Bagaimana caranya menjadi Straight?
Ya, bagaimana caranya?
Katakan padaku, bagaimana menjadi seseorang yang straight. Mencintai lawan jenis, bukan sesama jenisnya.
Menjadi wanita yang selalu dicampakkan itu sudah biasa untukku. Menjadi simpanan juga, aku tahu kau menganggapku rendah, tapi aku tak peduli. Yang kuinginkan hanya dicintai, walaupun itu hanya semalam saja.
Kita sama.
.
.
.
How to be Straight?
Rated : T Semi M
Harry potter
Warning : Little Yaoi, AU, OOC, Typos, dll.
A/N : Kalian tentu sudah membaca awalannya, Jika kalian tak menyukai sesama jenis jangan membaca cerita ini. Sudah lama gak bikin Dark fict, Maaf jika ada kata-kata yang menyinggung di chapter satu, saya benar-benar meminta maaf dan terimakasih sudah membantu saya :)
Saya tidak mengihina, atau menyudutkan orang yang menyukai sesama jenis.
Review please!
Dont like dont read.
Disclamer : J. K. Rowling
Author : Constantinest
Pair : Dramione, Drarry
.
.
.
Draco keluar dari ruang penyimpanan tak berselang lama setelah Hermione keluar. Hermione hanya menatapnya dengan malas, "kupikir kau bakal lama,"
"Tidak, kembali bekerja!"
Hermione hanya mengikuti Draco dari belakang, tak selang beberapa lama Harry keluar dari tempat itu. Wajahnya menunjukan ekspresi tak suka.
Draco berjalan dengan tenang menuju ruangannya, sementara Hermione hanya diam memikirkan sesuatu.
Ruangan Draco di design dengan menarik, meja kayu Rosewood yang indah, kursi pijat yang sempurna. Beberapa rak buku yang besar disudut ruangan, patung-patung berbentuk tubuh wanita di salah satu sisinya. Di tengah-tengah terdapat sofa berbulu serta meja yang mewah.
"Apakah kau pernah menjadi sekertaris sebelumnya?"
"Iya, aku sudah pernah."
"Baguslah kalau begitu, ini jadwalku. Kau harus sering-sering melihatnya dan memberitahuku! Aku tak menginginkan kesalahan sedikitpun,"
"Baik, Tuan."
"Rasanya aneh jika kau memanggilku Tuan, panggil saja Draco."
"Baik Draco,"
"Berapa nomor teleponmu? Kita harus saling bertukar, hanya kau yang tahu jadwalku bukan?"
"Ya, tentu."
Draco duduk di kursinya yang nyaman, sementara Hermione duduk disofa tamu.
Hampir sejam Draco merasa mati kutu, dia tidak mendapatkan ide sedikitpun sementara Hermione sedang mengerjakan pekerjaan yang diberikan Draco.
Matanya itu secara tak sadar memperhatikan wanita itu. Wanita dengan tubuh yang cantik, rambut coklat bergelombangnya. Entah mengapa ia merasa aneh dengan wanita ini dan sedikit penasaran seperti apa dia yang sebenarnya. Apakah seperti wanita lainnya? Beracun?
"Hermione,"
Wanita itu menoleh mendapati Draco yang menatapnya dengan tajam, "Ya, Draco?"
"Apa pekerjaanmu sebelumnya?"
Wanita itu hanya tersenyum tipis, kemudian menyandarkan punggungnya. "Apa kau tertarik?"
"Tidak! Aku hanya bosan, itu saja."
"Baiklah, semula aku bekerja diperusahaan yang mewah dan ternama. Aku bekerja sebagai seorang sekertaris. Semula aku berpikir bahwa dengan bekerja disana aku bisa memenuhi kebutuhanku,"
"Tapi ternyata, aku mendapat lebih. Pada saat bos itu mulai tertarik kepadaku, menawariku dengan gaji yang besar agar aku mau tidur dengannya. Semula aku menolak, tetapi harus diakui bahwa pekerjaan itu sangat menjanjikan. Karena itu aku mulai menjadi simpanannya. Dia pria yang baik, memperhatikanku."
