu ceritanya?"
Sasuke terdiam, dan Hinata pucat pasi.
Sasuke melepaskan tangannya dari Hinata. "Sakura..."
Pria berambut biru dongker itu berniat mendekat, namun Sakura menyuruhnya agar tetap menjaga jarak lewat isyarat tangan. Kini wanita cantik bermarga haruno itu sibuk menutupi wajahnya yang kini sudah tertunduk.
"Ja-Jadi..." Suaranya bergetar. "Kau tidak mencintaiku, Sasuke?"
Sasuke memilih bungkam. Ia malah mengeluarkan sebuah desisan kesal.
Sakura sudah tidak tahan. Hatinya sakit saat mengetahui kenyataan bahwa Sasuke tidak mencintainya. Ini bagaikan sebuah pukulan telak bagi segala perasaan cinta yang sudah ditanamnya bersama pria itu atas selama ini.
"Sasuke! Jawab!" Sakura semakin menangis. Hinata memejamkan matanya. Ia tidak tega melihat ada perempuan yang berduka. "Batalkan saja pernikahan di bulan depan, dasar brengsek! Aku sama sekali tidak keberatan!"
Sakura pun berbalik, lalu ia berlari dengan cepat.
"Sakura! Dengarkan aku dulu!"
Sasuke mengerjar dengan cepat. Namun Sakura tidak mau berhenti mengayunkan kedua tungkai kakinya. Ia ingin pergi dari gedung universitas ini. Ingin rasanya ia ke kamar, lalu membenamkan wajah ke bantal, lalu menangis sepuas-puasnya.
Gadis berambut merah muda itu bahkan tak ingin lagi melihat wajah tampan ataupun mendengar suara bariton dari Sasuke.
Sasuke penghianat.
Sasuke telah selingkuh.
Sasuke tidak mencintainya.
Sakura memejamkan matanya rapat-rapat. Air matanya terus menetes dari kedua sudut matanya.
Brukh!
Mendadak, Sakura—yang pada saat itu tidak melihat ke depan—menabrak seseorang. Bersama keterkejutan tubuhnya atas keseimbangan, oleng, nyaris terjatuh ke belakang, ada tangan kuat dari orang yang ditabraknya mencegah hal itu terjadi.
"Sa-Sakura...?"
Ketika sakura mengadah, ia temukan dua manik mata beriris sapphire yang begitu terang bagaikan langit. Dilihat dari kulit tan maupun rambut jabrik pirangnya, Sakura dapat mengetahui bahwa orang yang saat ini di hadapannya ialah Naruto Uzumaki.
"Kenapa kau berlari di koridor seperti ini?"
"Na-Naruto..." Nama pria itu ia ucapkan secara susah payah. "A-Aku—"
"Sakura!"
Lagi, terdengar suara Sasuke yang memanggilnya. Tampaknya pria itu benar-benar mengikutinya sampai ke sana. Sontak saja Sakura menggerakkan tubuhnya secara otomatis. Ia peluk Naruto dengan kedua tangannya erat-erat, kemudian membenamkan wajahnya ke dada pria tersebut.
"Sakura...? Kau kenapa?" Naruto tercengang, terlebih lagi saat melihatnya menangis. Tak luput juga, dia amati juga Sasuke yang sedang berlari mendekat. "Ada apa dengan Sasuke?"
Sakura tidak sanggup menjawab. Kedua bahunya terus berguncang akibat isakan sedih. Dan semua perasaan berat yang dirasakan Sakura dapat tersalurkan secara cepat kepada Naruto. Membuat pria pirang itu benar-benar tidak tau harus mengambil tindakan apa.
"Bawa..." Suatu detik, Sakura berbisik. Parau. "Bawa aku pergi, Naruto..."
"A-Apa?"
"Sebelum Sasuke ke sini... bawa aku pergi."
Tanpa bertanya lagi, Naruto segera mengadah. Kini Sasuke terlihat telah menghentikan langkahnya. Dari jarak 10 meter, ia berdiri tegak. Bersama nafas yang masih belum beraturan, mata tajam pria itu terus memperhatikan Naruto dan Sakura yang berada di hadapannya.
