Disclaimer:

Naruto belongs to Mashasi Kishimoto

We, and It's Meaning belongs to me

Warning: AU, OOC, Typo, Friendship, Romance (just a little bit, maybe), Bad diction, etc..

.

Author's Note: Anyeoooong… ^o^/

Ini chap 2 nyaaaa… ^ ^ saya senagaja menguploadnya pada hari yang sama dengan chap 1, karena mereka ini sebenarnya sepaket. Yaaaahhhh begitulah… hehehe

Fic ini tidak bercerita tentang kehidupan siapapun, dan tanpa unsur paksaan dari pihak manapun, semua kisah dan adegan dalam fic ini murni hasil imajinasi otak saya yang udah korslet sejak mimpi ketemu Akang Sasyuuuuuu.. (Sasuke-kun sweatdrop liat kesarapan author)

Dan seperti yang sudah saya bilang, fic ini saya persembahkan untuk sahabat-sahabat sayaaaaaa…. Dan juga untuk readers yang sangat saya cintaiiiiiii… :* (gombal)

Silahkan di lihat-lihat, kemudian di baca, lalu tinggalkan jejak anda melalui review… ^ ^

Don't Like? Don't Go Anywhere! Stay here, and read this Fic.. :D

Well..

Happy reading Minna… ^O^

.

.

We, and It's Meaning

~Believe, Happy and Smile~

.

.

Sinar matahari tampak berusaha memaksa masuk dari celah-celah ventilasi di kamar Sakura. Sinarnya yang hangat membangunkan salah satu dari keempat gadis yang tampak tertidur di kamar itu. Sakura menjadi orang pertama yang terbangun pagi itu. Ia merenggangkan badannya sejenak, lalu melirik jam yang diletakkan di atas meja di sampig tempat tidurnya. Pukul 07.20, ia kemudian melihat—atau tepatnya meneliti keadaan kamarnya. Ia tidur beralaskan kasur lipat di lantai, di sampingnya ada Ino yang tampaknya masih terlelap dalam alam mimpinya. Ia lalu melemparkan pandangan ke arah tempat tidurnya, di sana tampak Tenten yang masih belum sadar, di sampaingnya terlihat Hinata sedang tertidur dengan posisi duduk di kursi dengan berbantalkan lengan di atas kasur tempat tidur Tenten. Sepertinya gadis itu berjaga semalaman. Padahal Sakura sudah menyuruhnya bergantian. Sakura lalu bangun dan menyelimuti tambah tubuh Hinata dengan selimutnya. Setelah mencuci wajah dan menyikat giginya. Sakura kemudian berjalan keluar kamar. Ia harus menyiapkan sarapan untuk sahabat-sahabatnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 08.30, sudah satu jam lebih Sakura berkutat dengan bahan dan bumbu-bumbu masak di dapur. Setelah menata masakannya di meja makan, ia lalu berjalan menuju kamarnya.

Tempat yang tadi di gunakan dirinya dan Ino untuk tidur kini di isi oleh Hinata, sementara Ino tidak terlihat di sana. Sakura mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandinya.

"Ino-chan, kau di dalam?"

"Ya." beberapa saat kemudian Ino keluar sambil mengeringkan wajahnya. Sepertinya ia baru selesai mandi walaupun tidak membasahi rambutnya.

"Kau yang memindahkan Hinata?"

"Ya, kasihan dia kalau tidur dengan posisi seperti itu."

"Kau sangat kuat ternyata," Sakura tersenyum dengan pandangan kagum.

"Hinata tidak terlalu berat kok, bahkan sepertinya berat badannya semakin berkurang."

"Ya, ku rasa dia memang agak kurus akhir-akhir ini," Sakura membenarkan perkataan sahabatnya disertai ekspresi khawatir.

"Sepertinya dia ada masalah," Ino menarik kursi meja rias dan mendudukinya.

"Apa ibu tirinya menyiksanya lagi?"

"Tapi bukankah ayahnya sudah pulang kemarin?"

"Iya. Aneh sekali kalau dia menginap di rumahku sementara ayahnya pulang. Biasanya kan dia sangat senang jika ayahnya pulang dari urusan-urusan bisnisnya?"

"Apa dia punya masalah dengan Sasuke?" Ino mencoba menerka masalah Hinata.

"Entahlah, Hinata tidak cerita apa-apa."

"Anak itu, selalu saja seperti itu, dia tidak ingin kita khawatir, jadi ia selalu menyembunyikan masalah-masalahnya."

"Iya, itu pun dia baru akan bilang setelah kita mendesaknya. Seperti waktu dia dipukuli oleh ibu tirinya, Kalau kita tidak melihat bekas lebam di punggungnya waktu itu, mungkin sampai sekarang dia tidak akan pernah menceritakan masalah itu dan menanggungnya sendirian." Mata emerald Sakura tampak berkaca-kaca. "Dia selalu bilang tidak ingin kita khawatir, tapi sikapnya yang seperti ini malah membuat kita semakin khawatir kan?" lanjutnya seraya memperbaiki letak selimut Hinata yang berantakan kerena pergerakan gadis itu.

"Tapi kenapa Tenten belum sadar juga?" Sakura lalu berjalan ke samping tempat tidur Tenten dan mengukur suhu badannya. "37o" gumamnya.

"Bagaimana keadaannya?"

"Sudah lebih baik, demamnya sudah turun. Mungkin sebentar lagi dia akan siuman," ucap gadis pink yang sejak kecil punya cita-cita menjadi dokter itu. "Kita tunggu dulu mereka bangun baru sarapan bersama, aku mau mandi dulu ya." ia lalu melangkah menuju kamar mandinya.

Beberapa lama setelah Sakura masuk ke kamar mandi, Hinata tampak mulai membuka kelopak matanya. Setelah dirasa kelopaknya tidak begitu berat lagi, ia merubah posisinya menjadi duduk.

"Kau sudah bangun?" Tanya Ino yang melihatnya melalui cermin. Ia masih sibuk menata rambutnya.

"Siapa yang memindahkanku ke sini?" Hinata mengeluarkan suara pertamanya hari ini. Suaranya masih terdengar serak karena pengaruh baru bangun tidur.

