LOVE
PAIRING : NARUSASU
GENRE : ROMANCE
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Terimakasih untuk 7 riview pertama saya. Karena anda saya semangat meneruskan cerita ini.
Silahkan dibaca.
.
.
.
Chapter 2
Sejak ia tahu Sasuke ada di Kota yang sama dengannya, Naruto tidak pernah melewatkan untuk mencari dirinya, segala tempat yang ia tahu keberadaan Sasuke ia kunjungi.
Namun semua tempat itu nihil, ia bahkan tidak bertemu satu pun jejak Sasuke.
Ia masih ingat pembicaraannya dengan Shikamaru. Biarpun Shikamaru tidak menyalahkannya, tapi ia terus merasa bersalah.
Bersalah karena telah membuang mimpi mereka, bersalah karena tidak pernah tahu penderitaan yang dialami Sasuke.
Tapi, dibandingkan rasa bersalah. Rindu yang lebih menominasi hatinya.
Sebegitu rindunya sampai ia ingin menyiksanya, mengigit nya, menciumnya dan membuatnya berteriak dibawah tubuhnya, sampai ia tak berdaya.
Naruto terkekeh, fantasinya terlalu liar.
"Uzumaki-sama, anda akan pergi lagi?" Sai menahan Naruto, saat ia melihat Atasannya itu hendak pergi.
"Ya,tolong kau urus semua. Sai." Naruto menepuk bahu sekretarisnya tersebut, kemudian berlalu.
Sai menghela napas, Atasannya pasti tidak kembali ke kantor. Menambah banyak pekerjaan untuknya. Entah siapa yang Pimpinannya cari. Apakah sebegitu penting sampai ia mengabaikan tugasnya.
Sai tersenyum siapapun yang dicari Atasannya pastilah orang yang sangat hebat, sampai membuat pemilik Namikaze itu seperti orang gila.
…
"Hah, lagi-lagi Boss kita pergi." Kiba memandang Naruto yang menaiki mobil pribadinya, ia dan Sasuke di lantai bawah mencopy beberapa kertas penting. bukannya Kiba suka ikut campur urusan Bossnya tersebut, tapi ia begitu penasaran dengan apa yang dicari Atasannya.
"Apa ya? Sasuke. Yang kira-kira dicarinya?" Sasuke tidak menjawab matanya tidak terlepas pada Naruto yang sekarang melajukan mobilnya.
"Hey." Kiba menyenggol bahu Sasuke. Ia menunjuk Sakura yang mendekat dengan kepalanya, Kiba mengedipkan mata kearah Sasuke kemudian berlalu meninggalkannya.
"Sasuke-kun, apa nanti malam kau ada a…"
"Maaf, aku ada janji." Sasuke dengan cepat menyela perempuan ini, kemudian bergegas meninggalkannya. Sakura menggenggam erat kemeja kerja. Pria ini tidak pernah bersikap ramah padanya.
Kiba mengigit kuku melihat kelakuan temannya.
"Sasuke. Kau?" Kiba geram, apa semua pria keren begini kelakuannya?
"Tidak semua Kiba sayang." Seorang pria dengan rambut yang dicat berwarna putih merangkul bahu Kiba. Ia bergidik ngeri, apa pria ini bisa membaca pikirannya, ya?
"Buktinya aku tidak." Kiba hampir muntah mendengar orang ini, Suigetsu satu divisi dengannya, orang yang selalu sok keren.
"Sasuke, bagaimana kalau kencan dengan ku saja?" Kiba langsung mendorong Suigetsu.
"Jangan kau kontaminasi otaknya Suigetsu. Ia normal tidak seperti kau." Suigetsu terkekeh.
"Siapa tahu kan?" ia mencolek pipi Sasuke yang langsung dihadiahi tatapan tajam olehnya.
Suigetsu cengengesan Sasuke memang teman yang sulit didekati.
…
"Kupikir anda tidak kembali." Sai segera menyiapan dokumen-dokumen penting yang harus ditandatangani oleh Atasannya.
"Apa kau tahu caranya merayu orang yang ngambek selama 7 tahun?"
"Apa yang anda bicarakan, Uzumaki-sama?" Naruto terkekeh.
"Kau terlalu formal. Sai."
"Saya memang seperti itu, Uzumaki-san."
"Tuan? Apa malam ini anda tidak pulang?" Naruto menggeleng, ia masih ingin mencari Sasuke di berbagai tempat.
"Bukankah ada janji dengan Shion?" Ah, hampir saja ia lupa dengan tunangannya itu.
Naruto mengacak rambutnya.
"Mungkin akan ku batalkan." Wajah Sai mengeras, tangannya ia kepal kuat-kuat.
"Uzumaki-san. Bukankah anda sering mengingkari janji? Anda tidak berhak menyakitinya seperti itu."
Belum pernah ia semarah ini pada Atasanya, ia mencintai Shion melebihi jiwanya. Shion tunangan Naruto adalah teman sejak kecil sekaligus wanita yang dicintainya.
Tapi Shion lebih tertarik pada Naruto. Walaupun Shion tahu kalau Naruto tidak pernah serius dengan wanita. Tapi ia bersikeras ingin menaklukkan pria berengsek ini.
