Length : Chaptered / series (aku sendiri gak yakin u_u)

Disclaimer : All Characters belong to god, their parents and their agency. But this fanfic belong to me

Rating : T

Warning (s) : Bahasa non baku, OOC, typo(s), story line agak gakjelas, etc

Pairs : Jin x Taehyung

Jimin x Yoongi

.

.

Baby boy

.

.

~Hunaxx present~

.

.

This is Yaoi. Mpreg. Don't like? Don't read! No bash okay

.

.

.

.

.

"AAHHH SAKITT HYUNG"

"Tahan sedikit Taehyungie"

"Ini sudah aku tahan hyu—HYAHH PELAN-PELAN HYUNG. INI SAKIT"

"Ish tahanlah sedikit. Sebentar lagi selesai ini"

.

.

Yoongi membulatkan kedua matanya walaupun begitu tetap saja terlihat sipit kedua mata tersebut. Lelaki imut nan menggemaskan yang minta diculik banget ini menajamkan pendengarannya. Jadi sekarang Yoongi tuh ada di depan pintu rumahnya couple kesayangan author, siapa lagi kalau bukan Seokjin Taehyung. Tadinya Yoongi berniat ingin membuka pintunya, gak. Yoongi gak perlu ketok pintu dulu kalo mau masuk rumah itu. Karena kalo kata Seokjin gak usah ketok pintu, berisik katanya.

Jadi Yoongi tuh mau ngasih sesuatu ke Taehyung. Sesuatu apaansih? Itu loh sesuatu yang lagi dipegang ama Yoongi. Bungkus plastiknya kecil, warna putih. Saya juga gak tau apaan isinya. Pas nanya ga dikasih tau sih. Eh tapi baru aja dia mau megang knop itu pintu, Yoongi udah denger suara-suara gitu. Suara apaan coba? Itu tadi suara yang tadi tuh. Lantas Yoongi membatalkan niatnya dan malah berujung dia yang menajamkan pendengarannya, —atau mungkin lebih gampang disebut dengan nguping- di depan pintu rumah Seokjin Taehyung.

"AHHH HYUNGGG SUDAH KUBILANG PELAN-PELAN. SAKIT UGHHH"

Tuhkan. Suaranya Taehyung kedengeran lagi. Tapi setelahnya tidak terdengar suara Seokjin, hanya suara Taehyung yang sesekali meringis. Dan Yoongi menelan kasar salivanya sendiri ketika mendengar suara Taehyung tadi. Tanpa sadar dia meremas kantong plastic kecil yang dipegangnya sendiri.

'Ugh masa siang-siang begini mereka udah begituan aja sih? Bikin pengen aja' Yoongi membatin. Dan oh oh oh oh ternyata Yoongi mikir yang iya-iya. Kenapa iya-iya? Karena yang enggak-enggak sudah terlalu mainstream, gais.

Dan setelah sadar dari pikiran iya-iya nya Yoongi langsung caw dari te ka pe alias dari luar rumah Seokjin Taehyung. Daripada terus-terusan disitu malah bikin dirinya makin berpikiran yang iya-iya. Mending pulang terus praktek sendiri sama Jimin, yekan.

.

.

"AHHH HYUNGGG SUDAH KUBILANG PELAN-PELAN. SAKIT UGHHH"

"Ini sudah pelan, honey. Tahanlah sedikit. Supaya kaki mu tidak sakit lagi" Seokjin berucap masih dengan tangannya yang berada di pergelangan kaki Taehyung dan memijatnya pelan.

"Tapi kau menekan pergelangan kakiku terlalu kencang hyung~"

"Ya kalau di pijat memang begini, honey. Kan sudah aku bilang jika ada lampu yang mati atau barang yang rusak biar aku saja yang membetulkan. Lihat, karena kau nekat mau mengganti lampu yang mati dirimu jadi jatuh dari tangga tersebut." ucap Seokjin panjang lebar. Sedangkan Taehyung hanya mengerucutkan bibirnya saja diceramahi seperti itu oleh sang suami.

Ah jadi yang sebenarnya tadi itu Taehyung terjatuh saat dia sedang menaiki tangga dan akan mengganti lampu kamar Minguk yang mati. Tadinya dia ingin menyuruh Seokjin tapi tidak tega ketika melihat Seokjin yang masih tertidur sangat nyenyak karena dia baru tidur sekitar jam 4, lelaki itu harus lembur karena pekerjannya. Asal tahu saja. Tapi sialnya tangga yang sedang digunakan Taehyung tadi tiba-tiba bergoyang dan tentu saja Taehyung langsung jatuh ke bawah. Ya iyalah jatuh ke bawah. Masa ke atas.

