for KaiHun Lovers
Chapter 2
Niat awal Sehun mengunjungi kantor Chanyeol adalah untuk mengembalikan dokumen ayahnya yang tertinggal di rumah sakit dan berbagi cerita. Namun bagaimana jadinya jika yang menjadi pemeran utama dalam kebimbanganmu akhir-akhir ini malah terlihat sangat mesra dengan orang yang akan kau ajak bercerita? Mati kutu adalah sebutannya. Bahkan Sehun belum pernah melihat Chanyeol beradegan seintim itu dengan siapapun. Termasuk dengan Kai, yang notabennya seorang pria. Sehun melihat sendiri dengan kedua matanya bagaimana ekspresi Kai dan bagaimana Chanyeol dengan asik meremas-remas sesuatu yang berada diselangkangan Kai. Gagal sudah rencana Sehun untuk berbagi cerita dengan Chanyeol.
Sehun berjalan sambil sedikit melamun ke arah lift. Pikirannya penuh dengan kejadian sepuluh menit terakhir. Bagaimana cara Kai tersenyum kepadanya, tangan kekar Kai yang menjabat tangannya, tatapan intens Kai yang seolah mengatakan behwa Sehun adalah miliknya. Kesan pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun memang bisa dibilang sedikit memalukan. Tapi bagi Sehun itu adalah pertama kalinya ia melihat tingkah playful Kai sejak Kai diberi tanggung jawab penuh atas perusahaan yang sekarang ia pimpin.
"Interesting."Kata Sehun pada dirinya sendiri. Sehun memasuki lift dan menekan tombol -1 dimana ia memarkirkan mobilnya. Tidak banyak orang yang menggunakan lift saat ini, karena sebagian pegawai telah menuju kafetaria. Tepat sebelum pintu tertutup, munculah sosok yang sedari tadi menganggu pikirannya.
"Hai Sehun." Sapa Kai dengan senyuman tampan.
"Huh, hai Kai." Jawab Sehun. Ia sedikit kaget karena Kai berada dalam satu lift yang sama dengannya.
"Maaf mengagetkanmu." Kai memiringkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Sehun dengan jelas.
"I'ts fine Kai." Sehun menolehkan wajahnya kearah lain guna menghindari tatapan Kai.
"Apa setelah ini kau akan pulang?" Tanya Kai.
"Iya, aku tidak memiliki jadwal lagi. Jadi sepertinya lebih baik pulang." Sehun terdengar seperti remaja introvert yang hanya memikirkan rumah setelah semua kewajibannya selesai.
"Jika kau tidak keberatan sebenarnya aku ingin mengajakmu ke kafe dekat sini." Tanpa basa-basi Kai langsung mengutarakan maksudnya.
"Memangnya kau tak memiliki hal penting yang harus kau lakukan?" Sehun menatap wajah Kai langsung.
"Aku ada rapat sekitar pukul tiga. Jadi kurasa kita memiliki waktu cukup untuk sekedar minum kopi." Kai mengecek sebentar jam di pergelangan tangannya.
"Aku perlu dibujuk dulu agar mau ke kafe denganmu." Sehun memamerkan senyuman kecil serat akan nada candaan.
"Itu hal yang mudah. Bagaimana jika dengan segelas caramel macchiato dan cheese cake?" Kai menyeringai sambil menatap pantulan Sehun pada cermin di depan mereka.
"Deal." Sehun sedikit kaget dengan tawaran Kai. Entah Kai memang mencari tau tentang dirinya atau hanya tebakan yang beruntung. Senyuman kecil Kai terpantul dari cermin di depan mereka.
Tinggg..
Mereka sampai di lantai -1 yang keseluruhan lantainya digunakan sebagai tempat parkir.
"Dimana mobilmu Sehun?" tanya Kai.
"Di nomor A5." Sehun menunjuk papan berlambang A5 dengan dagunya.
"Aku akan mengantarmu ke mobilmu." Layaknya pria sejati Kai membukakan pintu mobil Sehun untuk Sehun.
"Silahkan." Kata Kai lagi.
"Thank you." Sehun duduk di kursi kemudi dan meletakkan tasnya di kursi penumpang sampingnya.
"Sehun, tunggu aku di sini. Aku akan mengambil mobilku dulu." Kai berujar sambil membungkukkan badan agar bisa mengimbangi posisi duduk Sehun.
"Aku akan menunggumu." Dan Kaipun pergi meninggalkan Sehun. Berselang 4 menit kemudian sebuah mobil Mesereti GrandTurismo berwarna hitam legam dengan kaca kemudi terbuka melewati mobil Sehun. Kai duduk di dalam sana dengan gaya yang sangat elegan memberi kode agar Sehun mengikutinya. Letak kafe yang Kai maksud tidak terlalu jauh dari kantor Chanyeol. 15 menit kemudian sampailah mereka di kafe mewah bergaya Itali bernama Bertucci's .
"Duduklah Sehun." Kai menarik kursi dan mempersilahkan Sehun duduk.
"Thank you Kai." Senyuman disunggingkan Sehun untuk Kai. Pelayan pria itu datang menghampiri meja mereka.
"Ada yang bisa saya bantu?" Pelayan itu tersenyum ramah pada Kai dan Sehun. Atau lebih tepatnya hanya kepada Sehun. Ia menyerahkan dua buku menu dan mengeluarkan sebuah tab kecil untuk mencatat pesanan.
"Americano dan carrot cake. Sehun?" Kai sengaja menyentuh tangan Sehun karena risih dengan pandangan pelayan itu yang sedari tadi selalu mencuri pandang kearah Sehun. Sehun yang merasa sentuhan tangan Kai awalnya sedikit kaget, tapi ia cukup pintar membaca keadaan sehingga Sehun hanya diam saja.
"Caramel macchiato and cheese cake please." Sehun menyebutkan pesanannya dengan lancar.
"Mohon ditunggu beberapa menit." Pelayan itu menyunggingkan senyuman lagi lalu pergi meninggalkan meja Kai dan Sehun. Seperginya pelayan itu, Sehun langsung menarik tangannya dari genggaman Kai.
"Maaf, aku hanya tidak suka cara pelayan itu memandangimu." Jelas sekali Kai merasa terganggu dengan kejadian barusan.
"Aku mengerti Kai. Any way, bisakah kita tidak terlalu formal?" Sehun memang benci aura formalitas yang menyelubungi mereka.
"Aku setuju, lagi pula kita bukanlah orang yang baru kenal dua puluh menit yang lalu." Tawaan kecil keluar dari bibir tebal Kai.
"Kau telah menjadi seorang pria Kai." Sehun mengenang masa kanak-kanaknya bersama Kai. Bagaimana ketika Sehun menangis karena dijaili Kai dan Chanyeol, atau ketika mereka bermain perang bola salju. Semua masih tertata rapi dalam ingatan Sehun.
"Dan kau telah menjadi seorang wanita cantik Sehun." Kata 'cantik' yang disebutkan Kai membuat Sehun sedikit salah tingkah.
"Bagaimana bisa kau sama sekali tidak menghubungiku ketika kau pindah ke Belanda?" tanya Sehun dengan nada sebal.
"Maafkan aku Sehun, waktu itu aku berumur empat belas tahun. Ketika aku telah memiliki banyak teman di New York dan memiliki kehidupan yang aku sukai, tapi aku malah diseret orang tuaku ke Belanda. Mempelajari bahasa yang bahkan aku sama sekali tidak tertarik. Itu semua sangat menyebalkan." Kai menjelaskan sambil mengamati lekuk wajah Sehun.
"Pasti sangat sulit bagimu beradaptasi. Apa lagi saat itu usiamu masih sangat muda." Sehun bisa merasakan kesulitan yang Kai rasakan hanya dengan mendengar ceritanya.
"Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menyesuaikan diri dan menerima kenyataan. Saat itu yang ada di kepalaku hanya tentang pendidikan. Aku tidak memiliki waktu untuk sekedar bermain dengan teman sebayaku. Ketika semua orang tua menginginkan anak mereka melakukan hal yang mereka sukai, maka orang tuaku akan melakukan hal yang sebaliknya." Tawa sumbang Kai menjadi akhir dari cerita singkatnya.
"Lihatlah dirimu sekarang Kai, kau benar-benar hebat. Aku pikir kau tidak sepenuhnya menyesal telah mengikuti semua saran dan tekanan orang tuamu." Sehun mencoba mengambil sisi positif dari cerita Kai.
"Ya, kau benar. Lagi pula aku adalah anak tunggal. Siapa lagi yang akan meneruskan usaha ayahku jika bukan aku."
"Mendengar ceritamu aku jadi teringat tentang Chanyeol. Dia yang selau menuruti keinginan orang tua kami. Sedangkan aku dibebaskan menjadi apapun yang aku mau. Tapi aku bersyukur karena dia melakukannya bukan karena terpaksa." Tepat setelah Sehun selesai bicara, datanglah semua pesanan yang mereka pesan. Pelayan yang sama menyajikan pesanan mereka diatas meja.
"Enjoy your meal." Kata si pelayan kemudian pergi.
"Thanks." Sehun tersenyum manis.
"Aku kembali bertemu Chanyeol saat aku membantu di kantor ayahku. Kami secara tak sengaja bertemu ketika Chanyeol mengajukan kerja sama dengan perusahaan kami. Saat itu aku masih meneruskan masterku." Kai meneruskan ceritanya sambil sesekali meminum americanonya.
"Kalian terlihat dekat." Sehun berkomentar atas dasar kejadian yang telah ia saksikan.
"Ya, kami memang dekat. Maaf mengatakan ini Sehun, tapi aku pikir Chanyeol memiliki masalah mental." Kalimat akhir Kai membuat Sehun tertawa. Seterusnya mereka hanya menceritakan kebodohan-kebodohan yang Chanyeol lakukan. Mari kita berdoa agar lidah Chanyeol tidak tergigit.
Aura musim semi pagi ini sedikit demi sedikit mulai memekat. Sudah tidak ada jalanan yang berbalut es tipis, atau jaring laba-laba yang membeku. Tupai-tupai sudah terbangun dari hibernasi panjang mereka. Pukul 7 pagi Sehun sudah disibukkan dengan jadwal operasinya. Jika sudah menyentuh kata 'operasi' maka bukan tidak mungkin untuk bergelut dengan pisau di pagi buta atau tengah malam sekalipun. Dengan baju biru khas seragam operasi, sarung tangan karet, kacamata, masker dan doctor cap Sehun siap memasuki ruang operasi. Pasiennya kali ini adalah penderita kanker tulang stadium dua. Pihak keluarga pasien memutuskan untuk mengaputasi kaki kiri pasien karena jaringan yang terinfeksi sel kanker sudah meluas. Kanker memang penyakit yang berbahaya dan tidak akan mudah diketahui gejalanya. Operasi memakan waktu kurang lebih 4 setengah jam. Setelah mengganti pakaiannya, Sehun kembali ke ruangannya.
"Kris apa kau memiliki jadwal setelah ini?" Sehun menelpon Kris bertujuan untuk mengajaknya makan siang di kafetaria rumah sakit.
"Jam 1 nanti aku ada operasi Sehun. Maaf jika kau mengajak aku berkencan setelah ini aku ingin menolak baik-baik saja." Kris dengan GRnya mengutarakan pikirannya.
"Asshole, aku hanya ingin mengajakmu ke kafetaria." Sehun memutar matanya.
"Aku akan bersedia ikut denganmu hanya jika kau menjemputku di ruanganku." Kata Kris.
"Kau ini sebenarnya lumpuh atau bagaimana?" terkadang Sehun sangat ingin menampar Kris dengan kitab suci agar ia kembali pada jalan yang benar. Ia berjalan menuju ruangan Kris yang berada pada lantai yang sama.
"sebaiknya kau cepat datang, atau waktu kita akan terbuang sia-sia." Terdengar suara Kris yang sedang menumpuk dokumen.
"Apakah tuan ingin dijemput dengan kereta kuda atau limosin?" Nada sarkastik Sehun terdengar di sebrang sana.
"Ha ha ha kau lucu sekali Sehun Oh." Kris mengucapkannya dengan nada sedatar mungkin.
"What the actual hack Kris, mengapa kau mengunci pintumu?" Sehun mengumpat dengan suara yang dikecilkan agar colega lainnya tidak mendengar percakapan mesra mereka.
"I was doing something private and i dont want to be bothered." Jawab Kris ketika membuka pintu dan langsung berhadapan dengan wajah 'what the hell' Sehun.
"private you said? kau tau, kata privat memiliki arti yang luas. Baik positif maupun negatif." Sehun berjalan di sebelah Kris. Orang-orang rumah sakit sering menggosipkan bahwa mereka memiliki hubungan spesial. Dilihat dari postur tubuh Kris yang tinggi, dengan rambut blonde yang selalu ditata rapi. Dan Sehun yang selalu tampak dewasa, pintar, dan cantik. Bukankah mereka pasangan yang serasi?
"Kuingatkan sekali lagi Sehun Oh yang terhormat, bahwa anda bukanlah ibu saya." Kris mengatakan itu sambil memalingkan wajahnya dari Sehun.
"Aku hanya mengutarakan pendapatku Wu." Kini mereka telah sampai di kafetaria rumah sakit. Di sini memang selalu ramai. Mereka langsung memilih-milih makanan. Sehun dengan sandwich ham and cheese serta jus tomat. Dan Kris dengan croissant dan jus wortel. Setelah membayar mereka menentukan tempat duduk di pinggir dekat jendela kaca.
"Kris, kemarin aku bertemu dengannya." Sehun memulai percakapan mereka.
"NYA? Yang kau maksud tuhan?" Entah bagaimana Kris bisa sebodoh ini.
"Aku bingung mengapa tuhan hanya memberimu otak setengah? Dan bukan Kris. Yang kumaksud bukan tuhan. Tapi Kai." Sehun kembali melahap sandwichnya lagi.
"Kai? Siapa dia?" Kini ganti Sehun yang merasa bodoh. Ia bahkan tidak menceritakan apapun pada Kris.
"Well, aku tau mungkin kau tidak mengenalnya. Ku mohon berpura-puralah mengerti apa yang ku katakan." Kris mengangkat satu alisnya tanda tak mengerti.
"Oke baiklah, yang harus aku lakukan hanya berpura-pura saja bukan. Easyyy." Jawab Kris.
"Aku akan bertemu lagi dengannya hari Sabtu minggu ini. aku tidak bodoh Kris, dan aku mengerti ini bukan perasaan cinta. Tapi orang tuaku menginginkan kami bersama." Sehun berkata jujur kepada Kris.
"Apa dia duda tua kaya raya yang ditinggal mati istrinya?" Sehun tersedak jus tomatnya. Tanpa babibu Sehun berdiri dan berniat meninggalkan meja mereka.
"Sorry sorry okee, just kidding. Apa mereka memaksamu dengannya?" Kris langsung meraih tangan Sehun agar kembali duduk, dan Sehunpun menurutinya.
"Tidak, semua tergantung kepadaku. Aku takut membuat orang tuaku kecewa Kris." Sehun kembali meminum jusnya.
"Ini urusan hati Sehun. Dan itu bagus karena orang tuamu tidak memaksamu melakukan hal ini. jika kau merasa nyaman kau bisa melanjutkan dan jika kau merasa sebaliknya, kau bisa mengatakan padanya baik-baik." Ia terdengar seperti bukan seorang Kris Wu.
"Aku tau Kris. Tapi ini semua bukan hanya tentangku saja. Kai juga memegang peran utama." Sehun berusaha melebarkan pikirannya.
"Kau tidak tau apa yang ia rasakan bukan? Yang bisa menjawab hanya waktu Sehun. Nikmati saja prosesnya." Kris benar. Sehun harus menikmati segala sesuatu yang akan terjadi. Tak perlu memikirkan hal-hal yang membuat pusing seperti memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.
Hari yang melelahkan untuk seorang pengusaha muda yang sedang duduk di belakang meja kerjanya. Nasib 100.000 pegawai yang menjadi tanggung jawabnya membuat ia harus melupakan kata bermalas-malasan dan menggantinya dengan kata kerja keras. Tidak, Kai bukan workaholic. Ia menyukai berlibur, olah raga, pergi ke club, minum dengan teman, dan kegiatan menarik lainnya. Bekerja keras sesuai dengan jadwal yang telah ia susun dengan rapi dan bersenang-senang untuk menghargai hidupnya. Usianya memang bisa dikatakan muda, tapi usia muda bukan berati memiliki kualitas yang buruk.
"Tuan, ini dokumen yang anda minta." Sekertaris bidang pemasaran itu meberikan dokumen yang ia minta.
"Thank you ms. Valburg." Wanita itu meninggalkan ruangan Kai.
"Wil bisa kau ke ruanganku? Oke thanks." tanya Kai memalui telepon kepada Wiliam, sekretarisnya.
"Anda memanggil saya?" Wiliam masuk setelah mengetuk pintu tiga kali.
"Ya, masuklah Wil. Aku perlu menanyakan pendapatmu."
"Tanyakan saja mr. Kim." Wiliam selalu sopan kepada Kai jika menyangkut pekerjaan.
"Jam berapa operasinya hari ini?" Kai tidak memindahkan pandangannya dari dokumen yang berisi segala sesuatu tentang Sehun Oh.
"Hari ini nona Oh memiliki 2 operasi. Yang pertama jam 7 pagi tadi. Dan yang ke dua nanti jam 3 sore." Jawab Wiliam.
"Pukul berapa ia akan selesai pada operasi keduanya?"
"Operasi kecil ini hanya sekitar satu setengah jam. Setelah semua jadwalnya selesai biasanya nona Oh akan langsung pulang jika itu bukan jadwal praktiknya." Jawab Wiliam lagi.
"Baiklah aku mengerti. Aku ingin kau mencari tau tentang Kris Wu. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Sehun. Aku ingin besok pagi setelah rapat dokumen itu sudah ada di atas mejaku." Minta Kai pada Wiliam.
"Baik saya mengerti. Ada hal lain lagi?" Wiliam menyanggupi permintaan Kai.
"Maaf permintaanku akhir-akhir ini sedikit menyebalkan." Bukan hal aneh jika Kai meminta maaf. Sebagai pria sejati, ia selalu menerima kritik dan meminta maaf saat ia meresa merepotkan orang lain atau berbuat salah.
"Tenang saja Kai, sebagai temanmu aku senang akhirnya kau tertarik dengan seorang wanita. Bukan tertarik untuk menidurinya saja." Wiliam mengubah tata bahasanya karena sekarang ia menempatkan diri sebagai seorang teman, bukan sebagai sekretarisnya.
"Aku senang mendengar pendapatmu. Kembalilah, sebentar lagi jam makan siang." Kai menyuruh Wiliam pergi dan Wiliam menurutinya. Ia melirik ke jam tangan mahalnya, pukul 12.30. masih ada waktu sebelum operasi ke dua Sehun dimulai. Ia meraih ponselnya dan menekan beberapa nomor sesuai dengan yang tertera di dalam dokumen bermap coklat itu.
Tuuttt.. tuuttt..
"Selamat siang dengan Sehun Oh." Sehun mengangkat ponselnya sebelum deringan ke tiga.
"Selamat siang Sehun. Aku Kai ngomong-ngomong." Kai menjawab Sehun.
"Kai? Kau.. dari mana mendapat nomorku?" Sehun kaget mendengar suara yang menjawab telponnya. Dan pertanyaan bodoh itu keluar.
"Bukankah kau menyantumkan nomormu pada semacam website konsultasi dengan dokter?" Dusta Kai.
"Ya benar, tentu saja. Ada yang bisa ku bantu Kai?" Sehun merasa amat sangat dungu. Bagaimana mungkin ia melupakan bahwa siapa saja bisa dengan mudah menemukan nomornya dari internet.
"Apa kau sudah menerima bunganya?" Kai tersenyum, meskipun Sehun tidak bisa melihatnya.
"Bunga? Kau yang mengirimnya?" Sehun balik bertanya.
"Kau menyukai bunga pilihanku?" Dengan sengaja Kai tidak menjawab pertanyaan Sehun dan memberinya pertanyaan lain.
"Iya Kai terima kasih. Bunganya sangat indah." Suara Sehun sedikit lebih melembut.