Yang Naruto tau, pria itu tidak memberikan sinyal negatif kepadanya. Ia hanya diam. Pandangan pria raven itu seolah memberikan sebuah pesan non-verbal. Hanya saja Naruto masih tetap tidak mengerti dengan situasi yang saat ini ia hadapi.
Tapi karena waktu terus menunggu keputusannya sendiri, akhirnya Naruto memilih sebuah langkah. Ia genggam tangan Sakura, lalu ia berjalan pergi, membawa Sakura ke arah parkiran mobilnya.
Kini, hanya ada Sasuke yang sendirian dengan wajah datarnya.
.
.
~zo : serpihan merah muda~
.
.
Masih di dalam gedung universitas, atau lebih tepatnya di dalam ruang seni, Hinata duduk diam di atas bangku piano—bukan lagi di penutup keyboard-nya. Bagian atas kemeja gadis manis itu telah dibenahi dengan sempurna, kembali rapi. Kedua telapak tangannya berposisi di masing-masng sisinya.
Hinata tak melakukan apapun selain merenung. Saat ini pikirannya sedang dipenuhi oleh satu hal; Sasuke, Sakura... dan Naruto.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka. Hinata langsung menoleh, dan menemukan sesosok pria bernama Sasuke Uchiha yang sedang mengacak-acak rambut gelapnya.
"Ba-Bagaimana, Sasuke...?"
Pertanyaan Hinata dengan sukses membuat Sasuke menyeringai.
"Seperti rencana."
"Baguslah... semoga ini awal yang baik untuk Naruto-kun dan Sakura-san..."
"Ya, bagus." Katanya, sedikit mengangguk. "Tidak sia-sia aku memaksa Naruto berdiri di titik yang tepat—jadi dia bisa berpapasan dengan jalur perginya Sakura."
Ya. Itulah rencana Sasuke dan Hinata. Sebuah kepura-puraan—akting—untuk membuat Sakura salah paham secara sengaja. Sehingga Sakura bisa kecewa terhadapnya, dan perlahan-lahan membuka hatinya ke Naruto.
Sebuah rencana yang simpel dan terkesan mudah gagal oleh berbagai faktor. Tapi sayangnya untuk sekarang, sepertinya rencana itu dapat terlaksana dengan mulus. Malah tanpa gangguan.
"Kini kita hanya bisa menyerahkan semuanya ke Naruto-kun..." Hinata menunduk, lalu ia tersenyum sangat tipis. "Semoga dia bisa bahagia..."
"Ya."
Hinata kembali mengangkat wajahnya dan kemudian tertawa pelan. "Walau Naruto-kun dan Sakura-san tidak mengetahui apa-apa tentang ini, setidaknya kita melakukan tindakan yang benar, kan?"
"Hn." Sasuke mengambil seputung rokok dari sakunya, lalu membakar ujungnya dengan pemantik. Asap abu yang tipis berterbangan. "Pada akhirnya Sakura harus tau, siapakah pria yang paling mencintainya di muka bumi ini."
Hinata mengangguk singkat. "Orang itu... adalah Naruto-kun..." Katanya. "Aku jadi ingat, beberapa tahun yang lalu, Naruto-kun sampai rela memohon-mohon kepada Sasuke-kun untuk memacari Sakura, agar gadis yang disukainya bisa bahagia. Hebat, ya? Ia pasti rela mengorbankan apa saja demi Sakura-san. Terutama hatinya..."
"Hebat apanya? Permintaan manusia berotak sempit itu sangat merepotkan 'kita'. Dan bahkan sampai menuduhku yang tidak-tidak. Keluarga Uchiha bisa membunuhku kalau aku ketahuan menghamili orang."
"Hmm..." Hinata geli melihat respons Sasuke. "Tapi kini semua kepura-puraan ini telah kita akhiri..."
"Benar." Sasuke mendengus, hembusan asap rokok keluar dari sela bibirnya. "Terus terang saja, tadi aktingmu bagus, Hinata. Aku tidak menyesal terus mencintaimu di balik hubunganku dengan Sakura."
