Hai, minna-san...
Cerita ini berlanjut, semoga dapat mengurangi kejenuhan kalian semua readers
Warning : Akan banyak typo, AU,OOC buanget, mungkin ada yang merasa terdapat persamaan dalam alur dan setting mohon dimaafkan..
ada perubahan pangkat teman...maaf,,,pangkat Athrun Letkol...bisa di check lgi dichap 1
Disclaimer: GS/GSD sepenuhnya milik sunrise
CHAPTER 2
...
"Hmmm," mungkin ini sudah kesekian kalinya gadis blode itu menghela napasnya, memandangi fotonya dengan seorang pria berseragam Angkatan Udara dengan latar pesawat tempur yang sedang dalam perbaikan di salah satu hanggar milik Angkatan Udara. Saat itu ia menjemput Athrun di satuaannya setelah Athrun menerima penghargaan FAITH dan kenaikan pangkat dari Kapten menjadi Mayor. Pencapaian yang luar biasa padahal ia baru berusia dua puluh dua tahun. Berhasil menembak pesawat teroris tanpa korban jiwa dan kerugian yang besar, menyelamatkan sandera dan mendapatkan informasi tentang teroris menjadikannya sebagai anggota tentara angkata udara yang tidak bisa di remehkan. Bangga. Jelas Cagalli bangga, tapi kebanggaan harus dibayar sangat mahal olehnya, tidak seperti gadis yang dapat berkencan semaunya, mereka hanya dapat bertemu tiga bulan sekali atau bahkan satu tahun sekali seperti saat Athrun dikirim untuk menyelesaikan pemberantasaan teroris.
"Hmmm," ia menghela napas lagi, menghapus cairan bening yang refleks membasahi pipinya.
"Tidak ada pesan baru-tidak ada panggilan masuk, tidak ada pesan baru-tidak ada panggilan masuk, tidak ada pesan baru-tidak ada panggilan masuk," ucap berulang Cagalli hingga ia jatuh tertidur.
"Pukul berapa sekarang?" tanyanya mengambil ponsel melihat waktu yang tertera di layar ponsel begitu terbangun dari tidur yang tidak berkualitasnya.
"Aku seperti orang gila," keluhnya lagi. Merindukan seseorang yang bahkan mungkin tidak merindukan kita adalah hal yang paling tidak mengenakan.
"Yosh! Aku akan buat kue!" ia bangkit dari tidurnya, menuju dapur. Seperti mimpi. Sekarang masih pukul dua dini hari dan dengan semangat ia menyalakan mixer dan mulai mengocok empat butir telur sampai mengembang.
"Selesai!" Ia menatap puas kue yang sekarang terpampang rapi di meja makan, kue tersebut hanya kue sederhana yang dihiasi krim warna-warni.
"Kalau nanti kau pulang, aku akan membuatkanmu kue seperti ini. Pasti kau suka. Jangan lupa makan. Jangan sampai kau lebih kurus dariku. Cepat pulang," ucap lirih Cagalli didepan kue yang ia tambahkan dua lilin, ia menatap sebentar lalu meniup api lilin. Ini bukan hari ulang tahunnya, ini adalah cara ia mengusir rasa rindunya pada kekasihnya. Hari menjelang fajar, ia berniat membawa kue ini ke kampus untuk dimakan bersama Milly, dan melihat dimana ia akan magang.
...
"Dorr!" usil gadis bersurai kecoklatan.
"Kau mengagetkanku!" kesal Cagalli.
"Pandang saja ponsel mati itu sampai matamu keluar,"
"Gomen ne,"
"Dimana?"
"Core spelndor's agency," ucap malas Cagalli.
"Wah, kau akan menjadi anak buah Tuan Asuka rupanya?"
"Jangan memulai!"
"Kita lihat, sampai dimana kau bertahan. Setia memang harus, menghargai lamanya suatu hubungan juga hal penting. Tapi cobalah membandingkannya dengan yang lain. Bagaimana kau tahu Athrun yang terbaik, tapi kau tidak mengetahui pembanding yang lain hah?"
"Maksudmu?"
"Persiapkan magangmu. Ini juga hal terpenting dalam hidupmu. Jangan hanya memikirkannya. Hmmm?" bujuk Milly pada sahabat karibnya.
"Ya, aku hanya merindukannya. Aku hanya ingin jadi pendukung yang baik untuknya,"
"Pendamping, sayang."
"Ya, kapan mulai masuk?"
"Rabu, besok aku akan datang untuk meyerahkan dokumen pengantar. Aku bahkan satu tim dengan Flay. Super sekali."
"Hahhaha,"
"Jangan tertawa!"
"Aku satu tim dengan Julie,"
"Tertawalah, S-A-Y-A-N-G!" ulang Milly dengan nada yang terdengar sangat kesal.
