Lolly mau langsung aja^^


Disclaimer: Tite Kubo

Pesta Perpisahan


Pada malam acara perpisahan…

"Kamu turun duluan ya, aku nyari parkir…" kata Shiro tersenyum.

"Iya… aku tunggu di aula utama ya…" jawabku sambil keluar dari mobil yang baru saja kutaiki.

Setelah Shiro membawa mobil untuk diparkir, aku berjalan dengan perlahan menuju tempat yang tadi aku sebutkan, yaitu aula utama, tetapi tiba-tiba…

"Hei!" suara itu… suara yang menyebalkan itu, suara dari salah satu orang dalam kelompok bernama The Queen, kelompok yang sangat suka mengusiliku. Akupun memutuskan untuk menghiraukan mereka.

"Sombong sekali dia…" suara itu terngiang lagi di kupingku, dan pemilik dari suara itu menarikku paksa ke tempat yang sepi bersama teman-temannya.

"Au! Au!" aku meringis kesakitan, "Ada apa sih?" jawabku mencoba untuk santai.

"Kami hanya ingin tanya, mana pasanganmu?" Tanya seorang dari salah satu lima gadis yang berada di hadapanku, akupun hanya terdiam menjawabnya.

"Kamu ingat kan? Bagi yang tidak punya pasangan tidak boleh ikut dalam acara ini…" kata salah satu diantara mereka lagi.

"Aku salah satu panitia dalam acara itu…" jawabku singkat.

"Peraturan, tetap peraturan, mau kamu pemilik dari universitas ini juga tidak akan berpengaruh…"

"Aku punya…" jawabku tetapi terputus karena…

'Plok' mereka melempar telur ke rambutku.

'Whush' tepung-tepung pun bertebangan menuju wajahku.

"Ups… aku tidak tahu kalau sekarang salju sudah mulai turun." Kata orang yang muncul dari belakang, orang itu juga merupakan bagian dari The Queen.

"Apa sih mau kalian?" sahutku dengan kesal, aku tak kuasa menitihkan air mataku, jelas. Aku kira ini hari yang special, tetapi yang terjadi adalah kebalikannya, hari yang buruk.

"Mau kami? Kami mau kamu pergi! Jangan muncul di hadapan kami lagi! Kami benci… kamu telah rampas kepo-" omongan mereka terputus.

"Cukup!" suara laki-laki yang sepertinya Shiro.

"Gyaaa! Hitsugaya Toushiro!" teriak salah satu dari the Queen itu, ternyata benar itu Shiro, tapi bagaimana mereka tahu.

"Oh! Yang masuk majalah kemarin yaa! Gyaa! Kenapa kamu ada di sini? Nyariin aku ya?" pd sekali dia.

"Kalian ini, ga malu hah!" semuanya terdiam, "Kalian berbuat seperti ini ke dia, tapi kalian masih sempat berbicara seperti itu." Katanya tegas.

"Jangan hiraukan dia…" kata seorang dari The Queen santai.

"Bagaimana bisa aku tidak menghiraukan dia! Dia orang yang special bagiku, dan dia sekarang dalam keadaan begini…" aku hanya menatap Shiro dengan sedikit kaget.

"Haa? Bagaimana bisa?" kaget ketua dari The Queen itu.

"Apa urusannya dengan kalian? Sekarang kalian pergi! Kalian ga punya kerjaan? Di dalam banyak makanan." Kata Shiro menuntunku menuju parkiran, semua anggota dari The Queen hanya bengong melihat kami, dan banyak orang yang melihat kami saat berjalan menuju parkiran.

Setelah sampai di parkiran, akupun berdiri di depan mobil dan menangis, hatiku sesak sekali.

"Sudah-sudah…" kata Shiro yang berada di sebelahku, sedangkan aku masih terus menangis, tak peduli ada berapa pasang mata yang melihatku.

"Hiks… Shiro, aku sedih sekali hiks…" kataku sambil sedikit tersedu-sedu.

"Aku tahu…. Sampai kamu nangis kaya gini… lebih baik kita pulang, nanti rambutmu tambah kusut." Sarannya mencoba menenangkanku.

"Aku, hiks… tidak mau… hiks…" jawabku, aku ingin sekali ke acara itu, acara itu sudah mau dimulai, sedangkan Shiro hanya menatapku dengan khawatir.

"Terus gimana dong?" tanyanya.

"Momo…" suara perempuan yang lebut sekarang menemani kupingku.

"Rukia?" ya, dia sahabatku sejak kecil Kuchiki Rukia.

"Kamu diusilin sama The Queen lagi ya? Sekarang mereka benar-benar keterlaluan." Rukia mengepalkan tangannya.

"Hitsugaya… aku pinjam Momo ya." Kata-kata itu membuatku mendongakan kepalaku yang tadinya menundukan.

"Aku ingin, saat dia kembali , dia sudah menjadi angsa yang cantik…" jawabnya dengan nada yang menantang.

"Sip bos. Kaya ga tau aku aja…" jawabnya semangat.

"T-tapi, acaranya kan lima belas menit lagi." Kataku dengan nada kaget.

