Nano, Log In

"Maji de Watashi ni Koi Shinasai: Story of The Darkness"

Warning:

Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.

Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Highschool DxD: Ichie Ishibumi

Love Live School Idol Project: Nippon Ichi Software (Pelisensi anime)

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

Chapter 2: Enigma Games vs Edison Brain

Opening Song: Back On - Cerulean

7 Juni 20xx

06.00 AM

Kediaman Keluarga Uzumaki

Hari ini adalah hari minggu, hari dimana para pekerja kantoran libur dan juga tentunya para siswa-siswi sekolah. Berbeda dari hari-hari minggu biasanya yang penuh dengan keceriaan, hari minggu Naruko kali ini penuh dengan kesedihan.

Alasannya? Sudah pasti tidak lain dan tidak bukan adalah Naruto. Ini sudah 6 hari berlalu sejak kematian kakaknya yang sangat ia sayangi itu. Dengan mata yang masih mengantuk akibat menangis semalaman, Naruko kemudian berjalan dengan langkah gontai ke arah kamar mandinya untuk mencuci muka dan sikat gigi.

Kenapa tidak mandi? Alasannya simpel yaitu karena hari ini adalah hari minggu. Lagipula sudah jadi pengetahuan umum kalau kita keseringan mandi malah akan mengubah-ubah pori-pori kulit.

"Naruko! Ada surat untukmu!" Panggil sebuah suara menggelegar dari lantai bawah. Berbeda dari biasanya, suara ini adalah suara Minato.

"Baik!" Setelah mengganti piyama model kucing miliknya dengan satu set pakaian gadis remaja berupa dress berwarna kuning dipadukan dengan legging berwarna hitam dan juga Ankle Boots senada dengan warna leggingnya, Naruko segera turun ke bawah tidak lupa membawa tas kecil.

Setelah sampai di lantai bawah tepatnya di meja makan, Naruko menemukan apa yang biasa ia lihat belakangan ini. 4 kursi yang seharusnya diisi oleh semua anggota keluarganya kini hanya bisa terisi 3 meski itu adalah hari libur seperti sekarang.

"Kau mau kemana Naruko? Apa kau akan pergi kencan?" Goda Kushina dengan senyum lebarnya. Meski sedang tersenyum seperti biasanya tapi Naruko tahu bahwa itu adalah senyuman palsu yang digunakan oleh Okaa-sama nya untuk menyembunyikan kesedihannya akibat peristiwa 'itu'.

"Itu tidak mungkin Okaa-sama, hanya pergi jalan-jalan bersama Rias-nee, Akeno-nee, Maki-nee dan Sona-nee. Oh ya! Mana suratnya Otou-sama?"

"Sebentar saja. Aku akan menguraikannya." Minato menjawab pertanyaan Naruko dengan aneh.

"Minato! Melihat isi surat orang lain itu tidak sopan!" Peringat Kushina pada suaminya yang kini sedang membaca surat yang seharusnya hanya boleh dibaca oleh Naruko.

"Kau pikir apa yang aku baca Kushina?" Kata Minato enteng sembari menunjukkan isi suratnya pada Kushina dan Naruko yang ternyata hanyalah sebuah kertas polos. Sangat polos sampai-sampai tidak ada garis-garis yang biasanya ada di kebanyakan kertas.

"Kosong? Siapa yang melakukan ini?" Kata Naruko kebingungan.

"Siapa lagi kalau bukan Enigma. Sebentar lagi kau akan dapat pesan dari teman-temanmu tapi sebelum itu lihatlah ini, Naruko." Setelah mengatakan itu, Minato menyiram kertas polos yang dipegangnya ini dengan air minumnya dan hasilnya adalah perlahan tapi pasti sesuatu yang berwarna putih perlahan-lahan luntur dari kertas itu dan menunjukkan rupa asli sang kertas yang bertuliskan Theme Park.

'Oh... jadi begitu. Kertas ini diwarnai kembali dengan pewarna berbahan dasar minyak sehingga saat kusiram dengan air maka mayoritas minyak akan pergi.' Batin Minato menganalisa cara apa yang digunakan untuk membuat pesan tak terlihat semacam ini.

"Theme Park? Apa maksudnya ini Otou-sama?" Tanya Naruko tidak mengerti pada isi surat itu.

"Ini undangan."

"Undangan?" Beo Naruko.

"Hm! Ini adalah undangan dari pemegang gelar Enigma, dia mengundangmu."

"Kenapa harus aku?"

Dreeet... dreeet... dreeet...

"3 pesan berturut-turut? Dari Sona-nee, Maki-nee dan Akeno-nee. Ada apa ini sebenarnya?" Naruko kali ini benar-benar tidak ngeh dengan situasi saat ini.

"Mereka telah menyadari pesan rahasia surat ini." Mendengar hal itu Naruko langsung mengambil sarapannya yang kebetulan adalah roti lalu langsung pergi menuju ke tempat berkumpul mereka yaitu di taman.

"Aku berangkat!" Pamit Naruko sebelum akhirnya berlari ke luar sambil memakan rotinya. Tidak memperdulikan apa yang dipikirkan orang lain nanti saat melihat garis cantik sepertinya memiliki tingkah pecicilan.

