Passive Aggressive Love

Genre : Romance, Drama, Hurt

Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun and other

Rate : T

Warning : Genderswitch, OOC, bad diction, miss typing

Desclimer : I just borrow their name as the cast of this story. All belongs to God and this story is absolutely mine. Please don't read if you don't like this story


Chapter 1 : Please, forgive me


Sungmin masih terduduk di depan pintu apartemennya. Duduk menyandar di pintu kayu yang telah tertutup itu. Kakinya terlalu lemas sekedar untuk melangkah duduk di sofa ruang tamu yang hanya berjarak beberapa meter darinya.

Air matanya seolah tak pernah bosan untuk membasahi pipi putihnya. Bahkan ini sudah dua jam sejak Kyuhyun meninggalkannya, tapi gadis itu masih saja menangis terisak. Hatinya masih sakit mendapati perlakuan kasar dari Kyuhyun. Selama ini Kyuhyun selalu memperlakukannya dengan lembut, wajar saja jika Sungmin terkejut ketika Kyuhyun memperlakukannya seperti tadi. Berteriak dan memarahinya.

Ting Tong…

Sungmin terkesiap saat bel apartemennya berbunyi, namun ia membiarkannya. Tidak langsung membukakan pintu. Gadis itu sedikit merutuki tamu yang datang berkunjung ke apartemennya. Tak tahukah jika Sungmin sedang tidak dalam mood yang baik untuk menerima tamu?

Ting Tong…

Sekali lagi bel apartemennya berbunyi. Sungmin segera menyeka air matanya. Mau tak mau ia beranjak bangkit dengan berpegangan pada daun pintu apartemennya, membukakan pintu untuk tamunya. Tubuhnya benar-benar terasa lemas. Menangis membuat energinya terkuras, apalagi Sungmin tidak memakan sarapannya tadi.

"Minnie-ya! Kenapa lama seka—" ucapan Eunhyuk tertelan begitu saja ketika melihat keadaan Sungmin. Padahal gadis itu berniat untuk menyembur Sungmin karena terlalu lama membukakan pintu untuknya. Eunhyuk sudah jauh-jauh menjemputnya tapi Sungmin justru membuatnya menunggu.

"Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi, Min?" Eunhyuk berubah panik detik itu juga. Tangannya bergerak menyentuh kedua bahu Sungmin.

Sungmin tidak menjawab. Gadis itu justru menatap Eunhyuk dengan mata yang mulai berembun. Air mata yang sudah disekanya kembali mengumpul dan mulai mendesak keluar dari pelupuknya.

"Ya! Sebenarnya kau kenapa, Min? Jangan membuatku takut!" Eunhyuk mengguncang pelan kedua bahu Sungmin. Memaksa gadis itu untuk berbicara. Jujur saja, Eunhyuk sedikit takut mendapati Sungmin menangis seperti ini.

"Hyukkie-ya…" Sungmin tiba-tiba menghambur memeluk Eunhyuk dengan kuat. Membuat tubuh kurus Eunhyuk sedikit terdorong ke belakang. Sungmin akhirnya kembali terisak di balik punggung Eunhyuk.

Aksi tiba-tiba Sungmin membuat Eunhyuk terkejut. Beruntung ia bisa menyeimbangkan tubuhnya sekaligus menahan berat tubuh Sungmin. Jika tidak, mungkin saja mereka sudah jatuh terjungkal ke belakang.

"M—Min… waeyo?" Eunhyuk akhirnya membalas pelukan Sungmin. Tangannya bergerak perlahan mengusap punggung bergetar Sungmin. "Kenapa kau menangis, hm? Ceritakan padaku apa yang terjadi, Min," suara Eunhyuk berubah melembut.

"Kyuhyun oppa, Hyukkie-ya… Kyuhyun oppa…" ucapan Sungmin terhenti oleh isakannya. Gadis itu sepertinya tak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Eunhyuk akhirnya membawa Sungmin masuk ke dalam apartemennya.


"Mwo?" Eunhyuk memekik tak percaya mendengar cerita Sungmin. Setelah Eunhyuk membawa Sungmin masuk dan mendudukkannya di sofa ruang tamunya, Eunhyuk meminta Sungmin untuk menceritakan apa yang terjadi.

"Jadi, Kyuhyun oppa marah karena kau menciumnya?" Eunhyuk masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.

Sungmin mengangguk lemah, "Ne."

Eunhyuk menggeram marah sekaligus heran dengan sikap Kyuhyun. Sebagai sahabat Sungmin, jujur saja Eunhyuk kesal karena Kyuhyun telah membuat Sungmin menangis. Terlebih hanya karena Sungmin menciumnya. Bukankah wajar jika Sungmin menciumnya? Lagipula mereka adalah pasangan suami istri. Tidak ada yang salah di sini. Kenapa Kyuhyun harus semarah itu? Eunhyuk semakin heran ketika memikirkan hal ini.

