Chapter 1: Meeting
.
.
.
.
.
"Ada apa, Kibum hyung?" Jongdae bertanya pada kakaknya yang sedang berkutat dengan laptopnya. Kibum baru saja memanggil adiknya untuk memberi tahu sesuatu. Kibum mengalihkan pandangan dari laptopnya untuk melihat adiknya yang berwajah kesal karena ia panggil itu. Sontak ia tertawa..
"Hahaha. Kalau kau berekspresi seperti itu terus, tidak ada yang mau jadi kekasihmu, lho~" canda Kibum. Melihat adiknya tidak merubah raut wajahnya itu membuat Kibum menjadi canggung. Ia pun berdeham kecil untuk mentralkan suasana. Dan segera menjadi serius. "Ada project baru untukmu, Jongdae."
"Project?" Jongdae membeo.
Kibum mengangguk, "Penerbit memintaku untuk membuat sebuah buku tentang kisah nyata seseorang yang berjuang dalam mempertahankan hidupnya." jelas Kibum. Jongdae mengernyit heran. Kibum dapat mellihat Jongdae yang heran segera melanjutkan penjelasannya, "Okay, kau pasti bingung. Karena ini keluar dari tema penerbit kita yang biasanya. Yah! Kau tahu, kan? Kita selalu membuat buku-buku bertema fantasi. Dan kita dibanjiri surat penggemar, mereka meminta perusahaan kita menciptakan sebuah buku yang berdasarkan kenyataan bukan fantasi. Dan mereka adalah penggemarmu, Jongadae! Kau punya ribuan penggemar di luar sana, mereka memintamu untuk mengarang buku ini. Dan dipastikan buku ini akan laris di pasaran. Karena kau yang membuatnya! Ya ampun~! Jongdae selamat, ya! Kau sudah jadi penulis terkenal sekarang." Kibum berujar senang, ia bangkit berdiri dan langsung menghambur memeluk Jongdae.
"Konyol.." desis Jongdae tepat di telinga Kibum. Mendengar tanggapan dari adiknya itu Kibum melepaskan pelukannya dan menatap Jongdae tajam. Ia tidak suka dengan kata-kata tajam yang dilontarkan Jongdae padanya. Wajahnya menjadi serius, ia kembali duduk di bangku meja kerjanya lagi. Jongdae juga menatap tajam kakaknya itu.
"Aku tidak pernah mengajarimu untuk berbicara seperti itu, apalagi pada orang yang lebih tua darimu! Aku kakakmu. Tapi kau seperti tidak sadar posisimu. Tak tahu kah kau, disini kau yang konyol? Aku muak dengan sikapmu, aku sudah cukup bersabar dan terus-terusan mengalah selama ini. Tetapi, kali ini aku tidak mau tahu. Kau membuatnya atau kau akan tahu akibat-"
"-memangnya kau bisa melakukan apa?! Kau bilang kau kakakku?! Kau tidak lebih dari pria dewasa yang sibuk dengan dunia fantasimu itu! Kau bilang kau selalu mengalah? Padahal yang kau lakukan adalah mengabaikanku demi buku-buku tidak masuk akalmu itu. Dengan seenaknya saja menyuruhku membuat cerita yang tidak masuk akal setelah aku baru saja pulang dari China. Tak tahukah kau betapa lelahnya aku? Dan sekarang kau menuntutku?! Aku juga muak hidup bersamamu, Kim Kibum!" Jongdae mulai meninggikan suaranya.
"Apa?! Beraninya kau berkata seperti itu?! Aku yang mengurusmu selama ini! Tidak bisakah kau bilang terima kasih? Kalau kau lebih suka di China. Mengapa masih kembali ke Incheon? Apa yang tidak masuk akal? Tema seperti kau bilang tidak masuk akal? Semua kata-katamu itu tidak masuk akal!"
"Hah! Di jaman seperti ini semua orang sudah hidup mewah, jika mereka tidak memiliki harta untuk hidup, mereka pasti akan bunuh diri. Jaman seperti ini, mana ada yang mau bersusah payah mempertahankan hidupnya. Bunuh diri saja mudah, mengapa harus sengsara? Benar begitu, kan?" Jongdae menjawab panjang lebar. "Aku keluar dari rumah ini! Aku tidak sanggup. Kau terus-terusan memaksaku mengarang buku. Kau harusnya tahu dengan pasti, hyung. Aku benci semua buku yang dikarang olehmu, olehku, maupun semua pengarang di dunia ini. Mereka hanya berusaha membohongi diri sendiri dan bersembunyi di balik cerita menakjubkan mereka yang palsu. Aku muak dengan kehidupan yang seperti itu, aku berhenti, aku ingin menghadapi dunia ini dengan benar!" Jongdae berjalan keluar tanpa menunggu jawaban kakaknya. Ia membuka pintu kamar hyungnya itu kasar, melangkah keluar, dan menutupnya dengan keras.
