Do You Love Me?
Cast :
Sasuke 26 tahun
Naruto 16 tahun
Other Cast :
Gaara 17 tahun
Neji 17 tahun
Kushina 34tahun
Kyuubi 20 tahun
Itachi 28 tahun
and many more.
Center Pairing : SasukexNaruto
Disclamier : MK's SasuNaru
Warning : typo, bad writing, bad language, boy x boy, alur gampang ketebak.
Summary : siapa yang tahan hidup dalam ruangan yang hanya bisa melihat hutan, langit dan matahari jika menatap dunia luar. Naruto yang terus menjadi boneka mainan seks oleh seorang laki-laki benar-benar merasa rindu dengan kehidupan ia sebelumnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Naruto? Siapa sebenarnya laki-laki tersebut? [Sasuke x Naruto]
Chapter 2 : "Give Me a Freedom"
Badannya bergetar hebat menatap takut lelaki yang tubuhnya jauh lebih besar darinya. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya membungkam. Oh tentu saja. Kini ia akan kembali merasakan sakit pada sekujur tubuhnya terutama bagian bokongnya. Bukan yang pertama kali, tapi ia tahu kalau lelaki yang tengah menindihnya ini tidak akan segan-segan bermain kasar. Terlebih lagi jika dirinya memberontak sedikit sambal mengeluarkan serapah.
"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku di kantor. Dan aku yakin tenagamu saat ini sudah siap untuk permainan kita Naru-koi" tangan laki-laki tersebut mengelur halus pipi chubby Naruto yang sedikit mengalami memar.
"Biarkan aku pergi" suara Naruto terdengar bergetar.
Ketakutan?
Tentu saja. Jika kalimat yang ia keluarkan mengundang amarah, ia yakin mala mini dirinya akan mendapatkan memar tambahan dan dia akan melakukannya hubungan intim dengan bringas.
"Hemm? Kenapa?"
"Aku ingin bertemu Ka-san dan kyuu-nii, aku ingin bertemu dengan teman-temanku. Aku nggak mau dipenjara ini terus-menerus"
Ya, air matanya kini mulai menitik menggaris diwajahnya.
"Aku sudah mengatakan padamu, kau tak bisa kemana-mana. Lagipula mereka mengganggapmu telah tiada"
Laki-laki dengan wajah stoicnya ini menciptakan kissmark di leher tan milik Naruto dengan kasar..
"Arghhh~"
"Kenapa? Kini kau menyukainya?" seringaian terukir di wajah laki-laki tersebut.
"Tidak! Aku tidak pernah menyukainya! Aku mau pulang!"
Oh tidak, nada bicara Naruto meninggi sambal menatap tajam wajah laki-laki dihadapannya.
BUGH!
Kini terlihat setitik darah di sudut bibir Naruto. Naruto meringis kesakitan. Ia salah menggunakan nada bicara tinggi kepada laki-laki yang masih menindihnya.
"Kau ingin bermain kasar ternyata!"
Laki-laki tersebut bangkit mengbil utasan tali dan menatap horor Naruto. Wajah Naruto kian menunjukkan raut ketakutan. Ya, kejadian seperti malam-malam biasanya. Kejadian sepanjang 4 bulan lamanya.
"Lepaskan aku!" kini Naruto kembali memberontak.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, laki-laki tersebut mengikat dengan kasar tangan Naruto pada tali yang terikat di setiap sisi ranjang. Melawan? Bahkan mencoba mencegah tangannya tetap terbebas ia tak sanggup. Hanya kakinyalah yang masih dapat merasa bebas. Tidak, itu bukan bebas. Ia tau bahwa laki-laki itu akan menyetubuhinya seperti biasa. Menyetubuhi dengan kasar dan makian bahkan meninggalkan memar di tubuh Naruto.
16 tahun. Bahkan umur 16 tahun untuknya kini seperti taka da artinya lagi. Ia sudah ternodai dan kotor. Keperjakaannya hilang sejak 4 bulan yang lalu. Ya, laki-laki brengsek dihadapannyalah yang mengambil keperjakaannya dan mengurungnya tanpa memberikannya kesempatak keluar sedikitpun.
"Meski memar seperti ini kau tetap menarik dan menggoda"
JLEB~
"ARGGHHH~!"
Tanpa melakukan persiapan apapun, masih dengan wajah stoicnya, ia langsung memasukkan miliknya kedalam hole Naruto. Sakit? Tentu saja. Apa yang bisa dilakukan remaja berusia 16 tahun itu? Tentu saja berteriak dan hanya bisa menahan sakit hingga air matanya keluar.
