Mysterious Whisper

Pair:

Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)

Length: Part 2 of …

Rated: T

Warning:

BL, AU, Fiction. Don't read it if you do not like it.

Summary:

It's started with a single whisper. / NamJin with other BTS member. BL. AU /

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

Mysterious Whisper (Part. 2)

Seokjin segera berdiri dan melangkah keluar dari apartemennya, dia membanting pintunya hingga menutup dan menghubungi Namjoon. Terdengar nada sambung cukup lama sampai akhirnya Namjoon mengangkat teleponnya.

"Yes, Baby?"

"Namjoon, pulang sekarang."

"Ada apa, Babe?"

"Cepat pulang, please. Aku takut.."

"Seokjin? Kau baik-baik saja? Kau ada di mana sekarang?"

"Aku ada di depan apartemen kita."

"Oke, aku pulang sekarang, kau tunggu saja di dalam apartemen."

"Tidak! Aku tidak mau masuk sendirian."

"Sayang, sebenarnya ada apa?"

"Namjoon, cepat pulang, please."

"Oke, oke. Aku pulang sekarang. Tunggu aku."

Seokjin menghembuskan nafas lega saat Namjoon berjanji akan pulang sekarang juga. Dia bersandar di dinding koridor apartemennya. Apartemennya dan Namjoon terletak di lantai 13, karena hanya lantai 10 ke atas yang memiliki ruangan lebih besar dari yang berada di lantai 10 ke bawah.

Seokjin menggigit bibirnya sementara dia menunggu Namjoon pulang, dia tidak berani masuk ke dalam apartemen, tapi berdiam diri di luar apartemen juga terasa menyeramkan. Hari mulai gelap dan di lantai 13 ini tidak memiliki banyak penghuni. Setahu Seokjin, hanya dia dan sebuah keluarga kecil yang menghuni lantai ini.

Seokjin mulai mengetuk-ketukkan kakinya ke lantai, "Cepat datang, Namjoon.." gumamnya berulang-ulang. Sesekali matanya akan melirik ponselnya untuk memeriksa jam.

Seokjin berhenti menatapi ponselnya saat dia mendengar suara tetesan air lagi disertai bisikan seorang wanita yang mengucapkan 'Tolong aku..', Seokjin menoleh ke arah ujung koridor dan dia melihat ada sosok seorang wanita dengan rambut panjang berantakan, kulit pucat pasi, dan berbalut pakaian berwarna putih lusuh sedang berdiri di sana dan memandangnya.

Seokjin menjerit dan berlari ke arah lift dengan cepat, jemarinya menekan panel lift dengan brutal sementara dia bisa mendengar suara tetesan air yang semakin mendekat padanya.

Seokjin mulai menggedor pintu lift dengan panik, "Buka! Buka pintunya!"

Tiba-tiba pintu lift terbuka dan Seokjin jatuh terhuyung ke depan, dia menubruk seseorang yang berada di dalam lift. Seokjin menoleh ke belakang dan dia tidak melihat sosok wanita itu.

"Seokjin? Ada apa?"

Seokjin mendongak saat mendengar suara yang sangat dikenalnya dan dia nyaris menangis saat melihat Namjoon lah orang yang dia tabrak tadi. Seokjin memeluk Namjoon erat-erat dan mulai menangis, sungguh, tadi adalah momen paling menakutkan dalam hidup Seokjin.

Namjoon menahan pintu lift yang hampir menutup dengan sebelah tangan sementara tangan yang lainnya dia gunakan untuk memeluk Seokjin. Dengan hati-hati Namjoon melangkah maju dengan Seokjin yang masih berada dalam pelukannya. Setelah keluar dari lift, Namjoon menghentikan langkahnya.

"Nah, apa kamu ingin menceritakan sesuatu padaku?" tanya Namjoon seraya meregangkan pelukannya dan mengangkat dagu Seokjin agar dia mendongak dan menatapnya.