"Kau berjalan sendiri, tidak ingat?" Ino membalik badannya. Kini penampilannya tampak cantik dengan rambutnya di ikat semua dengan model ponytail.

Hinata tersenyum.

"Apa Tenten-chan sudah siuman?"

"Belum tapi suhu badannya sudah turun."

"Syukurlah," ia tersenyum lagi.

"Kau sudah bangun Hinata?" suara Sakura tiba-tiba terdengar.

"Uhm!" Hinata mengangguk. "Sakura-chan sudah mandi?"

"Kau juga mau mandi?"

"Iya."

"Cepatlah, setelah itu kita sarapan bersama."

"Baik."

Tapi belum selangkah Hinata berjalan menuju kamar mandi, niatnya untuk mandi ia urungkan setelah melihat pergerakan kepala Tenten. Ia segera mendekat ke tempat tidur sahabatnya itu. Reaksi yang sama juga di lakuakan oleh Sakura dan Ino.

Tenten tampak perlahan mengangkat kelopak matanya. Setelah matanya mulai terbiasa dengan sinar yang masuk, yang pertama ia lihat adalah wajah sahabat-sahabatnya. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik melengkung.

"Kau sudah sadar? Apa yang kau rasakan? Bagian mana yang sakit?" Sakura langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.

Tenten menjawabnya dengan gelengan. Ia kemudian bangun dari posisi tidurnya, membuat ketiga sahabatnya sedikit khawatir. "Aku sudah tidak apa-apa Sakura-chan, terima kasih. Hinata-chan dan Ino-chan juga." Ketiga pemilik nama itu hanya mengangguk.

"Apa kau lapar? Biar aku ambilkan bubur untukmu."

"Tidak usah, aku ingin sarapan dengan kalian di meja makan." Tenten berusaha menunjukan senyumnya di bibirnya yang masih tampak sedikit pucat.

"Memangnya kau kuat?" Tanya Ino tanpa menyembunyikan ekspresi khawatirnya.

"Aku tidak apa-apa, aku kan atlit," ia tampak tersenyum lagi.

"Baiklah-baiklah," Sakura kahirnya mengiyakan keinginan sahabatnya itu.

"Lalu, bagaimana denganku?" Hinata menunjuk dirinya sendiri.

"Kau mandi dulu sana, biar aku dan Sakura yang membantu Tenten ke meja makan."

"Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu ya, tunggu aku!" Hinata segera melesat memasuki kamar mandi.

.

.

Di meja makan kini sudah tampak keempat gadis itu sudah berkumpul untuk menikmati sarapan mereka, atau masihkah bisa disebut sarapan padahal waktu sudah menunjukan pukul 10.00. Sudah hampir siang. Sebelum memulai sarapan, mereka masing-masing memanjatkan doa singkat tanpa aba-aba dari siapapun. Masing-masing dalam hati mereka mungkin merasa harus memanjatkan syukur kepada Tuhan untuk nikmat yang mereka miliki ini, walaupun menu yang mereka santap terbilang sederhana, tapi mereka tetap menikmati sarapan mereka—yang sudah hampir dingin itu dengan senyum di wajah mereka. Hinata, Ino dan Sakura menyantap nasi goreng—yang dibuat oleh Sakura. Sementara Tenten menikmati buburnya.

"Hey, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Suara Sakura menginterupsi keheningan yang sempat tercipta. Ia memandang sahabat-sahabatnya secara bergantian meminta pendapat mereka, yang walaupun nantinya hanya kata persetujuan yang ingin ia dengar.

"Boleh," Hinata menjadi yang pertama memberi respon.

"Sepertinya akan menyenangkan," Ino menganggu-ngangguk sambil tersenyum.

"Tapi, Tenten-chan kan masih sakit?" kalimat Hinata membuat seluruh mata tertuju pada Tenten.

"Aku sudah tidak apa-apa kok," Tenten menyunggingkan senyum khasnya.

"Kalau begitu kita berangkat lusa saja, pasti saat itu Tenten sudah sembuh total." Usul Ino mendapat persetujuan dari sahabat-sahabatnya.

Keputusan sudah dibuat, mereka akan pergi berekreasi dua hari mendatang, sampai hari itu tiba mereka hanya bermain di rumah Sakura atau sambil mengerjakan beberapa pekerjaan rumah bersama-sama, seperti mencuci piring, memasak, atau bersih-bersih. Ketika sedang bekerja biasanya mereka tidak membiarkan Tenten turut serta, tapi ketika gadis yang suka mencepol rambutnya itu memaksa, mereka hanya akan mengizinkannya melakukan pekerjaan ringan saja. Singkat kata, dua hari itu mereka habiskan untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah Sakura, walaupun sebenarnya itu tidak lagi dianggap pekerjaan oleh mereka, tapi sebagai permainan yang bisa semakin memupuk perasaan saling menyayangi diantara keempat gadis yang sama-sama masih duduk di bangku kelas dua SMA di Konoha Gakuen melakukan semua pekerjaan-pekerjaan itu dengan senang hati, karena semua itu terasa lebih ringan ketika mereka melakukannya bersama-sama dan dalam suasana yang ceria, karena di selingi tawa dan candaan dari masing-masing mereka. Dimana berkotor-kotaran, atau bermain air bukan lagi masalah buat mereka. Menghabiskan waktu bersama sahabatnya merupakan obat yang paling ampuh untuk mengobati luka hati mereka masing-masing, bahkan walaupun keberadaan luka itu tidak pernah di ketahui sebelumnya oleh sahabat-sahabatnya. Masalah-masalah itu serasa hilang dari hati mereka. Ketakutan akan kekhawatiran sahabat dan keyakinan akan sembuhnya luka itu seiring berjalannya waktu menjadi alasan untuk mereka memutuskan tidak akan larut lagi dalam penderitaan itu. Mereka bersama, mereka saling memiliki satu sama lain, dan tanpa mereka sadari, mereka telah saling membangun kekuatan yang besar dalam diri sahabat-sahabat mereka.

.

.

Hari itu pun tiba. Mereka sudah merencanakan tempat-tempat yang akan mereka kunjungi. Dan perjalaan mereka dimulai dengan berbelanja pakaian bersama. Yang ini adalah idenya Ino. Pastinya.