"Sa.. Sa.. Sakit" Naruto berusaha keras menahan sakitnya.
"Diam!"
PLAK~
Oh, tamparan? Ya, sebuah tamparan mendarat di wajah mungil Naruto. Naruto benar-benar merasa benci dengan laki-laki dihadapnnya ini. Naruto merasa hanya sebagai boneka seks untuknya. Merelakan dirinya disentuh setiap malam dengan kesakitan dan kepedihan.
Tanpa memperdulikan Naruto yang mencoba menahan sakit, laki-laki tersebut langsung aksi in-out dengan cepat. Tak taukah kau hai lelaki, kalau peuda dihadapanmu itu erasakan rasa sakit yang teramat.
"Ah… Argh~ Sa… Sa.. Saki… Sakiit. Keluarkaaa … ahh!"
Tangan Naruto menggenggam erat tali yang mengikatnya. Badannya seperti terbanting akan permainan laki-laki brengsek tersebut.
"Ber.. Berhentii~ Aggh~"
"Ahhh~ Ahh"
Ya, laki-laki tersebut terus-terusan menuput G-spot milik Naruto. Oh ayolah. Mungkinkah Naruto perlu memikkirkan keduanya, antara rasa sakit dan nikmat.
Air mata mengalir deras dari wajah Naruto. Ia menginginkan semua ini berakhir.
"Berhenti!"
Sliip~
Terus, memasukkan dan mengeluarkan dengan kasar.
"Arghh~!"
"dank au terlihat menikmatinya" seringainyapun muncul seraya melakukan hal mesum pada bocah 16 tahun tersebut.
"Tid.. ahh~. Aku tidak menik .. ahhhh~"
'Kyuu-nii, tolong Naru' batin Naruto meringis.
Permaina itu cukup membuat Naruto kehilangan tenanganya. Ya, ia kini mulai kelelahan. Ia sudah klimaks sebanyak 5 kali, namun lelaki yang tengah menyetubuhinya ini bahkan belum sekalipun klimaks. Dencitan bunyi dari ranjang yang seidkikt bergoyang terdengar mendapingi suara kesakitan dan desahan Naruto. Ya tuhan, bahkan sampai ranjangpun terbawa dalam gerakan permainan mereka. Bukan, itu bukan permainan mereka, melainkan permainan laki-laki dengan kulit pucatnya.
"Ahhh~ … Ahh… Ahh…"
Sepertinya desahan yang dikeluarkan Naruto justru membuat nafsu laki-laki tersebut meningkat. Terlihat semakin bertamabh kecepatan laki-laki tersebut meng-in-out-kannya. Oh, Naruto nyaris kewalahan.
"Aku..datang Naru"
"Ahhhhh~"
Ya, laki-laki tersebut menanam benih di dalam. Matanya yang masih terlihat datar tanpa rasa bersalah menatap wajah Naruto yang senduh.
"Hah… Hah.. Hah.."
Naruto mencoba mengatur nafasnya kembali.
Laki-laki tersebut mencoba mengeluarkan miliknya dan terlihat cairannya sedikit keluar dari lubang Naruto. Matanya kembali menatap Naruto yang mulai tenang dengan aturan nafasnya. Ya, Naruto tertidur.
Ntahlah, mungkinkah dia tertidur atau terlelap, laki-laki tersebut tampak tak memikirkannya. Yang ia tahu mungkin Naruto harus melayaninya dan mau nggak mau harus tetap melayaninya jika ia memasuki ruangan tersebut.
Naruto tertidur dengan cairan semen yang mebasahi bagian perut hingga pahanya. Ayolah, haruskah ia tertidur dalam keadaan seperti itu?
Laki-laki tersebut mengambil ponsel dari jasnya sambal memakan kembali pakaiannya.
"Ya tuan muda?"
"Karin, bersihkan sekarang!"
"Baik tuan muda"
Sepertinya tanpa menjelaskan apapun, perempuan yang ditelpon oleh laki-laki tersebut sudah mengerti.
"permisi tuan muda"
Dengan segan, perempuan berbaju maid itu masuk ke dalam ruangan tempat Naruto disetubuhi laki-laki tersebut tadi.
"Aku masih ada urusan. Bersihkan, dan jangan lupa mengunci pintunya. Jika kau lupa, maka akupun tak akan lupa memotong kepalamu tanpa segan" ancamnya saat beranjak dari Kasur.
"baik tuan muda"
Perempuan tersebut sedikit menunduk hingga tuan muda-nya menghilang dari pandangannya. Maid bernama Karin tersebut menatap sedih dan miris tubuh Naruto yang tergeletak seperti mayat diatas Kasur.