"Sekarang bagaimana, Hyukkie-ya? Apa yang harus kulakukan? Oppa sangat marah padaku," Sungmin bertanya dengan suara paraunya. Gadis itu bahkan sudah akan menangis lagi.

"Ssshhh…" Eunhyuk segera merengkuh tubuh Sungmin yang duduk tepat di sampingnya. "Jangan menangis lagi, Minnie-ya. Aku akan membantumu. Tenanglah…" ujarnya menenangkan.

Eunhyuk merasa bersalah. Bagaimanapun juga secara tidak langsung dirinya 'lah yang membuat Sungmin menangis. Sungmin menjadi seperti ini karena menjalankan ide 'gila'nya untuk mencium Kyuhyun.

Isakan Sungmin akhirnya terhenti. Ia mengangguk kecil dalam dekapan Eunhyuk. Eunhyuk tersenyum lega merasakan Sungmin sudah tenang dalam dekapannya.

'Maafkan aku, Minnie-ya. Aku tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini. Tapi… ini sangat mengherankan. Bagaimana bisa Kyuhyun oppa marah saat kau menciumnya?' Eunhyuk membatin tak mengerti. Pasti ada sesuatu di sini, dan Eunhyuk yakin akan hal itu.


Istirahat makan siang sudah lewat sepuluh menit yang lalu, namun Kyuhyun lebih memilih untuk kembali ke ruangannya. Kyuhyun menghempaskan tubuh jenjangnya secara kasar di atas kursi ruangannya. Ia benar-benar lelah. Pikirannya kacau oleh Sungmin. Kyuhyun bahkan tidak bekerja dengan benar setengah hari ini.

Beberapa kali ia terlihat melamun ketika tengah memeriksa pasiennya. Bayangan saat dirinya berteriak dan memarahi Sungmin tidak mau lepas dari ingatannya. Kyuhyun merasa begitu jahat kepada Sungmin. Ia merutuki sikap kasarnya kepada istrinya. Sungmin pasti terluka karena sikapnya.

"Ya Tuhan… maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyakitinya," Kyuhyun mendesis frustasi. Laki-laki itu menyeka wajahnya kasar.

Kyuhyun berniat memejamkan matanya sejenak, mencoba membunuh rasa bersalah yang sejak tadi menggerogoti dadanya. Setidaknya sampai istirahat makan siang selesai. Namun belum sempat ia memejamkan matanya, sebuah suara terlebih dahulu menginterupsinya.

"Tidak pergi makan siang?" pemilik suara lembut khas perempuan itu berdiri di depan pintu ruangan Kyuhyun yang memang terbuka.

Kyuhyun tersenyum mendapati Kibum— rekan sesama dokter sekaligus sahabatnya— berdiri di depan ruangannya. Ia beranjak menegakkan posisi duduknya lalu mempersilakan dokter cantik bermarga Kim itu untuk masuk ke dalam ruangannya. "Oh, dokter Kim. Masuklah."

Kibum berdecak mendengar panggilan yang diberikan Kyuhyun untuknya. Meski demikian, Kibum tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Perempuan yang sebaya dengan Kyuhyun itu melangkah anggun menghampiri Kyuhyun dan duduk di kursi kosong tepat di depannya.

"Minumlah," Kibum menyodorkan sekaleng kopi yang tadi dibawanya ke meja Kyuhyun. "Kau terlihat kacau hari ini. Apa ada masalah?"

Kyuhyun kembali tersenyum, namun senyum masam yang ditunjukannya kali ini. "Sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu darimu."

Kibum terkekeh pelan, "Aku sangat mengenalmu, Kyuhyun-ah. Jadi jangan harap kau bisa menyembunyikan sesuatu dariku."

"Whoaa… kau sangat mengerikan, dokter Kim," Kyuhyun mencibir Kibum. Ia meraih sekaleng kopi yang disodorkan Kibum dan memainkannya di tangannya.

Kibum memilih untuk diam, tidak membalas ucapan Kyuhyun. Ia tahu jika Kyuhyun sedang ada masalah saat ini. Ia hanya cukup menunggu, dan Kyuhyun akan bercerita dengan sendirinya— seperti biasanya.

"Kibum-ah, aku sudah memarahinya. Aku sudah menyakitinya," ujar Kyuhyun kemudian dengan nada yang terdengar menyesal.


Kibum tidak bisa menahan untuk tidak tertawa setelah Kyuhyun menceritakan semuanya.

"Ya! Kenapa kau tertawa Kim Kibum? Ini tidak lucu sama sekali!" Kyuhyun mendengus sebal mendapati reaksi Kibum akan ceritanya.

