"Terima kasih hyung, untuk tehnya dan juga untuk telah menemaniku, bisakah hyung bungkuskan bunga krisan untukku?"
"...-aku ingin mengunjungi appa." Lanjutnya.
.
.
.
Kim jie ya present
.
.
Cita dan cinta
.
.
Kaihun
.
.
Warning : typoo bermekaran, mpreg, crackpair, alur lambat.
.
Don't be silent readers, yang silent silent itu nakutin lho~
. Enjoy.
x.x.x.
Awan hitam berarak di atas sana, menutupi seluruh langit biru yang awalnya cerah. Angin musim gugur pun berhembus cukup kencang. Hari ini memang berangin dan akan terjadi hujan, itulah yang Sehun baca dari perkiraan cuaca tadi sebelum mengunjungi Xiumin.
Kini tujuannya adalah tempat appanya beristirahat dengan damai. Kakinya terus melangkah tanpa mengindahkah serangan angin dari penjuru arah. Rambut coklatnya bergoyang, menyibak poninya yang panjang. Kini Sehun tengah berlutut di sebelah sebuah pusara dengan ukiran nama Wu Yifan, appanya.
Tangan putihnya terulur mengusap salib yang menancap di atas pusara itu. Lengkungan miris tercipta di bibirnya. Matanya memanas.
"Hai, appa." Sapanya yang dibalas dengan hembusan angin.
"Sudah delapan tahun ya? Terasa begitu lama untukku, untuk eomma, dan untuk hyung." Ucapnya lirih.
"Bagaimana kabar appa disana? Apakah appa bahagia? Pasti appa bahagia, karena tidak akan bertemu dengan anak tidak tahu diri sepertiku kan?" Sehun mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.
"Appa tau? Tadi aku bertengkar dengan Jongin, seharusnya dulu aku percaya pada appa. Sekarang sepertinya aku tidak akan pernah menikah dengan Jongin." Sehun memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya.
"Dia membuangku, appa." Ucap Sehun pedih.
"Oh iya, aku membawakan appa ini." Dia meletakkan sebuket bunga krisan di atas pusara Yifan, atau semasa hidup sering dipanggil Kris.
"Tadi aku berkunjung ke toko Xiumin hyung. Xiumin hyung terlihat lebih kurus, kurasa dia merindukan hyung, sama sepertiku."
"Maaf tidak bisa menjaga hyung, maaf tidak bisa selalu disamping eomma, maaftelah mengecewakan appa, dan maaf telah lahir di keluarga bahagia kalian. Seandainya Tuhan tidak menciptakanku di antara kalian. Kehidupan kalian tidak akan semenyedihkan ini."
Jdeerr~
Bress~
Sesuai perkiraan, hujan telah turun. Membasahi Sehun yang masih setia duduk disebelah pusara appanya.
"Aku sangat merindukanmu, appa."
Setelah itu, dia mulai bangkit dan berjalan meninggalkan area pemakaman itu.
x.x.x
Sudah tiga puluh menit, Sehun duduk di halte bis. Tapi sepertinya belum ada tanda-tanda adanya bis yang akan lewat. Makam appanya berada di pinggiran kota. Tentu jarang bis yang akan lewat, apalagi dalam keadaaan hujan seperti ini.
Sehun merogoh saku celana untuk melihat handphonenya. Helaan nafas keluar begitu dia melihat tidak ada sama sekali panggilan atau pesan singkat dari Jongin. 'Sehun bodoh, apa yang kau harapkan?' batinnya.
Jongin memang begitu, tidak akan mempedulikan apapun saat dia sedang bekerja. Sekalipun itu Sehun.
Pemuda berkaos putih panjang ini menarik nafasnya dalam, menghirup aroma hujan yang begitu menenangkan. Berharap dengan ini akan sedikit mengurangi sakit hatinya. Namun, rasa sakit itu malah semakin menjadi.
Flashback
Sehun yang berumur 16 tahun terduduk dengan keadaan basah di sebuah halte bis yang sepi. Sesekali terdengar isakan kecil yang lolos dari dua belah kurve miliknya. Matanya menatap kosong kepada hujan yang masih mengalir deras dihadapannya. Aroma hujan yang biasa menenangkannya kini tak berpengaruh apapun.
"Jongin, kenapa tidak memberitahuku akan pindah? Hiks... kau pikir siapa aku?" gumamnya pelan.