"Aku pergi dulu. Ini kue untukmu. Aku harus mengurus semua berkasnya. Mereka sudah menungguku di halte."
...
"Ohayou," sapa Cagalli yang baru turun dari kamarnya dan menuju meja makan untuk bersarapan bersama dengan keluarganya.
"Ohayou, cantiknya," puji ibu Cagalli melihat anak gadisnya yang memakai setelan kemeja kantor berwarna putih gading dengan rok pensil dibawah lutut berwarna hitam. Hari ini ia akan mulai magang untuk keperluan tugas akhirnya.
"Arigatou,"
"Segeralah sarapan, jangan terlambat. Ayahmu masih ada di kamar, tidak perlu menunggunya."
"Hai!"
"Ittekimasu!" pamit cagalli meninggalkan kediamannya dan menuju halte terdekat dari rumahnya.
"Ohayou, Ca-chan," sapa ramah Julie pada sahabat kecilnya yang baru saja turun dari bus.
"Ohayou. Terima kasih sudah mau menungguku di halte ini. Tapi bisakah kau memanggilku Cagalli saja?"
"Iie!"
"Terserah! Aku merindukanmu Julie!" peluk erat Cagalli pada sahabat terbaiknya ini.
"Kemarin kira bertemu. Dan baru sekarang kau rindu padaku?"
"Entahlah," acuh Cagalli yang berjalan menjauh dari halte menuju kantor tempat ia akan magang selama empat bulan.
"Enam bulan lagi kita akan wisuda!" sorak Julie.
"Bahkan kita belum melalui tugas akhir."
"Selamat datang, dan semoga bermanfaat." Sambutan dari menajer sub operasional.
"Mohon bantuannya," kompak dua gadis yang akan magang selama empat bulan kedepan.
"Mr. Miguel akan membimbing kalian. Silahkan ikuti intruksi dari beliau,"
"Hai!"
...
Hari pertama semua berjalan dengan lancar, hanya perkenalan dengan karyawan senior, belajar mengenali dokumen, penyimpanan dan pengolahan data sebagai dasar pelaporan.
"Hari ini CEO kita akan datang meninjau kerja kita. Yosh, akhirnya bisa bertemu dengan pangeran kantor ini," ucap Julie dengan semangat dan suka cita.
"Hmmm,"
"Ca-chan!"
"Iya, Julie. Aku mendengarkanmu," malas Cagalli. Sekarang mereka berada di kedai makanan.
"Setelah satu bulan kita magang, akhirnya datang juga. Sabar itu akan indah pada waktunya,"
"Tidak perlu berlebihan, kau akan termakan karena kesabaranmu sendiri,"
"Ca-chan, apa dia tidak menghubungimu?" tanya hati-hati Julie, takut akan menyinggung perasaan temannya ini.
"Tidak," jawab lemas Cagalli.
Selama ini,setiap menghabiskan waktu istirahatnya, Cagalli selalu melihat ponselnya berharap mungkin Athrun akan menghubunginya. Sudah satu bulan lebih ia tidak memberi kabar, bahkan ia pernah tidak dihubungi selama enam bulan. Kenapa ia jadi sensitif?
"Ayo, kembali ke kantor!" ajak Julie, menghibur Cagalli.
Kantor mereka terletak lumayan jauh dari kantor pusat, Core spelndor's agency adalah kantor cabang mengurusi tentang masalah yang berkaitan dengan distribusi dan bahan baku produksi.
"Hari ini Tuan muda akan melihat kerja kita. Jadikan ini sebagai motivasi kalian untuk berkerja secara maksimal. Mengerti?" lantang suara manejer terdengar hingga seluruh lobi kantor.
"Siap!" jawab kompak seluruh pegawai yang berada di lobi kantor. Cagalli yang baru datang bersama Julie sempat bingung dengan keadaaan ini, tapi dengan cepat mereka meniru gerakan para senior yang mengangkat tangan kanan ke udara.
"Kembali berkerja!" perintah menajer pada seluruh karyawan.
"Apa selalu seperti ini?"
"Mungkin. Kata menajer benar, aku harus bersemangat!"
"Iya," jawab malas Cagalli meninggalkan Julie yang masih larut dalam hayalannya.
"Konichiwa, minna!" sapa suara berat di ambang pintu masuk.
"Konichiwa, kaichou!" balas seluruh karyawan yang berada di ruang berukuran lima belas meter kali sepuluh meter.
"Kepala, boleh saya meminjam Cagalli sebentar?" ijin pria bersuara berat kepada kepala bagian dengan sopan. Sedangkan Cagalli hanya memandang aneh pria berjas hitam dengan dasi berwarna serupa.