"Dda~ d-da~ daaaa"

"Lihat. Minguk saja ikut memarahimu~" tangan Seokjin yang satunya menunjuk ke bawah sofa, pada bayi mungil yang sedang duduk di karpet berwarna merah beludru sembari menggigiti mainan mobil-mobilannya dan mengoceh tidak jelas.

Taehyung mengerucutkan bibirnya. Tapi kemudian tangannya berusaha menggapai mobil-mobilan yang sedang digigiti oleh anaknya, lalu mengambilnya dari anaknya. "Mingukie tidak boleh menggigiti mobil-mobilannya sayang" bocah berusia Sembilan bulan tersebut menatap Taehyung dengan mata bulat polosnya saat mobil-mobilannya diambil oleh mama nya. Lalu mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Uhh tampannya anakku~"

"Tentu saja tampan. Siapa dulu papanya" ucap Seokjin bangga masih dengan tangannya yang memijati kaki Taehyung. Sedangkan Taehyung hanya memutar malas bola matanya.

"Ah iya hyung omong-omong kau ingat Hoseok hyung?" tanya Taehyung. Mendengar kata 'Hoseok' wajah Seokjin langsung berubah. Berubah jadi jelek maksudnya.

"Hah? Hoseok? Si kuda jelek mantanmu waktu SMA itu?" ucap Seokjin sinis. Tidak mungkin dia lupa dengan lelaki bernama Hoseok. Lelaki yang dulunya menjadi idola sekolah saat mereka SMA –Seokjin dan Taehyung satu SMA dulu. Dengan Hoseok juga tentunya- karena kepintarannya dalam hal dance dan juga wajahnya yang tampan. Dan sialnya dia adalah pacar Taehyung. Saat masa SMA tentunya.

"Ish dia tidak jelek tau. Hyung kali yang jelek hahaha" gurau Taehyung. Tapi sebenarnya Seokjin mengangguk dalam hati. Dia mengakui kalau saat SMA dulu dia adalah orang yang culun, memakai kacamata yang tebal dan kemeja yang dikancing hingga atasnya.

"Heh. Tapi aku sekarang sudah tampan tau"

"Ya ya ya terserah. Kembali ke topik. Hoseok hyung katanya mau main kesini"

Seokjin mengernyit dahinya mendengar kalimat dari Taehyung tadi, "hah? Ngapain kuda jelek itu kesini? Mau nyari ribut denganku?"

"Hih tidak hyungie~ katanya dia hanya ingin main saja gitu. Sudah lama juga 'kan dia tidak bertemu dengan kita"

"Oh. Awas saja jika dia berani menyentuhmu lagi" ucap Seokjin garang. Jika dalam komik-komik manga mungkin sudah ada sepasang tanduk yang muncul di kepalanya.

"Kekanakkan sekali kau hyung. Tidak mungkin lah. Lagi pula dia juga sudah tau kalau aku sudah menikah denganmu—

Seokjin mengangguk saja mendengarnya.

—tapi Hoseok hyung bilang kalau dia merindukanku dan katanya dia ingin menciumku kalau kami bertemu"

Krak

"AKHHH HYUNG KAU MAU MEMATAHKAN TULANGKU HAH?!"

Ups. Sepertinya Seokjin lupa bahwa yang sedang di pegang oleh tangannya adalah pergelangan kaki Taehyung. Dia tidak sengaja menekannya terlalu keras. Serius. Seokjin tidak sengaja,

—tidak sengaja tapi sampe bunyi gitu ya.

.

.

Ting Tong~

"Hyahh h-hyungghh ber ahh hentihh dulu mhh ouhh" Ucapan Taehyung bagai angin lalu bagi Seokjin. Lelaki tersebut tetap menghisap-hisap nipple Taehyung layaknya bayi yang sedang menyusu.

"Akhh hyu-hyungghh ja uhh ngan di gigithh ahh" Taehyung bersusah payah agar Seokjin mau menyingkir dari atas tubuhnya karena sepertinya tadi ada yang memencet bel rumah mereka. Dan tidak mungkin itu Jimin atau Yoongi, karena mereka pasti akan langsung masuk saja tanpa memencet bel.

Ting Tong Ting Tong Ting Tong

Bel tersebut berbunyi lagi. Lebih lama dari yang tadi. Seokjin dengan tidak rela melepaskan 'mainan'nya dan menggerutu kesal pada siapa saja yang memencet bel dan mengganggu kegiatannya tadi.

