Moon

Phase Two : Bella Luna

©kosukefan – brainproject

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : Canon Universe, slight angst, fluff, OOC, and this is crack so don't like? Don't read!

Rated M for a reason, cigarettes, maybe 'something' in later chapters

Pairing : ShikaHina, ShikaTema, NaruHina

"Sang awan berarak mendekati bulan, ingin membuat sang bulan melupakan matahari,"

(Shikamaru POV)

Malam ini bulan purnama terlihat jelas dengan sedikit awan yang menutupi keindahannya. Aku duduk di jendela yang terbuka lebar untuk memenuhi penglihatanku dengan satelit Bumi yang ada di hadapanku itu. Angin hari ini membuatku teringat dengan putri Suna yang dekat denganku. Dia tidak tahu bahwa aku menyukai Hinata-hime. Aku tahu kedekatannya denganku akan membuat orang-orang berpikir aku menyukai Temari. Mungkin lebih baik seperti itu karena aku tak ingin membuat orang-orang sadar atas perasaanku yang sebenarnya, terlebih Hinata.

Aku mendengungkan beberapa melodi yang tak terdefinisi. Melihat bulan tanpa perasaan bosan sekalipun. Ini caraku untuk mengingatnya dalam hidupku. Duduk di jendela pada malam hari dan tersenyum—mengingat bagaimana dia dapat mengubahku. Orang mengira aku pemalas padahal aku tidur di siang hari karena semalaman aku tak akan tidur. Menikmati setiap hembusan angin yang masuk ke dalam tulang. Memang dingin tapi tidak sedingin di dalam.

Air mineral dalam botol kutaruh di lantai dekat kakiku berada. Aku tidak dapat tidur di tempat tidur. Mengapa? Karena setiap kurebahkan diri di matras, aku membayangkan bahwa seandainya Hinata d di sampingku dan tersadar bahwa kenyataan itu jauh dari mimpiku tersebut. Selama setengah hidup sudah kuhabiskan untuk mencintainya tanpa sekalipun berani mengatakan satu hal tersebut. Dalam perkumpulan Rookie 9, aku lebih terlihat bersama dengan Temari atau Chouji. Ketika semua orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, aku melihatnya tersenyum dan berbahagia bersama dengan timnya dan tim Neji. Setidaknya itu lebih baik daripada melihatnya bersama Naruto dengan semburat merah di kedua pipinya. Lebih baik.

Tiba-tiba rasa lelah datang tiba-tiba. Mataku pun terasa berat dan tanpa sadar, malam ini, Nara Shikamaru tidur di jendela dengan pemandangan bulan purnama yang menyiratkan… bagaimana aku sungguh mencintai wanita itu, Hyuuga Hinata.

Aku masih ingat waktu Hyuuga Hinata pertama kali tersenyum kepadaku. Naruto bahkan sudah pergi untuk latihan bersama Jiraiya, sang sannin, selama setahun. Kami bertemu di pertokoan. Seperti biasa, aku yang pertama kali menyadari keberadaannya. Rambut biru yang ia punyai sudah melewati bahunya yang mungil dan terlihat indah di tengah musim gugur. Dia berbicara dengan tenang kepada penjual buah sebagai hasil latihannya untuk menjadi lebih kuat. Hyuuga Hinata, seorang penerus Hyuuga, yang ingin membuktikan kepada seluruh penghuni Konoha bahwa dia adalah seorang kunoichi yang hebat, bukan hanya sebagai perempuan yang berada di balik bayang-bayang kepopuleran Hyuuga.

Sebenarnya, saat itu aku hanya ingin memandanginya tanpa mengharapkan dia menyadari keberadaanku. Sebenarnya, aku hanya ingin tetap menyukainya tanpa berharap lebih dari apa yang ada sekarang. Jikalau dia bersama Naruto atau yang lainnya, aku tidak akan berkata apa-apa dan menjadi Nara Shikamaru yang seperti biasanya. Merepotkan.

Pikiranku ternyata melenceng dari kenyataannya. Beberapa detik setelah aku memahami fakta itu, dia menoleh ke arahku dengan wajahnya yang manis itu. Umur kami berdua sekitar 14 tahun dan aku sudah merasakan hal seperti ini kepadanya. Aku ingin dia menyadari apa yang sudah kurasakan dari pertama kali aku melihat wajah itu di pemakaman ibunya. Aku ingin suara halus itu—

"Nara-san?" –memanggil namaku bukan nama keluargaku. Walaupun suaranya itu sudah menenangkan apa yang berkecamuk di pikiranku.