"Silahkan," ucap penuh sopan kepala bagian kepada atasan sekaligus pemilik dari Impluse's company
"Terima kasih, ayo nona Cagalli," ajak pria bersurai kelam bermata ruby pada Cagalli.
"Permisi pak," ijin Cagalli pada atasan.
"Hisashiburi Cagalli," sapa pria tersebut saat mereka berada di ruang pribadinya yang biasanya ia gunakan untuk mengoreksi kinerja pegawainya.
"Hisashiburi,"
"Sepertinya aku membuat kesan pertama yang tidak menyenang untukmu,"
"Hmmm, ada yang bisa saya bantu?"
"Oh, silahkan duduk."
"Ada yang saya bantu?" ulang Cagalli yang terdengar jengah dengan sikap atasannya ini.
"Bisakah kita makan bersama nanti malam?"
"Maaf, tapi saya harus menyelesaikan laporan magang untuk bulan lalu bersama dengan Julie,"
"Apakah kau sudah mempunyai kekasih?" tanya penasaran pria bersurai gelap.
"Maaf, tapi adakah hubungannya dengan profit yang akan anda peroleh dari jawaban saya nantinya?"
"Shinn asuka, CEO dari Impluse's company. Usia dua puluh lima tahun, ditinggal meninggal oleh calon istri dan sekarang sedang mencari calon istri yang akan mendampingiku di kemudian hari." Salam kenal Shinn kepada Cagalli. Ia melangkang mendekati sofa dan duduk tidak jauh dari tempat duduk Cagalli.
"Perkenalkan, saya Cagalli yamato. Berusia dua puluh satu tahun sudah bertunangan dengan seorang tentara. Salam kenal," balas Cagalli kemudian ia duduk kembali.
"Kau sudah bertunangan?"
"Sudah tuan."
"Baiklah, aku akan membantumu untuk menyelesaikan tugasmu. Dimana kalian nanti malam akan mengerjakaannya?"
"Kenapa aku harus menjawab?"
"Mungkin tanda tanganku akan mempengaruhi nilaimu,"
"Kau mengancamku?"
"Aku hanya memberitahumu nona, jangan salah paham,"
"Ruang jaga malam hari. Kami akan menyelesaikannya malam ini,"
...
"Perbaiki tulisanmu yang ada disini, ini tidak efektif," saran Shinn pada dua gadis yang sedang memperhatikannya dengan seksama.
"Kalau ini?" tanya salah satu gadis berkaca mata yang duduk disebelah gadis blode.
"Tidak terlalu buruk, tapi cobalah mengurangi arsipan ini," tunjuk Shinn di sudut layar komputer lipat.
"Hai!"
"Begini?" tanya si blode.
"Cukup, selanjutnya lakukan pelaporan seperti ini. Kalian mengerti?"
"Hai! Arigatou gozaimashita," ucap terima kasih keduanya pada pria bermata ruby tersebut.
"Douita!"
"Aku akan mengantar kalian pulang," lanjut Shinn mencari kesepatan.
"Cagalli saja, saya harus menjemput ibu. Maaf," sesal Julie dan memberikan tatap horor kearah Cagalli agar ia tidak menolak tawaran Shinn karena akan berimabas pada nilai mereka.
"Kau mengorbankanku?"
"Sudahlah, hari semakin larut. Saya permisi dulu, saya titip Cagalli tuan. Terima kasih atas pelajaran hari ini. Permisi," pamit Julie meninggalkan ruang jaga.
"Bagaimana?"
"Iya, ayo kita pulang," terima Cagalli.
Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda bagi Cagalli, mungkin karena ia sudah lama tidak diperhatikan seperti ini oleh Athrun. Normal, kan?
"Melamun?" tanya Shinn tanpa mengalihkan pandangannya ke jalan raya.
"Iie, sudah lama aku tidak diantar pulang oleh seseorang,"
"Aku akan menjemput dan mengantarmu jika kau mau,"
"Tidak perlu, aku masih punya uang untuk bayar tarif bus. Rasanya juga tidak pantas untuk selalu merepotkan atasan sendiri, apalagi statusku hanya mahasiswi yang magang."
"Baiklah, mulai besok aku akan menjemputmu,"
"Tidak perlu!"
"Tidak perlu berteriak nona, kau terlalu bersemangat."
"Terima kasih atas pujiannya. Tapi bagaimana kau tahu jalan menuju rumahku?"
"Ini arah ke rumahmu? Aku baru tahu," jawab penuh keheranan Shinn.
"Jangan berbohong!" selidik Cagalli.
"Aku mempunyai dokumen tentang identitasmu nona, mulai dari nama, tanggal lahir, alamat dan data umum lainnya. Ada masalah?"
"Ya, itu wewenangmu."