"Aku sudah rela dia memilih mu. Jadi, jangan sakiti dia." Naruto dengan sigap mengambil dukumen itu dan menduduki kursinya.
"Jangan relakan dia untukku, mestinya kau jangan menyerah." Sai memukul meja di depannya, kadang Pimpinannya selalu membuat emosi.
"Shion juga tidak pernah menyerah padamu. Beri dia kesempatan." Naruto melihat Sai sedikit kesal kemudian ia tertawa keras.
"Kalau aku tidak mau. Kau mau apa?" Sai semakin marah. Kalau bukan karena ia menghormati Atasannya, mungkin ia akan memukul Atasanya tersebut.
"Perasaan tidak dapat dipaksakan." Sai cukup tahu hal itu, ia mungkin akan marah kalau Shion disakiti oleh pria ini, tapi ia juga tidak bisa memaksa Naruto untuk menyukai Shion, kadang ia merasa kalau mereka bertiga berada dalam lingkaran setan.
Ia menyukai Shion tapi Shion menyukai Naruto, sedangkan Naruto entah siapa yang disukainya? Terlalu banyak wanita dalam hidupnya.
"Jadi aku memberi mu kesempatan. Jangan sia-siakan." Ia menepuk bahu Sai dan tersenyum lebar. Sai menghela napas.
.
Kau tidak pulang?
Sms dari Kiba tidak ia balas, ia termenung disini dan tidak berapa jauh darinya Atasannya juga melakukan hal yang sama dengannya, mereka berdiri disebuah jembatan dan berseberangan.
Sebenarnya ia mengikuti Naruto sejak ia keluar dari Kantor. Pandangannya tertuju pada Naruto yang hanya memandangi kosong kebawah jembatan memandangi air yang tenang dalam gelap malam.
Sasuke sedikit mengigil, udara malam sungguh sangat tidak mendukung, ia merapat kembali jaketnya, matanya tidak berpaling pada laki-laki berambut pirang jabrik tersebut.
Ia menyeringai, tubuh pria itu sedikit berubah, bertambah tinggi juga semakin gagah, ia lebih menawan sekarang. Dari dulu ia memang pria yang menawan.
Naruto adalah teman sekelasnya waktu SMA, pria yang banyak digilai wanita, bukan hanya karena tampang saja tapi ukuran dompetnya juga bisa membuat wanita-wanita keluar biji matanya.
Mereka sama-sama pria populer di sekolah, Sasuke bahkan yakin fansnya lebih banyak ketimbang pria itu, namun ada bedanya, Sasuke tidak terlalu peduli pada perempuan yang mengejarnya, ia tidak mau direpotkan oleh mereka.
Lain dengan Naruto yang selalu merespon gadis-gadis itu, pria itu bahkan tidak punya standar dalam memilih wanita. Asal punya lubang pasti akan kencani olehnya.
Mungkin karena itu, ia tidak pernah tidur sendirian.
"TEME SIALAN! AKU TAHU KAMU SUKA MENGABAIKAN TAPI 7 TAHUN BARU KETEMU. SAMA MUSUH PUN SENANG KALAU KETEMU 7 TAHUN KEMUDIAN!" Sasuke tersenyum sedikit. Jauh dalam lubuk hatinya ia ingin merangkul pria itu, ingin mencium nya.
Naruto menghembus kan napasnya dalam-dalam ia berharap seseorang yang membuatnya galau bisa mendengar teriakannya, walaupun ia tidak yakin, kemudian ia terkekeh pada orang-orang yang memandang heran padanya.
Naruto merapatkan jasnya ia bersiap akan pergi, kalau lama-lama disini ia takut malah dianggap orang gila, tapi ada yang menarik perhatiannya di seberang.
Sasuke terkejut ia belum siap untuk bertemu Naruto sekarang, entah kenapa detak jantungnya menggila ketika Naruto mendekat padanya.
DEG, DEG.
Sasuke kelabakan, apa yang harus ia katakan pada pria itu, tapi ia juga sangat merindukannya. Sasuke kembali mengeratkan jaketnya, jantungnya berdetak dengan cepat.
"Hai manis, kenapa malam-malam ini sendirian? Mau aku temani?" dasar bajingan! ia pikir Naruto mengenali dirinya, tahunya malah mengoda gadis yang ada disampingnya.
Gadis itu juga sama brengseknya, malam begini dingin tapi memakai baju yang terbuka seperti itu, pria bejat seperti Naruto pasti akan tertarik. Sasuke mendengus disudut hati terdalamnya ia ingin menghajar perempuan itu.
…
"Uzumaki-san. Anda betul-betul membatalkan pertemuan ini?" Naruto memandang sekilas pada Sai, wajahnya sedikit gusar, bukan apa-apa emosinya sedang berubah-rubah sekarang. Ia tidak ingin melampiaskan kekesalan pada sekretarisnya.
Sudah 3 minggu lebih ia mencari keberadaan Sasuke, tapi seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, Sasuke sulit sekali ditemukan.
"Anda tidak boleh menganggap remeh para pemegang saham. Uzumaki-san."