Siang tadi, teman sekolahnya banyak membicarakan tentang kepindahan Jongin yang tiba tiba. Lebih kaget lagi tentang kenyataan bahwa Sehun, kekasih dari Jongin sama sekali tidak tahu menahu tentang hal itu. Karenanya, sepulang sekolah, Sehun memutuskan untuk datang ke rumah Jongin. Dan berakhirlah dia disini.
Tin~ Tin~
Suara klakson mobil menyadarkan lamunannya. Kepalanya terangkat untuk melihat siapa gerangan sosok didalam mobil di hadapannya.
"Appa." Ucap Sehun pelan.
"Masuklah." Ucap Yifan a.k.a Kris. Dengan pelan, Sehun menghampiri mobil appanya dan mendudukkan diri disamping kursi kemudi.
"Appa sudah bilang padamu, nak. Jongin bukan orang yang baik untukmu." Ucap Kris memecah keheningan.
"Tapi, aku mencintainya, appa."
"Kau bisa melupakannya Sehun, carilah orang lain."
"Bagaimana appa bisa mengatakan semudah itu?" tanya Sehun mulai terpancing emosi.
"Appa hanya ingin yang terbaik untukmu." Kris masih menatap lurus jalanan.
"Yang terbaik untukku adalah Jongin. APPA TIDAK BERHAK MELARANGKU!" jerit Sehun diakhir kalimatnya.
Kris hanya menghela nafas dengan pandangan penuh kekecewaan. Keadaan menjadi hening, bahkan sampai di garasi rumah, Sehun hanya keluar dari mobil tanpa menoleh kepada Kris.
Flashback end
Tin~ Tin~
Seperti de javu, Sehun dengan cepat mengangkat kepalanya, hatinya berdetak cepat saat melihat mobil appanya.
"Appa." Gumam Sehun. Namun angan hanya tinggal kenangan. Didalam sana bukan appanya, melainkan supir keluarganya yang diperintah Suho untuk menjemputnya.
Dengan lemas Sehun segera masuk ke dalam mobil, tidak ingin eommanya menunggu lama dirumah.
x..x..x
"Sehunnie, kau kemana saja nak?" tanya Suho yang langsung mendekap erat putranya.
"Maaf eomma, aku hanya berkunjung ke tempat Xiumin hyung." Ucap Sehun. Dia tidak sepenuhnya berbohong, karena pada kenyataannya dia memang berkunjung kesana.
"Lain kali, hubungi eomma. Eomma sangat mencemaskanmu, hanya kau yang eomma punya, hunnie."
Dan malam ini, Suho kembali terisak dalam pelukan putranya mengingat Keluarga mereka yang menjadi rumit.
.
.
.
Suasana pagi ini begitu tenang, kicauan burung menjadi lagu pengiring berhembusnya angin. Seorang pemuda yang kita ketahui sebagai tokoh utama tengah terduduk di sebuah bangku taman di bawah lindungan pohon maple.
Kini Sehun mengenakan kaos putih dan jaket biru donker untuk membalut tubuh bagian atasnya. Jeans hitam dan sneakers putih kesayangannya melekat pas di kakinya yang jenjang.
Rambut coklat sebahunya bergerak seirama dengan hembusan angin. Matanya terpejam, mencoba meresapi damainya pagi yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan suasana hatinya.
Ini sudah hari ke dua semenjak pertengkaran Sehun dan Jongin kemarin. Dan pemuda berkulit tan itu tidak juga mengiriminya pesan tentang permintaan maaf.
Sehun tidak banyak berharap akan hal itu, pernikahan mereka tinggal enam hari jika dihitung dari sekarang, pernikahan itu tidak mungkin dapat dilanjutkan dalam keadaan seperti ini.
Sehun tidak menyukai perceraian, dan dia tidak ingin mengalami hal itu. Kenangan tentang temannya yang berasal dari keluarga broken home kembali teringat. Sehun tersenyum membayangkan sahabatnya, Byun Baekhyun. Walaupun berasal dari keluarga broken home, Baekhyun tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada dunia.
Baekhyun adalah orang yang tegar, meskipun Sehun tahu, dibeberapa malam baekhyun sering terisak sendirian. Yang Sehun bangga dari Baekhyun adalah dia sama sekali tidak memberi tahu dunia akan keadaannya, dia menyimpannya sendiri dan berbagi pada orang yang benar benar tepat, dan Sehun salah satu dari orang yang mengetahui tentang itu.
Dan Sehun tidak ingin bercerita tentang keadaan Baekhyun kepada siapapun. Ah, kini Sehun merindukan pemuda pendek itu, sudah satu bulan semenjak lamaran Jongin dia tidak pernah melihat Baekhyun.
"Yaa! Wu Sehuuunn!"