"Aku saja yang buka pintu. Kau disini saja. Tidak usah pakai baju. Nanti kita lanjutkan lagi, honey~" ucap Seokjin menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya. Mungkin dia kelilipan kali ya.

Ting Tong Ting Tong Ting Tong

Bel berbunyi lagi. Seokjin makin menggeram kesal. Ingin rasanya melempar vas bunga biru muda yang ada di meja ruang tamu, tapi dia ingat kalau itu vas bunga Taehyung yang beli. Bisa-bisa malah nanti dia yang di lempar sama Taehyung.

Ting Tong Ting Tong Ting Tong

"SABAR DIKIT NAPA. INI JUGA MAU DIBUKAIN" teriak Seokjin kesel pas itu bel bunyi lagi buat yang ke 100000000000x. Bete banget gitu dia acara ena ena nya ama Taehyung ada yang ganggu.

Cklek

Pintu dibuka oleh Seokjin. Dan menampakkan seorang lelaki yang menggunakan kaus putih polos dilapisi dengan kemeja biru dongker yang kancingya dibiarkan terbuka semua dan celana pendek hitam dan sepatu kets berwarna abu-abu.

Saat pintu rumah itu terbuka, lelaki yang merupakan tamu kita kali ini tersenyum kikuk ketika melihat Seokjin. Dia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, "Eum…hai Seokjin h—

Brak

—hyung"

Lelaki tersebut terbengong-bengong ketika pintu ditutup lagi. Dibanting pula pintunya. Memang apa salahnya?! Perasaan tadi dia baru ngomong tiga kata. Belom ngomong yang macem macem.

Sedangkan di dalam rumah Seokjin lagi mendengus dalam hati. Ternyata benar Hoseok datang. Untung yang buka pintu dia, bukan Taehyung. Jadi ya langsung aja dia tutup pintunya biar Hoseok gak bisa masuk.

Tapi baru aja Seokjin membalikkan badannya, dia sudah mendapati Taehyung yang berjalan kearahnya dengan menggendong Minguk. Seokjin membulatkan matanya melihat Taehyung. Bukan. Bukannya dia kaget ngeliat Taehyung ngegendong Minguk. Itu sih dia udah biasa ngeliatnya. Tapi yang bikin dia kaget itu, ehem penampilan Taehyung. Jadi ya Taehyung memakai kemeja putih kebesaran yang Seokjin yakin seratus persen itu adalah kemeja miliknya. Kemeja putih tersebut transparan. Dan lagi Taehyung tidak memakai daleman lagi. Hingga nipplenya samar-samar bisa terlihat. Jika Seokjin menurunkan viewnya sedikit, dia mendapati betis dan paha Taehyung yang terekspos bebas akibat dari celana super pendek yang digunakan Taehyung.

Seokjin menelan susah salivanya. Bisa saja dia menghajar Taehyung habis-habisan saat ini karena dia yang terlalu menggoda.

Menghajar di ranjang tentunya.

"Hyung? kenapa kau tutup lagi pintunya? Memang siapa yang datang?" suara Taehyung membuyarkan Seokjin dari pikiran joroknya.

"Ah itu tuh tukang pos gitu sayang. Dia salah alamat" ucap Seokjin asal.

"Masa? Sini biar aku saja deh yang buka pintunya. Kali aja tukang posnya mau nanya alamat"

Dan—

Cklek

Taehyung membuka pintunya dengan tangan kanannya. Karena tangan kirinya yang sedang menggendong Minguk.

Saat pintu terbuka lagi, tamu kita yang masih sama kayak tadi tersenyum lebar, kelewat lebar malah ketika melihat sesosok lelaki berkemeja putih yang membukakan pintunya. Berkebalikan dengan sang tamu, Taehyung malah terlihat kaget melihat siapa yang datang. Dia hanya tidak menyangka bahwa lelaki ini benar-benar akan datang. Taehyung ngiranya dia bakal nyasar gitu. Secara 'kan rute menuju rumahnya ini agak susah.

"Taehyungie~"

"Hoseok hyung"

"Taehyungie~"

"Hoseok hyung"

"Taehyu—

Buk

"Adaw" — Hoseok meringis kesakitan.

Oh. Minguk tidak sengaja melempar pesawat mainan yang sedang di pegangnya pada wajah Hoseok. Untung bukan pesawat beneran yang dilempar oleh dede Minguk yang emesh ini.

.

.

.

.

"HUWEEEE. HYUNG HIKS DIA JA HIKS HAT HUWEEEEE"

"Sudahlah. Biarkan saja lah. Toh juga dulu siapa suruh kamu mau sama dia?"

