What The…
Author : bubbletea88
Main cast : ChanBaek and other EXO cast
But warning! there's nc scene, YAOI,lots of typo etc ; jadi yang belum cukup umur close pagenya mending belajar okeii ? Tapi kalo maksa baca, tanggung sendiri akibatnya! :P
Hohoho, annyeong hasseo!^^ *tarik Baekyeol*
FF ini akhirnya gajadi Oneshot nih, gara-gara reviewnya banyak. Tambah semangat juga deh nulis Ffnya— aduh gimana ya, FF hunhan yang the one and only sementara belum update dulu ya, soalnya bakal panjang juga jalan ceritanya MIANHAMNIDA READERS-nim
ENJOY THE FICT- Sorry if there's lots of typo!
.
.
Author's POV
Sunyi dan tenang, itulah keadaan ruang kelas musik. Memang hari sudah sore, tapi ketiga pemuda itu masih betah berada didalam kelas musik tersebut. Dua pemuda menunduk sedang yang satunya menatap keduanya heran.
"Ya, jawab aku!" bentak Minseok. Sebenarnya, baozi satu itu tidak marah, hanya saja sedikit kecewa jika Chanyeol maupun Baekhyun tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi di gudang tua itu tadi siang. "Kenapa kalian bisa ada di sana eoh? Chanyeol-a? Baekhyun-a?" entah sudah berapa kali pertanyaan itu meluncur dari mulut baozi satu ini.
Beruntung Minseok tidak sampai melaporkannya pada guru konseling. Kalau Minseok melapor, bisa saja keduanya langsung di drop out dari universitas.
Baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak ada yang ingin menjawab. Mulut keduanya terkunci rapat. Sedang, Minseok yang duduk dihadapannya dengan sabar menunggu. "Argh, kalian itu, ku maafkan kalian kali ini, awas kalau melakukannya lagi di area sekolah" kata Minseok sambil memukul lengan Chanyeol.
"Satu lagi, jika di hotel lebih baik kalian memesan kamar yang jauh dari kamar lainnya, oke?" gurau Minseok."Galkkae, duluan Yeol" kata Minseok sambil membawa tas ranselnya.
Terkadang, Chanyeol masih tidak mengerti jalan pikiran hyungnya yang satu itu. Chanyeol menoleh saat melihat Baekhyun menggendong tas ransel coklatnya. "Baek—"
"Lepas" katanya dingin.
"Mwoya ? Kenapa kau dingin sekali eo?" tanya Chanyeol sambil masih menggenggam pergelangan tangan Baekhyun. "Apa kau marah karena cum-mu tertunda ?"
BLUSH!
Baekhyun ingin mati sekarang juga jika terus menerus dihadapkan oleh pemuda bertelinga besar nan cerewet didepannya ini. "Ani, aku hanya ingin pulang," walaupun terdengar sedikit melembut, intonasi suara Baekhyun masih terdengar sedikit ketus.
"Baek, Mianhae— sungguh aku tidak mengira jika Minseok-hyung akan masuk ke sana" kata Chanyeol sambil mencium kilat pipi tembem Baekhyun. Mata sipit Baekhyun sontak membulat, kepalanya otomatis menunduk, pipinya terasa panas.
"Uhm— gwa-gwaenchanayo—" kata Baekhyun sambil melepas tangannya dari genggaman tangan besar Chanyeol. "Galkkae"
"Ne, hati-hati Baek" kata Chanyeol sambil melambaikan tangannya imut.
'Such a cute little boy…' gumam Chanyeol tanpa sadar.
.
Sudah beberapa hari lewat setelah kejadian di gudang tua itu. Jelas Chanyeol dan Baekhyun semakin akrab juga ehm— intim. Kadang Baekhyun main bahkan menginap di rumah Chanyeol yang kosong. Jelas Chanyeol tidak akan menyia-nyiakan kesempatan jika Bakehyun sedang menginap dirumahnya #you know what I mean laa
Chanyeol sedang mengunyah rotinya saat Minseok tiba-tiba datang bersama dengan Jongdae, Kyungsoo, juga Jongin. Entah mengapa, Chanyeol merasa ada sesuatu diantara Kyungsoo dan Jongin. Bocah itu –Jongin selalu mengikuti Kyungsoo kemanapun ia pergi, bisa dibilang over protective—
"Hey, mana daftar kamar tidurnya?" tanya Minseok sambil ikut duduk di sebelah Baekhyun dan Chanyeol.
