Dunia yang kau tahu ini hanyalah sebuah tipuan belaka. Saat kau menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang menyimpan sisi gelapnya rapat-rapat dan mencoba menelanmu namun kau berhasil selamat darinya, kau akan mengetahui sebuah rahasia yang akan mengubah hidupmu begitu dalam.
=.XxxxX.=
Bocah bernama Hyoudou Issei itu masihlah memandang dirinya dalam raut wajah yang masih memperlihatkan ketidakpercayaan. Namun meskipun demikian, itu adalah sebuah alasan yang masih bisa dia mengerti setelah dia menceritakan bagaimana bocah itu masih selamat.
Dia berkata dia menyelamatkannya tepat setelah malaikat jatuh itu pergi. Dia yang kebetulan melintas disana karena dia dalam sebuah perjalanan pulang dari suatu tempat kemudian membawa bocah itu ke tempatnya, mencoba menyembuhkan apa yang menjadi luka dari bocah itu hingga dia sembuh. Setidaknya itu butuh waktu hingga satu bulan dimana dalam waktu satu bulan itu, bocah itu berada dalam keadaan koma dimana dia baru tersadar kemarin.
Mungkin bocah itu masih belum mengerti, namun ketika dia menceritakan siapa yang berniat membunuhnya yang sangat jelas bocah itu lihat dan itu tidak bisa dia pungkiri, dia melihat bocah itu menelan liurnya dalam-dalam. Mungkin ini masih terlalu awal dan berat untuknya namun dia harus menceritakan keadaannya dan rahasia dunia ini.
Tentang mereka yang dianggap mitos dan hanya sekedar kepercayaan belaka adalah sebuah kenyataan.
Itu mungkin sulit diterima namun bocah itu harusnya bisa menerima itu semua baik suka atau tidak. Apalagi setelah Naruto dengan paksa membuat imitasi benda berbeda yang dikatakan penyebab dari kenapa bocah itu ingin dibunuh muncul dan membuat bocah itu berteriak kaget.
Setidaknya butuh waktu hingga seminggu untuk bocah itu terus terdiam dan mencerna ini semua. Itu adalah hal yang normal dimana dia tahu betapa sulitnya hal itu dimana bocah itu hanyalah bocah yang tidak mengerti apapun pada awalnya. Naruto membiarkan itu dan dia hanya bisa menyediakan apa yang dibutuhkan bocah itu hingga dia menerima keadaannya sembari dia menyusun lagi apa yang harus dia lakukan dengan kelompok yang dia bentuk dalam melawan kekuatan supernatural di dunia ini.
Dalam diam dimana dia membaca laporan dari para pejuang yang dia kumpulkan, suara pintu dibuka membuatnya menoleh.
Itu adalah wajah dari bocah yang dia selamatkan. Mata itu memandangnya dan dia terdiam disana. Dalam senyuman kecil Naruto menyuruhnya untuk masuk.
''Masuklah dan duduk dimanapun kau suka.''
Bocah itu menurut padanya dan dia masuk lalu duduk dikursi didepannya. Naruto lalu meletakkan laporan yang dia baca dan beranjak dari kursinya duduk.
''Teh atau kopi?'' Tanya Naruto. ''Kupikir teh saja ya. Biasanya anak muda jarang ada yang suka kopi murni dan kebetulan kopi yang ada di tempatku hanya kopi murni saja.''
''Uhm... Iya, Naruto-san.''
''Jangan gugup. Kau sudah terbangun selama seminggu bukan? Apa kau merasa ada yang aneh denganmu?''
Naruto melihat bocah itu menggeleng. Naruto kemudian meletakkan secangkir teh yang mengepul uapnya ke depan Issei.
''Naruto-san...'' Issei memanggilnya dengan nada hormat. ''Apa aku menganggumu?''
''Kurasa tidak, Issei-kun.'' Naruto menjawab ringan sambil duduk kembali ke tempatnya duduk. ''Ada hal yang ingin kau bicarakan?''
''Sebenarnya ada.'' Jawab Issei dengan sedikit ragu. ''Bisakah... Bisakah aku tetap tinggal disini Naruto-san?''
Naruto mengangkat alisnya dalam rasa penasaran. ''Kenapa kau memutuskan hal demikian Issei-kun? Aku bisa mengantarmu pulang dan kau bisa kembali bertemu keluargamu. Apa kau tidak merindukan mereka?''
