"Saya angkat tangan."

Kalimat yang menyakitkan? Tentu saja, jika kalimat itu diucapkan oleh seorang dokter kepada keluarga paisen yang ia tangani. Apalagi kalau keluarga si pasien itu yang menyebabkan hal ini terjadi.

Tapi, untung saja, kalimat itu tidak diucapkan oleh dokter yang sedang menangani kekritisan si Baby; Hinata, melainkan oleh seorang maling sandal yang baru aja ketangkep basah ama Naruto.

Iya, maling sandal! Bener-bener keterlaluan! Ini, nih. Salah satu hal yang bikin Naruto males berangkat Jumatan. Tiap doi berangkat pake sandal baru, pulangnya pasti nyeker, kalau nggak, dia dapet sandal jepit yang jepitannya udah kagag njepit. Apaan, tuh?

Lagian, maling kok, maling sandal? Apa sih, untungnya? Udah susah nyolongnya, dapetnya cuma sandal. Kalau ketahuan, parahnya, digebugin orang sekampung lagi. Terus, kalau beritanya masuk tipi, kan ditanyain, "Elu nyolong apaan sih?"

"Sandal, Pak."

Teng! Payah! Kagak level! Apa kagak malu-maluin, tuh? Mending jadi koruptor aja sekalian, nyolongnya gampang, dapetnya banyak, kalau ketahuan kagak digebugin lagi. Terus, kalau beritanya masuk tipi, tinggal bilang, "Halo." sambil dadah-dadah ke kamera pas lagi nonton pertangdingan tenis. Haha. Asik, kan?

Untungnya sih, Naruto—yang biasanya paling seneng ikutan gebugin maling sandal— itu, lagi tobat. Jadi, doi cuma bilang, "Lain kali jangan ketahuan ya, Bang!" dan ngebiarin itu maling kabur bawa sandalnya. (Do not try this at home!)

"Amal." Kata Naruto dalam hati.

Iya, nih. Naruto—yang biasanya, kalau ditanya udah sholat apa belum, jawabannya, "Kan udah, tahun kemarin,"—itu, bener-bener lagi thobat. Alay katanya, jaman sekarang kok, Islam masih KTP? Hem, payah! Kiamat kan, sudah dekat. Ayolah, jangan jadi orang alay. Sampean muslim, kan?

Habis shalat Jumat, dia langsung doa sama Tuhan, "Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi. Amin." Sungguh, dia ingin Hinata kembali, sama seperti keadaan Naruto sekarang, yang Alhamdulillah sudah sehat sepenuhnya. Sudah seminggu lebih Hinata kritis, tapi keadaanya masih sama, belum ada kemajuan.


Pungut Aku, Papah!

Oleh:

Neng Hinata

Naruto Milik Mashashi Kishimoto


"Sekarang gimana?"

"Gue harus cari kerja." Naruto menjawab dengan mantap pertanyaan dari Sasuke tadi.

Naruto sudah dipecat dari kemarin-kemarin. Uangya juga sudah habis. Sementara biaya rumah sakit, makin membengkak. Sebelumnya, semua biaya rumah sakit ditanggung Sasuke, tapi, uang Sasuke juga udah makin tipis, karena doi juga udah dipecat. Maka, mulailah dua orang itu mencari kerja.

Hari pertama, Naruto dan Sasuke mencoba peruntungannya, dengan melamar di suatu perusahaan yang katanya, paling mentereng se-Konoha. Syaratnya, na'udzubllah, berentet kayak gerbong kereta. Syarat yang biasa sih, Naruto punya; Surat lamaran, ijasah terakhir, SKCK, Kartu Kuning, Kartu Keluarga, pas foto. Lah ini, ijasah SMP, SD, sama TK sampai raport-raportnya juga kudu dibawa! Apa kagak salah tuh?

"Kagak." Jawab Sasuke sambil nunjukin pamphlet syarat lamaran perusahaan itu.

"Gue juga tahu, bego!" dasar Sasuke teme!

Masalahnya tuh, syaratnya kagak wajar banget, sumpah! Mana Naruto kagak punya ijasah TK lagi. Orang dulu hari pertama masuk TK aja, dia udah di DO, gara-gara pipis di lokernya Sasuke. Raport-raport SD sama SMP juga udah pada buat bungkus gorengan. Hem, sial! Jelas kagak diterimanya, nih. Tapi, namanya juga Naruto, kagak pernah yng namanya mundur! Makanya, doi nyoba masukin lamaran. Tapi, sayang, baru sampai gerbang udah ditendang ama saptamnya. Kasihan…

Hari kedua, mereka nyari-nyari lowongan di Bursa Kerja yang ada di beberapa tempat yang mereka kunjungi. Salah satunya, di kantor pos.

Waktu mereka lagi asik nyatet persyaratan melamar, mereka mendengar suara berdecit panjang. Setelah melihatnya sendiri, ternyata itu suara rem dari mobil yang hampir nabrak nenek-nenek yang nyebrang sambarangan, nyebrangnya kagak di zebra cross soalnya. Si supir mencak-mencak gara-gara itu.

"Nenek bego! Kalo mau ke surga, kagak usah ajak-ajak gue!" teriak supir itu ke si Nenek.

Terus, nenek itu balas teriak, "Elu yang bego! Nabrak nenek-nenek aja kagak kena!"

Sumpah! Orang-orang pada cengok berjamaah. Apalagi Naruto, dia cengoknya sampai ngiler. Untung ada Sasuke yang selalu siap sedia nampong muka Naruto dalam rangka melestarikan budaya tolong menolong.

Setelah Naruto sadar, mereka langsung mendekat ke nenek dan menuntunnya ke pinggir jalan. Nenek itu terharu bukan main, anak jaman sekarang ternyata masih ada yang punya hati. "Terimakasih ya, Nak," kata si nenek. Sebelum pergi, beliau memberikan selembar kertas sebagai hadiah. Kertas yang katanya adalah warisan dari almarhum suaminya.

"Pas banget, nih!" kata Naruto, girangnya bukan main, pas doi baca judul di kertas tadi. Dan mereka pun mulai membaca.


Tips Sukses Interview Melamar Kerja

Satu. Datanglah beberapa menit lebih awal dari jadwal. Ingat! Beberapa menit, bukan hari!

Dua. Berdoa. Jangan doa sebelum tidur tapi.

Tiga. Duduklah dikursi pelamar, jangan minta dipangku bapak Personalia hanya untuk nunjukkin kamu orang yang mudah bergaul.

Empat. Saat bingung menjawab pertanyaan jangan teriak: "Mohon dibantu ya... Prok-prok-prok..."

Lima. Kalau sudah tidak kuat dengan pertanyaan interview, jangan mencoba mencari kamera dan melambaikan tangan.

Enam. Jangan menekan bibir sang interviewer dan berbisik, "Aku tahu apa yang kau inginkan…"

Tujuh. Saat ditanya pengalaman, jangan dijawab dengan, "Maaf pak, saya kagak bisa inget-inget masa lalu saya, perih rasanya..." sambil memalingkan muka.

Delapan. Pipis di loker teman bukan pengalaman pendidikan yang patut diceritakan.

Sembilan. Membantu ibu pergi ke pasar juga bukan pengalaman marketing yang patut untuk diceritakan.

Sepuluh. Saat interview berakhir, jangan sekali-kali mengatakan, "Elu, gue, end!"

Selamat mencoba!


Oke! Mereka cengok lagi.

Hari ketiga, mereka mencoba lagi. Mungkin mereka sudah terpengaruh sama percobaannya Thorndike yang menghasilkan teori "Trial and Error". Makannya, mereka kagak nyerah segampang itu. Coba-coba terus, sampai berhasil.

Kali ini mereka melamar di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perpancian. Betul sekali, panci! P-A-N-C-I. Panci. Lupakan.

Syaratnya biasa saja, dan Alhamdulillah, yah, semua terpenuhi. Sesuatu banget. Tapi, sayang, perusahaan itu tidak menerima rambut yang disemir. Itu loh, rambutnya Naruto yang katanya kayak berandalan kelas teri; kuning ngejreng. Naruto sih, udah ngejelasin kalau rambutnya itu asli, emang udah kayak gitu dari sononya. Tapi si Bapak Bagian Personalianya tetep aja kagak percaya. Jadilah, lamarannya ditolak lagi.

Terus, si bapak itu ngelirik Sasuke. Dia bilang kalau rambut Sasuke lumayan bagus, dari depan keliatan rapih gitu. Tapi, pas Sasuke disuruh balik badan, rambutnya kliatan kayak pantat bebek katanya. Otomatis, itu bapak-bapak jadi almarhum ditendang Sasuke. Dan otomatis juga, lamaran Sasuke jadi ikutan almarhum.