"Kau urus semuanya. Aku harus pergi." Sai menahan Naruto, bukannya ia ingin ikut campur urusan Pimpinannya, namun ia hanya tidak ingin Bossnya ini menghancurkan apa yang sudah ia usaha selama bertahun-tahun.
Ia sudah bersama Naruto sejak pertama kali mengantikan Ayahnya yang baru tutup usia. Perusahaan itu kacau karena perebutan kepemimpinan. Usia Naruto waktu itu baru 20 tahun tapi ia mampu mengendalikan kekacauan tersebut.
"Minggir!" Naruto mendorong kasar tubuh Sai.
"Kalau kau mencari seseorang, bukankah lebih baik beritahu aku, kau tidak perlu mengabaikan tugas mu!"
BLAM
Sai menghela napas kesal. Dibalik sifatnya yang ramah Naruto menakutkan ketika ia marah, dan ia bisa sangat keras kepala ketika menginginkan sesuatu.
"Lagi-lagi." Kiba memandang Bossnya yang melintasi ruangan mereka.
"Jangan suka ikut campur. Nanti kau dipecat tahu." Sugetsu mencolek dagunya. Kiba agak ngeri kadang-kadang pada pria ini.
"Aku bukannya ikut campur, tapi kalau Boss kita seperti itu aku yakin tidak sampai setahun perusahaan ini bakal bangkrut." Kiba sih tidak peduli mau bangkrut apa tidak Perusahaan ini. Tapi kalau ia kehilangan pekerjaan karena perusahaan ini tutup bagaimana ia akan hidup kedepannya.
Sasuke memandang sendu pada Naruto, ia tahu Naruto mencarinya ia merasa bersalah pada pria itu. Kemudian ia beranjak.
"Sasu kau mau kemana?"
"Waktu istirahat." Kiba mengerutu, temannya satu ini selalu irit kata-kata, lebih baik bicaralah sedikit lebih banyak.
"Pacar mu meninggalkan mu lagi, kiba?" Sugetsu mengedipkan mata kearah Kiba, sebuah buku langsung melayang kearahnya.
"Brengsek."
Sasuke tidak tahu kemana Naruto pergi. Ia kehilangan jejak tapi entah kenapa kakinya malah melangkah ketempat ini. Sebuah Toko yang menjual alat-alat musik.
Ia dan Naruto sering kesini.
Ia menyeringai memang terkadang ia sering memanfaatkan Naruto untuk melengkapi alat musik yang mereka butuhkan saat pertunjukan.
Sasuke berdiri didepan sebuah jendela yang besar. Pandangannya lurus kedepan memandangi sebuah kolam yang ada didepan Toko, pemandangan yang indah.
Dulu ia suka berdiri disini dan Naruto dibelakang. Memeluk dirinya.
Ia pejamkan matanya, memori yang dahulu, menghampirinya seperti air yang mengalir.
…
Naruto tahu berapa kali pun ia kesini, Sasuke tetap tidak ada, Sasuke tidak pernah ada.
Tadinya ia hanya berniat membeli sesuatu, tapi entah kenapa ia malah masuk ke toko yang sering ia dan Sasuke sering kunjungi. Berharap kalau pria yang dicarinya tersesat disini.
Naruto hampir melangkah keluar lagi kalau saja matanya tidak melihat seorang pria didekat jendela.
Pria itu begitu sempurna, kadang angin membelai rambut hitam indahnya.
Seandainya ini mimpi, Naruto tidak ingin terbangun.
Pelan ia melangkah kesana, mungkin saja ini mimpi tapi ia tidak peduli pria itu nyata atau tidak. Naruto hanya ingin memeluknya, melampiaskan rasa rindu yang sekian lama menyiksanya.
"Sasuke" desisnya, pria yang dipanggil membalikkan badan. Menyeringai kearahnya, benar, ini mimpi yang seperti kenyataan.
Wangi tubuhnya, menusuk hidung Naruto. Pria ini begitu nyata dalam pelukannya.
Naruto semakin mengeratkan pelukan, perasaannya membuncah, jantungnya berdetak tak beraturan. Benarkah ia nyata atau pria ini hanya ilusi semata.
Ia melepaskan dekapannya, Sasuke tidak juga menghilang. Apa ia benar nyata? Haruskah ia memastikannya?
Pelan namun pasti Naruto mengecup bibir Sasuke, bibir itu lembut seperti biasa. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakannya.
Ia dorong tubuh Sasuke sampai menghimpit jendela kaca dan tubuhnya. Kemudian kembali mencium bibir Sasuke.
Ia jilat permukaannya lalu menyapu belahan bibirnya secara sensual, Sasuke membalas dengan melumat bibir Naruto. Benar, Pria ini benar-benar nyata.
Dalam kurungan tubuhnya ia bentangkan kedua tangan Sasuke, menautkan jari-jari mereka, lalu dengan kasar membalas ciuman panasnya.
Ia gigit bibir bawah Sasuke dengan tergesa, menciptakan darah dan desahan Sasuke. Lalu dengan sigap Naruto memasukkan lidah saat Sasuke membuka mulutnya.
