'THE JOURNAL'
Episode: Murder in the School
1st Episode
Disclaimer : Aoyama Gosho as real author
Genre : Mystery/ Tragedy/ Friendship
Rate : T
Moshi-moshi minna^^
Ini adalah chap kedua di THE JOURNAL Episode Murder in the School. Semoga para readers nggak bosen untuk baca lanjutannya *ngarep*...
Ok, Lest start...
Enjoy it!
(n_n)
WARNING: Geje, OOC, Haibara POV,dll
14th October 2008
Kemarin aku bertemu seorang anak laki-laki berkacamata. Anak itu, entah kenapa aku tertarik dengan pemikirannya. Baru kali ini aku membocorkan rahasia terbesarku. Bahkan aku belum pernah mengatakan kepada siapapun sebelumnya. Termasuk kepada Professor Agasa yang tinggal bersamaku.
Rahasia yang menghantuiku setiap hari itu kini telah kubagi...
Aku jadi bertanya-tanya, kenapa aku dengan mudah membocorkan rahasia yang selama ini kusimpan rapat-rapat...?
Kenapa aku teratrik membantu bocah sok detektif itu?
Jawabannya...
Entahah. Aku tak tahu.
Mungkin seiring berjalannya waktu, aku dapat segera menemukannya...
"Haibara!"
Kututup buku jurnalku ketika mendengar suara seseorang. Kulihat di pintu kelas, seseorang melambaikan tangannya padaku. Conan. Ia datang menghampiri bangkuku.
"Ah, kamu lagi nulis apa? Ganggu ya?" tanyanya sambil berusaha melihat buku yang sedang kupegang.
"Nggak papa kok..." jawabku sambil meletakkan buku jurnal kedalam loker.
Conan terlihat kecewa. Tapi raut wajahnya segera berubah. "Eh, yang kemarin itu makasih ya! Aku jadi dapat nilai bagus nih!" katanya sanbil menunjukkan hasil ujian bertuliskan A++.
Aku tersenyum hambar. "Jadi..."
Conan tampaknya mengerti maksudku. "Jadi... Oke, aku percaya bahwa kamu anak indigo atau apalah itu..."
Senyumku tersungging. "Yah... kelihatannya kamu belum percaya sepenuhnya. Tapi tak apalah. Jadi nanti kita bisa mulai penyelidikannya kan?"
Conan takjub melihatku yang tampak antusias. "Ya, nanti sehabis makan siang jam istirahat kedua, ok?"
Aku mengangguk. Setelah itu, Conan pun berlalu.
Jam makan siang sudah berbunyi dua menit yang lalu, tapi belum kulihat Conan di kantin sekolah.
Aku lalu duduk sendiri di meja kantin sambil sesekali mengamati sekeliling. Kudengar sayup-sayup suara beberapa anak yang asyik mengobrol.
"Eh, kemarin denger nggak? Si Tsubasa itu katanya udah meninggal lho... Kasian ya dia. Emang dia sakit ya?" kata seorang cewek berambut sebahu.
Cewek lain disebelahnya yang berkacamata langsung menjawab. "Kata anak-anak cowok sih nggak. Kemarin aja si Tsubasa itu masih ikut pelajaran olahraga kok! Masa' siangnya langsung meninggal gitu..."
"Bisa aja dia kelelahan..." ucap si rambut sebahu.
Si kacamata langsung geleng-geleng kepala. "Kamu nggak tau ya? Si Tsubasa gitu-gitu banyak yang ngefans lho..."
"Jangan-jangan kamu juga ngefans ya?" tanya si rambut sebahu.
Anak berkacamata itu tersipu. "Ah... sebenarnya aku juga sedikit tertarik sih, tapi sayang..." ia tak melanjutkan ucapannya. Matanya tampak berair.
"Sudahlah... aku tahu kok..." kata si rambut sebahu menenagkan cewek berkacamata. Mereka lalu beralu dari tempat itu.
Otak Ai langsung berputar. Berarti aku baru tahu dua fakta, pertama, Tsubasa ternyata punya banyak penggemar. Kedua, cewek-cewek barusan bisa menjadi sumber info.
Ai segera berlari mencari cewek rambut sebahu dan cewek berkacamata tadi. Akhirnnya, ia menemukan keduanya tengah duduk sambil menyantap makanan.
Tanpa basa-basi, Ai langsung menghampiri mereka. "Maaf, boleh tanya sebentar?"
Cewek berkacamata mendongak. "Boleh,"
"Apa kalian kenal anak bernama Tsubasa kelas 8-3?"
Mereka mengangguk.
"Apa kalian tahu kebiasaannya?"
Anak berkacamata tampak berpikir. "Yang kutahu... dia suka makan permen."
"Permen?"
"Ya, bahkan kemarin saja aku memberinya banyak permen... Tak kusangka setelah itu dia... Hiks..." anak berkacamata itu menangis sesenggukan.
"Sudahlah..." cewek rambut sebahu menimpali. "Tolong tinggalkan kami... kasihan temanku, dia masih sedih dengan peristiwa kemarin.."