"Mianhae, Kyuhyun-ah! Aku hanya tidak habis pikir jika istrimu ternyata lebih berani darimu," Kibum berujar setelah mampu menghentikan tawanya. "Jadi, kau marah bahkan berteriak kepada Sungmin hanya karena dia menciummu?"

"Hm," Kyuhyun menanggapi pertanyaan Kibum dengan malas.

Kibum memang tidak mengenal Sungmin secara langsung dan belum pernah bertemu dengannya, namun ia seperti sudah mengenal Sungmin melalui cerita-cerita Kyuhyun.

"Seharusnya kau tidak perlu semarah itu, Kyuhyun-ah."

"Ya, kau benar. Aku memang sudah keterlaluan," Kyuhyun mengangguk lemah, membenarkan ucapan Kibum. Ia benar-benar menyesali apa yang dilakukannya terhadap Sungmin. "Tapi aku benar-benar tidak sengaja, Kibum-ah. Sungmin tiba-tiba melakukan hal yang selama ini aku hindari. Dan kau tahu apa yang menjadi alasanku, Kibum-ah."

Kibum mengangguk paham, "Ya, aku tahu. Tapi kau tidak perlu memarahinya seperti tadi. Dia pasti sangat terluka. Kau harus memahami posisinya, Kyuhyun-ah. Sungmin masih berada dalam masa remaja, emosinya belum benar-benar stabil dan matang. Seharusnya kau membimbingnya di sini."

Kyuhyun menunduk, merenungi apa yang dikatakan oleh Kibum. "Ya. Semua yang kau katakan benar. Baiklah, sepertinya aku harus meminta maaf padanya," Kyuhyun mengulas senyum tipis di sudut bibirnya.

"Kau memang harus meminta maaf padanya, Kyuhyun-ah," Kibum meralat ucapan Kyuhyun. "Baiklah. Sepertinya aku harus kembali ke ruanganku. Sebentar lagi istirahat makan siang selesai," Kibum berujar seraya melirik arlojinya.

"Aku permisi, Kyuhyun-ah. Jangan lupa minum kopimu," pamitnya kemudian beranjak keluar dari ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecil menatap sahabatnya. Kim Kibum benar-benar ajaib menurutnya. Ia seperti ibu peri bagi Kyuhyun. Tiba-tiba datang di saat yang tepat dan selalu berhasil membuatnya kembali tersenyum.

"Kibum-ah," panggilnya saat Kibum hendak melangkah keluar dari pintu ruangannya. Membuat Kibum berhenti dan berbalik. "Gomawo," Kyuhyun berucap tulus.

Kibum menarik senyuman dikedua sudut bibirnya, "Hm."


"Gomawo, Hyukkie-ya, Ryeowook-ie," Sungmin mengucapkan terima kasih karena kedua sahabatnya sudah mengantarkannya pulang sampai di depan gedung apartemennya.

Eunhyuk mengangguk, "Hm. Tak perlu berterima kasih, Minnie-ya."

"Kau benar-benar tidak mau kami antar sampai ke dalam, Min?" Ryeowook bertanya cemas. Bagaimana tidak, Sungmin terlihat sangat kacau hari ini. Wajahnya sedikit pucat dan tubuhnya terlihat lemah. Gadis itu bahkan tidak tersenyum seharian ini. Sungmin juga menjadi pendiam.

Sungmin akhirnya tersenyum, memaksakan senyum lebih tepatnya. "Hm. Tak perlu mencemaskanku. Aku bisa sendiri, Ryeowook-ie."

"Baiklah. Kalau begitu kami pulang dulu, Minnie-ya," pamit Eunhyuk kemudian. Ia kembali memasang sabuk pengaman yang sempat dilepasnya.

Sebenarnya Eunhyuk dan Ryeowook berniat akan mengantar Sungmin sampai ke dalam apartemennya, namun ternyata Sungmin menolaknya. Gadis itu menahan Eunhyuk dan Ryeowook agar tetap berada di dalam mobil milik Eunhyuk.

Sungmin mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Hyukkie-ya, Ryeowook-ie," ia melambai ke arah Eunhyuk dan Ryeowook sebelum mobil Eunyuk berlalu meninggalkannya.

Ryeowook memandang Sungmin sendu dari balik kaca spion Eunhyuk. Ia merasa sedih sekaligus penasaran dengan keadaan Sungmin. Sedari tadi ia menahan diri untuk tidak bertanya kepada Eunhyuk perihal keadaan Sungmin, karena ia ingin menjaga perasaan Sungmin.

"Ya, Hyukkie-ya! Apa yang sebenarnya terjadi dengan Minnie?" Ryeowook akhirnya tidak bisa lagi menahan untuk tidak bertanya kepada Eunhyuk. Ia benar-benar penasaran.