"Setiap malam aku memanggil namanya ketika kami bersama, manis bukan? Sampai ia membuat sebuah pengakuan. Dia takkan pernah mencintaiku, dia terlalu takut dengan istrinya yang menyebalkan. Sejak saat itu, aku memilih untuk keluar dari perusahaan itu."
"Kemudian begitu pula selanjutnya, indah bukan? Hanya dengan tubuhku, aku bisa mendapatkan apa yang kumau—"
Draco tahu bahwa wanita ini sangat terluka melebihi apapun, bahkan kata-kata terakhirnya seperti menjelaskan seberapa putus asanya dia.
"Sekarang, apakah kau mau menghinaku? Apakah kau mau memecatku? Apakah kau mengangap aku rendah? Aku menerimanya,"
"Tidak, aku tidak akan menghinamu. Berapa umurmu?"
"23 tahun,"
"Masih muda,"
Hermione menatap Draco dengan bingung, "berapa umurmu?"
"30 tahun. Apa kau sudah mengerjakan tugas yang kuberikan kepadamu?"
"Ya, sudah." Ucap Hermione berjalan mendekati meja Draco, menyodorkan kertas yang ada ditangannya. Draco mengambilnya, tanpa sengaja ia menyentuh wanita itu. Ia merasa ada getaran listrik kecil yang cukup mengejutkan membuat ia terkejut.
"Kau kenapa?"
"Ti—tidak, aku tak apa."
"Apakah ada pekerjaan lain?"
"Ya, ambil berkas di Pansy,"
"Pansy? Siapa dia?"
"Tanya saja orang, siapa Pansy!"
Hermione hanya menuruti Draco, keluar dari ruangannya dan mencari Pansy. Hermione juga membanting pintu untuk menunjukan kekesalannya terhadap Draco.
"Wanita ini,"
"Apakah dia bisa menemukan Pansy? Atau malah menggoda pria lain?" ucap Draco.
"Jika dia berbuat ulah, citraku akan jelek," dengan segera Draco keluar mengikuti Hermione dari belakang.
Nampak seperti orang yang kebingungan, Hermione memasuki sebuah ruangan yang berisikan para staf yang menatapnya dengan pandangan aneh.
"Permisi, bolehkah aku bertanya. Siapa yang namanya Pansy?"
Wanita berambut bob, berdiri dari kursinya, mendekati Hermione dengan pandangan merendahkan. "Siapa kau?"
"Aku Hermione, sekertaris Draco yang baru,"
"Kau tak pantas bersamanya, ditambah lagi lihat pakaianmu. Aku yakin kau mencurinya bukan? Mana mungkin kau bisa memliki barang bermerek seperti itu?"
Hermione diam, meremas tangannya sampai memerah, mencoba untuk tak berbuat masalah pada hari pertamanya. Walaupun ia rendah, mencuri adalah menjijikan untuknya.
"Hermione?!" seru seseorang wanita berdiri juga dari mejanya. "Kau bernama Hermione? wanita jalang yang sudah mengambil kekasihku?"
"Maaf, tetapi kekasihmu yang mau pergi darimu,"
"Tidak, kau wanita hina. Tak puaskah kau mengambil semua laki-laki yang kau temui?"
"Aku tak pernah tertarik kepada mereka, mereka yang menginginkan aku. Aku hanya menerimanya,"
"Rendah," ucap wanita itu melemparkan kopi yang ditangannya membuat baju Hermione basah. "Kau memang cocok seperti itu, rendah. Kau tak pantas kerja disini, keluar saja kau dari sini."
"Hermione, jadi dia yang namanya Hermione? Wanita perebut kekasih orang? Bahkan dia akan melakukan apapun asal bisa mendapatkan pria yang tampan?" suara bisik-bisik orang disekitarnya, namun bukan Hermione jika ia belum terbiasa seperti ini.
"Kau bilang aku rendah? Tapi kau sendiri murahan, lihat saja tubuhmu, tak menarik. Bukan salahku kalau kekasihmu pergi darimu,"
"Wanita ini, tidak tahu diri." Ucapnya dan PLAKK sebuah tamparan keras mengenai wajahnya.
"Aku sudah cukup bersabar, ditampar berulang-ulang dalam sehari, itu menyebalkan."
"Kau pantas menerimanya, jalang."
Hermione menarik rambut hitam wanita itu, mendorongnya dan menginjak kakinya. Begitu juga wanit itu menarik baju Hermione karena kehilangan keseimbangan, membuat kancing kemeja Hermione lepas. Bukan cuma itu, wanita itu juga mencakar tangan Hermione membuat sedikit luka berdarah ditangannya yang halus.
"Apa yang terjadi disini? Kalian senang melihat dua orang bertengkar? Kalian tak merelainya?! Ada yang salah dengan kalian!"
"Maafkan aku tuan Draco, tetapi wanita ini yang mulai."
"Siapapun yang mulai aku tak peduli. Hermione bukannya kau kusuruh untuk mengambil dokumen dari Pansy, kenapa malah bertengkar seperti ini. Kau membuat kesan buruk untuk hari pertamamu, Young Lady." Ucap Draco dingin. Hermione hanya mencekram kemeja agar tak terbuka, mengambil sepatunya yang lepas berjalan keluar.
"Pansy, berikan dokumen yang kau bilang tadi,"
"Ba—Baiklah tuan Draco," ucapnya menyerahkan setumpuk kertas, kemudian berjalan pergi keluar ruangan.
Hermione berjalan dengan perlahan, ia tak menangis, ia hanya mencekram kemejanya agar tak tebuka dan tangan kanannya memengang sepatu hak tinggi miliknya. Ia membiarkan pipinya yang merah berdenyut.
"Hermione, kembali keruanganku." Perintah Draco.
"Maaf, tetapi aku tidak bisa. Aku harus membersihkan diriku dari noda kopi ini,"
"Kubilang kembali keruanganku!" Hermione hanya diam, kemudian memilih untuk menuruti Draco. Ia tak duduk disofa karena noda kopi itu mengenai seluruh pakaiannya.
"Duduk dikursiku," ucapnya dingin. Hermione hanya mengikuti saja.
"Ganti pakaianmu dengan kemeja ini,"
Hermione berjalan dengan kecil, mengambil kemeja biru yang diberikan Draco, menuju kamar mandi diruangan itu.
Hermione menatap dirinya dikaca, bekas tamparan merah itu sangat menyakitkan. Ia membasuh wajahnya dengan air, berharap sakitnya sedikit mereda tetapi hatinya tidak, ia sangat kesakitan. Bahkan ditempat baru ia bekerja, dia sudah direndahkan.
Ia melepaskan kemejanya, menatap noda kopi di kemejanya yang putih, perlahan air matanya menetes. "Kenapa? Kenapa selalu aku? Apakah aku salah? Bukan aku yang salah! Kenapa harus aku?" ucapnya berulang-ulang kemudian ia menangis, namun dengan cepat ia membekap mulutnya dengan kemejanya berharap Draco tak mendengarnya.
Namun pria itu dapat mendengarnya, tangisan yang begitu pilu dan menyakitkan. Benar yang dikatakan Theo, wanita ini sudah mendapatkan luka hati yang begitu banyak.
Suara Hermione membuat Draco merasa aneh, tangisannya membuat dirinya bergerak, ia merasa iba dengan wanita ini. Ia merasa seperti mengingat kembali masa lalunya, masa lalu yang menyedihkan dimana kamu selalu direndahkan karena menyukai sesama jenis.
Draco masih dengan jelas mengingat setiap cacian serta cibiran mereka, tetapi wanita ini mendapatkan lebih. Sepertinya ia menangis hampir setiap hari sampai matanya kusut dan menyedihkan.
Hermione meremas kemejanya sendiri, menahan setiap tangisannya. Semakin ia mencoba untuk menahan semuanya, semakin keras ia menangis. Ia sudah sangat sakit, setiap air mata yang keluar dari matanya seperti semua siksaan yang sudah ia terima, setiap kali ia menjerit seperti ia mendengar kembali cacian yang terus bergema itu.
