Naruto © Masashi Kishimoto

Love Again © Onime no Uchiha Hanabi-hime

Warning!

OOC, abal, aneh, gak bermutu, alur maksa, monoton, menjijikan!

Didedikasikan untuk Nandha-chan, yang udah aku anggap imootoku~

Semoga kamu suka~!

Emmuacchhh! (tebar ciuman nista) #huweeekkk!#

~LOVE AGAIN~

~~~~~Chapter II~~~~~

Sebelumnya~

Langkah Sakura terhenti saat di ujung koridor atas, koridor menuju atap, di sana sepi karena ruangan yang ada hanya gudang. Ia mendengar suara Sasuke dan Ino.

"Sampai kapan Sasuke-kun? Kau akan menyembunyikannya dari Sakura-chan?" ucap Ino.

"Lusa malam, aku akan umumkan ke semua orang di pesta tentang hubungan kita" ucap Sasuke.

Sakura menutup mulutnya, air jernih dan hangat kembali menuruni pipinya. 'A – apa maksudnya? Apa maksud Sasuke-kun dan Ino-chan?' hati Sakura bertanya-tanya.

Pain yang berdiri di belakang Sakura melihat Sakura terdiam, lalu ia menghampiri Sakura. Ia melihat Sakura menangis dengan spontan memeluk Sakura. "Jangan menangis," gumam Pain.

"Hiks! Hiks! Sasuke-kun," isak Sakura dalam dekapan Pain.

"Sakura-chan?" suara Ino membuat Sakura dan Pain menarik diri.

Sakura menatap Ino tajam. Lalu berlari meninggalkan kekasihnya, meninggalkan sahabatnya, meninggalkan semuanya, meninggalkan kenangan apa pun selama ini yang selalu ingin ia ingat.

'BUAGH!'

Selanjutnya.. selamat menikmati~

"Bagaimana? Sakit? Apa yang dirasakan Sakura jauh lebih sakit! Brengsek!" teriak Pain.

'BUAGH!'

"Kau ini hanya orang luar! Tak tahu apa-apa!" teriak Sasuke setelah membalas pukulan Pain.

"Hentikan!" teriak Ino.

"Bos besar!" panggil anak buah Pain.

"Sasuke!" teriak Itachi.

"Apa yang terjadi?" tanya anak buah Pain.

"Itachi! Ajari adikmu ini apa artinya cinta dan pengorbanan! Laki-laki brengsek seperti dia patut di tendang ke bak SAMPAH!" bentak Pain.

"Apa kau bilang?" bentak Sasuke balik.

"Sasuke! Ikut aku!" bentak Itachi dan menarik tangan Sasuke pergi.

"Kau! Gadis jalang! Pergi dari hadapanku! Kalau tidak enyah kau dari sekolah ini!" bentak Pain.

"Hush! Hush!" usir Tobi.

Ino pun berlari pergi dan menangis, ia tak menyangka kalau semuanya akan kacau begini.

"Sasori! Cepat cari Sakura!" perintah Pain. "Zetsu! Deidara! Kalian selidiki siapa gadis tadi!" perintah Pain kembali.

"Baik bos besar!" sahut Zetsu dan Deidara.

"Hidan, Kakuzu, Kisame dan Tobi! Ikut aku!" perintah Pain lagi dan pergi menuju suatu tempat yang hanya Pain dan Kami-sama sendiri yang tahu.

.

.

"Sakura!" panggil Sasori.

Sakura terus berlari mengindahkan panggilan anikinya. Ia berlari ke kelas, entah apa yang dicarinya.

"Sakura-chan? Ada apa?" tanya Naruto terkejut melihat keadaan Sakura yang berantakan, dan air mata yang terus mengucur di matanya.

Sakura bingung sendiri di sana. Ia tak tahu harus berbuat apa. pikirannya tak jalan saat ini, yang jalan saat ini hanya perasaannya, perasaannya yang begitu hancur. Sakura kembali berlari keluar dan menubruk anikinya.

"Sakura!" panggil Sasori lagi saat melihat Sakura yang menubruknya.

"Sasori-senpai? Ada apa?" tanya Naruto bingung.

Sasori hanya menatap Naruto dengan pandangan seolah 'tch! Berisik!'.

Sakura masuk ke lab biologi yang ada di antai dua. Ia kunci pintu lab itu. "Aku benci semua orang!" teriak Sakura histeris.

