Special thanks to: ku chan, devilojoshi, wonkyuhomintaoria all, Ayame Nakajima, nasusay, Gunchan, Aniez, narunia senju, neko-tan, kkhukhukhukhudattebayo, Dee chan-tik, FBSN yang udah review apalagi nagsih saran yang sangat-sangat bermanfaat, doumo arigatou gozaimasu^^ review lagi ya….
"Apa yang harus kulakukan supaya kau memaafkanku, Naru?" tanya Sasuke membuyarkan pikiran ngawurku. Dari suaranya ia seakan berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dimasa lalu, apakah benar begitu?
"Menjauh dariku!" kataku dingin.
"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" lanjutku dan berjalan meninggalkannya yang tertunduk diam tak bergerak.
'Maaf, Teme, aku tak ingin tersakiti untuk yang kedua kalinya' batinku.
Disclaimer: Masashi Kishimoto Sensei
Pair: SasuNaru
Warning: abal, gaje, typo merajalela, OOC, BL, cerita pasaran, alur kecepatan, de el el
'Forgive me'
Langkah Naruto terhenti di sebuah rumah beraksen minimalis dengan perpaduan cat berwarna hijau dan orange yang menyejukkan mata, rumah kedua orang tuanya. Dengan langkah pasti diayunkannya kaki jenjangnya memasuki rumah tersebut hingga sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Naru-chan~ ibu rindu sekali padamu, nak." sambut Kushina yang langsung menghambur ke arah anak tercintanya. Ia sudah sedari tadi menunggu-nunggu kedatangan sang anak di teras depan rumah.
"Kaa-san… Naru juga kangen." kata Naruto sembari memeluk sang ibu disertai senyum tulus yang terukir di wajah tannya, ia benar-benar bahagia bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya.
"Darimana saja kau, Naruto, harusnya kau sudah pulang dari tadi kan?" tanya seorang pria paruh baya yang begitu mirip dengan Naruto, sang ayah, Minato.
"Hehe maaf tou-san, aku jalan-jalan sebentar."jawab Naruto disertai cengiran khasnya.
"Ya sudah, ayo masuk, Kaa-san sudah masak masakan kesukaanmu." kata Kushina yang langsung menyeret sang anak ke dalam rumah, sementara Naruto pasrah saja diseret-seret sang ibu seperti itu, karena bagi Naruto hal tersebut merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.
"Wah~ Kamar ini sama sekali tidak berubah." gumam Naruto yang saat ini tengah merebahkan badannya di kasur queen size miliknya.
Setelah makan, Naruto memutuskan untuk langsung beristirahat, ia merasa lelah dengan apa yang terjadi di hari pertamanya di Konoha ini.
"Naruto… kau masih belum bisa memaafkanku?" kembali perkataan Sasuke tersebut terngiang-ngiang di pikirannya.
"Aku bukannya tidak bisa memaafkanmu, Suke, aku hanya tidak ingin perasaan ini kembali dan akan kau sakiti lagi seperti sebelumnya" lirihnya.
"Apa yang harus kulakukan supaya kau memaafkanku, Naru?" lagi pertanyaan Sasuke terngiang di pikirannya.
"Kumohon Suke, jangan pernah muncul lagi di hadapanku, jangan lagi pelihatkan gurat sedih di wajahmu itu padaku. Kemana semua cemooh dan sindiran-sindiran yang selama ini selalu mulutmu lontarkan untukku? Kemana perginya kata 'Dobe' yang sering kau sebut itu? Apa ini bagian dari rencanamu untuk menyakitiku lagi?" lirihan demi lirihan meluncur dari bibir mungil sang Uzumaki tersebut hingga akhirnya ia terbawa ke alam mimpi.
Hari yang sama di sebuah apartment elite Konoha.
Seorang pemuda bersurai raven, sedari tadi terlihat duduk di pinggiran jendela kamarnya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun mata dengan iris onyx tersebut tak jua kunjung terpejam.
