Part-time Job Scandal

Kuroko no Basket isn't mine
But the story is mine

.

Warning : AT, shounen-ai, etc.

.

Summary : Ketika mencari lowongan pekerjaan sama susahnya dengan mengumpulkan tujuh Dragon Ball, seorang Kuroko Tetsuya dengan beruntungnya diterima bekerja di Restoran bintang lima yang mewah sebagai pelayan. Tapi kenapa ia tak pernah tahu kalau tempat itu milik mantan kekasihnya?/"Ya enggaklah! Aku sama kamu itu cuma cerita masa lalu!"/AkaKuro

.


{(Chapter 2)}


"'Sei-kun' katamu? Aku Presiden Akashi."

Kuroko menelan ludah. Mantan makin ganteng aja, ya? Ngomong-ngomong Sei-ku―maksudnya Presiden Akashi, kamu cocok banget pakai setelan jas itu. Pasti jas mahal, ya? Kuroko pakai bertanya-tanya segala, jelas itu jas mahal, haha.

Kuroko tengsin. Non non, di situasi tengsin begini tak bisa asal 'dibikin asik aja'. Salah goyang, gunting melayang―nyawa pun ikut terbang. Kuroko sudah hapal pergerakkan Akashi, dua tahun menjadi kekasihnya―di masa lalu―cukup untuk mengetahui seluk beluk kehidupan seorang Akashi.

Kuroko Tetsuya, diam membatu pada hari Selasa, 7 Februari 20xx pukul satu lewat delapan menit.

Ugh, rasanya mau kabur saja. Pencuri dari anime nganu, tolong meluncur dengan hang glider-mu dan pecahkan jendela ruangan ini sekarang. Lalu culik Kuroko menit itu dan detik itu juga.

"Kaca di ruangan ini bahkan anti peluru, Tetsuya."

SERAM. Sejak kapan Sei-kun yang Kuroko kenal berubah menjadi esper seperti fandom ujung!? Memang sih, tampang Akashi mirip-mirip dengan si esper. Mulai dari potongan rambut sampai seiyuu yang sama. Tapi masa punya kekuatan yang sama juga?

Jangan-jangan Akashi punya kekuatan psikis dan si Kusuo itu ternyata menguasai Emperor Eye?―ah, namanya jadi tersebut.

Kuroko hanya memainkan pinggir celana bagian pahanya dengan gugup sambil lirik sini lirik sana lirik dompet tebal di meja kerja. Sedangkan Akashi masih menatap wajah kikuk Kuroko sepaket dengan senyum gentle yang tidak pernah berubah sejak 23 tahun seorang Seijuurou menukar karbon dioksida dengan oksigen.

Sepuluh menit berlalu. Tak ada yang bergerak dari posisi. Akashi tak lagi memainkan pulpen merah―yang kelihatan mahal―itu. Bahkan bakteri yang ada di kaki Kuroko sudah mati karena terlalu lama terinjak―mungkin saja, tapi tetap saja itu tidak mungkin.

Betul kata Kise, kalau mau diet, sering-sering datang ke ruangan Akashi. Pendingin bersuhu 17°C bahkan tak mampu menghentikan keringat yang meluncur turun di sekujur tubuh.

Tik. Tik. Tik. Jam terus memutari lintasan 360°.

Akashi, bicara dong. Apa saja. Suasana yang sekarang sangat hening sampai-sampai suara cicak yang merayap di karpet dapat terdengar. Kuroko tidak mau menghancurkan harga dirinya sebagai pihak yang 'memutuskan' untuk mengajak sang mantan bicara duluan.

Biar begini, Kuroko punya harga diri.

Lima menit berlalu lagi. Kuroko melirik jam dinding dengan interior mewah bercorak singa emas, dua puluh menit terlewat sejak ia memasuki ruangan. Dan 75% waktunya dipakai untuk tatap-menatap tidak jelas.

Kok lama-lama malah kesal? Apa jangan-jangan Akashi mau mengajak balikan? Hell no. Aku nggak mau makan gombalan garingmu lagi, mas. Tampar aja aku sekarang.

"Menyesal sudah memutuskan aku, Tetsuya? Jadi kamu mau minta balikan, hm?"

Kuroko memicingkan matanya dan mengerutkan alis kesal. "Ya enggaklah! Aku sama kamu itu cuma cerita masa lalu!"

Dua detik setelah berteriak OOC, Kuroko baru sadar situasinya. Suaranya yang bergema hilang sepersekian detik yang lalu. Pipinya merah padam karena menahan malu. Aah, jadi ingin mati.

"Tetsuya, kamu berteriak pada siapa?" tanya Akashi bingung. "Aku belum bilang apa-apa."

Iya iya, Kuroko tahu. Akashi yang mengucapkan kalimat kurang ajar itu hanya ada di benaknya saja, kok. Bukannya Kuroko berharap bisa balikan dengan Akashi lagi atau apa, hanya saja fakta bahwa Akashi Seijuurou ternyata adalah Presiden dari Resto Sei yang menjadi harapannya membuat jantung Kuroko serasa ingin lepas.

Kuroko tidak kaget perihal Akashi ternyata dalang dibalik Restoran sukses bintang lima, malahan itu hal yang wajar. Kuroko hanya tak kuasa menerima kenyataan kalau sekarang ia bekerja di bawah kuasa 'mantan kekasih' yang dulu ia 'putuskan'.