Eunhyuk menatap Ryeowook sekilas sebelum kembali menatap ke arah jalan. "Aku akan menceritakannya padamu. Tapi tidak di sini, Ryeowook-ie. Tunggu sampai kita sampai di rumahku."

"Aish!" Ryeowook berdecak sebal. "Arraseo."


"Mwo?!" Ryeowook berteriak dengan suara nyaringnya yang memekakkan telinga. Suara pekikan Ryeowook bahkan sampai menimbulkan gema di ruang tamu Eunhyuk. Beruntung Eunhyuk sudah bersiap-siap menutup kedua telinganya sebelum Ryeowook membuat telinganya tuli. Gadis itu sudah memperkirakan bagaimana reaksi Ryeowook setelah mendengar ceritanya.

Ryeowook menggeser duduknya lebih dekat dengan Eunhyuk. "Kau tidak bercanda kan, Hyuk?" Sama seperti dirinya tadi, Ryeowook juga tidak percaya jika Kyuhyun marah hanya karena Sungmin menciumnya.

"Aish! Apa aku terlihat seperti bercanda?" Eunhyuk berucap sebal seraya mengusap kedua telinganya. Meski sudah menutup kedua telinganya, pekikan Ryeowook masih ampuh untuk membuat telinganya berdengung.

"Tapi… ini sangat aneh, Hyuk. Kyuhyun oppa seharusnya senang karena Minnie menciumnya. Kenapa dia justru marah?"

Eunhyuk mengedikkan bahunya. "Entahlah. Aku juga merasa aneh dengan sikap Kyuhyun oppa, Ryeowook-ie."

Jawaban Eunhyuk membuat Ryeowook terdiam— berpikir lebih tepatnya. "Pasti ada sesuatu di sini," Ryeowook bergumam tanpa sadar.

"Ya. Kau benar, Ryeowook-ie," Eunhyuk mengangguk membenarkan.

Keduanya terdiam sejenak sebelum akhirnya sama-sama menjentikkan jarinya. "Kita harus menyelidikinya!" seru kedua gadis itu kompak.


Sungmin terduduk di tepi ranjang seraya menatap layar ponselnya dengan mata berembun. Sudah pukul enam petang, bahkan ini sudah lewat dua puluh menit, namun tidak ada satupun pesan masuk dari Kyuhyun. Biasanya Kyuhyun akan selalu mengiriminya pesan. Entah sekedar untuk menanyakan kabarnya atau memberitahunya jika Kyuhyun akan pulang terlambat.

Bibir tipisnya mendesah panjang. Sepertinya Kyuhyun memang masih marah padanya. Terbukti jika Kyuhyun tidak mengirimkan pesan untuknya. Dan itu membuat dadanya sesak.

Jemari Sungmin akhirnya bergerak mengetik pesan untuk Kyuhyun. Sungmin sudah benar-benar tidak tahan. Air matanya selalu bergulir setiap kali mengingat bahwa Kyuhyun tengah marah padanya. Ia ingin Kyuhyun kembali bersikap lembut padanya, menyayanginya seperti sedia kala. Mungkin benar apa yang dikatakan Eunhyuk tadi siang. Ia harus meminta maaf kepada Kyuhyun.

Sebenarnya Sungmin ingin meminta maaf secara langsung kepada Kyuhyun, namun ia tidak tahu Kyuhyun akan kembali pulang larut atau tidak. Jadi, tidak ada salahnya jika ia meminta maaf lewat pesan.

Oppa, apa kau masih marah padaku? Maafkan aku, oppa. Maafkan aku karena sudah berbuat lancang padamu. Seharusnya aku tidak melakukannya. Aku benar-benar menyesal.

Sungmin akhirnya mengirimkan pesan itu kepada Kyuhyun.

Ia menunggu. Menunggu agar Kyuhyun membalas pesannya. Ini bahkan baru beberapa menit berlalu sejak pesan itu terkirim, tapi kenapa rasanya sudah seperti satu jam bagi Sungmin?

Sungmin menghela nafasnya, mencoba berpikir positif. Mungkin saja Kyuhyun sibuk dan belum membaca pesannya. Ya, benar. Kyuhyun sedang sibuk sehingga belum sempat membalas pesannya. Ia mencoba meyakinkan hatinya dengan asumsi itu.


Satu jam sudah berlalu, namun belum ada pesan balasan dari Kyuhyun. Apakah Kyuhyun benar-benar sesibuk itu? Sungmin mulai resah dalam duduknya.

Oppa... apa kau sibuk? Maafkan aku.

Sungmin kembali mengirimkan pesan untuk Kyuhyun. Mungkin saja kali ini Kyuhyun akan membalas pesannya.


