Akhirnya! Freir bisa kembali setelah lama gak update! Nah, readers yang berbahagia selamat membaca!
I will be exposed, be shattered,
become rusty, and rot away,
and even the absurd gossips
will be washed away and become truths
Suara langkah kaki menggema di lorong gelap tanpa cahaya. Anak laki-laki itu berbelok dan membuka pintu dapur. Ia mengamati sekelilingnya sebentar sebelum mengambil pisau besar yang tergeletak di meja pantry yang berdebu. Ia tersenyum lalu terkikik sampai akhirnya tertawa keras. Tiba-tiba, ia berhenti.
Anak laki-laki itu berbalik dan berlari pergi sambil menenteng pisau itu. Ia berlari sampai ke kamarnya dan melemparkan pisau itu ke ranjang. Ia kembali berjinjit di jendela dan kali ini, ia hanya menatap sesuatu di balik gerbang rumahnya.
"Hei, hei, Shizuo-kun. Kau dari Tokyo 'kan? Kenapa pindah ke sini?"
"Hei, Tokyo itu bagaimana 'sih?"
"Ceritakan dong!"
Shizuo hanya diam dan mengabaikan pertanyaan sejumlah anak perempuan yang mengelilinginya saat piket. Ia terus menyapu di dekat loker penyimpanan. Kadang-kadang perempuan itu bisa cerewet sekali. Mereka terus saja mengekor karena ingin menanyakan topik yang sama terus; Tokyo. Shizuo memutuskan untuk menghiraukan saja dan terus menyapu sampai jam piket berakhir. Ya, rencana yang lumayan bagus.
"Hei, Heiwajima! Sudah merasa jadi raja, ya?!" seru salah satu anak laki-laki sambil berkacak pinggang.
"Haah?" Shizuo berbalik dan menatap anak itu. Apa lagi ini?
"Mentang-mentang dari Tokyo, jadi belagu gitu! Enak banget 'yah." Anak laki-laki itu tertawa diikuti beberapa temannya.
"Yuu, orang kota kayak dia pasti lemah. Lihat aja adiknya itu!" seru salah satu anak laki-laki yang lain.
Dahi berkedut.
"Iya, iya! Anak yang 'gak punya ekspresi itu loh, adiknya Heiwajima Shizuo~"
Dahi berkedut. Dahi berkedut.
"Padahal dari Tokyo, tapi ibunya cuma kerja jadi pelayan!"
Dahi berkedut. Dahi berkedut. Dahi berkedut.
Suara sapu patah terdengar dari arah Shizuo. Semua orang jadi terdiam. Anak-anak perempuan yang dari tadi mengelilingi Shizuo mulai mundur karena takut.
"Hei, brengsek." Shizuo menatap sekumpulan anak laki-laki itu yang mulai berkeringat dingin karena aura gelap Shizuo.
"Jangan." Shizuo berjalan ke loker penyimpanan.
"Pernah." Shizuo memegang loker penyimpanan itu dan mengangkatnya.
"Mengejek KELUARGAKU!" Shizuo berbalik dan melemparkan loker itu ke arah anak laki-laki itu. Untungnya loker itu meleset dan cuma menabrak beberapa meja kosong yang seketika menjadi hancur. Sekumpulan anak laki-laki itu terdiam. Dan akhirnya, menangis kencang.
Shizuo berdiri di lorong dengan tangan diperban dan ia menunduk menatap lantai. Di sebelahnya Kasuka berdiri dengan tenang. Saat ini mereka berdua sedang berada di luar ruangan kepala sekolah.
Sesaat kemudian pintu kayu besar itu dibuka dan ibu Shizuo keluar dari situ. Ia tersenyum sedih saat melihat Shizuo, yang membuat hati Shizuo sedikit sakit, dan wanita itu mengajak kedua anaknya pulang.
Saat mereka berjalan pulang, semua mata mencibir menatap ke arah mereka. Hati Shizuo terasa sakit.
Sakit sekali.
Padahal ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri agar tidak melakukan hal bodoh seperti ini lagi. Padahal ia sudah mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia benci kekerasan. Padahal ia sudah berjanji untuk melindungi ibunya dari rasa malu.
Tapi, nyatanya, ia melakukannya lagi.
Air mata nyaris menggenang di pelupuk mata Shizuo. Ia menggingit bibir untuk menahan dia agar tidak menangis.
"Nii-san." Kasuka menatap Shizuo dengan ekspresi datar, namun di matanya menyiratkan rasa khawatir.
"...Aku tidak apa-apa, Kasuka."
Anak laki-laki itu terus menatap keluar jendela di kamarnya. Saat sepertinya hal yang biasa ia lihat untuk dinikmati berlalu pergi, ia berjalan ke arah ranjangnya.
Ia menatap pisau besar yang kini tertancap di kepala boneka beruangnya dan tersenyum polos. Ia mencabut pisau itu dan mengangkatnya tinggi seakan mengganggumi benda itu. Ia mendekatkan pisau itu ke wajahnya dan di balik kilauan pisau itu, ia melihat wajahnya sendiri yang sedang tersenyum lebar menakutkan. Ia menjilat pisau itu perlahan, merasakan adanya rasa darah dan debu samar-samar.
"Hei, aku ingin tahu. Kapan kau akan jadi milikku?"
I threw away the emptied coffee can
And looked up at the darkened sky
What am I doing with myself?
I don't even know that
I don't know anything anymore
Maaf kalau pendek. Freir sedang berantem dengan salah satu teman baik Freir dan agak 'merusak' mood Freir jadinya. Ohya, Freir baru bikin facebook buat akun Freir ini. Silakan semuanya ADD! *promosi promosi*
Dan terakhir, review!
SPOILER: Di chapter berikutnya, Shizuo akan diculik oleh anak laki-laki yang suka tertawa sendiri itu lho~
