Hai, saya Berie-chan. Ini kelanjutan dari Chapter pertama, Persahabatan Yang Terajut Kembali. Selamat membaca!

Warning! OOC, typo, alur tidak jelas dll.


Disclaimer : Naruto hanya milik Kishimoto Masashi-sensei.


Sakura POV

Hari ini aku terbangun dengan perasaan segar. Mungkin karena tadi malam aku akhirnya bisa merajut kembali persahabatanku dengan Ino-chan. Tiba-tiba aku mendengar pintu diketuk. "Sebentar," kataku sambil beranjak ke pintu.

Normal POV

Ino berdiri didepan pintu rumah Sakura. Raut wajahnya seperti ingin meminta tolong.

"Sakura, mau nggak kamu menolongku?" Tanya Ino.

"Tolong apa, Ino-chan?" Tanya Sakura.

"Begini, aku dapat misi. Kira-kira makan waktu 3 hari. Kamu bisa nggak menjaga tokoku selama aku pergi? Nanti kubawakan oleh-oleh deh," pinta Ino.

"Boleh deh, demi sahabatku," kata Sakura yang langsung menyesalinya karena Ino langsung memeluknya.

"Terima kasih, Sakura, aku sayang padamu!" Kata Ino sambil merogoh kantongnya.

"Ini kuncinya. Hati-hati, jangan sampai hilang. Sudah ya, bye Sakura," kata Ino sambil beranjak pergi.

Sakura melambai. "Bye, Ino,"

Sakura segera menuju toko milik Ino. Ia sudah beberapa kali menolong Ino dengan tokonya. Ia cukup paham masalah bunga-bunga. Pasti beres! Pikirnya.

Di pagi hari pembeli baru sedikit. Sakura pun melayani mereka dengan santai. Tetapi menjelang siang pembeli bertambah.

Aaargh! Banyak sekali sih! Teriak Sakura dalam hatinya. Hari pertama yang kagok. Dari tadi ia pontang-panting melayani pembeli. Banyak pembeli meminta ia melakukan beberapa hal secara bersamaan. Dia heran mengapa Ino bisa melakukannya, sementara ia tidak bisa. Dia mengingat-ingat kembali cara Ino melakukannya. Ia ingat, Ino selalu melayani seluruh pelanggannya dengan baik. Ino selalu menjelaskan pada mereka tentang bunga-bunga sekaligus menimpali yang mengajaknya mengobrol. Ino juga terkadang menemani yang ingin melihat-lihat. Ino paham cara mengatur waktunya. Kapan ia harus bicara, kapan harus mengajak pengunjung melihat-lihat. Pendeknya, perfect!

Aku harus belajar lebih banyak dari Ino-chan. Pikir Sakura.

Panggilan pembeli membuyarkan lamunannya. Ia langsung tersadar bahwa ia harus melayani pembeli. Sakurapun mulai kembali melayani pembeli.

Skipped

Sakura hanya bisa tersenyum getir. Hari pertama bekerja dan ia langsung menuai banyak complain. Kurang cepat, kurang sigap, tidak memuaskan, pelayanan buruk dll.

Menyedihkan... pikir Sakura nelangsa.

Ino-chan akan membunuhku!

Hari kedua bekerja...

Tetap kagok. Ia tetap tidak bisa melayani pembeli sebanyak itu. Ia juga dapat melihat kalau pembeli di toko Ino berkurang.

Huaaaa! Aku telah membuat pembeli bunga Ino-chan lari! Matilah aku! teriak batinnya. Di tempat lain dihatinya, yaitu nuraninya, ia berteriak, "INO-CHAN, KAU SENGAJA MENIGGALKAN BAGIAN SULIT UNTUKKU YA! SHANNAROOO!" Dengan berapi-api seperti biasa.

Akhirnya hari ini selesai juga. Sakura beranjak pulang. Di rumah ia tidak diam. Ia mondar-mandir gelisah. Bagaimana ini, apa yang harus kukatakan? Bagaimana? Batinnya. Akhirnya ia mendapat sebuah ide. Ia segera mendatangi tempat yang ia tuju. Rumah Hinata. Namun...

"Maaf, Sakura-san. Aku tidak bisa menolongmu," kata Hinata sambil menggelengkan kepala.

"Oh, ya sudah, tidak apa-apa," kata Sakura tersenyum.

Ia berjalan lagi. Barangkali Tenten-senpai dapat menolong. Pikirnya. Iapun segera menuju ke sana. Namun saat ia mengutarakan maksudnya pada Tenten, ia hanya mendapat gelengan. Tenten juga tak dapat menolongnya.