"Apa boleh aku mampir?" pinta Shinn saat mereka sampai didepan rumah Cagalli dengan selamat.
"Tidak untuk saat ini. Maaf, permintaanmu ditolak tuan!" Cagalli beranjak keluar dari mobil.
Shinn mengikuti langkah Cagalli mendekati gerbang rumahnya yang terkunci,"Ya, sampai besok. Nona," salam Shinn, dengan gemas ia mengacak pelan rambut Cagalli, "Oyasumi Ca-chan," lanjutnya dan meninggalkan Cagalli yang masih berdiri di depan gerbang, Shinn menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan kearah Cagalli yang tidak dibalas oleh Cagalli karena Cagalli langsung bergedik dan lebih memilih membuka gerbang rumahnya.
Cagalli segera masuk ke kamarnya dan membersihkan diri kemudian beranjak tidur, sudah menjadi kebiasaan wajib saat akan pergi tidur ia selalu membuka semua jejaring sosial yang ia punya untuk mengetahui kabar dari ia-sang Letkol yang entah dimana keberadaannya.
Ting
Pemberitahuan bahwa ada pesan masuk diponsel Cagalli, dengan semangat ia membuka pesan tersebut, dan isinya :
Mimpi indah nona
Tuan Shinn
"Hah? Bahkan ia punya nomer ponselku?..."jeda sejenak, entah mengapa Cagalli merasakan sesuatu yang telah lama hilang, "..Kapan aku mendapat terakhir mendapat pesan seperti ini?" lanjutnya dengana menandang penuh senyum pada pesan yang baru saja ia dapatkan, berulang kali ia baca pesan singkat tersebut hingga ia terlelap dalam tidurnya dengan menitikan air mata dari sudut matanya.
...
Semua berjalan dengan Cagalli yang terbiasa diantar dan dijemput oleh Shinn, terbiasa dengan pesan singkat yang cukup melepaskan kejenuhan menunggu Athrun tanpa kabar selama empat bulan lebih.
"Maaf menunggu lama, ayo!" ajak pria berjas hitam yang berjalan menghampiri Cagalli dan langsung menggandeng gadis yang sudah menunggunya selama dua puluh menit.
"Kalau kau sibuk tidak perlu menjemputku, busnya masih beroperasi. Jangan berlebihan!" tegur Cagalli saat Shinn sibuk memasangkan sabuk pengaman dibadan Cagalli. Merasa diacuhkan Cagalli menugurnya sekali lagi, "Shinn!"
"Iya, aku dengar. Ayo aku antar pulang. Kau pasti sudah lelah," balas Shinn dengan suara tenang lalu menegakan pungung belakangnya untuk menjalankan mesin mobil dan melaju ke rumah Cagalli.
"Dasar!" gerutu Cagalli yang hanya dibalas senyuman hangat milik Shinn
Shinn membawa mobilnya dengan tenang, tidak terburu-buru. Cagalli mengerutkan kedua alisnya ketika ban mobil berbelok kearah lain dari jalur menuju rumahnya. Shinn yang melihat kerutan di dahi Cagalli mengerti arti dari sikap tersebut langsung berkata, "Apa?"
"Harusnya aku yang bertanya!" balas Cagalli bingung.
"Aku ganti baju sebentar, toh Mayu rindu padamu. Apa salahnya mampir terlebih dahulu?"
"Alasan!"
Hanya berjarak delapan menit dari pecakapan tersebut mereka tiba di rumah mewah dengan cat coklat bertingkat tiga.
"Okaeri, nii-chan!" sapa ceria gadis remaja yang mungkin masih berusia lima belas tahun.
"Tadaima, Mayu!" gemas Shinn pada gadis yang membukakan pintu masuk untuknya.
"Tadaima, Mayu-chan," kini suara berbeda berasal dari belakang Shinn yang ternyata berdiri Cagalli dengan setelan kemeja kerjanya.
"Cagalli Nee-chan!" pekik Mayu berhambur kepelukan Cagalli. Sudah satu bulan terakhir ini Cagalli sering mampir ke rumah keluarga Asuka, dari yang awalnya Shinn hanya berpura-pura tersesat, tapi ternyata itu hanya tipuan agar Cagalli mau ikut dengannya.
"Ayo masuk," ajak Shinn selembut mungkin, sudah tiga bulan ia berusaha mengalihkan hati Cagalli kepadanya, tapi ternyata walpaper di layar ponsel dan dekstop Cagalli masihlah gambar yang sama seperti empat bulan yang lalu sebelum mereka kenal.