"Sakura!" panggil Sasori sambil menggebrak-gebrak pintu lab yang dikunci Sakura. Sasori sangat khawatir dengan keadaan Sakura, Sasori tahu saat situasi seperti ini Sakura bisa bertindak nekad.

'PRANG!' barang-barang kaca di lab itu pecah Sakura hempas dengan kasar.

"Sakura! Aku mohon jangan bertindak bodoh Sakura!" teriak Sasori.

"Pergi! Atau aku yang pergi!" teriak Sakura dari dalam lab.

"Sakura!" teriak Sasori.

'PRANG!' Sakura memecah kaca jendela lab tersebut dengan kursi. Lalu ia berdiri di sana.

Sasori yang mendengar suara itu langsung berlari ke ruangan yang ada di sebelahnya dan menengok dari kaca jendela ruangan di sebelahnya. "Sakura! Apa yang akan kau lakukan?" teriak Sasori.

Sakura tersenyum sepintas menatap anikinya tersebut. Lalu menghempaskan diri jatuh.

'BRUGH'

"Tidaaaaaaaakkkk!" teriak Sasori. Ia langsung berlari menuju tempat Sakura terjatuh – bukan terjatuh, lebih tepatnya menjatuhkan diri.

Naruto yang berpapasan dengan Sasori langsung mengikuti Sasori.

Di TKP, Sasori langsung memeluk imootonya itu yang sekarat dan bersimbah darah. "Sakura!" teriak Sasori.

"A – aku akan telpon ambulan" ucap Naruto.

Tak lama ambulan datang dan membawa Sakura ke rumah sakit. Naruto disuruh Sasori untuk tinggal dan menjelaskan kejadian sebenarnya pada guru.

.

.

Di depan kantor kepala sekolah.

"Bos besar! Kami sudah tahu nama gadis itu," ucap Zetsu.

"Siapa?" tanya Pain.

"Namanya Yamanaka Ino," sahut Deidara.

"Baiklah," sahut Pain. Ia langsung mengambil handphonenya dan menelpon otoosannya. "Hallo, toosan? Maafkan aku mengganggu, aku ingin kau keluarkan gadis bernama Yamanaka Ino dari sekolahku" pinta Pain pada toosannya. "Hn. Dia melukai temanku, keluarkan dia hari ini. Cepat!" perintah Pain pada toosannya. Di telpon toosannya hanya mangguk-mangguk menuruti permintaan anak tunggalnya itu.

"Bos besar, Sasori tadi menelpon, ia bilang Sakura terjun dari lantai dua, tepatnya lab biologi" ucap Kakuzu.

"Apa?" seru Pain. Ia langsung memutus sambungan telpon dan masuk paksa ke ruangan kepala sekolah. "Keluarkan anak yang bernama Yamanaka Ino! Sekarang buatkan surat perintahnya!" perintah Pain pada Ibiki-sama yang merupakan kepala sekolah di sana.

Pain bisa bertindak sesukanya, karena orang tuanyalah pendiri SMA Konoha itu. Ibiki Morino hanyalah perantara yang mengurus sekolah.

"Tapi?" ucap Ibiki namun segera dipotong oleh Pain.

"Buatkan sekarang! Atau kau ku pecat!" gertak Pain dan langsung pergi.

.

.

"Sasuke!" gertak Itachi.

"Apa maumu?" tanya Sasuke datar.

"Kau ini! Kau tidak tahu dengan siapa kau ini berurusan. Kau saat ini berurusan dengan Pain dan Sasori," ucap Itachi.

"Lalu? Siapa itu Sasori? Siapa itu Pain?" sahut Sasuke santai.

"Bodoh! Pain itu memiliki kekuasaan di Konoha ini. Orang tuanya paling berpengaruh di Konoha. Sedangkan Sasori, dia adalah aniki Sakura!" bentak Itachi kesal melihat tingkah otootonya yang menyebalkan.

"Aku tidak perduli! Lalu maumu apa? aku membohongi diriku sendiri? Berpura-pura mencintai Sakura? Menyakiti perasaannya lebih dalam! apa itu maumu?" bentak Sasuke balik.

"Kau tidak tahu. Keluarga Sasori begitu menyedihkan, berbeda jauh dengan keluarga kita. Apalagi Sakura, Sasori saja sudah ingin bunuh diri karena keluarganya! Bagaimana dengan Sakura!" teriak Itachi.