"HIKS TAPI KAN HIKS DULU ITU DIA HIKS BAIK HIKS—

—SROTT.

Ewh. Yoongi menatap agak ilfeel pada lelaki imut nan unyu yan sedang membuang ingus pada tisu di tangannya, lalu membuang sembarang tisu tersebut. Alhasil lantai ruang tamu rumahnya jadi banyak tisu berserakan.

Yoongi menyerahkan sekotak tisu lagi saat melihat satu kotak tisu di meja sudah habis, "aish kau ini macem perawan abis diperkosa ajasih. Udah diem ngapa. Berisik" Yoongi dengan sadisnya menekan-nekan mata lelaki tersebut dengan tisu. Maksudnya biar berenti nangis gitu kali.

Lelaki imut nan unyu unyu tadi menabok tangan Yoongi yang menekan-nekan matanya, lalu menatap Yoongi dengan matanya yang berair, pipinya yang basah karena airmata dan jangan lupakan ingus dari hidungnya yang masih keluar sedikit.

"TEGA BANGET ADEKNYA SENDIRI DIBILANG DIPERKOSA. AKU KAN LAKI. MANA BISA DIPERKOSA" ucap lelaki itu kemudian sibuk menghapus airmata dan ingusnya kembali. Sungguh jorok sekali anak ini.

"Yakan kamu uke. Jadi gak menutup kemungkinan bahwa bisa saja kamu abis diperkosa sama—

"APAAH?! JUNGKOOK DIPERKOSA SIAPA?!" Yoongi menatap syok Jimin yang tiba-tiba udah lari-lari gajelas kearahnya dan yang bikin Yoongi makin shock itu Jimin lari-larinya sambil gendong anaknya. Yoongi cuman takut Jimin jatoh trus nanti mereka berdua keguling-guling berdua di lantai.

Dengan cepat Jimin langsung nyempil duduk di tengah-tengah Yoongi dan Jungkook lalu menaruh bocah perempuan kecil yang tadi di gendongannya pada paha Yoongi. "KAMU DIPERKOSA SAMA SIAPA KOOK?! JAWAB HYUNG JAWAB!" Jimin dengan lebay mengguncang-guncangkan bahu Jungkook hingga lelaki itu terbengong-bengong heran. Sedangkan Yoongi memutar bola matanya malas melihat tingkah suaminya yang rada-rada itu.

Lelaki yang terdeteksi bernama Jungkook itu berusaha melepaskan tangan Jimin pada bahunya, "AKU GAK DIPERKOSA. ARGHH KALIAN GAK TAU APA ADEKNYA YANG UNYU INI LAGI SEDIH. MALAH DITUDUH-TUDUH SEMBARANGAN. HUWEEEEEE—

—SROTTT.

Nangis lagi. Buang ingus lagi. Jungkook dan dunia tisunya.

"Mangkanya jangan main tuduh aja. Siapa juga yang diperkosa" ucap Yoongi sebal pada Jimin. Sedangkan lelaki itu hanya nyengir ganteng aja.

"Ya abisnya tadi kamu nyebut-nyebut diperkosa. Lah 'kan jadinya aku ngiranya dia diperkosa. Mana aku tau kalo kamu—

"Ma, pa. Diperkosa itu apa?"

"…."

Hening. Tidak ada suara Yoongi ataupun Jimin. Bahkan sudah tidak terdengar lagi suara Jungkook yang menangis. Yoongi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Jimin bersiul-siul tidak jelas.

"Hm aduh kamu masih kecil sayang. Udah gak usah tau apa artinya itu"

"Ih mama pelit. Papaaaa diperkosa itu artinya apa? Memang kenapa kalo Jungkook oppa diperkosa?" Yunmi beralih bertanya pada Jimin. Karena menurutnya Jimin pasti akan menjawab semua pertanyaannya.

"Eeeh. Udah kamu dengerin aja kata mama. Gak boleh tau kamu" ucap Jimin takut-takut. Ya gimana gak takut. Yoongi udah melotot aja sama dia. Ngancem Jimin biar gak ngomong macem-macem yang bisa mengotori pikiran polos anak mereka yang unyu unyu nya sama kayak Yoongi.

"Heh Jimin. Minggir. Aku mau duduk disebelah Jungkook. Bukannya tadi kamu aku suruh buat beresin kamar Yunmi ya? Kenapa malah kesini coba?" tanya Yoongi galak. Dengan sadis dia mendorong tubuh Jimin sampai lelaki itu jatoh dari sofa. Jimin sih pasrah aja ya. Cuman bisa elus dada aja. Pengennya sih elus dada Yoongi tapi kalo suasananya kayak gini bisa-bisa tangannya langsung dipotong ama Yoongi.