Sepeninggal Naruko kini ruang makan ini kembali sepi. Minato yang sedang membersihkan air yang ia tuangkan di kertas Naruko tadi berinisiatif membuka percakapan dengan Kushina tapi di dahului oleh Kushina sendiri.

"Kenapa kau membiarkan anak kita ikut campur dengan hal seperti ini Minato." Tanya Kushina dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Nada-nada sedih, kecewa, menyesal bahkan marah tersirat jelas dari suaranya.

"Ini adalah takdir dan kita tidak bisa mengubah takdir seperti ini."

"Tapi takdir ini membuat Naruto..." Belum sempat Kushina menyelesaikan ucapannya, air mata yang tak tertahan lagi kini telah tumpah membasahi mata merah darahnya.

"Aku tahu. Tapi aku tidak yakin jika Naruto mati dengan membawa penyesalan karena dia mati saat memperjuangkan apa yang ia anggap benar untuk dirinya sendiri."

"Kalau kau tahu hal ini akan terjadi, kenapa kau tidak memperingatkan anak kita!" Volume suara Kushina telah mengeras saat mengatakan kalimat tadi meski masih mengeluarkan air mata.

"Dia telah memulainya sangat awal bahkan saat kita memeriksakannya ke dokter Yakushi Kabuto, pada saat itu sebenarnya dia telah mulai menjadi pemegang gelar Einstein. Waktu itu aku memberinya berbagai macam buku tentang fisika dasar, kimia dasar dan juga tentang berbagai macam sandi."

"Seperti aku dulu, Naruto dapat mempelajarinya dengan cepat karena dia punya waktu yang banyak untuk membaca semuanya. Tapi saat aku mencoba mengetesnya ternyata dia tidak condong ke manapun secara pasti melainkan condong ke semuanya. Saat itu aku berpikir bahwa Naruto hanyalah jenius biasa sampai akhirnya datang mimpi itu." Lanjut Minato.

"Ini sudah belasan tahun sejak aku mendapat mimpi tentang penunjukan pemegang gelar Einstein, Naruto saat ini sudah besar Kushina."

"Hiks... aku tahu jika kalian berdua adalah orang jenius, tapi... tapi... kenapa Naruto mempertaruhkan nyawanya hanya untuk hal sepele." Kushina kali ini menjawab dengan sedikit terisak.

"Ini mungkin sepele dalam sudut pandang kita Kushina. Tapi dalam sudut pandang Naruto hal ini sudah menjadi prioritasnya. Kau ingat bukan saat aku menganggap penculikanmu saat kita sekolah dulu itu hal sepele sedangkan ayahmu menganggapnya sangat penting." Mendengar Minato mengatakan salah satu hal yang memalukan pada masa lalunya membuat pipi Kushina merona karena malu.

"Ba-baka! Jangan mengingatkanku pada hal itu." Lalu Kushina menyeka air matanya.

Flashback (flashback di dalam flashback -_- lol)

Kota Kuoh (belasan tahun lalu)

08.00 PM

Saat ini kota Kuoh telah digegerkan dengan penculikan putri dari seorang bos besar perusahaan multinasional yang bernama Kushina Uzumaki. Penculiknya sendiri sudah dipastikan sebagai kelompok yang profesional karena dengan gregetnya menerobos masuk ke dalam rumah.

Kebetulan pada saat itu Hashirama dan Istrinya Mito bersama dengan kakak Kushina, Tsunade Uzumaki sedang mendatangi sebuah acara dari kolega perusahaannya sedangkan putri bungsunya yang memang bandel tidak mau ikut jadi terpaksa ditinggalkan di rumah dan memang sial atau nasib buruk terjadilah peristiwa penculikan itu.

Di sekitar TKP atau lebih tepatnya di depan gerbang rumah keluarga Uzumaki yang diterobos masuk penculik, terlihatlah seorang pemuda berambut pirang yang menggunakan topeng tapi hanya bisa menutupi sebagian wajahnya + mata kirinya dan membiarkan mata kanannya terlihat. Di bagian bawah topeng tersebut terdapat sebuah gambar mulut dilengkapi oleh resleting yang membuatnya semakin mirip dengan mulut yang menampilkan sederetan gigi runcing (topeng Kaneki Ken). Pemuda bertopeng itu sedang mengamati TKP bersama segala bukti yang ditemukan polisi.

"Bagaimana kesimpulanmu The Ghost of Hannibal?" Tanya seorang berpakaian polisi lengkap dengan berbagai tanda pangkatnya yang menunjukkan bahwa polisi tersebut memiliki pangkat yang lebih tinggi.

"Sudah jauh, penculiknya sudah pergi jauh. Ya... ini tidak mengejutkan karena penculikannya telah terjadi setengah jam yang lalu. Belum lagi bekas ban ini adalah Buggati Veyron, Honda Pagani, Lamborgini Gallardo."

"Tapi bukankah kau bisa melacak mereka, detektif-san? Aku tahu kau bisa melacak kemana putriku dibawa oleh para penculik itu." Mohon ayah dari Kushina Uzumaki yang bernama Hashirama Uzumaki pada pemuda misterius itu.