Seokjin mencengkram bagian depan jas Namjoon, "Rumah kita berhantu, Namjoon."

Namjoon mengerutkan dahinya, "Apa maksudmu dengan berhantu?"

"Semalam aku mendengar suara tetesan air dan aku melihat ada rambut panjang berwarna hitam yang menjulur di bahuku. Lalu paginya aku mendengar suara deritan kursi, dan tadi siang aku melihat ada hantu wanita yang menatapku, Namjoon."

"Mungkin kau hanya terlalu lelah."

Seokjin menggeleng, "Tapi sekarang apartemen kita penuh dengan air berbau aneh, Namjoon. Baunya seperti rawa-rawa dan ada rambut panjang berwarna hitam di dalamnya. Rambut yang sama dengan yang aku lihat semalam."

Namjoon terdiam sebentar, "Tadi kau bilang apartemen kita? Berarti sekarang airnya masih ada, kan? Ayo kita periksa." Namjoon melepaskan pelukannya dan menggandeng Seokjin ke apartemen mereka.

Namjoon memasukkan passwordnya dan membuka pintu, sementara di belakangnya Seokjin bersembunyi di balik tubuh Namjoon.

Namjoon melangkah masuk dan dia langsung menutup hidungnya saat bau aneh seperti bau rawa-rawa tercium begitu kuat dari rumah mereka. Seokjin langsung memeluk Namjoon dari belakang erat-erat dan memilih untuk menutup hidungnya dengan punggung Namjoon.

Namjoon memperhatikan tetesan air yang tersebar di seluruh penjuru, "Kita harus membersihkan ini. Baunya membuatku mual."

Seokjin mengangguk setuju.

Namjoon menoleh ke arah Seokjin, "Sayang, bisa lepaskan aku? Aku tidak bisa membersihkan lantai jika kau menempel padaku seperti ini."

"Tapi aku takut.." rengek Seokjin.

"Aku kan sudah ada di sini. Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu."

Seokjin melepaskan pelukannya dengan tidak rela, Namjoon segera pergi untuk mengambil kain pel dan Seokjin mengambil barang belanjaannya yang masih tergeletak di depan pintu. Seokjin membawanya ke dapur dan dia mulai membereskan barang-barang itu sementara Namjoon mengepel lantai.

Seokjin menghembuskan nafas lega setelah dia selesai membereskan barang-barang itu, dia mengambil gelas dan bermaksud untuk minum. Seokjin membawa gelasnya ke sink dapur dan membuka kran airnya, air mengalir ke gelas Seokjin dan tiba-tiba saja ada sesuatu seperti gumpalan berwarna hitam masuk ke gelas Seokjin.

"Apa ini? Apa ini lumut?" gumam Seokjin, dia menjulurkan tangannya dan mengambil benda hitam itu dan saat dia menariknya, ternyata benda itu adalah segumpal rambut panjang berwarna hitam dengan sedikit lumut yang menempel di helaiannya.

Seokjin menjerit dan melemparkan gelas beserta rambut itu ke sink.

Namjoon segera berlari menghampiri Seokjin karena dia menjerit, "Ada apa?" tanyanya panik.

Seokjin menunjuk gumpalan rambut itu dengan tangan gemetar, "A-ada rambut yang keluar dari kran air.."

"Apa?" Namjoon membungkuk untuk memeriksa gumpalan rambut itu, dia mengambilnya dan menjejalkannya ke pipa pembuangan kemudian menyiramnya dengan banyak air. Namjoon juga membersihkan pecahan gelas yang bertebaran di sink.

"Namjoon, ayo kita telepon seseorang untuk mengusir hantu." Seokjin berujar seraya mencengkram lengan Namjoon.

"Tapi siapa yang bisa kita hubungi? Kita tidak memiliki kenalan seorang pengusir hantu."