Shinn tidak akan menyerah atas usahanya, dengan perhatian yang sederhana ia yakin Cagalli akan melihat kearahnya dan menggenggam tangannya erat melewati sisa hidupnya. Cagalli bukanlah orang sulit atau berlebihan dalam hal kasih-sayang, ia menyukai perwujudan yang sederhana, mungkin itu juga yang membuat pasangan Cagalli saat ini tidak melepaskan Cagalli. Bahkan cenderung mempertahankannya.
"Ini," tawar Shinn pada Cagalli sekotak jus jeruk kemasan. "Aku ke atas dulu, tunggu sebentar ya," pamit Shinn meninggalkan Cagalli sendiri di ruang tamu. Rumah ini sepi hanya ada Shinn dan Mayu serta beberapa pengurus keperluan rumah. Kedua orang tua mereka tinggal di daerah pinggiran Onogoro, mereka lebih menyukai suasana pantai yang damai dan hangat. Segala masalah yang berhubungan dengan perusahaan mereka percayakan sepenuhnya kepada putra sulung mereka.
"Nee-chan, ini untukmu!" tawar Mayu memberikan bungkusan kotak berwarna merah tanpa pita.
"Hadiah?" tanya penasaran Cagalli.
"Ambilah!"
"Baiklah, terima kasih,"
"Apa itu?" tanya Shinn menuruni tangga dengan berlari kecil.
"Itu hadiah sungguhan. Aku tidak mungkin menipu Nee-chan. Nee-chan, jangan memberitahunya apa yang ada didalam kotak itu. Aku belajar dulu ya," pamit Mayu melangkah ke kamarnya yang berada di lantai atas.
"Ayo," ajak Shinn dan mengambil blazer Cagalli dan membantu Cagalli memakai blazernya dengan tersenyum kearah Shinn. Selalu. Shinn memperlakukannya dengan baik, bahkan saat ini ia jarang menolak semua perhatian Shinn yang ditujukan kepadanya. Senang. Ya, hanya itu yang dirasakan Cagalli.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Jangan menolak! Atau aku tidak akan menandatanganinya, mengerti?"
"Ya, tapi jangan terlalu lama. Aku mengantuk,"
"Ya!"
Mereka melanjutkan perjalanan dengan riang, dimana Cagalli bercerita tentang harinya yang ditanggapi gurauan lalu beberapa tipuan ekspresif yang berhasil membuat Cagalli makin bersemangat melanjutkan ceritanya.
"Ayo!" ajak keluar Shinn setiba mereka ditempat parkir sebuah pusat perbelanjaan terbesar di ORB.
"Ya," balas malas Cagalli mengikuti langkah Shinn.
"Jangan terlalu jauh dariku, ini pusat keramaian." Shinn mengenggam tangan Cagalli meyelipkan jemarinya disela-sela jari Cagalli. Hangat.
"Tidak perlu dengan seluruh kekuatanmu. Itu menyakitkan," sinis Cagalli menutupi rasa gugupnya. Sudah sering mereka menghabiskan waktu seperti ini, sebenarnya Cagalli bukan tipe orang yang suka keramaian. Dulu, ia sering menghabiskan waktu dengan Athrun di rumah. Di rumah Athrun atau di rumah Cagalli, jarang sekali mereka berjalan bersama keluar, mereka berpikir bahwa itu hanya membuat waktu mereka untuk bercerita berkurang, berbagi kisah saat raga mereka terpisah oleh jarak, waktu dan tugas.
Tes..test..
Secara tidak sadar Cagalli meneteskan air matanya, yang membuatnya sadar dari lamunannya tentang kenangannya dulu bersama Athrun.
Brukk...
Cagalli menabrak seseorang yang berjalan di depannya, dengan sadar pula ia segera minta maaf dan menghapus air mata yang masih keluar dari dua bola mata hazelnya.
"Maaf," sesal Cagalli dengan membungkukan badannya.
"Ada apa denganmu hah? Kita sudah sampai," ucap suara berat seorang pria. Dengan ragu Cagalli melihat siapa orang yang ia tabrak yang ternyata adalah pria dewasa, berambut gelap bermata ruby, dan bersifat menyebalkan walau terkadang mengesankan.
"Kusso!" jengkel Cagalli.
Grebb
Tarikan tangan yang membuat tubuh Cagalli menabrak tubuh tegap milik pria yang akhir-akhir ini menemaninya.
Shinn melihat dengan jelas jejak air mata itu, dengan erat ia memeluk Cagalli, mengusap secara lembut surai cerah itu, membiarkan madu itu mengeluarkan airnya yang mungkin akan membuat bibir itu tersenyum atau bahkan akan tertawa lagi seperti dua jam yang lalu.
"Menangis lah, memangnya apa yang kau tangisi hah?" tanya Shinn melepas pelukannya, memaksa hazel menatap rubynya. Dengan wajah mengejek Shinn, "Hah?" tanyanya lagi.