Dengan percaya diri mereka melangkah masuk ke dalam Namikaze Departement Store. Ino langsung menyeret ketiga sahabatnya untuk melangkah ke bagian pakaian wanita. Mereka mulai memilih-milih pakaian mana yang kira-kira cocok untuk mereka.

"Sepertinya yang ini cocok untukmu," Ino mengangkat sebuah gaun selutut berwarna soft purple.

"Cantik sekali." respon Hinata ditujukan pada gaun itu. sepertinya ia juga menyukai pilihan sahabatnya.

"Cobalah!" Ino menyerahkan gaun itu kepada Hinata.

Hinata lalu masuk ke dalam ruang ganti. Sedangkan Ino kembali memilih-memilih gaun untuk dirinya.

"Ino-chan, menurutmu yang ini bagaimana?" Sakura menunjukan sebuah terusan berwarna pink muda yang dipadukan dengan sedikit warna pink tua. Ino meneliti baju itu, memang sangat cocok untuk Sakura. Terusan itu tidak terlalu panjang, kira-kira beberapa senti di bawah lutut, warnanya pun berpadu dengan sangat apik, ditambah dengan renda di bagian bahunya yang tidak berlengan, gaun yang sempurna. Menurut Ino, Sakura cocok menggunakan terusan karena kakinya yang jenjang, dan warna pink sangat cocok dengan imagenya yang sangat girly.

"Itu bagus sekali, sangat cocok untukmu," Ino tersenyum.

"Benarkah? Baiklah, aku pilih yang ini saja," ia lalu melangkah menuju ruang ganti berpintu dua tersebut. Tapi langkahnya untuk masuk terhenti ketika ia melihat Hinata keluar dari salah satu pintu ruang ganti.

Sakura takjub melihat penampila Hinata. Gaun selutut dengan lengan pendeknya yang sedikit mengembung. Sakura tersenyum.

"Hinata-chan, kau cantik sekali!" suara Sakura berhasil menarik perhatian kedua sahabatnya yang tadinya tengah sibuk memilih-milih baju.

"Benarkah? Terima kasih Sakura-chan," rona merah tampak muncul di pipi Hinata.

"Kalau begitu aku juga akan mencoba gaunku."

Hinata hanya mengangguk. Kemudian Sakura masuk ke dalam ruang yang tadi di gunakan Hinata.

"Aku rasa aku sudah menemukan bajuku." kini suara Tenten yang terdengar.

"Aku juga." sambung Ino.

Keduanya saling bertatapan dan tersenyum.

Ditangan kanan Tenten tampak sebuah T-Shirt cewek berwarna biru muda dan sebuah cardigan yang sangat cantik berwarna biru tua. Sementara di tangan kirinya ada sebuah celana jeans panjang. Penampilan yang tidak terlalu feminim memang, tapi sangat cocok dengan kepribadian Tenten yang merupakan seorang atlit tekwondo itu. Tapi dipastikan Tenten akan terlihat sangat cantik mengenakannya. Dan benar saja, ketika dia sudah berganti pakaian, Tenten terlihat emm.. Sempurna.

Terakhir, giliran Ino yang tampak berjalan menuju ruang ganti dengan membawa sebuah gaun berwarna putih. Tidak butuh waktu lama baginya untuk berganti pakaian, ia lalu keluar dengan penampilan yang bisa di bilang luar biasa, padahal baju yang dia pilih tidak terlalu mewah, hanya gaun selutut tanpa lengan dengan renda dan bunga-bunga kecil berwarna kuning. Tapi Ino tampak sangat cantik mengenakannya.

Keempatnya kini sudah mengenakan pakaian mereka masing-masing. Pakaian itu yang akan mereka gunakan untuk berjalan-jalan sepanjang hari ini. Biasanya gadis-gadis akan pergi ke salon untuk menata rambut mereka, tapi keempat gadis ini tidak. Mereka sudah melakukannya sebelumnya ketika di rumah, karena mereka punya ahli dalam hal itu. Sakura. Tapi hanya rambut Hinata dan Tenten saja yang Sakura tata, karena ia tahu Ino bisa melakukannya sendiri, walaupun pada akhirnya Ino hanya menggerai saja rambut pirangnya yang sepunggung itu. Walau tanpa hiasan apapun di rambutnya Ino tampak sangat cantik sekarang dengan balutan gaun putihnya.

Pada Hinata, Sakura mengepang sedikit rambut Hinata di kedua sisinya kemudian menyatukan kepangan itu dibelakang. Ia jatuhkan poni tebal Hinata sepenuhnya ke depan. Tatanan rambut yang tidak terlalu rumit memang, tapi Sakura sudah membuat Hinata sangat cantik hari ini, terlebih rambutnya sangat cocok dengan baju soft purple yang kini digunakannya.

Sementara pada Tenten, Sakura tidak membiarkan gadis itu mencepol rambutnya sekarang. Ia mengikat tinggi semua rambut coklat Tenten dan sedikit ke samping. Rambut Tenten yang lurus alami itupun tampak terjatuh dengan indah di bahu sebelah kanannya. Sakura sengaja membuatnya terlihat sedikit feminim tanpa menghilangkan kesan sporty-nya. Sakura tampak sangat puas dengan hasil kerjanya itu, begitu juga dengan Tenten, walaupun sebelumnya ia merasa aneh dengan penampilannya, tapi entah kenapa ia menyukainya. Intinya Tenten terlihat sangat cantik dengan rambut itu, juga dengan stelan birunya.

Yang terakhir Sakura, ia hanya memasang sebuah bando dengan hiasan pita putih di atas rambut pinknya yang hanya sebahu. Kesan girly sangat tampak dari gadis penyuka warna pink ini. Ia sempurna dengan terusannya yang tentu saja berwarna pink juga.

Keempat sahabat itu kini sudah siap melakukan perjalanan mereka. Tujuan selanjutnya adalah usulan dari Sakura, taman bermain.

Ok, let's go to have fun!

.

.

Keempat dara cantik itu tidak menyadari bahwa mereka sudah menjadi pusat perhatian sejak pertama kali mereka memasuki taman bermain ini. Tatapan-tatapan kagum dari kaum adam, yang sekaligus juga heran kenapa gadis-gadis cantik seperti mereka bukannya datang dengan pasangan malah datang dengan teman-teman mereka. Dan juga tatapan iri dari gadis-gadis lain ketika mereka berjalan di hadapan mereka. Pokoknya mereka itu sekarang tampak…. Berkilau.