"Di kelas" jawab Chanyeol singkat, itupun tidak terlalu jelas terdengar karena roti yang ada di mulutnya. "Hei bocah! Kalian kalau mau bercumbu, jangan disini— bisa berbahaya untuk baekkie-ku" lanjut Chanyeol saat rotinya sudah tertelan dan melihat Jongin yang mulai menciumi leher Kyungsoo.
"AKH!" Chanyeol memekik karena pahanya dicubit oleh Baekhyun. "Baek, Appoo—"
"Not my fault, Yeol" balas Baekhyun singkat.
"Hey, sudah" Jongdae lebih memilih menengahi urusan Baekyeol daripada harus mendengarkan debat Baekyeol. "Kita akan berangkat jumat , pekan ini"
"Berarti kurang 3 hari! Yay!" pekik Jongin senang.
"Kau itu berisik sekali" hardik Chanyeol.
"Biar berisik tapi aku lebih tampan dari pada hyung, iya kan Kyungie ?" balas Jongin sambil menyeringai.
"Ya, tidak bisakah kalian diam ? CHANYEOL, ambil kertas daftar kamar tidur itu sekarang juga, dan kau Jongin— masuk ke kelasmu sekarang, bukannya ada tambahan untuk kelas junior ?" omel Minseok.
"Ne hyung, chankkaman. Kajja Baek" Chanyeol menggandeng tangan Baekhyun ke manapun.
"Jangan bilang kau sekamar denganku ?" tebak Baekhyun saat Chanyeol sudah mendapatkan kertas berisi nama-nama anggota kelas musik. "Apa kau takut terjadi sesuatu seperti di gudang itu huh?" tanya Chanyeol menyeringai
Baekhyun menepuk jidatnya sesaat. "Astaga, kau itu. BYEONTAE!" Baekhyun gemas dengan sikap Chanyeol dan malah menjewer telinga lebar itu.
"Jangan di jewer, nanti Yeol jadi gajah gimana ?" tanya Chanyeol polos, bermaksud menggoda Baekhyun. Yang ada, malah Baekhyun melesat kembali ke tempat Minseok dkk berkumpul. "Aigoo, such a cute boy"
.
Sore itu, semua anggota kelas musik dikumpulkan di ruang musik. Minseok dengan lantangnya membacakan daftar roommate di hotel nanti. "… kamar 219 aku dan Jongdae, lalu 210 Jongin dan Kyung, kemudian 211 Chanyeol Baekhyun, 212 Sehun dan Luhan"
"Jadi, aku sekamar dengan Kyungie-hyung ? YAY!" pekik Jongin sambil mencium pipi kanan hyungnya itu. "Jo-Jongin!" pekik Kyungsoo sambil memukul punggung Jongin cukup keras.
"TIDAK ADA YANG BOLEH PROTES ARRASEO ?" pekik Minseok. Baozi itu berjalan melewati Chanyeol, "gomawo" bisik Minseok singkat. Chanyeol sedikit terkekeh saat mendengar hyungnya berterimakasih.
Satu hal yang bisa di simpulkan Chanyeol dari kata-kata singkat itu, 'Minseok mencintai Jongdae' hahaha—
Alih-alih berterimakasih, pemuda bertubuh mungil yang sekarang duduk disebelah Chanyeol itu malah menghembuskan napasnya keras berkali-kali. 'Mati kau Byun Baekhyun' batinnya. "Hey, Byunnie bagaimana ? Keren kan pembagian kamarnya ?" tanya Chanyeol sambil tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Ya, Byeontae ahjussi—" kata Baekhyun singkat. Saat itu keadaan kelas sangat ramai, ehm ricuh tepatnya. Jongin bercumbu dengan Kyungsoo di sudut ruangan. Minseok entah ke mana, kelas juga sangat berisik.
CHU!
Ciuman singkat itu berlangsung tidak sampai 3 detik, tapi efeknya luar biasa hebat. Pipi Baekhyun memanas. "Kau cantik, Byunnie" kata Chanyeol. "Apalagi jika merona— sesekali perlakukan aku dengan baik, oke ?" lanjut Chanyeol sambil mencubit pipi tembem itu.