Lagi. Sungmin menunggu pesan balasan dari Kyuhyun. Satu jam kembali berlalu. Dan lagi-lagi Kyuhyun tidak membalas pesannya. Sungmin mulai putus asa dengan keadaan ini. Apakah Kyuhyun benar-benar tidak bisa memaafkannya?

Dada Sungmin terasa sesak. Segala pemikiran positifnya tentang Kyuhyun kini menguap entah kemana. Mata beningnya kembali memanas.

Oppa… kumohon jangan mendiamkanku seperti ini. Aku memang bersalah. Aku minta maaf. Jangan marah padaku lagi, oppa. Kumohon…

Air mata Sungmin akhirnya jatuh setelah ia kembali mengirimkan pesan untuk Kyuhyun. Sungmin sudah tidak mampu lagi menahan tangisnya. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk berbaring di atas ranjang. Ia lelah. Lelah menunggu balasan dari Kyuhyun.

Sungmin tidak peduli lagi Kyuhyun akan membalas pesannya atau tidak. Gadis itu melempar ponselnya ke atas nakas. Ia meringkuk di atas ranjang sambil menangis, sampai akhirnya terlelap karena terlalu lelah menangis.


Kyuhyun kembali ke ruangannya setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Hari ini ia harus kembali pulang larut. Ia benar-benar sibuk usai istirahat makan siang tadi. Kyuhyun bahkan tidak sempat mengirimkan pesan untuk Sungmin.

Laki-laki itu melirik arlojinya. Sudah pukul sepuluh malam. Sungmin pasti khawatir karena ia tidak memberinya kabar. Kyuhyun meraih ponsel yang ia simpan dalam laci mejanya. Ia berniat memeriksa ponselnya, apakah ada pesan atau tidak.

"Aish!" Kyuhyun berdecak kesal mendapati layar ponselnya mati. Ia sudah menekan tombol power ponselnya berkali-kali, namun ponsel itu tidak mau menyala. Sepertinya ponselnya kehabisan baterai.

Kyuhyun lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Sebaiknya aku pulang saja," gumamnya kemudian. Kyuhyun segera menyambar jas dokter yang sempat dilepasnya serta kunci mobilnya, dan berjalan cepat menuju parkir rumah sakit.


Keadaan sepi menyambutnya setelah Kyuhyun sampai di apartemennya. Tapi wajar saja, ini sudah larut malam. Dan Kyuhyun yakin Sungmin pasti sudah tidur.

Kyuhyun langsung saja melangkah ke kamar mereka setelah mengganti sepatunya dengan slipper. Bibirnya tersenyum tipis mendapati Sungmin yang sudah terlelap membelakanginya. Kyuhyun tidak langsung menghampiri Sungmin di ranjang mereka. Laki-laki itu terlebih dahulu menggatung jas dokternya di lemari, lalu beranjak untuk mengisi baterai ponselnya.

Klik!

Ponsel Kyuhyun menyala setelah tersambung dengan pengisi daya baterainya. Kyuhyun sedikit terkejut saat ponsel di tangannya bergetar beberapa kali. Ada beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

Kyuhyun segera membuka pesan-pesan itu. Ada beberapa pesan dari rekannya dan tiga pesan dari Sungmin.

Pesan dari Sungmin? Kyuhyun memandang Sungmin sekilas lalu kembali menatap layar ponselnya. Ia bergegas membuka pesan dari Sungmin, menghiraukan pesan-pesan lain yang masuk ke ponselnya.

Mata Kyuhyun melebar mendapati ketiga isi pesan dari Sungmin. Gadis itu meminta maaf kepadanya melalui pesan-pesan itu. Kyuhyun merutuki kebodohnya yang tidak sempat membalas bahkan membaca pesan dari istrinya.

Oppa… kumohon jangan mendiamkanku seperti ini. Aku memang bersalah. Aku minta maaf. Jangan marah padaku lagi, oppa. Kumohon…

Pesan ketiga Sungmin membuat hati Kyuhyun tertohok. Gadis itu mengira Kyuhyun masih marah padanya. Kyuhyun meletakkan ponselnya di atas nakas lalu melangkah menghampiri Sungmin.

Kyuhyun naik ke atas ranjang dan membenarkan posisi tidur Sungmin agar tidur menghadapnya. Kedua obsidiannya melebar mendapati jejak-jejak air mata di pipi putih istrinya. Sungmin pasti menangis karenanya.

"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud menyakitimu, bahkan membuatmu menangis," Kyuhyun berucap penuh sesal seraya mengusap lembut pipi Sungmin.

Laki-laki itu kemudian membaringkan tubuhnya menghadap Sungmin. Dengan hati-hati ia membawa Sungmin ke dalam dekapannya. Kyuhyun memutuskan untuk tidur tanpa mengganti pakaiannya. Ia terlalu lelah seharian ini. Kyuhyun memberikan kecupan hangatnya di kening Sungmin sebelum terlelap bersama Sungmin.