"Her—Hermione?" panggil Draco, mengetuk pintu kamar mandi itu. Wanita itu tak menghiraukan Draco, ia masih menangis sampai ia puas. Hal itu membuat Draco merasa tak nyaman, ia benci diacuhkan dan Hermione mengacuhkannya.
"Hermione buka pintunya,"
Wanita itu tak mendengarkannya. Hermione membutuhkan pelukan, ia sudah tak dapat mengingat kapan seseorang memeluknya dengan sungguh-sungguh, setiap kali ia mengangis, ia akan memeluk dirinya sendiri. Mencoba menenangkannya, semakin keras tangisannya semakin erat pelukannya.
"Buat apa aku peduli padanya? Dia memang pantas menerimanya karena dia memang seperti itu. Sekarang Draco, kembali bekerja." Ucapnya kepada dirinya sendiri, Draco mencoba untuk mengambar namun ia tak berhasil. Ia merasa pikirannya tak berada disitu, jauh dilubuk hatinya yang paling dalam itu hatinya merespon tangisan itu. Tangisan yang sama sepertinya dulu.
Hampir lima belas menit Hermione didalam kamar mandi. Wanita itu keluar dengan menggunakan kemeja milik Draco yang sangat besar ditubuhnya, rambutnya basah, matanya bengkak memerah, pipinya terluka akibat tamparan yang diterima bahkan telapak tangannnya sedikit perih dengan luka beset itu.
Draco benar-benar kaget, wanita ini sangat kacau. Ia benar-benar terluka baik fisik maupun jiwanya.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik. Sangat baik,"ucapnya memasukan kemejanya kedalam tasnya. "Terimakasih atas kemejanya,"
"Kemejamu robek?"
"Kau tak perlu memperhatikanku Draco, aku tak pantas mendapatkan perhatian darimu."
Draco diam, jantungnya merasa aneh, lagi-lagi jantungnya berdetak kencang. Apa yang sedang terjadi kepadanya? Matanya menatap wanita kecil itu. Draco berdiri, berjalan beberapa langkah mendekati Hermione. Tangannya ingin menyentuh wanita itu, namun pikirannya tidak. Hal itu membuat tubuhnya membatu ketika Hermione menatapnya dengan pandangan aneh.
"Ma—mau kopi?" ucapnya cepat, ia begitu terkejut ketika Hermione menatapnya.
"Tidak, apa kau mau kopi? Akan kuambilkan untukmu," ucap Hermione parau, berjalan kecil keluar ruangan. "Her—Hermione, kau tahu pantrynya?"
"Tidak, tapi aku bisa bertanya kepada orang. Kemungkinan aku juga bisa bertemu orang yang membenciku," ucapnya tersenyum, senyuman palsu. Draco membenci itu.
"Tak perlu bertanya, A—aku akan ikut denganmu," ucapnya berjalan disamping Hermione.
"Tak perlu, kau sibuk bukan?"
"Tidak. Aku tak menginginkan kopi,"
Hermione menoleh, menatap Draco dalam-dalam. "Apa yang kau inginkan?"
Draco diam, antara bingung dan ragu. Ia mengumpulkan semua kekuatannya, menatap wanita itu dalam-dalam, wajah keputusasaannnya sama seperti seseorang. Seseorang yang dulu tak bisa dicintainya.
"Ceritakan, ceritakan semuanya kepadaku. Aku akan mendengarkan," ucap Draco menunduk, ia merasa tubuhnya sudah menggila, hatinya sangat tertarik dengan wanita yang sama sepertinya.
"Semua orang, bahkan Theo sekalipun. Mereka tak akan mengetahui rasanya, rasanya dicampakan, dicaci, direndahkan, mereka tak tahu. Bahkan ketika aku dalam keadaan sulit seperti apapun, mereka tak tahu. Yang bisa mengerti perasaanmu hanyalah aku, karena aku tahu rasanya. Seperti apa!" ucap Draco mengigit bibirnya, perlahan ia mulai menangis mengingat kembali masa lalunya yang kejam.