Chanyeol sudah terlalu sering membuat Baekhyun merona dengan dirty talknya atau rayuannya. Dan Chanyeol suka jika Baekhyun merona, membuatnya lebih manis.
.
Park Chanyeol's POV
Sepulangnya dari universitas, Baekhyun menginap di rumahku. Ia diperbolehkan oleh eommanya. Sampai di rumahku, aku langsung mengajaknya naik ke kamarku. Tidak ada ciuman atau selebihnya. Baekhyun dan aku sudah berjanji bahwa tidak akan terjadi apapun di rumah kosong ini. Kosong ? Tentu, semua sibuk dengan urusan masing-masing, aku seperti anak yang tidak terurus.
"Rumahmu sepi yeol" katanya sambil duduk dan menatapku. Aku dan Baekhyun di sini bukan tanpa alasan, Mr. Kang-lah penyebabnya. Ahjussi tua yang bekerja sebagai dosen bahasa inggris itu mengelompokkanku dengan Baekhyun untuk tugas apalah itu.
Aku menyusul Baekhyun duduk di sofa dan mulai membuka buku bahasa inggris. "Okay, we'll see how difficult it is…" gumamku sambil membolak-balik halaman buku itu.
"Not very difficult, but it's a bit confusing" jawab Baekhyun sambil menggaruk tengkuknya. Aku dengan telaten menjelaskan Baekhyun, tentang materi tentu saja. "Ah, arraseo" jawab Baekhyun.
Sudah satu jam berlalu hanya untuk mengajari Baekhyun. Sunyi— hanya suara ketukan pensil Baekhyun dengan meja yang terdengar. "Yeol" panggilnya.
"Hmm ?"
"Kenapa sepi sekali ?"
"Semuanya sibuk dengan urusannya" jawabku. "tidak seperti keluargamu, sederhana tapi hangat dan nyaman"
"Ooh, ani— sebuah keluarga jika jarang berkomunikasi bukan keluarga namanya" sahut Baekhyun. Aku hanya sedikit iri, saat aku berkunjung ke rumahnya, ibunya menyapaku hangat dan menganggap aku sebagai anaknya. Begitu juga dengan ayah Baekhyun. Mengajakku mengobrol dan bercanda. Harmonis. Hahaha.
"Tapi, kau tau— aku pasti akan mengurung diri di kamar jika orangtuaku pulang dari luar negeri" jelasku sambil mengerjakan soal-soal dihadapanku.
"Aish kau itu!" pekik Baekhyun memukul lenganku. "Sapalah mereka, peluk mereka—"
"Aniya, aku tidak akan berbuat seperti itu" sambungku.
Baekhyun otomatis memukul lenganku keras. "Nappeun!" pekiknya. "Sudahlah, ayo kita bahas soalnya" lanjut Baekhyun. Aku hanya mengangguk. Baekhyun menjelaskan, tapi aku malah sesekali mencuri pandang padanya. Astaga.. kenapa wajahnya bisa secantik ini ?
"Yeol?" katanya. Pipinya merona saat aku memandangnya dari dekat. Aku mulai mendekatkan wajahku ke arahnya sampai..
"PARK CHANYEOL, NUNAMU PULANG!"
"SHIT!" gumam Chanyeol. Namun dengan kecepatan kilat, Chanyeol mengecup bibir cherry itu. "Ne, Nuna— kau mengagetkanku!"
"Wah wah, siapa ini ? Annyeong, Park Yura imnida" kata nuna Chanyeol.
"Sudah sana, nuna— jangan mengganggu kami!" kata Chanyeol mengusir nunanya. "Kami sedang mengerjakan tugas!"
"Chanyeol! Ah, Annyeong hasseo Byun Baekhyun imnida, senang berkenalan denganmu nuna" Kata Baekhyun sambil tersenyum manis.
"Tuh, lihat contoh sikap Baekhyun. Kau itu— oh ya, aku menginap di rumah temanku, jadi kalau mau makan beli di luar oke ?" kata Yura sambil membereskan barang-barang yang berserakan di ruang tengah karena Chanyeol.
"Ne, Arraseo" jawab Chanyeol singkat.
.