Lalu sang dewi kencana—eh ga maap. Maksudnya Yoongi, menggeser duduknya ala-ala putri bangsawan biar bisa duduk lebih deket sama Jungkook. Dan dengan segenap perhatiannya dia mengelus-elus punggung adik satu-satunya tersebut. Agar sang adik berhenti menangis dan berhenti pula menghabiskan tisu yang ada dirumahnya.

'Tisu itu mahal. Yang kecil aja harganya lima ribu. Trus yang gede harganya Sembilan ribu. Kan lumayan sembilan ribu bisa buat jajannya Yunmi di sekolah' —ini perhitungan Yoongi di dalam benaknya.

"Hus. Udah ih jangan nangis mulu. Jelek atuh mukanya kalo nangis mulu. Gak malu nih nangis diliatin ama bocah umur empat taun?" ucap Yoongi sambil menunjuk-nunjuk Yunmi yang ada dipangkuannya. Sedangkan Jimin yang berada dibawahnya ikut-ikutan mengangguk dengan tangannya yang memeluk kaki Yoongi. Merana banget.

Jungkook sekali lagi mengelap airmatanya, dan tentu mengelap ingusnya pula. "Hiks hyung~ tetap saja hiks sakit ketika hiks orang yang kau hiks sayang menduakanmu huweeee" Jungkook mencoba berbicara di sela-sela tangisnya. Dan Yoongi yang berusaha keras mencerna ucapan adiknya. Abisnya patah-patah gitu ngomongnya. Kebanyakan hiks hiksnya.

Setelah berhasil mencerna ucapan adiknya, Yoongi berucap lagi. "Yaudah emang berarti dia bukan jodohmu. Seme di luar sana masih banyak ih yang ganteng-ganteng. Itu di komplek sebelah ada juga tuh yang anak kuliahan ganteng haduu siapa tuh namanya….seungchi eh seungcho eh aduh lupa namanya" Yoongi jadi heboh sendiri mengingat nama anaknya bu xxxx yang merupakan tetangga komplek sebelah. Maklum, orangnya ganteng. Kalo kata Yoongi sih suka khilaf kalo liat yang ganteng. Itusih kata authornya.

"Seungcheol kaleee" Jimin menyahut malas. Dia tau, sangat tau malah bahwa istrinya yang unyu unyu ini demen banget ama anak tetangga komplek sebelah yang namanya Choi Seungcheol. Mahasiswa fakultas seni semester enam.

Bagaimana Jimin bisa tau? Oh tentu saja. Itu semua berawal ketika di suatu sore menjelang malem ada sesosok lelaki yang tiba-tiba menting tong ting tong kan bel rumahnya dan ketika pintunya sudah dibuka nampak lah lelaki berambut blonde setengah jadi alias gak jelas—ini kata Jimin- yang membawa-bawa dompet milik Yoongi yang tertinggal di rumah emaknya pas Yoongi lagi main kesana. Dan sejak saat itulah Yoongi selalu bilang kalo lelaki tersebut ganteng. Dan dari situ lah Jimin bawaannya sensi aja kalo ngeliat mahasiswa rambutnya blonde. Bawaannya tangan pengen nyekek aja, gitu katanya.

"Nah iya Seungcheol! Haduu itu ganteng banget" mata Yoongi mulai berbinar-binar. Entah memikirkan apa tapi keliatannya mukanya bahagia banget. Beda banget ama Jimin yang saat ini mukanya udah kayak dompet tanggung bulan.

"Yaudahlah kook. Mending kamu cari pacar baru. Daripada nangisin mantanmu mulu. Kayak gaada kerjaan lain aja. Daripada nangis mending bantuin aku beresin kamarnya Yunmi" kali ini Jimin yang ngomong. Tadinya mau sok bijak tapi ujung-ujungnya gatot. Alias gagal total.

Bocah kecil yang berada dipangkuan Yoongi yang terdeteksi bernama Yunmi, tiba-tiba menarik-narik lengan kaus yang digunakan Jungkook. "Oppa. Daripada nangis terus mending temenin aku main aja" ucap Yunmi. Omong-omong Yunmi tidak memanggil Jungkook dengan sebutan 'ahjussi' atau 'om' karena Jungkook tidak mau dipanggil seperti itu. Karena menurut Jungkook dirinya masih muda dan bukan om-om. Maka dari itu sampai sekarang Yunmi manggil si Jungkook itu 'oppa'.

Jungkook membuang tisu yang sedang dipegangnya, "main apa Yunmi?" tanya Jungkook. Ternyata tangisannya sudah mulai mereda, bung.