Sehun menolehkan kepalanya saat mendengar pekikan suara yang begitu dia kenal.
Itu Baekhyun.
Refleks Sehun berdiri dan menyambut pelukan hangat Sahabat semenjak high schoolnya itu.
"Yaa, Byun Baekhyun,aku sangat merindukanmu~" ucap Sehun begitu mereka duduk di bangku yang tadi digunakan Sehun.
"Maaf hunnie, aku sangat sibuk satu bulan ini. Restoran appa mengalami kemunduran, jadi ya begitu." Ucap Baekhyun dengan kekehan di akhir kalimatnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sehun.
"Aku baik baik saja." Jawab Baekhyun.
"Lalu bagaimana dengan ginjalmu?" tanya Sehun khawatir.
"Oh, ayolah hunnie, aku tahu kau menyayangiku, tapi operasi ini sudah berlalu sekitar –Baekhyun membuat gerakan menghitung- tiga bulan, sepertinya. Lagipula, si pendonor benar benar tulus, sehingga ginjal ini tidak banyak berulah setelah operasi." Mereka berdua tertawa bersama.
"Kau terlihat semakin kurus, hun. Apa Jongin tidak merawatmu?" canda Baekhyun tanpa tau efek pada Sehun.
Sehun mengigit bibir bawahnya ragu, apakah dia harus bercerita pada Baekhyun. Tapi kemudian, keraguan itu hilang saat dia menatap mata Baekhyun. Baekhyun sahabatnya, dia mempercayai Sehun dengan memberitahu tentang keluarganya. Lalu kenapa Sehun harus meragukan Baekhyun?
"Aku dan Jongin sudah berakhir, kurasa." Ucapan Sehun membuat tawa Baekhyun berhenti dan memandang Sehun.
"Apa?! Bukankah kalian akan menikah? Jangan bercanda, Hunnie." Tanya Baekhyun memastikan.
"Tapi itulah kenyataannya Baek, kami bertengkar kemarin. Dan sampai sekarang dia sama sekali tidak menghubungiku." Ujar Sehun lemas.
"Ya Tuhan~ jangan bilang ini karena kalian tidak sejalan tentang konsep pernikahan? Aduh~ kau membuatku hampir serangan jantung."
"Pada kenyataannya memang bukan."
"Ah~ kau ini, ku ki-..."
"Jongin menyuruhku mencari penggantinya, Baek. Dia mengucapkan hal menyakitkan tentang appaku." Baekhyun terdiam untuk yang kedua kalinya.
"Apa?! Sehunnie..."
"Kau tahukan, tentang appaku, tentang Jongin dan pemadam kebakaran?"
"Tunggu, tentang appamu aku tau, tapi pemadam kebakaran dan Jongin?"
Sehun menerawang. "Jongin seorang pemadam kebakaran."
"Apa?!" sudah satu bulan mereka tidak bertemu dan saat bertemu justru Sehun mengatakan hal yang mengejutkan. Baekhyun melewatkan banyak hal disini.
"Dia, Jongin maksudku, baru memberitahukan tentang pekerjaannya saat pernikahan kami tinggal dua minggu."
"Bagaimana bisa Jongin seperti itu? Kurasa dia tau kau membenci pemadam kebakaran sejak-..." Baekhyun berhenti bicara saat melihat Sehun menunduk.
"Sehunnie, maaf tidak berada disampingmu disaat seperti ini-..."
"Aku tau, kita sudah dewasa, kau tidak bisa selalu berada disampingku seperti aku tidak bisa selalu disampingmu. Tidak masalah."
Keadaan menjadi hening. Tapi deringan ponsel dari saku celana Baekhyun memecah keheningan.
"Halo."
"..."
"Apa?!" "Baekhyun terlalu sering mengatakan apa hari ini. Apa telinganya bermasalah ya?" Gumam Sehun yang dihadiahi pelototan maut ala Byun Baekhyun.
"Baiklah hyung. Aku akan kesana."
"Ada apa, Bakkie?" tanya Sehun setelah Baekhyun memasukkan ponselnya ke saku.
"Rumah tetanggaku kebakaran. Kau kenal Kang ahjussi? –Sehun mengangguk- aku diminta pulang untuk membantu disana, kau mau ikut?"
Sehun mengangguk cepat, kemudian menggeleng.
"Iya atau tidak?"
"Tidak, itu kebakaran, kemungkinan besar Jongin ada disana." Baekhyun menatap Sehun prihatin.
"Jangan menghindari masalah hun-ah."
"Tidak lah, aku akan menemuinya saat aku siap." 'tapi entah itu kapan' lanjut Sehun dalam hati.