"Aku tahu Hashirama-san. Hm... kalau memang masalah ini sangat penting bagi anda maka saya sarankan anda menunggu di dalam rumah anda." Mendengar perkataan seorang misterius yang menamakan dirinya The Ghost of Hannibal, membuat Ariake Kotarou sang kepala kepolisian yang pernah bekerja sama beberapa kali dengan pemuda misterius itu bertanya.

"Hoy, Hannibal! Apa kau sudah tahu dimana tempatnya?" Bisik kepala polisi tadi pada pemuda bertopeng di sebelahnya.

"Sudahlah Hashirama-san. Aku dan para polisi sudah terbiasa dengan kasus seperti ini jadi anda bisa bersantai di rumah dan menunggu kepulangan anak anda. Bukankah sebenarnya anda pusing karena minum terlalu banyak?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Arieki, Hannibal malah semakin mendorong Hashirama untuk bersantai di dalam rumah.

"Baiklah akan kutunggu kepulangan Kushina di dalam rumah seperti katamu. Aku berharap anda bisa menyelamatkan anak saya, The Ghost of Hannibal." Kata Hashirama sambil membungkuk 90 derajat pada pemuda misterius bertopeng yang seringkali disebut detektif oleh orang-orang awam. setelah itu Hashirama mengajak istrinya Mito dan Tsunade untuk masuk dan beristirahat di rumahnya.

"Kau belum menjawabku Hannibal." Kata Ariake kesal.

"Aku tidak tahu. Sejujurnya melacak jejak super car itu mustahil dilakukan dalam waktu singkat."

"Jadi... kasus ini akan berlanjut terus ya? Haah... merepotkan."

"Ariake, suruh semua polisi pergi dari sini." Kata Hannibal kepada Ariake dan tentu saja membuat kepala kepolisian itu terkejut.

"Apa yang kau rencanakan Hannibal?"

"Jangan banyak bertanya. Cepat laksanakan saja." Perintah Hannibal kurang ajar pada Ariake yang notabenenya adalah seorang kepala kepolisian kota Kuoh.

"Semuanyaa! Karena sudah malam, penyelidikan akan dilanjutkan besok!" Teriak Ariake pada semua anak buahnya.

"Baik!" Jawab para anak buahnya serentak.

"Selanjutnya lakukan semaumu Hannibal. Sejujurnya juga ini di luar kemampuan kami." Kata Arieki terakhir kali sebelum akhirnya pergi dari TKP diikuti oleh anak buahnya.

"..." Mendengar hal itu, Hannibal hanya diam saja dan melihat ke atas, lebih tepatnya melihat awan hitam yang warnanya hampir menyatu dengan hitamnya langit malam.

Sepeninggalnya para polisi itu, Hannibal mulai berjalan mengikuti bekas ban hitam di aspal sampai akhirnya beberapa ratus centimeter berhenti lagi karena memang hanya sampai segitu bekas ban yang ia ikuti.

"Baiklah... jika ada bekas ban berarti para penculiknya terburu-buru. Terburu-buru merupakan kelainan psikologis yang menyebabkan orang menjadi ceroboh karena sudah terlambat ataupun tidak ada persiapan sebelumnya. Kata Ariake, penculikan ini di dasari dengan persaingan bisnis antara perusahaan Hashirama-san dengan beberapa perusahaan rivalnya."

"Itu berarti tidak mungkin bahwa para penculik itu terlambat tetapi para penculik itu tanpa persiapan. Alasan mereka membawa super car untuk hal ini adalah agar kami mengira bahwa mereka sudah pergi jauh karena mobil-mobil seperti itu memang sangat cepat. Jika tanpa persiapan artinya tidak ada perjalanan keluar negeri atau ke manapun tetapi bersembunyi, dan tempat untuk bersembunyi yang cocok untuk menyembunyikan seorang sandera adalah gudang."

"Satu-satunya gudang di kota ini adalah gudang pabrik gula. Kau memang hebat seperti biasanya Minato." Setelah menyelesaikan analisisnya itu, Hannibal atau yang bisa kita panggil Minato langsung berlari menuju ke gudang yang ia maksud.

Gudang Pabrik Gula

Sepertinya dugaan Minato benar karena di depan gudang itu terparkir 3 super car yang sama dengan apa yang ia katakan yaitu Honda Pagani, Buggati Veyron dan Lamborgini Gallardo. Ditambah lagi lampu di dalam gudang itu menyala membuat Minato semakin yakin bahwa Kushina ada disana.

Dengan teropong yang dibawanya, Minato mencoba memeriksa orang yang berada di dalam gudang itu melalui jendela yang terbuka dari samping.

"Hm... sudah kuduga penculiknya ada 5 orang." Gumannya saat melihat 5 orang bersenjata api sedang membentuk formasi segi 5 untuk menjaga Kushina yang sedang terikat pingsan di tengah-tengah mereka.

setelah mengambil pisau bercabang 3 yang ia desain sendiri, Minato kemudian mengendap-endap menuju pintu masuk gudang itu lalu dengan berani mengetuknya beberapa kali.

Tok... tok... tok...

Setelah mengetuk pintu itu, Minato mendengar beberapa suara percakapan dari dalam gudang yang menyuruh salah satu penculik untuk membukanya.

Kriiieeet... sret! Jraats...