"Jungkook bilang dia mempunyai kenalan yang sering menyelidiki hantu. Mungkin mereka bisa mengusir hantu di rumah kita." Seokjin berujar seraya menatap Namjoon dengan pandangan memohon andalannya.

"Oke, kita akan minta mereka datang besok karena sekarang sudah malam. Sekarang aku akan menelepon Jungkook untuk meminta nomor telepon orang-orang itu. Bagaimana?"

Seokjin mengangguk setuju.

"Oh, sayang, selagi aku menelepon, bisa tolong telepon food delivery service? Aku kelaparan."

.

.

.

.

.

.

.

Setelah menelepon Jungkook dan menghubungi orang-orang itu, Namjoon memutuskan agar mereka makan malam dulu. Karena biar bagaimanapun juga mereka butuh makan. Seokjin sama sekali tidak mau berjauhan dari Namjoon. Bahkan Seokjin menyarankan agar mereka mandi bersama saja karena dia tidak mau mandi sendiri.

Namjoon jelas setuju, sudah lama sekali sejak mereka mandi bersama. Dan kalau saja Seokjin sedang tidak ketakutan, Namjoon yakin sesi mandi bersama mereka akan berlangsung ke tahap lebih lanjut.

Setelah mandi, Namjoon duduk dengan bersandar di headrest tempat tidur mereka sementara Seokjin berbaring sambil memeluk pinggang Namjoon. Namjoon sedang sibuk memeriksa iPadnya sedangkan Seokjin hanya berbaring diam.

"Namjoon,"

"Hmm?"

"Kau tidak mengantuk?"

"Tidurlah kalau kau sudah mengantuk, sayang. Aku akan menyusulmu setelah aku menyelesaikan pekerjaanku."

Seokjin menggeleng kecil, "Kalau aku tidur sekarang, aku takut terbangun di tengah malam."

Namjoon mengulurkan tangannya dan mengambil headset beserta iPod dari meja nakas. "Kalau kau terbangun di tengah malam, tutup telingamu dengan ini dan peluk aku, atau bangunkan aku kalau kau benar-benar tidak tahan."

"Kau kan sulit dibangunkan." Seokjin menggembungkan pipinya sambil mengambil iPod dan headset itu.

"Hei, kemarin aku bangun saat kau menjerit, kan? Aku bisa terbangun kalau aku merasa kau dalam kesulitan, sayang."

Seokjin mengangguk-angguk, "Aku akan menamparmu kalau kau tidak bangun juga."

"Iya, hajar saja aku sepuasmu sampai aku bangun."

Seokjin memeluk Namjoon lagi, "Namjoon, aku mau tidur yaa.."

Namjoon mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Seokjin, "Iya, tidurlah. Aku akan menjagamu."

.

.

.

.

.

.

Seokjin menggeliat pelan dan membuka matanya, dia menatap sekeliling dan dia melihat Namjoon tertidur pulas dengan posisi memeluknya. Namjoon hanya menyalakan lampu tidur di kamar mereka sehingga kamar mereka terlihat agak remang-remang.

Seokjin menyamankan posisinya dalam pelukan Namjoon dan kembali memejamkan matanya. Dia bermaksud untuk tidur lagi karena dia yakin saat ini masih tengah malam. Tapi Seokjin merasa ada seseorang yang memperhatikannya, Seokjin menutup matanya rapat-rapat dan merapatkan diri sepenuhnya ke Namjoon.

Seokjin meraba-raba tempat tidurnya dan menemukan headset yang dia letakkan di dekat bantal, Seokjin segera memakai headset tersebut dan menyalakan iPodnya tanpa membuka mata sedikitpun. Seokjin menghembuskan nafas lega saat lagu mulai mengalun dari headset di telinganya. Seokjin mencoba fokus pada lagu tersebut dan kembali tidur.

Tes Tes Tes

Seokjin bersumpah di dalam lagu ini tidak ada suara tetesan air sebelumnya dan sekarang dia mendengar suara itu dengan jelas di telinganya. Seokjin meremas kaus Namjoon dan menggoyangkan tubuh Namjoon pelan, mencoba membangunkannya karena Seokjin mulai ketakutan sekarang.

Seokjin tetap menutup matanya rapat-rapat walaupun suara tetesan air di headsetnya semakin jelas, suara lagunya sudah menghilang sepenuhnya. Seokjin merasakan hawa dingin itu lagi di sekitarnya dan kemudian Seokjin merasa sesuatu seperti rambut yang basah menempel di pipinya.

Rambut itu panjang karena Seokjin merasakannya menjulur hingga ke bibirnya. Seolah-olah ada seseorang yang sedang berada di atas Seokjin dan membungkukkan tubuhnya dan wajahnya tepat berada di atas Seokjin.

Seokjin mulai mencubit Namjoon sekarang, rambut yang terjatuh ke wajahnya terasa semakin banyak. Dan rambut itu mengeluarkan bau rawa-rawa yang membuat Seokjin mual.

/ "Tolong aku.." /

Seokjin mendengar itu dibisikkan tepat di telinganya dan Seokjin memukul Namjoon keras-keras agar Namjoon terbangun. Dan trik itu berhasil, Namjoon menyingkirkan tangannnya sambil mengaduh pelan.

"Jinnie?"

Seokjin menghembuskan nafas lega saat mendengar suara serak Namjoon. "Namjoon, apa itu kau?" tanya Seokjin tanpa membuka matanya sedikitpun. Suara lagu kembali mengalun di telinganya.

"Iya, ini aku. Kenapa, hum? Kenapa memukulku? Kau butuh sesuatu?"

"Di-di atasku tidak ada apapun, kan?"

Namjoon mengerutkan dahinya bingung, "Tidak ada. Ada apa?"

Seokjin membuka matanya perlahan dan dia langsung berhadapan dengan wajah khawatir Namjoon. Seokjin menghembuskan nafas lega dan melepas headsetnya.

"Kenapa, sayang? Ada apa?"

"Hantu itu kembali dan dia berada tepat di atasku. Aku merasakan rambutnya jatuh ke wajahku."

Namjoon menatap sekeliling, "Tapi tidak ada siapapun di sini waktu aku bangun."

"Tapi aku benar-benar merasakannya, Namjoon. Aku juga mencium bau rawa-rawa itu dari rambutnya."

Namjoon mengangguk pelan, "Oke, ayo lupakan itu dulu dan kembali tidur. Kau dan aku harus bekerja besok." Namjoon kembali menarik Seokjin ke dalam pelukannya, "Kalau hantunya datang lagi, bangunkan aku."

Seokjin mengangguk pelan dan memejamkan matanya, mencoba tidur kembali.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokkan harinya, mereka pergi bekerja seperti biasa. Teman-teman Jungkook yang akan menyelidiki hantu di rumah mereka akan datang siang nanti dan Jungkook sudah bersedia menemani mereka sampai Seokjin dan Namjoon pulang kerja.

Seokjin tidak bisa mengambil cuti lagi karena murid-muridnya membutuhkan bimbingannya untuk mengikuti lomba, sedangkan Namjoon memiliki setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan setiap harinya. Dipromosikan menjadi direktur cabang membuat Namjoon menjadi semakin sibuk.

Namjoon bersikeras mengantar dan menjemput Seokjin hari ini. Itu karena Namjoon khawatir kalau Seokjin menyetir sendirian. Seokjin terlihat pucat dan sering melamun, Namjoon yakin itu karena kejadian yang dia alami semalam.

Seokjin menunggu Namjoon datang menjemputnya di depan gerbang sekolahnya. Dia baru saja selesai memberikan latihan untuk lomba yang akan dihadapi muridnya. Sekarang sudah sore dan Namjoon bilang dia akan segera menjemput Seokjin.

Tak lama kemudian, Seokjin melihat mobil Namjoon dan dia bergegas menghampirinya. Seokjin membuka pintu dan masuk ke dalamnya.

"Hei, bagaimana harimu?" Namjoon memajukan tubuhnya dan memberikan kecupan singkat di bibir Seokjin.

"Aku baik, apa Jungkook sudah mengabarimu?"

Namjoon mengangguk, "Mereka sudah tiba sejak siang tadi dan Jungkook bilang Taehyung juga akan datang."

"Kalau begitu kita harus membeli beberapa makanan sebelum pulang. Aku sedang tidak ingin memasak."

"Oke, apapun untukmu."

.

.

.

Setelah membeli banyak makanan, Seokjin dan Namjoon kembali ke rumah. Mereka masuk ke dalam dan melihat Jungkook sedang duduk bersama tiga orang yang tidak Namjoon dan Seokjin kenal. Jungkook melompat bangun saat mereka tiba.

"Hyung! Kalian sudah datang?" Jungkook memberikan pelukan singkat untuk Seokjin dan senyuman lebar untuk Namjoon.

Jungkook menarik lengan Seokjin, "Ayo, aku kenalkan pada teman-temanku."

Seokjin menurut saja saat Jungkook menarik tangannya sementara Namjoon pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang mereka bawa.

"Hyung, ini Yoongi Hyung, Jimin Hyung dan Hoseok Hyung." ujar Jungkook seraya menunjuk orang-orang yang dimaksud.

"Hallo," sapa Seokjin sambil tersenyum lembut.

Yoongi berdiri dan menjabat tangan Seokjin, "Senang bertemu denganmu, Seokjin Hyung. Jungkook sudah menceritakan semuanya pada kami." Yoongi menunjuk beberapa alat yang sudah dipasang di meja ruang depan apartemen Seokjin, "Kami akan menjelaskan semuanya."

Seokjin duduk di salah satu sofa sementara Yoongi berada di sebelah kanannya, Jimin di sebelah Yoongi, dan Hoseok di sebelah kiri Seokjin.

"Kami sudah memasang kamera dengan sensor khusus di seluruh penjuru apartemen ini kecuali kamar mandi." Yoongi menekan sebuah tombol dan gambar di monitor berganti-ganti, menunjukkan tiap sudut apartemen Seokjin.

"Kamera ini akan mengeluarkan suara dengungan kalau hantu itu muncul. Setiap kali hantu muncul, akan terjadi perubahan suhu di sekelilingnya, entah menjadi lebih hangat atau lebih dingin." Jimin menjelaskan seraya menunjuk sebuah angka yang tertera di monitor, "Itu suhu normal."

"Kamera itu juga dilengkapi mic kecil jadi Hyung bisa mendengarkan semuanya dengan headset atau speaker ini." ujar Hoseok seraya menyerahkan sebuah headset pada Seokjin, Seokjin memakainya dan Hoseok menekan beberapa tombol dan Seokjin mendengar suara gemerisik pelan di telinganya.

"Ini pertama kalinya aku melihat peralatan seperti ini dan menurutku ini hebat sekali." Seokjin tersenyum kecil, "Terima kasih sudah membantu kami."

Yoongi tersenyum, "Sama-sama, Hyung."

Namjoon datang menghampiri mereka, "Hei, maaf kalau aku menganggu. Tapi makan malam sudah kusiapkan dan kita harus mandi dulu, Jinnie."

Seokjin bergerak bangun, "Okay."

"Uh-oh, apa kalian akan mandi bersama?" ujar Jungkook.

Seokjin mendelik ke arah Jungkook, "Jungkook!"

Jungkook tertawa, "Aku hanya bertanya, Hyung. Lagipula kami tidak memasang kamera di kamar mandi, jadi kalian tidak perlu khawatir kami akan melihat 'kegiatan pribadi' kalian."

Namjoon tertawa keras, "Aku jamin kami hanya mandi, Kookie. Ada banyak orang di sini dan aku juga tidak mau membuat Seokjin kelelahan sekarang."