Di dalam Kibum mengusap wajahnya kasar. Menjatuhkan diri di bangkunya. "Ya Tuhan.." lirihnya pelan. Ia bangkit dan menuju keluar kamarnya. Melihat Jongdae sudah tidak ada di dalam rumah dan menatap pintu depan rumah yang terbuka. Ia berlari keluar, dilihatnya Jongdae yang sudah berlari menjauh dari rumahnya, "Mau kemana kau, brengsek?!" tanya Kibum dengan keras.
"Menyusul orang tuaku, bodoh!" jawab Jongdae dari kejauhan. Ia melanjutkan larinya dan hilang di tikungan. Kibum membeku. Dicernanya kata-kata Jongdae barusan. Setelah tersadar ia segera berlari secepat yang ia bisa.
"JANGAN KONYOL! SIALAN!" teriaknya di tengah aksinya.
.
.
.
.
.
.
Minseok bersenandung kecil, hujan tiba-tiba saja mengguyur daratan Incheon. Untung saja hujan datang saat dirinya masih berada di pekarangan rumahnya, sehingga ia masih bisa mengambil payung di rumahnya. Dan ia dapat berjalan dengan santai menuju tempatnya bekerja seperti saat ini. Di bawah rinai hujan yang sejuk. Minseok tersenyum kecil. Ia menghirup aroma hujan yang ada. Ia sangat menyukai raoma tanah yang menyeruak setiap hujan turun, karena baginya aroma itu begitu menenangkan.
Jalanan sepi akan orang yang berlalu-lalang. Yang tampak hanya mobil-mobil yang berjalan cepat. Sepi, pasti orang-orang itu tengah duduk santai sambil menyesap coklat panas di depan perapian. Melihat hujan turun lumayan deras saat ini. Mereka pasti malas untuk berpergian di tengah hujan yang membuat suhu menjadi dingin ini. 'Hah?'
.
.
.
.
.
.
"Sialan. Mengapa aku malah berakhir disini?" Jongdae berhenti berlari setelah dirasa ia sudah jauh dari rumahnya. Ditatapnya jalanan kota Incheon itu. Sepi akan pejalan kaki, yang ada hanya kendaraan roda empat yanng berlalu-lalang. Entah sejak kapan hujan mengguyur dengan derasnya. Jongdae tidak menyadari itu. Setelah tersadar ia sudah berada di sini. Perempatan jantung kota Incheon, dengan keadaan basah kuyup. Sayup terdengar jeritan kakaknya yang memanggil namanya di tengah gemuruh hujan. "Hiks!"
Isakan kecil lolos dari mulutnya. Ia segera menutup erat mulutnya dengan kedua tangannya. Iar matanya sudah tersamarkan air hujan sejak tadi. Ia tidak ingin seperti ini, ia tidak ingin menangis, ia ingin hyungnya kembali seperti dulu lagi. Ia ingin Kibum hyungnya yang hangat dan perhatian padanya seperti dulu. Sebelum...
...orang tuanya meninggal.
Ia mengingat kejadian pahit itu lagi. Ia muak dengan bayang-bayang mengerikan itu, diluar dugaan ia malah berlari lurus ke depan dan...
"JONGDAE!" semua gelap setelah ia mendengar jeritan histeris dari kakaknya.
.
.
.
"Hyung..hyung...hyung..." Jongdae meracau, pikirannya kalut. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana keadaan hyungnya itu. Jongdae tak ingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Ia berlari ke tengah perempatan, klakson mobil menggema, dirinya ditubruk seseorang, terpental, dan terbangun di rumah sakit dengan kabar kakaknya dalam keadaan koma. Jongdae bangkit berdiri, menghampiri seorang dokter muda yang baru saja keluar dari ruang rawat kakaknya. "Bagaimana?" tanyanya tidak sabar.
"Maaf Jongdae-ssi. Keadaannya memburuk. Saya telah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain. Kami akan berusaha lebih keras lagi, dan sepertinya anda harus bersabar menunggu kakak anda sadar. Berdoalah untuk yang terbaik bagi kita semua." Dokter itu berujar lirih. Saat itu juga Jongdae melemas, haruskah ia kehilangan kakaknya juga? Setelah kehilangan ayah dan ibunya sekaligus, di tempat yang sama pula? Ini tidak adil untuknya,
"Tunggu, dokter! Kau bercanda, kan? Dia keluargaku satu-satunya. Kau harus menolongnya.. Kumohon. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Oh Tuhan.." Jongdae terduduk di dinginnya lantai rumah sakit itu. Sang dokter tersenyum maklum,
"Kami akan berusaha, tenangkan dirimu.." ia menepuk pundak Jongdae pelan dan berlalu dari sana. Meninggalkan Jongdae yang terisak. Sendirian...