Dengan hati-hati Karin membersihkan cairan tersebut dari Kasur dan mengganti seprai tanpa membangunkan Naruto. Ia yakin, kalopun Naruto terbangun pasti tidak akan bisa berjalan. Jangankan berjalan, dudukpun akan terasa sakit.
Karin sudah biasa melakukan pekerjaan ini selama Naruto masuk ke dalam ruangan itu. Mengganti seprai yang kotor penuh cairan hubungan intin tuan muda-nya dan pemuda manis tersebut, membersihkan tubuh Naruto dari cairan tersebut pula, hingga menyediakan pakaian ganti. Karin dilarang memakaikan Naruto baju ganti, cukup menyediakannya saja. Tapi, Karin yakin, baju itu akan sangat kebesaran untuknya. Atau mungkin tidak dipakai sama sekali dengannya karena lelahnya yang teramat.
"Aku benar-benar kasihan padamu" Karin memakaikan seliut pada tubuh Naruto yang masih tertidur.
"Pasti orang tuamu sedang resah menunggu dan mencarimu selama 4 bulan ini" Karin meletakkan pakaian baru di tepi ranjang.
Dengan perlahan Karin keluar ruangan, menutup pintu dengan pelan dan tak lupa menguncinya. Ya tuha, jika saja ia lupa menguncinya, ia yakin ancaman tuan muda-nya akan segera terwujud. Mungkin kepalanya akan dijadikan pajangan.
Keesokan hari.
Naru merasa sinar matahari mulai memasuki kamarnya. Ia mengerjap bangun dan mengucek sedikit matanya yang masih terpejam. Ya, pagi datang dan matahari terlihat tengah meninggi. Seperti biasa, saat ia bangun (setelah bercinta –er- diperkosa lebih tepatnya), ia telah mendapati tubuhnya bersih, seprai dan selimut yang ia lihat tadi malam telah berubah. Bahkan tersedia pakaian baru untuknya.
Naruto mencoba duduk namun seperti dugaan Karin, ia tak bisa. Permainan kasar laki-laki tersebut membuat bokongnya sangat terasa sakit. Naruto dengan pelan mencoba duduk dan mengambil pakaian di tepi ranjang. Ia mencoba memakai kemeja. Ayolah, kemejanya saja sudah teramat besar. Narutopun tak sanggup jika harus bangkit dari Kasur dan memakain celana. Ia membiarkan selimu menutupi perut hingga kakinya.
"Aku kangen teman-temanku" setitik air mata mulai menetes kembali di wajah Naruto.
"Apa mereka tidak mencariku?"
Naru's Memory on
"Ohayouuu~"
"Hey Naru-chan, bisakah kau tidak berteriak sekali saja?" gaara mendengus kesal mendengar teriakan kawan kecilnya itu.
"Setiap pagi kelas kau sajikan dengan teriakanmu" shikamaru yang terbangun karena teriakan Naruto turut berdecak kesal.
"maaf Gaara, aku kan Cuma pengen memberikan semangat pagi , ttebayo" cengiran khas Naruto muncul.
"Ck, kau ini. Ada aja alasanu" gaara kebali membaca buku.
"Haha, Gomen ne~"
Naruto menggaruk kepala belakangnya dan duduk di bangku tepat di depan Gaara.
"Hey, kalian tau tidak, a…." tiba-tiba Lee muncul.
"TIDAAAK~" jawab seluruh isi kelas dengan keras dan membuat Lee sweatdrop .
"Baka, aku belum menyampaikan apa-apa" kesal Lee melipat kedua tangannya di dada.
"Kan kau bertanya, kami tau atau tidak?" jawab Naruto menatap Lee innocent.
"urusai, makanya dengarkan dulu"
"memangnya ada apa, hooaaam" Shikamaru mencoba memperhatikan Lee.
"Aku jadian dengan sakura-chan"
"HONTOU?" suara dari kelas tersebut terdengar menggema.
Ayolah, sepagi itu sudah membuat heboh kelas.
"haha, mana mungkin Sakura-chan mau denganmu" ledek Naruto.
"Diam kau. Aku serius, tadi pagi aku baru saja menembaknya. Dan dia langsung menerimaku"
Hari ini hati Lee sedang berbunga-bunga.
"Ya, kalau begitu traktirlah kami makan" Neji yang sedari tadi tak ikut bergeming mulai angkat bicara.
"Boleh, istirahat nanti aku akan mentraktir kalian" jawab Lee bahagia.