Kami-sama, apa ini suatu yang salah?

Detik di mana dia menyadari aku yang sedang berdiri di sampingnya—tepatnya selalu berada di sisinya— membuatku terkadang ingin segera mengatakan semuanya ini, tetapi apa daya aku tidak bisa.

"Hyuuga-san,"

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Nara-san?"

Hinata selalu memperhatikan semua orang bahkan orang-orang yang sudah menyakiti hatinya. Dia selalu tersenyum kepada setiap orang yang dilaluinya. Mungkin hal tersebut yang membuat para tetua Hyuuga itu menganggapnya tidak berharga sebagai penerus Hyuuga. Lalu mengapa? Senyum dan perhatiannya kepada setiap orang itu yang membuatku tertarik kepadanya pada saat pertama kali. Tata bicaranya yang lembut dan bahasa tubuhnya yang halus yang membuatku terus menerus memperhatikannya selama bertahun-tahun ini.

Waktu itu, ketika dia mengatakan pertanyaan itu, aku bersyukur bahwa dia sangat perhatian kepada setiap orang karena jikalau tidak, aku tidak akan merasakan kupu-kupu yang berterbangan di perutku saat mendengarnya.

"Hanya berjalan-jalan saja, bagaimana dengan kau?"

"Ah, a-aku hanya ingin membantu para Bunke dengan membeli makanan untuk sebulan, I-Ini juga s-s-sudah mau pulang,"

Dia tersenyum dengan tulus dengan bibir merahnya yang ranum. Beberapa kata diucapkannya dengan terbata-bata tetapi dia sudah berusaha untuk tidak terlihat lemah. Kulitnya yang seputih kain sutra bergesekan dengan beberapa kantung belanja yang dia bawa. Hatinya yang polos tanpa noda dan kebaikannya untuk orang-orang yang bahkan tidak berharga untuk melihat senyumnya—termasuk aku.

"Ah, Hyuuga-san, sebaiknya saya menemanimu pulang, tidak baik seorang perempuan pulang sendirian,"

"A-Apa itu tidak apa-apa untuk Nara-san?"

Mata lavendernya sedikit melirik ke arahku dengan malu-malu. Dia sungguh manis dengan apa yang dilakukannya tanpa dia sadari. Beruntung untukku, hanya aku yang menyadari sebuah sisi yang menarik dari Hyuuga Hinata. Aku tersenyum tipis dan mengatakan—

"Seorang pria harus melindungi wanita," –ucapan yang sangat dibenci oleh Ino dan Temari-san.

Dia tersenyum dan mulai mengajakku untuk menemaninya pulang dengan gerak-gerik tubuhnya. Aku berpikir bahwa mungkin aku membuat kesalahan. Kami berdua berjalan dalam diam tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir kami masing-masing. Sesekali dia akan menatap ke atas langit dan tersenyum saat melihat birunya langit. Saat-saat itu pula, aku akan meneguk ludahku sendiri karena menyadari bahwa warna biru adalah warna mata Naruto.

Saat itu aku sadar, suatu saat aku harus menyerah dan merelakannya untuk seseorang yang lebih baik—mungkin Naruto atau orang lain. Walaupun pada kenyataannya…

Aku tidak pernah menyerah bahkan sampai bertahun-tahun setelah aku melihatnya berbalik dari pagar besar kediaman Hyuuga.

Bau tembakau yang menyengat dari sepuntung rokok ini memenuhi indra penciumanku. Rambut indah sebahu dari wanita yang sama dengan bertahun-tahun lalu itu kembali berjalan bersampingan denganku. Sesekali dia membalas sapaan beberapa penduduk Konoha dengan suaranya yang lembut, tetapi, walau kami sudah berjalan cukup jauh berdua, tidak ada yang berinisiatif untuk memulai obrolan. Mungkin karena sifatnya yang pemalu dan sifatku yang memilih untuk tidak memulai segala sesuatu dan membiarkan orang lain yang memulai. Entah mengapa, keheningan ini sangat menyenangkan karena aku bisa menikmati setiap angin yang menerpa tubuhnya yang mungil itu. Terlebih lagi, dia hari ini terlihat sangat cantik dengan terusan lengan panjang berwarna biru muda yang cerah dan topi lebar yang menutupi sebagian mukanya. Aku melihatnya beberapa kali mencoba untuk menahan topinya agar tidak tersapu oleh angin. Hari ini memang berada di akhir musim panas dan cuaca sudah mulai sejuk sehingga banyak pasangan bodoh yang pergi berpiknik.

"Shikamaru-san?"

"Hai?" Aku mematikan api rokokku dengan menjatuhkan dan menginjaknya pelan.

"Shikamaru-san tidak keberatan bukan aku ajak menemani Sensei?"

Lagi-lagi, sikapnya yang selalu takut akan merepotkan orang lain selalu muncul setelah dia meminta bantuan. Aku terdiam dan hanya menatap mata lavender-nya, mencoba untuk memberitahukan bahwa aku tidak keberatan sama sekali dengan dia meminta bantuan ini. Tiba-tiba, dia tersenyum lagi menandakan dia mengerti dan kembali melihat ke jalanan. Terkadang, aku ingin selalu terjebak di dalam detik-detik kala ia tersenyum kepadaku.

"Hyuuga-san?"

"Hai?"

"Kau terlalu baik dan mudah khawatir,"

"Aa, mungkin,"

"Bagaimana caranya?"

"Hm?"

"Menjadi seseorang yang penuh dengan misteri sepertimu?"

Dia menoleh dan melihatku dengan pandangan penuh tanda tanya. Aku berpikir dengan apa ada yang salah dengan pertanyaanku barusan. Matanya penuh dengan keraguan dan mencari maksud di balik pertanyaanku. Satu momen sebelumnya, dia bisa menjadi seorang yang lembut dan momen ini, dia menjadi seorang wanita kuat yang mempunyai derajat yang sama dengan laki-laki. Aku memberhentikan langkahku dan membuatnya berhenti pada saat yang hampir sama. Mataku beradu tatap dengan dia sambil matanya masih mencari kepastian.

"Apa maksudmu, Nara-san?"

Sial! Awalnya, dia sudah memanggil namaku dengan nama depanku dan sekarang kembali ke nama klan. Ini merupakan tanda awal bahwa dia bertindak serius. Mengapa setiap saat lidahku selalu salah mengucapkan kata?

"Kau penuh dengan misteri," aku berkata-kata dengan mimik muka yang masih datar dan wajahnya menandakan aku berhak melanjutkan. "Sesaat, kau bisa menjadi seorang yang penuh dengan kelembutan dan pada beberapa saat kemudian—seperti tadi—kau akan menjadi orang yang penuh dengan wibawa seorang Hyuuga, sebenarnya ada apa denganmu, Hyuuga-san?" lanjutku sambil berharap semoga kali ini aku tidak salah berbicara dengan perempuan yang ternyata cukup merepotkan ini.

"Sumimasen, Shikamaru-san, tapi… hal itu sudah bukan urusanmu,"

Kata-kata yang keluar dari mulutnya sedikit menyadarkan realita yang belakangan ini sering aku lupakan. Mengapa aku begitu bodoh dengan mengharapkan dia akan memberitahuku? Aku hanyalah seseorang yang tidak dia anggap lebih, hanya seorang teman Rookie 9 yang hampir tidak pernah mengobrol dengannya.

Dia terus diam sepanjang perjalanan dan matanya menyiratkan bahwa dia tidak bersungguh-sungguh mengatakan hal tersebut. Ada sesuatu yang menghambat pikiran kunoichi lembut ini. Ada yang salah dengannya dan aku tidak dapat mendapatkan jawabannya. Jawaban dari suatu enigma bernama Hyuuga Hinata.

Bahkan IQ 200-ku pun tidak akan pernah bisa menyelesaikan sebuah problema tentang Hyuuga Hinata.

.

.

.

Merepotkan.

"Ah, Hinata-chan dan Shikamaru-kun, selamat datang,"

Kurenai-san hari itu tampak lebih baik daripada saat dia pertama kali mengetahui bahwa Asuma-sensei sudah… pergi. Apartemennya tampak asri dan terlihat sebuah vas yang penuh dengan bunga lavender di atas meja ruang tamu. Aku sudah dapat menduga bahwa itu adalah pekerjaan perempuan berambut biru panjang ini.

"Ah, aku lupa membuatkan ocha,"

"Biar aku saja, sensei,"

Hinata berjalan ke arah dapur kecil di apartemen ini. Aku tahu soal kehebatannya dalam meracik teh karena pernah menghadiri perjamuan teh antar klan di Konoha. Selain itu, aku juga mencari banyak informasi, tanpa diketahui tentunya, tentang penerus Klan Hyuuga ini. Aku mengatakannya seperti seorang stalker. Merepotkan.

