Preview :
"Hei, kalian berdua! Siapa yang mennyuruh kalian mengintip? Cepat lanjutkan hukuman kalian!" parahnya, amarah Han seonsaengnim yang memuncak itu dilampiaskan pada kami yang sama sekali tidak bersalah.
"Wah, Mark. Aku benar-benar tidak tahu ada murid seperti Renjun berada di kelas kita. Bayangkan saja, bagaimana kita bisa hidup bersama gadis brutalseperti itu," keluhku pada Mark saat jam istirahat.
"Biar bagaimanapun, dia satu-satunya saingan terberat di kelas. Tak ada yang berhasil menggeser namanya dari posisi pertama di setiap ujian. Kau harus berusaha keras jika ingin mengalahkannya. Mungkin jika ia tak lagi peringkat pertama, ia berubah tak lagi angkuh seperti itu."
"Kita lihat saja saat ujian mid semester nanti."
3 bulan kemudian.
Aku berjalan melewati koridor sekolah dan mendapatipapan pengumuman penuh oleh segerombolan siswayang berkerumun. Ah, benar juga! Hari ini adalah pengumuman hasil mid semester minggu lalu. Aku mendekat untuk ikut melihat pengumuman. Tiba-tiba telingaku menangkap perbincangan beberapa gadis yang sepertinya membicarakanku.
"Hei, lihat peringkat Renjun jatuh. Dia tak lagi peringkat pertama."
"Siapa orang jenius yang berhasil mengalahkannya?"
"Lee Jeno? Siapa dia?"
"Kurasa dia murid pindahan dari kelas 2-3 itu, sekelas dengan Renjun."
"Wah, hebat sekali dia! Murid baru sudah bisa mengalahkan Renjun."
"Kau benar. Tapi gara-gara dia juga peringkat kita jadi turun."
"Aku jadi ingin tahu seperti apa bocah jenius itu."
Aku sedikit bingung dengan pembicaraan mereka. Apa maksudnya aku mengalahkan Renjun? Aku berjinjit mencoba melihat papan pengumuman itu dari tempatku berdiri. Dan betapa terkejutnya aku melihat hasil yang tertulis di papan itu. Namaku terletak di urutan pertama. Tepat dibawahku tertera nama Renjun dengan selisih nilai yang sangat tipis.
"Hei, Jeno! Kau sungguh gila! Kau mengalahkan seorang Huang Renjun si peraih rekor peringkat satu paling banyak hanya dalam waktu tiga bulan! Hebat!" tiba-tiba Mark datang sambil merangkul pundakku.
"Itu bukan hal yang spesial. Wajar kan, jika ada orang lain menggeser peringkatnya."
"Tidak untuk Renjun. Kau sama saja dengan menghancurkan hidupnya."
"Terserah kau saja. Menurutku itu bukan hal yang harus dilebih-lebihkan."
"Hei, hei, lihat itu Renjun." Mark menunjuk seorang namja bergaya angkuh yang tak asing buatku. Semua orang memberinya jalan. Ia menatap papan pengumuman itu sebentar. Dapat kulihat orang-orang mulai berbisik menatapnya. Ia berbalik dengan ekspresi dinginnya. Apakah dia kesal dan marah sekarang?
"Renjun!" aku mencegatnya.
"Minggir!" lagi-lagi dia bersikap seperti itu. Mau tak mau aku minggir dari hadapannya.
"Oh, iya. Selamat ya, kau mendapat peringkat satu,"dia berkata kepadaku sebelum akhirnya melenggang pergi.
"Wah, kurasa kau memang sudah membuatnya jatuh. Kau lihat ekspresinya tadi."
"Ekspresinya memang selalu seperti itu bukan?"
"Dia pasti menahan emosinya. Aku bertaruh dia pasti sangat terkejut saat mengetahui kau mengalahkannya. Kurasa dia tidak akan membiarkanmu mendapatkan posisinya lagi," aku tak menghiraukan celoteh Mark dan memandangi punggung Renjun yang semakin menjauh.
Aku tak tahu apa yang membawaku menaiki tangga menuju rooftop sekolah. Aku hanya berpikir ingin mencari Renjun setelah dia membolos di jam pelajaran Bahasa Inggris tadi. Kini ucapan Mark maupun teman-teman yang lain terngiang di telingaku. Aku mulai percaya Renjun mungkin saja sedang depresi. Sepertinya aku harus meminta maaf. Aku tak mau ia melakukan hal bodoh seperti waktu aku pertama kali bertemu dengannya.
"Bau asap rokok! Siapa yang berani-beraninya merokok di lingkungan sekolah?" aku yang paling benci dengan asap rokok mulai terbatuk-batuk. Aku mulai mencari asal asap racun ini. Astaga! Ini gila! Akuterkejut bukan main melihat siapa yang sedang asyiknya menghisap puntung rokok itu.
"Renjun! Apa yang kau lakukan? K-kau merokok? Di lingkungan sekolah?"Dia menoleh ke arahku.
"Memangnya kenapa? Mau kau laporkan? Laporkan saja!"
Ya ampun! Dia benar-benar tak kenal takut.
"Bisakahkau matikan itu? Kau bisa berada dalam masalah!"
"Apa pedulimu? Bukankah suatu keuntungan buatmu jika aku mendapatkan hukuman."
"Kau pikir kau bisa melakukan semuanya sesukamu? Kelakuanmu benar-benar buruk. Sia-sia saja jika kaumemiliki otak yang cerdas tapi sikapmu seperti ini!"
"Oh, jadi sekarang kau menasehatiku? Aku bertanya-tanya, kenapa kau begitu peduli padaku? Apa kau, tertarik padaku?"
"Bukan itu! Ini juga demi kebaikanmu Renjun."
"Baiklah murid teladan, kali ini kuturuti perkataanmu. Lain kali kuperingatkan jangan pernah ikut campur urusanku. Ini, lakukan sesukamu dengan benda itu." Renjun memberikanku puntung rokok yang tinggal setengah itu dan meninggalkanku sendiri. Aku segeramematikan puntung rokok itu sebelum ada yang melihat. Sekarang, aku bingung dimana aku harus membuang puntung ini. Manikku menangkap tong sampah penuh yang berada di samping pintu rooftop. Kurasa jika aku membuangnya disana tidakakan ketahuan...
"Hei, Jeno! Kau darimana saja? Sekarang giliranmu membuang sampah. Jaemin, sang ketua kelas menghampiriku begitu aku tiba di kelas.
"Baiklah," aku mengambil kantong plastik berisi sampah yang ada di pojok kelas.
Aku berlari-lari kecil sambil bersenandung melewati koridor. Tempat pembuangan sampah berada di belakang sekolah, aku hanya tinggal melewati gudang saja.
"Nah, selesai," aku melempar kantong plastik itu ke dalam kontainer.
"Hmmm… sepertinya sampah di sini sudahharus di sortir ke TPA. Bau menyengatnya bisa mengganggu proses belajar."
Aku segera kembali ke kelas melewati halaman depan ketika tiba-tiba.
PRANG!
.
.
.
TBC
.
.
.
hayolohhh apaan itu yg PRANGGG...
penasaran ga ya...
iyaa ini pendekk maap yaa readernim...
kayanya sih nggak deh huhu :((
next chap nya secepatnya...