''Aku rindu mereka. Sangat rindu malah. Namun dengan keadaanku yang sekarang aku tahu aku hanya akan membahayakan mereka.'' Issei menjawab dengan lemah. ''Jika aku pulang, aku akan diincar lagi oleh malaikat jatuh dan lagi masih ada iblis yang juga akan menginginkan kekuatan yang ada di dalam diriku. Itu akan berbahaya untuk kedua orang tuaku. Aku pernah gagal menjadi anak yang bisa membanggakan mereka karena kemesuman bodohku. Setidaknya kali ini aku tidak ingin mereka dalam bahaya.''
Naruto memang telah menceritakan tentang bagaimana kondisi makhluk supernatural yang ada di dunia ini. Bagaimana dewa-dewa bekerja, bagaimana dengan mitologi dan makhluk supernaturalnya berjalan dan bagaimana tentang kondisi terkini mereka kepada Issei yang mendengarkan seksama dalam seminggu ini hingga dia mengetahui betapa kecilnya dia hidup di dunia ini. Dia juga menceritakan siapa dirinya dimana dia adalah orang yang bekerja untuk sebuah organisasi yang ditujukan untuk menjadi benteng melawan mereka. Melawan kekejaman mereka kepada manusia dan rasa ketidakadilan mereka seperti menyelamatkan orang yang seperti Issei untuk mereka tampung dan biarkan mereka tumbuh agar mereka tidak lagi harus tenggelam dalam kekejaman para makhluk supernatural yang banyak menipu manusia serta dapat menolong manusia lainnya.
''Aku tidak ingin menjadi milik siapapun. Tidak ingin dimanfaatkan oleh mereka yang sudah hampir membunuhku. Aku menyadari betapa lemahnya aku sebagai manusia namun aku mendapatkan anugerah yang justru membuatku takut.''
''Takut akan kekuatanmu sendiri adalah pertanda bahwa kau tidak akan menyalahgunakannya Issei-kun.'' Kata Naruto. ''Kau sudah mengetahui dunia ini dan rahasianya. Bagaimana dunia ini bekerja dan bagaimana ia berjalan. Kau bukan lagi orang buta Issei-kun.''
''Aku tahu itu Naruto-san... Aku tahu itu.''
''Jadi?''
''Seperti kataku Naruto-san. Kumohon ijinkan aku untuk tinggal disini. Ijinkan aku untuk berlatih memanfaatkan kekuatanku dan biarkan aku juga nantinya menolong manusia lainnya dari mereka. Aku tahu aku masih lemah, tapi kumohon...''
''...Ajari aku untuk menjadi kuat.'' Issei membungkukkan tubuhnya sebagai permintaan kepada Naruto.
Naruto yang melihat Issei membungkuk berkata. ''Berdirilah tegap Issei-kun.'' Pinta Naruto yang disanggupi oleh pemuda itu. Naruto kemudian bertanya. ''Jika kau sudah kuat, apa kau akan melakukan sesuatu yang apapun itu akan menyelamatkan manusia lainnya, Issei-kun?''
''Aku...'' Issei merasa dia sedang berada dalam sebuah tes untuk mengetahui resolusi keyakinan sebesar apa yang dia miliki dari pertanyaan pria yang sudah menyelamatkannya. ''Aku akan melakukan apapun itu.'' Issei menjawabnya dengan penuh kemantapan.
''Kalau begitu Issei-kun...'' Naruto kemudian mendekat ke arah pemuda itu dan meletakkan kedua tangannya dipundaknya. ''Selamat datang di Throne of Heroes.''
...
''Apa hanya ini saja yang kau punya Issei-kun?'' Naruto bertanya sambil mendorong keras tubuh Issei ke samping setelah menepis pukulan dari pemuda berambut coklat dengan sarung tangan Sacred Gear miliknya.
Sarung tangan Sacred Gear yang membuat Naruto ingin tertawa di dalam hatinya ketika dia mengetahui sarung tangan yang dimiliki oleh pemuda yang masih bocah tersebut dalam urusan supernatural bukanlah Sacred Gear biasa. Sacred Gear yang merupakan artifak yang diberikan kepada manusia untuk bisa mempertahankan diri mereka dari makhluk supernatural yang dimiliki oleh pemuda itu merupakan satu dari tiga belas Longinus yang ada.
Naruto sendiri tidak menyangka bahwa dia akan salah satu lagi pemilik Longinus, Sacred Gear yang dikatakan mempunyai kekuatan untuk membunuh dewa akan dia dapatkan dalam organisasinya. Ini adalah satu keuntungan besar sekali yang Naruto temui dimana saat itu adalah keputusan yang tepat untuk membawa pemuda sekarat ini yang mana dia rupanya dibunuh oleh malaikat jatuh namun diincar oleh iblis untuk dijadikan budak.