Ciuman itu begitu dalam, panas dan memabukkan.
Sasuke selalu menyukai Naruto yang seperti ini. Ia tidak malu menunjukkan dirinya yang berbeda dengan orang lain. Walaupun ia tahu mereka sudah membuat orang-orang di Toko musik itu membeku melihat pemandangan yang tidak lazim yang mereka tunjukkan.
Ia mungkin akan membiarkan Naruto menciumnya lebih lama lagi. Ia juga merindukan sentuhan bibirnya. Tapi kalau sampai ditelanjangi disini ia juga tidak mau.
Ia mendorong Naruto dengan kuat, rangsangan yang dilakukan pria ini sungguh keterlaluan.
Bajunya sudah tersingkap sampai ke dada, menampilkan tubuh putih dan putingnya yang memerah. Ulah Naruto yang memilinnya secara kasar.
Nafasnya tidak beraturan. Ia segera memperbaiki bajunya sebelum membuat pelangan-pelangan disini kehabisan darah karena mimisan.
Ia segera menarik tangan Naruto secepatnya keluar dari toko itu. Ia tidak ingin membuat orang-orang pingsan karena shock melihat ulah mereka.
"Sasuke." Naruto berhenti ketika mereka sudah keluar dari Toko tersebut, tangannya menangkup pipi Sasuke. Lalu menciumnya kembali.
Naruto masih terasa mimpi, 7 tahun lamanya ia tidak berjumpa dengan pria yang selalu hadir dalam mimpi buruk sekaligus mimpi indahnya.
Pria itu tidak berubah, masih dengan wajah yang tidak pernah tahu cara berekspresi. Hanya saja ia bertambah cantik dan tampan. Naruto begitu merindukannya.
Ketika Naruto ingin kembali ingin menciumnya.
Sasuke mendorong tubuh Naruto, ini dijalan umum.
"Dimana mobilmu?" Naruto tersenyum lebar, kemudian menarik tangannya dan menggenggamnya erat. Sasuke sudah berada dihadapan dirinya jangan harap ia bisa lepas lagi.
Ketika mereka sudah sampai, Sasuke menyadari kalau mobil itu tidaklah kosong ada penghuni didalamnya, wanita dengan dandanan yang mencolok, sasuke kembali menyeringai. Brengsek.
Ia pikir Naruto serius mencarinya tidak tahu malah asyik dengan perempuan yang ada di mobilnya.
Naruto terkekeh sama sekali tidak merasa bersalah. Ia membuka pintu mobilnya dan menyuruh perempuan itu keluar.
Pakaian perempuan itu berantakan, Sasuke jelas tahu apa yang terjadi, perempuan itu gugup dibawah sorotan tajam mata Sasuke.
Naruto merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet, ia memberi beberapa lembar uang pada gadis itu dan juga… kondom. Sasuke geram.
Baka hentai!
"kau pulang naik taksi saja. Ya?"
"Tapi?" Naruto mencium pipi gadis itu, membuatnya tersipu.
"lain kali. Ok." Naruto meremas gemas bokong si gadis. Membuat Sasuke ingin menendang pantat pria itu.
Ia segera menyeret Sasuke dan memasukkan ia kedalam mobilnya.
Sebelum Naruto pergi ia turunkan kaca mobil dan memberikan kedipan nakal kapada gadis itu, setelah itu mobil itu melaju kencan. Meninggalkan gadis manis itu.
Gadis itu masih bengong di samping jalan, tidak sedar kalau ia Nampak seperti pelacur yang ditinggalkan pelanggannya.
Ketika sedar ia cepat-cepat memperbaiki pakaiannya.
Ia memandang sekali lagi pada genggaman tangannya, lembaran uang dan kondom.
Tiba-tiba wajahnya memerah, ia Nampak sekali seperti gadis jalanan. Sialan! Dasar pria brengsek.
.
Sasuke memandang inters pada pria yang sedari tadi mengemudi sambil bersiul gembira. Padahal ia sangat kesal.
"Ck, sialan! Kupikir kau serius mencariku, ternyata…" Naruto kembali terkekeh.
"Kau tau aku mencarimu?" Sasuke tidak menjawab, Naruto kembali tertawa. Pria disampingnya memang sulit ditebak.
"Tidak usah dipikirkan. Wanita itu hanya kutemukan dijalan."
BUUKH
"Hey kenapa memukul ku?" Sasuke tidak menjawab hanya matanya yang memandang tajam pada Naruto.
Sasuke kemudian membaringkan sedikit tubuhnya, ia pejamkan kedua matanya berusaha menenangkan pikiran.
Sasuke kembali membuka matanya saat menyadari ada tangan yang mengelus pahanya.
Ia menepis tangan itu.
"Mengemudi saja dengan baik." Ia mencoba untuk menutup mata lagi, tapi wajahnya memerah karena malu dan kesal.
"Yahk. Jangan pengan penis ku. Bangsat!" Naruto tertawa.
"Kau mau ke Hotel?" ck, Sasuke semakin bertambah kesal. Pria ini apa tidak punya pikiran lain, selain seks di otaknya.
