Ketua dan sekretaris OSIS itu tersentak dari lamunannya di bingkai jendela karena melihat tubuh Yoongi yang sedang berlari tiba-tiba tersungkur ke tanah. Tak lama kemudian teman di samping Yoongi, yang entah siapa namanya, berteriak meminta bantuan kepada mereka. Seokjin kalang kabut, bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Sedangkan Namjoon dengan cepat berbalik badan mengambil sebuah pain killer di dalam kotak P3K.
Namjoon menyuruh Seokjin untuk tetap tenang menunggu di ruang OSIS lalu secepat kilat ia melompati jendela untuk menolong ketua klub basket tersebut. Seokjin yang cemas akan keadaan Yoongi menautkan jemarinya di depan dada setelah menatap Namjoon berlari mendekati lapangan, berdoa agar lelaki berkulit pucat itu tidak apa-apa.
Sepuluh menit lebih sekretaris tinggi itu berdiri. Menurut penglihatan sepasang matanya ke arah lapangan, Yoongi sepertinya sudah membaik. Syukurlah, Seokjin kini bernafas lega, lelaki berparas manis itu sudah dapat berdiri di atas kakinya kembali.
Tapi.. ini aneh. Jelas terlihat ada yang janggal.
Entah apa yang sedang dibicarakan mereka bertiga, sungguh, andai Seokjin dapat memiliki pendengaran jarak jauh ia sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi sampai-sampai sahabat berlesung pipinya—Namjoon—itu tertawa keras dan meninggalkan Yoongi merah padam wajahnya.
Oh, malah Namjoon sempat berbalik dan meneriakan namanya sendiri kepada Yoongi.
Apa? Apa yang terjadi?
Seokjin memalingkan wajahnya ketika Namjoon menggeser pintu ruangan. Ia menilik ekspresi Namjoon yang seperti puas menertawakan sesuatu.
"Bagaimana keadaan Yoongi?" Seokjin bertanya pada Namjoon yang masih tersenyum sembari membereskan berkas-berkas di meja kerjanya.
"Hanya kram ringan. Keadaannya lebih baik dari sekedar yang kau bayangkan." Kemudian ia terkekeh kembali.
Seokjin jadi penasaran kalau sudah begitu lalu bertanya kembali, "Lalu kenapa tadi tertawa keras di lapangan?"
"Bukan masalah besar," Namjoon mengibas-ngibaskan telapak tangan dengan riang dan tiba-tiba bermonolog menatap si sekretaris "Atau itu masalah besar untuknya?"
Seokjin mendengus, kesal pertanyaannya malah tidak dijawab serius. "Apa, sih. Tidak jelas."
Namjoon hanya menaikkan bahu membalas perkataan sahabatnya dan tertawa. Lagi. Ingatkan Seokjin untuk menagih cerita kepada Namjoon mengapa setelah ia kembali dari lapangan berubah menjadi orang sinting yang tak mampu mengontrol tawanya.
Bel tanda pelajaran pertama berbunyi nyaring. Kedua orang bepostur tinggi tersebut bersiap-siap meninggalkan ruang kerja OSIS. Setelah Seokjin mengunci pintu ruangan, ia mengejar langkah Namjoon dan berjalan sejajar.
"Oh, ya, Namjoonie. Setelah kamu melompati jendela untuk pergi ke lapangan tadi, kenapa malah kembali melalui pintu dari dalam gedung sekolah? Padahal lebih cepat kalau lewat jendela lagi." Seokjin iseng bertanya mengisi percakapan selama berjalan menuju kelas masing-masing.
Namjoon mendadak berhenti lalu menoleh ke Seokjin yang turut menghentikan langkahnya keheranan. "Sial, benar juga."
.
.
.
.
.
.
.
Wonderfully Stupid
.
Chapter Two:
The President of Student Council
.
Main Cast:
Min Yoongi X Kim Namjoon
.
SCHOOL LIFE/BL/YAOI/SHOUNEN-AI
.
Oreobox©Copyright
.
Bayangin cast ff ini with their current style ya :3
Ore lg suka pake bgt yoongi yang blonde unyu2
sama namjoon dgn rambut pendek coklatnya yg bikin dia makin cowok bgt XD
.