Sungmin terkejut saat terbangun. Ia mendapati dirinya berada dalam dekapan Kyuhyun. Sungmin bahagia sampai rasanya ingin menangis.

'Oppa, apa kau sudah tidak marah padaku?' Sungmin hanya mampu bertanya dalam batinnya seraya memandangi wajah tampan Kyuhyun. Ia terlalu takut untuk mengeluarkan suaranya.

Dengan gerakan yang teramat hati-hati, Sungmin menyingkirkan lengan Kyuhyun yang membelit pinggangnya. Berusaha agar tidak membangunkan Kyuhyun. Ia tidak mau Kyuhyun terbangun dan kembali marah padanya.

Setelah terbebas dari lengan Kyuhyun, Sungmin bergegas melangkah ke dapur untuk membuat sarapan. Ia tidak mau berlama-lama di kamar bersama Kyuhyun karena hanya akan membuatnya ingin menangis.


Kyuhyun masih terlelap ketika Sungmin kembali ke kamar mereka. Gadis itu sudah selesai membuat sarapan. Sungmin memandang sebentar ke arah Kyuhyun yang masih terlelap. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum membangunkan Kyuhyun. Lagipula ini masih terlalu pagi untuk membuat Kyuhyun terlambat. Ia mengambil handuk dan pakaian bersihnya lalu melangkah ke kamar mandi di dalam kamar mereka.

Tiga puluh menit telah berlalu. Sungmin akhirnya membuka pintu kamar mandi itu. Gadis itu terlonjak dan memecik kecil mendapati Kyuhyun tiba-tiba yang sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Tepat di hadapannya.

"Ooppa… kau sudah bangun?" Sungmin bertanya gugup. Ia masih terkejut dengan kehadiran tiba-tiba Kyuhyun.

"Hm," hanya gumaman itu yang keluar dari bibir Kyuhyun. Laki-laki itu segera masuk ke dalam kamar mandi begitu Sungmin melangkah keluar dari sana.

Sungmin mendesah pelan. Kepalanya tertunduk saat berjalan menuju lemari pakaiannya. "Sepertinya oppa masih marah padaku," lirihnya.

Gadis itu melirik sekilas ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup itu. Sekali lagi ia mendesah pelan lalu membuka pintu lemari di hadapannya. Meski tahu Kyuhyun 'masih' marah padanya, namun ia tidak mau melupakan kewajibannya untuk melayani Kyuhyun.

Sungmin kembali menutup pintu lemari itu setelah menyiapkan pakaian bersih untuk Kyuhyun. Ia meletakkan setelan kemeja dan celana panjang untuk Kyuhyun di atas ranjang, kemudian melangkah keluar kamarnya. Sepertinya akan lebih baik jika ia menunggu Kyuhyun di meja makan.


Audi putih Kyuhyun berhenti tepat di depan gedung kampus Sungmin. Sepanjang perjalanan menuju kampus Sungmin Kyuhyun hanya terdiam. Tidak mengatakan apapun kepada Sungmin, dan Sungmin juga tidak berani mengajak Kyuhyun bicara.

Suasana di antara mereka benar-benar dingin dan canggung. Bahkan tidak hanya di mobil saja, saat di meja makan juga demikian. Mereka makan dalam diam. Tidak ada interaksi seperti biasa.

Sungmin memandang Kyuhyun dengan mata yang mulai berair. Kyuhyun tetap bergeming. Terdiam di balik kursi kemudi sambil menatap tulus ke depan, tanpa menyuruh Sungmin turun atau berbicara padanya. Berada dalam situasi seperti ini membuat Sungmin tidak tahan.

'Katakan sesuatu, oppa… kumohon…' batinnya memohon. Lebih baik Kyuhyun memarahinya seperti kemarin daripada mendiamkannya seperti ini.

"Maafkan aku, oppa…" Sungmin akhirnya membuka pembicaraan di antara mereka. "Aku memang bersalah. Aku benar-benar menyesal. Tolong jangan mendiamkanku seperti ini," tangis Sungmin akhirnya pecah juga.

Kyuhyun terkesiap mendengar suara tangisan Sungmin. Laki-laki itu segera menoleh ke samping kanannya. Dan benar saja, istri cantiknya itu tengah menangis. Lagi-lagi Sungmin menangis karenanya.

"Maafkan aku, oppa…" Sungmin memberanikan diri menatap Kyuhyun yang kini tengah menatapnya.

Kyuhyun tertohok melihat air mata dan tatapan terluka dari mata bening yang basah itu. Dengan gerakan cepat ia segera merengkuh Sungmin. Tangis Sungmin semakin mengencang saat Kyuhyun merengkuhnya.