"Ayo naik itu!" Sakura menunjuk wanaha yang diinginkannya. Ketiga pasang mata lain mengikuti arah yang ditunjuknya. Roller coaster.

Hinata menggeleng cepat. "A..aku tidak ikut."

"Ayo Hinata, kau harus mencobanya sekali-sekali!" Sakura merangkul lengan Hinata dan membawanya ke arah wahana yang menurut Hinata ekstrim itu. Sedangkan kedua sahabatnya yang lain ikut saja, mereka tampak tidak terlalu takut.

Setelah giliran mereka tiba, mereka lalu mengambil tempat. Hinata duduk dengan Sakura, sedangkan Ino bersama Tenten di belakang mereka.

Hinata mulai meremas gaunnya ketika dirasakannya roller coaster itu bergerak. Dan ketika kecepatannya tiba-tiba meningkat Hinata tidak tahan untuk berteriak. Tanpa sadar ia berteriak sangat kencang seraya menutup matanya rapat-rapat. Sakura yang berada di sampingnya hanya tersenyum melihat Hinata. Walaupun sebenarnya ia juga masih merasakan sedikit ketakutan ketika roller coaster itu melewati jalur-jalurnya yang melengkung.

Hinata merasa seperti hidup kembali ketika 'benda' itu berhenti bergerak. Wajahnya sudah tampak pucat pasi. Ketiga sahabatnya merasa sedikit bersalah padanya karena memaksa Hinata yang penakut itu untuk mencoba wahana-wahana ekstrim.

"Hinata, kau baik-baik saja?" Tanya Tenten ketika mereka menduduki sebuah bangku di taman itu.

"Kepalaku pusing," Hinata mengeluh sambil memegangi kepalanya.

"Tenang saja, sebentar lagi juga hilang." sekarang Ino yang bersuara.

"Maafin aku yah Hinata-chan, hm.. bagaimana kalau ku traktir ice cream? Kau mau?" Sakura sedikit membungkuk di depan Hinata yang kini duduk di bangku.

Hinata hanya mengangguk.

"Baiklah, tunggu di sini yaaa."

"Aku ikut!" Tenten tampak sudah berdiri.

"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri, kalian temani Hinata saja. Sekalian akan aku belikan untuk kalian juga. Rasa yang biasanya kan?"

Ino dan Tenten juga hanya mengangguk.

Sakura berlari-lari kecil menuju ke sebuah stan penjual ice cream. Beberapa meter sebelum ia sampai ke stan itu, ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Pria yang baru-baru ini mendapatkan pernyataan cinta darinya. Pria yang sudah menolaknya. Kini tengah berjalan dengan seorang wanita yang umurnya sepertinya satu atau dua tahun lebih muda darinya. Pria itu tampak sangat bahagia menggandeng jemari sang wanita, mereka sepertinya saling mencintai. Sakura tidak tahu kalau senseinya itu ternyata sudah memiliki kekasih, jadi gossip ia jomblo itu bohong belaka?

'Pantas saja ia menolakku, dia sudah memiliki wanita yang lebih cantik dan dewasa' bathin Sakura dalam hati.

Entah karena ia terlalu fokus dengan sensei-nya atau apa, tiba-tiba saja seseorang menabrak Sakura dan menumpahkan ice cream ke gaunnya. Sakura mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang melakukan ini padanya.

"I'm so sorry, are you ok?" wajah penabraknya yang ternyata seorang pemuda itu tampak khawatir.

Sakura hanya mendengus kesal sambil membersihkan gaunnya.

"Kau tidak apa-apa? Gunakan ini untuk membersihkan bajumu."

Sakura lagi-lagi melihat ke arah pemuda itu, kali ini karena mendengar bahasanya. Sakura pikir pemuda itu hanya bisa berbahasa asing di lihat dari rambut kuning dan mata birunya.

"I'm. Fine. Thanks." ucap Sakura tegas kemudian berlalu dari hadapan pemuda itu dan berjalan menuju stan yang menjual ice cream.

Sementara si pemuda, hanya memasukan kembali saputangannya yang tidak di terima Sakura tadi ke saku celananya. Padahal ia hanya ingin berbuat baik. Beberapa saat kemudian pemuda itu pun berlalu.

Sakura akhirnya kembali ke tempat teman-temannya yang sudah menunggu.

"Kenapa lama sekali Sakura-chan?" Hinata bertanya seraya menerima ice cream yang di serahkan Sakura.

"Maaf, tempatnya sangat ramai."

"Kami pikir terjadi sesuatu denganmu," Ino menggeser sedikit tubuhnya untuk memberikan tempat sakuar untuk duduk.

"Jadi, kita mau naik wahana apa setelah ini?" Tanya Sakura kemudian.

Tenten berdiri. "Bagaimana kalau yang itu?" lanjutnya sambil menunjuk sebuah wahana. Hinata lagi-lagi menganga.

Kemudian mereka pun kelmbali melanjutkan bermain. Mereka benar-benar bersenang-senang. Mereka mencoba hampir semua wahana yang ada di taman bermain itu. Seperti tidak ada lelahnya, jika sudah selesai dengan wahana yang satu mereka akan berpindah ke wahana yang lain, dan setiap kali itu pula Hinata akan selalu menggerutu. Namun lama kelamaan gadis bersurai indigo itu mulai menikmati setiap permainan yang mereka mainkan. Mereka larut dalam canda tawa.

Hari sudah menjelang sore ketika mereka keluar dari taman bermain itu. Senyum masih terukir jelas di wajah mereka. Mulutnya pun tak henti bercerita tentang perasaannya pada setiap wahana yang di cobanya.

Mereka kemudian masuk ke dalam mobil Sakura yang tadi juga digunakan untuk datang ke taman ini. Kemudian tanpa membuang waktu lagi, mereka berangkat ke tempat tujuan selanjutnya yang merupakan usulan Hinata. Bukit kecil di dekat sekolah mereka.

.

.