"Aku tahu perasaan, sangat tahu. Kumohon, aku tak mau ada orang lain yang sepertiku. Aku tak menginginkannya!"
"Aku akan mendengarkan ceritamu, karena kau sama sepertiku. Berharap mati namun tak bisa," ucapnya mulai terisak, "Aku tahu! Aku mengerti! Seperti apa rasanya!" Draco tak sanggup menahan beban tubuhnya, membuat ia jatuh duduk.
Hermione berjalan mendekat, duduk dihadapan Draco. Draco menatapnya, begitu juga Hermione. Mata kelabu itu bertemu dengan temannya mata Hazel yang kesepian. Tangan Hermione yang kecil mulai menyelusuri wajah Draco yang putus asa, ia menghapus air mata pria itu tanpa menyadari bahwa air matanya kembali keluar dari wajahnya.
"Te—terima—kasih," ucapnya mendekap pria itu dalam-dalam. Tangan Draco bergetar, perasaan ragu untuk menyentuh punggung wanita itu membuatnya sedikit merasa sensasi aneh. Namun ia melawan sensasi itu dan mencoba mendekap tubuh wanita itu.
Tubuh Hermione kecil, sama seperti tubuh ibunya, satu-satunya tubuh wanita yang pernah dipeluknya.
"Senyummu begitu kesepian, aku mengetahuinya."
"Aku tahu, aku selalu kesepian."
"Kau tak perlu sedih, aku akan menjadi temanmu. Karena kita sama,"
Hermione melepaskan pelukannya, menatap wajah pria itu kemudian ia tersenyum, senyuman yang sangat indah. Senyuman paling tulus yang keluar dari hatinya yang terluka.
"Terimakasih," ucap Hermione melepaskan pelukannya, mengusap air matanya. "Kau memang pria yang baik,"
Draco kemudian berdiri, duduk disofa berbulu itu dan Hermione mengikutinya duduk disofa itu. Menghapus air matanya begitu juga Hermione.
"Mau jalan-jalan?"
"Tentu,"
-XOXOXO-
Hermione berjalan dengan diam begitu juga dengan Draco. Mata Hermione hanya menatap beberapa orang yang melewati mereka. Mereka memasukan tangan mereka disaku masing-masing. Beberapa orang menatap Hermione dengan pandangan aneh, mengenakan kemeja pria yang kebesaran di siang bolong, sementara seorang pria disampingnya.
Draco mengenakan kaca mata hitam, identias sangatlah berharga untuknya.
"Kau mau makan?"
"Kurasa aku lapar," ucap Hermione. Wanita itu mengajaknya makan disebuah restoran kecil namun cukup ramai.
"Kau mau makan apa?"
"Apa yang nikmat? Kau saja yang pilih menunya,"
"Baiklah, pelayan. Aku pesan dua Lamb Rack with Spicy Sauce, tomato soup dan Italian salad, minumnya aku pesan Frape."
"Baiklah, lamb racknya membutuhkan waktu tiga puluh menit, bagaimana?"
"Tak apa Hermione, aku mau menunggu,"
"Baiklah kalau begitu, tak apa."
Seorang pria tampan berjalan mendekati Hermione kemudian merangkulnya, hal itu membuat keduanya terkejut.
"Hello, babe. Kau sedang berkencan dengan orang lain ya?"
"Bukankah kita sudah putus?"
"Oh, kapan aku mengatakannya?"
Draco tahu siapa pria ini, ia kembali mengingat pertemuannya yang tidak sengaja, pria yang sudah menampar Hermione.
"Kemarin ketika hujan?"
"Oh, aku hanya marah kepadamu. Kau tahu, aku baru sadar bahwa aku tak bisa kehilanganmu. Aku berjanji, aku akan menjadi pria yang baik dan memberikanmu lebih banyak perhatian,"
"Kau serius?!"
"Ya, bagaimana? Mau kembali?"
"Kurasa?"