"Tidak. Jangan menangis, sayang. Seharusnya aku yang harus minta maaf padamu. Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah memarahimu," Kyuhyun mengusap lembut surai panjang Sungmin sambil sesekali menciumnya.

Sungmin membenamkan wajahnya di dada bidang Kyuhyun. Ia mengangguk kecil dalam dekapan Kyuhyun. Tangisnya turun semakin deras mendengar permintaan maaf Kyuhyun. Namun kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis bahagia.

Kyuhyun akhirnya melepaskan rengkuhannya. Kedua telapak tangannya mendekap kedua pipi Sungmin.

"Jangan menangis lagi, sayang. Kau membuat oppa terlihat jahat," Kyuhyun menyeka air mata Sungmin dengan kedua ibu jarinya.

Sungmin mengangguk. Bibir merahnya mengulas senyum tipis. "Maafkan aku, oppa."

"Cukup. Berhenti meminta maaf. Itu justru membuat oppa terlihat semakin jahat," Kyuhyun beralih menggenggam kedua jemari Sungmin.

"Baiklah," Sungmin berucap patuh.

"Sekarang masuklah. Oppa tidak mau kau terlambat sampai ke kelas," Kyuhyun mengusap lembut surai panjang Sungmin.

Sungmin melirik arlojinya. Bibirnya mengerucut lucu. "Ini bahkan masih dua puluh menit untuk membuatku datang terlambat. Kenapa oppa sudah mengusirku?" rajuknya.

Kyuhyun tergelak ringan. "Hey, hey… siapa yang mengusirmu, sayang? Oppa hanya tidak ingin kau terlambat, dan oppa juga harus berangkat ke rumah sakit sekarang. Kau tidak mau oppa terlambat, bukan?"

"Arraseo," Sungmin memberengut sebal. "Padahal aku masih ingin bersama oppa," gumamnya pelan namun nasih terdengar jelas oleh Kyuhyun.

Kyuhyun mengulum senyumnya, "Kita masih bisa bersama setelah kau pulang kuliah nanti. Hari ini oppa akan pulang lebih awal."

Mata bening Sungmin membulat, "Jjinja?"

"Hm." Kyuhyun mengangguk, sedikit menahan tawanya melihat tingkah lucu Sungmin. "Sekarang masuklah," titahnya.

"Ne," Sungmin akhirnya menuruti Kyuhyun. Gadis itu melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya lalu beranjak membuka pintu mobil Kyuhyun.

"Tunggu!" Kyuhyun mencekal tangan Sungmin saat gadis itu hendak turun dari mobilnya.

Sungmin berbalik menghadap Kyuhyun dengan dahi berkerut. "Waeyo?"

"Kau melupakan sesuatu, sayang."

Tanpa aba-aba Kyuhyun bergerak cepat mencium kening Sungmin. Sungmin sempat terkejut dengan aksi tiba-tiba Kyuhyun, namun sedetik kemudian ia memejamkan kedua matanya.

Kyuhyun mencium keningnya dengan hangat dan lama. Sungmin merasa ciuman Kyuhyun di keningnya jauh lebih manis dibandingkan ciuman bibirnya yang memaksa, seperti yang kemarin dilakukannya. Sungmin benar-benar malu ketika mengingat hal itu.

"Masuklah. Belajarlah dengan baik," pesan Kyuhyun setelah melepas ciumannya di kening Sungmin. Kedua mata Sungmin kembali terbuka merasakan sentuhan bibir Kyuhyun luput dari keningnya.

"Eum," Sungmin mengangguk lalu beranjak turun dari mobil Kyuhyun. "Hati-hati, oppa," ia melambai ke arah Kyuhyun sebelum laki-laki itu menjalankan mobilnya.


Eunhyuk dan Ryeowook menatap Sungmin heran. Mereka bingung melihat Sungmin tersenyum sepanjang hari ini, bahkan saat dosen mereka mengajar pun senyum itu tak pernah luput dari bibirnya.

"Ya, Lee Sungmin! Ada denganmu?" Eunhyuk menyikut lengan Sungmin yang duduk di sebelahnya.

Sungmin masih tersenyum ketika menatap Eunhyuk, "Eung? Tidak ada apa-apa," jawabnya ringan.

"Ya! Tidak mungkin tidak ada apa-ada jika kau terus tersenyum seperti itu. Kau tahu, senyummu sangat mencurigkan, Minnie-ya," Ryeowook berkomentar curiga. "Cepat beritahu kami, Lee Sungmin," ia mengguncang tangan Sungmin yang duduk di depannya. Rasa penasaran gadis itu benar-benar tinggi.

Tawa ringan melucur dari bibir Sungmin. "Baiklah…" Sungmin menjeda kalimatnya. "Aku sudah berbaikan dengan Kyuhyun oppa," ia berujar bahagia.