Bocah kecil itu nampak berfikir sebentar, lalu beberapa saat kemudian menjentikkan jarinya. "Main sama dede Minguk aja yuk oppa! Ayok kita ke rumah Seokjin ahjussiii~" Yunmi langsung melompat dari pangkuan Yoongi dan menarik-narik tangan Jungkook. Yang mau tidak mau Jungkook langsung berdiri.

"Eh Yunmi kalo mau ke rumah dede Minguk papa ikut dong~" baru saja Jimin ingin berdiri, kaus bagian belakangnya sudah ditarik oleh Yoongi, "mau kemana hah? Gak ada keluar-keluar" ucap Yoongi final. Jimin cemberut sok unyu.

"Yunmi sayang~ kamu ke rumah dede Minguknya sama Jungkook saja ya? Ingat loh jangan nakal disana" pesan Yoongi pada anaknya. Pasalnya beberapa hari yang lalu Yunmi main disana anak itu sudah membuat meja ruang tamunya lengket karena terkena permen gulali.

"Ya mama~ babayyyy" Yunmi langsung menarik tangan Jungkook keluar rumah. Tidak lupa dia melambai pada mamanya tersayang.

Setelah puas melambai-lambai ala miss universe pada anaknya, Yoongi beralih menatap Jimin yang saat ini sudah duduk disebelahnya. "Sana ih beresin kamarnya Yunmi. Disuruh beresin daritadi jugak. Ga dikerjain juga. Hih" ucap Yoongi sebal.

Tapi ucapan Yoongi tadi bagai tidak didengar oleh Jimin. Lelaki tersebut malah menatap intens pada Yoongi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Yoongi yang dipandangi seperti itu menjadi risih juga. Telunjuknya mendorong kening Jimin saat lelaki itu mendekatkan wajahnya.

"A-apaan sih?! Udah sana beresin kamarnya!"

"Galak banget sih. Kau tidak merindukanku hm? Tiga minggu kemarin aku full lembur. Berangkat pagi dan pulang larut malam. Bahkan saat aku pulang terkadang kau sudah tertidur. Tidak rindu denganku hm?"

Yoongi menatap lelaki didepannya yang sudah hidup bersamanya selama enam tahun lamanya tersebut. Jika tadi Jimin bertanya, maka jawabannya adalah iya. Yoongi merindukannya. Sangat merindukannya. Akhir-akhir ini Jimin terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga Yoongi merasa dia seperti diabaikan. Tidak ada sarapan bersama karena Jimin yang harus berangkat pagi sekali. Tidak ada ciuman selamat datang darinya karena ketika Jimin pulang Yoongi seringnya sudah tertidur. Tidak ada pelukan hangat di malam hari karena Jimin yang terlalu lelap dalam tidurnya karena kelelahan.

Tanpa sadar Yoongi meremas tanganya sendiri. Yoongi rindu. Rindu dengan Jimin. Kata-katanya yang tidak penting. Bualannya. Pelukan hangatnya. Ciumannya yang memabukkan. Semuanya. Yoongi rindu semuanya. Yoongi rindu Jimin.

Bruk

Oleh karena itu Yoongi langsung menubruk tubuh Jimin hingga lelaki itu terjatuh kebelakang yang untungnya masih disofa, dengan posisi Yoongi yang berada diatasnya. Jimin tersenyum kecil, sebelah tangannya melingkari pinggang Yoongi. Dan tangannya yang satunya mengelus surai lembut milik Yoongi.

"Aku merindukanmu, Yoongi hyung" ucap Jimin sembari menciumi puncak kepala Yoongi. Tidak ada sahutan dari Yoongi. Lelaki tersebut hanya terlalu sibuk menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Jimin, dan bergumam tidak jelas disana.

"Maafkan aku Yoongi hyung. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku hingga melupakanmu" ucap Jimin lagi. Kali ini Yoongi mengangkat wajahnya, menatap sebal lagi pada Jimin.

"Dan kau juga melupakan anakmu sendiri. Asal tau saja Yunmi selalu merengek ingin diantar sekolah ataupun dijemput olehmu. Aku sampai sakit kepala mendengar rengekannya itu" kesal Yoongi sambil mengerucutkan bibirnya. Jimin tertawa keras melihat Yoongi yang tingkahnya sama saja seperti anak mereka jika sedang merajuk.

"Aigoo maafkan aku ya mama Minyu? I love you~"

"Ugh. I love you too, Jiminie~"

.

.

.

.