Awalnya mereka heran, mengapa mereka harus ke sini. Bukankah ini tempat yang sering mereka lalui jika berangkat dan pulang sekolah? Apa bagusnya ke sini?

"Apa kalian tahu, kita bisa melihat sunset yang sangat indah dari sini," Hinata tersenyum seraya mendudukan dirinya di atas rerumputan.

"Benarkah?" Ino, Sakura dan Tenten serentak membulatkan matanya.

"Sebentar lagi matahari akan terbenam," ucap Sakura sambil duduk di samping Hinata. Yang kemudian di ikuti oleh Ino dan Tenten yang duduk di sampingnya. Jauh di seberang sana, mereka bisa melihat pegunungan yang seperti mengelilingi kota Konoha.

Menit demi menit telah berlalu, kini sudah tampak Sang mentari yang terus merangkak ke balik pegunungan. Berkas cahaya merah jingganya menyebar dari balik pegunungan. Untung langit sedang tidak berawan sekarang, jadi mereka bisa menikmati keindahan yang akan segera di suguhkan oleh alam melalui keindahan langit senjanya.

Di atas langit yang mereka tatap itu, kini tampak sebuah lukisan perpaduan warna yang indah, berpadu di atas sana warna biru—dari birunya langit, jingga, merah jambu dan sedikit warna ungu. Jika di gabung dengan warna beberapa awan tipis yang masih tampak putih bersih maka sempurnalah mahakarya itu.

Lalu jika melemparkan pandangan jauh ke arah barat daya, di sana tampak sebuah lukisan yang sangat indah yang tidak pernah ditemukan di pameran manapun di dunia ini, lukisan pepohonan dan gedung-gedung yang berbaris tidak rapi di pinggir pantai yang airnya memantulkan sinar sunset yang merah keunguan. Di atasnya, di balik rona merah yang membahana terbang beberapa burung yang hendak kembali ke sarang mereka. Burung-burung itu tampak sangat kecil dari tempat mereka berada sekarang, hingga mereka tidak bisa menerka apakah itu burung camar atau burung jenis lain.

Sinar matahari di pegunungan tinggal sedikit bagian atasnya yang terlihat. Alam mulai gelap. Udarapun terasa semakin menggigit.

"Indah sekali," ucap Sakura disertai senyum kagumnya.

"Kanpa kau baru memberitahu kami sekarang tentang ini Hinata?" Ino berlagak melotot ke sahabatnya itu.

"Iya, tega sekali kau setiap hari menikmati pemandangan yang indah ini sendirian," Tenten ikut menimpali.

Bukan begitu, Hinata sendiri juga baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu itu, ketika ia kabur dari rumahnya hanya dengan sandal rumah. Hinata jadi ingat kejadian itu, sejak itu ia tidak pernah menelpon ke rumahnya lagi. Ayahnya pasti sangat khawatir. Tapi di sisi lain Hinata juga masih merasa sangat kecewa dengan ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya berbuat seperti itu?

"Hinata!" suara Sakura menyadarkan kembali Hinata dari lamuanannya."Kau melamun?"

"Eh, ma..maaf."

"Oh iya Tenten, apa kau tidak ingin menceritakan kepada kami kenapa hari itu kau datang tengah malam sambil hujan-hujan?" Sakura tiba-tiba membuka topik pembicaraan baru.

"Itu… sebenarnya aku kalah tanding tekwondo… jadi—"

Ketiga sahabatnya masih setia menunggu kelanjutan cerita Tenten.

"Seharusnya, jika aku bisa menang di pertandingan itu, aku akan di kirim ke Suna. Ku dengar ibuku berada di sana, aku ingin sekali bertemu dengannya dan membawanya ke Konoha untuk tinggal bersamaku."

"Kau sudah dapat kabar tentang ibumu?" Sakura membulatkan matanya.

"Iya, beberapa minggu yang lalu aku mendengar dia berada di Suna. Kemudian aku mendengar pengumuman mengenai pertandingan itu. Jadi aku berlatih dengan giat agar bisa memenangkannya, tapi ternyata kemampuanku belum begitu baik." Tenten menunduk sedih. Tidak biasanya ia terlihat lemah begini, karena dialah yang selalu menjadi tameng untuk sahabat-sahabatnya jika berada dalam bahaya.

Tapi masalah ibunya, menunjukan sisi rapuhnya, sisi alaminya sebagai seorang wanita. Ibu Tenten pergi meninggalkannya sejak ia duduk di kelas lima sekolah dasar. Waktu itu ibunya mengatakan padanya akan pergi bekerja, namun sampai sekarang tidak kembali-kembali. Bahkan keberadaannyapun sangat sulit untuk diketahui. Selama ini Tenten tinggal di rumah keluarga sepupu ibunya. Keluarga Inuzuka.

Tapi dengan kehidupannya yang cukup sulit itu, telah menempa dirinya menjadi sosok yang kuat. Sebenarnya setiap hari Tenten tidak pernah berhenti bersyukur karena masih memiliki orang-orang yang menyayanginya, keluarganya yang mau menanmpungnya. Dan tentu saja sahabat-sahabatnya yang sangat mencintainya. Dari merekalah sumber terbesar kekuatan Tenten. Jadi sebenarnya merekalah yang selama ini melindungi Tenten.

"Awalnya aku merasa sangat sedih dengan kekalahanku, sehingga aku tidak berani pulang ke rumah keluargaku. Aku waktu itu hanya melangkah saja tanpa tahu arah. Saat sadar, tahu-tahu aku sudah berada di rumah Sakura. Maaf karena sudah membuat kalian khawatir."

"Tidak, tidak apa-apa kok. Aku senang kau ke rumahku. Lain kali jika kau merasa sedih lagi, datang saja ke rumahku. Kapanpun itu, pintu rymahku selalu terbuka untukmu." Sakura senyunggingkan senyum manisnya.

"Iya, terima kasih. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa." Tenten turut tersenyum. "Aku tidak akan menyerah, aku akan terus berusaha mencari ibuku."

"Kami akan membantumu, Tenten-chan." Hinata kemudian bersuara. Kedua sahabatnya yang lain mengangguk.

"Terima kasih," matanya kini tampak berkaca-kaca.

"Ku rasa sebaiknya kau kembali dulu ke rumah keluargamu. Mereka pasti sangat mengkhawatirkanmu." suara Ino yang kini terdengar.

