[chaptered FanFic]Labyrinth Memories

黒子のバスケ © Fujimaki Tadatoshi

Labyrinth Memories chapter 2 © Ai Natha [Alenta93]

.

Length : 2884 words

Pairings : go find 'em :D

Warnings :

AU, complex situation, possibly OOC,

all in Kise's POV [for this chapter]

Summary :

Tanpa sadar langkahku membawaku menemukan sebuah café unik bernama RedFlag. Ah ya, satu hal, seorang pelayan bersurai secerah langit itu membuatku penasaran karena ia salah mengenaliku saat itu.

Rasanya terlalu senang bisa mengenal mereka.

Entah kenapa, rasanya― hangat.

.

Comments :

Hai, new chapter is UP ! Here we go for the second chapter~ Ne, all in Kise's POV for this chapter. Please read and enjoy~ :D

.

.

Labyrinth Memories

chapter 2 – déjà vu

.

[Kise Ryouta's POV]

.

Aku kabur dari sesi pemotretan karena aku sedang tidak ada mood hari ini. Entah kenapa, begitu pagi tadi aku terbangun, rasanya aku seperti melupakan suatu kegiatan yang biasa kulakukan. Tapi aku tak tahu apa. Mengangkat bahu, aku kembali melanjutkan langkahku menyusuri pinggiran kota besar yang baru kutinggali selama hampir empat bulan ini.

Awal musim panas di Osaka tak jauh berbeda dengan di Tokyo. Panas terik. Hanya saja kota ini tak sepadat Tokyo―tentu saja. Namun, Osaka memiliki langit yang bagus di musim panas. Aku baru tahu. Aku terkikik. Ya, ini adalah musim panas pertamaku disini. Langit biru cerah terbentang luas di atas sana dengan sedikit serpihan awan yang tak pernah menghalangi sang mentari memancarkan sinarnya. Angin hangat khas musim panas juga berhembus pelan menyapa kulitku. Aku tersenyum lebar, "aku suka musim panas disini" itulah quotesku tiga hari belakangan ini.

Terlalu sering mendongak menatap langit, aku sampai tidak sadar kalau beberapa orang mengarahkan pandangannya padaku. Ada ap―. Aku sontak menundukkan kepalaku seraya membenahi posisi topi hijau army yang melingkupi surai pirangku. Aku lupa. Sekalipun aku tak se-tenar Dai-chan, tapi manager selalu mengingatkanku untuk menyamar setiap kali pergi kemana pun. Ya, sama seperti saat aku pergi keluar bersama Dai-chan, kami malah sering menertawakan gaya penyamaran yang kami lakukan. Aku tertawa geli mengingatnya.

Tanpa sadar, kakiku sudah membawaku ke depan sebuah bangunan rumah minimalis―dua lantai―dengan arsitektur classic berdinding batu bata yang di cat merah sewarna dengan aslinya, juga dikelilingi rumput hijau yang segar dengan beberapa bunga matahari tertanam di deretan dinding depan sebelah kanan. Kemudian sebuah pintu kaca berdiri dibagian depan sebelah kiri. Tepat disisi kanan dan kiri pintu kaca itu terdapat jendela kaca besar―hampir setinggi pintu―dengan korden putih yang sedikit disingkap. Di depan jendela itu, masing-masing terdapat satu meja kayu dengan dua buah bangku tanpa sandaran yang disusun berhadapan.

Disamping kanan bangunan rumah classic ini terdapat sebuah teras―yang cukup luas―dengan lantai kayu yang juga menyimpan banyak meja yang dikelilingi dengan kursi kayu dan beberapa buah sofa. Aku menoleh kebelakang, mengedarkan pandangan menyusuri arahku berjalan tadi. Ada sebuah lapangan basket outdoor yang dikelilingi pagar tepat disamping teras rumah ini. Hanya saja letak lapangan itu sedikit dibawah, sehingga harus menuruni beberapa anak tangga untuk pergi kesana. Di sela antara lapangan basket itu dan teras rumah ini terdapat sebuah pohon besar yang rindang.