Susahnya, melamar kerja. Jaman sekarang, apa sih, yang nggak susah? Cari kutu di rambut aja susah, apalagi cari kerja? Jadi, apa nih, solusinya? Jadi galau deh. Tapi, Naruto selalu punya solusi buat ngatasin kegalauannya. Doi ngaca di sepion motornya Sasuke sambil ngomong, "Ternyata, gue cakep juga." Hal itu bikin dia semangat lagi. Cara itu memang efektif sih, try this at home aja, kalau lagi bete. Tapi, jangan keseringen ya, soalnya, bohong itu dosa.

Di hari berikutnya, uang Sasuke bener-bener sudah habis. Duit Itachi juga tidak cukup. Hinata terancam di drop out dari rumah sakit kalau besoknya, Naruto belum juga registrasi.

Bingung? Tentu saja. Apa yang harus Naruto lakukan? Apa dia harus jadi Bounty Hunter? Debt Collector? Bodyguards? Private Investigator? Atau Dangerous Waste Removers sekalian? Apapun boleh lah, asal dia bisa dapat uang sekarang juga.

Sementara, Hinata dijaga Itachi, Naruto dan Sasuke keluar untuk menenangkan pikiran sejenak. Menikmati suasana malam yang makin lama makin ramai saja. Siapa tahu, mereka dapat solusinya.

Satu ide terlintas di kepala kuning Naruto. Dia langsung menceritakannya pada Sasuke. Awalnya, Sasuke sama sekali tidak setuju.

"Itu berbahaya!"

"Aku tahu." Iya, Naruto tahu ini berbahaya. Tapi, ini satu-satunya jalan yang bisa Naruto pikirkan. Dia terus membujuk Sasuke agar mengizinkannya melakukan itu, dan akhirnya Sasuke luluh juga.

"Kau yakin?" Tanya Sasuke entah yang keberapa kalinya. Dan Naruto mnjawab dengan anggukan keras.

Mereka pun memulai pekerjaan ini. Free Boxing. Dimana seorang costumer dapat menyewa seseorang untuk berlatih Boxing. Bayarannya per jam. Dan Naruto yakin, beberapa jam yang tersisa ini dapat ia gunakan dengan baik, hingga besok, ia dapat membayar biaya rumah sakit, untuk Hinata.

Beberapa jam terlawat, sudah tiga orang amatir yang menyewa Naruto. Awalnya hanya pukulan-pukulan ringan dari orang-orang amatir yang masih dapat ditahan. Kadang, Naruto juga dapat menhindar. Tapi, tetap saja, lama-lama jadi menyakitkan.

Lain, orang keempat ini, pukulannya terasa sekali. Terlihat seperti peboxing kelas atas; badannya besar dan berotot. Naruto kalah jauh. Baru satu kali pukul saja, Naruto sudah oleng begini. Padahal orang itu membayar untuk dua jam. Entah, orang itu sedang kesurupan atau apa, dia tidak berhenti memukul Naruto, walaupun Naruto sudah terlihat lemah. Badan Naruto terasa sakit semua. Terutama tulang pipi, perut dan dada. "Tidak masalah. Ini untuk Hinata, anakku." Katanya dalam hati.

"Satu setengah jam lagi. Bertahan lah, Naruto!" ucap Naruto lirih, mencoba menguatkan diri.

"Hei! Bangun! Aku sudah membayar!" teriak orang itu, sarat dengan nada penuh kebencian.

Naruto berusaha bangun, ia kerahkan seluruh tenaganya untuk itu, dan ia sudah siap menerima pukulan lagi. Tapi, tiba-tiba Sasuke datang dan pukulan itu mengenainya.

"Biar aku saja." kata Sasuke lirih, sayup-sayup terdengar di tengah kesadaran Naruto yang makin menipis.

Entah sejak kapan ia terbaring di aspal. Tubuhnya terasa berat, susah untuk bergerak. Ditengah itu, ia berusaha terus membuka matanya. Melihat dengan jelas setiap pukulan yang diterima Sasuke. Melihat bagaimana Sasuke masih saja berusaha bertahan walau keadaanya tidak jauh dari keadaan Naruto.

Seharusnya Naruto yang ada di sana, bukan Sasuke.

Ingin sekali ia menghentikan semua ini. Berlari dan menarik Sasuke pergi dari sana. Tapi ia tidak bisa. Badannya berhianat; tidak mau bekerja sama. "Tolong kami, Tuhan."

Bersambung!

Terimakasih sudah membaca! ^^

Balasan Review:

ehm: hahaha.. e? namamu Ehm? Salam kenal, Ehm-chan!

Floulite: /ikut ngakak. Salam kenal!

Arie: hehe.. emang.. tapi anehan yang baca kan? Hahaha.. salam kenal arie-chan!

Ceria: Maksudnya? O.o oke! salam kenal, Ceria-chan!