Disclaimer: Vocaloid tentu bukan punya boku.
Warning: alur cepat, humornye garing nyes nyes, dll.
Rin keluar dari toilet dengan wajah yang sedikit memerah. Kedua tangannya mengepal, dengan salah satu tangannya menyembunyikan sesuatu berwarna putih yang terlihat seperti kertas. Ia menggerutu pelan sambil berjalan kembali ke kelas nya.
Orang-orang yang berada di sekitar nya melongo kebingungan akan tingkah laku Rin yang tidak biasa. Mereka menatap Rin dengan pandangan yang aneh. Bagaimana tidak, mustahil bagi seorang Kagami Rin untuk ber-blushing-ria.
Di tengah kebingungan yang melanda, dua orang muda-mudi yang sedang asyik memakan es krim, hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah laku Rin. Sejurus kemudian, keduanya menggerakkan jari mereka, membentuk angka 1, 2, 3, dan berteriak.
"CIEEEE! RIN MENERIMA SURAT CINTAAAAAAA!" teriak dua muda-mudi itu secara bersamaan.
Rin mendelik kesal. Oh, ternyata Miku dan Kaito, sahabat masa kecilnya yang kini sudah menjadi pasangan. Semua orang yang tadi nya melongo kebingungan kepada Rin, kini melongo kebingungan kepada Miku dan Kaito. Perlahan, senyum jahil pun terukir di wajah mereka. Sesaat kemudian, mereka pun kembali memandang Rin dan ikut berteriak.
"CIEEEE, KAGAMI-SAN! SELAMAAAAT!" teriak semua orang yang berada di lapangan (min. Rin). Salah satu dari mereka sangat bersemangat, sampai-sampai menunjukkan sebuah poster yang berisi kata 'Kagami-san, cepat terima surat cinta itu! Aku mendukungmu!' dengan sebuah gambar berbentuk hati dan wajah Rin yang entah darimana ia dapatkan di depan gadis itu.
DRRTT…
Aura kemarahan pun menguar dari belakang tubuh Rin tanpa disadari oleh orang itu. Sebagian orang-orang yang melihat aura nya pun terdiam. Rambut pendek Rin mulai berkibar-kibar. Persis sekali seperti orang yang akan mengamuk. Dengan wajah yang sedikit kemerahan, ia menonjok wajah orang itu dan merobek poster yang dibawanya. Semua orang terkejut akan aksi Rin yang sangat mendadak. Perlahan, mereka melarikan diri dan menyaksikan pertarungan Rin dari kejauhan.
BUKK!
Seketika orang yang dihajar Rin itu mendarat dengan pelan dan 'elit' di atas tanah. Biar kesannya dramatis, begitu lah katanya dari dalam hati. Wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan yang dibuat-buat dan membuatnya terlihat konyol. Orang-orang yang melihatnya kemudian tergelak.
Dengan pelan, Rin berjalan mendekati orang itu. Kini, aura hitam itu sudah menghilang dari belakang tubuhnya. Rambutnya tidak berkibar dan wajahnya sudah tidak memerah lagi. Untung lah kala itu para guru sedang tidak ada, jadi ia bebas bersikap apa saja di balik sikap sopan yang ia tunjukkan kepada para guru. Sekarang, ia hanya memasang wajah masam.
Orang-orang yang tadinya tergelak, kembali melongo. Mereka ingin melihat aksi Rin kembali. Sungguh aneh tapi nyata, begitu pikiran sebagian orang-orang.
"Utatane… Piko…" lirih Rin. Ia kembali mengepalkan tangannya, mengumpulkan segala tenaga, dan bersiap-siap mengayunkan salah satu tangannya ke arah orang yang ia panggil Utatane Piko─atau singkatnya Piko.
Piko yang sedang terguling tak berdaya hanya bisa ketakutan. Ia menggeliat mundur, dan sukses menabrak tiang bendera yang ada dibelakangnya. Alhasil, ia hanya bisa pasrah dan memeluk tiang bendera itu sambil menggetarkan badannya ketakutan.
Rin menyeringai puas ketika telah berada dihadapan Piko. Puas karena telah sukses membuat Piko ketakutan. Dan sekarang ia akan membuat pemuda itu jera.
"Katakan, apa mau mu?" tanya Rin sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada nya.