"Aku tidak perduli! Aku tidak perduli!" teriak Sasuke balik. "Jangan ikut campur urusanku!" bentak Sasuke.

"Kenapa? Kenapa kau berubah? Kenapa kau menyakitinya? Menyakiti gadis yang teramat mencintaimu. Kau akan menyesal Sasuke," gumam Itachi dan meninggalkan Sasuke sendiri.

.

.

'PLAK!'

"Kenapa Ino-chan? Kenapa kau tega melakukan hal rendahan seperti itu pada sahabatmu sendiri?" bentak Naruto setelah menampar pipi mulus Ino.

"A – aku sungguh menyesal. Aku tidak tahu kalau semuanya akan jadi begini!" ucap Ino membela diri.

"Kau kan sudah tahu.. bagaimana Sakura-chan jika sudah putus asa.. kau kan sudah tahu seberapa nekadnya Sakura-chan!" teriak Naruto. Rasanya ingin saat ini Naruto melempar Ino ke luar angkasa saking kesalnya pada perbuatan yang telah dilakukan Ino pada sahabatnya sendiri. "Padahal Sakura-chan sudah menganggapmu saudaranya sendiri. Lebih daripada sahabat. Saat kau bersedih, ia bisa merasakan kesedihanmu. Saat kau bahagia, ia bisa merasakan kebahagiaanmu. Tapi kau? Apa yang bisa kau rasakan? Apa itu yang kau sebut sahabat? Hah?" bentak Naruto terus menerus.

Teman-teman sekelas mereka hanya menatap diam sambil sesekali berbisik.

"Iya, kasihan Sakura-chan. Tega sekali dia."

"Hn. Kasihan Sakura-chan."

"Sahabat macam apa begitu? Tega sekali."

"Pergi saja ke neraka."

"Musuh dalam selimut, gunting dalam lipatan."

"Jauhi saja dia."

Ino menangis mendengarkan celaan dari teman-temannya.

"Menyesal?" tiba-tiba suara garang muncul di balik kerumuman anak-anak yang berkumpul melihat kejadian Naruto menampar Ino tadi.

Semua orang menatap suara tadi.

"Sekarang.. baru bisa kau menyesal? Di mana kau letakkan otakmu itu? Dalam kulkas?" ungkap suara itu yang ternyata adalah Pain. "Enyah kau dari sekolah ini. Kau di keluarkan!" bentak Pain.

Ino tercengang mendengar ucapan Pain. Selama ini ia sangat ingin masuk SMA Konoha, karena sekolah ini paling bergengsi dan fasilitasnya yang lengkap. Tapi musnahlah impiannya menjadi alumnus sekolah ini.

"Bos besar, kita harus ke rumah sakit" ingat Deidara.

"Benar juga. Ayo!" ucap Pain.

"Apa katanya? Rumah sakit? Siapa yang masuk rumah sakit?"

Anak-anak jadi ribut mendengar berita itu.

Setelah Ino berkemas, ia pergi keluar dari sekolah itu – SMA Konoha.

"Teman-teman!" teriak Naruto meminta perhatian dari teman-temannya.

Semua menatap Naruto dalam diam dan bertanya-tanya.

"Teman kita, Haruno Sakura tadi siang masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri yang ia lakukan, ia melompat dari lantai dua.. dan saat ini ia masuk rumah sakit dengan luka keritis. Mari kita bersama-sama berdo'a untuk kesembuhannya," ungkap Naruto.

Semua anak-anak menundukkan kepala, ada yang menangis, ada yang berbisik pada temannya, ada yang cengo, ada juga yang malah tertawa.

"Berdo'a dimulai," ucap Naruto lalu menundukkan kepalanya berdo'a.

.

.

Sasuke berjalan menuju kelasnya setelah debatnya dengan Itachi.

"Itu si Uchiha."

"Hn. Aku pikir dia anak baik-baik, ternyata dia setega itu ya?"

"Hn. Keterlaluan. Aku tidak jadi mengidolakannya."

"Memuakkan sekali tampangnya itu."

"Tidak bersyukur sekali punya kekasih yang senantiasa bersamanya. Tersenyum memandangnya walau ia tak pernah memandangnya."

"Cuih! Najis memiliki kekasih sepertinya."

Ejekan demi ejekan terus berkumandang saat Sasuke berjalan di koridor. Walau terlihat tidak mengindahkan, tapi sebenarnya ia mendengar.