Bayangan pemuda pirang yang sempat ditemuinya sore ini, tak bisa dikatakan tidak mengganggu pikirannya. Surai pirang yang sama, mata biru sapphire yang menawan seperti yang dulu, kulit tan yang terlihat lembut juga bibir pink mungilnya, tak banyak yang berubah dari pemuda pirang yang ditemuinya tadi, kecuali sikap, yah, hanya sikapnya saja yang berubah, menjadi dingin dan tak perduli lagi padanya, bersikap seolah-olah tidak saling mengenal begitu dekat, Sasuke tidak menyukai perubahan tersebut.
"Akan kulakukan apapun untuk mendapat maafmu, Dobe." Lirih Sasuke dan mulai beranjak menuju kasurnya king sizenya, memejamkan mata, berusaha untuk tidur.
Skip Time
Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang masuk melalui kisi-kisi jendela, serta suara kicauan burung yang menambah semarak sang pagi. Seorang pemuda dengan surai pirang, membuka matanya. Memperlihatkan keindahan sang batu sapphire yang dimiliki maniknya. Mengerjap-ngerjapkan kedua manik tersebut untuk membiasakan matanya dengan cahaya yang masuk, perlahan bangkit dan menuju kamar mandi yang ada di ruangan tersebut guna membersihkan badannya.
.
"Bagaimana tidurmu semalam, Naruto?" tanya sang ayah sembari membaca koran paginya.
"Nyenyak sekali, tou-san, sudah lama aku tidak tidur senyenyak itu." jawab Naruto disertai cengiran rubahnya.
"Wah wah… syukurlah kalau begitu." Kata Kushina sambil meletakkan sarapan yang baru saja selesai dimasaknya di atas meja makan.
"Naru-chan, apa kau punya rencana keluar hari ini?" tanya Kushina pada anak semata wayangnya tersebut.
"Hm… tidak, kenapa?" tanya Naruto.
"Nanti temani kaa-san ya, kebutuhan bulanan sudah habis dan kaa-san harus belanja, kaa-san malas pergi sendiri, kau mau kan menemani kaa-san?" tanya Kushina dengan mata yang bling bling.
"Hm, mengapa tidak. Lagi pula aku masih ingin melihat-lihat kota ini." Jawab Naruto yang di sambut teriakan girang sang ibu, sementara sang ayah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istri dan anaknya, suasana yang sudah lama dirindukannya. Syukurlah, anaknya bisa kembali lagi untuk tinggal bersamanya dan istrinya lagi. Sebenarnya ia sedikit tidak setuju dengan keputusan Naruto untuk pindah sekolah dulu, tapi apa boleh buat Naruto memaksa.
Kriiiiiiingggg!
Jam weker tersebut tak henti-hentinya berdering semenjak sepuluh menit yang lalu. Bunyi keras yang dihasilkan jam tersebut sepertinya tidak sedikitpun mengganggu bagi pemuda bersurai raven yang masih terlelap dalam gulungan selimutnya (dasar kebo lu Sas* di tabok Sasu). Mungkin karena semalam ia tak jua kunjung bisa tertidur.
Kriiiiiiinnnggggggggggg!
Laagi jam tersebut bordering, perlahan tangan seputih porselen tersebut begerak, meraih jam semenjak tadi berdering, mematikannya dan mulai mencoba bangun dari tempat tidurnya. Kepala Sasuke tiba-tiba berdenyut sakit saat ia berniat untuk berdiri. Mungkin pengaruh kurang tidur yang menyebabkan kepalanya sakit seperti itu.
"Ck, sial…." Rutuk Sasuke begitu merasakan sakit di kepalanya tidak berkurang, malahan bertambah.
Kembali dibaringkan tubuhnya di atas kasur king sizenya tersebut dan mulai memejamkan mata lagi. Ia tidak peduli walau hari ini ada jadwal kuliah atau tidak. Oh ya, Sasuke adalah seorang mahasiswa di Universitas Konoha jurusan ekonomi, ia berencana untuk melanjutkaan dan membantu pekerjaan ayahnya.
..
..
"Ne, Naru-chan, bagaimana dengan yang ini?" tanya Kushina pada sang anak. Saat ini ia dan sang anak Naruto, tengah berada di pusat perbelanjaan Konoha. Tampak Kushina sedang sibuk memilih-milih baju yang akan digunakannya untuk arisan mendatang (dasar ibu-ibu) dan sepertinya ia sudah membelot dari tujuan semula yang hanya belanja untuk kebutuhan bulanan menjadi belanja habis-habisan.