''Hanya inikah kekuatan keyakinan yang kau punya? Tekadmu lemah sekali Issei-kun.''
''Aku masih belum menyerah, Sensei!''
Issei membalas ucapan pria didepannya setelah mendengar ejekan dari pria berambut merah itu sambil mencoba berdiri lagi setelah dia terjatuh akibat didorong oleh kekuatan yang begitu besar. Dorongan ringan itu tidaklah dia kira akan seperti dihantam oleh sebuah mobil. Issei bernafas terengah-engah disana, berjengit ketika merasakan bagian sakit di rusuk kirinya yang menyebabkan dia tidak bisa bernafas normal sekarang sekaligus mengabaikan sebaik mungkin keadaan tubuhnya lain yang terluka.
Untuk darah yang mengalir dari dahi.
Untuk darah yang keluar dari tangan dan kakinya yang lain.
Untuk memar yang ada diseluruh tubuhnya.
Issei mencoba mengabaikan itu. Mata milik pemuda itu melihat pria yang sama sekali tidak bisa dia sentuh dalam pertarungan latihan ini yang memberikan senyuman ejekan kepadanya. Senyuman yang membuat diri Issei mendidih kesal dan membuat api berkobar di dalam hatinya untuk setidaknya bisa menyarangkan satu pukulan pada pria tersebut.
Jika bukan karena pencapaian pesat yang dia capai dalam waktu yang teramat singkat, Issei jelas akan menyesali kenapa dulu dia meminta untuk diajari menjadi kuat oleh pria di depannya ini. Uzumaki Naruto adalah pria yang begitu mementingkan kesempurnaan hingga tidak menerima kata gagal terucap dari mulut Issei. Issei yang telah menjalani latihan begitu brutal itu mencoba untuk mengembalikan nafasnya menjadi normal sekalian memusatkan kembali aliran energi dari Sacred Gear miliknya ke seluruh tubuh. Aura hijau terang itu menyelimuti tubuh pemuda itu dan pemuda itu kemudian mengambil lagi kuda-kuda bertarung. Meledakkan tekanan di kaki dan melesat maju kembali yang membuat Naruto mendengus geli.
Saat pukulan dari sarung tangan merah yang terkumpul kekuatan Sacred Gear berwarna hijau itu mengarah lagi untuk melukainya, Naruto menepisnya dengan memukul bagian punggung sarung tangan tersebut. Tapi sebuah tendangan kemudian mengarah pada rusuk kanannya dan dia hindari dengan memukul tendangan itu menggunakan tinjunya, membuat Issei harus menahan rasa sakit dari pukulan keras yang mungkin meremukkan kakinya tersebut dan itu membuat konsentrasi pemuda itu buyar sejenak untuk Naruto mampu menyarangkan pukulan kedua tepat di ulu hati, memaksa pemuda berambut coklat itu memuntahkan udara dan air liur lalu terdorong jauh ke belakang hingga kemudian berguling di tanah.
Naruto hanya melihat saja ketika pemuda itu berguling-guling di tanah sebelum berhenti dalam keadaan bertelungkup. Tidak ada lagi tanda-tanda dari bangkitnya pemuda itu yang menunjukkan bahwa pemuda itu sudah kalah dan terkapar tidak berdaya.
Naruto kemudian hanya bisa mendekati pemuda itu untuk membopong pemuda berambut coklat yang sudah terkapar dan menyembuhkannya dari luka yang dibuat Naruto sendiri.
Setidaknya Naruto berpikir bahwa pukulan terakhir yang Issei terima darinya bisa menguatkan pemuda itu.
...
Issei yang penuh dengan perban dan bau obat itu melihat bagaimana Naruto, Sensei-nya itu memandang sebuah batu kecil dengan warna coklat muda terang yang dia pegang dengan senyuman. Tangan Sensei-nya itu memutar batu kecil itu terus menerus tanpa henti yang mana dilakukan pria itu bahkan ketika pria itu tidak menyadari bahwa dia diperhatikan oleh Issei.
''Sensei... Batu apa yang kau pegang itu?'' Issei bersuara yang membuat Naruto menoleh karena terbuyarkan pemikirannya akibat dipanggil.
''Kau sudah sadar?''
''Ya. Aku kalah lagi?''
''Kau setidaknya masih butuh waktu terlampau lama untuk bisa mengalahkanku, nak.''