"Terus kamu mau diam disini… menangis, di acara yang sudah kamu tunggu-tunggu gitu? Momo, apa sih yang ga bisa dilakukan Kuchiki Rukia?" jawabnya yang membuatku sedikit tersenyum, Shiro hanya tersenyum puas dan mengangguk.

"Baiklah… aku tunggu kalian di aula utama." Jawabnya sambil beranjak pergi.

Aku pun mengikuti Rukia yang menarikku secara paksa, "Pak! Kita ke rumah! Cepat!" katanya tegas ketika duduk di bangku mobilnya.

"Apa tida apa-apa? Nanti mobilmu lengket…" jawabku dengan tidak enak.

Dia hanya menjawabnya dengan senyuman penuh arti, tak lama setelah aku berfikir, kita sudah sampai di rumah Kuchiki yang setara dengan rumahku, sepertinya ini benar-benar cepat.

Dia langsung menarikku, ke salah satu ruangan di rumahnya itu dan disitu sudah terdapat tiga orang bepakaian pelayan sedang santai, "Hei! Tolong sahabatku dong! Dia dikerjai dengan anak-anak kampus, aku yang memilihkan bajunya, temanya pink pastel. Dalam sepuluh menit." Jawab Rukia sambil melihat ke jam dengan yakin, sedangkan aku? Aku langsung ditarik oleh dua orang yang sepertinya pelayan itu, dan perawatanpun dimulai.

Sungguh, cepat sekali mereka melakukan ini, mereka… luar biasa, pada saat tujuh menit berlalu, Rukia datang dengan membawa baju dan sepatu yang cukup lucu, dress pink pastel, dengan lengan yang mencapai siku tanganku dan pita besar di belakangnya, dan bawahnya yang berenda sehingga tampak mengembang. Sepatunya juga tak kalah lucu, high heels yang tidak terlalu tinggi, berwana pink bercampur perak, aku selalu suka gaya fashionnya.

"Momo… ayo cepat kamu ganti baju ini." Katanya dengan tergesa-gesa.

"Iya…" jawabku dengan cepat , mengambil baju dan sepatu itu lalu pergi ke ruang ganti, hmmm… aku merasa aku tidak cocok dengan pink pastel ini tapi tidak apalah ini darurat, setelah memakai bajunya akupun keluar.

"Bagus Momo… sekarang masuk mobil…" aku hanya mengikuti tarikan tangannya dengan pasrah.

Aku pun masuk mobil dan mobilpun berjalan menuju sekolah… sama saja, seperti tadi mobil ini sangat cepat, entah supirnya habis minum arak atau apa aku juga tidak mengerti.

Pada saat mau turun mobil Rukia menambahkan sedikit hiasan, yaitu bandana pita pink pastel, dan kalung pita, yang dibawah pita tersebut terdapat tiga mutiara kecil, entah seperti apa penampilanku sekarang.

"Ayo masuk…" Rukia, yah… menarikku lagi, masuk ke dalam. Sepertinya acara sudah dimulai karena ada keheningan dan satu suara yang bergema seperti dari mike.

Pada saat Rukia membuka pintu, hampir semua mata tertuju pada kami, Rukia tidak menghiraukannya, dia terus masuk dan menuju dimana Shiro sedikit melambaikan tangannya.

"Kamu berhasil Rukia." Kata Hitsugaya pelan sambil tersenyum.

"You don't believe me…" Rukia pun memperhatikan pembukaan yang sedang dilakukan di depan.

"Princess?" tanyanya yang membuatku menoleh

"Prince." Jawabku sambil mengaitkan jari kelingkingku ke kelingkingnya yang diangkat, lalu melepaskannya lagi.

…..

Acara dansa pun dimulai, tetapi aku memutuskan untuk menuju taman saja, aku tidak bisa berdansa.

Angin semilir menemaniku sendirian di taman, aku memandang langit penuh bintang sambil menghela nafas.

"Tadi itu…" omonganku terputus karena tiba-tiba ada yang duduk di sebelahku.

"Kenapa kamu sendirian disini, kamu ga mau dansa?" Tanya pria berambut putih yang baru saja ada di sebelahku.

"Umm… aku kan ngga bisa Shiro." Shiro hanya tersenyum medengar jawabanku.

"Kamu selalu menyangkal soal dansa…" Shiro menggeleng, "apa kamu mau dansa di langit lagi kaya dulu.." akupun menggeleng.

"Tadi aku benar-benar bingung…" aku tersenyum sambil menatap bingung.

"Aku tahu… bingung, takut, malu, bercampur jadi satu… pasti itu kan rasanya?" Shiro sepertinya berusaha menebak.

Aku hanya mengangguk, sambil menyenderkan kepala di pundak Shiro lalu memandang bintang.

"Bintang hari ini indah dan penuh arti..."

To be continue


Selesai chapter dua! Lolly update kilat kali ini, nah Lolly mau ngucapin terima kasih ya yang udah mau baca...

Walaupun chapter satu ga ada review gapapa kok^^ tapi kalau maaf ya, kalau ceritanya mengecewakan... kali ini chapter dua please review ya, jangan lupa always read my story and enjoy^^