Baru saja salah satu penculik membuka pintu, sebuah tangan misterius menariknya keluar lalu setelah itu yang terdengar adalah suara benda tajam yang menghunus ke daging. Kenapa para penculik itu tidak menembak padahal memiliki senjata api? Tentu saja karena mereka tidak ingin ketahuan polisi setempat karena menembakkan timah panas yang pasti menimbulkan suara bising.

Pintu gudang yang baru sedikit terbuka tadi kemudian terbuka seutuhnya karena sebuah dorongan 'misterius' dan menampilkan salah satu penculik telah mati dengan luka tusukan tepat di tenggorokannya tapi di sampingnya tidak terlihat ada orang yang menusuknya.

'Mereka tidak menembak, itu artinya kerahasiaan tempat mereka bersembunyi saat ini lebih penting dari apapun. Kalau begitu...' Batin Minato lalu mengeluarkan beberapa pisau bercabang 3 lagi lalu menempatkannya di sela-sela jari tangan kanannya.

Lalu dengan secepat kilat, Minato masuk ke dalam gudang itu kemudian melemparkan pisau di tangan kanannya lagi dengan akurasi yang luar biasa sehingga mengenai mata dari 2 orang penculik di sebelah kanan yang hendak menbidiknya.

Mengetahui 1 temannya telah mati dan 2 temannya buta, 2 penculik yang tersisa segera membidik Minato tetapi sebelum sempat menembaknya tangan Minato telah memegang lalu mengarahkan senjata api salah satu penculik ke atas kemudian menyeretnya mengikutinya berlari kepada penculik lain.

Lalu setelah sampai di depan penculik satunya, Minato langsung menusukkan pisaunya tepat ke jantung penculik itu kemudian mencabutnya lalu menusukkannya lagi ke jantung penculik yang senjata apinya ia pegang sehingga sekarang tinggal 2 penculik yang masih hidup tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua bola matanya telah hancur.

Berjalan santai ke arah 2 penculik yang memegangi matanya itu, Minato kemudian mencabut pisau yang menghancurkan kedua bola mata mereka lalu menancapkannya lagi ke tenggorokan mereka hingga mereka berdua mati dengan tenang, sangat tenang.

"Kalau Kushina melihatku begini, sudah pasti dia akan ketakutan. Haah... aku harus menghilangkan darah ini dari tanganku." Setelah menggumankan itu, Minato kemudian berjalan ke luar untuk mencari keran air.

Beberapa menit kemudian...

Setelah menghilangkan noda darah dari tangannya juga tak lupa dari pisau rancangannya, Minato kemudian mencoba membangunkan Kushina yang kelihatannya dibius dengan obat.

"Hoy Kushina! Bangun! dasar tomat merah tsundere!" Setelah mencoba beberapa kali membangunkan Kushina dengan cara mainstream yaitu menggoyangkan tubuhnya tapi tidak juga bangun, kemudian Minato mencoba cara yang menurut otak S nya lebih ampuh.

"Salah sendiri karena tidak mau bangun." Kata Minato lalu mengeluarkan salah satu pisaunya yang masih sedikit basah lalu digoreskannya pisau itu ke lengan kanan Kushina tetapi tidak terlalu dalam bahkan tidak berdarah meski pasti terasa perih.

Sepertinya usaha Minato kali ini berhasil karena Kushina mulai menunjukkan tanda-tanda akan sadar dan tentu saja setelah melihat tanda-tanda itu Minato langsung menyimpan kembali pisaunya.

"Hm... dimana aku?" Tanya Kushina dengan pandangan yang masih berkunang-kunang. Seluruh tubuhnya tanpa terkecuali kini merasa lemas tetapi dia masih bisa merasakan perih di bagian lengannya. Lama-kelamaan setelah pandangannya fokus kembali dan yang pertama kali ia lihat adalah seseorang yang memakai topeng menakutkan dan berambut pirang serta berpakaian serba hitam.

"Kyaaaa!" Layaknya seorang heroine di dalam anime harem ecchi yang memergoki sang hero mengintipnya saat mandi ataupun tengah telanjang *?* Kushina berteriak sekeras-kerasnya karena kaget.

"Hoy! Diamlah tomat tsundere!" Perintah sebuah suara yang sangat dikenalnya. Ya, suara itu adalah suara seorang pemuda yang sangat ia benci yaitu Namikaze Minato.

"Ja-jangan kau adalah..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Kushina kini terdiam lagi setelah Minato membuka topeng yang pakai sehingga menampilkan wajah remaja berkulit tan eksotis dan berambut pirang.

"Yo! Kushina o Hime-sama." Entah kenapa, kini Kushina merasa wajahnya merona saat melihat salah satu siswa di kelasnya yang biasanya berpakaian layaknya remaja culun kini terlihat seperti remaja pada umumnya, belum lagi Minato tadi juga memberikan senyumnya pada Kushina.

Tidak mau terpesona dengan seseorang yang dibencinya, Kushina kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain tapi alangkah terkejutnya dia saat mendapati 2 tubuh yang tergeletak berlumuran darah di sisi kiri dan kanannya. Meski jaraknya cukup jauh dari tempatnya duduk tapi Kushina yakin jika itu adalah darah asli karena dia bisa mencium bau anyir dari kedua arah itu.