"Bagus kok, Kaa-san, tapi menurutku yang sebelumnya lebih cocok."komentar Naruto yang sejak tadi sedikit jengah dengan kelakuan ibunya yang entah sudah berapa puluh kali mencoba berbagai macam baju, tapi belum satu pun yang di pilihnya, katanya sih belum ada yang cocok, hah – alasan.
Setelah selesai dengan segala macam baju, Kushina kembali menarik anaknya ke salah satu restoran yang ada di pusat perbelanjaan tersebut, rupanya memilih-milih baju juga bisa membuat perutnya lapar hingga Kushina memutuskan untuk mengisi perut dulu sebelum kembali berpetualang (baca: berbelanja).
.
Naruto memakan makanan yang di pesannya dengan sedikit cemberut, kenapa? Tentu saja karena sang ibu yang sedari tadi tidak berhenti berbicara tentang apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Bukannya Naruto malas menemani sang ibu, hanya saja, jika ibunya sudah seperti ini, biasanya akan sulit di hentikan, jujur saja, saat ini kakinya sedikit sakit karena berjalan ke sana kemari diseret sang ibu.
Sekelebat bayangan seorang pemuda dengan surai raven, melintas di depan restoran tempat ia dan ibunya makan. Seorang pemuda yang tidak asing. Seorang pemuda berkulit putih porselen dengan mata onyx dan style rambut yang tidak biasa, Uchiha Sasuke.
"Ah, bukankah itu Sasuke… SASUKE-KUN~" teriak Kushina memanggil Sasuke.
Sasuke yang merasa dipanggil menoleh ke arah sumber suara, betapa kaget dirinya begitu mengetahui yang memanggilnya adalah Kushina, ibu Naruto
"Sini." Kata Kushina menyuruh Sasuke mendekat.
'Sasuke POV'
Sudah jam satu siang, perutku terasa lapar, jadilah aku memutuskan untuk makan di luar. Aku benar-benar pusing dan tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kata-katanya kemarin terus saja terngiang-ngiang di telingaku. Perkataannya untuk menjauhinya. Haruskah aku mengikuti apa yang dia inginkan? Menjauhinya? Aku tidak mau. Aku tidak suka berjauhan lagi dengannya. Dua tahun sudah cukup bagiku bertahan menunggunya dan saat ini dia kembali. Haruskah aku menjauhinya? Jawabannya tentu saja TIDAK.
Hari sudah siang, perutku mulai memberontak untuk diisi. Aku memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan di Konoha. Bisa saja aku masak makanan dan memakannya tapi aku sedang malas memasak, jadi kuputuskan untuk makan di luar saja, sekalian mencari buku yang kubutuhkan untuk tugas kuliahku.
"SASUKE-KUN~" terdengar sebuah suara yang memanggilku. Segera ku cari sumber suara tersebut dan mendapati seorang wanita paruh baya dengan surai merah yang masih sangat cantik tengah melambai padaku, dan di sebelahnya terlihat seorang pemuda dengan surai pirang yang sangat kucintai.
"Sini." Katanya menyuruku mendekat.
Dengan perasaan ragu aku melangkahkan kakiku mendekati meja yang di tempati kedua orang tersebut. Aku tahu Naruto tidak menyukai kehadiranku. Itu terlihat dari wajahnya yang jelas-jelas memperlihatkan guratan ketidaksukaan.
"Ne, Sasuke-kun, ayo makan sama-sama" ajak Kushina baa-san padaku
"Hn" jawabku tidak jelas.
"Naruto, kenapa kau diam saja? Kau sudah lama tidak bertemu dengan Sasuke kan?" tanyanya pada sang anak.
"Hehehe… kami kebetulan sudah bertemu kemarin kaa-san" jawab Naruto di sertai cengiran khasnya. Sungguh aku rindu melihat cengiran tersebut.