Aku kembali menatap bangunan ini. Aku menoleh ke atas, dibawah pagar balkon lantai dua rumah itu terdapat blackboard dengan tulisan "RedFlag café" yang ditulis menggunakan kapur dengan warna merah pada kata "Red" dan kapur putih pada kata "Flag" dan kata "café" yang ditulis dengan ukuran yang lebih kecil. Unik―adalah satu kesan pertamaku mengenai café ini.

Melempar pandanganku, aku mendapati tulisan "we are open" yang tergantung di pintu kaca yang tertutup. Kudorong pintu kaca itu yang menimbulkan bunyi gemerincing lonceng kecil yang tergantung di belakang pintu. Aku kemudian melangkah masuk, beberapa meja kayu mengisi ruangan ini dengan kursi kayu yang disusun mengelilingi meja dan beberapa disusun berhadapan, juga terdapat sofa yang disusun mengelilingi meja kaca berkaki rendah. Aku menundukkan sedikit kepala membalas sapaan "Selamat pagi" yang diucapkan seorang pelayan bersurai merah gelap itu sebelum kembali mengedarkan pandangan pada seluruh sisi café unik ini. Begitu masuk, yang dapat kulihat diujung sana adalah sebuah pantry yang memanjang―mengisi sisi belakang bangunan ini―dengan sebuah pintu kayu kecil disampingnya yang lurus berseberangan dengan sebuah pintu yang terbuka, menghubungkan ruangan dibalik counter itu.

Menoleh ke sisi kanan, dapat terlihat dengan jelas lapangan basket outdoor disana melalui dinding kaca yang terbentang, menghubungkan café ini dengan teras samping yang ternyata letaknya sedikit kebawah. Kemudian disamping kanan pantry itu terdapat sebuah tangga kayu kecil usai melewati pintu kaca di ujung sana.

Berbalik badan kembali menghadap pintu kaca utama, terlihat pin-pin mungil dengan bentuk buah-buahan, ice cream, permen dan beberapa makanan manis lain mengisi korden polos yang disingkap itu. Aku berjalan ke sudut kaca yang menghubungkan teras luar dengan café ini. Banyak foto tergantung horizontal dari atas ke bawah. Beberapa foto berisi lima-enam pemuda―salah satunya bersurai merah gelap yang tadi menyapaku―dengan kemeja putih, kemudian tertempel banyak foto anak-anak juga pemuda yang sedang bermain basket mengisi dinding kosong disamping jendela dengan korden putih itu. Tertempel pula dua buah foto enam pemuda yang sama―sepertinya mereka pelayan café ini―dalam balutan kaus dan celana pendek tengah tertawa lebar meski peluh terlihat membanjiri wajah mereka. Satu foto yang lain, saat mereka mengenakan jersey.

Aku kemudian menoleh ke kanan, ke arah sisi yang belum kuamati. Dinding berbatu bata merah terbentang disana dengan sebuah perapian kecil di tengah. Kemudian disebelah kiri deretan dinding itu, terdapat sebuah whiteboard memanjang vertikal dengan kertas-kertas testimoni pengunjung yang ditempel menggunakan magnet―dengan bentuk yang tak kalah lucu dengan pin-pin tadi―mengisi bagiannya. Di pinggiran papan itu terdapat gambar-gambar lucu yang membuat papan itu terlihat lebih seperti majalah dinding.

"Kawaii'ssu~ (Lucunyaaa~)" Aku tak berhenti menggumamkannya dengan senyum lebar seiring kakiku melangkah.

Kemudian di ujung whiteboard dekat perapian terdapat sebuah kalender yang menunjukkan tanggal 9 Juni, hari ini. Sementara disebelahnya tertempel sebuah poster bertuliskan "RedFlag's Special Summer Events" dengan penjelasan mengenai pertandingan basket three on three juga antar team beserta cara pendaftaran dan jenis hadiah bagi pemenang. Semua hadiah berisi free voucher dengan nominal dan goodies yang berbeda. Kemudian disisi kanan dinding perapian tertempel gambar interrior café ini, baik dari sisi luar hingga lapangan basketnya. Kemudian persis disamping kiri pantry terdapat sebuah pintu kayu dengan tulisan "toire" dalam huruf katakana tertempel disana.