"Lihat tampangnya? Kekasihnya melompat dari lantai dua saja masih bisa setenang itu."

Sasuke terdiam, ia berusaha mengingat ucapan anak yang baru saja bicara. Sasuke menghampiri bocah itu, "apa kau bilang? Sakura kenapa?" bentak Sasuke.

Bocah tadi hanya menatapnya malas, "kau itu menyedihkan!" sahut bocah itu.

Sasuke mencekram kerah baju bocah itu, "cepat katakan apa yang terjadi pada Sakura!" Sasuke mulai geram.

"Sakura melompat dari lantai dua. Sekarang dia ada di rumah sakit," sahut bocah itu malas.

Sasuke langsung berlari menuju kelas Sakura.

"Mana? Mana Ino?" teriak Sasuke saat membuka pintu kelas.

Naruto menatap tajam Sasuke, dihampirinya Sasuke yang terlihat ngos-ngosan berlari.

'BUAGH!' Naruto memukul telak Sasuke.

Sasuke tersungkur akibat pukulan yang bisa dibilang seperti pukulan para petinju dunia.

"Bagaimana? Sakit? Apa yang dirasakan Sakura jauh lebih sakit! Brengsek!" ucap Naruto geram.

Sasuke terdiam mematung, 'kata-kata ini.. sama seperti yang diucapkan Pain,' gumam Sasuke dalam hati. Ia menitikkan air mata. Ia merasa bersalah saat ini pada Sakura, pada Ino, pada Naruto, dan pada semuanya.

Naruto yang melihat Sasuke menangis mengepalkan tangannya, "Sasuke! Kau bodoh! Apa maumu sebenarnya? Mengajak terbang Sakura, lalu kau hempaskan dia begitu saja! Di mana akal pikiranmu? Di mana kau letakkan Sakura dalam dirimu?" teriak Naruto.

Sasuke mengepalkan tangannya, dipukulnya lantai yang keras itu, hingga tangannya berdarah dan terasa cenat-cenut. "Aku tak tahu.. aku bingung.." gumam Sasuke.

"Sakura selalu meletakkanmu di hatinya, menjadikanmu nomor satu di hatinya, melebihi orang tuanya sendiri. Aku pikir setahun lalu adalah terakhir kalinya. Terakhir kalinya ia berbuat nekad," ungkap Naruto.

Sasuke mendongak. 'Aku di hatinya? Aku nomor satu di hatinya?' ucap Sasuke dalam hati.

"Kenapa harus dengan Ino? Kenapa harus dengan sahabat Sakura?" teriak Naruto.

Sasuke berlari meninggalkan Naruto yang masih menahan amarah padanya. Ia terus berlari ke rumah sakit tanpa menggunakan alat transportasi. Sempat ia berpapasan dengan Ino. Tapi saat ini yang menjadi tujuannya hanyalah Sakura. Sakura yang selama ini senantiasa bersamanya, walaupun ia tak senantiasa bersama Sakura.

.

.

"Sasori? Kau baik-baik saja?" ucap Pain menenangkan Sasori.

"Bukan hanya kali ini Sakura begini. Satu setengah tahun yang lalu ia melompat dari balkon kamarnya, karena orang tua kami berpisah. Satu tahun lalu Sakura menghantamkan kepalanya ke tembok, karena aku meninggalkannya pergi. Sakura sudah begitu tersiksa dalam hidupnya," ungkap Sasori.

Itachi tercengang mendengar penuturan Sasori, ia merasa bersalah pada Sasori, karena otootonya imooto Sasori jadi terluka.

"Sasori~" ucap semua anggota Akatsuki terharu.

"Kau tenang saja. Akatsuki akan menjaga imootomu," ucap Pain.

"Terima kasih," gumam Sasori sambil tersenyum.

"Sori-chan! Mana Kura-chan?" tiba-tiba seorang ibu-ibu berambut pirang panjang dengan pakaian serba putih muncul dengan wajah datar namun pasti.

"Di dalam, diperiksa" sahut Sasori datar.

Anggota Akatsuki saling berbisik mengenai wanita itu.

'Ibu Sasori ya?' pikir semuanya.

"Mana otoosan?" tanya Sasori.

"Aku pikir kau sudah mengabarinya?" sahut wanita itu. Namanya adalah Tsunade.

"Tch! Kau pikir aku kurang kerjaan? Kau pikir apa gunanya aku menghubungimu?" bentak Sasori – padahal itu ibunya loh? –

"Hubungi Jiraiya," ucap Tsunade datar.