Byun Baekhyun's POV
Malam itu tidak terjadi apa-apa, hehehe. Chanyeol menepati janjinya. Tapi tetap saja ia mencuri ciumanku. Tapi— yang membuatku heran, nuna Chanyeol sangat cantik dan sopan, kenapa adiknya bisa senakal ini ?
Pertanyaan itu sudah berputar di otakku sejak aku pulang dari rumah Chanyeol. Ya, hari ini libur, tapi besok, kami –kelas musik akan pergi ke Pantai Incheon. Yay! Tak sabar rasanya! Hari ini, aku dan Kyungsoo janjian bertemu di café biasanya. Hanya sekedar melepas rasa bosan. Chanyeol ? aku tidak mengajaknya. Dia terlalu ramai.
Kyungsoo asyik menyeruput vanilla latte-nya sedang aku asyik memainkan ponselku. "Byun, kau tidak mengerjakan pr-mu ?" tanya Kyungsoo.
"Sudah dong" kataku singkat.
"Tumben sekali" gumam Kyungsoo sambil mengetukkan pensil di meja café. Seorang pelayan datang sambil membawa pesanan kami. "Gamsahamnida" kata Kyungsoo sopan.
"Hey, Baek— kata Minseok-hyung, hotel yang di pesan lumayan mewah lho!" lanjut Kyungsoo sambil menyeruput kopi pesanannya.
"Jinjja ?"
"Ne, katanya per kamar lumayan besar, ada kamar mandi di setiap kamarnya dengan bath up, juga ada pemanas air, dan lagi kita di pesankan kamar yang viewnya menghadap laut, kerenkan ?"
"Whoa, aku jadi tak sabar" kataku. Setelah mendengar cerita Kyungsoo ingin rasanya cepat-cepat ke Incheon.
Incheon. Kota yang dulu sering aku kunjungi. Aku masih ingat bagaimana kerasnya tawaku saat ombak datang membasahi tubuh kecilku. Aku masih ingat saat eomma dan appa tertawa bersamaku. Pantai itu mempunyai banyak kenangan untukku. Dan satu kenangan unik.
Flashback
"Baekkie, jangan terlalu dekat laut main di pinggir saja oke ?!" teriak appa dari jarak yang lumayan jauh.
"Oke Appa!" pekikku. Aku masih berusia 5 tahun saat itu. Tertarik dengan banyak hal, itulah aku. Aku terlalu asyik main pasir di dekat pantai, ombaknya deras saat itu. Eomma dan Appa duduk bersama sore itu. saking asyiknya aku bermain, aku baru sadar bahwa ada seorang anak laki-laki bertubuh cukup tinggi datang dan menarik tanganku.
"Minggir!" katanya kasar. Ia menarik lenganku untuk menjauh dari pinggir pantai.
"Ya, siapa kau, seenaknya saja menyuruhku minggir!" pekikku.
"Kau mau mati, huh ?" tanyanya. Tubuhnya lebih tinggi, membuatku berpikir bahwa ia adalah kakak kelas.
Aku baru sadar bahwa deburan ombak yang keras datang sesaat setelah aku pergi. "Eng, gomawoyo" kataku kikuk. "Mian aku sudah membentakmu tadi" kataku.
"BAEKHYUNIE—" teriak eomma memanggilku.
Aku menoleh sebentar lalu kembali menatap pemuda yang lebih tinggi dariku itu. "Hyung sekali lagi terimakasih— CHU" kataku.
Flashback end
Huwaaa, bahkan aku masih ingat saat aku mencium pipinya sekilas. Tanpa sadar aku meremas kuat ujung bajuku. "BYUN BAEKHYUN!" pekik Kyungsoo menyadarkanku.
"Wae ? Kau kesakitan ?" tanya Kyungsoo panik.
Tubuhku berkeringat, tanganku meremas kuat ujung bajuku. Aku hanya menggeleng. Wah, memikirkannya saja seperti ini. Aku tak ingat jelas siapa pemuda itu, bagaimana wajah dan penampilannya. Yang kuingat, ia memakai gelang putih di tangan kanannya, tangan yang pernah menarikku kasar demi menyelamatkanku.
Haa— aku tidak berniat mencari pemuda itu sih. Tapi— rasa penasaranku seakan bergejolak!
.
.
Park Chanyeol's POV
"KALIAN SIAP?!" pekik Minseok. Walau bertubuh kecil, hyung satu ini teriakannya keras juga. Kami sudah berada di dalam bus. Minseok tadi berkata bahwa pasangan sekamarmu adalah pasangan yang akan duduk di sebelahmu saat di bus.
Senangnya… kalian pikir aku akan bercanda ria dengan Baekhyun kan ? Tidak, aku ingatkan sekali lagi expectation dengan reality itu jelas berbeda. Baekhyun malah tidur sekarang. Aku duduk di dekat jendela.
Entah kenapa, rasanya Baekhyun mencuekkanku daritadi pagi. Aku memanggilnya dia tidak menoleh, giliran Kyungsoo memanggil, dia menoleh dengan cepat.
Aku lebih memilih main ponsel, tapi aku tersentak kaget saat tiba-tiba bus mengerem mendadak. Entah refleks, tanganku melindungi kepala Baekhyun agar tidak terantuk kursi bus di depannya.
"Eungh—" katanya serak. Ia hanya mengerjap sebentar lalu kembali terlelap. Ia bersandar di bahuku. Catat itu, entah sadar atau tidak. Yang jelas lenganku di peluk sekarang.
"Aigoo, manisnya" kata Jongin saat lewat membagikan botol air mineral. "YA! MINSEOK-HYUNG! JONGDAE-HYUNG! KYUNGIE-HYUNG! LIHAT INI!" pekik Jongin. Aish, anak ini.
"Mwoya ?" balas Minseok juga Kyungsoo dan Jongdae.
"WHOA! JINJJA DAEBAK!" pekik Jongdae.
Aish, mereka terlalu ramai. Baekhyun sedikit terusik dan menggeliat pelan sambil mengeratkan pelukannya pada lenganku, namun tidak terbangun sama sekali. Aku hanya meletakkan telunjukku di bibirku. Menyuruh mereka diam.
.
.
Sore itu, bus tiba di tempat penginapan. Deru ombak laut menggema di telingaku, aroma khas laut menyeruak masuk ke dalam hidungku. Derasnya ombak laut mengingatkanku pada seorang bocah kecil yang hampir saja terkena ombak besar pantai Incheon, haha dia Byun Baekhyun. Wajahnya sangat mirip— aku sangat yakin dia orangnya.
"Hoam!" kata Baekhyun sambil menghadap laut dan mendongakkan kepalanya. Ia memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang menerpa tubuh kecilnya. Ia sama sekali menghindari kontak mata denganku. Entah kenapa—
"YA, CHANYEOL-A! Bantu kami menurunkan barang!" pekik Jongdae sambil mengangkat barang-barang.
"Ne, hyung!" pekikku. Aku melihat Baekhyun yang nampak tidak peduli sama sekali sekilas, lalu berlari ke arah Jongdae.
'Ada apa denganmu Baek?' batinku.
.
.
Byun Baekhyun's POV
"Ne, hyung!" pekik Chanyeol. Ha— segar rasanya bisa merasakan sejuknya angin pantai Incheon. Aku tau jika dari tadi Chanyeol terus menatapku. Aku hanya, hanya.. hanya malu. Tadi, sebelum turun dari bus, Jongin menunjukkanku foto. Di foto itu, aku memeluk erat lengan Chanyeol. Jelas aku sedang tertidur.
Astaga.. wajahku memanas memikirkannya. Aku menoleh melihat namja tinggi yang berhasil membuatku berdebar. Namja tinggi itu sedang tertawa senang bersama Jongin, dan Kyungsoo. Entahlah, ada perasaan mengganjal di hatiku, entah mengapa…
"Hei, di sini dingin, masuk saja" kata Luhan sambil menepuk punggungku.
"Oh, Hyung— Ne, nanti aku akan masuk" balasku sambil tersenyum paksa. "Mana Sehun ? Tadi kulihat ia bersamamu, hyung ?"
"Oh, Sehunnie ? Dia sudah ke kamar duluan di papah oleh Minseok, karena kujitak tadi"
"Eh ?"
"Ne, pikirannya terlalu mesum untuk anak berusia 20 tahun!"
Aku hanya terkekeh. Tidak ada bedanya dengan Chanyeol. Tapi, tadi Luhan memanggil Sehun dengan Sehunnie ? Hahaha, kurasa mereka mulai dekat. Entah, kita lihat saja nanti.
.
.