"Hueek~~" Kushina kali ini merasa mual karena baru pertama kali melihat hal seperti ini secara LANGSUNG ditambah lagi bau anyir yang terhirup hidungnya membuat Kushina semakin mual tapi sebisa mungkin ia tahan untuk tidak muntah karena sekarang Kushina tidak sendiri.

"A-apa yang sebenarnya terjadi pirang culun?" Tanya Kushina pada Minato yang sejak tadi terdia melihatnya mual-mual.

"Kita sedang dikerjai oleh seseorang." Kata Minato dengan nada serius dan sangat meyakinkan bagi siapapun yang mendengarnya.

"Dikerjai? Siapa yang berani-beraninya mengerjaiku-ttebane!" Teriak Kushina yang langsung percaya pada ucapan Minato.

"Pfft! Lihatlah ke pojok ruangan atau di atas pintu masuk maka kau akan melihat kamera tersembunyi disana." Kata Minato sambil menahan tawanya karena mendengar Kushina menyebutkan kata aneh seperti Dattebane.

Melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Minato, Kushina tak melihat apa-apa selain ruang kosong dan tidak terdapat satupun kamera tersembunyi.

"Kau membohongiku?" Tanya Kushina dengan nada berbahaya.

"Tentu saja tidak. Kau masih lemas saat ini karena obat bius tadi masih bekerja jadi kau belum bisa fokus melihat."

"Obat bius? Jadi aku dibius?"

"Tentu saja, seperti kata pepatah kau tidak bisa menangkap seekor banteng PMS yang melihatmu menggerakkan kain dengan tidak beraturan kecuali dengan membiusnya. Ngomong-ngomong ayo keluar dari sini, apa kau bisa berjalan?" Ajak Minato dengan menyodorkan tangannya kepada Kushina.

'Pepatah dari mana itu?' Batin Kushina sweatdrop saat mendengar pepatah yang diutarakan Minato.

"Tidak bisa. Kedua kakiku masih lemas dan tidak bisa digerakkan." Kata Kushina malu-malu.

"Kalau begitu tidak ada pilihan lain."

"Kyaa!"

Yang terjadi saat itu adalah Minato menggendong Kushina dengan gaya bridal style diikuti oleh teriakan kaget dari Kushina.

"A-a-a-apa yang kau lakukan baka!" Tanya Kushina dengan terbata-bata akibat rasa malu, kaget, senang, gengsi bercampur aduk di hatinya.

"Tentu saja aku akan menggendongmu pulang. Kau tidak mau disini semalaman bukan?"

"..." Mendengar alasan Minato itu membuat Kushina diam tanpa suara. Memang benar jika dia tidak ingin disini semalaman tapi dia juga tidak bisa pulang karena kakinya lemas akibat sisa-sisa efek dari obat bius. Oleh karena itu Kushina terpaksa digendong ala tuan putri oleh Minato menuju rumahnya.

Malam itu adalah malam dimana Kushina tahu semuanya tentang Minato, mulai dari alasan dia berpakaian ala remaja culun dan bermasalah dengan kepribadian saat di sekolah bahkan sampai kisah hidup Minato sebagai yatim piatu. Hubungan mereka berdua sejak malam itu semakin dekat bahkan hubungan mereka di sekolah pun juga juga, lebih tepatnya Kushina yang mendekati Minato dan yang paling penting adalah Kushina tidak pernah tahu akan kebenaran penculikan itu sampai akhirnya Minato menceritakan kejadian sebenarnya setelah mereka menikah.

Bukankah masih ada keluarga, teman, guru yang menanyakan keadaan Kushina setelah penculikan itu? Sayangnya tidak ada yang berani menanyakannya karena mereka menganggap hal itu hanya akan membuat trauma Kushina kembali.

Flashback in Flashback off (intinya balik ke cerita Naruko)

06.15 AM (Taman)

Setelah berlari sampai ke taman yang lumayan jauh dari rumahnya, Naruko akhirnya sampai di taman. Di samping air mancur yang berada di tengah-tengah taman itu sudah ada Sona, Maki, Rias dan Akeno yang kelihatannya sudah sampai terlebih dulu.

Sona dan Maki sama-sama memakai mini dress dipadukan dengan Legging dan high heel pendek hanya saja berbeda warna, Sona memakai warna hitam dan Maki memakai warna merah maroon. Sedangkan Rias dan Akeno memakai kemeja berwarna merah (Rias) dan Ungu (Akeno) yang dipadukan denga legging dan ankle boots.

"Maaf! Aku terlambat." Kata Naruko meminta maaf pada Rias, Akeno, Sona dan Maki yang kelihatannya telah lama menunggunya.

"Tidak perlu, kami juga baru sampai Naruko."

"Ngomong-ngomong ada apa sekarang Rias-nee? Kenapa buru-buru?" Tanya Naruko yang masih belum ngeh dengan situasi mereka saat ini.

"Aku juga tidak tahu. Tadi Akeno mengirim pesan padaku saat aku sedang berganti baju." Jawab Rias sembari melirik Akeno.

"Rias, kau mendapat surat misterius bukan?" Tanya Akeno pada Rias.