"Oh… bagus kalau begitu, kau tahu Naru, Sasuke-kun selalu datang ke rumah dan bertanya, baa-san kapan Naruto kembali? Hah~ benar-benar teman yang baik… kau harus bersyukur mempunyai teman seperti Sasuke, Naru-chan" kata Kushina panjang lebar.
"Hm." Tanggap Naruto atas cerita ibunya sambil tersenyum miris.
"Ah, kaa-san ke toilet sebentar, kalian silahkan bicara mengenai masa lalu, oke" kata Kushina baa-san dan meninggalkan kami yang terlihat sangat kontras tersebut.
"Jangan kira aku sudah memaafkanmu" ucap Naruto tiba-tiba begitu aku ingin membuka mulutku untuk berbicara padanya, untuk menyampaikan kalau akku tidak ingin menjauh darinya, aku membutuhkannya.
"Masa lalu heh, apa yang harus di ingat tentang itu?!" lanjut Naruto dengan wajah dingin dan suara rendah, jujur ekspresi seperti itu sangat tidak cocok baginya dan yang paling penting aku tidak suka dia berekspresi seperti itu padaku.
"Naruto… aku…."
"Kau ingin maaf dariku, kan? Kalau begitu, pergi! Dan jangan pernah perlihatkan lagi wajahmu di depanku!" katanya memotong ucapanku. Shock, aku tidak pernah berfikir kalau aku harus mendengar lagi kalimat seperti itu keluar dari bibir mungilnya. Apa yang harus kulakukan… apakah aku benar-benar harus menjauhinya? Bukankah aku sudah bertekad untuk tidak akan pernah menjauhinya?!
"Maaf… sedikit lama…"
'Sasuke POV end'
"Maaf… sedikit lama…" kata Kushina yang ternyata sudah kembali.
"Kalian kelihatan seru sekali tadi, tapi Naru-chan… apa-apaan wajahmu itu?" tanya Kushina begitu melihat wajah datar Naruto.
"Kaa-san… masa begitu saja tidak mengerti sih… lihat bukankah Sasuke selalu berwajah seperti ini? Aku hanya mencoba menirunya" bohong Naruto dan kembali memasang wajah cerianya.
"Kau ini ada-ada saja…" kata Kushina sembari tertawa kecil.
"Cepat habiskan makananmu Naru-chan, kau masih harus menemani kaa-san." lanjutnya dengan nada sing a song.
"Ya… ya…." Kata Naruto sembari melanjutkan acara makannya.
"Ne, Sasuke, kau mau ikut dengan kami?" tawar Kushina begitu mereka selesai makan.
"Terima kasih baa-san, tapi aku ada urusan."tolak Sasuke yang sebenarnya terpikir akan kata-kata Naruto untuk tidak berada di dekat sang pemuda pirang.
Sasuke akan melakukan apa saja untuk mendapatkan maaf dari Naruto, dan ia akan melakukan apa yang dikatakan Naruto padanya… ia akan menjauh dari Naruto. Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang akan menyakiti Naruto lagi. Ya, ia akan menjauh dari Naruto tapi masih akan berada di sekitar Naruto. Ia akan menjaga Narutonya dari jauh hingga naruto mau memberinya kesempatan untuk menjelaskan semua yang terjadi dan meminta maaf atas semua kesalahannya dulu.
'Naruto POV'
Mendengar kaa-san mengajak pemuda di depanku ini untuk ikut pergi bersama kami, membuat hatiku berdenyut tak nyaman, aku takut perasaan yang selama ini kupendam dan berusaha kulupakan akan meluap kembali hanya karena bersamanya seharian ini.
"Terima kasih baa-san, tapi aku ada urusan."tolaknya. Entah kenapa perasaan tak enakku, bukannya menghilang malah semakin menjadi-jadi. Ada sedikit rasa kecewa begitu mendengar penolakannya tersebut. Apakah dia… tidak, hentikan Naruto, apa yang dilakukannya sudah bagus, harusnya kau bahagia dengan penolakannya itu. bukankah dia sudah menuruti kemauanmu?!
Ya, begitu seharusnya….
'Naruto POV end'
Tbc
Yupz… sampai disini dulu ya… maaf kalau kurang seru… jangan lupa review ya^0^/