"Pantas saja senang sekali." Eunhyuk dan Ryeowook mencibir kompak, namun Sungmin tidak menghiraukannya.

Eunhyuk dan Ryewook bertukar pandang, kemudian mengangguk bersamaan.

"Eung, Minnie-ya… kau tidak penasaran kenapa Kyuhyun oppa marah sekali saat kau menciumnya?" Eunhyuk bertanya hati-hati.

Sungmin terdiam mendengar pertanyaan Eunhyuk."Aku… tidak tahu. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Hyukkie-ya?" terselip keraguan dalam ucapannya.

"Kau benar-benar tidak penasaran, Min?" pertanyaan Ryeowook membuat keraguan Sungmin bertambah. Gadis itu menggigit bibirnya. Jujur saja, ia juga penasaran dengan Kyuhyun.

"Min?" Eunhyuk mengguncang bahu Sungmin.

Sungmin mendesah, "Baiklah. Aku memang sedikit penasaran," ia menatap ragu ke arah Eunhyuk dan Ryoewook.

Eunhyuk dan Ryeowook tersenyum dalam hati. "Geuraeyo. Kalau begitu ayo kita selidiki Kyuhyun oppa." Tanpa menunggu persetujuan Sungmin, kedua gadis itu segera menarik Sungmin. Mereka bahkan tidak mempedulikan teriakan protes dari Sungmin.


Sungmin dibawa paksa oleh Ryeowook dan Eunhyuk ke rumah sakit tempat Kyuhyun bekerja. Ketiga gadis itu kini sudah berada di koridor rumah sakit, dan beberapa meter lagi mereka akan sampai di ruangan Kyuhyun.

"Ya! Aku tidak mau, Hyukkie-ya, Ryeowook-ie! Berhenti menarikku seperti ini," Sungmin mencoba meloloskan diri dari kedua gadis yang terus menariknya itu. "Bagaimana kalau Kyuhyun oppa, tahu? Dia bisa marah lagi padaku. Kau tahu kan, kalau kami baru saja berbaikan?"

Eunhyuk menghentikan langkah mereka. "Aish! Diamlah, Minnie-ya! Kalau kau berteriak dan tidak bisa diam seperti ini kau justru akan ketahuan," ia berujar gemas.

"Ya. Hyukkie, benar. Cukup diam dan ikuti kami, Minnie-ya," Ryeowook ikut menimpali.

Eunhyuk dan Ryeowook itu kembali menarik Sungmin, namun Sungmin tak bergerak sama sekali. Gadis itu justru mematung di tempatnya dengan kedua mata yang memandang nanar ke arah pintu ruangan Kyuhyun.

"Ooppa…" lirihnya dengan suara bergetar.


TBC

Saya tidak menyangka jika fict jelek saya mendapat sambutan sebaik ini. Saya sangat berterima kasih pada teman-teman semua yang sudah membaca, mem-favorite, mem-follow, bahkan me-review fict ini. Review teman-teman adalah motivasi bagi saya untuk melanjutkan fict ini, dan saya sangat menghargai itu. Terima kasih juga untuk semangat dan dukungannya. Semoga chapter ini tidak mengecewakan. Mohon maaf tidak bisa membalas review teman-teman satu persatu.

Big Thanks to :

, Cho vink, babybellyCho, Yulia Cloud, Lilin Sarang Kyumin, abilhikmah, , hanagyu, Zen Liu, ChanMoody, nahanakyu, arisatae, novanoba, Alunaa, haegvrl, Gye0mindo, Love Kyumin 137, mingky, Guest, cloudswan, In na, princess kyumin, Miyoori 29, rienalonely, WineKyuMin137, , cho hyo woon, ParkHyoRi KMS-YJS, dirakyu, BabyMing, Dela, kyuqie, pinzame, riesty137, Guest, KimRyeona19, , vitaminsparkyu1123, danhobak, kyumin kyumin, hyejeong342, KMsDhae, Ddeokbokkii, PaboGirl, Maximumelf, bunyming, Chikyumin, ckhislsm137, fadillah umar dhani, IYou, audrey musaena, .7, Violetta, Nuoranggini, 137, bb, dessykyumin, ChoKyunnie, Guest, sandrimayy88, Benivella, kimteechul, ChoHyoMi, mingmingming, asdfghjkyu, alphiowl, keykyu, Cho Yooae, kyuminjoy, Heldamagnae, dewi. , wonnie, BunnyEvilKim, adindapranatha, Lova9irl, AmyKyuMinElf, fariny, I was a Dreamer, Kang Dong Jae, fonami-kyuminelf, nova137, KMalways89, angelicKYUMIN, Kikyu Cho

Last, mind to review again?