Aku tak berhenti mengulaskan senyum hingga tanganku menarik sebuah kursi di dekat papan berisi testimoni itu. Sebuah meja dengan dua buah kursi kayu yang disusun berhadapan. Manis―adalah kesan keduaku mengenai RedFlag café ini. Aku masih mengedarkan pandanganku ke segala penjuru café ini, masih kagum akan interriornya. Kemudian aku melihat ke arah pantry, menilik apa saja yang tertata rapi disana, sekilas terdapat banyak gelas dengan berbagai bentuk yang berjajar rapi, kemudian botol-botol syrup

"Satomi―kun―?"

Aku menoleh, mendapati sosok pemuda mungil bersurai blue aqua sewarna langit cerah itu berdiri menatapku dengan wajah datar, namun manik saffirnya tampak―terkejut? "Maaf?" Aku menelengkan kepalaku tak mengerti. Cukup lama pemuda itu hanya terdiam. Aku pun tersenyum, mencoba menyapanya. "Ohayo! (Selamat pagi!) Bisa aku minta daftar menu?"

Kulihat ia sedikit terperanjat namun raut wajahnya kembali datar. Aku mengerutkan dahiku, sebelum mataku kembali berbinar melihat menu-menu yang tersedia. Ada berbagai jenis racikan kopi, milkshake, float, parfait. Juga banyak makanan manis yang mereka sediakan. Mulai dari berbagai macam ice cream, cake, waffle, muffin, pancake. Kemudian juga ada snack semacam french-fries, chips, onion-ring, baked potatoes dan sebagainya.

Aku sampai berpikir ingin mencoba semuanya hingga menyadari pelayan mungil itu masih menungguku. Aku pun segera memilih, memutuskan menu mana yang paling ingin kucoba untuk sarapan kali ini. Mana mungkin aku memesan semuanya juga kan?

"Iced Blended Orange Coffee dan Pancake with Caramel Sauce." Aku tersenyum menatapnya. Namun pemuda itu tak segera mencatat pesananku. Aku masih menatapnya. Kulihat ia membuka mulutnya ragu sebelum menyuarakan pertanyaannya.

"Shitsurei desuga, Satomi-kun desuka? (Maaf sebelumnya, apakah Anda Satomi-kun?)"

"Eh?" Aku menelengkan kepala, memandangnya bingung. Satomi? Aku kemudian terkekeh kecil, sepertinya pelayan ini salah mengenali orang. "Iya, chigau tte~ Ryouta. Kise Ryouta'ssu. Yoroshiku! (Oh bukan, kau salah~ Aku Ryouta. Kise Ryouta. Salam kenal.)" Kutundukkan sedikit kepalaku sopan.

Kemudian kulihat ia mengerjapkan matanya lucu―masih dengan wajah datarnya, sebelum membungkukkan badannya meminta maaf, "Sou deshoka~ Sumimasen deshita. (Ah begitukah~ Maaf.)"

"Naze no kai? (Memangnya kenapa?)" Tanyaku penasaran. Juga ingin memastikan apa tebakanku benar?

"Iie, nan demo nai desu. Moushiwake gozaimasen~ (Tidak, bukan apa-apa. Maafkan saya~)" Ia menggelengkan kepalanya sebelum kembali membungkuk.

Tersenyum, aku menepuk bahunya. "Iya, heiki'ssu yo~ (Tidak, tidak apa-apa kok~)" Ujarku seraya mengerling padanya.

Ia kemudian mengangkat notes yang sedari tadi ia genggam, menggoreskan penanya sebelum mengulang pesananku, "Iced Blended Orange Coffee wa hitotsu to Pancake with Caramel Sauce wa hitotsu desu ne. Kashikomarimashita. (Saya mengerti.)"

Usai membungkuk sopan, ia melesat melewati pintu kecil disamping pantry sebelum punggung mungilnya menghilang dibalik pintu yang terbuka. Menuju dapur sepertinya. Aku masih mengagumi pantry yang dibuat memanjang yang menghubungkan café dengan dapur itu.

.

*55*

.

Aku tengah menyantap Strawberry Cheese Cake di bench lapangan basket outdoor milik Universitas saat manik mataku menangkap sekelebat sosok pemuda bersurai blue aqua itu. Aku mengerjapkan mata beberapa kali kemudian menoleh, melempar pandanganku menyusuri lapangan beserta taman kecil yang menghubungkan lapangan dengan koidor-koridor gedung.

