Tittle : You and I

Author : Katniss Jung

Genre : YAOI, Sad, Drama, Romance

Type : Twoshoots

Backsound : You and I – Boyfriend, Thank You – D-Unit ft. Beenzino, Locked Out of Heaven – Bruno Mars, Angel – EXO

Summary : Aku tidak pernah menyesal kita pernah bersama. Setiap detik dan setiap menit terasa menyenangkan ketika bersamamu. Jika aku bisa memutar waktu, aku memilih untuk kembali bersamamu. Jika aku terlahir kembali, aku tetap ingin bisa bersamamu.


Halo, halo!

Chapter dua dataaang (sekaligus jadi ending)

Terima kasih untuk yang sudah memberika review sekaligus support untuk saya. Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk FF-FF selanjutnya T^T *nangis derp kaya chanyeol*

Langsung aja ya! Check this out!

WARNING : YAOI!


** You and I **

Luhan tidak dibiarkan pulang oleh dokter hingga orang tuanya datang. Sementara orang tua Luhan saat ini sedang kembali ke Beijing untuk mengurus pekerjaan mereka. Kemungkinan orang tua Luhan datang sekitar dua hari lagi. Jadi, mau tidak mau ia harus dirawat di rumah sakit.

Luhan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Aku menungguinya semalam suntuk. Aku tidak tidur karena aku takut Luhan butuh bantuan. Yang aku lakukan hanyalah duduk di sofa sambil mengamati Luhan yang tertidur pulas.

"Sehunnie.." Luhan terbangun jam tiga pagi.

"Ne ?" aku mendekatinya.

"Aku haus."

Aku meraih gelas yang berada di meja. Lalu mendudukan Luhan agar ia bisa minum.

"Gomawo." Luhan menyerahkan gelas itu padaku setelah menghabiskannya.

Aku duduk di pinggir kasur. Luhan menatapku sambil terus tersenyum. Sangat manis.

"Apa yang membuatmu bangun sepagi ini, hm ?" tanyaku sambil menggenggam tangan kirinya.

"Eobjanha," jawabnya sambil membalas genggaman tanganku.

"Jinjja ?"

"Ne. Aku hanya haus." jawabnya sambil tersenyum.

Untuk beberapa saat aku terus menatap wajahnya yang sayu itu. Luhan memang cerdas. Ia tak hanya pintar menyelesaikan rubik dalam waktu kurang dari dua menit. Ia juga pintar bersandiwara. Bahkan ketika dokter mengatakan ia sudah sempat bangun di ruang unit gawat darurat, ia masih saja bersikap bahwa ia tidak tahu apa-apa.

"Sehunnie.." ia membuyarkan lamunanku.

"Ne, Hyung ?" jawabku gugup.

"Jangan melamun." ia mencubit pipiku. Wajahku memanas.

Aku baru tersadar. Luhan masih memanggilku 'Sehunnie' meskipun kami sudah tidak ada hubungan apa-apa.

"Hyung.." panggilku. Tatapannya kembali mengarah padaku setelah beberapa saat ia mengamati kantung infus yang digantungkan di sebelahnya.

"Ne ?"

"Kau masih memanggilku Sehunnie ?" tanyaku sambil menatap lurus ke matanya.

Luhan tidak menjawab. Ia juga tidak melepaskan tatapannya. Ia masih terus membalas tatapanku. Seolah sedang menghipnotisku. Aku bisa lupa sekelilingku. Yang ada di fikiranku sekarang adalah Luhan.

"Ne. Karena.. menurutku kau paling pantas dipanggil Sehunnie.." jawabnya, masih sambil menatapku. "Dan Sehunnie.. aku rasa darahku mulai naik ke selang infus." lanjutnya.

Aku mengalihkan pandanganku ke punggung tangan kiri Luhan. Dan benar saja. Darah mulai terlihat di selang dekat jarum infus. Ia tersenyum geli, mungkin karena melihat ekspresiku yang aneh.

"Luhan Hyung, tunggu sebentar, aku akan memanggil suster. Tahan sedikit, O.K ?" aku berlari menuju pintu.

"Ne. Jangan teburu-buru. Nanti kau jatuh!"

Aku bisa mendengar Luhan terkekeh sebelum aku menutup pintu.