"Baka!" alih Cagalli dan memutuskan menatap kearah lain, "Ini?" tanya takjub Cagalli memandang kembali si pemilik permata ruby.
"Bahkan kau tidak tahu aku tadi membawamu kemana?" tanya heran Shinn.
"Shinn?"
"Apa?" tanya balik Shinn.
Grebb
Cagalli langsung memeluk Shinn, berjinjit menggapai leher Shinn. Menumpahkan segala perasaan yang selama ini ia pendam sendiri, ia bukan wanita egois yang hanya memikirkan kebahagiaannya. Shinn membalas pelukan Cagalli dengan sama eratnya, kedua tangannya memeluk tubuh Cagalli mengusap punggung belakang Cagalli dengan perlahan.
"Apa yang kau tangisi hah?" tanya Shinn masih memeluk Cagalli. Hanya gelengan kepala secara berulang yang diberikan Cagalli sebagai jawaban untuk pertanyaan Shinn. Masih sama, Cagalli masih menolak untuk menceritakan semuanya, masih memendam semuanya, dia hanya berani untuk menangis dan membiarkan orang lain mengetahuinya tanpa bermaksud memberitahu penyebabnya.
"Cengeng!" ejek Shinn.
Saat ini mereka duduk di bangku yang telah disediakan gratis oleh pemerintah sebagai fasilitas taman kota.
"Aku baru tahu ada taman kota disini," acuh Cagalli mengutarakan pernyataannya.
"Ya, taman ini baru dibuka tiga minggu yang lalu. Mayu yang merekomendasikannya."
"Oh,"
Taman ini terdiri dari miniatur tanaman yang bersinar karena lampu yang ditanam didalamnya. Aktifitas di taman ini hanya berlangsung pada malam hari, karena pada malam hari warga dapat duduk bersantai dengan mengawasi para anak yang bermain dengan lampion-lampion tanaman tersebut.
Shinn memandang wajah suram Cagalli, tangan Shinn mengambil sesuatu di saku blazer. Sebuah gelang rantai kecil berwarna silver. Perlahan tangan kiri Shinn mendekati tangan Cagalli, mengusap lembut permukaan kulit itu membuat pemiliknya memandang sang pelaku.
"Apa?" tanya Cagalli.
Tangan kanan Shinn memasangkan gelang di tangan ringkih Cagalli, "Aku tahu Mayu juga memberimu gelang, tapi aku harap kau lebih menyukai gelang dariku." Ucapnya dengan mengaitkan pengait di kedua sisi gelang silver.
"Jangan pernah dilepas selama kau masih membutuhkan aku. Tapi kalau kau sudah tidak perlu bantuanku lagi, kau bisa membuang gelang tersebut. Jangan mengembalikannya lagi padaku," perintah Shinn.
"Arigatou," ucap kesungguhan Cagalli.
Shinn mengacak pelan rambut Cagalli, "Dimana laporannya? Aku akan menandatanganinya,"
Cagalli segera mencari laporan yang sudah ia jilid, hanya perlu tanda tangan dari Shinn maka ia akan mendapat bimbingan untuk menyusun skripsi sebagai tugas akhir jurusan. Itu artinya dua bulan lagi ia akan di wisuda.
"Ini," Cagalli menyerahkan buku yang cukup tebal dengan sampul berwarna merah jambu.
Shinn langsung mendatanganinya, "Ini," ucap Shinn menyerahkan kembali kepada Cagalli.
"Terima kasih, mulai minggu depan aku akan mendapat bimbingan untuk skripsi. Jadi mungkin aku tidak bisa menghubungimu."
"Kapan kau menghubungiku? Selama ini aku yang selalu menghubungimu terlebih dahulu,"
Deg..
Ya, benar. Selalu Shinn yang menghubungiku terlebih dahulu, berbeda dengan Athrun yang tidak pernah menghubungi Cagalli terlebih dahulu. Selalu. Selalu Cagalli yang mengubungi Athrun.
"Ya," lirih Cagalli menundukkan kepalanya, merasa kecewa yang sudah tidak mungkin lagi mampu ia tutupi.
"Eh? Ada apa lagi denganmu?" tanya heran Shinn.
"Iie, kau mengucapkan kata yang salah,"
"Hah?" bingung Shinn.
"Lupakan, bagaimana kalau kau membiarkan aku menghubungimu dan aku akan membantumu menyelesaikan tugas kuno itu. Bagaimana?" tawar Shinn yang melihat Cagalli diam saja.
"Hah?"
"Perlu aku ulangi?"
"Tidak,"
"Jadi?"
"Terserah padamu, asal jangan terlalu merusak alur kerjaku,"
"Aku mengerti. Aku sudah mendapat gelar profesor, jadi tenang saja."