"Iya , aku juga berpikir begitu. Tapi maukah kalian mengantarkanku dan membantu menjelaskan kepada paman dan bibiku?"

"Tentu saja," jawab mereka bersamaan.

.

.

#Tenten's POV

Kami kini sudah tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar. Nama Keluarga Inuzuka tercetak di papan namanya. Aku membuka pintu gerbangnya, kemudian menyuruh sahabat-sahabatku untuk masuk. Ketika sudah berada di depan pintu rumah, entah kenapa aku mulai merasa khawatir. Aku takut akan dimarahi oleh paman atau bibiku.

Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, aku mulai mengetuk pintu berdaun ganda itu.

Tok tok tok.

Dan beberapa saat kemudian pintu tersebut terbuka dan terlihatlah bibiku berdiri di sana. Aku bersyukur bukan paman yang membukakan pintu.

"Tenten!" bibiku membulatkan matanya ketika melihatku. Ia lalu memelukku. "Kau kemana saja? Kau tidak apa-apa?"

"Aku tinggal di rumah Sakura, maafkan aku karena tidak mengabari Oba-san," aku menunduk.

Bibiku memandangi Sakura, dan yang lain bergantian. Ia kemudian tersenyum. "Terima kasih sudah menjaga Tenten."

"Sama-sama," jawab mereka serentak.

"Kalu begitu, kami permisi dulu. Sudah malam."

"Kanapa buru-buru? Makan malamlah dulu di sini!"

Aku mengangguk membenarkan ajakan bibiku.

"Ti..tidak usah. Kami permisi sekarang…" tolak Hinata halus.

"Baiklah, hati-hati kalau begitu."

"Hati-hati!" seruku pada mereka yang sudah mulai meninggalkan halaman kami.

Aku dan bibiku kemudian masuk ke dalam rumah. Ternyata pikiranku salah. Aku pikir akan dimarahi habis-habisan, apalagi oleh pamanku. Tapi sepertinya mereka percaya dengan alasanku yang mengatakan tinggal di rumah Sakura.

.

.

#Normal POV

Hinata dan Ino juga memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Karena menurut mereka mereka pasti sudah membuat anggota keluarganya khawatir dengan kehilangan mereka tanpa kabar.

Mereka bertiga kemudian berpisah di tengah jalan, Sakura mengantarkan teman-temannya hanya sampai depan jalan masuk ke kompleknya, itu atas keinginan mereka sendiri, Dan kemudian mereka berjalan kaki menuju rumah mereka masing-masing.

.

.

#Ino's POV

Setelah berpisah dengan Hinata dan Sakura, tidak butuh waktu lama bagiku untuk sampai di rumahku.

Rasanya seperti baru pulang dari rantauan di negeri seberang. Aku segera mendekati gerbang rumahku. Tampak di sana satpamku berdiri.

"Iruka-san, ini aku. Ino."

"Ino-sama? Anda dari mana saja tuan dan nyonya mengkhawatirkan anda," wajah pria yang sudah mengabdi sangat lama di keluarga kami itu terlihat terkejut dengan kedatanganku, namun bisa ku lihat juga raut senang di wajahnya.

"Aku tahu. Makanya, Ayo buka pintunya biar aku masuk."

"Oh, ma..maaf. silahkan Ino-sama," ia membukakan gerbang tersebut.

Aku melangkah melewati halamanku. Ku lihat di depan rumah terparkir sebuah sedan mewah berwarna hitam. Ada tamu ya?

Dengan perasaan ragu bercampur takut aku memasuki rumahku. Dan ternyata di ruang tamu, kedua orang tuaku sedang menerima tamu mereka yang sepertinya orang-orang penting. Aku berjalan menunduk mendekat ke arah mereka.

"Ino-chan!" suara ibuku yang pertama ku dengar. Aku berhenti, namun belum berani mengangkat kepalaku.

Ku dengar langkah-langkah mendekat kepadaku. Itu ibu dan ayahku.

"Dari mana saja kau?" kini suara berat ayah yang ku dengar. Dan nadanya sepertinya ia cukup marah.

"To..Tou-san, maafkan aku karena tidak menghubungi rumah, aku beberapa hari ini tinggal di rumah Sakura. Kalau ayah tidak percaya, ayah bisa menanyakan langsung padanya."

Ku dengar ayahku menghela napas lelah. Ia benar-benar marah. Aku semakin tidak berani mengangkat kepalaku.

"Kaa-san percaya padamu. Yang penting kamu tidak apa-apa. Kau baik-baik saja kan sayang?" berbeda dengan ayahku yang menunjukan kekhawatirannya dengan memarahiku. Ibuku benar-benar menunjukan rasa khawatirnya.

"Aku baik-baik saja Kaa-san," ucapku lirih.

"Syukurlah," kurasakan ibuku perlahan mengangkat daguku. "Kau pulang tepat waktu, hari ini orang yang akan dijodohkan denganmu juga datang."

Deg!

Jadi tamu yang sekarang duduk di sofa dengan posisi membelakangiku ini adalah keluaraga yang terikat janji dengan ayah dan ibuku? Aku jadi penasaran seperti apa orang yang ingin di jodohkan ibuku denganku itu. Yang membuatku sampai putus dengan Sai.

Ibu merapikan rambutku yang sedikit berantakan, kemudian meraih tanganku dan membawaku ke arah mereka.

"Ini putri kami yang saya ceritakan itu," katanya memperkenalkanku.

Mereka kemudian bangun dan berbalik, dan oh tidak! Apa aku sedang bermimpi?

"Hay Ino-chan," sapa seorang wanita yang sepertinya ibunya. Sedangkan seorang pria di sampingnya yang sepertinya suaminya hanya tersenyum simpul.

Aku tidak membalas sapaan ataupun senyuman dari kedua orang itu. mataku—yang sepertinya sedang membulat menatap pemuda yang kini tengah menyunggingkan senyum ke arahku.

Aku nyaris saja tidak percaya ini kenyataan. Bagaimana tidak? Pemuda ini, pemuda yang akan dijodohkan denganku ini. Adalah…

Kekasihku sendiri.

Sai.