Mau taruh dimana muka Kuroko?

"Jadi, Ryouta sudah memberitahu shift kerja dan gaji perjam-mu?" Akashi menuang air putih ke gelasnya.

Ryouta? Maksudnya Kise?

"I-Iya." Kuroko menjawab dengan nada terbata.

"Kamu sudah tahu peraturannya?"

"Su-Sudah." Mata Kuroko masih mengawasi Akashi yang mulai berdiri dari kursi tinggi hitamnya dan berjalan sambil membawa gelas kecil berisi air putih.

"Apa yang membuatmu begitu gugup, Kuroko-san? Apa Presiden-mu membuatmu takut?" Akashi mendekat ke arah Kuroko.

Kuroko menggeleng. Ia tak (berani) bergerak dari posisinya sejak dua puluh menit yang lalu. Akashi menyeringai lalu meneguk habis air putih di gelasnya―entah kenapa terlihat mahal dan berkelas, itu benar air putih, kan?

"Peraturan nomor 11," Akashi merangkul bahu Kuroko―dengan setengah niatan modus. "segala percakapan dan perbuatan Pegawai dengan Presiden di ruangan Presiden berstatus rahasia kecuali mendapat izin dari Presiden. Kau sudah tahu, itu?"

"…Sudah, Presiden."

Akashi tersenyum lalu menjauhkan dirinya dan kembali pada kursi tinggi di dekat meja kerja miliknya. Jantung Kuroko masih berdegup kencang, waspada sekitar kalau-kalau akan ada gunting yang mengincar indah tubuhnya. Tak ada yang tahu apa yang direncanakan seorang Akashi Seijuurou, kan?

Kuroko menatap Akashi yang kini kembali duduk di singgasananya. Sebenarnya itu meja kerja, hanya saja karena dia itu 'Akashi' semua ini jadi terlihat seperti singgasana dan kerajaannya.

Kalau dipikir-pikir, apa yang membuat manusia se-royal Akashi sampai-sampai mau menjadi kekasih seorang Kuroko yang sangat biasa, malah kadang tak kasat mata. Bisa-bisanya juga Akashi menerima keputusan Kuroko bulat-bulat tanpa satu-dua penolakan ketika Kuroko meminta putus hubungan di tengah terik matahari. Maksudnya, kau tahu seorang Akashi itu absolut, harga diri setinggi angkasa dan aura kesombongan terpancar walau ia tak mengatakan apa-apa. Kuroko curiga Akashi tak pernah serius padanya kala momen putus lima tahun silam.

"Ya sudah, cukup segini untuk hari ini. Kau sudah diterima bekerja disini. Tapi ingat kau bekerja paruh waktu." kata Akashi. "Kau boleh pulang. Jangan sampai telat datang besok lusa, oke?"

"Baik, Presiden." Kuroko membungkuk memberi hormat.

"Sampai bertemu di hari Kamis, Kuroko-san."

Dada Kuroko terasa sakit ketika Akashi memanggilnya dengan nama keluarganya, ditambah suffix '-san' lengkap sudah ayam bakar beserta lalapan. Punggung Akashi tak lagi terlihat ketika kursi tinggi hitam itu terputar membelakangi Kuroko.

Pemandangan kota dari jendela besar di depannya memang indah. Kuroko tahu ia tak akan jadi seindah pemandangan yang sedang Akashi lihat, jadi tak ada alasan lagi untuknya untuk tetap berdiri menunggu itu kembali terputar menghadap dirinya.

Ah iya ya. Hubungan mereka saat ini kan 'Pegawai dengan atasannya'. Kuroko benar-benar merasa bodoh.

Kuroko tersenyum getir sekilas.

"Ah, Tetsuya."

Kuroko menatap suara dari balik kursi yang tak berputar dari posisinya.

"Ya, Presiden?" sahut Kuroko sopan.

Akashi berbalik dan memandang Kuroko. "Sebelum itu, biar kukatakan satu hal padamu."

Keheningan melanda selama beberapa detik. Kuroko menunggu kalimat yang akan Akashi lontarkan selanjutnya.

"Ketika aku memanggilmu Kuroko-san, itu berarti aku bicara padamu sebagai atasanmu. Tapi jika aku memanggilmu Tetsuya," Akashi menopang dagunya dengan sebelah tangan. "aku bicara padamu sebagai 'mantan kekasih'-mu yang masih mencintaimu."

Senyuman di bibir Akashi muncul bersamaan dengan rona di kedua pipi Kuroko. Kuroko mengerjap-ngerjapkan matanya linglung. Ia bingung ingin membalas apa.

"Baik, Akashi-kun…"

Mata Akashi melebar ketika ia mendengar Kuroko memanggil nama keluarganya. Tidak biasanya. Itu panggilan Kuroko pada Akashi kala mereka belum menjadi sepasang kekasih.

"Satu hal lagi, Tetsuya?"

"…Ya?"

Akashi terkekeh kecil lalu senyuman kembali menghiasi wajahnya. "Kalau rindu bilang-bilang."


A/N : Saya sungguh terharu dengan segala review yang masuk .A.

TERIMA KASIH BANYAK UNTUK KALIAN YANG UDAH REPOT REPOT NGE FIDBEK/?

Saya usahain kedepannya nyempetin update lebih rajin lagi :3

See you next chapter