"Yunmi-ie ngapain sih kamu ke rumahnya Taehyung hyung?" tanya Jungkook ketika Yunmi membuka pagar sebuah rumah lalu tangan Yunmi menyeretnya untuk masuk saat pagar rumah tersebut berhasil dibuka.

"Ish kan udah dibilang aku ingin main dengan dede Minguk. Oppa oon banget sih"

Jleb.

'Buset ini anak ngomongnya nusuk amat. Sama ae kayak emaknya' batin Jungkook yang merasa terhina dikatain oon sama bocah berumur empat tahun. Kemudian Yunmi tanpa babibu langsung saja membuka pintu rumah tersebut,

"MINGUKIE~ NOONA DATANGGGG~"

—dan berteriak sudah seperti di rumah mama papanya sendiri.

.

.

.

.

Setelah kejadian wajah Hoseok yang dilempari oleh pesawat mainan milik Minguk, Hoseok langsung dipersilahkan masuk oleh Taehyung. Tentunya lelaki manis itu berkali-kali meminta maaf atas insiden pesawat mainan anaknya yang mendarat di muka Hoseok. Yang kemudian Hoseok hanya menjawab,

"Tidak apa Taehyungie. Namanya juga anak kecil" —sambil tersenyum ganteng pada Taehyung.

Sedangkan Seokjin yang mendengar suara Hoseok langsung mendumel macem emak-emak kalo lagi belanja sayur, "Dih apaan. Sok kegantengan amat" sambil mengepel lantai dapur. Tadi dia disuruh ngepel ama Taehyung gegara abis numpahin yogurt.

Hoseok membenarkan duduknya, sambil tetap tersenyum ganteng. "Anakmu sudah besar ya Taehyungie. Siapa namanya?" Hoseok dengan pedenya mencubit-cubit pipi Minguk yang berada dipangkuan Taehyung. Minguk memiringkan kepalanya menatap om-om besar yang sedang tersenyum lebar –kelewat lebar malah- kearahnya.

Krauk

"Adaw" —Hoseok meringis pt. 2

Setelah tadi hidungnya yang jadi korban tempat mendaratnya pesawat mainan milik Minguk, sekarang tangannya yang menjadi korban gigitan oleh bayi mungil berpipi gembil tersebut.

'Anjir sakit juga digigit bocah' Jeritan hati Hoseok.

"Aduh maafkan Minguk Hoseok hyung. Dia memang lagi sering menggigiti apapun" ucap Taehyung yang merasa tidak enak pada Hoseok. Kemudian tangannya beralih mencubit pelan pipi anaknya, "Mingukie tidak boleh nakal sayang"

"Ah tidak apa Taehyungie. Tidak sakit kok. Hehehe" dusta banget. Padahal dalem hati Hoseok udah pengen jitak keras-keras bocah tersebut. saking aja dia masih jaga image mode on di depan Taehyung.

"Oh iya omong-omong Hoseok hyung belum ketemu Seokjin hyung 'kan. Sebentar ya aku panggilkan dulu. Mingukie disini dulu ya sama Hoseok hyung. Jangan nakal~" Taehyung mendudukkan anaknya di sofa tempat dia duduk tadi lalu dia berlalu meninggalkan Hoseok dan anaknya di ruang tamu.

Tinggallah sekarang Hoseok dan Minguk berdua. Hoseok mengamati bayi berpipi gembil yang sedang fokus dengan mainan yang ada di tangannya. "Kok mirip banget si culun Seokjin itu ya" —Hoseok beragumen sendiri

"Eh iya anjir gue lupa kan bapaknya emang si Seokjin" — Hoseok beragumen sendiri pt. 2

"Kenapa ini anak ga mirip gue aja ya. Kan biar orang-orang ngira gue bapaknya" — Hoseok beragumen sendiri pt. 3. Tapi kali ini ucapan Hoseok mulai ngaco. Sedangkan Minguk masih asik dengan mainannya sendiri tanpa tau bahwa dirinya sedang diomongin sama om-om mantan pacar mamanya.

"Tapi 'kan kalo dulu gue nikah ama Taehyungie ini anak juga bakalan miripnya sama—

"MINGUKIE~ NOONA DATANGGGG~"

Mari kita liat keadaan Hoseok. Lelaki ganteng itu sudah terjengkang dengan sangat elit di sofa? Alesannya? Simple aja. Dia kaget. Untung cuman kejengkang di sofa. Gak ampe ke lantai. Tapi tetep aja woy dia kaget. Kaget gegara tiba-tiba ada yang buka pintu dan langsung teriak gitu aja. Dan ketika dia menengok, dia merasakan ada panah cinta ga keliatan yang nancep di hatinya. Anjir lebay amat.