"Aku lapar." Naruto tersenyum. Tapi kemudian ia segera membelokkan mobilnya.
Pandangan Sasuke datar saja padahal dalam hatinya mangkel. Sebuah restoran siap saji 'Ichiraku Ramen' berdiri dengan kokoh di depannya.
"Kalau ramen, tiap hari aku makan." Naruto kembali terkekeh, ia segera merangkul bahu Sasuke dan masuk kedalam, mereka duduk di sebuah kursi bersebelahan. Kemudian ia memesan mie
"Kau setiap hari kencan dengan wanita di restoran mewah, aku kau bawa kesini?" Naruto menepuk tangannya.
"kau sudah berubah ya? Baru kali ini ku dengar kalimat panjang mu." Sasuke mendengus.
Saat dua porsi ramen dihidangkan dihadapan mereka, dengan sigap Naruto mengambil sumpitnya dan memakan ramennya dengan cepat.
Sasuke melirik sebentar, tidak pernah berubah. Dasar pecinta ramen.
Naruto masih setia memandang pria disebelahnya ini, rasanya perhatian mengalihkan ramennya. Biasanya ia akan menghabiskan 3 atau 4 porsi ramen, tapi hari ini, ia hanya menghabiskan satu porsi dan ia merasa kenyang dengan hanya melihat pria ini.
Mulutnya masih belepotan kuah ramen, tapi ia dengan berani mengecup pipi putih Sasuke.
Pipinya masih betah mengecup pipi yang kenyal itu, wangi maskulin menusuk hidungnya gairah laki-laki Naruto melonjak. Sasuke hanya melirik Naruto dengan ujung matanya. Kesal.
PRAANG suara piring pecah, rupanya pemilik toko itu yang melakukannya, ia mengibaskan tangannya dengan kaku ke arah mereka. Naruto tahu orang-orang ini pasti merasa risih.
Tapi bukan Naruto namanya kalau ia peduli dengan hal-hal seperti itu. Tangannya sedikit nakal bergerilya di daerah pribadi Sasuke.
"Jauhan tangan mu dari ku. Brengsek!" Naruto terkekeh makin keras, sungguh ia tidak tahan untuk tidak mengapa-ngapain tubuh itu.
BRUUK…PRAANG!
Naruto sadar kalau mereka lebih lama disini, ia mungkin akan semakin banyak merugikan Toko ini. Kalau hanya piring yang pecah ia sih biasa saja, tapi kalau membuat orang-orang disini otaknya rusak ia tidak mau tanggung jawab.
Tapi ia mungkin akan bertanggung jawab penuh pada tubuh telanjang Sasuke.
…
"Kau benar-benar mengajakku ke motel murahan ini?"
ck, Sasuke kembali menghela nafas. Selalu berakhir seperti ini.
Naruto tidak menjawab, tapi senyum mesum yang ia tampilkan sudah menjawab pertanyaan Sasuke. Ia menarik tubuh Sasuke, sudah tiga kali ia ditarik-tarik seperti ini. Namun entah kenapa ia tidak merasa keberatan.
"Satu kamar." Naruto langsung memesan sebuah kamar pada resepsionis disana, senyumnya lebar, membuat para wanita penjaga losmen itu tersipu.
Penjaga itu memberi kunci pada pria menawan itu. Yang langsung sigap diterima Naruto.
Kemudian ia menyodorkan kartu card nya, membuat wanita itu bingun.
"Ini hanya Losmen sederhana. Tuan." Perempuan itu berkali mengerjapkan matanya, baru pertama kali melihat pelangan memakai baju bermerek, dan menyodorkan kartu card pada mereka. Terlebih orang itu tampan dan berotot,. Benar-benar tipenya.
"Sasuke?" Naruto memalingkan wajahnya pada Sasuke, yang masih berdiri dibelakangnya.
"Tks." Matanya menatap Naruto bosan, kemudian mengeluarkan dompetnya yang serba pas-pasan. Naruto segera merebut dompet ditangan Sasuke dan memberikan dompet beserta isinya kepada penjaga tersebut dan menyeret sasuke kembali.
Penjaga itu cengo.
"Yaa, mereka berdua sangat tampan, tapi kok maho, sih?" temannya yang ada di samping hanya menoleh dan tersenyum sinis.
"Padahal pria-pria keren sudah langka, kalaupun ada malah jadi maho. Bagaimana dong nasip kita perempuan!"
"Lesbi aja." Ia memandang kesal pada temannya yang berwajah datar. Dasar gila.
Sasuke memandang bosan pada Naruto yang menutup kamar. Ia duduk di sebuah ranjang yang kecil, matanya menilik dinding kamar itu yang sudah usang. Benar-benar Losmen murahan.
"Sialan! Hotel kan ada? Kenapa malah losmen murahan seperti ini." Sasuke menghempaskan tubuhnya kebelakang.
Ketika tubuhnya mendarat keatas kasur yang keras ia mengumpat. Naruto tertawa. Membuat Sasuke ingin menghancurkan wajahnya.
Naruto duduk disamping Sasuke, lalu dengan pelan melepas gesper celana Sasuke.