"benarkah? Waah Lee, sakura tidak salah memilihmu. Kau memang cocok dengan sakura" Naruto berteriak senang.
Seluruh temannya menatap intens Naruto.
"Ya, aku tau kau mengatakannya karena ingin aku mentraktir ramen untukmu kan?" ledek Lee.
"hehe" cengir Naruto.
Semua temannya memaklumi tingkah Naruto. Pencinta ramen semertinya akan mudah luluh jika sudah ditawarkan ramen, makanan favoritnya.
Naru's Memory Off
Tok.. tok.. tok..
Naruto menoleh kesumber suara. Daun pintu itu berbunyi, mungkin maid Karin membawakan sarapan untuknya.
Ceklek~
Pintu terbuka dan terlihat Karin dengan pakaian maidnya membawakan nampan berisi sarapan. Tak lupa terlihat diluar seorang dengan badan tegap dan tinggi yang terlihat sama seperti laki-laki yang memperkosanya berdiri di ambang pintu. Mungkin menjaga Naruto agar tidak mencoba melarikan diri.
"Sarapan anda Naruto-sama" Karin meletakkan sarapan Naruto di atas meja yang berada disamping ranjang.
Naruto tak membuka suara. Ia hanya menatap sendu seisi ruangan.
"Makanlah, jangan dibuang terus. Tuan muda akan marah jika anda tidak makan. Kalo anda tidak makan, saya khawatir anda bisa…"
"Mati! Ya, yang aku inginkan sekarang adalah mati" nada bicara Naruto meninggi menatap nyalang maid tersebut.
"jangan bicara seperti itu Naruto-sama. Saya tau apa yang Naruto-sama rasakan" Karin berdiri di samping Naruto yang terduduk di atas ranjang.
"kau tidak mengerti, tidak ada yang mengerti. Aku Cuma mau bebas, aku mau keluar dari sini. Ini dimana, bahkan akupun tidak tau ini dimana" air mata Naruto kembali menetes.
"Jangan menangis Naruto-sama. Maaf, saya tidak bisa mebantu apa-apa. Saya tidak bisa lama-lama berada di sini. Saya permisi dulu Naruto-sama"
Karin berjalan pelan meninggalkan ruangan tersebut dan kembali menguncinya.
"Aku benar-benar merasa kasihan padanya Sui" Karin mencoba tetap tenang.
"sudahlah, dia bukan urusan kita. Jika kita berani mengganggu milik tuan muda, maka kita akan kehilangan kepala kita" laki-laki bernama suigetsu menarik tangan hinata meninggalkan ruangan tersbut dan menjauh.
Sedangkan di ruangan itu, Naruto menatap lapar sarapan dihadapannya. Oh tentu saja, saat ini perutnya keroncongan. Rasa lapar mulai menjalar dan ..
Nyam~ Naruto memakan sedikit sarapan tersebut. Omurice dengan segelas susu coklat hangat. Mungkin bisa dilihat Naruto hanya memakan 3 sendok saja untuk menahan lapar sejenak.
Naruto mencoba berjalan dan berdiri di depan jendela yang dapat dilihat serambi ruangan tersebut. Naruto bisa melihat hamparan hutan. Oh, Naruto bahkan tidak bisa menebak itu daerah apa. Yang bisa ia lihat hanya hutan yang dilebati dengan pepohonan.
Jika ia mencoba melarikan diri, haruskah ia hanya berlari mengelilingi hutan tersebut. namun, kemana ia harus berhenti jika ia tidak tahu ujung hutan itu ada di mana.
"orang bodoh macam apa bisa tinggal ditengah hutan sendirian seperti ini?" dengus kesal Naruto.
"kalaupun ada jalan, pasti hanya ada satu jalan menuju keluar hutan ini. Kemanalah ujung hutan ini?" Naruto melipat kedua kakinya dan memandang langit biru seperti matanya sappire yang indah miliknya.
"Aku bahkan tidak bisa melihat apa-apa selain hutan, langit dan matahari" Naruto menatap sayu langit biru tersebut.
"Aku mau bebas, aku mau pergi keluar"
"…"
To Be Continue
Minna, makasih ya sebelumnya udah mau riview. Map, rape nya nggak jago bikin. Cuma sekedar gambaran aja. Nah, buat chapter yang ini gimana? Ini lagi mood banget makanya bisa bikin sampai 2000 word xD, haha. Oh iya jangan lupa review lagi yah, semoga saya dapet semangat dan kemajuan buat chapter-chapter selanjutnya. Sayapun tak tau siapa laki-laki yang sudah mengambil keperjakaannya Naruto, kyaaaa~