"Syukurlah. Baiklah kalau begitu selamat bekerja Sehun. Dan sampai jumpa hari Sabtu." Kai berdiri dan berjalan menuju jendela kaca ruangannya.
"Tunggu Kai, emmm.. apa aku kelihatan bodoh jika bertanya apakah letak ruanganku juga tercantum di website? Karena aku menemukan buket bunga ini di atas meja kerjaku. Bukan di meja resepsionis." Kai terkekeh kecil mendengar pertanyaan Sehun.
"Tidak Sehun. Letak ruanganmu tidak tercantum di website." Kai semakin tertarik dengan nada penasaran di seberang sana.
"Baiklah Kai, aku tidak akan tanya dari mana kau tau ruanganku. Tapi dari kejadian barusan aku bisa menarik kesimpulan bahwa kau adalah stalker yang handal." Nada candaan Sehun membuat Kai terkekeh.
"Kau beruntung memiliki stalker sepertiku." Kai memandang refleksi dirinya di jendela kaca. Terlihat sosok dengan setelan jas biru dongker dengan kemeja putih dan dasi berwarna abu-abu sedang tersenyum di sana.
"Ahh benarkah? Buat aku selalu merasa beruntung kalau begitu." Sehun gila. Benar-benar gila. Bagaimana mungkin ia mengeluarkan kalimat tantangan itu kepada Kai!
"Kau akan menyukai caraku Sehun. Percayalah." Kai mengeluarkan seringaiannya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada jendela kaca.
"Kau seorang sweet talker yang handal Kai."
"Thank you. Any way, sampai bertemu hari Sabtu miss Oh." Kepercayadirian Kai melejit tinggi.
"Sampai bertemu hari Sabtu mr. Kim." Dan Sehunpun menutup sambungan telponnya.
"Sebaiknya kita segera kembali Sehun. Aku memiiki operasi lain beberapa menit lagi." Kris berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah Kris. Terima kasih atas saranmu barusan. Aku merasa lebih baik." Sehun mengimbangi jalan Kris.
"Bukan masalah Sehun." Mereka menuju ruangan masing-masing. Ketika Sehun membuka pintu ruangannya ia melihat sebuah buket bunga kombinasi yang sangat cantik terletak diatas meja kerjanya.
"Bunga? Siapa pengirimnya?" Sehun bertanya pada dirinya sendiri. Terdapar sebuah kartu ucapan tertempel pada bagian luar buket.
Semoga harimu menyenangkan Sehun.
Hanya itu. Tidak ada nama pengirim. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Sebuah nomor asing tertera di sana.
"Selamat siang dengan Sehun Oh."
"Kai? Kau.. dari mana mendapat nomorku?"
Jawal Sehun hari ini tidak sepadat hari Kamis kemarin. Ia hanya memiliki sebuah operasi kecil pukul 8 pagi tadi. Karena hari ini bukan jadwal prakteknya ia bebas setelah menyelesikan operasinya.
"Hai Bee, kita jadi bertemukan?" Tanya Sehun kepada Baekhyun melalui telepon.
"Tentu saja, aku sedang bersiap-siap." Jawab Baekhyun.
"Baiklah sampai bertemu 30 menit lagi Bee."
"See you there puddin'." Kemudian sambungan telepon diputus oleh Sehun.
Tiga puluh menit kemudian Sehun telah berada di sebuah pusat perbelanjaan mewah. Ia menunggu sahabat sekaligus kekasih dari kakak kandungnya Baekhyun Byun. Sehun menuju sebuah kafe di sudut lantai satu.
"Hai puddin', kau menunggu lama?" Baekhyun muncul dari belakang Sehun.
"Tidak Bee, aku juga baru sampai. Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Sehun sambil memeluk Baekhyun sebagai salam sapaan.
"Berjalan dengan baik. Kadang ada saja orang yang lain yang selalu mencacatimu agar citramu buruk dan orang-orang tidak akan percaya dengan kemampuanmu. Tapi biarkan saja. Mereka semua bisa melihat karya-karyaku untuk menentukan seberapa pantasnya aku menerima kontrak-kontrak kerja itu." Baekhyun duduk behadapan dengan Sehun.
"Pasti awalnya susah sekali menemukan kepercayaan orang lain diawal karirmu. apalagi kau wanita Bee." Sehun menggenggam tangan Baekhyun di atas meja.
"Pada awalnya mereka selalu meremehkan kemampuanku krena aku seorang wanita. Tapi lambat laun setelah mereka melihat hasil kerjaku, mereka berbondong-bondong menawariku proyek-proyek baru. " Baekhyun menjelaskan sedikit bagaimana perjuangannya dulu.
"Baiklah ibu arsitek. Anda sangat hebat. Apa yang ingin kau pesan? Aku akan mentraktirmu." Sehun membuka buku menu.
"Wahh sombong sekali ibu dokter ini. Aku ingin iced coffee saja Puddin'." Baekhyun mengerling nakal pada Sehun.
"Aku hanya mentraktirmu kopi seharga sembilan dolar Bee, bukan sejuta dolar." Sehun memutar matanya dan tawaan kecil Baekhyun jadi balasannya.
"Aku akan memesan dulu kalau begitu." Sehunpun pergi untuk memesan.
"Kau akan pergi kepesta itu dengan Chanyeol bukan?" Tanya Sehun sambil membawa 2 gelas iced coffee.
"Tentu saja, aku bukan seorang jomblo Sehun Oh."
"Dasar, aku doakan kalian putus." Sehun beraksi dengan mulut pedasnya.
"Kau!" Baekhyun menahan suaranya agar tidak menarik perhatian.
"Jadi kemana kita setelah ini Bee?" Sehun mulai mengalihkan pembicaraan mereka.
"Dress seperti apa yang kau inginkan?" baekhyun kembali bertanya.
"Aku hanya ingin sesuatu simpel yang cantik dan anggun." Jelas Sehun sambil meminum kopinya.
"Kau jelas ingin terlihat memukau di depan Kai bukan?" Selidik Baekhyun.
"Gosh Bee! Apa-apaan kau ini." Sehun memutar matanya lagi.
"Jadi benar Sehun?"
"Apanya yang benar! Bukankah aku selalu tampil cantik." Sehun terdengar sedikit kesal.
"Kau ini ya, seharusnya kau tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Pilihlah dress yang seksi dan menrawang agair Kai tergoda padamu dan mau tidur denganmu." Sehun sangat ingin mencekik Baekhyun saat ini. Bagaiman mungkin Baekhyun sama menyebalkannya dengan Chanyeol?
"Kau perlu mengunjungi gereja Baekhyun. Mintalah kepada Chanyeol untuk ditemani." Sehun tak menanggapi celotehan Baekhyun.
"Jika suatu saat nanti kau telah melakukannya dengan Kai, beri tau aku seberapa besar miliknya." Baekhyun memajukan badan untuk berbisik kepada Sehun.