Happy Reading!
.
.
Yoongi membuka ujung pembungkus plastik es stiknya, kemudian ia gigit seperempat es tersebut. Tangannya mengipas-ngipasi tubuh dengan cara menarik kerah kaus yang dirangkap dengan seragam sekolah yang tidak dikancing seluruhnya.
Panas. Gerah. Ditambah dengan adanya si mulut bocor—Hoseok—yang tak henti-hentinya bercerita tentang peristiwa memalukan tadi pagi kepada Myungsoo di kantin saat jam istirahat. Wajah Yoongi kembali memerah antara menahan malu dan amarah.
"Hoseok, belum puas juga kau. Demi sebotol susu vanilla yang membasi, tolong hentikan celotehanmu." Yoongi berucap malas dan memfokuskan diri ke es stik yang ia pegang, menghindari gelak tawa dari kedua sahabatnya tersebut.
"Aku tidak tahu harus berkomentar apa," Myungsoo menyeka airmatanya yang keluar karena tertawa "Ini lucu, Min Yoongi. Sungguh. Beruntung saat itu hanya ada Hoseok, bisa hancur reputasimu kalau ada yang mengetahui ini."
"Thanks!" Yoongi melempar stik yang sudah kandas isinya ke arah Myungsoo dengan jengkel.
"Tanpa kau berkomentar, ini cukup melukai harga diriku." Timpal Yoongi.
"Mungkin saking banyaknya yang 'menembak', sampai kau mabuk tidak bisa membedakan mana orang normal dan mana orang yang tergila-gila kepadamu." Myungsoo terkekeh yang dibalas dengan dengusan sebal pria berambut pirang tersebut. Jahat, memangnya yang menyukai Yoongi hanya orang-orang yang tidak normal saja, huh.
Kenapa bukan kau yang menyukaiku, Myung? Aku tak usah repot-repot menjadi peran antagonis karena menolak orang-orang itu. Yoongi sejenak merenung.
"Kau betul tidak tahu laki-laki itu siapa?" Hoseok bertanya setelah ia berhasil menenangkan dirinya agar tidak lagi mengejek si ketua manis yang menekuk wajah sampai sekarang.
"Untuk apa? Tidak penting."
Yoongi jadi teringat lagi sosok lelaki jangkung berambut under cut coklat dan terlihat piercing mencolok di kedua telinganya, yang dengan kurang ajar sudah meruntuhkan sebagian besar harga diri Yoongi.
"Lihat, lihat. Anak ini susah sekali diajak bersosialisasi." Hoseok berdecak melihat tingkah Yoongi. Ia menarik kedua pipi mulusnya, berharap dapat membenarkan mulut Yoongi yang sering melontarkan kata-kata cuek dan pedas. "Setidaknya tahu dia itu siapa, Yoongi. Kau anggota sekolah ini atau bukan?"
"Ih, sakit!" Yoongi menepis tangan lelaki cerewet di sampingnya. Ia mengelus kulit pipi yang terasa perih karena dicubit. Apa pedulinya, Yoongi berdecak, kalau tidak mengenal lelaki kurang ajar itu ya memang tidak kenal!
Yoongi sebenarnya sedikit tahu wajah lelaki itu. Tapi entahlah, Yoongi begitu tak bersemangat sama sekali untuk menggalinya karena membuat ia teringat hal-hal memalukan saja.
"Makanya sering datang rapat antar klub, jangan minta aku atau Myungsoo untuk selalu mewakilkanmu ."
"Di mana letak hubungan antara aku tidak mengenalnya dan tidak hadir rapat antar klub?" cibir Yoongi.
"Ada. Kau harus mengetahuinya, Yoongi. Pasti mau tak mau kau akan berinteraksi dengannya lagi." Myungsoo menganjurkan seraya melahap potongan terakhir sandwichnya. "Dia ketua OSIS kita."
Yoongi melirik Myungsoo tak percaya. Dia? Yang memiliki banyak tindikkandan tidak berpenampilan rapih seperti kutu buku itu?