Ai berusaha mengerti. Ia lalu kembali duduk di bangku kantin.
Aneh, Pikirnya. Permen? Berarti ia terbunuh gara-gara itu?
"Hei Haibara! Kemana saja kau?" Conan tiba-tiba muncul.
"Harusnya aku yang tanya begitu..." Ucap Ai.
"Oh, maaf. Tadi aku ada urusan sebentar di ruang guru..." kata Conan sambil duduk di depan Ai.
"Ada apa?"
"Yah... Seperti apa yang kubilang kemarin. Pak Kepsek nampaknya masih memikirkan perkataanku. Dia tadi memberitahukan hasil penyelidikan polisi kepadaku,"
"Semudah itu?" tanyaku tak yakin.
"Tidak juga sih, sebenarnya aku yang memaksa Pak Kepsek... he..he," Conan cengengesan.
"Ya sudahlah, lalu apa hasilnya?"
"Polisi menemukan adanya asam sianida didalam..."
"Di dalam permen kan?" tanyaku.
Conan mengernyit. "Darimana kau tahu?"
"Barusan aku mendapat info. Katanya, Tsubasa yang menjadi korban itu suka sekali makan permen. Dia juga memiliki banyak penggemar,"
"Aku juga baru tahu kalau..." Conan sok misterius.
"Apa?"
"Kalau kemarin Tsubasa mendapat banyak permen dari penggemarnya. Aku tahu dari polisi yang memeriksa isi lokernya. Ada banyak sekali permen. Mungkinkah... pelakunya adalah salah satu penggemarnya?"
"Tidak mungkin," selaku.
"Aku juga berpikir begitu... Maksudku, tidak mungkin seorang penggemar membunuh idolanya. Jadi kesimpulanku, seseorang menaruh permen itu di dalam loker Tsubasa..."
"Dan bagaimana caranya Tsubasa bisa terbunuh? Begitu banyak permen di lokernya... Bagaimana mungkin satu banding seratus permen. Dan Tsubasa secara tak sengaja memakan permen yang beracun? Bagaimana jika seandainya Tsubasa memilih permen yang tak mengadung racun? Berarti pembunuhan ini gagal kan?" lagi-lagi aku menyela Conan.
Conan tampak berpikir. "Tidak, Tsubasa bisa saja terbunuh. Tapi tidak saat di dalam kelas, mungkin saat ia memakan permen beracun itu di tempat lain. Tetapi kemungkinan terbunuhnya kecil. Dan bisa saja Tsubasa memberikan permen beracun itu kepada orang lain sehingga dia tak jadi terbunuh, melainkan orang yang memakan permen itu yang terbunuh."
"Itu artinya... Pelaku sudah tahu bahwa Tsubasa akan memakan permen beracun tersebut?" tanyaku
Conan mengangguk. "Benar. Bisakah kau ingat-ingat lagi kejadian kemarin dengan kekuatanmu itu?"
Aku menghela napas. "Baiklah,"
Kucari lagi semua ingatan di memori otakku. Pikiranku melayang-layang. Menembus dimensi yang telah berlalu. Akhirnya aku seperti terhisap di lorong waktu. Dan tubuhku terdampar di sebuah ruang kelas. Dimana aku duduk dibangkuku yang biasanya. Tsubasa ada dideretan depan. Kuperhatikan dan kuingat-ingat semua gerak-geriknya hingga mendetail. Dia... Tsubasa... mengambil sesuatu dari dalam loker. Sesuatu yang kecil yang kutahu adalah permen. Permen itu berbungkus gelap. Mungkin bisa kucoba lihat merknya... tapi sulit sekali. Aku rasa permen itu adalah permen kopi. Ya! Permen kopi. Selanjutnya Tsubasa tampak mengeluarkan permen lagi... kali ini bungkusnya berbeda. Dan aku sekilas mencium aroma buah...
"Bagaimana?" suara Conan menyadarkanku.
"Aku hanya melihatnya memakan permen kopi." Jawabku putus asa.
"Kopi?"
"Ya, lalu selanjutnya ia memakan permen buah mungkin. Tapi setelah itu ia langsung ambruk,"
Conan meletakkan tangannya di dagu. "Hmm, berarti... bisa saja asam sianida itu..."
Ucapan Conan terhenti saat bel masuk berbunyi.
Aku dan Conan lalu bergegas meninggalkan kantin. Tapi ia berjanji akan menemukan jawabannya secepatnya.
Malam itu aku tak bisa tidur. Aku masih terbayang dengan kasus yang terjadi kemarin. Dan otakku masih menerka-nerka siapa pelakunya. Dan bagaimana trik yang digunakan si pelaku...
Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali mengisi buku jurnalku saja.
Aku bingung. Antara rasa penasaran dan rasa menggebu-gebu di dadaku. Semenjak aku bertemu dengan anak itu. Ada rasa semangat menjalari tubuhku. Rasanya aku menjadi anak yang tengah berpetualang di dalam kehidupan. Hidupku yang semula hambar dan menakutkan. Kini perlahan menjadi sedikit bermakna. Aku senang bisa membantu orang lain. Apalagi ada yang membutuhkan kekuatanku...
Aku senang...
Baru kali ini aku merasa bahagia atas kekuatanku. Mungkin terkadang, lain kali aku harus bersyukur atas kekuatan yang kuterima ini...
Kututup buku jurnalku saat kedua mataku tak mampu lagi menahan kantuk. Akhirnya aku terlelap.
Kakiku menginjak sesuatu. Sesuatu yang dingin. Aku baru sadar kalau kakiku tak beralas. Aku menyusuri ruangan yang sudah sering kulihat. Lorong ini... aku melewatinya setiap hari. Kulihat loker-loker berjejer dipinggir lorong yang lebar ini. Aku melihat sosok... sosok yang dari tadi terus muncul di bayanganku. Sosok itu bertubuh besar...
Tsubasa?
Bukankah kamu sudah meninggal?
Tak ada jawaban.
Hanya keheningan yang merayapiku. Tapi aku sangat yakin... sosok itu adalah Tsubasa.
Kulihat gerak-geriknya. Ia membuka lokernya yang tadi tertutup rapat. Saat terbuka...
Tubuh Tsubasa tampak kelimpungan. Kakinya melangkah mundur. Ia terlihat kewalahan. Tangannya memegang banyak sekali benda kecil berwarna-warni. Permen! Ya, benda yang menjadi sebab terbunuhnya Tsubasa itu meluncur dari dalam lokernya. Benda itu sangat banyak dan dengan cepat berjatuhan. Nampaknya loker Tsubasa dipenuhi oleh benda berwarna-warni itu. Benda-benda itu berjatuhan seperti air terjun. Mengalir hingga berceceran di lantai.
Kakiku tanpa sengaja menginjak sesuatu. Aku mengamatinya...
Kulihat benda itu. Benda yang nampak seperti dejavu bagiku. Aku berjongkok untuk mengamatinya lebih jelas. Benda itu adalah...
Belum sempat aku mengamatinya dengan jelas. Tsubasa sudah memungut benda itu dan membawanya pergi. Aku mengikutinya. Ia masuk ke dalam kelas. Lalu Sensei Jodie datang. Dan seperti dejavu lagi...
Aku melihat diriku maju kedepan kelas- mengerjakan soal- Tsubasa merogoh sesuatu dari dalam loker meja- memakan sesuatu- lalu merogoh lagi kedalam loker- dan memakan sesuatu lagi- ia lalu membuka buku- dan tubuhnya roboh.
Sejenak aku terpaku...
Tetapi seolah ada lampu bolham yang menyala diatas kepalaku.
Aku sadar, baru saja aku melihat kejadian di masa lalu. Dan dari semua ini, aku jadi sedikit mengerti...
Kenapa Tsubasa bisa memakan permen yang beracun itu...
"Ai! Bangun!"
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Aku ingin bangun, tapi mataku masih mengantuk. Akhirnya kupaksa tubuhku untuk turun dari kasur.
"Ai!" teriak suara seseorang dari bawah.
"Iya sebentar!" kataku sambil menuruni tangga.
"Ada apa sih?" tanyaku heran kepada Professor Agasa yang dari tadi memanggilku.
"Ini ada telepon. Katanya penting!" ucapnya sambil mengulurkan gagang telepon padaku.
Aku menerimanya. "Hallo..." ujarku menggumam. Nyawaku masih belum terkumpul seluruhnya.
"Haibara?" suara sesoarang diseberang. Conan.
"Ya. Ada apa?"
"Kau baru bangun tidur ya?" tanyanya menyebalkan.
Aku mengangguk. Tapi langsung tersadar bahwa itu tindakan konyol.
"Hmmm" jawabku akhirnya.
"Maaf kalau membangunkanmu pagi-pagi begini." Ucap Conan basa-basi.
Aku melirik jam. Mataku melotot saat tersadar bahwa sekarang masih jam empat pagi.
"Aku sudah menemukannya!" kata Conan diseberang.
"Apanya?" aku masih jengkel karena dia membangunkan mimpiku yang penting.
"Triknya! Aku sudah tahu bagaimana si korban bisa memakan permen itu!" katanya meyakinkan.
"Oh. Aku juga sudah tau." jawabku.
"Apa?"
Hening...
"Lalu apa berikutnya? Kau membangunkanku hanya untuk ini?" tanyaku meremehkan.
Conan tak terima. "Bukan itu saja. Apa kau tau? Aku juga sudah memiliki beberapa orang yang mungkin salah satunya adalah si pembunuh!"
Aku tertarik. "Benarkah?"
#To be Continue#
Moshi-moshi minna-san^^
Ehmm. Sekali lagi Ryuu-chan minta maaf kalau fic ini ada typo atau geje.
Saya membutuhkan masukan untuk memperbaiki chap selanjutnya...
jadi, jangan lupa review fic ini ya! XD
arigatou buat para readers yang sudah RnR di chap sebelumnya!^^
sampai jumpa di next chap! Hohohoho XDD