Jongdae berjalan dengan gontai di lorong rumah sakit besar itu. Pikirannya melayang entah kemana, ia berjalan tak tentu arah. Sore itu hujan mulai reda. Tanpa sadar ia sudah berada di halaman belakang rumah sakit. Ia dapat melihat banyak anak kecil dengan pakaian pasien bermain dan tertawa dengan didampingi beberapa perawat. Ia sedikit tenang melihat senyum dan tawa ringan tanpa beban mereka. Kapan ia bisa melakukan itu.
Ia berjalan menuju kursi panjang kosong di halaman luas itu. Pikirannya tidak bisa lepas dari sosok hyungnya yang terbaring lemah di atas ranjang putih yang amat Jongdae benci itu. Bagaimana ia bisa mengalami hal ini dua kali? Jika sebelumnya ia bersama sang kakak yang selalu menemani dan menenangkannya. Lalu, sekarang ia akan bersama siapa? Kakaknya tidak ada di sampingnya, maka ia takkan pernah tenang karena tak ada yang akan membuat tenang dirinya selain kakaknya. Ya, sebelumnya, saat kedua orang tuanya juga terbaring di atas ranjang itu.
Sesaat kemudian, ia merasa kursi yang ia duduki sedikit bergoyang. Ia menoleh ke sisi lain yang kosng dari kursi itu. Seseorang baru saja duduk di sana. Dan Jongdae merasa familiar dengan sosok itu. Ia mengamati wajah familiar itu lekat. Merasa diperhatikan, sosok itu enoleh juga ke arah Jongdae. Saat mereka saling menatap, mereka terkejut, dan sontak berdiri.
"Kau!" pekik Jongdae tidak suka. Sosok itu langsung menunduk, ia takut melihat ekspresi marah Jongdae. Ia segera mengeluarkan sebuah note kecil dan juga pulpen. Ia menulis sesuatu dengan cepat di sana. Lalu menunjukkannya pada Jongdae.
'Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja mengenai kejadian di bandara tempo hari. Aku minta maaf.'
Ia membungkuk berulang kali, Jongdae menatapnya kesal.
"Lelucon apa ini? Memangnya kau tidak bisa bicara sendiri? Apa sullit mengatakan 'Maaf..'?" Jongdae bcara dengan cepat lalu berjalan meninggalkan sosok yang tengah kebingungan menjawab perkataan Jongdae tadi.
Sosok itu berlari, mengejar Jongdae yang sudah berjalan jauh. Ia menarik lengan Jongdae, meminta perhatian darinya.
"Apa lagi?" Jongdae benar-benar kesal.
'Aku Minseok, Kim Minseok..'
Sosok itu menyerahkan note kecil yang sudah ia tulisi pada Jongdae. "Lalu? Apa aku tanya namamu?" Jongdae berkata ketus. Minseok –sosok itu- menulis sesuatu lagi, ia mulai cemas. Air matanya sudah mengenang di pelupuk matanya.
'Maaf.. Aku memang tidak bisa bicara, kuharap kau memakluminya.'
Minseok menunggu tanggapan Jongdae, namun pria itu bergeming. Ekspresinya datar seperti biasa. Tanpa kata ia meninggalkan Minseok..
Yang mulai menangis..
...
.
.
.
TBC
...
...
Balasan review:
Kim Eun Bom : sudah lanjut.. ^^ gomawo udah review..
:Haha, Chen juga my bias. ini sudah lanjut ^^ gomawo udah review,,
: Ini sudah lanjut ya.. gomaawo udah review
Choi Arang : Sudah next, ya ^^ gomawo..
cute voodoo : jadi, saya langka ya? langka mana sama badak jawa? haha.. saya sengaja buat orang kepo, hehe. emang kamu yakin kalau ada yang ninggal? I think there's nothing. wks XD dan ini wordnya udah tambah lho~~ gomawo udah review ^^
Annyeong! Maaf ya, lama.. ini lanjutannya. Maaf masih pendek + ceritanya agak ngawur. Maaf gak memuaskan, Maaf gak bagus.
bahasanya ancur berat. chappie depan deh, Miss Zang perbaiki. Maaf banget lho~
Ohh, iya.. Mau review lagi?
Sign,
Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang
