These couple of short ficts is dedicated to my-our beloved hero, Tateyama Ayano.
Warning for unstable writing style. And the ending might be feels rushed, because actually the ending is not here. This warning probably will adds more every chaps.
Disclaimer : Kagepro is not mine. I only have this melancholic fict. Wish I have more awesome story to give the readers tho
Cast : Konoha. Ene's not counted since this is not her story.
POV : Orang ketiga serba tahu.
Italic untuk yang bukan bahasa Indonesia. Maaf kalau ada yang luput.
Mohon beritahu jika ada yang janggal, atau typo. Skill menulis saya yang cetek semakin berkarat karena lama tidak digunakan.
Now, Happy reading.
Even the Amnesia Still Left a Place to Remember the Hero's Birthday
"Hh?!"
Pemuda albino itu mengeluarkan suara tercekik, tubuh jangkungnya tersontak bangun dari posisi tidur di sofa. Kulit pucatnya terlihat tampias di bawah sinar bulan sabit yang seadanya. Keringat yang jarang keluar dari pori-porinya mengucur deras, membuat surai putihnya basah.
Kelereng merah mudanya melihat ke sekeliling ruangan dengan waswas, jantungnya memalu rongga dadanya dari dalam. Tangannya yang sedari tadi bergetar hebat mengepal kuat, mungkin jika direntangkan akan terlihat jejak kukunya sendiri di telapak tangannya.
Dia masih berada di markas Mekakushi Dan. Fakta yang akhirnya mampu mebuat sang albino menghela napas lega.
Ini pertama kalinya Konoha, pemuda itu, merasakan emosi tersebut. Takut. Mudah-mudahan ini juga terakhir kalinya dia dilanda perasaan tersebut. Dia tidak suka sensasi dingin yang membuat bulu tengkuknya berdiri.
Sebenarnya, apa yang terjadi?
Bahkan pemuda itu sendiri tidak paham.
Dia hanya ingat, dalam mimpinya dia berada dalam kegelapan. Itu suatu hal yang biasa. Jika tidak sedang bermimpi tentang makanan yang membuat liur menetes, pemuda itu juga terbiasa bermimpi tentang...tidak tentang apa-apa, hanya gelap, hitam.
Namun, ada sesuatu yang berbeda dari mimpinya kali ini.
Mata itu. sepasang mata kuning yang memberikan tatapan menusuk dari dalam kegelapan. Siapa pemilik mata itu? Konoha ingat dia menghabiskan waktu yang—Konoha tidak terlalu paham hitungan—terasa lama hanya untuk beradu tatap dengan mata yang terasa ingin membunuhnya itu.
Tunggu, Konoha belum paham arti dari konsep membunuh.
Pria albino itu hanya paham, bahwa pemilik dua kelereng kuning itu mengancamnya. Sinar matanya terlihat berbahaya.
Mimpinya tidak selesai sampai di situ. Yang berikutnya dia lihat, adalah kilatan merah darah yang kemudian meliliti lehernya dengan lembut. Kain merah panjang yang dia identifikasikan sebagai syal merah itu melingkari lehernya, entah siapa yang memberi. Namun kehangatannya membuatnya merasa lebih aman, meski dirinya masih berada dalam kurungan tatapan kelereng kuning itu.
Hingga tiba-tiba, sepasang mata kuning itu mendekat dengan cepat, bersamaan dengan rasa mencekik di lehernya.
Sakit, sesak, takut. Kelereng merah mudanya sontak terbuka lebar, bangun untuk melihat kegelapan yang mirip dengan mimpinya.
"Mimpi buruk, Nisemono-san?" Suara dan cahaya redup yang muncul tiba-tiba dari layar televisi membuat Konoha terlonjak kecil.
"E-ene..." suara pemuda jangkung itu terdengar parau dan lemah, membuat sang gadis cyber mengerutkan keningnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tidak, tidak apa-apa..." Bukannya tidak mau menjawab, lebih tepatnya Konoha tidak bisa menjelaskan apa yang baru saja dia alami.
"Yah, baiklah kalau kau bilang begitu..." gumam Ene dengan nada hambar. Rambut biru pixelnya bergerak pelan saat dia menoleh untuk melihat jam. Tengah malam sudah lewat, sebentar lagi pagi. "Hey, Konoha. Boleh aku minta tolong?"
"E-eh?" Sudah kaget karena Ene memanggil namanya—sesuatu yang jarang terjadi—pemuda itu semakin kaget saat sang gadis meminta tolong padanya. Terlihat lebih bersemangat dari saat pertama bangun, Konoha mengangguk pelan, "Tolong...apa?"
"Tolong ucapkan selamat ulang tahun pada temanku—"
"Ulang tahun?" pertanyaan Konoha memotong ucapan Ene, sekaligus membuat sang gadis menghela napas pelan.
"Hari ulang tahun, adalah hari dimana seseorang merayakan kelahirannya..." kemudian gadis cyber itu menjelaskan arti ulang tahun secara singkat. Yang penting pemuda polos di hadapannya paham. "Jadi, maukah kau menolongku?" pertanyaan Ene dibalas dengan anggukan semangat.
"Tolong ucapkan 'selamat ulang tahun' pada gadis ini," Ene menghela napas lega, cepat-cepat gadis itu menunjukkan gambar digital yang memperlihatkan seorang gadis bersurai hitam panjang, lengkap dengan syal merah meliliti lehernya.
"Namanya Ayano. Hari ini dia berulang tahun...Konoha?" lensa biru elektrik Ene melebar saat pandangannya kembali pada Konoha.
"Ukh, selamat ulang tahun...Ayano-chan..."
Hari itu, tanggal 22 November. Hari ulang tahun seorang pahlawan bersyal merah yang sudah lama hilang, sekaligus;
Hari pertama Ene melihat seorang Konoha menangis.
Hanyeng, ini gaje banget endignya. Yah...masalahnya yang megang endingnya Ene/?/
Thanks for reading, RnR please?
See you again in ten minutes!