"Appah? Kenapa harus aku? Kau sendiri kan bisa!" sahut Sasori kasar.

Wanita itu melihat jam tangannya, "ini sudah siang, Jiraiya pasti sedang break. Suruh dia kemari," ucap Tsunade.

Sasori meronggoh kantongnya dan mengambil hpnya. Dihubunginya Jiraiya, sang toosan.

"Hallo. Toosan? Sakura, masuk rumah sakit, ia terjun dari lantai dua" ucap Sasori pada hpnya.

"Aku sedang sibuk. Aku akan membiayai perawatannya. Kau urus saja dia sampai sembuh," ucap Jiraiya dari dalam telpon.

Sasori memutus sambungan telpon.

"Apa katanya?" tanya Tsunade ogah-ogahan.

"Dia sibuk. Dia akan membiayai perawatan Sakura," ucap Sasori.

"Apa yang dia pikirkan? Rumah sakit ini milikku! Sakura tidak perlu membayar perawatannya!" teriak Tsunade.

Sasori menatap malas kaasannya.

Tsunade menengok jam tangannya lagi, "aku ada operasi, kau jaga Kura-chan ya? Dah~ katakana pada Jiraiya, perawatan Sakura aku yang mengurus" ucap Tsunade dan pergi.

Semua anggota Akatsuki menatap Sasori dalam diam. Mereka bisa merasakan bagaimana jika mereka di posisi Sasori saat ini. Orang tua yang seharusnya ada saat mereka butuh, tapi mereka tak ada.

Tapi sebenarnya bukan hanya Sasori yang merasakan hal itu, hampir semua anggota Akatsuki merasakan hal yang sama.

Tobi, toosan kandungnya meninggal, kaasannya menikah lagi dengan pengusaha kaya, beberapa tahun kemudian kaasannya meninggal. Dan kini Tobi hanya tinggal bersama toosan tirinya yang tidak memperdulikannya.

Hidan, kaasannya adalah pegawai pemerintah, dan toosannya adalah anggota kepolisian. Toosannya masuk penjara karena membunuh kaasannya. Toosan dan kaasannya sebelumnya memang sering bertengkar.

Kisame, toosannya adalah tentara angkatan laut, sering tidak ada di rumah. Dan kaasannya selingkuh, sering pulang ke rumah malam-malam membawa pria yang berganti-ganti.

Kakuzu, kaasan dan toosannya adalah pegawai pemerintahan. Toosannya masuk penjara karena ketahuan korupsi. Sedangkan kaasannya kabur ke luar negeri dari kejaran para penagih hutang. Saat ini Kakuzu tinggal dengan pamannya.

Zetsu, toosannya pengusaha yang sering ke luar negeri. Kaasannya meninggal saat melahirkannya. Toosan Zetsu beranggapan Zetsu adalah anak pembawa sial.

Deidara, kedua orang tuanya meninggal saat bepergian ke luar negeri. Saat ini ia hanya tinggal sendirian di rumah mewahnya.

Kecuali Itachi, ia masih hidup enak ditemani keluarga yang harmonis.

"Kaasan, toosan.. *Sasori tersenyum sepintas* menyedihkan ya?" ucap Sasori.

Pain memeluk sobatnya itu. "Kau tenang saja~ kami ada di sini, tanpa mereka kita bisa lalui bersama" ucap Pain menenangkan.

Tanpa mereka sadari, Sasuke tengah mengamati dari kejauhan, dari tempat yang tersembunyi.

Tak lama dokter yang memeriksa Sakura keluar dari ruang ICU.

"Dokter! Bagaimana imootoku?" tanya Sasori tak sabar.

Pain terus di samping Sasori menenangkan.

"Sakura baik-baik saja. Akan tetapi –" jelas dokter itu.

"Tetapi apa?" tanya Sasori penasaran.

"Karena Sakura terhempas cukup keras, kepalanya mengalami benturan yang menyebabkannya kehilangan ingatan jangka pendeknya. Jadi kejadian beberapa hari atau minggu ini mungkin ia tidak ingat," jelas sang dokter.

"Oh~ tapi ia akan baik-baik saja kan?" tanya Sasori.

"Ya. Untung saja, guncangan di kepalanya tidak terlalu berdampak buruk pada matanya. Biasanya ada yang mengalami kebutaan," dokter itu menjelaskan.