Tidak ada.

Aku kemudian meraih gelas berisi Orange Coffee hangat yang tadi kubeli di RedFlag café. Ya, café tempat pemuda mungil itu bekerja. Tanpa sadar pikiranku melayang, membuka kembali lembaran memoriku di café itu pagi ini.

.

.

[flashback]

.

"A-ano ne~"

"Hai?" Seorang pemuda manis bersurai hitam itu tersenyum menjawab sapaanku saat aku menunggu pesananku dengan duduk di pantry di dekat meja kasir.

"Kemarin― ada waiter yang salah mengenaliku―" Aku menggantung kalimat, dan mendapati pemuda bersurai hitam itu mengerutkan dahinya. "―Pemuda mungil bersurai biru muda secerah langit musim panas." Lanjutku. Entah kenapa aku penasaran bagaimana bisa pemuda blue aqua itu salah mengenaliku.

"Ah, Tetsu-chan?" Pemuda itu menelengkan kepalanya sebelum mengarahkan manik onyx miliknya kearahku kemudian bertanya, "Sumimasen ga(maaf sebelumnya), apa ini kunjungan kedua Anda ke RedFlag?"

Mendengarnya, aku mengangguk antusias, seolah ini masalah terpenting sedunia. Entahlah, aku merasa tertarik melihat bagaimana sorot manik saffir itu saat menatapku dibalik ekspresi datar pemuda blue aqua itu. Pandangan setengah terkejut dan― seolah ingin memastikan sesuatu? Entahlah. Pandangan itu terasa seperti kami pernah bertemu sebelumnya.

Kulihat manik onyx pemuda didepanku ini melirik kearah lain, sementara sebelah tangannya memain-mainkan pulpen, seperti tengah berpikir. Ia kemudian tersenyum seraya menjawab, "Kurasa Anda mirip dengan salah satu pelanggan kami."

Tanpa sadar aku melongo mendengar jawabannya. "Oh ya?" Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.

Pemuda bersurai hitam itu menganguk diantara senyumnya. "Ya, sebelum―"

"Tatsuya! Pesanan sudah siap." Seorang pemuda bersurai merah gelap yang kemarin menyapaku menginterupsi. Ia masuk dari dapur meletakkan nampan di atas pantry dengan satu kotak yang kuyakini berisi cake dan satu gelas kopi pesananku diatasnya.

"Terima kasih, Taiga." Tatsuya?―pemuda bersurai hitam itu mengalihkan pandangannya pada Taiga?―pemuda tinggi bersurai merah gelap itu.

Kemudian Taiga menolehku. "Ah, ohayo!" Sapanya.

"Ohayo!" Balasku riang tak lupa dengan senyum lebar. Mereka begitu ramah. Kurasa aku akan semakin sering berkunjung kemari.

"Oh ya, kami memberikan satu potong cake bonus. Murasakibara memintaku untuk menambahnya."

Aku terkejut. "Wah, terima kasih―" Lagi-lagi aku menggantung kalimatku, bingung harus memanggil pemuda tinggi itu apa. Haruskan aku memanggilnya― Taiga? "Err~~" Cengirku.

Kemudian Tatsuya tersenyum, "Dia Kagami Taiga, salah satu waiter juga chef RedFlag." Paparnya yang disambut dengan "Yosh!" Sebelum pemuda bersurai merah gelap itu menghilang di balik pintu dapur. Aku hanya mengangguk sopan. "Murasakibara Atsushi adalah pemilik RedFlag ini. Dan aku― Himuro Tatsuya. Salam kenal~" Ujarnya memeperkenalkan diri sembari tersenyum ramah.

Aku menundukkan kepala membalasnya. "A–aku Kise Ryouta. Salam kenal~" Ujarku tanpa bisa menghilangkan senyum dari wajahku. Rasanya terlalu senang bisa mengenal mereka. Himurocchi, Kagamicchi dan Murasakibaracchi. Sejenak aku mengira-ngira seperti apa orang yang memiliki café manis dan hangat seperti ini.

"Un. Sering-seringlah mampir kemari, Kise-kun~" Himurocchi kemudian mendorong nampan itu kedepanku yang mengambil duduk di pantry. "Apa Kise-kun sedang buru-buru hingga tak memakannya di RedFlag?"