"Apa kalimat itu juga merupakan sebuah kepura-puraan, Sasuke-kun?" Hinata menatapnya dengan tatapan jenaka. "Bukannya janin yang di kandung Sakura-san adalah anakmu?"
Sasuke berdecak. Sebelum ia benar-benar mendekati Hinata, pria itu pun membuang putung rokoknya ke lantai, lalu menginjaknya dengan sepatu.
"Perlu kubuktikan bahwa hanya kaulah satu-satunya gadis yang pernah kubawa ke atas ranjangku, hn?"
.
.
~zo : serpihan merah muda~
.
.
Beralih ke keadaan di luar universitas, Naruto dan Sakura sedang berada di dalam mobil Mazda yang tengah melaju. Suasana yang mengelilingi mereka adalah kesenyapan. Cuma ada suara tangis sesenggukan Sakura yang belum kunjung berhenti.
Tak ada yang bersuara ataupun membuka topik obrolan. Tak ada suara radio maupun alunan lagu dari music player-nya.
Perlahan, keempat roda mobil pun memelan, Naruto sedikit menghentikan mobilnya ketika ada lampu lalu lintas yang sedang menyalakan sinar merah—yang menandakan tiap pengendara harus berhenti sementara di perempatan ini.
Naruto menggerakkan kopling, menetralkan mobilnya. Sedikit ragu, ia lirikan matanya ke samping, menatap Sakura Haruno yang duduk di jok sebelahnya.
Wanita itu menyenderkan kepalanya ke jendela. Kedua matanya yang masih basah itu terpejam rapat. Rambutnya sedikit acak-acakan, pipi dan hidungnya memerah, dan ia menggigit kencang permukaan bibir bawahnya.
Naruto berdeham. Ia sengajakan kencang agar gadis itu dapat mendengar. "Kau... lagi terkena masalah apa dengan Sasuke?"
Sakura tak menoleh ataupun menanggapi. Bergerak saja tidak. Ia tetap membisu di tempatnya.
"Hei, Sakura. Aku bertanya denganmu..."
Mendengar desakan Naruto, Sakura membuka kelopak mata. Namun sekarang ia malah kembali menutupi kedua matanya dengan telapak tangan. Ingin rasanya ia menangis lebih kencang dari sekarang.
Hatinya terasa remuk saat mengingat bahwa Sasuke tidaklah mencintainya.
Ia benar-benar tak tau lagi harus menjelaskan seperti apa ke Naruto.
Air mata Sakura kembali menetes.
"Na-Naruto..."
"Hm?"
"Antarkan a-aku pulang..." Ia terus menangis. "Kumohon..."
Naruto mendesah pelan, kemudian ia kembali menginjak gas—karena lampu lalulintas telah berubah hijau. "Kenapa kau melompati pertanyaanku?"
"Ukh—hiks... k-kumohon..."
Giliran Naruto yang tak memberikan jawaban. Pria itu masih sibuk mengendarai mobilnya ini di atas aspal tol.
"Na-Naru... a-aku ingin pulang..."
"Jawab dulu pertanyaanku yang tadi."
Sakura tak kuat. Memikirkan apa yang baru ia saksikan saja sudah membuatnya tersiksa secara psikis. "A-Aku benar-benar tidak bisa menceritakannya sekarang..."
"Baiklah... terserah kau saja..." Selang beberapa detik, Naruto memutar stir. Ia berbelok ke sebuah daerah yang kurang dikenali Sakura. "Sayangnya, aku tidak akan mengantarkanmu sampai rumah. Setidaknya... untuk hari ini."
Sakura membuka tangannya, menunjukkan kembali bagaimana rupa manik giok di matanya yang tengah digenangi oleh air mata.
"Ke-Kenapa...?" Tangisan, air mata dan segala perasaan berat itu membuatnya kesulitan untuk melayangkan sebuah pertanyaan ke Naruto. "Ke-Kenapa kau tidak mau mengantarkanku pulang?"
Masih dengan wajah tanpa ekspresinya, Naruto memberi jeda sebentar. Pria itu terlihat... sedikit bad mood.
"Kalau boleh jujur, aku lumayan sakit hati saat kau jadikan tempat pelampiasan seperti ini."