"Sai-kun?" tanpa sadar namanya terucap begitu saja dari mulutku. Ku rasakan juga mataku mulai kabur oleh air mata yang siap meluncur.

"Kalian sudah saling kenal?" terdengar nada terkejut dari suara ibuku.

"Kami sebenarnya sudah pacaran selama tiga tahun, Okaa-san." Sai menjelaskan kepada ibuku.

"Benarkah?" ibu Sai juga tampak terkejut.

"Tapi kami sebenarnya sudah—" Aku tidak membiarkan Sai melanjutkan kalimatnya. Aku langsung memeluknya. Aku tidak peduli apapun sekarang. Aku merasa sanat senang.

"Seharusnya aku tidak memutuskanmu kalau aku tahu yang akan di jodohkan denganku itu adalah pacarku sendiri."

Aku melepas pelukanku.

"Jadi, kau memutuskanku bukan karena aku dijodohkan. Tapi karena kau yang di jodohkan?" aku membulatkan mataku.

"Sebenarnya sih dua-duanya. Aku tidak menyangka pilihan manapun yang aku pilih, melepas atau tetap mempertahankanmu, hasilnya akan tetap sama."

"Bodoh..bodoh!" gumamku yang tentu saja di tunjukan untuk pemuda di depanku ini. Ya, dia sungguh bodoh. Tapi aku mencintainya.

.

.

#Sakura POV

Jam di Hp-ku sudah menunjukan pukul tujuh malam ketika aku tiba di depan rumahku. Baru saja aku akan melangkah masuk. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku. Pemuda itu, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi aku tidak bisa ingat dimana atau kapan?

"Excuse me, how can I go to this address?" katanya seraya menunjukan sepotong kertas. Ia kemudian tampak melihat baik-baik wajahku. "Kau.. Nona Ice cream tadi kan?" serunya dengan mata membulat.

Nona Ice cream? Apa itu? sejak kapan namaku berubah jadi seperti itu?

Aku mendengus kesal. Entah kenapa melihat orang ini emosiku selalu saja naik. "Maaf, aku tidak mengenalmu. Alamat yang kau cari ada di situ." aku menunjuk rumah yang berada tepat di depan rumahku.

"Kau tinggal di sini? Ini rumahmu?" ia kini melihat-lihat rumahku, dengan pandangan bodohnya itu lagi.

Aku tidak menjawab, dan langsung membuka pintu gerbangku. Kemudian berjalan masuk meninggalkannya.

"Aku akan menjadi tetangga barumu, rumahku yang itu, namaku Namikaze Naruto. Salam kenal."

Ya tuhan kenapa ia harus teriak-teriak seperti itu? aku berusaha tidak menoleh padanya. Oh, siapa tadi namanya? Namikaze Naruto? Orang aneh. Namanya pun aneh, masa mirip dengan nama departemen store yang terkenal itu? Orang tuanya tidak kreatif sama sekali.

.

.

#Hinata's POV

Aku menelusuri jalanan menuju rumahku sambil mengenang kembali hal-hal yang ku lakukan dengan sahabat-sahabatku sepanjang hari ini. Jujur saja, sebenarnya aku masih belum ingin kembali ke rumahku, tapi kalau diingat-ingat lagi, aku belum mendengarkan penjelasan dari ayahku tentang masalah itu.

Kalau ingat ayahku, entah kenapa aku juga jadi ingat dengan seseorang…

"Hinata?" suara itu, betapa aku sangat merindukannya beberapa hari ini.

Aku menoleh. "Sasuke-kun?"

"Kau sudah pulang dari rumah Sakura?"

"I..iya, aku merasa sudah lebih baik sekarang."

"Hn," ia tampak mengangguk.

Kami lalu berjalan dalam hening setelah itu. sampai kami tiba di depan rumahku.

Aku menghadap ke arahnya, berniat mengantarnya pergi.

"Aku masuk bersamamu ke dalam," katanya seraya membuka gerbang rumahku.

"Ta..tapi—" aku berusaha mengejar langkahnya yang semakin mendekati pintu masuk.

"Ayahmu akan memarahimu kalau kau pulang sendirian malam-malam seperti ini. Aku akan membantumu menjelaskan."

Tidak, kau belum bleh menemui ayahku sekarang. Bahkan aku sendiripun masih ragu untuk menemuinya.

"Ti…tidak usah. Aku akan menjelaskannya sendiri ke tou-san."

"Tapi aku ingin."

"Ta..tapi Sasuke-kun—"

Kata-kataku terhenti ketika seseorang membuka pintu. Awalnya aku pikir itu ibu tiriku, ternyata bukan. Siapa wanita ini?

"Siapa?" tanyanya.

"A..anda yang…Siapa?" aku memberanikan diri berbicara dengan orang ini.

Tiba-tiba Hanabi keluar. "Nee-chan sudah kembali? Ya ampun nee-chan kemana saja?" ku lihat Hanabi menangis kemudian ia menghambur ke pelukanku. "Ayo masuk nee-chan!"

"Ah, tu..tunggu," aku baru ingat dengan Sasuke-kun. "Sasuke-kun, terima kasih sudah mengantarku pulang."

"Hn," setelah menggumamkan dua konsonan itu, ia lalu berjalan keluar rumahku.

"Hm… to…tou-san ada dimana Hana-chan?" aku bertanya pada Hanabi seraya melangkah masuk. Sesekali kulirik wanita yang kini tengah menutup pintu tersebut.

"Hinata.." kulihat ayahku melangkah ke arah kami. "Hinata, maafkan tou-san.."

Aku masih membisu.

"Biarkan tou-san menjelaskan. Wanita yang dimaksud kaa-sanmu itu adalah wanita itu," ayahku menunjuknya dengan matanya.

Wanita itu dia? Dan tou-san membawanya masuk ke rumah? Sebenarnya apa hubungan tuo-san dengan wanita ini? Apa dia benar istri tou-san? Lagi?

Kurasakan wajahku mulai basah oleh air mata yang tiba-tiba jatuh.

"Dia, Bibimu. Sepupu jauh tou-san."

Aku mendongak. Jadi dia bukan istri tou-san?