Sasuke yang ada di kejauhan begitu terpukul mendengar hal itu. Akan tetapi ia merasa diberi keuntungan dengan adanya kejadian ini. Sakura tidak ingat apa yang baru saja Sasuke perbuat hingga membuatnya melompat dari lantai dua.

Keesokkan harinya~

Sasori terbangun dari tidurnya saat merasakan jari-jemari lentik imooto tercintanya perlahan bergerak.

"Sakura!" panggil Sasori keigirangan. "Kau sudah sadar?" ucapnya terharu.

Beberapa anggota Akatsuki yang ada di ruangan itu terbangun dari tidur dan langsung berlari ke samping ranjang Sakura.

Sakura terlihat berbicara di balik alat bantu pernafasannya. Tangan mungil Sakura perlahan melepaskan alat bantu pernafasan tersebut. Dengan suara yang sangat pelan ia bertanya, "ma – na Sasu – ke-kun?".

Sasori terdiam, begitupula Akatsuki. Sasori baru ingat kalau Sakura mengalami gegar otak ringan. "Dia.. dia.. dia sedang dalam perjalanan," sahut Sasori ogah-ogahan.

Pain menatap Sasori heran. Sejenak Pain berpikir, mungkin Sasori melakukan ini untuk kebaikan Sakura. Pain pun melangkahkan kaki beranjak keluar ruangan tersebut.

'KREEK' pintu ruangan Sakura yang dibuka perlahan.

Terlihatlah sosok pria berambut biru donker bermodel emo dengan senyum hangat.

Semua orang yang ada di sana terperanga melihat Sasuke kini berekspresi hangat menatap Sakura penuh perasaan. Sasuke berjalan menghampiri Sakura.

"Sasuke-kun?" panggil Sakura pelan.

Sasuke semankin mendekat pada Sakura dan menggenggam tangan Sakura erat.

Dengan berat hati Sasori meninggalkan Sakura dengan Sasuke berduaan. Begitu pula Akatsuki lainnya.

Pain menatap Sasuke dengan penuh selidik. Pada akhirnya ia juga mengikuti Sasori untuk meninggalkan Sakura berdua dengan Sasuke, walau hatinya sungguh tak rela.

"Sakura.. maafkan aku karena tak bisa menjagamu.. maafkan aku selama ini tak memperhatikanmu.. maafkan aku untuk segalanya," ungkap Sasuke.

Sakura tersenyum hangat, "kau tidak salah apa pun Sasuke-kun. Kau selalu benar di hatiku, karena kau adalah kebenaran dalam hidupku" ucap Sakura perlahan.

Sasuke mencium punggung tangan Sakura, meresapi aroma sang empu tangan, dan menempelkan tangan Sakura tersebut di pipinya. "Aku baru menyadari sekarang.." ucap Sasuke membuka matanya memperlihatkan onyx indah yang sedari tadi meuntup kini sedang menatap hangat emerald yang tengah terbaring lemah. "Bahwa aku sungguh mencintaimu, mencintai Haruno Sakura," ucapnya.

Sakura tersenyum simpul, ia tak bisa ingat apa pun tentang yang terjadi padanya, tapi entah kenapa perasaannya saat Sasuke mengatakan hal itu begitu biasa, tak ada degub-degub jantung yang berlebih, jantungnya terasa normal, bukankah biasanya jika kita menemukan kebahagiaan yang kita cari biasanya jantung berdegub kencang?

"Kau harus keluar ya? Besok? Kita ke pesta dansa bersama," ajak Sasuke.

Sakura mengangguk dan tersenyum.

Sasori mengintip di balik pintu ruangan Sakura, "mungkin begini akan lebih baik" gumamnya.

"Hn," sahut Pain yang berada di sampingnya. "Sakura masih sangat mencintai Sasuke," ucapnya.

"Aku harap, Sakura tak akan mengingat kejadian kemarin, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika ingat kejadian itu," ucap Sasori menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit.

"Aku juga berharap demikian," ucap Pain, ikut bersandar di dinding di samping Sasori.

"Bos besar? Kau menyukai Sakura ya?" tanya Sasori penasaran, entah kenapa sang bos besar yang biasanya tak perduli akan apa pun jadi sangat perduli pada Sakura imootonya.

Pain menunduk. "Aku tidak tahu.. entah kenapa jika aku membiarkan Sakura terluka, aku merasa sangat bersalah.. aku tak tahu ada apa dengan diriku.. tapi aku ingin selalu menjaga dan melindungi Sakura," jelas Pain.