Issei tersenyum masam mendengar ucapan pria berambut merah tersebut. ''Batu apa itu Sensei?'' Issei bertanya lagi tentang batu yang ada di tangan Naruto karena rasa penasaran yang ada padanya.
Naruto yang ditanyai demikian berkedip dan melihat kepada Issei sebelum melihat lagi batu yang ada di tangannya. ''Satu dari banyak hal lain yang bisa mengubah dunia Issei-kun.''
''Huh?'' Issei menampakkan wajah bingungnya dan itu membuat Naruto tersenyum dan menghilangkan batu yang berada di tangannya.
''Kau masih terlalu awal untuk tahu itu Issei-kun.'' Kata Naruto. ''Kau akan tahu suatu saat nanti.''
''Mengapa tidak sekarang saja?''
''Karena jika aku mengatakannya sekarang, kau jelas akan kaget.'' Jawab Naruto. ''Sebagai petunjuk awal saja, apa yang kau lihat tadi adalah sebuah bukti.''
''Bukti dari apa Sensei?''
Mendengar pertanyaan Issei membuat Naruto tersenyum. ''Bukti bahwa apa yang kuimpikan bisa terwujud Issei-kun. Bukti dari apa yang kupercayai.''
''Aku tidak mengerti Sensei.''
Naruto tertawa kecil. ''Itu adalah bukti bahwa kekuatan yang akan membuat para makhluk supernatural ketakutan dan akan berhenti menganggu para manusia ada Issei-kun.'' Kata Naruto. ''Dan itu dimulai dari batu kecil yang kau lihat itu.''
''Dan kekuatan apa itu Sensei?'' Issei bertanya lagi.
''Itu adalah...'' Naruto menjeda ucapannya dan menutup matanya lalu tersenyum kecil.
''Kekuatan untuk menciptakan sebuah dunia baru.''
...
''Jadi kau datang lagi, manusia.''Issei berkedip beberapa kali saat berada diruangan putih dan menoleh ke belakang saat suara berat dan keras itu berkata untuknya.
Untuk melihat kembali naga merah besar yang terkurung dalam penjara. Mata naga itu menatapnya dalam tatapan rasa penasaran kenapa dia ada disini lagi setelah pertemuan pertama mereka.
''Kaisar naga merah.''
''Kali ini kau tahu siapa aku.'' Naga itu mengangguk mengiyakan. Saat pertama kali pemuda itu kemari, dia tidak tahu apapun jadi naga merah besar tersebut menendang keluar pemuda itu dari alam Sacred Gear milik pemuda tersebut. ''Kau tidak terkejut dan takut kali ini, manusia.''
''Sensei berkata untuk tidak takut pada apapun.''
''Ah... Itu terdengar masuk akal untuk ukuran orang yang kau panggil guru dalam bahasamu itu, manusia.'' Naga merah besar itu menurunkan kepalanya untuk menyamai tinggi dari Issei meski mereka terhalang oleh gerbang besar yang mengunci naga merah tersebut. ''Apa yang kau sebut guru itu adalah seseorang manusia yang begitu kurasakan berbeda daripada yang pernah kutemui selama hidupku. Ini mengejutkan untuk baru mengetahui ada manusia yang mempunyai level kekuatan seperti itu. Kau akan menjadi sangat kuat saat berada dan belajar di bawahnya, manusia. Namun...''
Issei menarik alisnya ketika mendengar naga merah itu bergumam tentang gurunya. Apa yang coba naga merah ini katakan padanya? Apa yang coba dia capai dengan berkata demikian?
''Kau adalah pemegang jiwaku. Jiwa naga dari kaisar naga merah yang ditakuti oleh banyak makhluk hina terkutuk. Yang ditakuti oleh para dewa! Terkadang ada hal yang tidak bisa diajarkan oleh gurumu tentangku...''
Rasa kemarahan sedikit menyeruak pada diri Issei. Apa naga ini mau berkata bahwa dia akan menjadi pengajar yang lebih baik dari gurunya? Guru yang menyelamatkan dirinya? Yang memberikan pengetahuan dan bimbingan pada dunia buruk ini? Yang membawanya berkembang hingga dia setidaknya bisa bertarung sekarang?
Memangnya siapa naga ini hah? Persetan jika dia adalah kaisar naga merah! Gurunya jauh lebih baik dari siapapun yang mau menyelamatkan dirinya yang termasuk orang asing dan polos ini!
Mungkin ekspresi yang dia rasakan tampak pada wajahnya hingga naga merah itu melihatnya dan kemudian mendengus ke arah dirinya lalu berkata. ''Jangan salah paham dulu manusia.'' Naga itu berkata padanya. ''Aku tidak seperti apa yang ada dipikiranmu. Aku hanya ingin membantumu. Itu saja.''