"Maaf baru memberitahumu sekarang. Bibimu baru mendapatkan pekerjaan di Konoha, dan sedang mencari tempat tinggal. Jadi ayah mengizinkannya tinggal di sini sementara waktu. Tapi ibumu tidak setuju, dia tidak percaya pada ayah, dan tetap menuduh ayah menikah lagi." aku baru kali ini lagi mendengar ayah berbicara panjang lebar seperti ini.

"La…lalu okaa-san kemana?" tanyaku ragu-ragu.

"Dia pergi dari rumah ini. Baguslah. Itu lebih baik" sekarang Hanabi yang menjawab pertanyaanku.

Benarkah ibu tirku itu sudah pergi?

Entah aku harus merasa senang atau sedih. Yang jelas, benar yang dikatakan Hanabi, semuanya terasa lebih baik jika dia pergi.

Aku akhirnya tersenyum, dan berjalan menghampiri ayah. Aku memeluknya dan meminta maaf karena sudah salah paham padanya. Aku merasa bersalah, ketika mendengar ayah harus meminta maaf padaku.

Yang penting kini aku tahu, ayahku bukanlah orang yang suka menyakiti wanita seperti yang ku takutkan. Dia memang ayah yang paling hebat. Ayah terbaik yang pernah ada. Ayah yang sangat ku sayang.

.

.

#Normal POV

Masa liburan belum berakhir. Hinata memutuskan menghabiskan liburannya hari ini dengan bersepeda. Semalam ia sudah mengirimkan pesan kepada ketiga sahabatnya untuk berkumpul di bukit dan berangkat bersepeda bersama. Ia hari ini juga membawa sepatu Sasuke yang sudah diambilnya dari rumah Sakura. Gadis pink itu termakan saja kebohongan Hinata yang sudah di susunya dengan Sasuke dulu. Sepatu itu telah di cuci dan di masukan ke kotak. Siap untuk dikembalikan ke pemiliknya. Entah kenapa, jauh dilubuk hati Hinata tidak ingin mengembalikan sepatu itu.

Hinata mengayuh sepedanya menuju bukit. Dan sesampainya di sana dia tidak melihat siapapun. Benar-benar tidak ada siapapun, karena jalan ini biasanya memang hanya dilalui oleh anak-anak sekolah. Dan karena ini hari libur otomatis jalanan ini pun menjadi sepi.

"Sepertinya mereka terlambat." gumam Hinata seraya menyandarkan sepedanya pada sebatang pohon. Kemudian ia duduk di atas rerumputan. Menikmati udara pagi di tempat itu. Jika waktu ia datang menangis dulu adalah pertama kalinya ia melihat sunset yang indah di tempat ini, maka sekarang pertama kalinya ia merasakan udara dan matahari pagi dalam waktu yang lama di tempat ini.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Dan selalu saja, setiap kali Hinata ke sini, dia juga akan ada.

"Sasuke-kun," Hinata menoleh. "Aku sedang menunggu Sakura-chan dan yang lain."

Sasuke lalu duduk di samping Hinata. Tapi kemudian Hinata bangun karena teringat dengan benda yang harus dia kembalikan. Ia melangkah menunju tempat sepedanya di parkir dan mengambil kotak yang di letakkan di dalam keranjang sepeda itu.

"Te..terima kasih sudah meminjamkannya padaku," Hinata mengangsurkan kotak berwarna biru langit itu ke depan Sasuke.

Tapi pemuda berambut raven itu tidak tepatnya tidak mau menerimanya. "Kalau kau mau, kau boleh memilikinya."

Hinata menaikan alisnya.

"Dan bolehkah aku memiliki hatimu? Hinata?" Sasuke memandang tepat ke mata Hinata. Onyx dan lavender pun kini saling menatap.

Butuh waktu yang cukup lama untuk otak Hinata mengolah apa yang baru saja ia dengar. Sasuke-kun ingin memiliki hatiku? Sasuke-kun…

"Eh?" begitu informasi itu sudah tercerna dengan benar. Darah dalam tubuh Hinata langsung berdesir dengan cepat ke seluruh tubuhnya. Kerja jantungnya pun menjadi lebih cepat, sehingga tak butuh waktu lama untuk rona-rona merah menghias pipi Hinata.

Gadis itu pun tersenyum.

Entahlah, yang jelas Hinata merasa sangat bahagia.

"Ciyeeeeeeee.." tiba-tiba suara-suara pengganggu mengiterupsi moment indah mereka.

"Ciyeeee, jadian niyeeee.." Ino, Sakura dan Tenten, dengan wajah jahilnya berhassil menggoda dua insan di depan mereka.

Sasuke dan Hinata. Keduanya kini sama-sama merona.

*The End*

Hufttttt akhirnya selesai juga… ^^

Jadi, Nis.. apa kau suka? Harus suka yah… hahaha :D

Love u keluarga kecil ku… :*

Saya menyelesaikan fi ini di tengah suasana hati yang lagi berat banget, karena berada dalam bayang-bayang persiapan Ujian Semester Genap… T,T

Tapi saya takut, jika saya tidak menyelesaikan fic ini saya malah gak akan konsen dengan ujian saya… jadi, setelah fic ini rampung.. betapa bahagianya sayaaaaaa… ^O^ *plak (malah curcol)

Baidewei… adegan Sasu nembak Hina nya aneh benget ya… -,-' (frustasi)

Maaf kalau sudah membuat Sasu OOC begitu, tapi saya benar-benar gak tahu gimana kalau orang kayak Sasu nembak cewek, hehehe…

Tapi kalo Gaara-kun sih saya tahu, kan saya pacarnya… hahaha Kyaaaaa Gaaraaaaaaaaaa… ^/^

Maafkan atas semua kegilaan saya di atas… Semoga Fic ini bermanfaat, tidak hanya untuk mengisi waktu senggang kalian, tapi juga menjadi sesuatu yang akan mengingatkan, dan menambah rasa sayang kita semua kepada sahabat kita… hehehe ^^

Ok, saya mengucapkan terima kasih kepada reader semua yang udah baca fic saya ini… love u… :*

Kritik dan saran akan sangat membangun. Tapi flame akan membuat saya sedih… karena saya sepertinya tidak kuat jika harus menerimanya.. T,T

Akhir kata..

Gomawoyo… ^o^

Kata Terakhir..

Review please?

.

.

27th May 2012.