Aku duduk di sofa bersebelahan dengan Kurenai-san. Dia seperti merasa tenang dengan keberadaanku dan Hinata di sini dan terlebih aku tidak tahu mau berkata apa kepadanya. Apa harus kuberkata, "Asuma-sensei sudah bahagia di atas sana," sedangkan Kurenai-san pun mengetahui bahwa aku juga masih belum bisa melupakan guru yang sudah membimbingku dari masa-masa lampau. Mengingat guru tersebut membuatku ingin merokok lagi.

"Kurenai-san, aku ingin ke jendela dulu,"

Aku tahu Kurenai-san pasti mengerti dengan apa yang tersirat dalam perkataanku barusan. Dia mengerti bahwa rokok dan pematiklah yang membuatku terus mengingat orang yang pernah berada di sampingku. Kurenai-san mengerti bahwa aku juga sama kehilangan dengan dia yang merupakan calon istrinya.

"Baik, Shikamaru-kun, silahkan saja,"

Aku mengangguk dan segera berjalan ke arah jendela dan membukanya. Dari sudut mataku, terdapat siluet bermata lavender yang sedang menatapku dengan khawatir. Mungkin, itu hanya perasaanku saja. Hinata Hyuuga tak mungkin melakukan hal tersebut kepadaku. Hinata Hyuuga tidak mungkin perhatian kepadaku lebih daripada teman. Pikiran itu berulang-ulang kudengungkan sampai mengendap di otakku.

Jendela Kurenai-san cukup besar untuk dapat kusandarkan. Bingkainya berwarna putih dan kacanya sudah kuberikan kayu kecil untuk menjaganya tetap terbuka lebar. Rokok yang sudah kusimpan di jaket ninjaku pun kuambil dan kujepit di antara mulutku. Pematik kunyalakan dan bau itu kembali berada di seluruh indera penciumanku. Bau yang sama dengan bau yang selalu meliputi guru itu… Asuma-sensei.

"Merokok itu tidak baik bagi kesehatanmu, Shikamaru-san,"

Aku menoleh dan menemui Hinata sedang berdiri di belakangku sambil tersenyum simpul. Dia berjalan dengan gayanya yang elegan dan berdiri di sampingku sambil mencondongkan tubuhnya ke arah jendela yang ternyata cukup lebar untuk kami berdua.

"Lalu mengapa kau mau menjadi perokok pasif, Hyuuga-san?"

Dia tertawa dengan lembutnya. Bahkan suara tertawanya pun tidak heboh seperti remaja perempuan pada umumnya. Aku menyukai segala sisi darinya. Sangat suka…

"Tidak ada alasan apapun, Shikamaru-san, mungkin aku hanya butuh teman bicara,"

"Kurenai-san?"

"Sensei sedang mengurus Asuma-kun dan tidak ingin diganggu,"

Asuma-kun adalah anak dari Almarhum Asuma-sensei dan Kurenai-san. Jikalau Asuma-sensei tidak pergi, beberapa waktu setelahnya mereka berdua akan menikah. Kurenai-san menamai anaknya dengan nama almarhum calon suaminya karena dia waktu itu sedang merasakan kehilangan yang sangat dan dia berkata, "Supaya anak ini bisa mengenal ayahnya sedikit demi sedikit," seperti itu saat Asuma cilik lahir beberapa bulan yang lalu.

Keheningan meliputi kami berdua dan kali ini, keheningan tersebut dalam artian yang baik. Kami berdua sama-sama menatap awan dan menikmati angin semilir yang datang sewaktu-waktu. Senyum menghiasi wajahnya dalam detik demi detik dia berdiri di sampingku. Dia terlihat tenang dan menikmati waktu-waktu berdiri berdampingan denganku.

Pada saat itu, aku semakin yakin bahwa Hyuuga Hinata benar-benar seperti bulan. Indah, elegan, dan membuat para awan menikmati keberadaannya.

Hinata Hyuuga adalah Bella Luna.

TBC

Bella Luna: Bulan yang indah (Bhs. Spanyol)

Word Count: 2.074 (Plus A/N)

#nowplaying IU – The Only Story I Didn't Know.

A/N: PENDEK ABIS! Maaf update lama dan sekarang… UN SUDAH SELESAI! YAY! Doakan saya lulus, readers. Maaf pendek, maaf update lama, maaf kalau tidak menyenangkan kalian semua tetapi…

MIND TO REVIEW?

CONCRIT, PLEASE!