"Mau apa?" Sasuke bangun, kemudian memberi jarak dengan Naruto.
"Sudah lama tidak lihat." Naruto menarik kaki Sasuke, hingga ia terjungkal, kemudian kembali melepaskan celana itu.
Sasuke memandang dinding Losmen, yang catnya sudah mengabur, dingin menerpa bagian bawahnya.
Ia memejamkan matanya rasa hangat menjalar didaerah pribadinya, entah apa yang dilakukan Naruto dibawah sana. Nafasnya memburu.
Alunan melodi dari ponsel terdengar Sasuke berusaha mengambil celanan yang sudah tidak berdaya disampingnya. Kiba calling terpampang di layar ponsel.
Naruto membalikkan tubuh Sasuke.
Sasuke menekan tombol hijau di ponselnya, menjawab pangilan tersebut.
SASUKE KAU ADA DIMANA?!
Sasuke menjauhkan telpon genggamnya, dasar berisik.
"Hn" ia benar-benar mencoba menahan desahan indah yang akan keluar dari mulutnya. Dobe sialan. Apa yang dilakukan dibawah sana?
APA KAU TIDAK TAHU KALAU KITA ADA PERTEMUAN PENTING! CEPAT KEMBALI!
"Akh!" Sasuke menjerit ketika ia merasakan dimasuki sesuatu.
Sasuke memandang kesal pada orang yang mengerjai bokongnya, tapi Naruto tidak peduli, ia masih asik pada Sesuatu yang menjepit jarinya.
Hey! Hey! Sasuke kau kenapa?
Sasuke menenggelamkan kepalanya dalam bantal meredakan desahannya. Ketika ia sudah bisa mengontrol dirinya. Ia menjawab kembali panggilan Kiba.
"Aku Segera kembali." Ia segera menutup telponnya.
Sasuke kemudian melirik kebelakang, ia setengah telanjang, dan sejak kapan ia menungging seperti itu? memberi akses yang banyak pada Naruto.
Naruto menyengir mesum kearahnya, jari tengahnya yang tadi masih didalam tubuh Sasuke ia tarik kemudian dijilatnya secara erotis.
Glup
Ia menelan susah payah air liurnya. Dobe sialan!
Ketika Naruto kembali siap memasukan jarinya.
DUAKH
"Aduh." Naruto mengelus pelan perutnya yang dapat ciuman kaki Sasuke.
Sasuke kemudian dengan sigap memakai celananya kembali. Naruto yang kini duduk dilantai mendongak kearah Sasuke, tangannya dengan jahil menyentak celana Sasuke hingga lolos kembali.
Sasuke memandang tajam Naruto, tapi Naruto hanya tertawa saja. Sasuke kembali menarik celananya keatas dengan perasaan dongkol.
Tapi dasar Naruto jahil, ia kembali menarik celana tersebut. Sasuke kesal. Naruto cengengesan
"Aku akan dipecat kalau terus disini." Ia memandang Naruto datar, tahu sifat Naruto yang keras kepala. Ia juga tahu ia tidak akan bisa keluar dari tempat ini, sebelum memenuhi keinginan si keparat Naruto.
"Kerja ditempat ku saja." Tangan Naruto mengelus arah vertikal kaki Sasuke yang telanjang, kemudian ia mencium kaki tersebut. Ketika tangannya hampir merayap ke selangkangan Sasuke, tangan itu langsung ditepis.
"No, thanks." Sasuke meneruskan memakai gesper celananya, namun celananya kembali melorot kebawah.
Sasuke rasanya benar-benar ingin menghancurkan wajah Naruto yang terus-terusan tersenyum mesum padanya.
Apakah ia harus menghajar pria ini untuk lepas dari dirinya. Tapi ia tidak yakin Naruto akan melepaskan nya, walaupun ia babak belur. Sial, mestinya ia tidak mudah kasihan dan memutus kan untuk mengikuti pria ini.
Naruto berdiri dan mereka saling berhadapan, Sasuke memalingkan wajahnya yang memanas, ia terkadang terpesona pada senyum bodoh orang ini.
Naruto menarik rambut Sasuke membuat laki-laki itu mendongak kemudian mencium bibirnya lagi, Sasuke pasrah.
Ia pasti akan dimarahi habis-habisan sama si berisik Kiba dan mungkin harus mengucapkan selamat tinggal pada pekerjaannya. Entah kenapa ia tidak menemukan dirinya kabur dari Naruto.
Ia masih mendongak membiarkan bibir Naruto menyusuri lehernya, jauh dalam lubuk hatinya, sungguh ia juga menginginkan pria ini.
Sasuke bisa merasakan nafas hangat Naruto menerpa daerah pribadinya yang masih memakai celana dalam. Mungkin Naruto juga akan kembali menanggalkan nya.
Muka Sasuke memerah, gairahnya meluap. Ia rasa kalau sampai Naruto menggunakan mulutnya ia pasti tidak akan tahan.
Tapi, kemudian ia heran ketika Naruto menarik kembali celana panjangnya.