Dia ngeliat ada seorang bocah kecil perempuan. Gak gak. Jangan pada salah paham dulu. Hoseok kagak pedo demen ama anak bocah. Bukan itu yang menarik hati lelaki yang mempunyai senyum lebar ini. Tapi seorang lelaki berambut hitam yang bersama dengan bocah perempuan tadi.

Hoseok tidak bisa melepaskan tatapannya dari lelaki yang menurutnya imut ini. Dan baru kali ini Hoseok mengakui ada lelaki lain yang lebih imut dari Taehyung. Bahkan sampai lelaki tersebut duduk di sofa dan memangku Minguk pun Hoseok masih menatap lekat lelaki tersebut. Dan entah lelaki yang ditatap Hoseok ini gak peka atau mungkin oon. Dia gak sadar kalo diliatin sama si Hoseok. Udah mana si Hoseok ngeliatinnya kayak napsu gitu lagi.

Bocah kecil perempuan yang sudah sangat bisa ditebak adalah anak dari Kanjeng Yoongi dan berlabel nama Yunmi, menatap Hoseok dengan penuh selidik. "Om siapa? Taehyung ahjumma dan Seokjin ahjussi mana? Om pasti mau nyulik dede Minguk 'kan? Ayo ngaku om ngaku!" Yunmi menunjuk-nunjuk Hoseok dengan telunjuk. Sedangkan Hoseok hanya masang tampang bego gara-gara dituding kayak gitu ama bocah.

"Om hayo ngakuuu! Om pasti mau nyul—

"Lah ini anaknya Jimin ngapa ada disini" Seokjin tiba-tiba udah muncul bareng sama Taehyung pastinya. Sebenernya dia males kalo harus ngeliat muka Hoseok, tapi karena tadi Taehyung –sedikit- memaksa akhirnya dia nurut aja. Daripada kena omel lagi sama Taehyung 'kan gak enak.

'Oh. Jadi namanya Jungkook' Hoseok ngoceh dalem hati.

Mendengar nama papa tercintanya disebut, Yunmi nyengir lebar. Sampe-sampe matanya gak keliatan gitu. "Hehehe. Hola ahjussi! Aku mau main sama Minguk. Jungkook oppa juga ikut loh~" Yunmi menunjuk-nunjuk Jungkook. Sedangkan yang ditunjuk cuman cengar-cengir aja.

"Waaaa Jungkookie sudah lama kita tidak bertemu!~" — Taehyung yang excited banget pas ngeliat Jungkook lagi duduk sambil memangku anaknya. Langsung aja dia duduk disebelah Jungkook trus nyubit-nyubit pipi Jungkook.

Omong-omong, Taehyung itu deket banget sama Jungkook. Pertama kali Taehyung kenal Jungkook itu pas dia lagi main ke rumah Yoongi. Dan sejak saat itu dia mengklaim kalo Jungkook itu adiknya.

"Ehehehe lama tidak bertemu hyungie~" Jungkook nyengir lebar, "oh iya hyung dia siapa?" Jungkook ngelirik dikit kearah Hoseok.

Sedangkan Hoseok yang merasa tadi dilirik dikit sama Jungkook langsung membenarkan posisi duduknya, lalu tersenyum ganteng—

"Kenalkan, aku Jung Hoseok. Salam kenal Jungkookie"

—dan setelahnya memberikan winknya pada Jungkook.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc/end?

a/n : Holaaaa~ ada yang masih menunggu fic pointless ini? pasti gak ada iya kan. Chapter ini gajelas banget ya garing banget pula huhuhu maafkan selera humor saya yang cetek kayak kolem renang anak bocah u_u kayaknya saya bakal membatalkan genre humor di fic ini. Mau ganti jadi angst aja deh biar cast disini pada kesiksa semua *ketawa jahat* -lalu authornya dibuang ke laut-

Makasi banget-banget yang udah fav follow review fic gaje ini. laffyu so much gais.

And then, mind to review?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hayo masih ada gak yang ngescroll ampe bawah? HAHAHAHA. Bonus nih(?) bocoran buat chapter selanjutnya :

"Hiks mama papa hiks udah gak sayang aku lagi hiks huweeeee"

.

.

"KAMU GIMANA SIH. KALO UDAH GINI SEKARANG MAU CARI KEMANA COBA?!"

"M-maaf. Maafkan aku hiks. Aku juga gak tau kalo bakal kayak gini hiks"

.

.

"Hai. Siapa namamu manis?"

.

.

pssstt chapter selanjutnya full MinYoon (Jimin x Yoongi) lhooo xD