"Maaf, Sakura," kata Tenten meminta maaf.

"Tidak apa," kata Sakura tersenyum maklum. sementara nuraninya berkata, "AAARGH! KENAPA GAK BISA SEMUA SIH!? SHANNAROOO!"

Setelah mendapat penolakan dari dua tempat, Sakura pun mendatangi tempat kenalan dan kerabatnya. Namun semua berbuah hal yang sama. Penolakan.

Aduh, bagaimana ini? Kok tidak ada yang bisa? Gerutunya dalam hati. Sementara nuraninya berteriak, "DASAR KALIAN SEMUA INI! APA KALIAN SUDAH TAK PUNYA TANGAN UNTUK DIPINJAMKAN!? SHANNAROOO!" Teriak nurani Sakura. Sakura pun segera pulang. Ia begitu kelelahan sehingga langsung tertidur.

Paginya ia terbangun. Ia pun langsung menuju toko Ino.

Akhirnya terpaksa ia menjalani hari terakhir sendirian lagi. Untung ini hari terakhir. Kalau tidak ia tidak bisa membayangkan. Dia pun mulai melayani pembeli.

Skipped

Sakura kelelahan. Ia dari tadi melayani banyak pembeli. Ia pun memutuskan segera pulang. Sampai di rumah ia segera beristirahat. Malamnya, sekitar pukul 10 ia terbangun mendengar pintu diketuk.

"Aduuh, siapa sih malam-malam?" Gerutunya. Ia pun membuka pintu. Ternyata Ino.

"Hai, Sakura! Ini gajimu. Dan ini, kuhadiahkan untukmu. Terima kasih ya," kata Ino sambil memberikan dua buah kalung berliontin kepada Sakura. Liontinnya berbentuk bunga Sakura.

"Terima kasih Ino-chan. Tapi jangan malam-malam kenapa sih?" Tanya Sakura sebal.

"Maaf, Sakura. Aku pulang dulu ya, nanti pagi kuceritakan tentang kalung itu. Aku pergi dulu," pamit Ino.

"Ya, sana!"

Sakura pun mengunci pintu dan melanjutkan tidurnya.
Paginya Sakura terbangun. Ia pun langsung mandi, berpakaian rapi dan langsung menuju rumah Ino. Di tengah jalan ia bertemu Ino. Akhirnya ia dan Ino memilih mengobrol di bangku di pinggir jalan itu.

"Hai Ino-chan. Apa cerita tentang kalung ini?" Tanya Sakura.

"Jadi begini. Ayahmu punya kalung yang seperti ini. Aku pernah melihatnya. Jadi, berikan kalung inipada ibumu. Setelah orang tuamu meninggal, berikan pada keluargamu. Dan saat Sarada menikah, berikankalung ini padanya. Kau mengerti? Sekarang, berikan kalung ini pada ibumu. Cepat!" Perintah Ino sambil mendorong Sakura.

"I-iya," Sakura tergagap. Ia pun langsung berlari kerumahnya yang dulu.

"Mama, Ino-chan memberikan ini padamu," kata Sakura sambil menyerahkan kalung itu pada ibunya. Ibunya memandang kalung itu. Ia langsung teringat saat Sakura (dianggap) hilang ingatan. (Tonton Road to Sakura).

Ibu Sakura tidak tahu bahwa itu hanya Sakura palsu. Ino tidak pernah menceritakannya sih..

Tiba-tiba

BRUAAAK

"Sakura, sini kupotret seluruh keluarga," teriak Ino. Sakura dan ibunya berpandangan, kemudian tersenyum.

"Ayaah," panggil Sakura.

"Ayo, sini lihat kamera. Katakan CHEESE,"

Sakura, ibunya & ayahnya melihat kamera dan terseyum.

KLIK.

Esoknya...

"Setelah selesai, sekarang malah aku sakit," gerutu Sakura.

"Tenanglah, aku akan merawatmu," kata Ino.


Ng, updatenya kelamaan, ya? Maaf ya, soalnya status sebagai anak kelas 2 SMP di SMP terfavorit di kota saya (benar kok) membuat saya tidak bisa sering-sering ngetik. Biasalah banyak tugas. Omong-omong, Pembaca Fanfict punya email? Kalau punya, sepertinya lebih mudah kalau berkomunikasi lewat email saja dibanding balas-balasan seperti ini. Tapi saya tidak memaksa. Review selalu dibutuhkan untuk menjadi lebih baik. See you next chapter