Seojin memukul bahu Namjoon keras, "Namjoon!"

"Aduh! Sakit, sayang." rengek Namjoon.

Seokjin mendengus dan segera berjalan ke kamar mereka sementara Namjoon mengikuti sambil tertawa-tawa.

.

.

.

.

.

.

.

Malamnya, mereka mengobrol bersama soal kegiatan Yoongi, Jimin, dan Hoseok sebelumnya. Mereka bercerita soal hantu-hantu yang sudah mereka selidiki bersama dan mengenai pastur kenalan mereka yang sudah sering membantu mereka mengusir hantu.

Seokjin menguap pelan, kemarin dia kurang tidur dan sekarang dia merasa mengantuk sekali.

"Kau sudah mengantuk?" tanya Namjoon.

Seokjin mengangguk pelan, "Uhm.."

"Ayo, kuantar ke kamar." Namjoon berdiri dan membantu Seokjin untuk berdiri, "Aku akan menemani Seokjin, nanti akan kuambilkan selimut dan bantal untuk kalian."

Semua yang berada di ruang depan mengangguk pelan.

Namjoon mengantar Seokjin ke kamar dan membaringkannya, "Tidurlah."

"Jangan tinggalkan aku.."

"Tidak akan, lagipula kau diawasi, sayang. Jangan takut."

Seokjin mengangguk dan memejamkan matanya, perlahan dia mulai tertidur dengan Namjoon yang terus mengusap kepalanya.

Setelah Seokjin tertidur, Namjoon mengecup dahi Seokjin dan melangkah keluar untuk mengambilkan selimut dan bantal untuk orang-orang yang menginap di rumahnya.

Namjoon meletakkan bantal-bantal itu di sofa. "Ini bantalnya, kalian bisa bergantian berjaga bersamaku."

Taehyung menoleh ke arah Namjoon, "Kau di kamar saja bersama Seokjin. Aku dan yang lainnya akan bergantian mengawasi kamera."

Namjoon mengangguk dan melirik ke monitor, dia tertegun saat melihat sesuatu. Dia menunjuk monitornya, "Tampilkan kamar kami."

Hoseok menekan beberapa tombol dan kamar mereka muncul di monitor. Di sana terlihat Seokjin yang berbaring sendirian, mulanya tidak terlihat apapun, tapi kemudian mereka melihat seorang wanita muncul di dalam kamera dan berjalan menghampiri Seokjin.

Jungkook memekik, "Suaranya! Tampilkan suara di kamar Seokjin Hyung!"

Jimin menekan beberapa tombol dan mereka semua mendengar dengan jelas suara tetesan air dan suara dengungan keras dari kamera di kamar Seokjin di speaker. Namjoon melihat sosok hantu wanita itu mendekati Seokjin dan melayang di atasnya.

"Sial! Seokjin!" Namjoon berlari ke kamar mereka dan menggedor pintu kamar mereka dengan brutal, "Seokjin! Seokjin bangun!"

Namjoon mencoba membuka pintu kamar mereka tapi dia tidak bisa. Pintu itu terkunci padahal tadi Namjoon tidak menguncinya saat dia keluar dari kamar.

"SEOKJIN!" Namjoon memukul pintu dengan brutal, "SEOKJIN, BANGUN! BUKA PINTUNYA!"

Jungkook, Taehyung, dan Jimin berdiri dengan cemas di belakang Namjoon yang terlihat luar biasa panik.

Sementara itu, Hoseok dan Yoongi tetap berada di ruang depan dan mengawasi monitor. Mereka melihat hantu itu mendekatkan kepalanya ke Seokjin dan setelahnya gambar di kamera itu mati bersamaan dengan speaker yang mati.

To Be Continued

.

.

.

Thank you for your previous review, and if you have any question, feel free to ask me in the review box.

.

.

Thanks