"Baekhyun! Kau gila!" Dan Sehunpun secara tak sadar berteriak.
"Baiklah aku diam, aku diam." Dengan sedikit bentakan akhirnya Baekhyun bisa ditenangkan. Setelah mereka menghabiskan minuman mereka, Sehun dan Baekhyun pergi untuk berbelanja. Pilihan yang tepat jika Sehun mengajak Baekhyun belanja. Sebagai shopaholic sejati, tentunya Baekhyun langsung mengindahkan ajakan Sehun. Mereka mengitari blok demi blok, memasuki toko pakaian satu per satu. Memilih pakaian yang sesuai dengan selera mereka, lalu sepatu yang senada, dan tas jinjing elegan yang menjadi sentuhan akhirnya. Sehun berdiri di depan kaca di dalam ruang ganti outlet dior bersama Baekhyun.
"Kita cantik sekali puddin'." Baekhyun mengatakan dengan wajah bangganya.
"Ya, kau terlihat memukau Bee. Warna putih memberi kesan bahwa kau gadis baik-baik. Penyamaran yang bagus Byun." Balas Sehun sambil memutar-mutar badannya untuk melihat detail dari gaun pestanya.
"Aku memang gadis baik-baik sehun." Baekhyun memberi jeda sebentar,
"Sebelum bertemu dengan kakakmu." Dan mereka berduapun tertawa.
"Tapi sepertinya dress ini bukan tipeku Bee."
"You look pretty and innocent puddin'. Warna peach sangat cocok dengan kulitmu." Sanggah Baekhyun.
"Tidak Bee, aku ingin sesuatu yang berwarna gelap. Aku akan melepas dress ini." Baekhyunpun menyerah. Jika memang Sehun tidak ingin meskipun tampilannya sangat cantik mau bagaimana lagi. Baekhyun memutuskan untuk membeli dress putih tadi dengan sepatu berhak 10 senti. Mereka melanjutkan lagi acara belanja ke suatu brand ternama. Balmain.
"Gosh, ini surga puddin'." Baekhyun terlihat terpukau dengan gaun-gaun pesta yang terlihat sangat menyenangkan mata.
"Kau, carilah sesuatu yang kau inginkan Bee." Sehun langsung berjalan kearah dress section. Setelah berkeliling. Sehun memutuskan pilihannya pada sebuah mini backless dress berwarna hitam yang menunjukkan seengah dari punggunggnya. Simpel dan mewah.
"Wow puddin', you look gorgeous." Baekhyun melihat gaun pendek yang menempel sempurna pada tubuh sehun, mempertunjukkan kesempurnaan lekuk tubuh wanita itu.
"Aku yakin Kai akan langsung menawarimu ranjang." Kembalilah pikiran liar Baekhyun beraksi.
"Mengapa yang ada di pikiranmu hanya ranjang sih Bee?" Sehun turut prihatin dengan keadaan psikis Baekhyun yang menurutnya semakin parah.
"Kau harus mencobanya puddin', dan aku jamin kau akan menyukainya."
"Aku kagum dengan Chanyeol. Bagaimana bisa ia mengubah gadis lugu sepertimu dulu jadi seperti ini? kalian harus dibaptis lagi." Baekhyun hanya tertawa mendengar penuturan Sehun. akhirnya jadwal belanja mereka berakhir. Baekhyun dengan white mini dress, sepatu berhak tinggi, dan sebuah tas jinjing berwarna silver. Dan Sehun dengan mini backless dress berlengan panjang, ia telah memiliki sepatu dan tas jinjing yang cocok dengan mini dress yang baru saja dibeli. Jadi menurutnya tidak perlu membeli lagi.
Pukul 18.00 adalah waktu yang paling ditunggu bagi para pekerja di Golden Group. Mereka akan bergegas mengemasi dokumen masing-masing dan segera menuju tempat parkir. Tapi tidak bagi CEO mereka. Pria itu harus merelakan waktunya yang berharga untuk menangani beberapa masalah di kantor cabang Italia. Ia terpaksa harus turun tangan untuk membetulkan hal yang salah, dan memecat beberapa orang tentu saja. Bekerja di Golden Group berarti mereka harus siap bekerja dalam tekanan, dan jika seseorang melakukan kesalahan sekecil apapun, maka ia harus siap menerima semua konsekuensinya. Kesalahan sebagai pelajaran dan hukuman sebagai cambukan.
Di sebuah jet pribadi milik seorang mengusaha muda.
"Wil, jam berapa lama lagi kita akan sampai di New York?" Kai mengurut pelipisnya.
"Sekitar 20 menit lagi mr. Kim." Wil mengaitkan tangannya didepan badannya.
"Apa aku memiliki sesuatu yang penting minggu depan?" tanya Kai lagi sambil meneguk segelas air putih. Wiliam mengeluarkan ponselnya untuk mengecek beberapa data.
"Hari Senin akan ada rapat dengan pengusaha Jerman yang akan menyediakan kita transportasi. Hari Selasa Anda harus ke LA untuk meninjau lapangan. Hari Kamis anda akan menghadiri pembukaan cabang Golden Group di Denmark. Itu adalah jadwal penting anda untuk minggu depan. Anda memiliki beberapa rapat dengan dewan direksi tapi sifatnya bisa ditunda. Tapi saya harap anda tidak menundanya, atau jika tidak jadwal anda akan menumpuk dan akan mendesak jadwal lain yang sudah ditata." Ia memasukkan ponselnya kedalam sakunya.
"Terima kasih Wil. Tolong siapkan semua data yang aku butuhkan untuk rapat direksi. Hari ini juga kirim ke e-mailku."
Ladies and gentlemen, shortly we will be landing at the JFK international airport, the time difference between Italy and United States is 4 hours. We invite to you to return to your seat each, upholding the back of the chair, close and lock the little tables that are still open in front of you, and tighten the seat belt. Thank you.
"Baik mr. Kim." Wiliam kembali ke tempat duduknya. Pesawat mendarat dengan mulus tanpa gangguan apapun. Setelah sampai di bandara Kai dijemput oleh supir pribadinya.
"Langsung ke rumah saja Andrew." Kai sangat lelah tentu saja. Ia menyandarkan punggungnya dan menutup matanya. Berniat untuk tidur walaupun beberapa menit. Setelah sampai di apartemennya Kai langsung mandi, mengganti pakaiannya dengan baju santai dan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur sambil menyandar pada head bednya. Ia meraih ponselnya di atas nakas lalu mendial beberapa nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.
"Hai Sehun apa aku mengganggumu?" Kai berharap jika berbicara dengan sehun akan menjadi hal baik pertama yang terjadi di hari yang melelahkan ini.
"Hai Kai. Tidak, kau tidak menggangguku. Aku sedang bersantai." Suara Sehun selalu tenang, sehingga sangat mudah untuk Kai membaca bagaimana sifat asli seorang Sehun Oh.