"Aku mendapat surat pagi ini tapi karena surat itu kosong jadi kubuang saja." Jawab Rias dengan entengnya.

"Kalau kau Naruko?"

"Hm! Awalnya surat itu kosong tetapi sewaktu Otou-sama menyiramnya dengan air muncul sebuah tulisan Theme Park."

"Intinya surat itu adalah undangan untuk kita semua, kita diundang oleh Enigma dengan alasan yang belum diketahui. Itukan yang kau maksud Akeno?"

"Hm... kau benar Sona. Jadi karena semua sudah disini kita akan berangkat ke Theme Park Kuoh!" Meski saat menyetujui pendapat Sona, ekspresi Akeno terlihat serius tapi waktu mengajak mereka semua berangkat ekspresinya berubah 180 derajat menjadi ekspresi senang khas anak kecil.

'Perubahan ekspresi yang mengerikan.' Batin Sona, Naruko, Rias dan Maki saat melihat ekspresi Akeno yang dapat berubah dalam sekejap.

07.00 AM (Theme Park)

Saat ini Akeno, Sona, Maki, Naruko dan Rias telah sampai di Theme Park, tempat dimana mereka di undang oleh pemegang gelar Enigma. Tapi nampaknya mereka semua harus sabar mengantri untuk dapat masuk ke dalam karena berhubung hari ini adalah hari minggu jadi Theme Park ramai dengan keluarga-keluarga yang ingin berekreasi maupun pasangan-pasangan muda yang sedang berkencan.

15 menit kemudian...

Akhirnya setelah 15 menit mengantri Sona, Maki, Rias, Akeno dan Naruko bisa masuk ke dalam Theme Park. Di dalam sana terdapat banyak sekali wahana-wahana menarik mulai dari roller coaster, komedi putar, hysteria,bianglala dsb. Stan-stan makanan dan oleh-oleh khas kota Kuoh pun juga berjejer rapi di sepanjang jalan mereka.

"Sekarang muncul masalah baru, Akeno. Dimana kita bisa menemukan Enigma?" Kata Maki menggambarkan keadaan mereka yang saat ini kebingungan.

"Hm... Enigma juga tidak memberi tahu kita dimana ia sekarang berada. Apa kau menemukan sesuatu Rias?"

"Apa yang kau harapkan dariku Akeno? Aku sudah memeriksa peta Theme Park berulang-ulang tapi tidak menemukan apapun. Kalau Naruko?"

"Aku tidak tahu Rias-nee, Akeno-nee, Maki-nee." Kata Naruko dengan nada putus asa.

"Haaaah..." Dengan serempak mereka semua minus Sona menghembuskan nafas mereka.

"Ketemu." Cetus Sona di saat-saat mereka putus asa.

"Heh!" Kaget Akeno, Rias, Maki dan Naruko.

"Disini, Negima House." Kata Sona sembari menunjukkan peta miliknya lalu telunjuknya ia arahkan ke sebuah wahana yang bernama Negima House.

"Kau benar Sona. Dia pasti ada disana." (Akeno)

"Aku melewatkan game ini Galileo. Kau menyelamatkan kami dari keputusasaan." (Maki)

"Kau hebat Sona-nee!" (Naruko)

"Hm... aku masih tidak tahu apa yang membuat kalian semua berpikir bahwa Enigma berada disana." (Rias)

Mendengar komentar Rias yang sepertinya belum paham, Sona berinisiatif menjelaskan sebuah game kecil dibalik cerita ia menemukan posisi Enigma saat ini.

"Ini adalah game, Rias. Nama Negima bisa disusun ulang tanpa menambah ataupun mengurangi abjadnya menjadi nama Enigma." Jelas Sona secara singkat.

"Oh... aku paham sekarang."

"Karena semuanya sudah paham. Ayo kesana sekarang juga!" Ajak Akeno pada mereka semua.

Negima House

Sesampainya di depan wahana Negima House, kini para gadis-gadis pemegang gelar dan adik pemegang gelar harus dibingungkan dengan keadaan wahana ini yang sepi dari pengunjung. Pengunjung yang ada di sekitarnya hanya menumpang lewat di depan wahana itu.

"Sepi sekali. Apa jangan-jangan ini hanya jebakan?" Kata Sona curiga dengan wahana ini.

"Tidak mungkin Sona. Kalau ini jebakan maka kita tidak akan bisa menemukan Enigma karen hanya inilah satu-satunya tempat yang paling memungkinkan. Sudahlah ayo masuk saja!" Sepertinya yang paling bersemangat saat pergi ke Theme Park kali ini adalah Akeno. Terbukti dari dia yang selalu mengajak Sona, Maki, Naruko dan Rias dari awal.

"Tidak ada pilihan lain. Ayo ikuti Akeno." Ajak Maki pada mereka yang tertinggal oleh Akeno.

Dalam perjalanan di dalam wahana

Saat ini Akeno telah berjalan terlebih dulu memasuki wahana Negima House yang diyakini mereka merupakan posisi dari pemegang gelar yang mengundang mereka semua kesini yaitu Enigma.

"Pantas saja wahana ini sepi ternyata isinya hanya terowongan." Komentar Akeno terlalu jujur lada wahana ini. Pasalnya sudah bermenit-menit Akeno berjalan tapi ditemuinya hanyalah lorong-lorang kosong.

'Apakah Enigma tidak ada disini? Kalau tidak maka dimana dia berada?' Batin Akeno.

Melihat sebuah pintu yang ia indikasikan sebagai pintu keluar membuat Akeno langsung berlari untuk segera menyongsongnya. Tapi alangkah terkejutnya Akeno setelah membukanya karena bukan jalan keluar yang ia temukan melainkan sebuah aula besar berbentuk lingkaran yang di tengahnya terdapat sebuah meja + kursi + laptop yang tersambung ke sebuah benda berbentuk kubus dengan panjang rusuk 40 cm di depannya. Di ujung yang berbeda dari posisi Akeno terdapat sebuah tirai hitam yang menutupi sesuatu di baliknya.

"I-ini..." Belum sempat Akeno menyelesaikan perkataannya, sebuah suara telah menginterupsinya.

"Selamat datang di game ku Edison." Dari belakang tirai hitam itu keluarlah seseorang yang memakai topeng rubah sekaligus seseorang yang mengundang mereka semua kesini, Enigma dengan pakaian serba hitam mulai dari mini dress yang ia pakai sampai jeans yang membalut kaki idealnya. Ngomong-ngomong soal mereka semua, dimana Rias dan yang lainnya?

"Dimana Rias dan yang lainnya? Harusnya mereka bisa menyusulku saat ini. Jangan... jangan..." Pandangan Akeno kini menatap tajam ke arah tirai hitam tempat keluarnya Enigma.

Cteek!

Dengan menjentikkan jarinya, Enigma membuat tirai itu terbuka dan menampilkan Rias, Sona, Maki dan Naruko yang sedang terikat dan tengah pingsan.

"Apa yang kau lakukan pada mereka, Enigma!" Teriak Akeno marah kepada sosok pemegang gelar misterius di depannya itu.

"Mainkan gamenya atau kalian semua akan mati." Setelah mengatakan itu Enigma berlari keluar melalui pintu yang ada di belakangnya. Akeno yang sebenarnya hendak mengejar Enigma kini sadar jika ada kejanggalan antara kotak kubus misterius dengan laptop yang ada di tengah aula.

Menghampiri laptop yang kebetulan sudah terbuka itu, Akeno menemukan fakta bahwa kubus yang tersambung dengan laptop itu bukanlah kubus biasa melainkan sebuah bom atom versi mini seperti yang digunakan Enigma pada pertemuan pertama mereka di atap Kuoh Gakuen.

"Hoy! Hoy! Seberapa mudahnya dia membuat bom seperti ini." Menutup program yang menampilkan komposisi tentang kubus itu, Akeno kini dihadapkan oleh sebuah program lain yang otomatis terbuka dan bisa ditebak bahwa program itu adalah game yang dimaksud Enigma.

Ilustrasi Game

Yang ditampilkan di layar laptop itu adalah sebuah program mirip dokumen kosong dari Mircrosoft Word maupun program pengolah kata lainnya tapi tidak bisa dibilang benar-benar kosong karena disana sudah terdapat tabel yang berukuran 27 ke samping dan 27 ke atas (Tabel untuk memecahkan sandi Vigenere,kalo gak mau cari gambarnya saya jamin gak faham game ini)

Kemudian di bawah tabel itu terdapat angka mulai dari 1-26 lalu di pojok kanan atas angka-angka itu terdapat kuadrat 27 untuk menandakan angka-angka tersebut bisa dipakai sampai 27 kali untuk mengisi tabel-tabel tadi. Lalu di bagian yang bisa kita sebut "footer" terdapat sebuah kotak dengan judul "Fill Your Answer Here" yang menandakan kotak itu digunakan untuk mengisikan jawaban. Dan terakhir tentu saja di bagian "header" terdapat sebuah countdown alias hitung mundur yang dimulai dari 15 menit.

"Pertama aku harus mengisikan angka-angka ini dulu ke dalam tabel. Tapi bagaimana aku bisa tahu cara pengisiannya? Tidak ada petunjuk sama sekali kecuali bentuk tabel ini yang unik dan juga asumsi mutlak bahwa angka sebanyak 26 yang berkuadrat 27 itu adalah konversi dari huruf alfabet ke angka."

"Jika aku menggunakan logika matematika saat ini maka sisi paling kiri dan no 2 dari atas harus diisi oleh angka 1-26, cara yang paling logis saat ini adalah menganggap bahwa sel bagian pojok kiri atas memang harus kosong agar semua bisa terisi. Lalu sisi paling atas juga harus diisi oleh 1-26 dengan syarat tidak mengisi bagian yang kosong di pojok kiri atas tadi." Setelah menyelesaikan satu langkah penyelesaian tabelnya, kini Akeno dihadapkan pada masalah lain.

"Setelah ini maka sel bagian atas akan bertemu dengan bagian samping. Cara yang paling logis adalah mengisikannya dengan angka yang sama begitu pula seterusnya hingga membentuk banyak garis miring yang berisikan angka-angka sama. Yosh! Sudah terpecahkan!" Karena sudah memecahkan sebuah stage di game ini, Akeno langsung melanjutkan mengisi tabel kosong tadi dengan cara yang bersumber pada logika matematikanya tadi sampai semua terisi penuh.