"Apa... maksudmu, N-Naruto?"
"Tadi kau baru saja bertengkar dengan Sasuke, kan?" Naruto tertawa pelan. Tawa ironi—yang tentu dia keluarkan untuk menertawakan dirinya sendiri. "Karena itu, kau berlari darinya dan kemudian... memelukku." Naruto tersenyum. "Meski ini hanya kemungkinan kecil, kau pasti ingin membuatnya cemburu, kan?"
"Ti-Tidak... aku tidak beranggapan seperti itu..."
"Oh, ya?" Timpalnya. "Lalu kenapa tadi kau bilang 'bawa aku pergi' kepadaku? Itu sudah jelas artinya 'kau mau aku membawamu pergi'. Tapi saat di sini, kau malah memohon untuk kuantarkan pulang—ck."
Naruto berdesis. Ia kurang menyanggupi rasa sakit hati yang disebabkan karena hal yang sebelumnya terjadi. Sama seperti Sakura, pria jabrik itu merasa dipermainkan—bagaikan sebuah orang yang dijadikan tempat pembuangan.
"Memangnya... k-kau... mau membawaku ke mana?"
Naruto terdiam. Ia berpikir.
"Ke apartemenku."
"Tapi ini sudah malam."
"Justru itu waktu yang tepat."
Sakura menelan ludah. Ia menatap Naruto melalui mata sembabnya. "Apa maksudmu?"
"Aku ingin berbicara empat mata denganmu di sana."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Ngg, halo. Aku ngga tau kenapa fict ini bisa dapet review yang banyak. Aku bersyukur dan juga ketakutan (?). Tapi ngga apalah. Yang penting, terima kasih ya untuk semua readers dan reviewers. Aku tau chapter ini pasti mengecewakan, tapi... ya begitu. Harap maklum... :')
.
.
Thanks for Read & Review!
Special Thanks to :
amerta rosella, Rosachi-hime, Dear God, Ageha haruna, Bunny, Nivellia Neil, Valua Harazuku, Manguni, Guest, adityaisyours, Kapolda, Yukii Chaa, Aurora Borealix, Soputan, OhhunnyEKA, Uzumaki Ryota, Neerval-Li, Dindong, kHaLerie Hikari, CassieYJNS, Kiki RyuEunTeuk, Guest, Terminator, wkjoan hosioki, Mytha cherryz, Mrs, Reina Murayama, spring field linda, Guest, Namikaze julian uzumaki, Guest, Elderwand48, Guest, Mistic Shadow, Eilla 'qina, rakai, Guest, Nagasa, Da vinci, The blues, akasuna no hataruno teng tong, TSAR, Kawaguchi, Guest, Mizu no Blue, Miya-hime Nakashinki, Guest, Dewa perang, Guest, Booya, BungaCicik, Nagasaki, Uzumaki mc jopak-ius, Guest, caesar, Musashi.
.
.
Pojok Balas Review :
Galau pas baca fict ini. Makasihh. Naruto punya kesan sexy. Hehe, Naruto yang OOC memang seksi. Aku nungguin King's Wife-nya. Doain aja cepet update. Minato kenapa jahat ya di sini? Biar ada kesan Drama dan H/C-nya. Exchange fict itu artinya apa? Maksudnya, tukeran fict. Aku buatin fict untuk Amerta Rosella (Amertafuu), dan dia buat fict untuk aku. Apa fict ini ada hubungannya sama fict Burung Biru - Amertafuu? Ngga adaa. Di chap 1, Naruto-nya ngenes banget. Makanya sekarang Sakura yang ngenes. Kasus pemerkosaan kenapa ngga dilaporkan? Karena ini hanyalah fict (?). Naruto sifatnya memang pendiam, atau karena insidennya dengan Sakura? Karena ada masalah sama Sakura. Aku ingin menjadi zo, soalnya cita-citaku adalah menjadi penulis. Ganbatte, ya... aku mendoakanmu :')
.
.
Next Chap :
"Oh, jadi maksudmu kita cuma berduaan di sini?"
"Yang penting jangan pergi."
"Aku mau pulang..."
"Maaf..."
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