"Bisa dibilang, dia sama mencoloknya dengan dirimu yang berpenampilan outstanding." Hoseok mengangguk menyetujui perkataan Myungsoo.
Mari diperjelas. Jika Min Yoongi terkenal sebagai ikon ratu satu sekolah, maka yang menduduki singgah sana rajanya tak lain dan tak bukan adalah ketua OSIS berpostur tinggi tersebut.
Kim Namjoon. Seseorang yang berwawasan luas serta cerdas. Sosoknya tidak menggambarkan seorang ketua OSIS di cerita-cerita lain yang dibuat terlalu kaku, justru ia di sisi sebaliknya yang pandai dalam bergaul. Sebagai nilai tambahan, wajahnya yang manly dan berstyle bagus membuat siapa saja akan dengan suka rela menjatuhkan hati kepadanya.
Terkecuali Min Yoongi.
Mungkin belum.
"Kesimpulan dari semua itu, aku tidak mau bertemu lagi dengannya. Titik." Yoongi menutup paksa topik obrolan mereka yang membuat Hoseok jadi ingin meledek kembali.
"Bilang saja sudah tidak memiliki muka lagi untuk bertemu dengan dia."
"YA! YA! YA!" lelaki mungil itu bangkit dan menarik telinga Hoseok dengan gemas, "Jangan ingat-ingat itu—astaga perlu ku ulang beberapa kali lagi, aku sudah muak!"
"Argh, sakiiit. Salahkan dirimu sendiri, kenapa bisa-bisanya kau menyangka Namjoon akan 'menembak'mu." Hoseok berusaha membela diri sembari mengusap telinganya yang terasa pedas.
"Oh, maaf, kalau aku memang terlalu besar kepala!" rajuk Yoongi menggembungkan pipinya yang sangat merah merambat ke seluruh wajah. Malu. Sungguh, benar-benar memalukan. Yoongi saja sampai sekarang tidak habis pikir kenapa bisa ia dengan percaya diri menyangka Namjoon ingin menyatakan cinta padahal lelaki tinggi tersebut hanya ingin menolong kaki kramnya saat itu. Mau dibawa ke mana pride mahalnya sekarang, Yoongi berasa ingin terjun ke jurang saja.
"Myungsoo, sini kau, brengsek." Hoseok memandang Myungsoo berusaha meminta pertolongan untuk menyelamatkan daun telinganya yang akan lepas jika tidak buru-buru menenangkan Yoongi yang dua kali menariknya keras.
"Sudah, Yoongi. Kasihani dia." Myungsoo tertawa melerai telapak tangan Yoongi dari telinga Hoseok. Lalu ia elus tangan mungil Yoongi tersebut berusaha menenangkan. "Kau juga Hoseok, berhentilah."
"Bikin emosi saja." Sewot Yoongi merengut.
Myungsoo menarik kedua ujung bibirnya lalu mencolek hidung Yoongi, "Iya, iya.. Janji tidak menggodamu lagi. Berhenti marah-marah, ya."
Yoongi tercenung menatap senyuman sahabat masa kecilnya tersebut lalu menghempaskan nafas dengan kasar. Kalau Myungsoo sudah bersikap seperti ini, mana bisa Yoongi menolaknya.
"Kalau dengan Myungsoo saja, langsung menurut." Cibir Hoseok yang masih meringis kesakitan.
"Karena denganmu sangat menyebalkan, bodoh." Yoongi mejulurkan lidar kepada Hoseok dan melenggang pergi dengan kesal.
"Kau ini, Hoseok. Senang sekali membuatnya jengkel." Myungsoo menggelengkan kepalanya heran.
"Mau bagaimana lagi, dia memang sangat menggemaskan kalau sedang marah-marah membuatku ingin terus menggodanya." Mereka pun tergelak bersama menyetujuinya.
.
.
Saat itu hari sudah mendekati sore, gedung sekolah terdengar sunyi selepas murid-murid telah kembali ke rumah masing-masing beberapa jam yang lalu. Terkecuali anggota ekstrakurikuler yang sedang berlatih sehabis jam pelajaran pokok berakhir dan anggota organisasi intra sekolah yang baru saja selesai mendiskusikan job desc mereka selama seminggu ke depan.