"Profesor?"
"Kau baru tahu?"
"Lupakan, terima kasih atas semua kesempatan ini," ucap Shinn lagi.
"Yosh, terima kasih untuk semua ini," ucap lantang Cagalli menatap Shinn lalu mengangkat tangan kanannya dan beralih memandang gelang silver yang baru diberikan oleh Shinn.
...
"Kira!" teriak gembira wanita dengan baju tidurnya.
"Jangan berteriak!"
"Yare-yare, dua minggu lagi aku akan wisuda. Pulanglah!"
"Kenapa baru memberitahuku sekarang, hah?"
"Aku mendapatkan sidang terakhir, jadi..." jeda Cagalli
"Aku mengerti, akan aku usahakan satu minggu lagi aku sampai di rumah."
"Kira!"
"Jangan berteriak,.." hening sesaat. "Selamat Cag," ucap tulus Kira.
"Arigatou Kira, aku akan menjemputmu. Hubungi aku sesampai di dermaga. Aku merindukanmu,"
"Wakatta, istirahatlah. Oyasumi Cags,"
"Oyasumi, hati-hati.." jeda Cagalli, "Nii-san," lanjut lirih Cagalli, dengan cepat ia langsung memutuskan hubungan jarak jauh tersebut sebelum ia mendengar Kira menertawakannya.
Selesai Cagalli menelpon Kira, kini tinggal satu orang lagi yang perlu ia hubungi untuk datang menghadiri acara wisudanya nanti. Satu orang yang belum pasti ia dapat hadir atau tidak, dengan ragu Cagalli memasukkan nomer ponsel pribadi orang tersebut.
"Ha-.." ucapan Cagalli tersendat kala ia hanya mendengar ocehan operator penyedia jaringan untuk menginggalkan pesan karena nomer tersebut tidak aktif. Kecewa. Itulah yang dirasakan Cagalli, menatap miris foto dirinya bersama dengan Athrun yang ia gunakan sebagai walpaper posel pintarnya. Cagalli masih mencoba untuk menghubungi Athrun kembali, tapi yang ia dengar masih sama dan itu jelas bukan suara Athrun. Putus asa.
Seperti malam-malam sebelumnya, hari ini pun sama. Cagalli selalu mengirimkan pesan kepada sang Letkol. Bertanya tentang kabar, kesehatan dan berbagi cerita singkat. Tapi satu yang Cagalli tahu, semua pesan yang selama ini ia kirimkan tidak pernah terkirim padanya karena tidak ada laporan terkirim apabila pesan tersebut masuk.
Hiks..hiks..hiks..
Menangis. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk meluapkan segala emosi dan kekecewaannya. Ia tahu ini resikonya, seharusnya ia tahu akan seperti ini. Harus. Cagalli menguatkan tekadnya, menetapkan hatinya, menguatkan kasih dan sayangnya pada si pemilik navy blue. Berharap ia akan datang seminggu lagi, berfoto bersama, tersenyum kearah kamera. Ia masih berharap hal itu akan terjadi. Pasti. Kuatnya pada diri sendiri
Menahan sesak yang terus memguncang jiwanya, Cagalli memilih untuk tidur dengan air mata yang masih mengalir dikedua pipinya.
...
"Shinn, jangan pesan makanan yang mahal!" ancam Cagalli pada Shinn. Sebagai rasa terima kasihnya, Cagalli mengajak Shinn untuk makan siang bersama. Dan sinilah sekarang mereka berada, di kedai ramen tempat Cagalli dan Athrun menghabiskan waktu bersama ketika mereka memutuskan untuk pergi keluar rumah.
Deg
Ingatan bersama dengan Athrun terekam kuat di memorinya, memutar segala macam kenangan yang membuatnya sesak.
"Athrun suka rasa udang, ia akan menambahkan lada hitam pada kuah ramennya. Memesan ekstra telur dadar pada ramennya." Kenang Cagalli dengan nada lirh sarat akan kerinduan dan kekecewaan.
"Kita pergi!" tarik Shinn pada tangan kiri Cagalli yang membuat Cagalli hampir terjungkal kalau saja ia telat menyeimbangkan tubuhnya.
"Ada apa denganmu?"
"Ada apa kau bilang?" geram Shinn.
"Ada apa Shinn?" tanya heran Cagalli.
"Kau menyebut pria yang sudah membuangmu dengan nada seperti kau mengharapkannya kembali. Tidak kau bisa lihat ada aku disini?" amuk Shinn dengan mata menyala.
"Gomen," sesal Cagalli yang kesal dengan dirinya sendiri. Enam bulan tanpa kabar, tapi sampai saat ini ia masih mengharapkan pria emerald itu hadir menenangkannya, menghilangkan kegundahan ini. Sungguh hanya dia yang mampu membuat ia yakin atas hubungan jarak jauh yang mereka jalani.