"Hn~" sahut Sasori.

Kalian pasti bertanya-tanya, kemana anggota Akatsuki yang lain? Mereka saat keluar dari ruangan Sakura langsung pamit pulang karena ada urusan masing-masing.

Sasuke keluar dari ruangan Sakura, "dia sedang istirahat.. biarkan saja dia dulu."

Sasori menatap Sasuke, "terima kasih.. tapi lebih baik kau meninggalkannya segera.. agar saat dia teringat kejadian itu, ia tidak terlalu terluka" ucap Sasori.

Sasuke menunduk.

Pain menatap datar Sasuke.

"Aku tidak bisa.. maaf.." gumam Sasuke dan berlalu pergi.

Sasori mencengkram lengan Sasuke, akan tetapi berhasil ditangkis Sasuke. "Dia adikku! Dan aku berhak atas apa yang akan dia ambil nantinya! Aku tidak mau ia terluka hanya karena pria bejat sepertimu!" teriak Sasori.

"Sasori.." gumam Pain.

"Aku baru menyadari.. kalau aku mencintai Sakura.. aku takut kehilangannya.." jelas Sasuke.

'DEG!' jantung Pain serasa berhenti berdetak saat itu juga. Pengakuan ini.. sungguh menyakitkan hatinya, entah kenapa.. ia juga tidak tahu. Pain mencengkram dadanya sendiri yang terasa sangat sakit, ia menatap dadanya. 'Kenapa?' gumamnya dalam hati. "Kenapa kau menyakitinya jika kau mencintainya?" tanya Pain.

Sasuke menatap Pain. "Kita akan merasa mencintai seseorang jika kita telah kehilangannya," sahut Sasuke. "Aku yakin kau mengerti," gumam Sasuke.

'BUAGH!'

"Jauhi Sakura! Cukup sampai di sini saja kau menyakitinya!" bentak Pain setelah memukul wajah sang Uchiha.

"Siapa kau? Siapa kau dalam hidup Sakura?" tanya Sasuke sambil memegangi pipinya yang bonyok dipukul Pain.

Pain terdiam, "aku bukan siapa-siapa bagi Sakura.. tapi Sakura adalah seseorang yang berharga bagiku.. dan aku, tak akan membiarkan kau menyakitinya untuk yang kesekian kalinya!" jelas Pain.

Sasori hanya diam melihat debat dua pria yang sama-sama mencintai imootonya itu.

Sasuke memutuskan untuk pergi menjauh dari Pain, karena malas berdebat dengan brandal tak penting bagi Sasuke.

Malam harinya~

"Sakura, kau mau makan?" tanya Pain.

Sakura menggeleng pelan sambil tersenyum. "Kau ini siapa? Aku tidak ingat siapa kau," tanya Sakura.

Sasori yang berada di sisi kiri Sakura tersenyum simpul.

"Aku Pain," sahut Pain sambil tersenyum pada Sakura.

Sakura membalas senyum Pain.

'KREEKK' suara pintu yang dibuka.

"Sakura?" panggil orang yang baru datang itu.

Sakura tersenyum, "Sasuke-kun?" panggil Sakura.

Pain terdiam, ia menatap Sasuke sarat akan emosi yang membuncah.

"Sasuke-kun? Kau siang tadi kenapa tidak menjengukku? Tadi Naruto dan yang lainnya datang loh?" ucap Sakura antusias.

"Benarkah? Aku tadi siang membereskan kamarku.. maafkan aku ya?" sahut Sasuke.

Pain yang melihat Sasuke dan Sakura semakin dekat merasa terasingkan di sana. Kebaikan Pain pada Sakura belakangan ini tidak Sakura ingat, karena ingatan itu sudah terbuang dari otaknya. Pain memilih keluar dari ruangan itu. Ia merasa jantungnya, hatinya terasa berhenti beraktivitas. Ia seperti mati rasa saat ini.

Keesokkan harinya~

Sasori terbangun dari tidurnya, ia melihat Sasuke yang tertidur di sisi kanan ranjang Sakura. Ia mencari sosok Pain, tapi tak ketemu. Lalu ia berjalan keluar dari ruangan Sakura, betapa terkejutnya Sasori melihat Pain yang tertidur di lantai di depan ruangan Sakura. "Pain? Eh, maksudku bos besar?" panggil Sasori sambil menggerak-gerakkan tubuh Pain.