"Jin, kau yakin tak ingin pulang bersama hari ini?" Namjoon bertanya ke sahabat sekaligus tetangga sebelah rumahnya. Seokjin menggeleng menyayangkan waktu untuk bersama Namjoon tersebut terbuang percuma, ia harus relakan itu untuk menjemput adiknya setiap hari di sekolah taman kanak-kanak.
"Tak mau ku antar sekalian ke TK dengan motorku?" tawar lelaki berkulit tanning namun tampak seksi. Dan sekali lagi, Seokjin menggeleng lemah. Seokjin harus bisa memaklumi peran mengurus rumah selagi kedua orang tuanya bekerja hingga larut.
"Tidak usah, Namjoonie. Aku sudah janji dengan adikku akan menemaninya membeli peralatan sekolah dan belanja bahan makanan yang sudah mau habis."
"Baiklah kalau begitu, salam untuk adikmu. Hati-hati di jalan." Namjoon melambaikan satu tangannya membalas kepergian Seokjin yang perlahan menghilang menuju gerbang sekolah.
Namjoon berjalan menuju halaman yang terparkir beberapa motor sembari bersiul dan melempar-lempar rendah kunci di tangannya. Langkahnya seketika berhenti mendengar decitan-decitan karet sepatu di lantai lapangan indoor yang licin. Klub basket sedang berlatih rupanya.
Mata Namjoon secara tak sadar mencari sosok mungil seputih susu yang tadi pagi sempat membuatnya tertawa sepanjang hari jika mengingatnya. Bisa-bisanya lelaki itu menuduhnya melakukan pendekatan untuk menyatakan cinta padahal ia sudah berbaik hati menolong kakinya agar dapat berjalan kembali.
Tapi siapa sangka, karena hal yang menurut Namjoon konyol dan bodoh tersebut justru membuatnya seakan tertarik untuk mengetahui lebih jauh lagi seperti apa sebenarnya Min Yoongi sehingga banyak orang yang berlomba-lomba mendapatkannya yang super jutek dan galak. Sampai Yoongi sendiri spontan menyangka dirinya adalah salah satu orang yang terobsesi terhadapnya.
Ia mengintip sekilas ke dalam lapangan, berharap menemukan orang yang dia cari. Namun Namjoon harus menelan kekecewaannya karena Yoongi sepertinya tidak ada di mana pun di dalam gedung tersebut.
Ah, sayang sekali, pikir Namjoon. Dengan terpaksa ia kembali menuju parkiran.
Namjoon merasa tenggorokannya tiba-tiba mongering, ia meraba lehernya dan meneguk pelan air liur. "Mungkin membeli minuman dulu sebelum pulang bukan ide yang tidak buruk."
Ia memutar arah ke tempat vending machine yang tak jauh dari tempat parkiran. Ia menghentikan langkahnya sejenak, tak percaya ini memang terlihat dibuat-buat atau sudah terencana oleh Tuhan untuknya. Coba tebaklah, mengapa Namjoon kini menyeringai sekarang?
Lelaki manis bersurai pirang tengah menyeka keringatnya dengan handuk kecil. Ia berdiri menatap deretan minuman di dalam vending machine yang Namjoon tuju.
Kebetulan, apa memang takdir?
.
.
"Sunbae! Aku titip orange soda, ya!"
"Aku teh oolong, ya, Yoongi. Thank you."
"Aku teh yang rasa stroberi!"
"Teh madu, deh."
"Dua cola seperti biasa untukku dan Jungkook, sunbae. Hehehe"
Dan masih ada beberapa yang setengah berteriak. Yoongi kini memutar matanya jengah karena menerima kekalahan berturut-turutnya dalam hompimpah dengan anggota klub basket saat breaktime. Sebagai hukuman, ia harus mau disuruh membelikan minuman yang dititipkan ke dirinya. Yoongi hanya bisa berdecak keras mengapa ia selalu tak bisa menang dalam berhompimpah dan berjalan malas-malasan menuju vending machine.
"Teh stroberi untuk Hoseok idiot," Yoongi menekan tombol pada vending machine tersebut setelah memasukan beberapa logam uang kedalamnya. Terdengar bunyi gemerincing kaleng terjatuh dalam kotak. "Oolong untuk Myung.. ehm, cola tadi siapa, ya? Ah, Jimin dan Jungkook. Taehyung? Orange soda.. Lalu, hhmm… apalagi…? Argghh! Brengsek, kenapa banyak sekali?!"
"Hallo. Kita bertemu lagi, Min Yoongi." Lelaki seputih susu tersebut terperanjat kaget mendengar suara berat yang tiba-tiba menyapanya dari belakang. Ketika Yoongi bersiap menengok untuk memarahi siapa yang berani membuat jantungnya serasa lepas, ia mematung menatap senyuman lebar yang terpatri di wajah orang tersebut.
"Kim.. Namjoon?"
"Oh," Namjoon tertawa rendah lalu menatap lurus ke wajah bulat Yoongi. "kau mengingat namaku. That's good."
Belum cukupkah, Tuhan, penderitaan yang harus dialami hari ini. Terlalu besar kepala meyangka orang menyukaiku—buang aku ke jurang!—, kalah taruhan dan sekarang malah dipertemukan lagi dengan orang yang menghilangkan wajah percaya diri kebanggaanku.
Yoongi cepat-cepat menatap mesin otomatis kembali. Untuk seseorang memiliki kulit yang sangat putih ia mempunyai kebiasaan buruk. Salah satunya adalah ketika ia sedang gugup menahan rasa malu pasti warna wajahnya aku cepat berubah menjadi sangat merah semerah kepiting yang baru saja direbus. Itu pula yang selalu ia coba tutupi dengan kegalakannya setiap kali ada yang meledek seperti Hoseok saat istirahat di kantin tadi.
Tapi sekarang? Boro-boro ia ingin melontarkan kalimat pedas, sudah jelas ia yang salah kepada orang di sampingnya ini. Yoongi hanya bisa terbata-bata saking malunya.
"Itu. Mengenai tadi pagi… Aku…"
Namjoon terkekeh. Lihat, wajah Yoongi benar-benar merah. Gemas sekali.
"Anggap saja tidak pernah terjadi," Namjoon bersandar pada mesin lalu tersenyum, "kalau itu membuatmu jadi tak nyaman. Aku juga akan melupakannya."
"T-thanks."
"Tapi sebagai gantinya, tolong ambilkan aku sebuah minuman di mesin ini." Namjoon menyodorkan uang logam kepada Yoongi yang menghela nafas beratnya. Setidaknya Yoongi dengan ikhlas mau disuruh-suruh, imbalan yang kalau menurut Namjoon bisa dianggap impas untuk menutup mulut atas peristiwa memalukan pagi tadi.
"Kau mau apa?"
"Uhm.. Susu vanilla."
Yoongi melirik Namjoon sekilas lalu berbalik kembali.
"Kenapa?" tanya Namjoon heran.
"Favoritku."
Namjoon tertawa mendengar pernyataan singkat Yoongi yang cukup ketus. Jadi lelaki manis ini menyukai susu vanilla, ya.. Otak Namjoon otomatis mencatat satu hal baru tentangnya.
Yoongi segera menekan tombol untuk mengambil minuman yang diminta Namjoon. Terdengar kotak susu telah jatuh dalam box pengambilan.
"Thank you." Yoongi menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Namjoon lalu menekan beberapa tombol lagi.
Lelaki tinggi tersebut berjongkok untuk mengambil minumannya dan menautkan alis. Banyak sekali minuman di kotak pengambilan itu. Ia menerka pasti untuk anggota klub basket. Tetapi yang menjadi pertanyaannya, memang bisa Yoongi yang mungil tersebut membawa semuanya sekaligus sendirian?
Yoongi ikut berjongkok untuk mengambil semua minuman tersebut, terlihat sangat kesulitan. Lantas Namjoon yang tak tega menatapnya menawarkan bantuan yang langsung Yoongi tolak dengan dingin. Lelaki putih itu bersikukuh bisa membawanya sendiri, ia hanya perlu untuk Namjoon menyusun benda tersebut di pelukannya.
"Yakin tidak mau ku bantu? Masukkan saja ke tasku."
"Tidak, terima kasih." Yoongi mencoba berjalan dengan susah payah karena banyaknya jumlah minuman yang ia bawa. Bodoh sekali ia lupa membawa plastik atau apapun itu. Kalau sampai ia meminta pertolongan Namjoon membawakan minuman-minuman ini ke anggotanya, pasti Yoongi akan digoda habis-habisan. Dan Yoongi sangat menghidari hal itu terjadi!
"Hati-hati. Jangan sampai tersandung dan— astaga Min Yoongi!"
Belum selesai Namjoon mengingatkan Yoongi , tiga kaleng jatuh mengenai kaki lelaki mungil itu dan tak sengaja menyandungnya. Yoongi terjatuh dengan lutut menyentuh tanah dengan tanpa ampun, ia meringis karena rasa perih mendera. Lupa ia masih menggunakan celana pendek seragam basket yang tak mampu melindungi goresan bebatuan kecil di kulitnya.
"Hei, are you okay?" tanya Namjoon khawatir. Namjoon refleks membereskan semua minuman yang terjatuh dan memasukkannya ke dalam tas.
Harus berapa ratus kali lagi Yoongi melakukan hal yang membuat dia ingin tenggelam di dasar lautan saja? Kenapa ia mempermalukan diri lagi di depan si ketua OSIS?!
"Lututmu terluka." Namjoon ikut meringis memandang Yoongi.
"Aku pi-pinjam tasmu sebentar.. Nanti a-aku kembalikan lagi setelah ku berikan minuman-minuman itu ke a-anggotaku." Ujar Yoongi seraya menahan sakit.
"Membawanya sendiri? Dengan keadaan seperti ini?" decakan tak percaya terlontar dari mulut Namjoon. Ia kemudian menggantungkan tas ranselnya di depan lalu berjongkok menawari punggung lebarnya untuk ditunggangi. "Naiklah. Aku akan mengantarmu ke lapangan."
"Aku bisa sendiri. " Yoongi mencoba berdiri namun ia malah tersungkur, menambah goresan lukanya. Namjoon berdecak kembali menatap betapa keras kepalanya ketua basket ini.
"Naik." Perintah Namjoon dengan sepenuhnya. "atau mau ku bawa kau dengan gedongan a la putri?"
Dengan segala keterpaksaan yang menyudutkan Yoongi mau tak mau ia harus mematuhi ucapan Namjoon. Daripada ia semakin terlihat idiot dan mengenaskan, ia lebih memilih membiarkan Namjoon mengembannya di punggung lebar lelaki tinggi tersebut.
"Tak perlu membuang-buang waktu kalau kau jadi anak manis yang penurut seperti ini." Namjoon tersenyum penuh kemenangan. Yoongi mendengus jengkel.
"Hup!" Namjoon mendadak membenarkan letak Yoongi yang tak siap di punggungnya, tentu saja membuat Yoongi refleks memeluk erat leher Namjoon. Namjoon dengan sangat jelas dapat merasakan hembusan nafas hangat Yoongi di telinganya.
Entah siapa yang lebih keras terdengar. Tetapi satu yang pasti, jantung dari kedua orang tersebut serentak berdetak lebih kencang dari sebelum-sebelumnya.
.
.
.
To Be Continued
.
.
My NamGi feels in this FF is just like… ;_;
Buat semua yang mendukung ff ini; ngebaca, pm, ngereview, ngefav, ngefollow;
KAMSAHAMNIDA. ARIGATOU. MERCI. THANK YOU. TERIMA KASIH
Without you I am nothing(?) *tebar ciuman terbang*
sugabae; Tuneperseven Heaven; aiayanaa; Lee Shikuni; Mr Yoon; es;
diyahpark1004; dumb-baby-lion; johayo-kaisoo; ycsupernova; keikke;
teflon-nim; SyubD; Prasetyo Hestina845; Riyoung17; midsummernight99;
DeroyaDiv; Hening965; haurababys; mokpochoi96;
SEE YOU NEXT TIME!