Setelah tabel itu terisi penuh maka muncullah 6 kumpulan angka di samping tabel yang sudah terisi dengan sempurna tadi. Angka yang muncul bisa dipastikan bukanlah game karena tidak nyambung sama sekali.

Ilustrasi Angka yang muncul

Note: ^= tanda panah dari atas dan = tanda panah dari samping kiri.

1. 3, ^5

2. 10, ^6

3. 5, ^11

4. 26, ^8

5. 8, ^5

6. 6, 26

Repair and type this name in a Box...

"Hm... aku tidak terlalu mengerti bahasa inggris ini tapi aku tahu apa yang harus kulakukan. Tanda ^ menunjukkan dihitung dari atas dan tanda menunjukkan bahwa dihitung dari kiri. Itu berarti 3 dari kiri adalah angka 3 beserta barisnya ke bawah lalu 5 dari atas adalah angka 5 beserta barisnya ke samping kanan kemudian kedua baris itu berpotongan di satu titik dan titik itu adalah sel yang berisikan angka 7, jika dikonversi ke dalam alfabet maka akan menjadi huruf G."

"10, ^6 akan berpotongan di angka 15 itu artinya O. 5, ^11 akan berpotongan di angka 15 juga. 26, ^8 akan berpotongan di angka 15 itu artinya G. 8, ^5 akan berpotongan di angka 12 itu artinya L dan yang terakhir adalah 6, ^26 akan berpotongan di angka 5 itu artinya E. Jika diurutkan akan menjadi kata..."

"GOOGLE!" Teriak Akeno tak percaya pada jawaban yang dihasilkannya sendiri. Bagaimana mungkin angka-angka sebanyak itu dibuat menjadi game dengan sedemikian rupa hingga mencapai level super sulit tetapi jawaban dari game itu hanyalah GOOGLE.

"Haaah... haah... haah..." Meski kenyataannya Akeno hanya duduk saja saat ini tapi tetap saja dia merasa lelah akibat memikirkan game itu. Otaknya kali ini terasa bagaikan overheat akibat terlalu cepat berfikir dan digunakan untuk memerintahkan alat geraknya (tangan) untuk bekerja dengan cepat mengetik ratusan angka di tabel tadi. Kepalanya kini sudah jatuh ke meja akibat kelelahan.

"Waktunya tinggal 5 menit. Aku tidak boleh berhenti dan mati saat ini. Tidak sampai aku sejajar dengan Naruto-kun dan itu juga berlaku pada Sona, Maki dan Rias. Aku tidak akan membiarkan mereka mati sebelum kami sejajar dengan Naruto-kun!" Kata Akeno pada dirinya sendiri. Lalu dengan memaksakan seluruh sisa tenaganya, ia kembali bangkit dan sadar atau tidak sadar mata kanannya mulai berubah warna menjadi merah.

"Google ya... itu perusahaan IPTEK yang besar sejak dulu. Aku tidak tahu arti dari tulisan bahasa inggris itu jadi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk mengisi kotak terakhir."

Waktu tinggal 3 menit dan terus berjalan...

"Mungkin saja Enigma sengaja memilihku yang memiliki gelar Edison untuk menyelesaikan game ini. Gelar Edison cepat berfikir dalam sesuatu yang berhubungan dengan angka dan matematika itu berarti kalau benar dia sengaja memilihku maka sudah pasti jawaban dari game ini juga berhubungan dengan angka dan matematika."

Waktu tinggal 2 menit dan terus berjalan...

"Nama google mengingatkanku dengan sebuah istilah matematika yaitu Googol. Itu dia, Googol! Googol adalah digit 1 dengan seratus angka 0 di belakangnya dalam bentuk desimal."

Lalu dengan cepat Akeno segera mengetikkan jawabannya pada kotak yang telah disediakan lalu setelah selesai dengan cepat pula ia menekan tombol ENTER.

Jawaban Akeno:

10, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000, 000.

Bruuk! Setelah itu terdengar suara tubuh manusia yang ambruk dan hitung mundur (Countdown) di monitor itu berhenti pada angka kritis yaitu 00:00:00:12 alias 12 milidetik.

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

A/N: Huwaaah! Rasanya pusing nih kepala mikirin chapter ke 2 ini. Mana belum punya gambaran chapter ke 3 lagi -_- tapi ini masih FLASHBACK yang menceritakan gimana nasib para heroine saat ditinggal Naruto ke Italia. Btw feelnya kerasa ya? Kalo iya saya bakal ngebuat Maji de Watashi ni Koi Shinasai: EXTRA dimana cuman saya dan author alya uzumaki (tempat sampah/curhat pribadi saya) yang tahu. Btw JANGAN MEREVIEW dengan LANJUT,NEXT dsb. Lu kira gwe budak elu yang bisa elu suruh buat ngelanjutin fic ini padahal kepala gwe juga sakit? Daripada dianggep budak disini gwe lebih baik pergi dari FFN.

Q: Siapa nama asli pemilik gelar ENIGMA?

A: Ra-Ha-Si-A :*

Nano, Log Out