"Baiklah, aku pergi dulu." Sehun menatap punggung Baekhyun yang perlahan mengecil dan menghilang. Dia menghela nafas.
"Aku merindukan hyung." Ucapnya sebelum beranjak pergi.
x.x.x
"Sehunnie." Panggil seseorang.
Sehun menolehkan kepala guna melihat siapa yang memanggilnya. Senyum terbit begitu melihat Xiumin tengah berjalan kearahnya. kini mereka sedang berada di sebuah minimarket.
"Xiumin hyung, sedang apa?"
Xiumin mengangkat kantung belanjaannya. "Kau sendiri?"
Sehun mengangkat dua box susu ditangannya, mereka tertawa bersama.
"Kenapa pakaian hyung rapi sekali? Hyung dari mana?" tanya Sehun.
"Mengunjungi hyungmu, kemudian langsung mampir kesini, jadi tidak ada waktu ganti baju." Sehun mematung.
"H-hyung sudah pergi kesana?"
"Iya, sesekali kunjungilah hyungmu, sepertinya dia merindukanmu. Sedari awal dia menanyakanmu, hun-ah."
"A-aku belum siap, hyung."
"Lalu kapan? dia merindukanmu, ap-..."
"A-aku pergi dulu, eomma sudah menungguku. daa hyung~." Dan Xiumin hanya bisa menghela nafas.
"Mau sampai kapan, hun-ah?" tanyanya pada kekosongan.
x.x.x
Sehun berhenti berlari begitu dia sampai di sebuah bukit. Air matanya telah mengalir deras. Dua box susu yang tadi dibeli entah kemana sekarang.
"AARRGGHH... MAAFKAN AKU HYUNG, TELAH MEMBUATMU SEPERTI INI! SEHARUSNYA KAU TIDAK PERLU MEMILIKI ADIK SEPERTIKUU." Teriaknya dengan air mata yang berlinang.
"Hiks, SEHUN BODOH! KAU TELAH MENGHANCURKAN KELUARGAMU! AKU BENCI DIRIKU SENDIRI. AARRGGHH!"
"KENAPA APPA MENINGGALKANKU? KENAPA HYUNG MENJADI SEPERTI ITU? APA KAU BEGITU BENCI PADAKU TUHAN? HINGGA KAU BUAT AKU MENANGGUNG INI SEMUA SENDIRI?"
Sehun jatuh terduduk memegangi kepalanya.
"Hiks, apa salahku dimasa lalu hingga kau menghukumku seperti ini hiks."
"AARRGGHH."
Dan sisa siang itu dihabiskan Sehun untuk menangis meraung meratapi nasibnya dan keluarganya
x.x.x
T.B.C
Jangan bash sayaaa~.
Chapter ini garing? Iya? Aduuh...
Soalnya waktu ngetik, otak jiejie terdesak sama pikiran liar tentang soal soal UAS yang sepertinya sangat sexy untuk dikerjakan.
Btw, jiejie mau UAS lho~ #ngga ada yang peduli
Maaf kalo updatenya kecepetan(?) Mungkin, jiejie akan libur publish ff ini untuk beberapa minggu, UAS di sekolah jiejie selama 2 minggu dengan tiga mata pelajaran T_T #nangis darah
Ini kepanjangan ngga? Trus ada saran ngga buat chapter depan? .Saran.
Mohon bantuannya ya..
Thanks buat review chap sebelumnya
aceice29 : iya mereka mau nikah, sehun sih ngga ngebatalin, Cuma rada gloomy goomy gitu^^ buat mereka nikah? Kalau itu sih tergantung kedepannya, kekeke~ #ketawa setan
Izz. Sweetcity : sip oke^^
nha. shawol : jadi kalau mau nikah itu jadi sensitif ya? #baru tau
daddykaimommysehun : ngga lama lama, Cuma mungkin rada ngaret aja ^.^
physichater: ngga ada yang buruk kok, Cuma ngga baik aja -.-
kim young jin : sip oke^^ terimakasih reviewnya
lecy. c. Fiverz : oke^^
istrinya sehun bininya kai : ahh.. aku ngga tau drama itu -.- pemainnya siapa? #kepo
nagisa kitagawa : oke^^ terimakasih reviewnya
leeyol : nanti juga tau ^.^
kin ocean : kalau soal batal nikah itu, tergantung kedepannya sih ^.^ pasti udah ketebak dari pairnya ya? Hehe..
utsukushii02 : sip, terimakasih reviewnya
Akhir kata
Mind to review?