"Kau selalu mengharapkannya dengan mengenang semua hal baik tentangnya. Bisakah kau mengenang hal baik tentangku juga? Hanya itu. Aku ingin kau mengenangku sebagai hal baik yang pernah kau miliki. Itu sudah cukup menjadi imbalan atas semua usahaku selama ini,"
"Gomen, aku tak akan bisa mensejajarkan kebaikanmu dan kebikannya. Dia terlalu kuat untukmu,"
"Kalau begitu, lihat aku sebagai diriku," tegas Shinn penuh sesal, ia tidak menyangkah akan melihat wajah penuh keputus asaan yang terpancar jelas dari kedua hazelnya.
Grebb
Shinn memeluk erat Cagalli, mengatakan bahwa masih ada dia sebagai tempat berpaling. Masih ada pundaknya untuk bersandar dan tangan yang siap menghapus segala lara itu.
"Apakah kau melihatku sebagai Cagalli?" tanya Cagalli begitu tangisannya mereda.
"Apa maksudmu?"
"Apakah kau melihatku sebagai Cagalli atau sebagai Stellar?"
Mata Shinn membesar seketika mendengar nama Stellar disebut, "Ada apa Shinn? Apa pertanyaanku salah?" tanya Cagalli lagi. Melihat reaksi dari Shinn Cagalli sudah menduga apa jawaban yang akan diberika oleh Shinn.
"Te-tentu aku melihatmu sebagai.."
'Shinn'
"Ahh..." ingat Shinn atas kematian Stellar terulang di kepalanya. Cagalli benar, ia hanya melihat Stellar di dalam tubuh Cagalli karena fisik mereka sama.
"Stellar. Kau bahkan mengaggap aku adalah Stellar."
"Tidak, tentu tidak Cagalli," ucap geram Shinn mencengkeram kedua pundak Cagalli seperti saat mereka bertemu. Tatapan penyesalan, marah dan kecewa ada dalam pancaran ruby itu.
"Bahkan gelang ini adalah milik Stellar," Cagalli mengangkat gelang yang telah ia lepas dari pergelangan tanganya.
Grebb
Cagalli memeluk tubuh Shinn yang tak berdaya melawan rasa sakit akibat ditinggalkan oleh orang terkasih. Membiarkan Shinn menumpahkan segalanya sekarang sebelum ia menjadi gila sepenuhnya.
"Daijoubu,"
"Hmmm," guman Shinn mengangguk-anggukan kepalanya.
Tiga jam Cagalli menenangkan Shinn, membawanya pulang ke rumah. Mayu sedang ada les, para pekerja tidak ada yang berani mendekati Shinn dalam kondisi seperti ini. Jadi sekarang, hanya Cagalli yang memutuskan merawat Shinn. Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar Shinn, banyak foto dirinya disandingkan dengan foto Stellar. Ya, Cagalli telah mengetahui semua ini dari Mayu. Didalam kado itu, Mayu menjelaskan semuanya, memintanya untuk bersama memulihkan kondisi kejiwaan Shinn. Cagalli tidak akan marah pada Shinn karena Cagalli sendiri tidak mencintai Shinn. Cinta?
"STELLAR!" teriak Shinn bangun dari tidurnya.
"Tenang lah," perintah lembut Cagalli memeluk tubuh bergetar Shinn. Beginikah rasanya dicintai dengan begitu dalam?
Berangsur-angsur keadaan Shinn memulih, bahkan Cagalli harus menginap di rumah Shinn selama empat hari.
"Arigatou," ucap lirih pemilik ruby.
"Iie, aku senang membantumu. Boleh aku minta satu hal?"
"Apa?"
"Lepaskan Stellar,"
"Aku tidak bisa berjanji padamu,"
"Itu pilihanmu, bukankankah hidup pilihan?"
"Dan apa pilihanmu?"
"Kenapa aku yang harus memilih?' tanya balik Cagalli.
"Kau sendiri hidup didua pilihan Cags, berdiri disampingku atau berdiri menunggu dirinya yang bahkan sekarang kau tidak tahu keberadaannya dimana,"
"Kau ingin berjudi denganku?"
"Aku memilihmu. Semoga kau tidak mengecewakan aku."
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan untuk sebuah pilihan yang belum kita jalani."
"Wakatta, aku pergi dulu." Cagalli bangkit dari duduknya melangkah pergi meninggalkan kediaman Asuka.
...
...
tbc
Chap dua selesai, siapa yang dipilih Cagalli?
Entahlah, ada yang berpikir Athrun akan datang saat wisuda?
Review minna...