"Bersantai pada pukul 10 malam?"
"Ya, Baekhyun kekasih Chanyeol berkunjung ke apatemenku. Dia baru saja pulang, dan aku baru saja selesai membersihkan kekacauan yang kita buat." Sehun berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
"Sehun aku tidak pintar dalam berbasa-basi, besok maukah kau ku jemput?" Kai menggigit bibirnya karena ia pikir ia terlalu terburu-buru dalam pendekatan ini. Terdengar jeda beberapa detik sampai akhirnya Sehun menjawab ajakan Kai.
"Aku pikir tidak ada salahnya Kai. Aku akan mengirimu alamat apartemenku." Jawaban Sehun membuat Kai lega.
"Baiklah Sehun. Terima kasih karena mau kujemput." Terdengar suara kekehan kecil Sehun dari saluran telepon.
"Terima kasih karena telah menawariku jemputan Kai." Balas Sehun.
"Sama-sama. Tidurlah Sehun. Besok aku akan menjemputmu jam 7 malam."
"Aku akan menunggumu. Kau juga tidurlah Kai."
"Selamat malam Sehun." Kai tersenyum.
"Selamat malam Kai." Dan Sehun juga tersenyum.
18.45 pm.
Sehun terlihat sangat cantik dengan pakaian yang ia kenakan. Black tight backless mini dress berlengan panjang, kalung chocker hitam bermandal berlian, tas jinjing berwarna hitam berkilau, dan sepasang high heels keluaran terbaru menyempurnakan penampilannya. Riasan yang tidak terlalu tebal, bibir yang dibubuhi lipsstick berwarna velvet teddy dan rambut yang digulung keatas membuat tampilannya sangat sempurna. ia melihat tampilannya di depan cermin.
"Perfect." Kata Sehun pada dirinya sendiri.
Beeepppp...
Bel rumah Sehun berbunyi. Ia melirik jam tangannya. Pukul 19.00.
"Kaii.." Sehun menyambar bingkisan kecil berisi sepasang anting-anting emas yang akan ia berikan kepada Esther. Ia bergegas menuju pintu dan langsung membukanya. Sehun terpaku dengan penampilan Kai. Setelan jas berwarna abu-abu tua dan sebuah sweater polos berwarna hitam melekat sempurna di tubuh Kai. Dada bidang itu seolah memanggil untuk disandari. Jangan lupakan tatanan rambut Kai. Masih jelas di ingatan Sehun beberapa hari lalu saat mereka bertemu. Rambut itu ditata rapi dengan pomade yang membuatnya terlihat classy. Tapi saat ini, tatanan itu berubah total. Undercut yang tidak terlalu tipis, dengan sedikit gel ia menata rambutnya kearah kanan dan menyisakan perpotongan dengan rambut-rambut pendek di bagian kiri.
"You are looking amazing miss Oh." Kai sama terpakunya dengan Sehun. Senyuman tampan itu selalu menghiasi bibirnya.
"So are you mr. Kim." Sehun berpendapat jujur tentang penampilan Kai.
"Are you ready?"
"I'am ready mr. Kim." Sehun dan Kai berjalan beriringan. Semua mata tertuju pada keduanya tatkala berpapasan dengan orang lain. Mereka sampai di basement tempat Kai memarkir porchenya, ia membukakan pintu untuk Sehun.
"Thank you mr. Kim." Sehun berkata sopan kepada Kai, dan Kai hanya tersenyum sebagai balasannya. Kai berjalan cepat menuju pintu lainnya dan segera duduk di kursi kemudi. Kai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati lalu lalang kota New York yang tak pernah sepi. Sehun mencium aroma maskulin dari parfum yang Kai gunakan, aroma segar yang membuatnya ketagihan.
"Kau sangat cantik Sehun." Kai membuka suara untuk pertama kalinya.
"Terima kasih Kai. Aku menyukai tatanan rambut barumu." Sehun tersenyum menghadap Kai.
"Kau membuatku lebih percaya diri Sehun, thanks. Aku pergi ke salon siang tadi." Balas Kai. pandangannya sesekali melikir kearah Sehun tapi kemudian ia memfokuskannya lagi pada jalanan.
"Kau terlihat lebih muda dengan rambut itu." Sehun memuji Kai lagi.
"Maksudmu bisanya aku terlihat tua?" Goda Kai pada Sehun.
"Bukan begitu, biasanya kau terlihat rapi dan classy. Tapi sekarang kau terlihat trandy."
"Aku senang dengan saran pekerja salon tadi, karna dia aku mendapat pujian bertubi-tubi dari wanita cantik di sampingku." Sehun tersipu mendengar kalimat Kai.
"Sehun, setelah kita sampai nanti bisakah kau tetap bersamaku? Kau tau kan, pasti akan banyak tamu yang datang dan pasti mereka akan terpesona padamu. Katakanlah aku egois, tapi aku tak ingin pria lain mendekatimu." Sehun terpaku mendengar ucapan Kai. Banyak hal tersirat dalam kalimat-kalimat itu.
"Baiklah aku akan menemanimu." Sehun tersenyum samar. Dan Kai sangat lega mendengarkannya. Dua puluh menit kemudian sampailah mereka di sebuah hotel bintang lima di daerah 5th avenue tempat pesta itu diadakan. Kai dan Sehun berjalan bersama memasuki ballroom 2 lantai dengan desain yang sangat mewah. Meja bundar ditata dengan kursi yang mengelilinginya disiapkan untuk para tamu. Sebuah panggung yang memuat grand piano hitam, serta pemain-pemain alat musik klasik lainnya dan sebuah kue ulang tahun yang besar dan mewah. Semua mata tertuju pada sepasang insan yang terlihat sangat serasi. Mereka sangat sempurna.
"Sehun, ibuku di sana." Kai menunjuk seorang wanita yang hari ini genap berumur 55 tahun.
"Hai nyonya Kim. Selamat ulang tahun." Sehun memeluk Esther sebagai salam. Dan memberikan bingkisan yang telah ia siapkan.
"Terima kasih Sehun sayang. Apa kau datang bersama Kai?" Esther bertanya kepada Sehun karena melihat Kai yang berdiri di samping Sehun.
"Iya ma, aku menjemput Sehun." Kali ini ganti Kai yang memeluk Esther dan memberikan bingkisannya.
"Selamatu ulang tahun ma." Kai mencium pipi ibunya.
"Terima kasih sayang. Kalian tidak tau betapa senangnya mama melihat kalian mulai dekat." Eather tersenyum bahagia sambil memegang lengan Kai dan Sehun.
"Sehun kau sangat cantik sayang. Kau terlihat lebih dewasa dan elegan." Esther menyentuh pipi Sehun.
"Terima kasih nyonya Kim."
"Tidak, panggil aku Esther sayang."
"Baiklah, terimakasih Esther." Sehun tersenyum kepadanya.