Issei yang mendengar itu berubah menjadi curiga. ''Membantu? Apa maksudmu? Jika kau ingin membantuku maka itu tidak gratis bukan?''
''Khe...khe...'' Naga merah besar itu tertawa kecil. ''Ketahuilah manusia... Aku membantumu hanya karena sebagai hiburan.'' Kata naga tersebut. ''Lagipula aku penasaran saja untuk melihat jalan apa yang akan diambil kalian para manusia, kau dan gurumu dalam mewujudkan apa yang dia inginkan. Aku ingin melihat bagaimana panggung dunia ini berputar di akhir masa.''
''Kau hanya ingin hiburan! Kami bukan hiburan naga sialan! Jika itu maumu maka aku tidak menerima bantuanmu sialan!'' Teriak Issei marah dengan alasan naga merah besar itu.
''Khe...khe...'' Naga itu menyeringai geli, menampakkan taring besarnya pada wajah Issei yang marah. ''Tidak ada manusia yang berani memanggilku sialan sebelumnya. Tidak bahkan para pemegang jiwaku terdahulu. Kau menarik manusia.''
''Persetan denganmu kadal besar! Keluarkan saja aku dari sini jika kau hanya ingin hiburan! Aku akan mencari kekuatanku sendiri tanpa bantuanmu!''
Bang!
Suara dari gerbang besi yang dihantam kuat membuat Issei terkaget dan melompat kebelakang. Dia melihat naga merah besar itu masih menyeringai padanya. Saat kepala naga itu turun untuk melihatnya lagi, Issei kemudian merasakan sesuatu yang membuatnya takut.
Itu adalah rasa takut dari hal paling dasar dimana seorang mangsa saat berhadapan dengan predatornya. Itu mencengkram hati Issei.
Namun meski begitu, meski Issei sekarang merasakan lagi ketakutan, merasakan tubuhnya bergetar, dia menolak untuk berlutut. Dia tetap berdiri tegap disana. Hal itu nyatanya malah membuat naga merah besar itu semakin menyeringai lebar.
''Sungguh menarik sekali! Kali ini pemegang jiwaku bukan orang lemah!'' Naga itu tertawa keras sekali dalam suara lantang yang berat dan membahana. Mata reptil besar itu menatap mata Issei kemudian. ''Manusia, mari kita buat perjanjian.''
''Setelah kau berkata kau ingin aku hanya menjadi hiburanmu kau ingin membuat perjanjian?''
''Jangan bodoh manusia, aku akan menarik lagi kata-kataku tadi. Kau harusnya bangga karena naga tidak pernah menarik perkataan mereka.'' Naga merah besar itu kemudian mengeluarkan tangannya dari sela gerbang besar yang menghalangi mereka berdua. Menyodorkan tangan bersisik yang membentuk kepalan tangan pada Issei. ''Aku akan membantumu sampai kau berhasil atau mungkin sampai kau mati, tapi satu saja permintaanku padamu. Aku ingin kau mengalahkan sesuatu.''
''Dan apa yang ingin kau aku kalahkan?''
''Jika suatu saat kau bertemu dengan naga putih, kalahkan pemegangnya dan bunuh satu iblis yang begitu kubenci. Untuk itu aku akan membiarkan kau mengakses semua kekuatanku. Aku juga akan mengajarimu cara menggunakannya. Bagaimana manusia?''
''Hanya itu?''
''Ya... Hanya itu.''
Issei terdiam sejenak sekalian dia menatap naga merah besar yang ada dihadapanya itu untuk mengetahui apakah ada niat jahat yang tersembunyi dari naga itu atau dia coba memanipulasi dirinya. Sampai kemudian akhirnya Issei mengeluarkan nafasnya dan berjalan mendekat dan menyatukan tinjunya kepada tinju naga tersebut yang melihatnya dalam seringaian paling lebar yang mungkin Issei tahu.
''Baiklah, aku mau.''
''Bagus manusia.'' Naga itu berkata dengan penuh kepuasan. ''Lalu untuk yang pertama yang harus kau tahu adalah ini manusia...''
''Akulah sang kaisar naga merah api yang ditakuti saat perang besar. Aku yang membawa kehancuran dan malapetaka. Aku membawa api terpanas yang mudah melelehkan senjata tempaan para malaikat, perisai dari iblis dan benteng dari malaikat jatuh.''
''Aku adalah sang naga surga.''
''...Namaku adalah Y Ddraig Goch.''