"He?" Naruto terkekeh, bibirnya mencium telinga Sasuke. Sedangkan tangannya sibuk memakai gesper celana Sasuke. Sekali-kali mengoda daerah pribadi Sasuke yang ereksi.
"Kenapa?—kau kecewa karena aku tidak menyentuh mu?"
Sasuke mendorong tubuh Naruto dengan kesal, kemudian menepuk-nepuk celananya lalu bergegas pergi.
Ck, Baka Dobe sialan! Bagaimana caranya ia bertahan setelah ini?.
"Ponselmu." Naruto menggoyang kan benda tersebut, Sasuke kembali dan merebutnya dari tangan Naruto.
"Aku sudah memasukkan nomorku, awas kalau tidak menghubungiku. Mati kau." Sasuke tidak menjawab.
"Hey, biarkan aku mengantarmu!" namun Sasuke dengan cepat berlalu.
Ketika sampai bawah ia langsung menuju resepsionis, meminta kembali dompetnya.
Perempuan itu malu-malu ketika menyerahkan dompetnya.
"Uangnya kurang tuan." Apa? Sasuke mendelik pada perempuan itu, makin menambah merah pipi perempuan itu.
Losmen yang serba kekurangan tapi harganya tidak cukup dengan setengah gajinya, AC tidak ada. Ruangan itu juga buruk, berani-beraninya memberi harga tinggi, apa karena mereka bukan pasangan normal makanya seenaknya patok harga.
Perempuan itu makin panik, "uangnya benar-benar kurang, tuan."
Seandainya bukan karena ia mengejar waktu, ia pasti tak akan mengalah pada perempuan itu.
"Sisanya sama yang dibelakang." Kemudia ia bergegas keluar dari losmen itu. Ia bersumpah tidak akan pernah kesini lagi. Dasar losmen pilih-pilih.
"Teme, tunggu!" Naruto yang sudah turun berniat mengejar Sasuke namun niatnya terhalang karena panggilan penjaga itu.
"U-uangnya kurang tuan." Naruto mendengus, seberapa miskin sih, si Teme itu?.
"Ini Kartu pengenal ku, nanti akan kukirim orang untuk melunasinya." Perempuan itu mengangguk.
"Tapi kau juga boleh menelpon ku, kalau ingin kencan." Naruto mengedipkan matanya. Membuat perempuan itu klepek-klepek.
Perempuan itu memandangi kepergian Naruto dengan terpesona.
Pria putih itu memang tampan, tapi ia lebih tertarik pada pria dengan kulit jelaga. Karena mereka lebih nampak maskulin dan dewasa.
Persis artis idolanya Boyband yang banyak personilnya. Kim jongin. Ah, pria dengan kartu pengenal ditangannya ini benar-benar keren. Haruskah ia menelponnya?
"Bagaimana kalau itu penipu?" perkataan teman disampingnya langsung menyadarkan dirinya dari dunia fantasi.
"Bisa saja kan kalau ia pura-pura kaya, lalu memakai pakaian bermerek." Perasaannya tidak enak.
"Kau akan dibunuh Boss." Ia rasa hidupnya akan berakhir hari ini. Salahnya sih, tidak bisa lihat cowok cakep.
…
"KAU TELAT! AKU DAN SAKURA-SAN DIMARAHI HABIS-HABISAN!" tidak bisakah si Kiba tidak teriak-teriak, ia mengorek kupingnya berkali-kali.
"Bayar taksinya." Sasuke dengan cepat masuk kedalam meninggalkan Kiba yang bengong, hah? Taksi?
Kiba ingin teriak lagi namun Sasuke sudah tidak ada dihadapannya. Sasuke sialan! Apa ia merasa kaya naik taksi segala. Ah, selamat tinggal pada uangnya yang tidak seberapa.
Sasuke mempercepat jalannya, brengsek! Ini salah Naruto kalau sampai ia dipecat.
Ketika hampir sampai di tempat pertemuan ia memperbaiki celananya.
Namun ia semakin kesal,harus menahan sesuatu di bawah pinggangnya.
Sial! Ia bersumpah akan menghajar Naruto lain kali.
"Maaf membuat anda lama menunggu. Nyonya." Sasuke mengangguk sopan pada seorang perempuan yang berwajah murka disamping Sakura yang pucat.
Sasuke mengumpat dalam hati. Ia pasti akan dipecat.
Perempuan setegah baya itu memandang Sasuke dari bawah sampai keatas kemudin ia merona.
"Tidak apa-apa, baru juga beberapa menit." Membuat Sakura, dan Kiba yang baru datang cengo. Perasaan tadi baru saja perempuan itu marah-marah mengatakan kalau Sakura tidak pandai mengatur pegawainya. Sampai ia harus menunggu si Sasuke pegawai rendahan selama setengah jam.
Sasuke bernafas lega, sedikitnya bersyukur karena Tuhan memberika wajah menawan ini padanya.
ia menduduki kursi yang ada dihadapan perempuan itu, kemudian segera memperkenalkan proyek rancangan mereka.
Kiba gigit kuku enaknya jadi orang tampan, padahal jelas-jelas Sasuke telat setengah jam, tapi dengan santai perempuan seram itu bilang hanya beberapa menit.