"Selamat malam tuan-tuan." Sapa Kai kepada kolega-koleganya.
"Kai, bergabunglah sebentar bersama kami." Oscar menyodorkan segelas wine kepada Kai.
"Biarkan Sehun bersama mama, tidak akan ada yang berani menyentuhnya. Semua orang tau ia milikmu Kai." Goda Adam karena Kai sempat melirik Sehun ketika Oscar menawarinya untuk bergabung.
"Baiklah. Aku tak akan lama Sehun." Kai tersenyum kepada Sehun dan bergabung dengan para pengusaha lain.
"Nak kau sudah datang?" Suara Lilly terdengar.
"Iya ma, Kai menjemputku." Sehun memeluk Lilly.
"Kalian sangat serasi. Ya tuhan, keinginan kita akan segera terkabul rupanya." Lilly tersenyum kepada Esther dan menggenggam tangannya.
"Kau benar Lilly. Kau tau Sehun, aku tak pernah melihat Kai setertarik ini kepada seorang wanita tiap kali menghadiri pesta. Ia cenderung akan berbaur dengan pengusaha-pengusaha lain ketimbang kesana-kesini tebar pesona." Esther terlihat sangat bersemangat. Sehun sedikit besar kepala mendengar penuturan Esther.
"Ahh, bahkan ketika kalian berjalan bersama memasuki ballroom barusan, semua orang langsung berbisik karena selama ini Kai lebih memilih menghadiri pesta sendirian." Tambah Esther.
"Esther aku berharap banyak pada putramu." Lilly tersenyum.
"Emm, kami hanya berjalan bersama. Lagi pula kami juga masih berteman biasa." Sehun merasa tidak nyaman dengan bahasan kali ini. Ia mengedarkan pandanganya dan menemukan Baekhyun sedang berjalan ke arahnya.
"Hai Bee." Sapa Sehun, ia memeluk Baekhyun sebentar.
"Puddin' as i've told you. You look pretty." Baekhyun memandangi Sehun dari atas sampai bawah.
"Terima kasih Bee. Ayo kita berkeliling." Ajak Sehun dan langsung disetujui Baekhyun.
"Kalian bersenang-senanglah." Ucap Lilly sebelum mereka pergi. Mereka mengambil segelas white wine yang dibawa oleh pelayan lalu berkeliling.
"Dimana Chanyeol?" tanya Sehun.
"Dimana Kai?" pertanyaan Sehun hanya debalas pertanyaan yang sama oleh Baekhyun.
"Kai sedang berbicara dengan tamu-tamu lain." Jawab Sehun.
"Chanyeol sedang berbicara dengan tamu-tamu lain." Balas Baekhyun.
"Jadi, ia menjemputmu kan?" Baekhyun duduk di sebuah kursi kosong yang disusul oleh Sehun.
"Ya, kemarin malam ia menelponku dan mengatakan jika ia ingin menjemputku. Dan aku menyetujuinya." Sehun meminum sedikit winenya.
"Ahh.. di situ kau rupanya. Acara akan dimulai Sehun. Sebaiknya kita ke depan." Kai muncul dari samping Sehun. Ia meraih tangan Sehun untuk membantunya berdiri.
"Hai Baek, Chanyeol mencarimu." Kai menyapa Baekhyun dengan pelukan singkat.
"Ahh, pangeranku. Aku harus segera menemukannya." Baekhyun melirik Sehun dengan senyuman jahil.
"Bersenang-senanglah kalian berdua." Lanjut Baekhyun.
"Ia sama menyebalkannya dengan Chanyeol." Kata Sehun pada Kai. Mereka berjalan lebih ke depan. Disana berdiri Esher dan Oscar dengan sebuah kue raksasa berbentuk istana. Benar-benar cantik.
Oscar memberi pidato pembukaan singkat pada seluruh tamu yang hadir, kemudian pembawa acara memimpin doa lalu memasuki acara selanjutnya yaitu harapan-harapan yang diutarakan Esther. Dan memasuki acara inti semua menyanyikan lagu ulang tahun untuk Esther. Kemudia acara diakhiri dengan memotong kue. Para undanganpun dipersilahkan mencicipi hidangan yang telah disiapkan. Sehun memilih spageti aglio ollio dan Kai memilih risotto salmon. Mereka duduk bersama chanyeol, baekhyun, Lilly, Adam, Oscar dan Esther di sebuah meja bundar.
"Aku senang kita bisa berkumpul lengkap." Ucap Adam.
"Aku juga begitu." Jawab Lilly dan Esther bersamaan, kemudian mereka tertawa.
"Baiklah, selamat makan." Kata Esther dan dibals oleh yang lainnya.
"Kalian menikmati hidangannya?" Tanya Adam kepada semua orang.
"Ini benar-benar lezat Adam." Sahut Chanyeol.
"Acara ini sangat sukses. Lain kali aku akan mengundang kalian makan malam bersama." Jawab Lilly.
"Aku akan sangat menantikannya Lil." Kata Esther. Pelayan datang mengambil piring-piring kosong dan menawarkan lagi minuman. Alunan piano dan biola mengalun dengan sangat merdu. Semua orang terlihat kagum dengan pesta mewah ini. Tak terkecuali Sehun.
"Baiklah, sekarang waktunya kita berbincang-bincang dengan tamu lain. Kalian sebaiknya juga membaur." Oscar berdiri dari tempat duduknya, menggandeng tangan Esther lalu permisi pergi.
"Kau ingin mencari udara segar?" tanya Kai kepada Sehun, dan diangguki Sehun sebagai jawabannya. Mereka berjalan ke lantai dua dimana terdapat balkon besar dengan pintu kaca tertutup. Mereka berhenti di sebuah bar, Sehun dan Kai duduk di sana.
"Pestanya sangat meriah Kai." Sehun memulai pembicaraan.
"Ya, Sehun. Kemanapun kau berjalan, mereka akan selalu memandangmu." Kai mengedarkan pandangannya kepada pria-pria yang sedari tadi memandangi Sehun.
"Bukankah itu wajar jika mereka melakukannya? Mereka normal Kai." Jawab Sehun.
"Itu membuatku sedikit protective padamu Sehun." Kai menoleh pada Sehun dan mendapati wajah Sehun yang memerah.
"Aku seorang wanita dewasa Kai."
"Ya Sehun, dan wanita dewasa ini harus dilindungi dari tatapan-tatapan pria yang menginginkannya. Kau tidak tau apa saja yang bisa mereka lakukan Sehun. Mereka bisa saja menyakitimu." Sehun menatap Kai.
"Lalu bagaimana bisa aku yakin bahwa kau tidak akan menyakitiku?" Ucapan Sehun seolah mengembalikan Kai dari amarah tipis yang sedari tadi meliputinya.
"Aku tidak akan menyakitimu Sehun. Mungkin sulit bagimu percaya padaku. Tapi saat ini yang ada di kepalaku hanya kau. Kau benar-benar hebat." Kai tersenyum pada akhir kalimatnya.