** You and I **

Matahari sore bersinar lembut di atas sana. Tidak terlalu terik, tapi juga tidak terlalu redup. Sangat pas untuk sekedar berjemur di awal musim semi.

Aku menepis cahaya matahari langsung dengan tangan kananku. Cahayanya terlalu menyilaukan. Tiba-tiba sebuah tangan meraih tanganku. Menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jariku, lalu menggenggamnya erat.

Aku menoleh dan tersenyum. Tersenyum pada Luhan yang berbaring tepat di sampingku.

"Ada apa ?" aku menurunkan tanganku.

"Tidak ada."

Luhan kembali memejamkan matanya. Sudah lebih dari satu jam kami berbaring di sini, di taman rumah sakit tempat Luhan dirawat. Luhan sendiri yang meminta untuk diantar ke taman - bahkan ia masih memakai pakaian rawat inap. Ia ingin berbaring di atas rumput, melakukan hobinya yang selama empat bulan tidak ia lakukan karena musim dingin.

"Luhan Hyung, hari sudah hampir gelap. Ayo kita masuk." ajakku.

Luhan tidak menjawab. Ia masih memejamkan matanya. Aku bisa melihat dengan jelas, Luhan tersenyum. Bahagia. Ia terlihat sangat damai.

"Aku ingin di sini. Sepuluh menit lagi saja.." akhirnya ia menimpali, "Bersamamu." lanjutnya.

Wajahku memanas.

Luhan masih menginginkanku.

"Geurae."

Luhan kembali mengangkat tanganku yang berada di genggamannya. Ia mengamati cincin yang masih tersemat di jari manisku. Ia tersenyum manis. Lalu merabanya beberapa kali. Aku tak tahu apa yang ia maksud. Jujur aku malu. Malu karena masih mengenakan cincin itu – sementara Luhan sudah tidak mengenakannya.

"Kau masih memakainya," ucap Luhan.

"Tentu. Aku tidak pernah melepasnya." timpalku.

Luhan memasukkan tangannya yang lain ke dalam bajunya. Lalu mengeluarkan kalung yang ia kenakan. Mataku membulat sempurna.

"Aku juga."

Aku tidak menyangka jika Luhan masih menyimpannya. Rasanya seperti mimpi saja. Aku kira hanya aku yang masih menyimpan cincin ini dan masih terbayang-bayang masa lalu. Aku salah. Luhan tidak melupakanku.

"Aku orangnya sedikit ceroboh untuk hal-hal semacam ini. Aku takut cincin ini hilang. Makanya aku memakainya di kalungku."

Luhan terus mengamati cincinnya.

"Aku mencintaimu, Hyung." bisikku.

** You and I **

Luhan sudah diperbolehkan pulang – tentu saja setelah orang tuanya menemui dokter yang merawatnya. Ia sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Berangkat kuliah, bekerja part time, berkumpul dengan teman-temannya, serta kegiatan-kegiatan yang biasanya memang ia lakukan.

Dan sampai sekarang, aku masih belum memberitahu Luhan bahwa aku sudah mengetahui penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya. Aku tak ingin membuatnya menjauhiku, atau bahkan membuatnya merasa dikasihani. Aku hanya ingin bersama Luhan dan membuatnya nyaman.

Sudah selama dua minggu ini kami terus berkomunikasi. Sesekali aku mengajaknya berjalan-jalan keluar pada Sabtu malam. Tak jarang ia mengunjungi apartemenku – dengan alasan ingin menemui Baekhyun, Jongin, atau siapa pun yang tinggal denganku. Atau aku berkunjung ke rumahnya yang berada di Anyang.

Luhan tidak diizinkan oleh orang tuanya tinggal sendiri lagi. Jadi, terpaksa ia harus kembali ke rumah orang tuanya yang berada di Anyang. Sedikit lebih jauh. Tapi bukanlah sebuah masalah besar bagiku untuk mengunjunginya di waktu luangku.

Ya ampun, aku melamun tentang Luhan lagi.

Aku menoleh ke sekeliling, memastikan bahwa tidak ada yang menyadari bahwa aku melamun di taman dan tersenyum tanpa sebab. Bisa-bisa pamorku turun dan dianggap sedikit sinting karena terlalu workaholic.

Tiba-tiba pandanganku menutupi mataku dari belakang.