Aku mengerucutkan bibirku. "Ya, aku ada kuliah satu jam lagi." Ujarku menyayangkan tidak bisa memakan pesananku sambil menikmati café keren ini seperti kunjunganku sebelumnya. "Tapi kusempatkan kemari karena perutku meronta ingin mencoba cake-cake disini." Cengirku.

Himurocchi terkikik. "Souka souka~ Saa, ganbatte ne, Kise-kun! (ah begitu kah~ kalau begitu, smangat, Kise-kun!)"

"Un, sankyuu'ssu, Himurocchi~" Kulihat sebelah alis Himurocchi terangkat, aku hanya mengulaskan senyumku. "Aku akan datang lagi, itte kimasu! (Aku pergi!)" Pamitku menyambar kotak dan gelas diatas nampan sebelum beranjak menuju pintu. "Ah, terima kasih untuk cake bonusnya~ Sampaikan salamku pada Murasakibaracchi~"

Samar, kudengar Himurocchi menggerutu "Himurocchi?" sebelum menjawab, "Itterasshai~ (bisa diartikan : hati-hati di jalan~)" saat terdengar gemerincing lonceng begitu aku membuka pintu café.

.

[flashback end]

.

*55*

.

"Hua! Tetsu? Ah, Tetsu, choi machi'ssu~ (Tunggu sebentar'ssu~)" Aku sedikit berteriak agar suaraku sampai pada pemuda blue aqua di dekat pintu kelas saat aku menabrak meja depan bangkuku. Sedikit mengaduh, aku menyahut topi hijau armyku dan segera berlari turun menyapa pemuda itu. Aneh. Aku baru sadar kalau kami berada di fakultas yang sama selama ini. "Konnichiwa! (Selamat siang! Bisa juga diartikan Halo.)" Sapaku begitu berhasil sampai di depannya dengan senyum lebar seperti biasa.

"Ah, ano toki no― ( Ah, yang waktu itu)"

Aku mengangguk. "Hai! Aku Kise Ryouta. Ingat?" Cengirku. "Pernah mampir ke café tempatmu bekerja. Aku memesan Iced Blended Orange Coffee dan Pancake with Caramel Sauce. Saat itu kau salah mengenaliku." Ceritaku panajang lebar.

"Ah, domo. Kuroko Tetsuya desu." Ujarnya memperkenalkan diri dengan semburat merah menghiasi pipi pucatnya. Ia kemudian membungkuk, membuat helaian lembut blue aqua itu jatuh menutupi sebagian wajah datarnya. "Aku benar-benar minta maaf soal itu. Maafkan aku."

Aku tersenyum, menepuk kepalanya. Ingin rasanya mencoba mengelus helaian lembut itu. "Betsu ni ii'ssu yo, Kurokocchi~ (Tidak apa-apa kok, Kurokocchi~)" Aku kemudian memakai topiku berjalan keluar kelas. "Aku tak menyangka kalau kita bahkan satu fakultas!" Ujarku heboh sebelum membalikkan badan, mendapati Kuroko Tetsuya mengekorku.

"Aku juga tak pernah menyangka, Kise-kun."

"Ne, apa Kurokocchi akan langsung kembali ke café?"

Kulihat ia menggeleng. "Aku masih ada satu kelas lagi, Kise-kun. Hari ini juga jadwalku off di RedFlag. Tapi usai kelas berikutnya aku harus segera pulang dan memberi makan Riku."

"Riku?" Aku menelengkan kepala.

"Ah, dia anjing peliharaan Sei-kun." Seolah Kurokocchi mengerti aku yang semakin mengerutkan dahi, ia kemudian melanjutkan. "Teman satu apatoku."

Aku kemudian mengangguk mengerti. "Hmm~" Aku memutar bola mataku sebelum menoleh padanya. "Bagaimana kalau kita makan siang di Maji Burger sebentar, Kurokocchi?" Ajakku.

"Un. Kebetulan aku sedang ingin vanilla milkshake." Ujarnya dengan manik saffir berbinar dibalik wajah datarnya. Aku pun tersenyum menanggapinya.

Entah kenapa, rasanya― hangat.