"Jadi—"
DREET
Bunyi sms masuk Sasuke mengabaikannya, ia kembali meneruskan penjelasannya, ponselnya kembali berbunyi, tiga orang disana mengangkat wajah dan memandanginya. Ia kembali abaikan saja sms itu.
"Kami sudah membuat struktur awal.."
Drrrt
"Kau sebaiknya melihat telponmu." Nyonya itu kesal, setampan- tampannya wajah pria itu, ia juga kesal ada yang menganggu pembicaraannya.
Sasuke mengumpat dalam hati, ia yakin yang mengirim sms sialan itu adalah Naruto. Padahal ini adalah proyek penting dalam hidupnya.
Kemudian ia mengecek sms tersebut seketika wajahnya menjadi panas, mukanya memerah. Ia kesal saat melirik daerah pribadinya. Tangannya mencengkeram celana.
Rasanya sakit ketika ia harus menahannya.
Baka hentai brengsek!
"Kenapa?" Kiba berbisik padanya. Sasuke kembali menutup ponselnya.
Sasuke mengulang penjelasannya, ia yakin proyeknya bakal diterima oleh wanita ini, ia sudah merancang lebih awal sejak Ketua Divisinya memberikan proyek padanya. Ia sudah bersungguh dalam hal ini.
Mungkin ini akan menjadi batu loncatan pada karirnya.
KRIIING…
Sialan! Sasuke memandang tajam pada ponselnya yang berdering. Kemudian ia dengan kejam melepaskan baterai ponsel tersebut.
…
"Ada yang membuat anda gembira. Uzumaki-san?' Naruto tersenyum lebar, ponsel yang ada dalam genggaman jarinya ia mainkan.
"Apa kegiatan hari ini, Sai?" Sai tersenyum simpul, kelihatannya memang ada yang membuat atasannya bahagia.
"Hari ini, kita harus menemui Nyonya Stunade." Naruto kembali memainkan ponsel nya, Sai tidak tahu siapa yang dihubungi Naruto.
"Kenapa ia tidak membalasnya?" ia berguman pada dirinya sendiri.
"Siapa?" Naruto masih memandang dengan inters pada ponselnya.
"Ck, keluar dulu." Sai memandang heran pada Naruto, kemudian segera keluar dari ruangan tersebut.
Naruto memandang ponselnya lagi, ia sudah mengirim 2 sms pada si brengsek Sasuke namun tak satu pun ia balas. Tangan ia tumpu di dagu. Kembali melihat ponselnya.
Kemudian ia menyeringai mesum, timbul ide nakal dalam dirinya. Perlahan ia menurunkan celana dan bermain sebentar daerah yang berada di selangkangannya. lalu memposisi kamera ponsel sedemikian rupa, sehingga gambarnya sempurna.
Setelah gambar itu diambil, ia segera mengirim kan kepada Sasuke. Naruto terkekeh membayang reaksi Sasuke. Celananya ia perbaiki.
Tawanya masih terdengar namun akhirnya berhenti. Ia memandang tajam pada ponselnya yang tidak berbunyi.
1 menit ia menunggu
5 menit hilang kesabarannya.
Ia akhirnya mengambil ponsel tersebut secara kasar lalu langsung menghubungi seseorang yang sudah membuatnya kesal.
Panggilannya masuk tapi kemudian putus begitu saja. ia marah kembali menghubungi nomor tersebut. Namun nomor itu sudah tidak aktif.
Lalu dengan kasar ia membanting ponselnya. Menimbulkan suara yang keras. Mengejutkan Sai yang berada di luar. Ia segera masuk. Cemas.
"Ada apa?" namun urung bertanya lagi ketika melihat ponsel Atasannya tidak berbentuk lagi di lantai. Sai menghela napas. Apa lagi yang terjadi pada Pimpinannya?
"Aku pergi sebentar." Sai tidak akan melepaskan Naruto kali ini.
"Tidak, anda harus menemui Nyonya Tsunade." Naruto mencoba meredakan emosi, ia juga seharusnya tidak mengabaikan tugasnya. Akan ia buat perhitungan lain kali buat Sasuke.
"Baiklah." Naruto memakai kembali jas.
Ketika ia akan keluar ruangannya, Sai menahannya.
"Uzumaki-sama. Tolong, jangan merayu pengawai Nyonya Tsunade." Naruto terkekeh, Sai sangat tahu sifatnya.
Ponsel yang sudah berbentuk itu ditinggalkan begitu saja. Beberapa saat kemudian ia kembali berbunyi sebuah sms masuk sebelum ponsel akhirnya mati.
TBC
Cap ini kayaknya panjang sekali. Semakin panjang ni cap semakin banyak typo kayaknya. Koreksi bila ada yang salah. Jangan takut memberi kritik pada saya. Boleh flame juga kalau memang diperlukan. So review please.
Terima kasih kepada. Akasaka Kirachiha. Rannada Youichi. Arum Junnie. Kiseki No Hana. TheBrownEyes' 123. Aicinta dan Nura. Maaf atas kesalahan nama. Diterima nasehat apapun. Yang bisa menyehatkan Author ^^