"Hn~?" Pain perlahan membuka matanya. "Ada apa Sasori?" tanya Pain.

"Kenapa kau tidur di sini?" tanya Sasori. "Apa tidak ada perawat yang menyuruhmu masuk?" tanyanya lagi.

"Aku tidak sanggup melihat kedekatan Sakura dengan Sasuke.. entah kenapa, aku lebih memilih mati daripada melihat hal itu," jelas Pain.

'PUK.. PUK..' Sasori menepuk pundak Pain.

"Tak ada yang tak mungkin, jika kau berusaha untuk mendapatkan hati Sakura, pasti bisa.. pasti.." semangat Sasori.

Pain hanya menatap Sasori hambar.

"Nii-chan~" tiba-tiba suara Sakura terdengar dari dalam ruangan. Sasori pun berlari menghampiri imootonya itu.

"Ada apa?" tanya Sasori.

"Aku sudah agak baikan, malam ini aku ke pesta dansa dengan Sasuke-kun ya?" pinta Sakura dengan jutsu andalannya.

Sasori pun luluh dan mengizinkan, akan tetapi, Sasori minta Pain ikut bersama dengan mereka.

Malam harinya~

"Pain-senpai, bagaimana penampilanku?" tanya Sakura pada Pain yang sedari tadi menemaninya berdandanria.

Pain merona melihat penampilan Sakura yang sangat anggun, begitu mempesona. "Bagus," Pain berujar sembari menutupi rona merah di pipinya.

Sakura begitu senang malam itu.

Sesampainya di Gedung Budaya, tempat di selenggarakannya pesta dansa a la remaja~

"Wahh~"

"Cantiknya~"

"Siapa dia~?"

Banyak orang yang kagum dengan penampilan Sakura yang sangat rupawan.

"Sasuke-kun~!" teriak Sakura sembari berlari lalu memeluk Sasuke yang berdiri di tengah aula dengan stoicnya.

"Ah? Kau? Sakura?" tanya Sasuke tak percaya. Sakura begitu menawan malam ini.

Pain yang sedari tadi nguntiti saja kini mojok sembari melihat pemandangan yang tak mengenakan, melihat Sasuke dan Sakura berdansa dan menjadi objek perhatian banyak orang.

"Wah~ wanitanya cantik dan prianya tampan.. cocok sekali.."

"Serasi sekali~"

"Aku iri!"

Teriakan demi teriakan berkumandang meihat aksi Sakura dan Sasuke yang berdansa seperti pangeran dan putri dari kerajaan.

Pain pun memutuskan untuk keluar dari pemandangan itu dan memilih untuk mennyendiri di bangku taman belakang yang sunyi dan gelap.

"Sasuke-kun? Kenapa orang-orang menatap kita?" tanya Sakura heran disertai rona merah di pipinya karena malu.

"Tidak usah pikirkan mereka, yang penting nikmati saja malam ini untuk kita berdua," sahut Sasuke sambil terus menatap mata Sakura hangat. Ia tak mau melepaskan momen berharga seperti sekarang.

Saat tiba-tiba musik berhenti, lampu aula tersebut jadi padam.

"Perhatian semuanya!" ucap seseorang yang mereka pikir adalah MC acara malam itu.

"Kenapa pakai dimati'in segala sih lampunya?" keluh Sakura.

Sasuke mendekap Sakura, "aku ada di sini.. tenang saja.." ucap Sasuke.

Sakura tersenyum, tapi sayang.. senyum Sakura tak dapat dilihat Sasuke karena keadaannya tidak mendukung. Lampu aula tersebut dimatikan.

"Aku akan mengumumkan sebuah pengumuman penting pada kalian. Kebenaran yang selama ini tersembunyi, kebenaran yang selama ini ditutupi." Ucap MC tersebut.

'Sepertinya, suara ini sangat familiar,' pikir Sasuke.

Tiba-tiba lampu menyala focus pada si MC dan Sasuke yang berdiri di tengah aula tersebut bersama Sakura.

.

.

~TBC~

.

.

A/N:

Bahahahaha!

Anda masih belum beruntung.. mungkin di chap selanjutnya akan ada lemonya.. mungkin..

Bahaahahahaha!

Baca saja chap selanjutnya..

Tapi sebelumnya, tinggalkan review kalian semuanya..

JANGAN LUPA COBLOS BIRU-BIRU DI BAWAH INI!