"Aku tak tau disebut apa hal ini, dan aku tak peduli dengan sebutanya. Yang aku tahu hanya bahwa aku sangat menyukai hal baru ini." Kai menatap Sehun lekat.
"Kai aku tak tau harus menjawab apa. Tapi apapun yang kau lakukan kumohon jangan membuatku takut." Sehun membuang wajahnya kearah lain karena pandangan Kai yang tajam.
"Kau akan terbiasa Sehun." Kai menggenggam jemari Sehun.
"Kai, aku ingin pulang." Sehun memandang Kai lagi.
"Baiklah kita pergi." Kai menggenggam jemari Sehun erat seolah mengatakan pada orang lain bahwa Sehun hanyalah miliknya. Sedangkan Sehun hanya menurut saja karena sebenarnya ia merasa risih ketika pria-pria itu terus menerus menatapnya. Dua puluh menit perjalanan mereka lewati dengan sedikit melamun dan sedikit obrolan. Pukul 22.08 sampailah keduanya di basement apartemen Sehun. Kai membukakan pintu untuk Sehun.
"Terima kasih Kai." Ketika Sehun mundur beberapa langkah untuk memberi akses Kai menutup pintu, ia malah tersandung pembatas area parkir yang mengakibatkan nya bertabrakan dengan dada bidang Kai.
"Kau tak apa?" Tanya Kai sambil membalikkan badan Sehun. Jarak mereka sangat dekat, Sehun memundurkan badannya dan mengangguk. Wajah Kai berkali lipat lebih tampan dari jarak sedekat ini.
"Sehun, aku menahannya sejak pertama kali melihatmu hari ini, dan aku tak mau melakukannya karena aku tak mau menghancurkan lipsstickmu. Tapi maafkan aku kali ini." Kai mendekat dan langsung melumat bibir Sehun. Lumatan yang sangat lembut. Tidak ada unsur tergesa-gesa sama sekali. Sehun kehilangan keseimbangannya, hatinya tak kuasa menahan degupan yang menggila ini. Kai lingkarkan tangan Sehun ke lehernya dan ia meletakkan tangannya mengelilingi pinggang ramping Sehun sambil sesekali mengusap punggung yang tak tertutupi kain itu. Sehun tak membalas ciuman Kai, ia hanya menutup mata dan menikmati perlakuan Kai kepadanya. Kai terus melumat bibir plum Sehun, menggigit, menyesap, dan menyapunya dengan lidah hingga pada akhirnya Sehun membuka mulutnya diluar sadar. Kai menelusupkan lidahnya dalam rongga mulut Sehun. Menyesapi lidah dan bibir Sehun bersamaan. Hingga akhirnya Sehunpun membalas perlakuan Kai. Ia menggerakkan lidahnya dan menyesuaikannya dengan tempo yang telah Kai atur. Mereka saling melumat dan menelusuri tiap lekuk bibir masing-masing. Sehun terlena dengan permainan Kai. Sehun mengeratkan pelukannya pada leher Kai dan menariknya lebih dekat. Ciuman itu berlangsung lama, suara kecipakan terdengar jelas. High heels Sehun memberi keuntungan kali ini. Kai tak perlu menunduk untuk meraih bibir Sehun. Sehun merasakan usapan lembut jari Kai pada pingganggnya berubah tempo. Kai menggelitikinya sampai Sehun melepaskan pautan bibir mereka dan tertawa lepas.
"Kai berhenti kumohon." Sehun terus tertawa sambil menggeliat dalam pelukan Kai.
"Aku tak akan berhenti sampai aku puas menggelitikimu." Kata Kai sadis.
"Aku akan membalasmu." Timpal Sehun lagi, tapi Kai masih terus menggelitikinya.
"Aku tak takut." Kai ikut tertawa melihat pergerakan Sehun yang menggeliat berusaha melepaskan diri. Hingga akhirnya Kai berhanti dan lebih memilih memeluk Sehun dengan erat.
"Sebenarnya aku tak ingin berhenti dan kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali. Tapi aku tidak ingin kehilangan kontrol dan merusak apa yang sedang kita bangun." Kai menciumi rambut dan telinga Sehun.
"Aku mengerti Kai. Sebaiknya aku segera ke apartemen. Udara di basement terlalu dingin." Sehun melepaskan diri dari Kai.
"Aku akan mengantarmu sampai depan pintu apartemenmu." Sehun mengangguk. Mereka menuju apartemen Sehun dengan saling bergandengan tangan. Hingga sampailah mereka di depan sebuah pintu apartemen. Sehun menekan beberapa kode untuk membuka pintu.
"Sekali lagi terima kasih Kai." Sehun tersenyum.
"Sama-sama Sehun. Masuklah." Sehun hendak memasuki apartemennya, tapi sebuah tangan menariknya keluar lagi, dan sebuah bibir menyambutnya. Hanya sebuah kecupan basah.
"Aku akan menghubungimu." Lanjut Kai dengan senyuman menawannya. Kai tertawa geli karena melihat reaksi Sehun yang terlihat kaget.
"Kau benar-benar menyebalkan Kai." Sehun menundukkan kepalanya dan memukul kecil dada bidang Kai.
"Masuklah. Selamat malam nona Oh." Sehun berjalan menuju pintunya lagi.
"Selamat malam tuan Kim. Hati-hati di jalan." Dan Sehun menutup kembali pintunya.
"Ya tuhan ya tuhan jantung kumohon berhenti berdegup!" Sehun langsung mengambil segelas air putih dan meminumnya. Jantungnya masih berdegup kencang tiap kali bayangan ciuman mereka kembali terulang.
Sedangkan Kai sedang tersenyum membayangkan bagaimana reaksi tersipu Sehun tiap kali ia menggodanya. Dan bagaimana hebatnya ciuman mereka tadi.
"Interesting." Kaipun melajukan mobilnya.
TBC
Mohon reviewnya teman-teman. Karena saya penulis baru, saya jadi inget tiap kali baca ff pasti authornya pada bilang "Review kalian jadi semangat saya buat nulis." Dan sekarang itu yang saya rasain. Jadi mohon sepatah dua patah kata dari para readers. Maaf kalo banyak typo. Author juga manusia.
Btw seneng banget KaiHun banyak momen akhir-akhir ini.
Bagi yang merasa ini kepanjangan atau kurang panjang bilang aja, jadi next chap saya tau harus nulis seberapa panjang. Tapi tergantung mood jg sih. Kalo responnya positif ya mood saya pasti baik.
Chapter ini nggak ada kegilaan ChanKai. Tapi ada gantinya tuh, SeBaek. Mereka versi ceweknya ChanKai. Maaf kalo kurang asik ffnya, sekali lagi saya masih pemula. Sampai ketemu di chapter depan!
First story of redaddict