"N-Nuguseyo ?" tanyaku sambil berusaha melepaskan tangan orang itu dari mataku.

Orang itu tertawa ringan. Aku tersenyum tipis. Jelas, aku tahu siapa orang ini.

"Luhan Hyung, geumanharago!" Luhan semakin tertawa terbahak-bahak.

"Aigo, kau sudah hafal suaraku," ia melepaskan tangannya. Lalu duduk di sebelahku. Bibirnya sedikit berkerut. Mungkin ia kesal karena aku bisa menebak dengan mudah.

"Tentu saja," jawabku santai sambil meregangkan lenganku.

"Sudah selesai kuliah ?" tanya Luhan.

"Sudah," jawabku. Aku menurunkan tanganku perlahan. Lalu merengkuh bahu Luhan. Ia sedikit tersentak. Aku mendapati pipinya bersemu merah. Tapi ia tidak melakukan apapun.

"Sudah makan siang ?" tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk. "Aku lapar," ia mengelus perutnya.

"Eoh ? Uri Hyungi lapar ?" aku juga ikut mengelus perutnya.

"Ya! Geumanhaja!" ia menyingkirkan tanganku dari perutnya. Wajahnya semakin memerah. Aku tertawa.

Aku bangkit. Lalu mengulurkan tanganku. Luhan tampak kebingungan. Ia menatapku dengan penuh tanya. Benar-benar seperti anak kecil.

"Ikut aku," ucapku singkat.

"Kemana ?"

Aku meraih pergelangan tangan Luhan dan menariknya – sedikit memaksa. Luhan tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengikutiku.

** You and I **

Aku tidak tahu sejak kapan aku dan Luhan sudah berada di amusement park. Padahal baru satu jam yang lalu kami berada di McD karena Luhan lapar. Yang jelas, saat ini kami sedang naik kereta gantung. Menikmati pemandangan senja dari atas sini.

Luhan sedang menikmati pemandangan sambil memakan es krim cokelatnya. Aku juga melakukan hal yang sama. Sesekali aku melirik Luhan yang duduk di hadapanku. Ia terlihat sangat menikmati.

"Sehunnie.." tiba-tiba Luhan bersuara saat aku sedang memperhatikannya agak lama. Tapi ia tetap memandang keluar.

"Ne ?"

"Kalau naik kereta gantung, aku jadi ingat sesuatu. Bagaimana kalau kereta gantung ini tiba-tiba berhenti karena rusak ? Seperti di film dan drama. Pasti sangat lucu," ia tersenyum lebar sambil menatapku. Aku terkekeh pelan.

"Iya. Pasti sangat lucu. Apalagi kau 'kan takut ketinggian, Hyung!" candaku. Wajahnya memerah.

"Tidak! Aku tidak takut ketinggian!" ucapnya. Lalu ia mencubit pahaku.

"Hyung, apo!" aku meringis kesakitan sambil mengusap bekas cubitan Luhan.

"B.. Buktinya, aku tidak takut sekarang!" sambungnya. Ia membuang tatapannya keluar jendela. Aku terkekeh.

Tiba-tiba, kereta gantung berhenti bergerak. Menimbulkan suara derakan besi. Luhan menatapku panik. Ia menjatuhkan es krimnya karena takut. Lalu, beberapa detik kemudian terdengar suara alarm dari speaker kecil yang berada di pintu kereta gantung ini.

Luhan terlihat semakin panik. Ia menggenggam erat tanganku yang berada di atas pahaku. Suara alarm itu berhenti. Lalu terdengar suara dari speaker kecil itu lagi. Suara seorang perempuan yang aku yakin adalah suara dari resepsionis amusement park ini. Suara itu menginformasikan agar penumpang kereta gantung tenang dan menunggu beberapa saat karena ada kerusakan pada mesin.

"Sehunnie, eottokhae ?" Luhan melempar tatapannya ke bawah. Dengan cepat aku menutup matanya.

"Jangan melihat ke bawah."

Aku tak mau Luhan mulai menangis. Sebenarnya ia takut ketinggian. Aku tahu itu. Tapi ia tidak pernah mengaku. Bahkan ia berusaha menutupinya dengan selalu mengajakku bermain wahana yang berhubungan dengan ketinggian. Begitulah Luhan. Tidak ingin terlihat lemah.

"Sehunnie.." ia kembali bersuara. Aku bisa merasakan telapak tanganku basah. Pasti ia menangis.

"Hyung, uljima.."

Aku duduk di sebelah Luhan, merengkuhnya ke dalam pelukanku. Tubuhnya bergetar hebat. Telapak tangannya dingin dan basah. Ia pasti sangat ketakutan.

"Hyung, jangan takut. Ada aku di sini," ucapku sambil mengelus rambutnya.

"Aku ingin turun," ia menimpali.

"Kita akan turun. Secepatnya."

Luhan tidak lagi bersuara. Ia masih berada dipelukanku. Bahkan ia mengeratkan dekapannya.

"Hyung.." panggilku. Ia mengangkat wajahnya. Matanya sembab.

"Ne ?"

"Apa kau... mencintaiku ?" tanyaku.

Matanya membesar. Pipinya memerah. Ia melepaskan dekapannya. Ia mengusap air matanya. Oh Sehun, kau bodoh.

"Mengapa.. bertanya seperti itu ?" Luhan menunduk.

"Aku.. hanya ingin tahu."

Luhan tersenyum tipis. Aku tidak berani bertanya apa-apa lagi. Sudah cukup aku bertanya hal sebodoh tadi. Aku tidak ingin membuat Luhan semakin tidak nyaman. Apalagi hingga membenciku. Aku bisa gila.

"Ya, Sehunnie, apa kau tau sebuah dongeng tentang dua ekor cumi-cumi ?" tanya Luhan.

"Tidak. Aku belum pernah mendengarnya," jawabku.

"Pada zaman dahulu, hidup dua ekor cumi-cumi. Mereka saling jatuh cinta." Luhan menarik tangan kiriku. Ia mulai menempelkan ibu jarinya pada ibu jariku.

"Mereka bergandengan tangan. Semakin dekat."

Ia menempelkan jari telunjuknya pada jari telunjukku.

"Semakin dekat."

Ia menempelkan jari tengahnya pada jari telunjukku.

"Semakin dekat."

Ia menempelkan jari manisnya pada jari manisku.

"Hyung, pasti kau mengarang cerita," komentarku. Ia terkekeh.

"Tidak," ia menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jariku, lalu menggenggamnya erat. "Aku hanya mengambilnya dari sebuah film."

"Tsk!" aku mencubit hidungnya.

"Aku belum selesai bercerita!" protesnya.

"Lanjutkan." aku mengalah.

"Mereka hidup bahagia, bersama. Namun, pada suatu hari, salah satu dari mereka tertangkap oleh nelayan. Jadilah si cumi-cumi yang lain hidup sendiri," Luhan memandang lurus. Tatapannya berubah kosong. Beberapa saat kemudian ia tersenyum. "Sehunnie, menurutmu, bagaimana perasaan si cumi-cumi yang ditinggalkan kekasihnya itu ?"

Aku tahu kemana arah pembicaraan Luhan. Aku bisa merasakan mataku memanas dan mulai berair. Bayangan-bayangan tentang Luhan meninggal dan aku hidup sendiri mulai bermunculan di otakku. Rasanya hampir gila.

Aku menoleh dan merengkuh tengkuk Luhan. Aku memejamkan mata dan mendaratkan bibirku di bibirnya. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang – ia pasti sangat terkejut. Beberapa saat kemudian ia mulai membalas ciumanku. Ia mengecup bibirku beberapa kali. Kami terus berciuman hingga aku mencium bau anyir.

Aku membuka mataku. Lalu menjauhkan wajahku dari wajah Luhan. Ada darah di lubang hidungnya. Bahkan sudah mengalir hingga bibirnya. Ia mengusap darah itu. Ia tampak terkejut.

"Hyung kau mimisan! Apa kau baik-baik saja ?" Luhan tak menjawab.

Aku mengusap darah di hidungnya dengan menggunakan kaos yang aku kenakan.

"Sehunnie, geumanharago! Bajumu kotor!"

Luhan memprotes, tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena aku merengkuh tengkuknya dan membersihkan darah mimisannya.

Aku hampir menangis karena darahnya tidak mau berhenti. Aku hanya bisa terus membersihkannya. Luhan sudah menitikkan air matanya. Hal itu membuatku semakin panik dan ketakutan.

"Luhan Hyung, bertahan.."

Aku terus membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Aku sudah tidak peduli seberapa kotor kaos yang aku kenakan. Yang aku harapkan saat ini adalah kereta gantung ini selesai diperbaiki dan aku bisa membawa Luhan ke rumah sakit.

Rasanya seperti hampir gila. Luhan tidak bisa berhenti mimisan, kereta gantung tak kunjung berjalan, dan Luhan menangis. Aku semakin panik. Seolah-olah ada sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja di dalam kereta gantung ini.

"Sehunnie.." Luhan menyentuh tanganku yang sudah penuh dengan darahnya. Ia meraba cincin yang tersemat di jari manisku.

"Ne ? Apa kau pusing ?" tanyaku.

"Tidak," jawabnya. Ia mengusap air matanya. Lalu tersenyum padaku.

"Lalu ? Apa yang kau rasakan ? Mana yang sakit ?" tanyaku lagi.

"Sehunnie.. Biarkan saja seperti ini. Aku hanya ingin berada di pelukanmu sekarang."

Luhan menyandarkan kepalanya di dadaku.

"Oh Sehun, aku tidak pernah berniat berpisah denganmu. Sama sekali tidak. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa membiarkanmu tetap bersamaku. Semakin jatuh cinta padaku. Karena pada akhirnya, kita tidak akan bisa bersama lagi. Kau pintar, Oh Sehun. Kau pasti mengerti apa yang aku maksud."

Luhan menyamankan posisinya di dadaku.

"Aku tidak pernah menyesal kita pernah bersama. Setiap detik dan setiap menit terasa menyenangkan ketika bersamamu. Jika aku bisa memutar waktu, aku memilih untuk kembali bersamamu. Dan jika aku terlahir kembali, aku tetap ingin bisa bersamamu." ucap Luhan sambil memainkan kaosku yang sudah penuh dengan darahnya.

Aku memeluknya erat. Aku menangis.

"Biarkan seperti ini. Aku merasa sangat nyaman berada di pelukanmu." lanjutnya.

Aku memeluknya semakin erat.

"Oh Sehun,"

"Ne ?"

Tiba-tiba kereta gantung mulai berjalan. Secercah harapan muncul. Rasa panikku berubah menjadi euforia.

"Luhan Hyung, bertahanlah!" aku mengguncang lengan Luhan. Matanya mulai sayu.

"Tidak. Aku sudah lelah," timpalnya dengan suara pelan.

"Hyung! Kua tidak boleh berkata seperti itu!"

Bibir Luhan mulai memutih. Matanya semakin sayu. Ia menatapku dengan lembut. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.

"Oh Sehun, aku mencintaimu."

Dan mata Luhan mulai perlahan-lahan menutup.

** You and I **


"If reincarnation does exist, I still want to be with you."


** You and I **

Salju mulai turun perlahan-lahan. Jumlah laju mobil di jalanan mulai berkurang. Orang-orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Menikmati hangatnya perapian di ruang keluarga sambil bercengkerama. Atau mungkin menikmati sup kacang panas yang baru saja diangkat dari tungku.

Atau mungkin orang-orang sedang menghabiskan waktu di sauna. Atau mungkin di club malam ? Aku tidak peduli.

Sudah selama setengah jam aku duduk di sini, di bawah pohon mistletoe yang dipenuhi dengan lampu-lampu natal. Seperti sebuah lagu. Haha.

Aku memasukkan tanganku ke dalam saku mantelku. Sesekali aku menoleh ke arah barat, memastikan seseorang yang aku tunggu sedari tadi sudah terlihat atau belum. Tapi sejak setengah jam yang lalu, ia tidak datang juga.

"Sunbaenim!"

Seseorang memanggil namaku. Suaranya terdengar sangat familiar. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis berlari-lari kecil ke arahku. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Ia memakai mantel berwarna ungu tua dan penghangat telinga – yang berwarna ungu juga. Ia terlihat kesusahan berlari di cuaca sedingin ini.

"Sunbaenim, joesonghamnida. Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucapnya saat sudah sampai di hadapanku. Nafasnya memburu. Sampai-sampai ia kesulitan berbicara.

"Kau tau sudah seberapa lama aku menunggumu ?" tanyaku. Aku berdiri. Ia menunduk takut.

"S.. Satu jam ?" ia menebak. Ia masih menunduk sambil memainkan ujung mantelnya.

"Kurang lebih." timpalku cuek.

Untuk beberapa saat kami tidak saling berbicara.

"S.. Sunbaenim," panggilnya.

"Hm ?"

"U.. Untuk apa kau memerintahkanku datang ke sini ? Ini sudah sangat malam. Di luar dingin." akhirnya ia mengangkat wajah cantiknya itu. Aku menatap langsung ke matanya. Ia kembali menunduk.

Aku tersenyum tipis. Bagaimana bisa ada gadis secantik ini ?

Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana pertama kali kami bertemu. Ekspresinya ketakutan ketika ia dimarahi habis-habisan olehku dan Kris – ia tidak memakai atribut lengkap saat masa orientasi sekolah. Dan setelah itu kami tidak memiliki hubungan yang tidak terlalu baik. Tapi, aku sudah terlnajur jatuh cinta padanya.

"Sehun Sunbaenim ?" ia membuyarkan lamunanku.

"Mwo ?!" aku sedikit membentaknya. Ia terkejut. Lalu kembali menunduk.

"Di luar dingin. Dan.. dan aku harus segera pulang. Adikku di rumah sendiri," ia memainkan ujung mantelnya –lagi– dengan gelisah.

Tatapanku tertuju pada sebuah kalung yang ia kenakan. Kalung itu memiliki liontin sebuah cincin. Mataku membulat sempurna ketika menyadari bahwa cincin itu sama persis dengan milikku.

Aku mengangkat tangan kananku, mencoba membandingkan cincinku dan cincin milik gadis kecil ini. Sama persis, tidak ada bedanya.

"Dari mana kau mendapatkan ini ?" tanyaku sambil meraih kalungnya. Ia tampak terkejut.

"A.. Aku menemukan cincin ini saat aku membersihkan loteng rumahku yang baru. Apa ada yang salah ? Apa cincin ini yang membuatmu memanggilku ?" ia balik bertanya. Ia terlihat panik.

"Bagaimana bisa.." aku berkata lirih.

"Bisa.. apanya ?" tanyanya penasaran.

"Aku juga memakai cincin yang sama."

Aku mengangkat tangan kananku sambil menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisku padanya. Matanya membulat. Aku yakin ia sangat terkejut. Sama seperti aku –tadi.

Bagaimana bisa ? Aku mendapatkan cincin ini dari kakekku. Kakek bilang cincin ini sudah turun-temurun dan tidak mungkin ada yang menyamai. Aku rasa kakek berbohong soal cincin ini. Dasar laki-laki tua! Aku benar-benar dibodohi.

Aku mengamati tahun pembuatan cincin yang terukir di bagian dalamnya. 2012. Sekitar seratus tahun yang lalu. Sama persis dengan tahun pembuatan cincin yang aku kenakan.

Apa cincinku dan cincin Luhan sepasang ?

"Sunbaenim ?" Luhan membuyarkan lamunanku –lagi.

"Ish! Aku sedang berfikir, Bodoh!" ucapku.

"Tapi, aku harus cepat. Adikku di rumah sendirian,"

"Kau ingin ini menjadi cepat ?" tanyaku. Luhan mengangguk.

Luhan mendongak. Aku meraih dagunya, lalu mendekatkan wajahku pada wajahnya. Matanya membulat sempurna –lagi.

"Dengar, Luhan, jangan pernah biarkan Kris mendekatimu lagi," ucapku perlahan.

"W.. Wae ?" ia terlihat kebingungan.

"You're mine, now."

Aku mengecup bibirnya singkat. Ia semakin terkejut.

"Ikut aku."

Aku menarik syal yang ia kenakan.

"Ya! Sunbaenim! Apa yang kau lakukan ?!" ia memprotes.

Aku tidak mempedulikan Luhan. Aku terus menarik syalnya sambil tersenyum tipis. Luhan mengikuti dengan pasrah. Bahkan ia membiarkanku tetap menarik syalnya. Mungkin ia sudah menyerah dalam menghadapiku.

Sejujurnya, cincin itu masih menganggu pikiranku.

Bagaimana kami bisa mengenakan cincin yang sama ?

Apa ini takdir ?

Semoga.

Luhan, aku mencintaimu.

THE END


Ditunggu review nya ^^