Piko hanya gemetaran. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ayo, katakan saja! Tidak apa-apa!" paksa Rin.
"A-aku… m-mau…" Piko pun membuka mulutnya.
"Mau?" ulang Rin sambil mengernyitkan dahinya.
"M-mau…"
"Mau?"
"M-mau.."
"Mau apa?! Cepat katakan!" bentak Rin yang mulai gregetan akan tingkah laku Piko.
"M-mau… b-bebas…" Akhirnya, Piko memberitahukan keinginannya.
Rin terdiam. Semua orang pun menunggu jawaban Rin dengan raut serius. Kemudian, seringaian yang Rin lukiskan kini diganti dengan senyum jahil. Entah kenapa, firasat Piko mulai tidak enak setelah melihat perubahan senyum Rin.
Tanpa diduga, Rin mengabulkan permintaan Piko, "Baiklah.." kata Rin. Semua orang pun terkejut akan perkataan Rin. Tidak biasanya Rin mengabulkan permintaan orang-orang. Piko menghela nafas lega, meskipun di dalam hatinya tetap ada firasat buruk.
"Tunggu. Aku belum menyelesaikan perkataanku!" kata Rin.
DEG! Perasaan Piko pun semakin tidak enak. Orang-orang hanya mengernyitkan dahi. Di dalam hati mereka, juga terdapat perasaan yang sama dengan Piko.
"Ada syarat yang harus kau penuhi agar kau dapat bebas!" sahut Rin, Tanpa aba-aba, Rin pun kembali berkata, "Kau… harus berdandan secantik mungkin hingga menyerupai gadis-gadis selama satu bulan, shota!" serunya dengan memberi penekanan pada kata 'harus' dan 'shota'.
Hening. Orang-orang yang tadinya serius mendengarkan perkataan Rin, kembali mencerna apa yang Rin katakan. Sejurus kemudian, semua orang pun tergelak, kecuali Piko.
Piko speechless. Firasat buruknya telah terwujud. Matanya mulai berkaca-kaca. Rona merah perlahan terukir dipipinya hingga membuat wajahnya memerah sempurna. Sambil mempererat pelukannya pada tiang bendera, Piko menjerit.
"OKAA-SAN! TOLONGIN PIKOOOO!"
xxx
"Huuh, Miku dan Kaito baka! Ini salah mereka 'sih, kenapa tadi berteriak-teriak tidak jelas!" gerutunya sambil masuk ke dalam kelas, "Lagian, kenapa mereka bisa tahu kalau aku barusan menerima surat cinta?!" lanjutnya.
"Oh, jadi tebakan kami benar, ya?!" sahut dua orang yang berada di belakang Rin. Rin yang kaget lalu menoleh ke belakang.
"Mi-miku?! Ka-kaito?!" tanya Rin kaget. Mukanya pun kembali memerah.
"Hehe, tebakan kita memang benar!" sahut Miku sambil melompat-lompat senang. Kaito hanya mengangguk sambil tersenyum bodoh.
Rin sweatdrop. Miku yang melihat tingkah Rin pun teringat sesuatu.
"Matte, matte! Surat cinta itu dari siapa, Rin?!" tanya Miku. Wajahnya menunjukkan rasa antusiasme yang begitu tinggi.
DEG!
Haruskah aku menjawabnya?! batin Rin di dalam hatinya.
Pemuda yang berada di samping Miku mulai membuka mulutnya, "Ayo! Tidak apa-apa, beri tahu kami! Kami akan menjaga kerahasiaannya!" sahutnya.
A, aduh… Apa yang harus aku lakukan?! Kami-sama, tolong aku! teriak Rin didalam hati. Ia tidak kuat untuk menjawab pertanyaan tentang cinta atau sebagainya, walaupun ia sedang bersama sahabatnya.
Dengan ragu-ragu, Rin berkata,"Ng… d-dari…"
"Ya?! Ya?! Dari siapa?!" Semangat yang ada di dalam hati Miku dan Kaito semakin berkobar.
"D-d-d-da-dari─"
TENG! TENG!
Bel tanda pelajaran akan segera di mulai pun telah dibunyikan. Rin yang mendengarkannya hanya bisa menghela nafas pelan. Arigatou, Kami-sama! batinnya.
"Err, sebaiknya kita membicarakannya kali lain saja ya!" teriak Rin sambil masuk ke dalam kelasnya. Keringatnya bercucuran dengan deras. Sementara itu, mukanya semakin memerah. Ia memegang dada kirinya, mencoba untuk merasakan detak jantung nya yang tidak stabil.
Miku dan Kaito yang melihat tingkah laku Rin yang aneh itu hanya bisa melongo dan sweatdrop.
"Dasar, Rin! Sifat tsundere nya tidak pernah hilang!" gerutu Miku dan di balas oleh anggukan dari Kaito.
xxx
Kelas Rin memang terkenal akan suasananya yang cukup ramai. Terkadang, beberapa di antara murid-murid suka berdiri di atas meja sambil menyanyikan lagu rock saat guru sedang pergi ke luar kelas. Saking ramainya Meiko-sensei selaku wali kelas, terkadang suka memindahkan murid-murid ke tempat yang ia anggap dapat mendiamkan mulut murid-murid. Tetapi, usaha nya selalu gagal.
Meiko-sensei langsung masuk ke dalam kelas Rin 10 menit setelah bel pelajaran dibunyikan. Tapi tidak seperti biasanya, murid-murid tetap mengoceh panjang lebar, bahkan masih berdiri di atas meja. Mereka tidak memperdulikan Meiko-sensei yang telah datang. Biasanya, mereka akan berbisik-bisik dan menghentikan aksi 'berdiri di atas meja'.
Sang guru hanya terdiam melihat tingkah laku peserta didiknya yang seperti kekurangan kebebasan. Ia menghela nafas pasrah dan duduk di kursi nya. Ia berharap, semoga murid-murid nya akan langsung menyadari kehadirannya.
Satu menit…
Kelas masih riuh.
Dua menit…
Kelas tetap riuh. Meiko-sensei mulai berpikir positif
Tiga menit…
Terdengar teriakan seseorang yang sepertinya meniru lagu rock. Meiko-sensei masih berpikir positif.
Empat menit…
Teriakan itu semakin lama semakin kencang dan beberapa murid meneriakkan kata 'metal'. Pikiran positif Meiko-sensei mulai pecah.
Lima menit…
Kesabaran Meiko pun mulai habis. Dengan segera, ia mengambil tongkat kayu yang berada didekatnya dan mengayunkannya ke arah murid yang berteriak-teriak dan berdiri di atas meja.
PLAK! PLAK!
Murid-murid itu lari ketakutan ke meja masing-masing. Siapa yang tidak takut melihat amukan Meiko-sensei, apalagi saat mabuk?
Setelah puas menganiaya mereka, Meiko-sensei mengayunkan tongkat kayunya ke arah meja.
TAK! TAK!
Semua murid pun terdiam. Di dalam hati mereka tersimpan ketakutan yang besar. Meiko-sensei menatap mereka dengan garang.
"MULAI HARI INI, SEMUANYA AKAN BERPINDAH TEMPAT DUDUK!" teriak Meiko-sensei. Beberapa di antara murid-murid hanya bisa pasrah sambil menggumamkan kata 'yaaa…'
"DAN KALIAN AKAN DUDUK DENGAN LAWAN JENIS!" lanjutnya. Semua murid pun menggumamkan kembali kata 'yaaa…'
Meiko-sensei menatap Rin dan Len. Di dalam hati Rin, mulai tersimpan firasat buruk. Sementara Len, ia berdoa di dalam hati agar Rin menjadi teman sebangkunya.
"KAGAMINE-SAN, KAGAMI-SAN! MULAI HARI INI, KALIAN AKAN MENJADI TEMAN SEBANGKU! KAGAMINE-SAN, SILAHKAN DUDUK DI BANGKU KOSONG DI SEBELAH KAGAMI-SAN!"
Dan seketika, wajah Rin pun memanas kembali.
TBC
YOHO, MINNA-SAN! AKA-CHAN KEMBALIIIIIIIIIIIIIIII*dibekap*.
Akhirnya, Aka-chan punya ide untuk ngelanjutin fic ini. Di chapter ini, Len nya muncul sekilas. Gak apa kan? :3
Ng, apakah masih kecepatan alurnya? Ada typo kah? Kalau alurnya masih cepet plus ada typo, hontou ni gomennasai! *bungkuk-bungkuk*
Akhir kata, REVIEW YA! Kalo gak review, gak lanjut! XD *maksalu