"Ah, baiklah. Akan kutunggu makan malam ya, ngomong-ngomong siapa dia?" ucapnya menujuk Draco, Draco menatap pria itu dengan tak suka. Ia juga terkejut dengan persetujuan Hermione. Wanita ini gila? Pria itu sudah pernah mencampakannya dan Hermione menerimanya kembali?
"Dia bosku, kau tak keberatan bukan?"
"Ti—tidak, kulihat kau memiliki selera yang bagus. Kau mau makan dengan kekasihku, kau harus membayarnya!"
"A—Apa?! aku harus membayar?"
"Ya, kekasihku sangat cantik. Kau harus membayarnya."
"Ck, berapa harganya?"
"Malam ini hanya seribu euro,"
Draco diam, kemudian mengeluarkan dompetnya lalu memberikan pria itu uangnya. Pria itu menyengir lebar, menatap Hermione lalu menciumnya dengan panas.
"Aku pergi dulu, sampai nanti babe,"
"Kau menerimanya? Bahkan barusan dia menjualmu. Kau gila?!"
Hermione hanya tersenyum kecil, "bagaimana kalau kubilang aku sangat lemah jika ada seorang pria yang memperhatikanku? Walaupun aku dijual, asalkan aku bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Aku mau,"
"Kau tak waras, kemudian menangis semalaman. Itu karena ulahmu sendiri,"
"Aku tahu, apakah aku salah? Kau juga bukan, mencintai Harry dan akan melakukan apapun untuk mendapatkannya?"
"Tapi itu lain!"
"Itu sama, aku sangat tergila-gila dengan perlakukan baik lelaki, setiap kali aku merasa dibutuhkan aku merasa berharga,"
"Walaupun nanti kau akan dibuang?"
"Mungkin,"
"Kau pasti akan mendapatkan pria yang benar-benar mencintaimu Hermione."
"Itu tidak mungkin Draco, semua pria itu sama mereka hanya menginginkan tubuhku."
"Dan kau memberikannya?"
"Seperti yang kau lihat,"
"Pantas kau bisa begitu direndahkan,"
"Sekarang kau menyesal mau berteman denganku? Mungkin saja kau bisa bangkrut kalau kekasihku melihatmu dan aku bersama," canda Hermione.
Draco tak mengangap ini gurauan, "Berapa banyak uang yang akan kukeluarkan, aku tak peduli. Asalkan kau bisa tersenyum seperti ini, itu sudah cukup."
Hermione terdiam, ia terkejut dengan perkataan Draco. "Apa kau serius dengan ucapanmu?"
"Ya, kau dan aku sama. Untuk menyembuhkan luka hati, kau harus memperbanyak kenangan indah. Bukankah begitu? Itu yang diajarkan Harry kepadaku,"
"Harry ya, pria yang manis itu?"
"Kau tertarik?"
"Apa kau marah kalau aku menggodanya?"
"Tentu, aku seorang pecemburu."
"Aku tak pernah berniat menghancurkan hubungan seseorang. Kalian pasangan yang manis, mana mungkin aku tega kepadamu,"
"Baguslah kalau kau mengerti."
Hermione tersenyum menatap Draco dengan tenang, "Aku iri, aku cemburu kepada kalian. Andai aku bisa merasakan juga, perasaanmu kepada Harry."
Deg.. Deg.. Deg..
Lagi-lagi jantung Draco berdetak kencang.
Sebuah perasaan seperti mengalir dari pembulu darahnya menuju jantungnya. Hal itu membuat jantungnya berdetak tak karuan. 'Apa—apa yang sedang terjadi kepadaku? Kenapa ini?' erangnya dalam hati. 'Jantungku berdetak tak karuan,'
Dengan sigap Draco memengang jantungnya, meremasnya sedikit. Matanya terbelalak bingung, ia menatap meja dengan pandangan tak nyaman.
"Dra—co, kau kenapa? Dadamu sakit?"
"Ti—tidak, aku tak apa-apa."
"Kau yakin? Kau berkeringat?" ucap Hermione mengambil tissu dari tasnya, mendekati tangannya hendak membersihkan keringat Draco.