Hari mulai sore, sebagian besar anggota kelas musik ke pasar terdekat untuk membeli bahan-bahan memasak malam nanti. Di hotel hanya ada aku, Kyungsoo, Luhan, dan Chanyeol. Di kamar kami, Chanyeol sedang tidur, hehe wajahnya lucu sekali jika tidur. Perlahan aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya.
CHU—
"engh— kau curang Byunniee" kata Chanyeol bangun. Baru saja aku akan menjauhkan wajahku tapi pemuda itu malah menarik tengkukku dan melumat bibirku kuat. "Yeolhh— Jangan sekaranghh" desahku pada Chanyeol -yang menggigiti leherku- saat mendengar ketukan pintu.
"Kau janji kapan ?" tanya Chanyeol menatapku lurus.
"Ehm, nanti.. malam" ucapku dengan suara yang kecil. Sementara ketukan pintu di luar semakin keras.
"Baekhyun-aa!"
"pengganggu" gumam Chanyeol sambil menarik kembali selimutnya. Aku terkekeh.
Kyungsoo. "WAE ?" bentakku dari dalam kamar.
"Keluar kajja, ayo masak!" pekiknya.
Aku baru mau turun dari ranjang saat Chanyeol menahan tanganku. "Jangan terlalu dekat dengan Jongin, Kyungsoo, Jongin atau yang lain, itu membuatku cemburu Baek" kata Chanyeol lalu mengecup sekilas bibirku.
.
.
Author's POV
"If you need me, call me. I'll come for you… and I promise it
And if I can't, please don't go,
Cause you mean the world for me.."-unknown
Malam hari tiba, hampir semua anggota berkumpul di luar bernyanyi dan bermain musik bersama. Chanyeol duduk di sebelah Baekhyun sambil memegang gitarnya. "Hey, do you want to hear me ?" tanya Chanyeol iseng.
Saat itu anggota musik sedang fokus pada acara masak Kyungsoo dan memakan makanannya. Baekhyun hanya tersenyum. "Show it for me ?"
"of course" kata Chanyeol singkat sambil memetik gitarnya.
"Neoui ireumeul bureudo neoui soneul jabado doeneun na buseo jineun haet sareun naman bichuna na ierohge haengbok haedo dwae ?
Neoui ireumeul boreudo neoui eokkaee gidae oneun neo, jeo haneurui haet sareun neoman bichuna neo geureohke nunbushyeodo dwae ?
So lucky my love, so lucky to have you, so lucky to be your love~"
"EHEM!"Jongin berdehem. Tanpa sadar, Chanyeol sudah mengumpulkan rombongan kecil yang menatapnya dengan tatapan wah-kau-sangat-manis-yeol dan untuk-siapa-lagu-itu?
Chanyeol hanya menghela nafasnya. "Wae ? Eits— jangan mengganggu baekkieku!" Jongin baru saja mau menyentuh pipi Baekhyun.
"Aigoo, protektifnyaa" kata Jongin. "Makan dulu sana, sini biar kupinjam gitarnya" kata Jongdae sambil mengambil alih gitar itu dari Chanyeol.
Setelah makan, Chanyeol iseng menggandeng Baekhyun kedalam hotel.
"Wae ?" Tanya Baekhyun bingung.
"Di luar dingin" kata Chanyeol singkat. "Sekalian janjimu," lanjut Chanyeol sambil menunjukkan serigaiannya.
Oh, you'll dead Byun Baekhyun!, batik Baekhyun.
.
.
TEBECE
Aduhhh, kecepetan alurnya huwee T – T
Responnya readers kerenn, MUAHH SARANGHAE READER-nim! THANKS FOR REVIEWS!
Pinginnya mbuat twoshot, tapi di paksa pun gabisa…
Maaf bubbletea baru update, oiya yang FF HUNHAN lagi proses nihhh '-')/
Review juseyo, GAMSAHAMNIDAAA! ^0^
Thanks to :
Aquariusbaby06, lolamoet, dyahclloelfblue, manlylittledeer, YOONA, miira, .39, Lee Yoon Hee, n13zelf, DahsyatNyaff, exindira, Maple fujoshi2309, devrina, Novey, septhaca, and BubbleePororo
#BubbleePororo : hehe mian, typo -_-" tapi makasih udah ngingetinn! MAKASIH BANGET udah review paling pertama hahaha ^^