Kami berjalan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sendiri sibuk mengobrak-abrik lembaran memori otakku yang sepertinya memiliki memori yang sama. Sementara perasaan hangat ini terus menyelimuti hatiku, dengan bodohnya otakku tak kunjung menemukan lembaran memori itu.

.

*55*

.

"Okaeri~~ (Selamat datang~~)"

Pemuda tinggi berkulit tan itu menggumam 'eh' sebelum menolehku yang duduk di kursi dekat pantry. "Kau sudah pulang, Ryou? Tadaima. (Aku pulang.)"

Aku mengulaskan senyum. "Un." Jawabku singkat, sementara manik mataku mengikutinya yang melangkah ke balik pantry dapur mini kami dan menuju kulkas. Mengambil sekaleng kopi dingin sebelum meneguknya hingga kandas kemudian melemparnya kasar hingga menabrak dinding sebelum masuk ke tempat sampah di sudut dapur. "Dou shita no kai? (Apa yang terjadi?)"

Manik navybluenya menatapku. "Ano yatsu. (Orang itu.)" Seketika aku tahu siapa yang dia maksud. Seseorang yang biasa membuatnya uring-uringan seperti ini.

"Ada apa dengan manager, Dai-chan?"

"Dia menyita skateboardku!" Rutuknya kesal sebelum melangkah ke ruang tengah dan menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang, berbaring. Ia menghela nafas berat sebelum berdecak.

"Manager tak akan melakukannya kalau kau tidak kabur, Dai-chan~"

Matanya yang semula terpejam sontak terbuka. "Aku tidak kabur." Sangkalnya sebelum kembali membungkus manik navybluenya. "Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, tapi―" Ia kemudian meraih pergelangan tangan kirinya, menatapnya.

"Tapi?"

Dai-chan kemudian mengarahkan pandangannya menatap langit-langit mansion. Kulihat ia membuka mulutnya sebelum mengatupkannya lagi. Hening. Merasa tertarik, aku kemudian melangkah mendekat.

"Tapi kenapa, Dai-chan? Ada hal yang membuatmu tertarik?" Tebakku.

Sontak semburat merah menghiasi wajahnya. Aku mengerutkan dahi, memandang lurus padanya, sementara Dai-chan menutup sebagian wajahnya dengan sisi lengan tangannya.

Saat aku menyentuh lututnya memintanya bergeser dan memberiku space untuk berbagi sofa dengannya, ia kemudian bangkit, sedikit mendesis saat menggeser posisinya menjadi setengah duduk dengan kepala bersandar pada sandaran sofa. Kulihat ia mengerjapkan matanya sementara tangan kanannya menggenggam pergelangan kirinya.

"Tanganmu― kenapa?" Tanyaku―masih penasaran.

"Aku― jatuh dari skateboard."

Aku membulatkan mata mendengarnya. "Kau baik-baik saja?! Mana yang sakit, Dai-chan? Aku ambilkan kotak obat―" Aku berhenti menyerbunya dengan pertanyaan saat tangan besarnya menepuk kepalaku. Aku mendongak menatapnya dan sebuah sentilan dari jari-jari panjang itu menyapa dahiku. "Itai! (Sakit!)" Pekikku.

Dai-chan terkekeh sebelum mengulaskan senyum. "Aku baik-baik saja, Ryou. Hanya jatuh terduduk karena oleng setelah menabrak seseorang." Pandangan manik navybluenya menerawang.

"Bagaimana bisa kau menabrak seseorang Dai-chan?" Aku menghela nafas lega―karena pemuda tinggi ini baik-baik saja―sekaligus mendengus kesal―bagaimana bisa dengan bodohnya dia menabrak seseorang saat bermain skateboard?

"Aku menghindari bocah lima tahun yang berjongkok memungut uang koinnya!" Ujarnya membela diri. "Ya, dan dengan bodohnya aku menghindar tanpa melihat ada pemuda―"

Ia menggantung kalimatnya. Aku semakin mengerutkan dahi dan menelengkan kepala saat lagi-lagi mendapati wajahnya bersemu merah.

"―pemuda berambut merah yang berjalan searah denganku dengan kantung besar dalam dekapannya." Lanjutnya. Ia menoleh padaku disebelahnya, menatapku horror. "Sungguh, aku tak melihatnya, Ryou!" Jelasnya seolah ia tahu aku tak mempercayainya. Aku hanya balas memelototinya. "Kemudian― tahu-tahu punggungku menabrak bahu kanannya, aku yang oleng segera melompat turun dari skateboardku menghindari tabrakan yang lebih parah, tapi karena tak seimbang, aku malah jatuh terduduk."

"Lalu― pemuda itu?"

Dai-chan kemudian melanjutkan ceritanya, "Saat aku menoleh, ia sudah tersungkur dengan pipi kanan mencium trotoar sementara barang bawaannya jatuh berserakan. Saat itu yang terlintas dalam pikiranku, apa dia tidak apa-apa? Kurasa aku menabraknya cukup keras. Aku segera bangkit kemudian berhambur kearahnya, berniat membantunya bangun saat pemuda itu mendesis sebelum bangkit dengan kekuatannya sendiri. Aku kemudian memungut beberapa kaleng creamer, ribuan biji kopi yang terbungkus dalam plastik dan menyerahkan padanya."

Aku tak tahu kenapa, Dai-chan berhenti bercerita. Manik navybluenya menerawang jauh sementara pipinya memerah. Aku menyikutnya, "Lalu?" Tanyaku, masih ingin mendengar ceritanya.

Ia menghirup nafas tanpa melepaskannya. "Pandangan pertamaku saat melihat pemuda berambut merah itu adalah―" Lagi-lagi Dai-chan menggantung kalimatnya, membuatku semakin penasaran.

"Kawaii."

Satu kata yang tak pernah kusangka akan diucapkan seorang Aomine Daiki.

"Tapi― saat aku bertanya apa dia bekerja disebuah café, dia tak menjawabku. Saat aku meminta maaf dan mengusulkan untuk mengantarnya dengan membantu membawa barang bawaannya pun ia menghiraukanku. Ia hanya menjawab 'tidak perlu' dengan nada yang bisa kubilang― ketus. Tapi itulah yang membuatku semakin penasaran dengan sosoknya."

Melihat Dai-chan tersenyum seperti itu, aku kemudian menyikutnya. "Ne ne, Dai-chan~ ceritakan padaku seperti apa pemuda itu~"

.

.

*ToBeContinued*

.

.

A/N :

Wah, kepanjangan bikin chapter ini .. Maaaaaafff~~ *bows deeply* ohya, aku ngrasa di chapter 2 ini plotnya rada lambat yak? Fiuh~ Dx tapi ini emang masih pengantar, sembari diungkap dikit-dikit .. Maa, sankyuu udah nemu n baca Labyrinth Memories, minna~ :*

.


.

Hai, you can leave this part, I'll reply reviews on previous chapter :D sankyuu udah mau ninggalin reviewnya~ *peluk satusatu* XDD

ArcSa Reiyu : hhaha wah di pair'in semuanya XDD ne ne, apa nemu pair baru lagi di chapter ini, Rei ? hhehe hai, ini chapter 2 udah di apdet .. sankyuu udah baca yak Rei-chan~ :D

.

Yuna Seijuurou : Ahk, akareguuuuu~~ makasih udah mampir n baca yak~ :D hmm soal pair~ mari kita lihat nanti hhoho smoga juga ada, abis mereka OTP saya sih~ XDD

.

ryuu dearu : ah, nggak papa, kan udah komen langsung juga hhehe XD hhahaha lucu kaaaaannn masa kecil mereka~ aww X3 maaaaafff klo banyak AkaKuro nya .. Mou shiteru jyan, riyuu wa~ *bows* hhe makasih~ idenya juga nongol gitu aja awalnya XD hayooo realisasikaaaannn~~ *plakkplakk* XDD

Hai, udah di apdet chap 2 nya ni~ :D dou omou kanaa ? O: hhahaha yaaah baachan rashii sekali memang dengan yukata begitu~ hhe X3

Hai, ganbarimasu! *u*9 sankyuuuuu~~~ :*

.

SeraphelArchangelaClaudia : hhaha *ikut nari hula-hula* yah, cafe .. err~ begitulah, claudi~ XD

Hhaha hayooo, di chapter ini udah nemuin pairingnya kah? *brasa kuis pke tebak-tebakan* XDD sankyuu udah baca yak, claud~ :D