Tetapi Draco menepisnya, "Ja—jangan sentuh aku,"
Hermione terkejut, tetapi ia memilih untuk diam. "Aku mengerti, aku memang tak pantas menyentuhmu."
Draco tak peduli, ia berlari keluar restoran tanpa bilang ke Hermione, masih memengang jantungnya yang berdetak kencang. "Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku?"
"Wa—wajahku memerah, jantungku berdetak tak karuan. Apa ini?!" Draco mencoba menenangkan dirinya sendiri, mencoba untuk tak mengingat perkataan Hermione. Tetapi setiap kali ia mencoba menghilangkannya, lagi-lagi perkataan itu terdengar.
"Cukup! Hentikan semua ini!" erangnya menutup telinganya.
Draco memilih untuk pergi menenangkan pikirannya, menenangkan jantungnya dan mencoba untuk menghirup udara segar. Kemeja yang ia kenakan mulai basah membuat ia harus melonggarkan kemejanya sendiri.
Draco memilih untuk menenangkan dirinya dengan duduk ditaman, cukup lama otaknya tidak berfungsi. Sampai seorang pria datang mendekatinya.
"Harry," ucapnya kecil.
"Draco," senyum pria itu mengembang. Dengan cepat Draco memeluk pria itu dengan erat, seolah takut kehilangannya. "Harry, kaukah itu?"
"Ya, Draco. Ada masalah?"
"Tidak, tapi aku senang kau bisa disini," ucapnya tersenyum tipis, kemudian mencium bibir merah pria itu dengan lembut namun ketakutan. Tubuh Draco bergetar, ia benar-benar ketakutan akan dirinya.
"Draco, kau kenapa?"
"Tidak, aku tidak apa-apa."
"Dari mana kau tahu aku berada disini?"
"Wanita itu kembali kekantor, lalu memberitahuku bahwa Draco pergi begitu saja dari restoran. Tentu aku tahu, kalau kau sedih kau pasti ditaman bukan?"
"Sekarang dia dimana?"
"Dia dirumahnya, aku menyuruhnya pulang."
Harry duduk disamping ayunan disebelah Draco, Draco masih menunduk kepalanya. Rasanya kepalanya mau pecah, begitu juga dengan jantungnya, "Harry, apakah besok kau sibuk?"
"Tidak, tidak ada pemotretan besok. Ada apa?"
"Maukah kau menemaniku malam ini?" ucap Draco memeluk Harry dengan erat, "Kumohon, malam ini sebelum aku tak mengenal diriku lagi,"
Mendengar hal itu Harry hanya terdiam, ia tahu masalah Draco dan semua itu karena Hermione. Wanita itu harus segera dilenyapkan kalau tidak, ia yakin Draco bisa menggila karenanya. Ditambahlagi, ia yakin Theo sedang merencanakan sesuatu untuk merusak hubungan mereka.
"Draco,"
"Ya, Harry?"
"Aku tak menyukai Hermione, bahkan sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Maukah kau memecatnya?"
"Kurasa aku tak bisa, dia baru pertama kali. Aku tak bisa memecatnya, tapi akan kupastikan dia tak berada didekatmu, Harry." Ucap Draco lembut, mengecup bibir merah itu. Tangannya menyentuh punggung Harry, memeluknya dengan erat sampai Harry merasa sesak, memainkan lidahnya dengan bibir itu. "Aku menginginkanmu,"
'Bukan menjauh dariku, melainkan darimu,'
-To be Continued-
Review please :)
Dont Be A Silent reader.
Jangan menjudge pairing.
Who You? , Mrs. Y Malfoy, Azure249, Lysa nott, Guest, ryeohyun, Farah Zhafirah, Annie Fray, lyra, Adel Wizz, Heyyo, Ochan Malfoy, Zeeme, Ms. Loony Lovegood, Xazier Rexxon, supertrapnew, Luluk minam Cullen, Guest, Heiwajima Shizaya, Arum. Ima, siapapun, Vitaitta, Sophonie Etoiles.
Dont like dont read.
Jika kalian tidak suka, silahkan tidak usah dibaca. Thanks yang sudah mau membaca dan menyempatkan diri untuk mereview :)
